Anda di halaman 1dari 45

PEMANFAATAN SPERMA PADA INDIVIDU BETINA Drosophila

melanogaster STRAIN ecl dan emal

LAPORAN PENELITIAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Genetika II
yang dibina oleh Prof. Dr. Arg. Moh. Amin, M.Si

Oleh:
Kelompok 1/Offering H 2014
Nurul Hikmah (140342601418)
Rofiqoh Lailatul Fitriyah (140342600944)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
November 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup memiliki ciri yaitu mampu menanggapi
rangsangan dan mampu melakukan reproduksi baik secara aseksual maupun
seksual (Campbell, 2008). Drosophila melanogaster merupakan hewan yang
tergolong dari filum Artropodha yang tergolong kelas insecta dan berkembang
biak secara seksual. Pada pengamatan praktikum genetika ini digunakan
Drosophila melanogaster sebagai objek penelitan karena memiliki siklus hidup
yang relatif cepat, mudah berkembang biak, lalat betina menghasilkan anakan
dalam jumlah besar dan mudah diamati serta mudah diperoleh serta memiliki
banyak variasi strain (Karmana, 2010).
Perkembangbiakan D. melanogaster dilakukan secara seksual yaitu
dimana terjadi perkawinan antara individu jantan dan betina. Perkawinan dapat
terjadi jika individu jantan dan individu betina telah mencapai kedewasaan
secara seksual. Hal ini ditandai dengan kemampuan individu jantan untuk
menghasilkan sperma dan individu betina untuk menghasilkan oosit sekunder
yang apabila terjadi fertilisasi akan terbentuk ovum yang berkembang menjadi
zigot (Bussel dkk, 2014).
Pada umur dua hari, individu jantan dan betina sudah dapat melakukan
perkawinan untuk yang pertama kali, karena menurut Kiptiyah (1998), individu
betina akan mencapai keadaan yang reseptif secara maksimal pada umur 48
jam setelah menetas. Namun yang paling menentukan terjadinya perkawinan
atau tidak adalah individu betina. Hal ini dikarenakan adanya faktor yang
berpengaruh baik faktor internal maupun faktor eksternal (Markow, 1988).
Menurut Gilbert, dalam Iida & Douglas (2003), terdapat ribuan sperma
yang ditransferkan dari D. melanogaster jantan ke D. melanogaster betina
dalam sekali kawin. Sebagian dari sperma tersebut akan langsung digunakan,
dan lainnya akan disimpan untuk penggunan yang akan datang, namun tidak
sedikit pula dari sperma-sperma tersebut yang tidak tertampung karena
terbatasnya kapasitas organ penyimpanan sperma. Betina normal D.

1
2
melanogaster, memiliki kemampuan penyimpanan sperma hanya sekitar 20-
25% dari seluruh jumlah sperma yang ditransferkan.
Individu betina D. melanogaster mempunyai pemanfaatan sperma yang
sempurna. Menurut Clark, et al (1994), proses kawin kembali dapat
meningkatkan kesuburan pada individu betina D. melanogaster . Saat individu
betina melakukan kawin kembali dengan individu jantan lain, ada fenomena
dimana sperma dari jantan kedua yang lebih diutamakan. Berdasarkan hal
tersebut maka melibatkan faktor-faktor yang menentukan kapan dan bagaimana
sperma disimpan. Salah satu faktor yang menentukan ketika individu betina
telah reseptif untuk kawin kembali adalah berkurangnya jumlah sperma yang
disimpan (Clark, et al, 1994).
Berdasarkan hal tersebut salah satu alasan penggunaan D. melanogaster
sebagai objek penelitan karena memiliki banyak variasi strain. Sehingga dalam
penelitian ini digunakan D. melanogaster strain ecl, cl, e, N, emal dan mal
karena memiliki sifat beda antar spesies pada fenotipenya, baik berdasarkan
warna tubuh dan warna mata. Maka dapat diketahui pemanfaatan sperma yang
terjadi adalah secara acak ataukah tidak acak.
Pemanfaatan sperma dalam fertilisasi bersifat tidak acak jika turunan
dari jantan pertama tidak muncul pada persilangan betina tersebut dengan
jantan kedua, ketiga maupun keempat atau dengan kata lain keturunan pada
persilangan tertentu hanya akan menghasilkan fenotip keturunan pertama dari
hasil persilangan tersebut. Pemanfaatan sperma bersifat acak terjadi apabila
keturunan dari jantan pertama dengan betina muncul kembali pada persilangan
betina tersebut dengan jantan kedua, ketiga maupun keempat atau dengan kata
lain muncul pada persilangan dengan jantan selanjutnya (Yulianingsih, 2000).
Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan tersebut, maka dilakukan
penelitian dengan judul Pemanfaatan Sperma pada Individu Betina
Drosophila melanogaster Strain ecl dan emal
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah dari penelitian
ini adalah bagaimana pemanfaatan sperma pada individu betina D.
melanogaster strain emal dan ecl ?

C. Tujuan Penelitian
3

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pemanfaatan sperma pada
individu betina D. melanogaster strain emal dan ecl.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bagi Peneliti
1. Mengetahui fenomena yang terjadi pada pemanfaatan sperma pada individu
betina D. melanogaster strain ecl dan emal.
2. Sebagai program pengayaan bahan praktikum matakuliah Genetika II tentang
kajian pemanfaatan sperma pada individu betina D. melanogaster strain ecl dan
emal.
Bagi Pembaca
1. Memberikan informasi mengenai fenomena yang terjadi pada pemanfaatan
sperma pada individu betina D. melanogaster strain ecl dan emal.
2. Memberikan motivasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang
pemanfaatan sperma pada individu betina D. melanogaster pada macam strain
yang lain.

E. Asumsi Penelitian
Asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kondisi medium tempat pembiakan yang digunakan selama penelitian
dianggap sama.
2. Faktor lingkungan (suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya) selama penelitian
dianggap sama
3. Faktor internal seperti umur Drosophila melanogaster yang digunakan dalam
penelitian dianggap sama.

F. Ruang Lingkup dan Batasan Masalah


Penelitian yang dilakukan memiliki ruang lingkup dan batasan masalah, antara 4
lain:
1. Ruang lingkup dalam praktikum ini adalah di Laboratorium Genetika gedung
O5 FMIPA Universitas Negeri Malang
2. Objek penelitian menggunakan lalat buah pada spesies yang sama yakni D.
melanogaster.
3. Pada penelitian ini D. melanogaster yang digunakan adalah strain ecl, cl, e, N,
emal, dan mal.
4. D. melanogaster betina yang digunakan dalam penelitian ini adalah ecl dan
emal.
5. D. melanogaster jantan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ecl, cl, e,
N, emal, dan mal.
6. Pada penelitian ini hanya membahas tentang pemanfaatan sperma pada
individu betina D. melanogaster strain ecl yang terjadi pada persilangan ecl
>< ecl, ecl >< e, ecl >< cl dan ecl >< N. Serta hanya membahas
tentang pemanfaatan sperma pada individu betina D. melanogaster strain emal
yang terjadi pada persilangan emal >< emal, emal >< e, emal ><
mal dan emal >< N.
7. Data yang diperoleh berasal dari pengamatan fenotip F1 yang meliputi warna
mata, faset mata, warna tubuh, keadaan sayap, jenis kelamin, dan jumlah
keturunan F1 dari tiap tipe persilangan.
8. Penelitian dilakukan sebanyak 3 kali ulangan dan hanya mengamati sebatas
keturunan F1. Pengambilan data berupa perhitungan F1 dimulai dari pupa mulai
menetas sampai hari ke tujuh.
9. Data yang diperoleh dihitung dari jumlah keturunan jantan dan betina untuk
setiap tipe persilangan, ulangan, dan tiap ulangan botol (A,B, C, D dan E).

G. Definisi Istilah
Untuk menghindari adanya salah penafsiran, maka perlu diberikan definisi
istilah yaitu sebagai berikut.
1.Pemanfaatan sperma adalah penggunaan sperma yang tersimpan dalam organ
penyimpanan sperma (reseptakulum seminalis dan spermateka) oleh individu 5

betina D. melanogaster (Clark, et al, 1994).


2.Strain adalah kelompok intraspesifik yang memiliki hanya satu atau sejumlah
kecil ciri yang berbeda, biasanya secara homozigot untuk ciri-ciri tersebut
(galur murni) (Corebima, 2003).
3.Homozigot adalah karakter yang dikontrol oleh sepasang alel yang identik (misal:
AA atau aa) (Corebima, 2003).
4.Heterozigot adalah karakter yang dikontrol oleh sepasang alel yang berbeda
dominasinya/tidak identik (Corebima, 2003).
5.Fenotip adalah karakter-karakter yang dapat diamati pada suatu individu (yang
merupakan hasil interaksi antara genotip dengan lingkungan tempat hidup dan
berkembang) (Corebima, 2003). Fenotip yang diamati dalam penelitian ini
adalah warna tubuh dan warna mata.
6.Genotip merupakan keseluruhan jumlah informasi genetik yang terkandung pada
suatu makhluk hidup (Ayala dalam Corebima, 2003).
7.Daya reseptivitas adalah kemampuan individu betina untuk menerima kehadiran
individu jantan kedua, ketiga, dan seterusnya setelah melakukan perkawinan
dengan jantan sebelumnya (Nusantari, 1997).
8.Pemanfaatan sperma bersifat tidak acak jika turunan dari jantan pertama tidak
muncul pada persilangan betina tersebut dengan jantan kedua, ketiga maupun
keempat atau dengan kata lain keturunan pada persilangan tertentu hanya akan
menghasilkan fenotip keturunan pertama dari hasil persilangan tersebut
(Yulianingsih, 2000).
9.Pemanfaatan sperma bersifat acak apabila keturunan dari jantan pertama dengan
betina muncul kembali pada persilangan betina tersebut dengan jantan kedua,
ketiga maupun keempat atau dengan kata lain muncul pada persilangan dengan
jantan selanjutnya (Yulianingsih, 2000).
10.Spermateka adalah penampung mani, berada di bawah vagina. Berguna untuk
menyimpan mani setelah fertilisasi dengan jantan pada Arthropoda (Sujana,
2007).
11.Respetakulum seminalis merupakan saluran yang terbuka ke oviduk, dan berada
di bagian puncak uterus. Dengan posisi demikian, maka sperma dari
respetakulum seminalis yang paling cepat dimanfaatkan (Sujana, 2007).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Morfologi Drosophila melanogaster


Pada tahun 1900, Drosophila melanogaster pertama kali diperkenalkan oleh
Morgan dan Castel. Kemudian diketahui bahwa D. melanogaster dapat digunakan
sebagai sumber pembelajaran genetika pada organisme diploid. Hewan ini
dianggap mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan genetika
selanjutnya (Wahyuni, 2012).
Klasifikasi D. melanogaster menurut Borror et al., (1992) adalah sebaga
berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Clas : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Drosophilidae
2.1 a 2.1 b

Gambar 2.1 a.) Morfologi D. melanogaster dari bagian lateral 2.1b.)


morfologi D. melanogaster dari bagian dorsal (Gompel & Chyb,
2013).
Genus : Drosophila
Spesies : Drosophila melanogaster
D. melanogaster normal memiliki ciri-ciri yaitu panjang tubuh lalat dewasa
2-3 mm, imago betina umumnya lebih besar dibandingkan dengan yang jantan,
tubuh berwarna coklat kekuningan dengan faset mata berwarna merah berbentuk 7
elips. Terdapat pula mata oceli yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil dari mata
majemuk, berada pada bagian atas kepala, di antara dua mata majemuk, berbentuk
bulat (Dimit, 2006). Selain itu, D. melanogaster normal memiliki antena yang
berbentuk tidak runcing dan bercabang-cabang dan kepala berbentuk elips.
Thorax berwarna krem, ditumbuhi banyak bulu, dengan warna dasar putih.
Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-garis hitam yang terletak
pada abdomen. Sayap D. melanogaster normal memiliki ukuran yang panjang dan
lurus, bermula dari thorax hingga melebihi abdomen lalat dengan warna
transparan (Dimit, 2006).
Lalat buah ini memiliki sifat dimorfisme. Tubuh lalat jantan lebih kecil
dibandingkan betina dengan tanda-tanda secara makroskopis adanya warna gelap
pada ujung abdomen, pada kaki depannya dilengkapi dengan sisir kelamin yang
terdiri dari gigi hitam mengkilap (Gompel & Chyb, 2013).
6
Genom D. melanogaster terdiri atas 4 pasang kromosom, pasangan X/Y dan
tiga autosom yang berlabel 2, 3, dan 4. Kromosom yang keempat berukuran
sangat kecil. Genom terdiri atas 165 juta basa dan kira-kira 14.000 gen. D.
melanogaster betina memiliki 4 pasang kromosom homolog dan dua kromsom
lainnya nonhomolog, sedangkan yang jantan hanya memilki 3 kromosom
homolog (Kimball, 1992).
Terdapat berbagai variasi strain D. melanogaster dengan ciri-ciri tertentu.
Morgan menemukan lalat jantan dengan mata putih berbeda dengan mata normal,
yaitu merah. Fenotip normal untuk suatu karakter, seperti mata merah pada
Drosophila, disebut tipe liar (wild type). Karakter-karakter alternatif dari tipe liar,
seperti mata putih pada Drosophila, disebut fenotip mutan (mutan phenotype),
yang sebenarnya berasal dari alel tipe liar yang mengalami perubahan atau mutasi
(Campbell et al, 2008).
B. Sistem Reproduksi pada Drosophila melanogaster
1. Sistem reproduksi pada D. melanogaster individu betina
Menurut Sun (2013) mengatakan bahwa sistem reproduksi pada individu betina
Drosophila melanogaster terdiri atas uterus, sepasang spermateka, reseptakulum
8
seminalis, oviduk, sepasang ovari dan kelenjar tambahan. Setiap ovari terdiri dari
sekelompok ovariol yang mana ovariol-ovariol ini akan menuju lateral oviduk
pada bagian posterior dan bersatu di bagian anterior dalam suatu ligament
penggantung yang menempel pada diafragma dorsalis (Borror, et al, 1992).
Letak oogonia berada pada ujung bagian anteriol dari ovariol yang disebut
dengan germanium. Pada saat mitosis, oogonia menghasilkan oosit dan trofosit.
Oosit akan berjalan di sepanjang ovariol dan mengalami pemasakan saat melintasi
daerah ovariol ini. Oosit akan membesar karena adanya penyimpanan kuning
telur. Protein kuning telur (vitellarium) disintesis di luar ovariol dan dipindahkan
ke dalam oosit oleh epitel folikel (Boror, et al, 1992).
Gambar 2.2 Anatomi abdomen dari betina virgin Drosopilla
melanogaster secara lateral (Wolfner, 2011)

Individu betina mencapai kematangan seksual pada umur 48 jam. Sebelum


terjadinya kedewasaan seksual, maka individu betina akan menolak untuk kawin.
Penolakan ini bisa dikaitkan dengan belum tercapainya kematangan ovarium dan
penambahan hormon remaja (Yulianingsih, 2000).

2. Sistem reproduksi pada D. melanogaster individu jantan


Reproduksi jantan pada Drosophila melanogaster terdiri dari testis, 9
kelenjar tambahan, saluran ejakulasi dan vesikula seminalis (Zamore, 2011).
Masing-masing testis terdiri dari sekelompok buluh-buluh sperma atau folikel-
folikel yang dikelilingi oleh selaput peritoneum, setiap sperma bermuara ke dalam
buluh penghubung yang pendek yaitu vas efferens, kedua vas deferens biasanya
bersatu pada bagian posterior untuk membentuk saluran ejakulasi dan buluh ini
berhubungan dengan satu vas deferens tunggal pada masing-masing sisi (Borror,
et al, 1992:74).
Individu jantan tidak akan melakukan perkawinan sebelum tercapainya
kematangan seksual. Menurut Shorrock dalam Wijayanti (2012) Drosophila
melanogaster jantan akan aktif tingkat seksualnya dalam beberapa jam setelah
menetas mencapai kematangan seksual kira-kira berumur 12 jam .
Jumlah sperma yang ditransfer oleh individu jantan dipengaruhi oleh
jumlah sekresi kelenjar aksesori pada waktu perkawinan. Semakin besar jumlah
sekresi kelenjar aksesori, jumlah sperma yang ditransfer akan bertambah banyak,
dan sebaliknya. Dikatakan pula bahwa kuantitas sekresi kelenjar aksesori pada D.
10
melanogaster jantan tidak sama pada tiap strain (Levre dan Johnson, 1962).

Gambar 2.3 Anatomi dari sistem reproduksi Drosopilla


melanogaster (Barnes dkk, 2005)
C. Daya Reseptivitas Individu Betina Drosophila melanogaster
Perkawinan D.melanogaster akan terjadi jika keduanya telah mencapai
kematangan seksual (Zamore, 2011). Namun yang paling berpengaruh dalam
perkawinan adalah individu betina itu sendiri. Betina harus mempertimbangkan
bagian reproduksinya, lingkungan eksternal seperti faktor lingkungan yaitu suhu,
kelembapan dan sensor yang diberikan oleh jantan untuk melakukan kopulasi
(Bussel et.al, 2014).
Menurut (Shorrock, 1972 & Fowler, 1973) dalam (Indayati, 1999)
menyatakan bahwa individu betina akan melakukan perkawinan setelah mencapai
kematangan seksual. Hal ini berhubungan dengan kematangan ovarium, yaitu
pada umur 48 jam setelah menetas. Pada umur ini individu betina sudah dapat
menerima kehadiran individu jantan untuk melakukan perkawinan yang pertaman
kali. Keadaan inilah yang dinamakan keadaan reseptif (Zamore, 2011).
Drosophila melanogaster tidak akan kawin dua kali dalam waktu yang
cepat. Individu betina yang telah kawin akan segera menolak individu jantan
dengan gerakan ekstrusi yang khas dan akan reseptif kembali 24 jam setelah
reseptakulum seminalis (tempat penyimpanan sperma) telah kosong dari sperma.
Jadi keadaan individu betina yang dikatakan reseptif (daya reseptivitas) adalah
keadaan dimana individu betina sudah dapat menerima kehadiran individu jantan
untuk melakukan perkawinan (Manning dalam Nusantari, 1997)
Menurut Nusantari (1997) perkawinan kembali pada individu betina D.
melanogaster dipengaruhi oleh jumlah sperma yang tersisa dalam organ
penyimpanan sperma (spermateka) dalam batas waktu tertentu. Waktu kawin
kembali tiap 2 hari sekali menunjukkan bahwa pada saat ini telah terjadi
pengurangan jumlah sperma dalam spermateka.

D. Perkawinan Kembali Individu Betina D. melanogaster


Menurut Pitnick (2001) dalam Singh, et. al (2002) perkawinan kembali 11
betina merupakan komponen penting dari sistem kawin Drosophila. Hal ini
karena setelah kawin, betina menyimpan sejumlah besar sperma di sepasang
spermateka dan reseptakulum seminalis. D. melanogaster memanfaatkan sperma
tersebut untuk membuahi telur. Setelah betina D. melanogaster virgin telah 11
dikawinkan, dia biasanya tidak mau untuk menerima jantan lain untuk beberapa
waktu karena perubahan terjadi perilaku dan fisiologis, termasuk penurunan daya
tarik terhadap jantan, penurunan reseptivitas untuk kawin kembali, peningkatan
tingkat oogenesis, ovulasi, dan oviposisi, penyimpanan dan penggunaan sperma,
dan pengurangan masa hidup (Singh, 2003).
Manning (1962) dalam Singh, et. al (2002) mengatakan panjang dari
periode penolakan ini (periode refraktori) bervariasi diantara spesies dan
bervariasi pada strain di dalam spesies. Menurut (Kalb dkk, 1993), pada serangga,
perkawinan menyebabkan betina mengalami perubahan tingkah laku dan
fisiologis yang berlangsung selama beberapa hari. Setelah kawin, betina
meletakkan telurnya dan menolak pacaran dan kawin dari jantan selanjutnya.
Mereka menyimpan dan menggunakan sperma yang telah diterimanya. Pada D.
melanogaster, perubahan tingkah laku itu didasari oleh bagian dari sperma dan
bagian dari cairan seminal. Cairan tersebut diyakini menyebabkan pengurangan
reseptivitas yang disebut dengan efek kopulasi, tapi dalam masa yang lebih
panjang hal itu disebut sebagai efek sperma. Hal itu berhubungan dengan
keberadaan sperma pada organ penyimpanan sperma pada betina.
Menurut Lestinger and Gromko (1985) dalam Singh, et. al (2002) pada D.
melanogaster, ada penundaan yang lama dalam perkawinan kembali setelah
sejumlah besar sperma di transfer. Penundaan yang lama dalam perkawinan
kembali, berhubungan dengan reduksi penggunaan sperma yang disimpan. Sesuai
dengan pendapat (Bussel dkk, 2014) yang menyatakan setelah kawin, betina
Drosophila untuk sementara menjadi tidak reseptif dimana mereka akan
melakukan penutupan ovipositor sebagai gerakan untuk menolak ajakan kawin
dari jantan berikutnya. Respon setelah kawin ini dipicu oleh hormon peptida sex.
Hormon tersebut diaktivasi oleh Sex Peptide Receptor (SPR) sebagai sub bagian
pada neuron sensori sistem reproduksi betina.
Salah satu jenis dari peptida seks adalah esterase 6, merupakan enzim yang
dihasilkan oleh individu jantan yang terkandung dalam cairan ejakulasi. Protein
pada saluran ejakulatori, esterase-6, disekresikan dari kelenjar asesori jantan
Drosophila dan ditransfer ke betina bersamaan dengan sperma selama waktu
kopulasi berlangsung, protein tersebut telah diketahui bertanggung jawab dalam 12
penggunaan sperma, dan penekan atau penghambat perkawinan kembali serta
berperan dalam pengosongan organ penyimpanan sperma (reseptakulum seminalis
dan spermateka) pada betina untuk mempercepat proses pembuahan. Hal tersebut
mengakibatkan perangsangan terhadap daya reseptivitas betina muncul kembali
(Chapman, 2013).
Selain itu menurut (Herman, 1981) dalam (Kiptiyah, 1998) menyebutkan
bahwa perkawinan kembali individu betina tergantung oleh tipe terdahulu yang
diterimanya. Betina yang telah melakukan perkawinan akan mengingat tingkah
laku jantan yang mengawininya. Betina tersebut akan mengingat hal itu untuk
beberapa jam. Sehingga jika ada jantan lagi yang ingin mengawininya, betina ini
akan melakukan adaptasi terlebih dahulu. Biasanya dibutuhkan waktu beberapa
saat, tidak langsung berhasil beradaptasi.
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dari proyek ini adalaha sebagai berikut

Kemampuan makhluk hidup untuk melakukan


perkawinan berbeda-beda.

Drosophila melanogaster betina dapat melakukan perkawinan dengan


banyak jantan Drosophila melanogaster yang berbeda-beda

Pada individu Drosophila melanogaster betina Pada individu Drosophila melanogaster jantan
mencapai kedewasaan seksual setelah mampu mencapai kedewasaan seksual setelah mampu
mengovulasikan ootid. menghasilkan dan mengeluarkan sperma
spermatozoa.
Individu betina dapat melakukan perkawinan Jumlah sperma yang ditransfer oleh individu
kembali dengan jantan yang lain tanpa jantan selama perkawinan ke individu betina
menunggu reseptakulum seminalisnya kosong tergantung dari kuantitas sekresi kelenjar
terlebih dahulu. asesori.

Melakukan persilangan Drosophila melanogaster strain ecl dengan ecl,


e, cl, N dan persilangan strain emal dengan emal, e, mal, N
dengan 4 tipe

Sperma dari individu jantan disimpan dikedua reseptakulum seminalis, dan 14


pada pasangan spermateka, spermateka merupakan organ tempat
penyimpanan sperma dalam jangka panjang.

Terjadi kompetisi antara sperma dari jantan pertama dengan


jantan kedua, ketiga dan seterusnya di dalam organ penyimpanan
13
sperma individu betina.

Membandingkan fenotif F1 hasil persilangan dengan hasil


rekonstruksi kromosom.

Terdapat fenomena pemanfaatan sperma secara acak atau


tidak acak pada individu betina Drosophila
melanogaster

Bersifat acak terjadi jika keturunan Bersifat tidak acak jika keturunan
dari jantan pertama dengan betina pada persilangan tertentu hanya
muncul pada persilangan dengan akan menghasilkan fenotip
jantan selanjutnya. keturunan pertama dari hasil
persilangan tersebut.

B. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah ada pemanfaatan sperma pada individu
betina D. melanogaster strain ecl dan emal pada persilangan dengan jantan
kedua, ketiga, dan keempat.
.

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan mengamati
fenotip turunan F1 dari tipe persilangan I, II, III, dan IV antara emal dengan
emal, mal, e, dan N serta tipe persilangan I, II, III, dan IV antara ecl
dengan ecl, e, cl, dan N tanpa memberikan perlakuan pada D.
melanogaster sebagai subyek penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan
mengamati langsung ciri-ciri fenotif dan menghitung jumlah keturunan F1. Teknik
analisis data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan rekonstruksi
kromosom kelamin dan kromosom tubuh.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September sampai November 2016
2. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika, gedung Biologi Ruang
310 jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang.

C. Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah D. melanogaster yang dibiakkan di
laboratorium Genetika jurusan Biologi ruang 310 FMIPA Universitas Negeri
Malang. Sampel yang digunakan adalah D. melanogaster strain emal, mal, e, ecl,
cl, dan N.

D. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mikroskop stereo, panci,
pengaduk, timbangan, baskom, botol selai, kuas, selang, kain kasa, blender, pisau,
gunting, kompor, spidol permanen, dan plastik. Bahan-bahan digunakan dalam 16
penelitian ini diantaranya adalah lalat buah D.melanogaster strain emal, mal, e,
ecl, cl, dan N, pisang Rajamala, tape singkong, gula merah, yeast, kertas label,
spons, kertas pupasi, dan alkohol.

E. Prosedur Kerja 15
1. Pembuatan medium
a) Menyediakan bahan yang meliputi pisang Rajamala, tape singkong, dan gula
merah dengan perbandingan 7 : 2 : 1 untuk satu resep medium, yaitu 700
gram pisang Rajamala, 200 gram tape singkong, dan 100 gram gula merah.
b) Mengupas pisang Rajamala, kemudian memotong-motong pisang Rajamala
dan tape singkong dengan pisau, lalu menambahkan air secukupnya untuk
dihaluskan menggunakan blender.
c) Menyisir gula merah dengan pisau sampai halus.
d) Memasukkan pisang rajamala, tape singkong, dan air yang telah diblender ke
dalam panci, bila perlu menambahkan air secukupnya.
e) Memasang panci di atas kompor dengan nyala api sedang kemudian setelah
mendidih memasukkan gula merah yang telah disisir halus ke dalam panci.
Memasak medium selama 45 menit (untuk satu resep) sambil diaduk.
f) Setelah 45 menit, mengangkat medium dari kompor kemudian mengisi botol
selai yang sudah bersih dengan medium setinggi 1-2 cm dari dasar botol,
kemudian menutup botol tersebut dengan spons penutup kemudian
mendinginkan.
g) Setalah dingin menambahkan kira-kira 3-5 butir yeast ke dalam medium pada
botol selai dan meletakkan satu kertas pupasi ke dalamnya.
h) Medium siap digunakan.
i) Apabila medium yang dimasak di dalam panci masih sisa, medium tersebut
dapat dimasukkan dalam toples kemudian disimpan dalam lemari pendingin
dengan lama penyimpanan maksimal selama 3 hari. Jika ingin menggunakan
kembali medium yang telah disimpan, dapat menggunakannya dengan
memanaskan medium terlebih dahulu selama 15 menit dan medium siap
untuk dimasukkan dalam botol selai.
17

2. Penyediaan stok
a) Menyiapkan beberapa botol selai yang berisi medium baru dan telah diberi
yeast dan beserta kertas pupasi.
b) Memindahkan lalat dari masing-masing strain (emal, mal, e, ecl, cl, dan N)
dari masing-masing stok ke botol selai yang berbeda pada medium baru
menggunakan selang plastik.
c) Mengamati perkembangannya, jika muncul pupa warna hitam maka
dilakukan pengampulan untuk melakukan persilangan.
3. Pengampulan
a) Pupa dari masing-masing strain yang sudah hitam diambil dengan
menggunakan kuas kecil.
b) Memasukkan pupa tersebut ke dalam selang plastik kecil.
c) Mengisi sebagian tempat dengan irisan kecil pisang serta menutupnya dengan
potongan gabus.
d) Masing-masing selang diberi label nama strain maupun tanggal mengampul.
e) Menunggu ampulan sampai menetas dan lalat siap untuk disilangkan. Umur
lalat dalam ampulan maksimal tiga hari untuk persilangan.
4. Persilangan D. melanogaster
a. Persilangan tipe I dengan betina emal
- emal disilangkan dengan emal
- Setelah 2 hari emal dilepas dan emal dipindah ke medium baru
kemudian disilangkan dengan e.
- Setelah 2 hari e dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan mal.
- Setelah 2 hari mal dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan N.
- Setelah 2 hari N dilepas dan emal dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa emal dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
18
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
b. Persilangan tipe II dengan betina emal
- emal disilangkan dengan e
- Setelah 2 hari e dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan mal.
- Setelah 2 hari mal dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan N.
- Setelah 2 hari N dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan emal.
- Setelah 2 hari emal dilepas dan emal dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa emal dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
c. Persilangan tipe III dengan betina emal
- emal disilangkan dengan mal
- Setelah 2 hari mal dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan N.
- Setelah 2 hari N dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan emal.
- Setelah 2 hari emal dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan e.
- Setelah 2 hari e dilepas dan emal dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa emal dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
d. Persilangan tipe IV dengan betina emal
- emal disilangkan dengan N
- Setelah 2 hari N dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan emal.
19

- Setelah 2 hari emal dilepas dan emal dipindah ke medium baru


kemudian disilangkan dengan e.
- Setelah 2 hari e dilepas dan emal dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan mal.
- Setelah 2 hari mal dilepas dan emal dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa emal dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
e. Persilangan tipe I dengan betina ecl.
- ecl disilangkan dengan ecl
- Setelah 2 hari ecl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan e.
- Setelah 2 hari e dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan cl.
- Setelah 2 hari cl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan N.
- Setelah 2 hari N dilepas dan ecl dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa ecl dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
f. Persilangan tipe II dengan betina ecl
- ecl disilangkan dengan e
- Setelah 2 hari e dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan cl.
- Setelah 2 hari cl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan N. 20
- Setelah 2 hari N dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan ecl.
- Setelah 2 hari ecl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa ecl dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
g. Persilangan tipe III dengan betina ecl.
- ecl disilangkan dengan cl
- Setelah 2 hari cl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan N.
- Setelah 2 hari N dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan ecl.
- Setelah 2 hari ecl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan e.
- Setelah 2 hari e dilepas dan ecl dipindah ke medium baru tanpa
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa ecl dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.
h. Persilangan tipe IV dengan betina ecl
- ecl disilangkan dengan N
- Setelah 2 hari N dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan ecl.
- Setelah 2 hari ecl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan e.
- Setelah 2 hari e dilepas dan ecl dipindah ke medium baru kemudian
disilangkan dengan cl.
- Setelah 2 hari cl dilepas dan ecl dipindah ke medium baru tanpa 21
disilangkan.
- Jika sudah keluar pupa ecl dilepas.
- Mengamati fenotif dan jenis kelamin serta menghitung jumlah hasil
persilangan F1 dari hari ke-1 sampai hari ke-7.
- Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan.

F. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati fenotip dan jenis
kelamin serta menghitung jumlah hasil persilangan F1 dari masing-masing tipe-
tipe persilangan kemudian memasukkan data ke dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.1. Tabel Hasil Pengamatan F1
Fenotip Ulangan
Tipe Persilangan Keterangan
F1 1 2 3 4 Total
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif
dengan menggunakan rekonstruksi kromosom kelamin pada strain emal dan
rekonstruksi kromosom tubuh pada strain ecl. Hal tersebut dikarenakan, penelitian
ini hanya terbatas pada penelitian tentang pemanfaatan sperma pada D.
melanogaster.

BAB V
DATA DAN ANALISIS DATA
A. Data
1. Data Hasil Pengamatan Fenotip
Tabel 5.1 hasil pengamatan fenotipe strain emal, mal, e, ecl, cl, dan N
No Strain Gambar Keterangan

1 N Warna tubuh kuning kecoklatan.

Warna mata merah.

Sayap menutup tubuh dengan


sempurna.

(Sumber: dokumen pribadi)


2 emal Warna tubuh coklat kehitaman
Warna mata merah maron .

Sayap menutup tubuh dengan


sempurna.

(Sumber: dokumen pribadi)

3 mal

Warna tubuh kuning kecoklatan


Warna mata merah maron .
23 Sayap menutup tubuh dengan
sempurna

(Sumber: dokumen pribadi)

4 e Warna tubuh coklat kehitaman


22
Warna mata merah.
Sayap menutup tubuh dengan
sempurna
.

(Sumber: dokumen pribadi)

5 ecl Warna tubuh coklat kehitaman


Warna mata coklat.
Sayap menutup tubuh dengan
sempurna
.

(Sumber: dokumen pribadi)

6 cl Warna tubuh kuning kecoklatan


Warna mata coklat.
Sayap menutup tubuh dengan
sempurna.

(Sumber: dokumen pribadi)

2. Data Hasil Pengamatan


24 dan Perhitungan Fenotip F1
Tabel 5.2 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe I
Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
I 34 3 11 48
ecl><ecl ecl 98
34 2 9 45
25 8 9 42
e 86
22 10 12 44
ecl><e
15 1 12 28
ecl 44
2 3 11 16
2 0 0 2
cl 5
3 0 0 3
0 2 1 3
ecl><cl ecl 12
0 8 1 9
3 0 4 7
e 9
1 0 1 2
7 26 6 39
N 129
12 58 20 90
0 0 1 1
ecl 5
2 0 2 4
ecl><N
0 1 2 3
e 6
0 1 2 3
1 2 10 13
cl 28
0 3 12 15
ecl 0 0 44 44
N 112
0 0 68 68
0 0 2 2
ecl 6
0 0 4 4
0 0 4 4
e 10
0 0 6 6
cl 0 0 2 2 13
0 0 11 11

Tabel 5.3 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe II


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
11 3 - 14
ecl><e e 27
10 3 - 13
9 2 - 11
e 30
15 4 - 19
ecl><cl
10 5 - 15
cl 28
6 7 - 13
5 7 - 12
N 31
13 6 - 19
8 3 - 11
25 ecl><N e 25
8 6 - 14
8 3 - 11
cl 28
12 5 - 17
7 8 - 15
cl 32
4 13 - 17
II
9 2 - 11
ecl 25
12 2 - 14
ecl><ecl
5 4 - 9
E 16
4 3 - 7
5 5 - 10
N 21
9 2 - 11
0 0 - 0
N 0
0 0 - 0
2 0 - 2
ecl 5
3 0 - 3
ecl
3 0 - 3
e 7
4 0 - 4
0 - 0
cl 0
0 - 0

Tabel 5.4 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe III
Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
III 15 19 1 35
ecl><cl cl 63
9 19 0 28
6 7 0 13
N 34
10 11 0 21
ecl><N
4 21 0 25
cl 47
11 11 0 22
ecl><ecl N 3 8 - 11 26
8 7 - 15
7 12 - 19
cl 45
8 18 - 26
3 7 - 10
ecl 25
6 9 - 15
3 4 - 7
N 23
8 8 - 16
3 5 - 8
ecl 16
3 5 - 8
ecl><e
2 6 - 8
e 15
1 6 - 7
3 5 - 8
cl 27
7 12 - 19
0 0 - 0
N 0
0 0 - 0
26 0 0 - 0
ecl 0
ecl 0 0 - 0
0 0 - 0
e 0
0 0 - 0
cl 0 0 - 0 0

Tabel 5.5 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe IV


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
IV 43 51 - 94
ecl><N N 183
29 60 - 89
5 45 - 50
N 118
11 57 - 68
ecl><ecl
3 10 - 13
ecl 24
6 5 - 11
2 6 - 8
N 18
4 6 - 10
3 15 - 18
ecl><e e 42
4 20 - 24
3 13 - 16
ecl 30
6 8 - 14
3 1 - 4
e 10
4 2 - 6
10 4 - 14
N 37
20 3 - 23
ecl><cl
4 2 - 6
ecl 22
9 7 - 16
8 1 - 9
cl 22
6 7 - 13
ecl N 0 0 - 0 0
0 0 - 0
0 0 - 0
ecl 0
0 0 - 0
0 0 - 0
e 0
0 0 - 0
3 0 - 3
cl 8
5 0 - 5

Tabel 5.6 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe I


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
57 47 40 144
emal><emal emal 317
69 46 58 173
9 14 7 30
27 e 77
25 16 6 47
emal><e
4 12 6 22
emal 61
5 25 9 39
9 4 25 38
mal 99
10 11 40 61
5 7 13 25
emal><mal emal 57
3 8 21 32
6 8 7 21
e 45
13 6 5 24
19 13 9 41
N 104
27 19 17 63
I
2 9 6 17
emal 38
1 8 12 21
emal><N
3 15 8 26
e 51
5 13 7 25
4 9 6 19
mal 38
4 12 3 19
5 0 11 16
N 36
6 0 14 20
3 0 3 6
emal 15
3 0 6 9
emal
2 0 8 10
e 17
1 0 6 7
2 0 5 7
mal 12
2 0 3 5

Tabel 5.7 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe II


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
emal><e e 13 - - 13 37
24 - - 24
14 - - 14
e 27
13 - - 13
emal><mal
15 - - 15
mal 32
17 - - 17
5 - - 5
mal 11
6 - - 6
6 - - 6
emal><N e 19
13 - - 13
17 - - 17
N 41
24 - - 24
10 - - 10
N 30
20 - - 20
11 - - 11
emal 30
19 - - 19
emal><emal
28 2 - - 2
e 8
6 - - 6
3 - - 3
mal 8
5 - - 5
62 - - 62
N 79
17 - - 17
4 - - 4
emal 15
11 - - 11
emal
3 - - 3
e 7
4 - - 4
5 - - 5
mal 12
7 - - 7

Tabel 5.8 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe III
Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
III 18 15 - 33
emal><mal mal 86
23 30 - 53
27 4 - 31
mal 70
30 9 - 39
emal><N
19 23 - 42
N 97
31 24 - 55
5 6 - 11
mal 29
8 10 - 18
emal><em 8 17 - 25
emal 53
al 14 14 - 28
19 10 - 29
N 66
22 15 - 37
emal><e N 11 11 - 22 53
22 9 - 31
7 8 - 15
emal 39
8 16 - 24
9 12 - 21
e 37
5 11 - 16
7 8 - 15
mal 32
11 6 - 17
5 0 - 0
N
6 0 - 0
2 0 - 0
emal
0 0 - 0
emal
0 0 - 0
e
3 0 - 0
2 0 - 0
mal
0 0 - 0

29

Tabel 5.9 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe IV


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
III 27 53 - 80
emal><N N 205
48 77 - 125
6 13 - 19
emal 41
emal><ema 8 14 - 22
l 18 26 - 44
N 83
16 23 - 39
1 5 - 6
e 14
3 5 - 8
emal><e 8 6 - 14
emal 45
19 12 - 31
11 17 - 28
N 66
16 22 - 38
8 6 - 14
N 43
20 9 - 29
23 20 - 43
emal 97
31 23 - 54
emal><mal
9 7 - 16
e 47
17 14 - 31
22 8 - 30
mal 66
24 12 - 36
emal 0 0 - 0
N 1
0 1 - 1
emal 0 0 - 0 2
0 2 - 2
0 1 - 1
e 5
0 4 - 4
0 1 - 1
mal 3
0 2 - 2

B. Analisis
1. Analisis Data Rekonstruksi Kromosom
a. Persilangan ecl
Rekonstruksi kromosom tubuh pada persilangan ecl
ecl >< ecl

P: >< 30
G :e cl

F1 : (ecl)

ecl >< e

P: ><

G :e cl e

F1 : (e)

ecl >< cl

P: ><

G :e cl cl

F1 : (cl)

ecl >< N
P: ><

G :e, cl

F1 : (N)(heterozigot)

Tabel 5.10 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe I


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total Ket
1 2 3
34 3 11 48 Belum bisa
ecl><ecl ecl 98 ditentukan
34 2 9 45
25 8 9 42
e 86
22 10 12 44
ecl><e Acak
15 1 12 28
ecl 44
2 3 11 16
2 0 0 2
cl 5
3 0 0 3
0 2 1 3 Acak
ecl><cl ecl 12
0 8 1 9
31 3 0 4 7
e 9
1 0 1 2
7 26 6 39
N 129
12 58 20 90
I
0 0 1 1
ecl 5
2 0 2 4 Acak
ecl><N
0 1 2 3
e 6
0 1 2 3
1 2 10 13
cl 28
0 3 12 15
0 0 44 44
N 112
0 0 68 68
0 0 2 2
ecl 6
0 0 4 4 Acak
ecl
0 0 4 4
e 10
0 0 6 6
0 0 2 2
cl 13
0 0 11 11

Tabel 5.11 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe II


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total Ket
1 2 3
11 3 - 14 Belum bisa
ecl><e e 27 ditentukan
10 3 - 13
9 2 - 11
e 30
15 4 - 19
ecl><cl Acak
10 5 - 15
cl 28
6 7 - 13
5 7 - 12
N 31
13 6 - 19
8 3 - 11 Acak
ecl><N e 25
8 6 - 14
8 3 - 11
cl 28
12 5 - 17
7 8 - 15
cl 32
4 13 - 17
II
9 2 - 11
ecl 25
12 2 - 14 Acak
ecl><ecl
5 4 - 9
e 16
4 3 - 7
5 5 - 10
N 21
9 2 - 11
0 0 - 0
N 0
0 0 - 0
2 0 - 2
ecl 5
32 3 0 - 3 Acak
ecl
3 0 - 3
e 7
4 0 - 4
0 0 - 0
cl 0
0 0 - 0

Tabel 5.12 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe III
Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total Ket
1 2 3
III 15 19 1 35 Belum bisa
ecl><cl cl 63 ditentukan
9 19 0 28
6 7 0 13
N 34
10 11 0 21
ecl><N Acak
4 21 0 25
cl 47
11 11 0 22
3 8 0 11
N 26
8 7 0 15
7 12 0 19 Acak
ecl><ecl cl 45
8 18 0 26
3 7 0 10
ecl 25
6 9 0 15
ecl><e N 3 4 0 7 23 Acak
8 8 0 16
3 5 0 8
ecl 16
3 5 0 8
2 6 0 8
e 15
1 6 0 7
3 5 0 8
cl 27
7 12 0 19
0 0 0 0
N 0
0 0 0 0
0 0 0 0
ecl 0
ecl 0 0 0 0
0 0 0 0
e 0
0 0 0 0
cl 0 0 0 0 0

Tabel 5.13 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 ecl Tipe IV


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total Ket
1 2 3
43 51 - 94 Belum bisa
ecl><N N 183 ditentukan
29 60 - 89
5 45 - 50
N 118
11 57 - 68
ecl><ecl Acak
33 3 10 - 13
ecl 24
6 5 - 11
2 6 - 8
N 18
4 6 - 10
3 15 - 18
ecl><e e 42 Acak
4 20 - 24
3 13 - 16
ecl 30
6 8 - 14
3 1 - 4
IV e 10
4 2 - 6
10 4 - 14
N 37
20 3 - 23
ecl><cl
4 2 - 6 Acak
ecl 22
9 7 - 16
8 1 - 9
Cl 22
6 7 - 13
0 0 - 0
N 0
0 0 - 0
0 0 - 0
ecl 0
ecl 0 0 - 0
0 0 - 0
e 0
0 0 - 0
cl 3 0 - 3 8
5 0 - 5

b. Persilangan emal
Rekonstruksi kromosom kelamin pada persilangan emal
emal >< emal

P: ><

G : e mal

F1 : (emal)

emal >< e

P: ><

G :e mal,

F1 : (e)

emal >< mal


34
P: ><

G :e mal,

F1 : (mal)

emal >< N

P: ><

G : ,

F1 : (N) (heterozigot)

Tabel 5.14 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe I


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total Ket
1 2 3
57 47 40 144 Belum bisa
emal><emal emal 317 ditentukan
69 46 58 173
9 14 7 30
e 77
25 16 6 47
emal><e Acak
4 12 6 22
emal 61
5 25 9 39
9 4 25 38
mal 99
10 11 40 61
5 7 13 25
emal><mal emal 57 Acak
3 8 21 32
6 8 7 21
e 45
13 6 5 24
19 13 9 41
N 104
I 27 19 17 63
2 9 6 17
emal 38
1 8 12 21
emal><N
3 15 8 26 Acak
e 51
5 13 7 25
4 9 6 19
mal 38
4 12 3 19
5 0 11 16
N 36
6 0 14 20
3 0 3 6
emal 15
3 0 6 9
emal Acak
2 0 8 10
e 17
1 0 6 7 35
2 0 5 7
mal 12
2 0 3 5

Tabel 5.15 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe II


Se Ulangan
Tipe Persilangan F1 Total Ket
x 1 2 3
13 - - 13 Belum bisa
emal><e e 37 ditentukan
24 - - 24
14 - - 14
e 27
13 - - 13
emal><mal Acak
15 - - 15
mal 32
17 - - 17
emal><N 5 - - 5 Acak
mal 11
6 - - 6
6 - - 6
e 19
13 - - 13
N 17 - - 17 41
24 - - 24
10 - - 10
N 30
20 - - 20
11 - - 11
emal 30
19 - - 19
emal><emal
2 - - 2 Acak
e 8
6 - - 6
3 - - 3
mal 8
5 - - 5
62 - - 62
N 79
17 - - 17
4 - - 4
emal 15
11 - - 11
emal Acak
3 - - 3
e 7
4 - - 4
5 - - 5
mal 12
7 - - 7

Tabel 5.16 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe III
Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total Ket
1 2 3
18 15 - 33 Belum bisa
emal><mal mal 86 ditentukan
23 30 - 53
27 4 - 31
mal 70
30 9 - 39
emal><N Acak
19 23 - 42
N 97
36 31 24 - 55
5 6 - 11
mal 29
8 10 - 18
emal><em 8 17 - 25
emal 53 Acak
al 14 14 - 28
19 10 - 29
N 66
22 15 - 37
III 11 11 - 22
N 53
22 9 - 31
7 8 - 15
emal 39
8 16 - 24
emal><e
9 12 - 21 Acak
e 37
5 11 - 16
7 8 - 15
mal 32
11 6 - 17
5 0 - 0
N 11
6 0 - 0
emal 2 0 - 0 Acak
emal 2
0 0 - 0
e 0 0 - 0 3
3 0 - 0
2 0 - 0
mal 2
0 0 - 0

Tabel 5.9 Hasil Pengamatan dan Perhitungan Fenotip F1 emal Tipe IV


Ulangan
Tipe Persilangan F1 Sex Total
1 2 3
27 53 - 80 Belum bisa
emal><N N 205 ditentukan
48 77 - 125
6 13 - 19
emal 41
emal><ema 8 14 - 22
Acak
l 18 26 - 44
N 83
16 23 - 39
1 5 - 6
e 14
3 5 - 8
emal><e 8 6 - 14
emal 45 Acak
19 12 - 31
11 17 - 28
N 66
16 22 - 38
8 6 - 14
N 43
III 20 9 - 29
23 20 - 43
emal 97
31 23 - 54
emal><mal
9 7 - 16 Acak
e 47
17 14 - 31
22 8 - 30
37 mal 66
24 12 - 36
0 0 - 0
N 1
0 1 - 1
0 0 - 0
emal 2
0 2 - 2
emal Acak
0 1 - 1
e 5
0 4 - 4
0 1 - 1
mal 3
0 2 - 2

2. Analisis Deskriptif
a) Persilangan pada individu betina ecl
Pada persilangan tipe I, persilangan pertama yaitu ecl><ecl
menghasilkan anakan dengan fenotip ecl. Pada persilangan kedua yaitu
ecl><e menghasilkan anakan ecl dan e. Persilangan ketiga yaitu
ecl><cl menghasilkan F1 dengan fenotip ecl, e, dan cl. Dan persilangan
keempat yaitu pada ecl><N menghasilkan anakan dengan fenotip ecl, e,
cl, dan N.
Pada persilangan tipe II, persilangan pertama yaitu ecl><e
menghasilkan anakan dengan fenotip e. Pada persilangan kedua yaitu
ecl><cl menghasilkan anakan cl dan e. Persilangan ketiga yaitu
ecl><N menghasilkan F1 dengan fenotip e, cl, dan N. Dan persilangan
keempat yaitu pada ecl><ecl menghasilkan anakan dengan fenotip ecl,
e, cl, dan N.
Pada persilangan tipe III, persilangan pertama yaitu ecl><cl
menghasilkan anakan dengan fenotip cl. Pada persilangan kedua yaitu
ecl><N menghasilkan anakan cl dan N. Persilangan ketiga yaitu
ecl><ecl menghasilkan dengan fenotip N, e, dan cl. Dan persilangan
keempat yaitu pada ecl><N menghasilkan anakan dengan fenotip ecl, e,
cl, dan N.
Pada persilangan tipe IV, persilangan pertama yaitu ecl><N
menghasilkan anakan dengan fenotip N. Pada persilangan kedua yaitu
ecl><ecl menghasilkan anakan ecl dan N. Persilangan ketiga yaitu
ecl><e menghasilkan dengan fenotip N, e, dan ecl. Dan persilangan
keempat yaitu pada ecl><cl menghasilkan anakan dengan fenotip ecl, e,
38
cl, dan N.

Berdasarkan hasil persilangan pada tipe I persilangan pertama yaitu


ecl disilangan dengan ecl menghasilkan F1 dengan fenotip ecl yang
sesuai dengan rekontruksi persilangan. Begitu juga dengan tipe II, III, dan
IV pada persilangan pertama, menghasilkan F1 yang sesuai dengan anakan.
Keadaan tersebut dapat menunjukkan bahwa hasil anakan dari persilangan
pertama menunjukkan hasil yang tidak acak.
Pada persilangan kedua, ketiga, dan keempat hasil fenotip dari F1
menunjukkan adanya ketidaksamaan dengan rekontruksi persilangan. Masih
terdapat fenotip dari F1 yang sama dengan rekontruksi persilangan
sebelumnya. Seperti pada persilangan kedua dari tipe I yaitu ecl><e,
menghasilkan anakan dengan fenotip ecl dan e. Keadaan tersebut juga
terjadi pada persilangan ketiga dan keempat, dimana masih terdapat anakan
yang sesuai dengan rekontruksi persilangan sebelumnya.
b) Persilangan pada individu betina emal
Pada persilangan tipe I, persilangan pertama yaitu emal><emal
menghasilkan anakan dengan fenotip emal. Pada persilangan kedua yaitu
emal><e menghasilkan anakan emal dan e. Persilangan ketiga yaitu
emal><mal menghasilkan F1 dengan fenotip emal, e, dan mal. Dan
persilangan keempat yaitu pada emal><N menghasilkan anakan dengan
fenotip emal, e, mal, dan N.
Pada persilangan tipe II, persilangan pertama yaitu emal><e
menghasilkan anakan dengan fenotip e. Pada persilangan kedua yaitu
emal><mal menghasilkan anakan mal dan e. Persilangan ketiga yaitu
emal><N menghasilkan F1 dengan fenotip e, mal, dan N. Dan
persilangan keempat yaitu pada emal><emal menghasilkan anakan
dengan fenotip emal, e, mal, dan N.
Pada persilangan tipe III, persilangan pertama yaitu emal><mal
menghasilkan anakan dengan fenotip mal. Pada persilangan kedua yaitu
emal><N menghasilkan anakan mal dan N. Persilangan ketiga yaitu
emal><emal menghasilkan dengan fenotip N, e, dan emal. Dan
39
persilangan keempat yaitu pada emal><N menghasilkan anakan dengan
fenotip emal, e, mal, dan N.
Pada persilangan tipe IV, persilangan pertama yaitu emal><N
menghasilkan anakan dengan fenotip N. Pada persilangan kedua yaitu
emal><emal menghasilkan anakan emal dan N. Persilangan ketiga yaitu
emal><e menghasilkan dengan fenotip N, e, dan emal. Dan persilangan
keempat yaitu pada emal><mal menghasilkan anakan dengan fenotip
emal, e, mal, dan N.
Berdasarkan hasil persilangan pada tipe I persilangan pertama yaitu
emal disilangan dengan emall menghasilkan F1 dengan fenotip emal
yang sesuai dengan rekontruksi persilangan. Begitu juga dengan tipe II, III,
dan IV pada persilangan pertama, menghasilkan F1 yang sesuai dengan
anakan. Keadaan tersebut dapat menunjukkan bahwa hasil anakan dari
persilangan pertama menunjukkan hasil yang tidak acak.
Pada persilangan kedua, ketiga, dan keempat hasil fenotip dari F1
menunjukkan adanya ketidaksamaan dengan rekontruksi persilangan. Masih
terdapat fenotip dari F1 yang sama dengan rekontruksi persilangan
sebelumnya. Seperti pada persilangan kedua dari tipe I yaitu emal><e,
menghasilkan anakan dengan fenotip emal dan e. Keadaan tersebut juga
terjadi pada persilangan ketiga dan keempat, dimana masih terdapat anakan
yang sesuai dengan rekontruksi persilangan sebelumnya.

BAB VI
PEMBAHASAN
A. Persilangan dengan Empat Jantan
Berdasarkan prosedur penelitian yang kami lakukan. Individu betina
D.melanogaster strain emal dikawinkan dengan empat jantan D.melanogster
berbeda strain secara berurutan yaitu jantan emal, e, mal, dan N. Sama halnya
dengan Individu betina D.melanogaster strain ecl juga dikawinkan dengan
empat jantan D.melanogster berbeda strain secara berurutan yaitu jantan ecl, e,
cl, dan N. Perkawinan dengan empat individu jantan yang berbeda strain
dilakukan secara bergantian setiap dua hari sekali. Prosedur tersebut
membuktikan keberhasilan perkawinan kedua atau perkawinan kembali pada
individu betina D. melanogaster. Menurut Nusantari (1997) adanya lebih dari
jantan yang dikawinkan, maka akan ada banyak macam sperma (dari jantan
berbeda) yang masuk ke dalam organ penyimpanan sperma, sehingga dapat
diketahui bagaimana kompetisi sperma dari keempat jantan tersebut sebagai
syarat adanya pemanfaatan sperma.
B. Reseptivitas Betina untuk Kawin Kembali
Berdasarkan prosedur persilangan yang dilakukan pada penelitian ini,
ialah setiap persilangan pada betina disilangkan kembali setelah 2 hari dengan
jantan yang berbeda. Hal tersebut karena reseptivitas dari individu betina
belum mampu menerima kehadiran individu jantan untuk melakukan
perkawinan kembali. Reseptivitas adalah kemampuan individu betina
menerima kehadiran individu jantan untuk melakukan perkawinan pertama,
kedua, dan seterusnya (Grillet, 2006). Setelah peristiwa kopulasi jantan dan
betina, biasanya individu betina mengalami perubahan tingkah laku dan
fisiologi yang mengakibatkan individu betina enggan menerima jantan untuk
beberapa waktu (Singh et a, 2002).
Perubahan perilaku fisiologi betina akan hilang selama 2 hari karena
sebagian sperma yang tersimpan telah membuahi sel telur individu betina.
Dengan berkurangnya jumlah sperma yang ada di dalam tubuh individu betina,
maka betina tersebut akan dapat reseptif kembali (Nusantari, 1997).
C. Perilaku dan Fisiologi Betina setelah Kawin
Perkawinan dari individu betina dan jantan D. melanogaster
menimbulkan perubahan perilaku dan fisiologi pada individu jantan. Perubahan
tersebut menimbulkan dua efek, yaitu copulation effect dan sperm effect.
Copulation effect ialah efek pertama yang terjadi setelah betina dan jantan D. 41

melanogaster melakukan kopulasi. Pada saat itu cairan semen (protein) yang
40 menyebabkan menurunnya daya
ditransfer selama kawin oleh individu jantan
reseptivitas kemudian memaksimalkan penggunaan sperma dan meminimalisir
terjadinya kompetisi sperma.
Sperm effect merupakan efek kedua yang terjadi setelah perkawinan jantan
dan betina D. melanogaster, karena masih tersimpannya sperma dalam organ
penyimpanan betina sehingga secara tidak langsung dihubungkan dengan
kuantitas (jumlah) sperma yang mengakibatkan betina tersebut enggan untuk
melakukan perkawinan kembali (Singh, et al, 2002). Keberhasilan perkawinan
kedua pada individu betina D. melanogaster dikendalikan oleh jumlah sperma
yang disemprotkan oleh individu jantan pertama ke dalam organ penyimpan
sperma individu betina. Semakin banyak sperma yang disemprotkan oleh
individu jantan pertama maka semakin lambat individu betina untuk kawin
lagi. Kedua effect tersebut akan hilang dalam waktu 2 hari, karena sebagian
sperma yang tersimpan telah membuahi sel telur individu betina. Dengan
berkurangnya jumlah sperma yang ada di dalam tubuh individu betina, maka
betina tersebut akan dapat reseptif kembali (Nusantari, 1997). Oleh karena itu
pada prosedur penelitian perkawinan kembali di lakukan 2 hari setelah
perkawinan pertama
Keadaan masih tersimpannya sperma dalam spermateka betina
memberikan stimulus terhadap Sistem Saraf Pusat (SPP) melalui pergerakan
sperma yang dapat dideteksi oleh persarafan dalam organ penyimpanan
sperma. Setelah melakukan perkawinan, individu betina tidak akan kawin
kembali sebelum mencapai keadaan yang reseptif (Sight et al, 2012) Hal ini
sesuai dengan penjalasan dari Nusantari (1997) bahwa sperm effect berkaitan
dengan keberhasilan perkawinan kedua karena Sistem Saraf Pusat (SSP)
mengontrol daya reseptivitas betina D.melanogaster. Namun, kemampuan
individu betina D.melanogaster untuk kawin kembali tidak harus menunggu
sampai sperma dalam organ penyimpanan kosong, sehingga sebenarnya sperma
dari individu jantan pertama yang ada pada organ penyimpanan sperma pada
individu betina masih tersisa (Nusantari, 1997).
D. Pemanfaatan Sperma
Terdapat dua jenis pemanfaatan sperma, yaitu secara acak atau tidak
acak. Pemanfaatan sperma dalam fertilisasi bersifat tidak acak jika turunan dari
jantan pertama tidak muncul pada persilangan betina tersebut dengan jantan
kedua, ketiga maupun keempat atau dengan kata lain keturunan pada 42
persilangan tertentu hanya akan menghasilkan fenotip keturunan pertama dari
hasil persilangan tersebut. Pemanfaatan sperma bersifat acak terjadi apabila
keturunan dari jantan pertama dengan betina muncul kembali pada persilangan
betina tersebut dengan jantan kedua, ketiga maupun keempat atau dengan kata
lain muncul pada persilangan dengan jantan selanjutnya (Yulianingsih, 2000).
Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh bahwa pada persilangan
pertama ecl><ecl dihasilkan anakan yang sesuai dengan rekontruksi
kromosom yaitu ecl. Pada pesilangan tersebut belum dapat ditentukan apakah
persilangan terjadi secara acak ataukah tidak acak, karena persilangan masih
dilakukan dengan satu jantan.. Untuk mengatahui acak atau tidak acak hasil
suatu persilangan maka harus dikawinkan dengan lebih dari satu jantan. Hal ini
juga berlaku pada persilangan terhadap emal Sedangkan pada persilangan
ecl dengan jantan kedua menghasilkan keturunan dari persilangan dengan
jantan pertama, dan pada persilangan ecl dengan jantan ketiga menghasilkan
keturunan dari persilangan jantan kedua, dan seterusnya pada semua tipe
persilangan. Begitu juga pada persilangan emal pada tipe 1, tipe 2, tipe 3, dan
tipe 4. Sehingga menunjukkan terjadi pemanfaatan sperma secara acak karena
hasil fenotip F1 tidak sesuai dengan rekonstruksi persilangan induknya. Hal ini
sesuai dengan penjelasan dari Adrianne, et al (2008) yang menyatakan bahwa
adanya peristiwa pemanfaatan sperma secara acak atau tidak acak hanya dapat
diketahui jika 1 betina Drosophila dikawinkan dengan lebih dari satu jantan
Drospohila dengan strain yang berbeda secara berurutan. Pemanfaatan sperma
dapat diketahui dengan cara melihat perbandingkan hasil rekonstruksi
persilangan dengan fenotip anakan.
Mekanisme dari pemanfaaan sperma secara acak biasa disebut dengan
fenomena sperm displacement, yaitu sperma dari jantan pertama diubah tempat
penyimpanannya dalam organ penyimpanan sperma (reseptakulum seminalis
dan spermateka) oleh sperma dari individu jantan kedua, sehingga sperma dari
individu jantan pertama mengalami perpindahan letak, namun sperma dari
jantan pertama masih tetap dapat membuahi ketika tempatnya telah diubah lagi
menjadi lebih dekat untuk membuahi ovum (Lafevre dan Jonsson, 1962)
Mekanisme dari sperm displacement dijelaskan oleh Lafevre dan
Jonsson (1962) bahwa reseptakulum seminalis terbagi menjadi bagian
proximal-half dan distal-half yang mana bagian proksimal memiliki bagian
yang lebih sempit. Mereka menjelaskan bahwa mekanisme sperm displacement
dapat dijelaskan melalui suatu mekanisme siklus atau sirkulasi. Terdapat suatu
sirkulasi dalam organ penyimpanan sperma betina yang mana dapat membuat 43

sperma pada tempat penyimpanan itu bergerak menuju dan meninggalkan


uterus. Sirkulasi inilah yang menjadi dasar dari mekanisme sperm
displacement.
Lafevre dan Jonsson (1962) juga menjelaskan bahwa masih keluarnya
anakan dari jantan pertama pada persilangan yang kedua walaupun sperma
jantan pertama tersebut telah terdesak oleh sperma dari jantan kedua. Adanya
kepala-kepala sperma pada bagian distal saling menunjukkan arah yang
berlawanan, ada yang menuju ke uterus dan ada yang meninggalkan uterus,hal
tersebut dapat dijadikan bukti yang mendukung adanya sirkulasi sperma ini
adalah gambaran sperma pada bagian distal reseptakulum seminalis,. Hal itulah
yang menunjukkan bahwa sperma dalam tubuh betina mengalami sirkulasi atau
perputaran yang terus menerus. Ketika sperma mencapai uterus dan ada telur
yang perlu dibuahi, maka sperma akan digunakan untuk membuahi. Namun
ketika tidak ada sel telur yang dibuahi maka sperma akan kembali berputar
menuju reseptakulum seminalis untuk disimpan dan mengalami siklus
selanjutnya.
Menurut Birkead dan Moller (1998) dalam Singh et al (2002) ada 5
model dari sperm dislacment dengan cara menganalisis nilai dari jumlah
anakan jantan kedua (P2), yaitu sperm mixing model, sperm stratification
model, sperm repositioning model, sperm removal model, dan passive sperm
loss model. Berdasarkan kelima model tersebut kami masih belum dapat
menentukan model manakah yang terjadi pada persilangan kami, dikarenakan
penelitan yang kami lakukan hanya sebatas pada F1 saja.
Mekanisme dari sperm displacement pada Drosophila sampai saat ini
memang belum secara jelas diketahui. Namun Turner dan Anderson (1984)
dalam Singh et al (2002) mengusulkan tiga mekanisme yang mengarahkan
pada perbedaan dalam sperm predominance (tingginya angka anakan dari
jantan ke 2) pada Drosophila : i) kualitas dari ejakulasi, yang mana jantan
dengan jumlah sperma dan cairan seminal yang lebih banyak bisa menyiram
saluran reproduktif betina dengan sperma yang lebih banyak tersimpan
daripada jantan dengan jumlah sperma dan cairan seminal yang lebih sedikit, ii)
Keseluruhan dari semangat pejantan, ini bisa menghalangi mekanisme yang
pertama, karena individu yang lebih bersemangat atau lebih giat bisa
memproduksi sperma dan cairan seminal yang lebih banyak, dan iii) komposisi
dari ejakulasi.
Menurut Singh et al (2002) pada mekanisme terjadinya sperm
displacement pada D. melanogaster telah diketahui bahwa terdapat protein
tertentu yang terkandung dalam cairan seminal jantan yang mempengaruhi
perisitiwa sperm displacement. Individu jantan tidak hanya mentransfer sperma
ke dalam tubuh betina tapi juga mentransfer seminal fluid atau cairan seminal
yang mengandung banyak substansi salah satunya adalah protein. Protein-
protein tersebut mengatur banyak hal mulai dari daya reseptivitas, pengeluaran
telur, hingga penggunaan dan penyimpanan sperma. Protein-protein yang
44

diketahui ikut berperan dalam sperm displacement diantaranya protein


Acp36DE, Acp26A, Acp29AB, dan Acp53Eb.

BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan dapat di peroleh
kesimpulan yaitu pemanfaatan sperma pada betina D.melanogaster strain
ecl dan emal adalah acak. Pemanfaatan sperma dalam fertilisasi acak
menghasilkan fenotip keturunan yang tidak sesuai dengan rekontruksi
persilangan dari induknya. Keadaan tersebut dikarenakan adanya kompetisi
sperma di dalam penyimpanan sperma pada organ reproduksi betina.
B. Saran
1. Perlu adanya penelitian mengenai kompetisi sperma yang lebih dalam
agar mengetahui kompetisi di dalam spermateka lebih akurat
2. Penelitian seperti ini perlu dikembangkan ke organisme lain agar
mengetahui perbedaan terjadi pada setiap organisme
3. Perlu diadakan pengkajian lebih lanjut mengena faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap pemanfaatan sperma oleh individu betina.

45

Anda mungkin juga menyukai