Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH MENGENAI

KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN

TUGAS KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

oleh:

Kelompok 2

1. Sri Yuni Wulanda (162310101183)


2. Fidella Ucca Fairuz (162310101167)
3. Dimas Galuh Saputro (162310101156)
4. Choirul Anam (162310101250)
5. Maviratul Husniyeh (162310101246)
6. Fatimatul Munawwaroh (162310101200)
7. Sindi Arieska P (162310101124)
8. Firda Romadhonia P.V (162310101227)
9. Yurin Ainul Azifa (162310101220)
10. Muhammad Musyafa F.S (162310101242)
11. Erwindyah Nur Widiyanti (162310101163)
12. Nisrina Nailah Rahmatika (162310101263)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2016

PRAKATA

Puji syukur hanya layak tercurahkan kepada Tuhan Yang Maha


Esa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan tugas membuat makalah mengenai MAKALAH
KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN ini tepat pada waktunya. Ada
beberapa kesulitan dan hambatan yang kami hadapi dalam membuat
tugas ini tapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan dan
bimbingan dari berbagai pihak sehingga kami mampu menyelesaikan
tugas ini dengan baik, oleh karena itu pada kesempatan ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa

2. Dosen pembimbing Kabutuhan dasar Manusia Ns. Peni


Perdani Juliningrum,M.Kep

3. Teman-teman dan sahabat-sahabat dari PSIK Universitas


Jember

Tim penyusun mengakui bahwa tugas ini masih belum


sempurna, oleh karena itu Penulis sangat mengharapkan saran
dan kritik ,guna kesempurnaan tugas ini dan bermanfaat bagi
kami dan pembaca pada umumnya.

Jember, 10 November 2016

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kebutuhan rasa aman dan nyaman merupakan bagian dari


kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu hal tersebut harus
dipenuhi agar kehidupan sebagai individu dapat berjalan
dengan seimbang. Terutama pada usia remaja dan lansia.
Kebutuhan ini haruslah sangat dipenuhi. . Usia secara alami akan
mempengaruhi kesanggupan individu untuk mempertahankan dirinya tetap
dalam kondisi aman dan merawat dirinya agar senantiasa merasa nyaman,
kenapa hal itu bisa terjadi?, karena saat kebutuhan akan kemanan dan
kenyamanan terganggu, maka akan ada dampak yang nyata kepada kehidupan
sehari-hari yang menjurus kepada penurunan kualitas hidup lansia.

Ambil saja contoh pada seorang lansia yangsudah tidak


mampu melkukan kegiatan seperti ke kamar mandi dan
mengalami jatuh dan pada inilah lansia tersebut memerlukan
rasa aman dan nyaman. Dengan terjadi hal seperti ini kedua
hal tersebut tidak dapat terpenuhi. Dan ini membuat lansia
tersebut merasa dikehidupannya dan di usia yang tidak muda
lagi malah merasa tidak tenang. Oleh karena itu, kita sebagai
seorang perawat yang profesional tidak hanya melakukan
tugas seuai prosedur namun harus dengan rasa kasih sayang
dan tulus dalam melkukan tugas asuhan keperawatan untuk
memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman pada seorang
klien.

Hal ini dilakukan bukan semata-mata untuk


mendapatkan pujian dari klien atau orang disekitar kita.
Melainkan untuk menuju klien yang mandiri dan terhindar dari
sakit. Karena apa, kebutuhan rasa aman dan nyaman ini bisa
masuk di faktor lingkungan yang eksternal yang dapat
mempengaruhi sehat sakit seseorang. Dan hal itu juga
memberikan dampak rasa aman dan nyaman yang positif atau
negatif. Dengan seperti itu sebagai seorang perawat kita harus
lebih peka dan caring kepada klien yang kita asuh. Karena,ada
beberapa klien yang tidak mengekspresikan apa yang dia
rasakan dan cenderung hanya diam dan kurang terbuka
jkepada perawat.

Dengan ini perawat harus lebih aktif dalam mengasuh


dan berinteraksi kepada pasien dengan melkukan orientasi
dan membangun kepercayaan antara klien dan perawat. Agar
terciptanya rasa saling percaya dan perlahan klien menjadi
terbuka dan mau mengekspresikan apa yang dia rasakan. Dan
pula,agar terwujudnya rasa aman dan nyaman diantara
keduaya. Dan utamanya untuk klien tersebut agar klien lebih
termotivasi dan kondisinya menjadi lebih baik dari semula.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian kebutuhan rasa aman dan nyaman?


2. Bagaimana konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman?
3. Bagaimana melakukan proses asuhan keperawatan yang
benar dalam memenuhi rasa aman dan nyaman?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian kebutuhan rasa aman dan nyaman.


2. Mendalami konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman.
3. Memahami proses asuhan keperawatan dalam memenuhi
rasa aman dan nyaman.

1.4 Manfaat

Dengan mengetahui cara atau pola asuh keperawatan


untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman . kita
sebagai seorang perawat akan lebih peduli dan mengerjakan
pekerjaan dengan tulus kepada pasien. Agar menilmbulkan
rasa aman dan nyaman demi kebaikan kondisi seorang klien
yang kita asuh. Karena kita sebagai seorang perawat tidak
hanya membantu penyembuhan klien yang sakit secara fisik
saja namun juga secara psikologisnya dan menciptakan
lingkungan yang damai. Karena lingkungan yang damai dapat
membuat pasien merasakan aman dan nyaman secara utuh
dan menyeluruh.
1.5 Implikasi Dalam Keperawatan

Penerapan dalam keperawatan adalah pada saat


melakukan pola asuh kepada klien. Bukan hanya klien yang
selalu aktif dalam meminta untuk rasa aman dan nyaman.
Tapi perawat harus lebih aktif berinteraksi kepada klien untuk
mengetahui keadaan dari kliennya. Seperti halnya
menanyakan posisi tidur nyamn atau tidak. Hal-hal kecil
seperti inilah yang perlu diperhatikan. Apabila kebutuhan tidur
tidak terpenuhi karena posisi tidur yang tidak nyaman ini akan
menimblkan pasien terganggu dalam pemenuhan
kebutuhannya.

Dan sebagai perawat harus lebih peka dengan keadaan


klien. Karena seluruh klien membutuhkan asuhan keperwatan
yang menuntut seorang perawat agar lebih memahami
profesinya. Karena, dalam melakukan hal asuhan keperawatan
kita menemui banyak karakter klien yang terkadang membuat
kita seorang perawat lebih bersabar. Namun hal inilah yang
melatih kita untuk memahami klien agar saling percaya dan
terwujudlah rasa aman dan nyaman dalam praktek seharihari
di lingkungan fasilitas kesehatan secara umum.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kebutuhan Aman Dan Nyaman

Keamanan (Keselamatan) atau rasa aman adalah keadaan bebas dari


cedera fisik dan psikologis atau bisa juga keadaan aman dan tentram (Potter&
Perry, 2006). Perubahan kenyamanan atau rasa nyaman adalah keadaan dimana
individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dan berespons terhadap
suatu rangsangan yang berbahaya (Carpenito, Linda Jual, 2000). Kebutuhan
akan keselamatan atau keamanan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari
bahaya fisik.
Ancaman terhadap keselamatan seseorang dapat dikategorikan sebagai
ancaman mekanis,, kimiawi, retmal dan bakteriologis. Kebutuhan akan keaman
terkait dengan konteks fisiologis dan hubungan interpersonal. Keamanan
fisiologis berkaitan dengan sesuatu yang mengancam tubuh dan kehidupan
seseorang. Ancaman itu bisa nyata atau hanya imajinasi (mis, penyakit, nyeri,
cemas, dan sebaginya).
Dalam konteks hubungan interpersonal bergantung pada banyak faktor,
seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengontrol masalah,
kemampuan memahami, tingkah laku yang konsisten dengan orang lain, serta
kemampuan memahami orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya.
Ketidaktahuan akan sesuatu kadang membuat perasaan cemas dan tidak aman.
(Asmadi, 2005).

2.1.1 Faktor- faktor yang mempengaruhi rasa aman

Rasa aman seseorang dapat dipengaruhi oleh kebutuhan dasar manusia dan
pengontrolan bahaya fisik lingkungan tempat tinggal lansia. Kebutuhan dasar
manusia yang berpengaruh antara lain keadaan oksigen, kelembaban, nutrisi dan
suhu.

a. Oksigen

oksigen tersedia dialam bebas dalam jumlah yang tidak terbatas akan tetapi
dalam suatu lingkungan tertutup jumlah dan kualitas oksigen akan terbatas.
Kondisi rumah dengan sedikit ventilasi dan sistem pembuangan gas sisa
pembakaran (memasak) yang tidak baik memberikan resiko bahaya yang lebih
besar pada setiap penghuninya. Salah satu sisa hasil pembakaran yang
membahayakan adalah gas karbon monoksida yang bersifat racun. Gas ini tidak
memiliki bau dan warna. Gas ini berikatan kuat dengan oksigen sehingga
mencegah terbentuknya oksihemogloblin. Sebagaimana telah diketahui bahwa
oksihemoglobin berfungsi untuk membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh. Jika
kadarnya berkurang maka jumlah oksigen yang akan di terima oleh setiap jaringan
juga akan berkurang sehingga seseorang berisiko untuk mengalami gangguan
pernapasan dan keracunan gas ini.

b. Kelembaban

Kondisi lingkungan yang terlalu lembab dapat meningkatkan resiko lansia


untuk mengalami gangguan kebutuhan keamanan. Keamanan ini dikaitkan dengan
resiko mengalami cedera baik karena jatuh maupun akibat tirah baring yang lama.
Kondisi lingkungan yang lembab misalnya keadaan lantai yang lembab
meningkatkan resiko lansia untuk terjatuh/terpeleset. Selain itu udara dengan
kelembaban yang berlebihan menjadi media yang baik bagi perkembangbiakan
bakteri atau patogen. Kondisi ini menyebabkan lansia rentan terhadap infeksi
akibat penyebaran patogen. Pada kasus 2 disebutkan bahwa kondisi tempat tidur
kakek X lembab. Keadaan tempat tidur yang lembab dengan lansia hemiparesis
yang berbaring diatasnya memiliki risiko tinggi mengalami gangguan integritas
kulit.

c. Nutrisi

Pengontrolan lingkungan dibutuhkan untuk memperoleh


pemenuhan kebutuhan nutrisi secara adekuat dan aman. Makanan
dan persediaan air menjadi suatu hal yang wajib dikontrol hal ini
terkait dengan penularan suatu penyakit melalui makanan.
Makanan yang tidak ditempatkan pada tempat yang tertutup mudah
tercemar oleh bakteri atau virus, sehingga tidak aman untuk
kesehatan lansia. Selain itu proses transmisi bakteri dan penyakit
melalui bahan makanan dan alat-alat memasak dapat terjadi jika air
bersih yang tersedia tidak adekuat.
d. Suhu

Suhu lingkungan bukan hanya dapat mempengaruhi


kenyaman, akan tetapi juga keamanan. Pemaparan terhadap suhu
rendah sangat berisiko menyebabkan lansia mengalami hipotermi.
Hipotermi terjadi pada saat suhu tubuh inti kurang dari 35 0C. Suhu
yang terlalu rendah/ekstrem dapat menyebabkan denyut jantung
lemah dan tidak teratur, pernapasan dangkal dan lambat, muka
pucat, dan menggigil. Pemaparan suhu rendah ekstrem yang tidak
teratasi dapat menyebabkan kematian.

Selain suhu rendah, suhu yang terlalu panas ekstrem pun


dapat membahayakan lansia. Suhu panas yang ekstrem dapat
menyebabkan heatstroke (sengatan terik matahari) dan heat
exhaustion (udara yang panas) pada lansia. Heat exhaustion dapat
menyebabkan diaforesis yang berlebihan, hipotensi, perubahan
status mental, kejang otot, dan mual. Perubahan suhu pada lansia di
respon lebih lambat oleh otak. Sehingga perubahan suhu yang
ekstrem dapat membahayakan nyawa lansia.

e. Cahaya

Pengontrolan bahaya fisik lingkungan tempat tinggal lansia


dapat meningkatkan keamanan lansia. Pengontrolan ini dilakukan
dengan memberikan pencahayaan yang adekuat, pengurangan
penghalang fisik, dan pengontrolan bahaya yang mungkin ada di
kamar mandi.

Pencahayaan yang adekuat dapat meningkatkan keamanan


dalam melakukan aktivitasnya. Lansia dengan penurunan fungsi
penglihatan sangat rentan mengalami cedera berhubungan dengan
pencahayaan yang kurang. Pencahayaan yang lembut dan cukup
menerangi ruangan sangat dianjurkan agar lansia tetap bisa melihat
seperti biasa. Akan tetapi pencahayaan yang terlalu berlebihan
tidak dianjurkan karena dapat menyilaukan mata dan menyebabkan
pandangan lansia semakin kabur.

Selain pencahayaan, penempatan perabot dan barang-barang


yang ada dalam rumah dapat meningkatkan resiko lansia untuk
cedera. Untuk mengurangi resiko cedera yang mungkin terjadi,
pemilik rumah dapat mensiasati dengan menempatkan barang-
barang/perabot rumah tangga di tempat yang tidak menjadi tempat
lalu lalang lansia. Penempatan barang di tempat yang sama akan
memudahkan lansia untuk mengingat dan mengambil barang yang
akan diperlukan karena sudah terbiasa dengan tempatnya.

2.2 Klasifikasi Kebutuhan Keselamatan atau Keamanan

2.2.1 Keselamatan Fisik

Mempertahankan keselamatan fisik melibatkan keadaan


mengurangi atau mengelurkan ancaman pada tubuh atau
kehidupan. Ancaman tersebut mungkin penyakit,
kecelakaan,bahaya,atau pemajanan pada lingkungan. Pada saat
sakit, seorang klien mungkin rentan terhadap komplikasi seperti
infiksi, olehkarena itu bergantung padaprofesional dalam
sistempelayann kesehatan untuk perlindungan.

Memenuhi kebutuhan keselamatan fisik kadang mengambil


prioritas lebih dahulu di atas pemenuhankebutuhan fisiologis..
Misalnya,seorang perawat mungkin perlu melindungiklien
disointasi dari kemungkinan jatuh dari tempat tidur sebelum
memberikan perawatan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
(Potter&Perry, 2005).

2.2.2 Keselamatan Psikologis

Untuk selamat dan aman secara psikologi, seorang manusia


harus memahami apa yang diharapkan dari orang lain, termasuk
anggota keluarga dan profesionl pemberi perawatan kesehatan.
Seseorang harus mengethuai apa yang diharapkan dari prosedur,
pengalaman yang baru, dan hal-hal yang dijumpai dalam
lingkungan. Setiap orang merasakan beberapa ancaman
keselamatan psikologis pada pengalaman yang baru dan yang tidak
dikenal. (Potter&Perry,2005).

Orang dewasa yang sehat secara umum mampu


memenuhi kebutuhan keselamatan fisik dan psikologis merekat
tanpa bantuan dari profsional pemberi perawatan
kesehatan.Bagaimanapun,orang yang sakit atau acat lebih renta
untukterncam kesejahteraan fisik dan emosinya,sehingga
intervensi yang dilakukan perawat adalah untuk membantu
melindungi mereka dari bahaya. (Potter&Perry, 2005).

2.4. Cara Meningkatkan keamanan:

1. Mengkaji tingkat kemampuan pasien untuk melindungi


diri

2. Menjaga keselamatan pasien yang gelisah

3. Mengunci roda kereta dorong saat berhenti

4. Penghalang sisi tempat tidur

5. Bel yg mudah dijangkau

6. Meja yang mudah dijangkau

7. Kereta dorong ada penghalangnya

8. Kebersihan lantau

9. Prosedur tindakan

2. 3 Asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa


aman dan nyaman
Kebutuhan akan keamanan terkait dengan konteks fisiologis dan hubungan
interpersonal. Keamanan fisiologis berkaitan dengan sesuatu yang mengancam
tubuh dan kehidupan seseorang. Ancaman itu bisa nyata atau hanya imajinasi
(mis, penyakit, nyeri, cemas, dan sebaginya). Dalam konteks hubungan
interpersonal bergantung pada banyak faktor, seperti kemampuan
berkomunikasi, kemampuan mengontrol masalah, kemampuan memahami,
tingkah laku yang konsisten dengan orang lain, serta kemampuan memahami
orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya. Sebagai seorang perawat harus
menjaga keamanan dan kenyamanan klien disamping itu tetap menjaga
keamanan dan kenyamanan perawat itu sendiri. Tindakan
Jenis dasar resiko terhadap keamanan klien di dalam lingkungan pelayanan
kesehatan adalah jatuh , kecelakaaan yang disebabkan oleh klien, kecelakaan
yang disebabkan oleh prosedur,dan kecelakaan yang di sebabkan oleh
penggunaan alat.(potter & perry,2005)

1. Jatuh

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah jatuh :

1. Orientasikan klien terhadap lingkungan fisik sekitarnya


2. Jelaskan penggunaan system bel pemanggil
3. Kaji resiko klien untuk jatuh
4. Tempatkan klien yang beresiko jatuh dekat dengan ruangan perawat
5. Ingatkan seluruh petugas terhadap resiko klien jatuh
6. Instruksikan klien dan keluarga untuk mencari bantuan bila klien bangun
dari tempat tidur
7. Jawablah panggilan bel klien dengan cepat
8. Jaga agar tempat tidur klien tetap berada pada posisi rendah dengan sisi
pembatas tempat tidur yang terpasang jika diperlukan
9. Jaga barang-barang pribasi tetap berada dalam jangkuan klien
10. Kurangi keributan
11. Kunci seluruh temapt tidur, kursi roda atau brankar
12. Observasi klien secara teratur
13. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan klien
(Potter&Perry, 2005).
2. Oksigen
Kebutuhan fisiologis yang terdiri dari kebutuhan terhadap oksigen akan
mempengaruhi keamanan pasien.
Menurut jurnal Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit yang aman
dalam situasi darurat dan bencana, system gas medic harus diatur seperti
berikut
1. gas medik disimpan dengan benar dan dipasang dalam area berventilasi
cukup area penyimpanan dengan kompartemen.
2. lokasi yang benar dan aman untuk penyimpanan gas medik.
3. untuk penggunaan di rumah sakit gas medik harus dalam pipa, minimum
penyimpanan selama minimum 7 (tujuh) hari.
4. untuk rumah sakit yang menggunakan silinder individual, penyimpanan
minimum untuk 3 (tiga) hari.
5. tangki mempunyai segel (seal) utuh dan aman dari pemasok.
6. pipa gas medik yang dipasang di dinding dilengkapi dengan penyangga

pipa.
7. angkur dilengkapi untuk tangki, silinder, dan peralatan terkait.
8. keselamatan sistem distribusi gas medik (katup, pipa dan sambungan)
terjamin.

3. Pencahayaan

Depkes RI (1992) mendefinisikan pencahayaan sebagai jumlah penyinaran pada


suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
Pada rumah sakit intensitas pencahayaan antara lain sebagai berikut:

1. untuk ruang pasien saat tidak tidur sebesar 100-200 lux dengan warna cahaya
sedang,
2. pada saat tidur maksimum 50 lux,
3. koridor minimal 60 lux,
4. tangga minimal 100 lux, dan
5. toilet minimal 100 lux.

4. Kecelakaan yang disebabkan oleh prosedur

Kecelakaan yang disebabkan oleh prodesur terjadi selama terapi. Hal ini
meliputi kesalahan pemberian medikasi dan cairan. Perawat dapat
melaksanakan sesuai prosedur agar tidak terjadi kecelakaan. Menurut
jurnal PENGEMBANGAN BUDAYA PATIENT SAFETY DALAM
PRAKTIK KEPERAWATAN oleh Lia Mulyati dan Asep Sufyan ada enam cara
pemberian obat, antara lain :
1. Tepat obat
2. Tepat dosis
3. Tepat waktu
4. Tepat pasien
5. Tepat cara pemberian
6. Tepat cara dokumentasi

5. Kecelakaan yang disebabkan peralatan

Kecelakaan yang disebabkan peralatan terjadi karena alat yang digunakan


tidak berfungsi, rusak atau salah digunakan. Hal-hal yang dapat terjadi antara
lain kebakaran.

klien yang terjebak dalam kebakaran, berapapun besarnya kebakaran


tersebut, berada dalam resiko dan haruus dipindahkan ke area lain.

1. Jika klien menggunakan oksigen tetapi tidak menjadi pendukung


kehidupannya, maka perawat dapat melepaskan oksigen tersebut
2. Jika klien menggunakan oksigen sebagai pendukung kehidupannya maka

perawat harus mempertahannkan status pernapasan klien secara manual


dengan menggunakan ambubag sampai klien terlepas dari ancaman
kebakaran.
3. Klien yang bisa berjalan dapat diarahakan untuk berjalan sendiri kearah
yang aman dan pada beberapa kasus mungkin dapat dibantu denga kursi
roda
4. Klien yang berbaring di tempat tidur umunya dipindahkan dengan
menggunakan brankar, temapat tidur atau kursi roda
5. Jika tidak ada satupun metode yang dapat digunakan, maka klien harus
diangkat dari ares tersebut.
BAB.3 PENUTUPAN

KESIMPULAN
SARAN
DAFTAR PUSTAKA

http://www.slideshare.net/pjj_kemenkes/kb-2-43234247?
next_slideshow=1.
(diakses pada 10 november 2016 pukul 20:37)