Anda di halaman 1dari 118

ABSTRAK

PENDEKATAN PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH DI KOTA


DENPASAR

Aktivitas perencanaan kota mempunyai peran penting dalam membentuk lingkungan


perkotaan dan juga gaya hidup bagi masyarakat pada lingkungan tersebut. Perencanaan kota
pada awalnya muncul sebagai respon terhadap kota industri modern, yang menghasilkan
urbanisasi yang pesat pada abad XIX, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Ada sebuah
kepercayaan bahwa masalah sosial bisa diselesaikan dengan cara mendesain ulang kota.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses perencanaan tata ruang
wilayah di Kota Denpasar, pihak-pihak dan kepentingan yang berpengaruh serta pendekatan
dalam perencanaan tata ruang wilayah di Kota Denpasar. Dengan pendekatan kualitatif
penelitian memfokuskan kajiannya pada: para aktor kebijakan, jaringan kebijakan dan
pendekatan perencanaan. Data diperoleh dengan studi dokumen dan wawancara.
Perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar dilakukan melalui beberapa tahapan
yaitu: Evaluasi RTRW Kota Denpasar 2009-2029; Pembahasan Laporan Penyusunan
Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar; Penyusunan Materi Teknis RTRW
Kota Denpasar; Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I
DPRD Kota Denpasar Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan
Kabupaten Gianyar; Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi
Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar;
Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi Ranperda Kota
Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri Pekerjaan Umum; Persetujuan
Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar 2010-2030 oleh
menteri Pekerjaan Umum; serta Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota
Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar.
Para pihak yang terlibat dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar 20112031 adalah
Bappeda Kota Denpasar, Seluruh Kepala Desa dan Lurah se Kota Denpasar, DPRD Kota
Denpasar, Asosiasi Profesi, Bappeda Kabupaten Badung dan Bappeda Kabupaten Gianyar,
Bappeda Provinsi Bali, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, Badan Lingkungan Hidup
Provinsi Bali, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Gubernur Bali, serta Menteri
Pekerjaan Umum.

2
Berdasarkan lima uraian mengenai perbandingan perencanaan, yaitu: karakteristik
perencanaan, peran negara, tujuan perencanaan, ruang lingkup perencanaan dan metode
perencanaan, maka pendekatan yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang wilayah Kota
Denpasar adalah pendekatan rasional komprehensif.

Kata kunci: perencanaan kota, tata ruang wilayah, Kota Denpasar

RINGKASAN

Tesis ini menganalisis mengenai pendekatan perencanaan tata ruang wilayah di Kota
Denpasar yang diwujudkan dengan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011
tentang RTRW Kota Denpasar Tahun 20112031. Penulisan tesis ini terdiri dari 5 bab, dimana
masing-masing bab membahas pokok bahasan yang berbeda, guna memahami pembahasan
dan penyelesaian akan rumusan masalah yang dibahas dalam penulisan tesis ini.
Bab I menguraikan mengenai latar belakang masalah yang berawal dari adanya
kesenjangan antara perencanaan kota yang ideal sebagai aktivitas teknis yang rasional dan
netral dengan praktek perencanaan kota secara empiris sebagai fungsi negara yang
diformulasikan melalui proses politik dan kebijakan publik.
Bab II menguraikan mengenai landasan teori dan konsep perencanaan kota,
perencanaan tata ruang wilayah kota dan pendekatan perencanaan kota. Penguraian tersebut
merupakan landasan untuk memahami dan menganalisis pokok-pokok permasalahan yang
telah disebutkan pada Bab I.
Bab III menguraikan tentang metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan
dan menganalisis data untuk menjawab permasalaham yang telah diuraikan pada Bab I. Bab
ini diuraikan dalam beberapa pokok bahasan, antara lain: rancangan penelitian, lokasi
penelitian, jenis dan sumber data, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik
analisis data dan teknik penyajian hasil analisis data.
Bab IV merupakan pembahasan untuk menjawab permasalahan yang tertulis pada
Bab I. pada bab ini dibahas mengenai proses penyusunan Perda No. 27 Tahun 2011 tentang
RTRW Kota Denpasar 2011-2031, pihak-pihak dan kepentingan yang berpengaruh dalam
penyusunan Perda No. 27 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Denpasar 2011-2031, dan
pendekatan yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang wilayah di Kota Denpasar serta
produk kebijakan yang dihasilkan.

3
4

Bab V merupakan bab penutup yang menguraikan kesimpulan dan saran. Adapun
kesimpulan dari rumusan masalah pertama, proses perencanaan meliputi beberapa tahapan
yaitu: Evaluasi RTRW Kota Denpasar 2009-2029; Pembahasan Laporan Penyusunan
Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar; Penyusunan Materi Teknis RTRW
Kota Denpasar; Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I
DPRD Kota Denpasar Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan
Kabupaten Gianyar; Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi
Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar;
Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi Ranperda Kota
Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri Pekerjaan Umum; Persetujuan
Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar 2010-2030 oleh
menteri Pekerjaan Umum; serta Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota
Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar. Kesimpulan rumusan masalah kedua mengenai para
pihak yang terlibat dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar 2011-2031 adalah Bappeda
Kota Denpasar, Seluruh Kepala Desa dan Lurah se Kota Denpasar, DPRD Kota Denpasar,
Asosiasi Profesi, Bappeda Kabupaten Badung dan Bappeda Kabupaten Gianyar, Bappeda
Provinsi Bali, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali,
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Gubernur Bali, serta Menteri Pekerjaan Umum.
Kesimpulan rumusan masalah ketiga mengenai pendekatan perencanaan yang diterapkan
dalam perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar adalah pendekatan rasional
komprehensif.
DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
PRASYARAT GELAR...........................................................................................ii LEMBAR
PENGESAHAN ...................................................................................iii PENETAPAN
PANITIA UJIAN...........................................................................iv PERNYATAAN BEBAS
PLAGIAT...................................................................... v UCAPAN TERIMA
KASIH..................................................................................vi
ABSTRAK...........................................................................................................viii
ABSTRACT...........................................................................................................ix
RINGKASAN........................................................................................................xi DAFTAR
ISI........................................................................................................xiii
DAFTAR TABEL...............................................................................................xvii

DAFTAR GAMBAR.........................................................................................xviii BAB I


PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................. 6

1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 6

1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN

MODEL PENELITIAN.......................................................................................... 8

2.1 Tinjauan Pustaka............................................................................................... 8

2.2 Konsep ............................................................................................................ 11

2.2.1 Pendekatan perencanaan kota .................................................................. 11

2.2.2 Rencana tata ruang wilayah ..................................................................... 15

2.2.2.1 Tata ruang ................................................................................... 15

2.2.3.2 Rencana tata ruang wilayah ........................................................ 16

2.3 Landasan Teori................................................................................................ 20

5
6

2.3.1 Perubahan kebijakan ................................................................................ 20

2.3.2 Konfigurasi subsistem kebijakan ............................................................. 22

2.3.3 Pendekatan prosedural ............................................................................. 24

2.3.3.1 Perencanaan rasional komprehensif............................................ 24

2.3.3.2 Perencanaan inkremental ............................................................ 29

2.3.3.3 Mixed scanning........................................................................... 32

2.3.3.4 Perencanaan advokasi................................................................. 34

2.3.3.5 Equity planning........................................................................... 35

2.3.3.6 Perencanaan adaptif.................................................................... 36

2.3.3.7 Perencanaan transaktif................................................................ 37

2.3.3.8 Consensus building..................................................................... 37

2.3.4 Pendekatan substantif............................................................................... 41

2.3.4.1 Pendekatan berdasarkan basis (pijakan) ..................................... 41

2.3.4.2 Pendekatan sistem kegiatan ........................................................ 41

2.4 Model Penelitian ............................................................................................. 42 BAB III


METODE PENELITIAN........................................................................ 44
3.1 Rancangan Penelitian...................................................................................... 44

3.2 Lokasi Penelitian............................................................................................. 45

3.3 Jenis dan Sumber Data.................................................................................... 45

3.4 Instrumen Penelitian........................................................................................ 46

3.4.1 Pedoman wawancara................................................................................ 46

3.4.2 Daftar para pihak dan tahapan kegiatan................................................... 47

3.4.3 Tabel perbandingan pendekatan perencanaan.......................................... 47

3.5 Teknik Pengumpulan Data.............................................................................. 48

3.6 Teknik Analisis Data....................................................................................... 48


3.7 Teknik Penyajian Data.................................................................................... 49 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 50
4.1 Proses Penyusunan RTRW Kota Denpasar Tahun 2011 -2031...................... 50

4.1.1 Rapat Evaluasi RTRW............................................................................. 50

4.1.2 Pembahasan Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi

RTRW Kota Denpasar............................................................................ 53

4.1.3 Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota Denpasar ................................. 54

4.1.3.1 Analisis pengembangan wilayah................................................. 54


4.1.3.2 Penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan wilayah ...... 56

4.1.3.3 Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota........................ 56

4.1.3.4 Penyusunan arahan pemanfaatan ruang wilayah ........................ 71

4.1.4.5 Penyusunan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang........... 72

4.1.4 Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang

Pansus I DPRD Kota Denpasar............................................................... 73

4.1.5 Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar........................................... 76

4.1.6 Rapat Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali
dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang
RTRW Kota Denpasar............................................................................ 77

4.1.7 Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi Ranperda Kota
Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri
Pekerjaan Umum..................................................................................... 79

4.1.8 Persetujuan Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota

Denpasar 2010-2030 oleh Menteri Pekerjaan Umum............................. 80

4.1.9 Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota Denpasar tentang

RTRW Kota Denpasar............................................................................ 80

7
8

4.1.10 Rangkuman Proses Penyusunan RTRW Kota Denpasar ...................... 81

4.2 Para Pihak dan Kepentingan yang Berpengaruh dalam Penyusunan RTRW

Kota Denpasar....................................................................................................... 82

4.2.1 Bappeda Kota Denpasar.......................................................................... 82

4.2.2 Seluruh Kepala Desa dan Lurah se Kota Denpasar................................. 83

4.2.3 DPRD Kota Denpasar ............................................................................. 84

4.2.4 Asosiasi Profesi....................................................................................... 84

4.2.5 Bappeda Kabupaten Badung dan Bappeda Kabupaten Gianyar ............. 85

4.2.6 Bappeda Provinsi Bali............................................................................. 85

4.2.7 Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali..................................................... 86

4.2.8 Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali ................................................. 87

4.2.9 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali .......................................... 87


4.2.10 Gubernur Bali........................................................................................ 88

4.2.11 Menteri Pekerjaan Umum ..................................................................... 88

4.2.12 Jaringan dan Taksonomi Kebijakan ...................................................... 88

4.3 Pendekatan yang Diterapkan dalam Perencanaan Tata Ruang Wilayah di Kota

Denpasar................................................................................................................ 90

4.3.1 Perubahan Kebijakan Publik.................................................................... 91

4.3.1.1 Keadaan agenda setting............................................................... 91

4.3.1.2 Arena konflik.............................................................................. 96

4.3.2 Pendekatan Perencanaan Berdasarkan Teori Perencanaan ...................... 96

4.3.2.1 Karakteristik perencanaan........................................................... 97

4.3.2.2 Peran negara dalam perencanaan tata ruang wilayah ................. 98

4.3.2.3 Tujuan perencanaan.................................................................... 98

4.3.2.4 Ruang lingkup perencanaan........................................................ 99


4.3.2.5 Metode perencanaan ................................................................. 101

BAB V SIMPULAN DAN SARAN................................................................... 105

4.1 Simpulan ................................................................................................... 105

4.2 Saran.......................................................................................................... 107

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 109

LAMPIRAN........................................................................................................ 114
DAFTAR TABEL...............................................................................

Tabel 2.1 Taksonomi Policy Networks...................................................................22


Tabel 2.2 Taksonomi dari Komunitas Kebijakan...................................................23
Tabel 2.3 Taksonomi Taksonomi dari Perubahan Kebijakan.................................23
Tabel 2.4 Dampak Perubahan Ide dan Kepentingan pada PerubahanKebijakan...24
Tabel 2.5 Perbandingan Pendekatan Rasional Komprehensif denganPendekatan Inkremental
................................................................................................................................31
Tabel 2.6 Perbandingan Pendekatan Perencanaan.................................................39

Halaman
Tabel 3.1 Jenis dan Sumber Data Penelitian................................................... 55

Tabel 3.2 Teknik Analisis Data....................................................................... 46

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Ekonomi Politik dari Perubahan Kebijakan...................................... 21

Gambar 2.2 Model Penelitian ............................................................................... 43

Gambar 3.1 Lokasi Penelitian............................................................................... 44

Gambar 4.1 Rencana Struktur Ruang.................................................................... 61

Gambar 4.2 Rencana Pola Ruang Wilayah Kota Denpasar.................................. 64

Gambar 4.3 Skema Penetapan dan Pencapaian Target Proporsi RTHK 35% ...... 68

Gambar 4.4 Sebaran Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK)................................... 69

9
10

Gambar 4.5 Penetapan Kawasan Strategis Kota................................................... 71


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara historis, kabupaten-kabupaten di Bali pada awalnya berasal dari pusat-pusat


kerajaan yang masing-masing masyarakat lokal di wilayah memiliki adat istiadat, sistem
Subak dan pemerintahan sendiri. Struktur masyarakat di tiaptiap kabupaten yang berbasiskan
desa-desa adat mempunyai wilayah dengan karakteristiknya sendiri yang tidak hanya
menentukan pelaksanaan keagamaan, melainkan juga persoalan sosial dan budaya.
Keadaan yang demikian bisa dilihat dari kondisi yang ada di Denpasar. Secara
geografis, Kota Denpasar mempunyai luas 12.398 km2. Tanahnya merupakan endapan
alluvial, yaitu terdiri dari endapan-endapan sungai dan lapukan tanah vulkanik. Semenjak
tahun 1958, Denpasar dijadikan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat I Bali
yang selanjutnya mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat tidak hanya
dalam arti fisik, namun juga secara sosial budaya. Pada periode ini Kota Denpasar diusulkan
untuk menjadi kota administratif yang bersamaan dengan pemekaran wilayah
Kecamatan Denpasar dan Kesiman. Hal ini mengingat dari jumlah penduduk Kota Denpasar
saat itu yang mencapai 150.000 jiwa, sehingga Kabupaten Badung yang semula hanya
memiliki 6 kecamatan sekarang menjadi 7 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 20 tahun 1978, Kota Denpasar diubah statusnya menjadi Kota Administratif Denpasar
yang membawahi tiga kecamatan yakni: Denpasar Barat dengan luas 50,06 km2, Denpasar
Timur dengan luas 27,73 km2

1
dan Denpasar Selatan yang memiliki luas 46,19 km2. Apabila dilihat letak strategis dengan
daerah pusat kota, masing-masing kecamatan memiliki jarak yang relatif sama ke pusat kota
antara 4-5 km. Kota Denpasar terdapat 16 wilayah kelurahan dan 27 wilayah desa. Selain itu,
masih terdapat 35 desa adat dimana desa adat ini dapat meliputi dua desa administrasi atau
sebaliknya yang meliputi dua desa adat. Dengan demikian Kota Denpasar berperan sebagai
ibukota propinsi dan pusat pengembangan industri pariwisata Indonesia Bagian Tengah
(Warsilah dalam Ardhana, 2004: 2).
Di era modern ini, dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Bali Selatan seperti
Tabanan atau Gianyar, tampaknya Denpasar mengalami perkembangan yang menonjol
terutama dalam aktifitas ekonomi. Perkembangan di sektor perdagangan misalnya
menyebabkan berkembangnya kota-kota baru sebagai pusat pemerintahan dan pertumbuhan
ekonomi. Adanya mobilitas geografis telah mengarah dengan semakin intensnya gerakan
mobilitas penduduk seperti
urbanisasi.

Sebagaimana halnya dengan perkembangan kota-kota di Indonesia pada umumnya,


perkembangan Kota Denpasar pada khususnya mengalami persoalanpersoalan fisik kota yang
sama. Hal ini terlihat dari tidak tertatanya dengan baik masalah infrastruktur kota. Dengan
demikian diperlukan suatu upaya perencanaan kota untuk menanggulangi masalah-masalah
tersebut.
Aktivitas perencanaan kota mempunyai peran penting dalam membentuk lingkungan
perkotaan dan juga gaya hidup bagi masyarakat pada lingkungan tersebut. Perencanaan kota
pada awalnya muncul sebagai respon terhadap kota industri modern, yang menghasilkan
urbanisasi yang pesat pada abad XIX, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Ada sebuah
kepercayaan bahwa masalah sosial bisa diselesaikan dengan cara mendesain ulang kota
(Rydin, 1993: 17;
Krueckeberg, 1997: 3; Yewlett, 2001: 1304; Thorns, 2002: 180; UN-Habitat, 2009: 49).
Hal ini membawa perencanaan berkesinambungan untuk menemukan

paradigma yang lebih baik untuk menghadapi kompleksitas lingkungan perkotaan. Dari
sinilah kemudian mulai berkembang teori perencanaan sebagai kerangka panduan dalam
melakukan perencanaan. Program pada lembaga pendidikan perencanaan secara tipikal
mengetengahkan dua model teori perencanaan yaitu teori tentang proses perencanaan dan
teori tentang konteks atau konten (substansi) perencanaan misalkan teori tentang struktur
ruang kota (Fainstein, 2005: 121). Dapat dikatakan teori perencanaan terdiri atas dua unsur,
yaitu unsur hal yang ingin dicapai dan unsur cara untuk mencapainya (Rustiadi, 2009: 336)
atau komponen prosedural dan substantif (Klaasen, 2003: 73).
Namun demikian, dalam beberapa dekade terakhir telah muncul paradigma baru
mengenai perencanaan dalam memandu perencana dalam dunia praktis atau profesional
(Innes, 1983: 35; Pallagst, 2006: 7). Muncul berbagai pertanyaan bagaimana seharusnya
perencana terlibat dalam perencanaan. Bagaimana perencana menempatkan diri, apakah

2
3

sebagai analis yang bebas nilai atau sebagai aktor politik yang efektif dan berkomitmen (pada
klien, masyarakat)?
Permasalahan tersebut semakin tajam ketika perencanaan kota

berkembang menjadi suatu sistem birokratis yang diatur oleh pemerintahan lokal dan
diperjelas dengan perangkat peraturan tentang perencanaan kota/wilayah (Thorns, 2002: 179-
180). Perkembangan institusionalisasi perencanaan seperti itu telah menyebabkan hadirnya
politik sebagai kekuatan dominan dalam membentuk kota (Brooks, 1993: 143).
Konsekuensinya, perencanaan tidak lagi menjadi suatu aktivitas mandiri oleh perencana,
melainkan sebagai sebuah sistem kegiatan yang melibatkan multi-aktor.
Dalam prakteknya tidak mungkin membicarakan perencanaan terpisah dari konteks
institusional dan politik, serta adanya kesulitan dalam memadankan relasi kekuasaan dalam
diskursus perencanaan (Friedmann, 1998, 245). Serta proses perencanaan yang seiring
dengan perumusan kebijakan publik dan memiliki stereotipe sebagai sebuah proses yang
kental dengan nuansa teknokratis dan prosedural. Kepentingan para pihak dalam proses
memegang peranan yang besar dalam menentukan substansi dan hasil perencanaan (Mukhlis,
2009: 2).
Praktek perencanaan kota sebagai sebuah kebijakan publik juga telah terjadi di Bali
sejak tahun 1965, yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang untuk pertama
kalinya direncanakan tata ruang wilayahnya. Dalam memenuhi tuntutan perkembangan kota,
sejak tahun 1986, Pemerintah Bali menerapkan program Pembangunan Prasarana Kota
Terpadu (P3KT) atau Bali Urban Infrastructure Programme (BUIP). Khusus untuk Kota
Denpasar, kemudian memiliki beberapa dokumen perencanaan, antara lain: Peraturan Daerah
(yang selanjutnya disebut Perda) No.11 tahun 1992 tentang Rencana Umum Tata

Ruang Kota Denpasar, Peraturan Daerah No.10 tahun 1999 tentang Rencana Tata

Ruang Kota Denpasar (Suarca, 2010: VIII.3-1 - VIII.3-4).


Rencana Pemerintah Kota (yang selanjutnya disebut Pemkot) Denpasar untuk
merevisi Perda No 10 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Denpasar sejatinya sudah muncul sejak tahun 2007. Pasalnya, Perda RTRW
dimaksud dinilai sudah kadaluwarsa dan kondisi di lapangan sudah banyak yang berubah.
Berdasarkan fakta tersebut, Bappeda Kota Denpasar telah merancang revisi Perda RTRW
yang akan diberlakukan dalam menata ruang di kota yang berwawasan budaya ini. Sejauh
mana proses revisi RTRW Denpasar kini? Pembahasan ranperda RTRW Denpasar ini
dipastikan memerlukan waktu yang paling panjang di antara perda-perda yang dikeluarkan
Pemkot Denpasar. Pembahasan awal ranperda RTRW ini sudah berlangsung sejak
tahun 2007 lalu yang dimotori Bappeda Kota Denpasar (Balipost, 16 Nopember

2009). Ranperda tersebut kemudian baru disahkan pada tahun 2011 menjadi Peraturan
Daerah Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Denpasar Tahun 2011 2031.
Berdasarkan fenomena tersebut, maka diperlukan suatu kajian dalam rangka
memperoleh pemahaman tentang proses perencanaan RTRW Kota Denpasar sebagai sebuah
proses kebijakan publik. Melalui penelitian ini diharapkan muncul pengetahuan atau
pemahaman baru mengenai bagaimana praktek perencanaan kota dilakukan dalam
lingkungan kebijakan publik, dalam situasi dan kondisi tertentu di Kota Denpasar, sehingga
nantinya dapat menjadi bahan kajian dan pertimbangan dalam menghadapi perencanaan ke
depan.
1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan sejumlah rumusan masalah penelitian
sebagai berikut:
1. Bagaimana proses penyusunan Perda No. 27 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Denpasar
2011-2031?
2. Pihak-pihak dan kepentingan manakah yang berpengaruh dalam penyusunan Perda No.
27 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Denpasar 2011-2031?
3. Bagaimana pendekatan yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang wilayah di Kota
Denpasar serta produk kebijakan yang dihasilkan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui proses penyusunan Perda No. 27 Tahun 2011 tentang RTRW Kota
Denpasar 2011-2031.
2. Untuk mengetahui pihak-pihak dan kepentingan yang berpengaruh dalam penyusunan
Perda No. 27 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Denpasar 20112031.

4
5

3. Untuk mengetahui pendekatan yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang wilayah di
Kota Denpasar serta produk kebijakan yang dihasilkan.
1.4 Manfaat Penelitian

Secara ringkas manfaat penelitian ini ke depan adalah sebagai berikut :

1. Manfaat akademis, penelitian ini dimaksud sebagai upaya pendekatan ilmiah dan analisis
akademis terhadap praktek perencanaan kota, sehingga dapat memperkaya konsep atau
teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang teori dan praktek
perencanaan kota.
2. Manfaat praktis, hasil analisis dalam penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi
sebagai bahan refleksi dan antisipasi dalam melakukan perencanaan ke depan.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL

PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka

Pada sub bahasan ini akan dibahas penelitian-penelitian yang relevan


dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian pertama, berjudul Nilai-nilai
Budaya Bali dalam Produksi Tata Ruang di Kota Denpasar (Studi Kasus Jl.
Gatot Subroto Timur, Denpasar oleh Pratiwi (2006). Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh adanya Jalan Gatot Subroto Timur yang dibangun tahun
1980-an sebagai kawasan bisnis baru Kota Denpasar, yang diciptakan dari
sebuah konsep baru yaitu konsolidasi tanah perkotaan, suatu konsep
pembentukan wilayah yang bukan berasal dari konsep tradisional tata ruang
Bali.
Fokus penelitian pada proses perencanaan Jalan Gatot Subroto dan
kondisi tata ruang sesudahnya, namun bukan dari sisi teori perencanaan. Teori
yang digunakan mengacu pada teori Lefebvre, yaitu bahwa pembentukan ruang
secara sosial mempunyai tiga elemen yang saling berhubungan, yaitu spatial
practice (praktek keruangan), representations of space (ruang tergagas),
representational spaces (ruang terhuni).
Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif khususnya
pendekatan studi kasus, dengan mempertimbangkan bahwa perubahan tata
ruang dan produksi tata ruang yang diteliti, yang meliputi aspek internal dan
eksternal. Penelitian dilakukan kepada informan yang merupakan pihak-pihak
yang berperan dalam produksi ruang yang diteliti, yaitu pemerintah, pemerhati
kota ahli

8
budayawan, serta penghuni dan pemakai jalan. Sedangkan pengambilan sumber data
primer dilakukan dengan wawancara terarah.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa spatial
practice (praktek keruangan) Jalan Gatot Subroto Timur memang bernuansa
campuran; campuran permukiman dan tempat usaha serta campuran antara yang
menggunakan konsep-konsep ruang Bali maupun tidak, baik di dalam
representational spaces maupun representations of space sehingga
menghasilkan suatu pola tata ruang yang tanggung atau setengah-setengah.
Walaupun demikian pemerintah tampaknya tidak berkeberatan dengan adanya
praktek keruangan semacam ini, terbukti dengan tidak dipersulitnya
memperoleh perijinan bangunan.
Penelitian kedua berjudul Analisis Kebijakan dalam Perencanaan Kota Baru
Lampung di Natar oleh Mukhlis (2009). Penelitian ini dilatarbelakangi
kebijakan dari Pemerintah Provinsi Lampung untuk memindahkan kantor
pemerintahan Provinsi Lampung dengan membangun Kota Baru Lampung di
Natar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi proses formulasi
lahirnya kebijakan Pembangunan Kota Baru Lampung di Natar berdasarkan
Perda 13 Tahun 2007. Ada asumsi bahwa proses formulasi tidak dilakukan
secara ideal sehingga menjadi permasalahan utama mengapa kebijakan tersebut
belum diimplementasikan hingga saat ini.
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif murni dengan
mempergunakan teori kelayakan isu publik sebagai agenda setting, teori
formulasi kebijakan dalam sebuah sistem politik, teori dimensi politik dan
kekuasaan dalam proses perencanaan, serta teori kelayakan implementasi
kebijakan terhadap kriteria teknis, keuangan dan ekonomi, administratif dan

6
7

kelayakan politis menjadi beberapa landasan teori yang dipergunakan sebagai


alat analisis.
Beberapa sumber data yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
pertama, diperoleh dari sumber primer, yaitu berupa data pengalaman,
pemahaman dan pengetahuan informan (narasumber) yang mewakili informasi
bukan responden yang mewakili populasi. Data pengalaman dimaksudkan
sebagai data yang diperoleh langsung dari para pihak, elit serta stakeholders lain
yang teridentifikasi dalam proses perencanaan Kota Baru Lampung di Natar;
atau para pakar yang sengaja diminta oleh peneliti untuk memberikan penguatan
terhadap analisis yang dilakukan.
Selain wawancara, dokumen-dokumen yang secara deskriptif
menjelaskan komentar dan pernyataan dari para narasumber dalam berbagai
kesempatan maupun pemberitaan yang terkait masuk dalam kategori sumber
data primer. Sementara data sekunder terdiri dari literatur dan dokumen-
dokumen lain baik berupa tulisan yang dimuat di surat kabar, majalah yang
sudah maupun belum dipublikasikan juga hasil penelitian orang lain yang
mempunyai korelasi erat dengan substansi penelitian; termasuk berbagai
dokumen yang ada di Provinsi Lampung yang memiliki relevansi dengan fokus
penelitian.
Berdasarkan sumber data primer dan sekunder dapat dijelaskan bahwa
sebagai sebuah kebijakan, menunjukkan bahwa persoalan atau problem
perkotaan yang dihadapi oleh Kota Bandar Lampung memiliki relevansi untuk
dijadikan sebagai latar belakang lahirnya Kota Baru Lampung di Natar. Bagi
pengambil kebijakan problem perkotaan tersebut layak dijadikan sebagai
agenda setting. Di sisi lain, berdasarkan teori kelayakan kebijakan yakni
technical feasibility, economic dan financial possibility, administrative
operability dan political viability sulit untuk mengatakan bahwa kebijakan
pembangunan Kota Baru Lampung di Natar telah memenuhi unsur rasionalitas
tersebut.
Kedua penelitian ini meneliti tentang praktek perencanaan di dua lokasi
berbeda, dengan perspektif yang berbeda pula. Analisis pada penelitian pertama
menggunakan teori produksi ruang secara sosial, sedangkan penelitian kedua
menggunakan teori kebijakan publik. Namun kedua penelitian di atas
menggunakan metode penelitian kualitatif dan metode pengumpulan data yang
serupa, yaitu melalui wawancara terhadap para pihak yang terlibat langsung,
para pakar dan praktisi untuk memperoleh sumber data primer. Sedangkan data
sekunder diperoleh melalui tulisan-tulisan pada media massa dan dokumen lain
yang relevan dengan penelitian tersebut di atas.

2.2 Konsep

Sub-bab ini akan membahas tentang konsep yang merupakan hasil


abstraksi dan sistesis teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang
dihadapi. Konsep memberikan batasan atas peristilahan dalam penelitian ini.

2.2.1 Pendekatan perencanaan kota

Istilah perencanaan telah muncul dalam berbagai literatur. Dalam


pemberian definisi terlihat berbagai pihak sering mengartikan perencanaan
secara berbeda, namun pengertian yang paling sederhana adalah suatu cara
rasional untuk mempersiapkan masa depan, atau apa yang ingin dicapai di masa
depan.
Artinya, perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di
masa depan serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk
mencapainya. Pendekatan perencanaan dilakukan dengan menguji berbagai arah
pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang ada, mengukur
kapasitas untuk mencapainya, kemudian memilih arah-arah terbaik untuk
mencapainya (Kay dan Alder dalam Rustiadi dkk, 2009: 335).
Mendefinisikan lingkup perencanaan ternyata tidak mudah karena
sifatnya sangat terkait dengan berbagai bidang kajian, sehingga hampir tidak
mungkin dieksklusifkan sebagai suatu teori atau kajian yang bersifat khusus dan
sulit untuk mempelajarinya terpisah dengan bidang lainnya. Kesulitan itu antara
lain disebabkan:
1. Perencanaan muncul bersamaan dengan semua aspek disiplin ilmu sosial,
sehingga sulit untuk membuat batasan;
2. Batasan profesi antara perencana dengan profesi-profesi terkait (real estate
developer, arsitek, pemerintah dan lain-lain) tidaklah jelas. Tidak ada

8
9

perencana yang hanya melakukan perencanaan, sebaliknya para


nonperencana juga melakukan perencanaan,
3. Bidang perencanaan ada yang dibagi berdasarkan atas obyek perencanaan
(perencanaan guna lahan, perencanaan transportasi, perencanaan kota dan
lain-lain) dan ada pula yang didasarkan atas metode (cara mengambil
keputusan) (Campbell dan Fainstein dalam Rustadi, et. al, 2009: 336).

Friedmann (1998: 245) menyatakan kesulitan dalam merumuskan

perencanaan dikarenakan:

1. Masalah dalam mendefinisikan perencanaan sebagai suatu objek yang diteorikan,


2. Ketidakmungkinan membicarakan perencanaan terpisah dari konteks institusional
dan politik aktual,
3. Ada beberapa model perencanaan dan dilema untuk memilih salah satu di
antaranya; dan
4. Kesulitan mempersatukan relasi kekuasaan ke dalam diskursus perencanaan.
Definisi perencanaan kemudian mengalami perubahan dari waktu ke
waktu dan tidak seragam di seluruh dunia. Pandangan awal mendefinsikan
perencanaan kota sebagai perancangan fisik, yang dilaksanakan dengan kontrol
guna lahan dan berpusat pada negara, sebagai respon terhadap pertumbuhan
pesat, kekacauan, pertumbuhan populasi serta urbanisasi dari kota-kota di Eropa
barat pada abad ke 19 sebagai akibat revolusi industri (Rydin, 1993: 17;
Krueckeberg,
1997: 3; Yewlett, 2001: 1304; Thorns, 2002: 180; UN-Habitat, 2009: 49).
Perencanaan pada masa kini merupakan suatu pendekatan yang dinamis yang
bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungannya
dengan menciptakan tempat yang lebih nyaman, adil, sehat, efisien dan atraktif
untuk generasi sekarang dan masa yang akan datang (American Planning
Association, 2009).
Karena peranannya yang meluas, perencanaan kota dipandang sebagai
suatu pendekatan kesadaran kolektif (sosial) untuk membayangkan ulang suatu
kota. Dalam hal ini perencanaan berperan sebagai social reform, analisis
kebijakan, pembelajaran sosial dan mobilasi sosial (Friedmann, 1996: 20).
Perencanaan karenanya tidak hanya melibatkan perencana kota profesional, hal
ini merujuk pada perencanaan sebagai sebuah sistem daripada sebagai suatu
aktivitas mandiri oleh perencana. Meskipun demikian, perencanaan kota (atau
wilayah) memiliki perhatian khusus yang dipisahkan dari bidang lain, contohnya
perencanaan ekonomi atau perencanaan kesehatan. Inti dari perencanaan kota
adalah perhatian pada ruang. Perencanaan juga menonjolkan gerakan
pembangunan dari masa lalu ke masa depan. Hal ini berdampak pada
kemungkinan untuk memutuskan tindakan yang tepat terhadap dampak potensial
dalam membentuk relasi sosio-spasial perkotaan (Healey dalam UN-Habitat,
2009: 19).
Istilah perencanaan dapat juga merupakan bagian instrumental dan aspek
institusional dari negara yang mengandung arti cara kepemerintahan (suatu
bentuk politik) yang dikendalikan oleh kebijakan melalui beberapa proses
bahasan dan keputusan tindakan kolektif dalam relasinya dengan kebijakan
tersebut (Harvey, 1985: 174; Bolan, 1996: 497, Yone, 2007: 320). Perencanaan
karenanya bukan kegiatan teknis yang netral tapi dibentuk oleh nilai yang harus
dibuat eksplisit, dan perencana sendiri secara fundamental terlibat dengan
membuat keputusan
etis.

Dari berbagai pendapat dan definisi, perencanaan sebagai suatu profesi


dan seperangkat praktek terdiri atas dua hal yaitu unsur hal yang ingin dicapai
dan unsur cara untuk mencapainya (Rustiadi, 2009: 336); atau proses dan isi
(Brooks, 1993: 142) atau dimensi prosedural dan substantif (Klaasen, 2003: 73).
Dalam ranah teoritis, Fainstein mengemukakan bahwa teori perencanaan atau
planning theory lebih banyak membahas tentang dimensi prosedural
perencanaan dan teori urban atau urban theory serta teori dalam perencanaan
atau theory in planning membahas tentang dimensi substantif dari perencanaan
(Fainstein, 2005: 121). Teori perencanaan, lebih banyak memuat teori
pengambilan keputusan, manajemen dan organisasi. Teori urban atau teori dalam
perencanaan, terbentuk dari berbagai pendekatan multidisiplin, seperti arsitektur,
geografi, transportasi, ekonomi dan sebagainya. Karena luasnya ruang lingkup
perencanaan, maka perencanaan dilakukan berdasarkan berbagai kombinasi
pendekatan (Rustiadi, 2009: 342).

10
11

2.2.2 Rencana tata ruang wilayah

2.2.2.1 Tata ruang

Tata Ruang merupakan wujud dari pola ruang dan struktur ruang
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26
Tahun 2007. Pola ruang erat kaitannya dengan istilah-istilah kunci seperti
pemusatan, penyebaran, pencampuran dan keterkaitan, serta posisi/lokasi dan
lainlain. Istilah pola pemanfaatan ruang (atau pola ruang) berkaitan dengan
aspekaspek distribusi (sebaran) spasial sumberdaya dan aktivitas
pemanfaatannya menurut lokasi. Secara formal, ekspresi pola pemanfaatan
ruang umumnya digambarkan dalam berbagai bentuk peta. Peta land use
(penggunaan lahan) dan peta land cover (penutupan lahan) adalah bentuk
deskripsi terbaik di dalam menggambarkan pola pemanfaatan ruang. Struktur
ruang merupakan gambaran mengenai linkages (hubungan keterkaitan) antara
aspek-aspek aktivitas pemanfaatan ruang dan hubungan antar komponen-
komponen yang ada pada suatu wilayah. Di dalam interaksi spasial di daratan,
secara spasial aspek keterkaitan digambarkan dengan unsur jaringan
prasarananya, sarana angkutan, obyek yang dialirkan, besaran aliran, hingga
aspek tujuan/maksud dari interaksi yang dituju. Aspek kedua struktur ruang
setelah struktur jaringan prasarana adalah aspek struktur pusat-pusat aktivitas
permukiman. Pada akhirnya, gambaran mengenai kapasitas atau hirarki pusat-
pusat dan linkage berimplikasi pada kebutuhan sarana dan prasarana (Rustiadi
dkk, 2009: 389, 390).
2.2.2.2 Rencana tata ruang wilayah

Perencanaan tata ruang pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang


dilakukan agar terwujudnya alokasi ruang yang nyaman, produktif dan
berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan
keseimbanganantar wilayah. Proses perencanaan tata ruang sendiri dapat
dijelaskan dengan pendekatan sistem yang melibatkan input, proses, output.
Input yang digunakan adalah keadaan fisik yang diproses dengan analisis secara
integral, baik kondisi saat ini maupun ke depan untuk masing-masing hirarki tata
ruang nasional, provinsi maupun kabupaten/kota sehingga menghasilkan output
berupa Rencana Tata Ruang yang menyeluruh, yaitu Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Nasional, RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota.
Khusus untuk RTRW Kabupaten/Kota merupakan rencana tata ruang
skala kabupaten/kota dengan muatan kelengkapan infrastruktur dasar di tingkat
lokal atau regional yang disesuaikan dengan karakteristik zona-zona
pengembangan kawasan yang ada. Pada tataran operasional, RTRW tersebut
perlu dikembangkan lagi menjadi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang
dilengkapi dengan aturan pemanfaatan lahan yang dapat dijadikan dasar dalam
pemberian izin dan pengendalian pemanfaatan ruang yang ada (Supriyatno,
2009: 57-58).
Produk Rencana Tata Ruang Wilayah Kota, adalah sebagai berikut

1. Tujuan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota

2. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota; muatan yang diatur
adalah:
a. Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota; terdiri atas
1) Arahan Pengembangan dan Distribusi Penduduk; Arahan distribusi
penduduk merupakan perkiraan jumlah dan kepadatan penduduk wilayah
kota hingga akhir tahun perencanaan yang selanjutnya dirinci dalam
distribusi pada setiap kawasan, sesuai dengan daya dukungnya.
2) Rencana Sistem Pusat Pelayanan Perkotaan; merupakan susunan yang
diharapkan dari unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam perkotaan,
lingkungan sosial perkotaan, dan lingkungan buatan perkotaan yang
secara hirarkis dan struktural berhubungan satu sama lain membentuk tata
ruang wilayah kota yang meliputi distribusi penduduk per unit
permukiman perkotaan, dan sebaran pusat-pusat pelayanan perkotaan
(fungsi primer dan sekunder).
3) Rencana Sistem Jaringan Transportasi; Sistem jaringan pergerakan dan
prasarana penunjang bagi angkutan jalan raya, angkutan kereta api,
angkutan laut, angkutan sungai, danau dan penyeberangan serta angkutan
udara.

12
13

4) Rencana Sistem Jaringan Utilitas (telekomunikasi, energi, pengairan,


prasarana pengelolaan lingkungan); Sistem jaringan utilitas dalam
Wilayah
Kota/Kawasan Perkotaan sampai dengan akhir tahun perencanaan.

b. Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota; merupakan bentuk


pemanfaatan ruang wilayah kota yang menggambarkan ukuran, fungsi serta
karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. Materi yang diatur
meliputi kawasan budidaya perkotaan dan kawasan lindung.
3. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung, Budidaya Perkotaan, dan Kawasan
Tertentu; meliputi:
a. Rencana Pengelolaan Kawasan Perkotaan; mencakup rencana penanganan
lingkungan perkotaan, arahan kepadatan bangunan, dan arahan ketinggian
bangunan.
1) Rencana Penanganan Lingkungan Kota; Jenis penanganan lingkungan
dan jaringan pergerakan serta utilitas untuk tiap unit lingkungan dan
atau kawasan yang akan dilaksanakan dalam kota.
2) Arahan Kepadatan Bangunan; Perbandingan luas lahan yang tertutup
(bangunan dan prasarana serta lainnya seperti : jalan, perparkiran, dll)
dalam tiap unit lingkungan dan atau kawasan dengan luas kawasan
(land coverage).
3) Arahan Ketinggian Bangunan; ketinggian bangunan untuk setiap
kawasan kota, sesuai dengan daya dukung kawasan yang dirinci untuk
setiap unit lingkungan dan atau kawasan.
4) Rencana Penatagunaan Tanah, Air, Udara dan Sumber Daya lainnya
dengan memperhatikan keterpaduan sumber daya alam dengan sumber
daya buatan; mencakup penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya yang berwujud
konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam
lainnya (termasuk arahan baku mutu udara, air; pemanfaatan udara
bagi jalur penebangan dan komunikasi; pemanfaatan air dan
penggunaannya)
b. Rencana pengelolaan kawasan tertentu di perkotaan; mencakup penanganan
lingkungan dan pengaturan bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan
pengelolaan kawasan tertentu dengan tetap menjamin keserasiannya dengan
pengelolaan kawasan perkotaan lainnya.
4. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang; merupakan kegiatan
pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang berdasarkan
mekanisme perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, pemberian
kompensasi, mekanisme pelaporan, mekanisme pemantauan, mekanisme
evaluasi dan mekanisme pengenaan sanksi.
5. Legalisasi; Rencana Tata Ruang Wilayah Kota ditetapkan dengan Peraturan
Daerah Kota tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. Rencana Tata Ruang
yang telah diperdalam merupakan dokumen peraturan perundangan yang
mengikat secara hukum bagi masyarakat.

Perencanaan tata ruang dalam penelitian ini adalah perencanaan RTRW


tingkat kabupaten/kota. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, bahwa
Kota
Denpasar telah memiliki beberapa dokumen perencanaan, antara lain: Dokumen

RIK tahun 1971, Dokumen RIK tahun 1981, Perda RUTR Kota No.11 tahun 1992,
Dokumen RTRWK tahun 1993, dan Perda RTRWK No.10 tahun 1999.
2.3 Landasan Teori

2.3.1 Perubahan kebijakan

Proses kebijakan yang sebenarnya juga merupakan proses politik yang


terlalu kompleks untuk dipandang sebagai proses linier formulasi-
implementasievaluasi semata. Dalam kacamata pandang proses politik ini,
bahkan, evaluasi hanyalah merupakan bahan tambahan dalam kancah politik
sebagai penyeimbang pertarungan kepentingan yang dialektis untuk kemudian
terjadi keputusankeputusan politik tertentu (Parsons, 1997: 569).

Grindle dan Thomas mengembangkan sebuah kerangka untuk

14
15

mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang perubahan kebijakan. Kerangka


yang mereka gagas pada dasarnya bersifat analitis, karena berusaha memetakan
proses dan mengidentifikasi faktor-faktor penting yang mempengaruhi hasil
pengenalan pembaharuan. Kerangka kerja ini membuat sistemastisasi pemikiran
mengenai bagaimana konteks bias mempengaruhi situasi-situasi tertentu,
bagaimana situasisituasi tersebut membentuk pilihan-pilihan, bagaimana opsi-
opsi dijelaskan dalam batasan politik, teknis, birokratik dan implikasinya dan
bagaimana karakteristik kebijakan mempengaruhi konflik dan sumber-sumber
yang diperlukan untuk mengatur upaya pengenalan perubahan kebijakan yang
reformatif. Jadi, kerangka ini semata-semata mencerminkan pengetahuan intuitif
dari pembuat kebijakan yang bermanuver dalam situasi kompleks untuk
mencapai tujuan tertentu.
I. Konteks Lingkungan II Keadaan Agenda Setting

POLITIK
KARAKTERISTIK
SEPERTI
INDIVIDU DARI ELIT rsepsi
SITUASI KRISIS BIASANYA
KEBIJAKAN
Tekanan kuat Persoalan telah
Ideologi
untuk perubahan dipilih
Keahlian professional
Tingkat Tingkat
Memori dan
pertaruhan pertaruhan
kesamaan situasi
tinggi rendah
kebijakan
Pengambilan Pengambilan
Posisi dan sumber-
keputusan tingkat keputusan
sumber kekuasaan
tinggi tingkat
Komitmen institusional
Perubahan FOKUS PERHATIAN rendah
dan politik
inovatif Tekanan Perubahan
Tujuan dan atribut
untuk mengambil incremental
personal
tindakan Waktu yang
secepatnya fleksibel
KONTEKS PILIHAN PEMBUATAN KEPUTUSAN
KEBIJAKAN
Pembuatan kebijakanPembuatan kebijakan cenderung didominasi
Tekanan sosial
cenderung didominasi oleh relasi politik oleh relasi politik
Konteks historis
makro mikro dan hubungan
Kondisi ekonomi birokratik
Kapasitas administrasi
Kebijakan lainnya
III Keadaan Agenda Setting
`

ARENA KONFLIK

PUBLIK
BIROKRATIK
memilliki Dampak langsung luas,
dan
Tidak
berdampak
langsung kecepatan
luas, tidak
visibel bagi
kelayakan
yang publik
tinggi bagi publik
SUMBER-SUMBER UNTUK
IMPLEMENTASI DAN KELANJUTAN

Legitimasi
Tradisi stabilitas politk
Reformasi individual atau sistemik
Otonomi
Derajat konsensus
Tingkat dukungan politik
Otoritas organisasi

Gambar 2.1 Ekonomi Politik dari Perubahan Kebijakan


Sumber: Grindle dan Thomas, 1991
2.3.2 Konfigurasi subsistem kebijakan

Dalam studi kebijakan publik, dimensi politik mau tidak mau harus
menjadi fokus perhatian. Karena sesungguhnya kebijakan publik itu adalah

16
17

sebuah kompleksitas Tarik menarik pengaruh dari berbagai pihak yang begitu
beragam.
Politik juga mampu menggambarkan dan mengintegrasikan apa
sesungguhnya persoalan kebijakan yang ada. Persoalan kebijakan muncul ke
permukaan dengan cara yang sangat kompleks, yaitu melalui dinamika
masyarakat yang di situ melibatkan aspirasinya, konsep diri, kepercayaan dan
kemudian mengkonstruksi persoalan-persoalan tertentu. (Howlett dan Ramsesh,
1998: 468).
Untuk melihat lebih dalam tipe dari sebuah subsistem yang ada, maka
kita harus mencermati dua aspek penting yaitu jaringan kebijakan dan
komunitas kebijakan. Ada dua variable yang harus dilihat, yaitu pihak-pihak
dominan. Dua pihak tersebut dikonstruksi pada Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Taksonomi Policy Networks


Pihak-pihak dominan Jumlah anggota
Sedikit Banyak
Negara Birokratis, sistem klien Jaringan pluralis
atau jaringan korporatis
Masyarakat Parsipatori, Jaringan isu
menangkap semua
elemen
Sumber: Howlett dan Ramesh, 1998: 470

Demikian pula bila akan memahami keadaan komunitas kebijakan di suatu


tempat maka juga menggunakan dua variable yaitu apakah ada ide-ide yang dominan
dan berapa banyak bangunan ide yang ada. Untuk lebih jelas bias dilihat pada Tabel
2.2 berikut:

Tabel 2.2 Taksonomi dari Komunitas Kebijakan


Adanya dominasi ide Banya knya ide
Sedikit Banyak
Ada Hegemonik Perpecahan
Tidak ada Perlombaan Kekacauan
Sumber: Howlett dan Ramesh, 1998: 471

Setelah kita tahu tipe dari subsistem kebijakan di atas, maka berikutnya
kita juga harus mengetahui lebih lanjut tentang tipe dari perubahan kebijakan itu
sendiri. Ada dua tipe perubahan kebijakan, yaitu inkremental dan rasional
komprehensif. Tapi tidak bisa hanya dilihat tipe perubahan kebijakan dari kedua
kategori tersebut, namun juga harus dilihat dari aspek tempo atau kecepatan
perubahan itu terjadi. Kedua dimensi di atas (model perubahan dan kecepatan
perubahan) dikonstruksikan pada Tabel 2.3 berikut:

Tabel 2.3
Taksonomi dari Perubahan Kebijakan
Model perubahan Kecepatan perubahan
Cepat Lambat
Paradigmatik Paradigmatik cepat Paradigmatik gradual
Normal Inkremental cepat Inkremental gradual
Sumber: Howlett dan Ramesh, 1998: 472

Kendati demikian tabel di atas masih belum mampu menjelaskan sampai


pada saat mana perubahan itu menjadi cepat atau lambat. Dalam hal ini apa
yang menyebabkan terjadinya kecepatan atau kelambatan dari sebuah perubahan
tersebut. Untuk melihat kecepatan perubahan kebijakan kita juga harus melihat
aspek ide. Kita harus melihat perubahan pada tingkat ide ini. Bila tidak ada
perubahan pada tingkat ini maka bisa dipastikan bahwa perubahan yang terjadi
akan inkremental. Untuk lebih jelas bias dilihat pada Tabel 2.4 berikut:

Tabel 2.4 Dampak Perubahan Ide dan Kepentingan pada Perubahan Kebijakan
Adanya perubahan Adanya perubahan aktor/kepentingan
tingkat ide Ya Tidak
Ya Paradigmatik cepat Paradigmatik lambat
Tidak Inkremental cepat Inkremental lambat
Sumber: Howlett dan Ramesh, 1998: 473

Perencanaan memiliki ruang lingkup yang luas, oleh karena itu


perencanaan umumnya dilaksanakan dengan berbagai pendekatan. Dalam
landasan teori berikut ini, pendekatan perencanaan akan dibedakan menjadi dua
pendekatan, yaitu: pendekatan prosedural dan pendekatan substantif.

18
19

2.3.3 Pendekatan perencanaan

Berdasarkan prosesnya, perencanaan dapat diklasifikasikan menjadi


perencanaan rasional komprehensif, perencanaan inkremental, mixed scanning,
perencanaan strategis, perencanaan advokasi, Equity planning, perencanaan
adaptif, perencanaan transaktif, dan pembangunan konsensus.

2.3.3.1 Perencanaan rasional komprehensif

Rational comprehensive planning (pendekatan rasional komprehensif)


atau disebut juga synoptic planning (perencanaan sinoptis) (Hoogerwerf 1983,
28;) merupakan tradisi perencanaan yang dominan dan paling luas diterima
(Winarno,
2002: 74) serta menjadi titik permulaan bagi sebagian besar pendekatanpendekatan
perencanaan yang muncul kemudian sebagai modifikasi atau reaksi atas pendekatan
rasional komprehensif-sinoptis ini (Hudson, 1979: 388).
Seperti arti namanya, yaitu komprehensif, yang berarti menyeluruh,
analisis dalam perencanaan komprehensif dilakukan dari semua aspek
kehidupan perkotaan (kependudukan, perekonomian, sosial, fisik dan
sebagainya) (Djunaedi, 2000: 3) dan sangat menekankan pada rasionalitas
dengan bermodalkan komprehensivitas informasi dan keahlian pembuatan
keputusan (Islamy, 1992: 50). Dalam pendekatan ini, permasalahan dipandang
sebagai suatu sistem yang terintegrasi (satu sudut pandang sistem)
menggunakan konsep dan model matematika untuk mempertimbangkan sumber
daya dan kendala dengan ketergantungan yang besar terhadap jumlah dan
analisis kuantitatif (Hudson, 1979: 389; Paturusi, 2008: 32).
Berikut ini adalah merupakan ciri-ciri atau karakteristik dari model rasional-
komprehensif menurut Lindblom (Hoogerwerf, 1983: 25; Islamy, 1988:
4.4):

1. Penentuan nilai-nilai dan tujuan-tujuan dibedakan dari dan umumnya


merupakan persyaratan bagi analisis empiris (menurut pengalaman)
dari alternatif-alternatif kebijaksanaan,
2. Perumusan kebijaksanaan oleh karena itu dapat didekati melalui
analisis cara dan tujuan. Terlebih dahulu tujuan dipisahkan dari
caracara untuk mencapai tujuan tersebut,
3. Suatu kebijakan disebut baik apabila didasarkan atas pemilihan
cara-cara yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan,
4. Analisis harus lengkap (komprehensif), setiap faktor yang penting dan
relevan diperhatikan,
5. Landasan teori sangat penting.
Berdasarkan karakteristik di atas, menurut Yehezkel Dror, untuk membuat
keputusan rasional, maka pembuat keputusan harus (Islamy, 1988: 4.4; Islamy,
1992: 50):

1. Mengetahui semua nilai-nilai utama yang ada pada masyarakat;


2. Mengetahui semua alternatif-alternatif yang tersedia;
3. Mengetahui semua konsekuensi-konsekuensi dari setiap alternatif;
4. Menghitung rasio antara tujuan-tujuan dan nilai-nilai sosial yang dikorbankan
bagi setiap alternatif dan
5. Memilih alternatif yang paling efisien.

Pendekatan rasional komprehensif dilakukan secara sekuensial (urut)


sebagai berikut: (1) penentuan tujuan, (2) identifikasi alternatif kebijakan, (3)
evaluasi cara mencapai tujuan dan (4) implementasi kebijakan. Proses ini tidak
selalu kaku mengikuti urutan ini, setiap tahap bisa mengalami pengulangan
beragam, umpan balik dan elaborasi pada setiap sub-proses (Hudson, 1979:
388).
Beberapa elaborasi terhadap proses ini seperti: (1) Perumusan masalah;
(2) Perumusan tujuan, nilai-nilai atau sasaran-sasaran yang diurutkan
berdasarkan nilai pentingnya, (3) menyusun alternatif untuk mencapai tujuan,
nilai-nilai atau sasaran tadi, (4) Penilaian konsekuensi-konsekuensi yang timbul
dari setiap alternatif, (5) Setiap alternatif dan konsekuensi dibandingkan satu
sama lain untuk kemudian, (6) diputuskan alternatif terbaik yang memiliki nilai
konsekuensikonsekuensi yang paling cocok (rasional) dengan tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan (Islamy 1988: 4.5; Islamy, 1992: 50; Winarno: 2002: 74).

20
21

Alternatif lain: (1) pengumpulan dan pengolahan data, (2) analisis, (3)
Perumusan tujuan dan sasaran perencanaan, (4) pengembangan alternatif rencana,
(5) evaluasi dan seleksi alternatif rencana dan (6) penyusunan dokumen rencana
(Djunaedi, 2000: 3). Atau (1) rumusan tujuan dan sasaran, (2) identifikasi dan
rancangan alternatif, (3) prediksi dampak yang akan ditimbulkan pada setiap alternatif,
(4) evaluasi dan penilaian terhadap alternatif berdasarkan tujuan dan sasaran, (5)
penentuan alternatif terbaik, (6) implementasi perencanaan, dan (7) umpan balik hasil
perencanaan untuk memperbaiki rencana berikutnya (Paturusi, 2008: 33).
Sebagai suatu model, pendekatan ini tentunya memiliki kelebihan dan
kelemahan (Paturusi, 2008: 32). Kelebihan pendekatan ini antara lain:
1. Spesifikasi perangkat tujuannya lengkap, menyeluruh, dan terpadu
2. Perumusan tingkat kepentingannya relatif sesuai dengan informasi
sumber daya dan prioritasnya. Produk akhir perencanaan sangat
ditentukan oleh kualitas informasi sebagai masukan awal,
3. Informasinya kontinu, akurat dan waktunya ketat. Keakuratan data
menjadi tumpuan utama pendekatan ini, sehingga diperlukan waktu,
kecermatan dan ketelitian untuk memilah dan memilih informasi yang
memang dibutuhkan dalam perencanaan,
4. Peramalan yang tepat dan rinci, dengan dukungan data yang akurat
disertai analisis rencana yang baik.

Kekurangan pendekatan ini antara lain:

1. Diperlukan survei yang rinci mencakup informasi fisik geografis,


data sosial kependudukan dan data sosial ekonomi. Untuk itu butuh
waktu yang banyak dan dana yang besar,
2. Dibutuhkan cara analisis yang rumit dan spesifik dengan data yang
baik, sesuai bidang masing-masing,
3. Hasil analisis yang canggih seringkali tidak sesuai dengan kenyataan
aktual. Karena pendekatannya sangat teoritis ilmiah, berbagai
prediksi dan analisis terlalu tinggi sehingga nyaris ke utopis (non-
implementability), dan
4. Sering mengabaikan kenyataan politik dan menggunakan anggapan
bahwa koordinasi selalu berjalan dengan baik.
Model rasional komprehensif yang sangat mengutamakan proses
berpikir rasional murni yang berorientasi pada pencapaian tujuan secara
ekonomis dan efisien jelas mengabaikan aspek emosional dan kekuasaan. Di
mana kedua aspek tersebut juga ikut berperan dalam praktek perencanaan
(Forester, 1996a: 204; Forester, 1996b: 241; Hoch, 1996: 30). Kritik paling
gencar datang dari penganjur teori inkremental yaitu Charles E. Lindblom. Ia
mengatakan bahwa penerapan model rasional komprehensif akan banyak
mengalami hambatan/kekurangan
(Islamy, 1988: 4.11) karena:

1. Tidak akan ada nilai-nilai masyarakat yang sepenuhnya


disepakati oleh anggota-anggotanya, tetapi hanya beberapa nilai
dari kelompok-kelompok masyarakat dan individu-individu
tertentu saja yang disepakati dan itupun banyak yang
bertentangan satu sama lain.
2. Nilai-nilai yang saling bertentangan itu tidak dapat
diperbandingkan atau dinilai bobotnya, misalnya, adalah tidak
mungkin membandingkan dan menimbang nilai-nilai kemuliaan
seseorang terhadap peningkatan pembayaran pajaknya.
3. Lingkungan para pembuat kebijakan khususnya sistem
kekuasaan dan sistem kepemimpinan, menyebabkan mereka
tidak mungkin melihat atau menilai bobot nilai-nilai masyarakat
secara tepat, khususnya nilai-nilai yang tidak memiliki lawan
(oposisi) yang aktif atau sangat kuat.
4. Para pembuat kebijakan tidak termotivasi untuk membuat
keputusan-keputusan atas dasar tujuan-tujuan masyarakat, tetapi
hanya untuk sebesar mungkin keuntungan mereka sendiri.
5. Para pembuat kebijakan tidak termotivasi untuk
memaksimumkan pencapaian-pencapaian tujuan tetapi semata-
mata untuk memuaskan/memenuhi tuntutan-tuntutan untuk
tetap maju; mereka tidak berusaha menemukan suatu cara
terbaik, tetapi mereka telah menghentikan usahanya ketika

22
23

mereka telah menemukan alternatif yang dapat bekerja atau


yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan tersebut.
6. Banyak investasi-investasi besar yang terdapat pada
programprogram dan kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan
sehingga menghalangi para pembuat kebijakan untuk
mempertimbangkan kembali alternatif-alternatif yang pernah
dipilih pada pembuatan kebijakan sebelumnya.
7. Terdapat sejumlah besar hambatan-hambatan untuk
mengumpulkan semua informasi yang diperlukan untuk
mengenali semua alternatif kebijakan yang memungkinkan dan
akibat-akibat masing-masing alternatif tersebut termasuk biaya
pengumpulan informasi dan waktu yang dibutuhkannya.
8. Tidak adanya kemampuan meramal yang cukup baik pada
ilmuilmu sosial dan perilaku, maupun ilmu-ilmu fisika dan
biologi sehingga memungkinkan para pembuat kebijakan dapat
memahami semua konsekuensi-konsekuensi setiap alternatif.
9. Para pembuat kebijakan kendatipun dibantu dengan teknik-
teknik analisis komputer yang paling maju pun tidak akan
mampu menghitung secara tepat rasio biaya keuntungan
bilamana terdapat sejumlah besar nilai-nilai politik, sosial,
ekonomi dan kebudayaan yang berbeda.
10. Para pembuat kebijakan memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi,
keterbatasan-keterbatasan, penyimpangan-penyimpangan yang
dapat menghalangi mereka melakukan sesuatu secara rasional.
11. Ketidakpastian tentang akibat-akibat pelbagai macam alternatif
kebijakan memaksa para pembuat kebijakan berhenti berusaha
setelah menemukan alternatif-alternatif yang mendekati atau
mirip dengan alternatif kebijakan sebelumnya untuk
mengurangi akibat-akibat yang tidak diinginkan.
12. Sifat pembuat kebijakan yang berjenjang dan berbeda-beda
dalam birokrasi yang besar telah menyebabkan timbulnya
kesulitan dalam mengkoordinasikan pembuatan keputusan
sehingga masukan-masukan dan pelbagai macam spesialis perlu
dipertemukan untuk sampai kepada keputusan yang diinginkan.

2.3.3.2 Perencanaan inkremental

Setelah melihat kelemahan-kelemahan pada model rasional


komprehensif, Herbert A. Simon menawarkan model lain yang disebut prinsip
rasional terikat/terbatas. Simon menganggap model ini lebih realistis, karena
mengakui akan keterbatasan-keterbatasan yang ada perencana, seperti
keterbatasan pengetahuan, keahlian, waktu, dana, tenaga dan sebagainya,
sehingga perencana sebagai pembuat kebijakan tidak mampu
mempertimbangkan semua nilai-nilai sosial dan dampaknya secara detail. Oleh
karena itu dalam membuat kebijakan, perencana cukup memuaskan diri dengan
hanya memilih satu alternatif yang cukup baik yang dijumpai pertama kali
dengan tanpa bersusah payah mencari
alternatif-alternatif yang paling baik (Islamy, 1988: 4.18; Parsons, 2005: 276).

Lebih lanjut Charles E Lindblom, mengemukakan bahwa perumusan


kebijakan analitis tidak dapat disangkal lagi punya keterbatasan dan harus
menyediakan ruang bagi politik sampai pada tingkat bahwa:
1. analisis bisa salah, dan masyarakat menyadari hal itu,

2. analisis tidak sepenuhnya menyelesaikan konflik nilai dan kepentingan,

3. prosesnya lambat dan mahal, dan

4. analisis tidak dapat menunjukkan secara tegas masalah mana yang harus ditangani
(Linblom, 1986: 22).
Atas dasar pemikiran tersebut di atas, maka Lindblom memperkenalkan
model incremental atau disebut The Science of Muddling Through.
Karakteristik pembuatan keputusan, dalam term muddling through adalah
sebagai berikut:

1. pembuatan keputusan berjalan melalui perubahan bertahap,

24
25

2. pembuatan keputusan melibatkan penyesuaian dan negosiasi mutual,


3. kelalaian pembuatan keputusan lebih disebabkan oleh eksklusif aksidental
ketimbang eksklusif yang sistematis atau disengaja,
4. pembuatan keputusan tidak dibuat sekali untuk semua,
5. pembuatan keputusan tidak dipandu oleh teori,
6. pembuatan keputusan lebih baik ketimbang usaha si manusia untuk memahami
segala hal,
7. ukuran keputusan yang baik adalah pada kesepakatan dan proses ketimbang pada
pencapaian tujuan dan sasaran, dan
8. pembuatan keputusan melibatkan upaya trial and error (Parsons, 2005: 289).

Secara sederhana perbedaan karakteristik antara kedua pendekatan tersebut


dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Perbandingan Pendekatan Rasional Komprehensif dengan Pendekatan Inkremental

Rasional komprehensif Inkremental


1. Klarifikasi nilai-nilai atau tujuan 1. Pemilihan nilai-nilai/tujuan-tujuan
berbeda dari dan biasanya dan analisis empiris terhadap
merupakan prasayarat untuk tindakan yang diperlukan tidak
analisis empiris terhadap berbeda satu sama lain tetapi
alternatif-alternatif kebijakan saling berkaitan
2. Perumusan kebijakan oleh 2. Karena cara dan tujuan tidak
karenanya melalui pendekatan berbeda, maka analisis cara-
analisis cara-tujuan. Pertama tujuan tujuan seringkali tidak tepat atau
ditentukan kemudian dicari cara- terbatas.
cara untuk mencapai tujuan itu
3. Penentuan suatu kebijakan disebut 3. Penentuan kebijakan disebut
baik ditentukan atas dasar baik bila
pemilihan berbagai pembuat keputusan itu
cara-cara yang paling tepat untuk melakukan, memberikan
pencapaian tujuan yang diinginkan kesepakatan secara langsung
terhadap kebijakan yang dibuat
4. Analisis dilakukan secara 4. Analisis dibatasi secara drastis:
komprehensif; setiap faktor yang
i. Kemungkinan-kemungkinan
penting dan relevan
hasil yang penting
dipertimbangkan secara seksama
tidak/kurang diperhatikan
ii. Alternatif-alternatif kebijakan
yang potensial tidak/kurang
diperhatikan
iii. Nilai-nilai penting yang
berpengaruh tidak/kurang
diperhatikan

Sumber: Lindblom, 1959: 81

Dalam karyanya yang lebih baru (1963), Lindblom berusaha


memperluas dan memperbaiki ide-idenya: hasilnya adalah pengenalan gagasan
disjointed incrementalism (inkrementalisme yang terputus-putus). Dalam
pendekatan ini pembuatan keputusan dilakukan melalui perbandingan antara
kebijakan yang hanya memiliki sedikit perbedaan dengan kebijakan lain dan
tidak ada tujuan atau visi besar yang mesti dikejar selain mengatasi problem dan
memperbaiki keadaan.
Tujuan ditetapkan menurut sarana dan sumber daya yang tersedia. Ia bersifat terputus-
putus karena keputusan tidak dibuat di bawah rencana yang menyeluruh, kontrol
lengkap atau koordinasi (Parsons, 2005: 289).
Pendekatan inkremental sendiri juga dikritik sebagai terlalu khawatir
dan konservatif, karena mengingkari kekuatan perubahan sosial yang
revolusioner (perubahan besar dan dalam waktu relatif singkat), sehingga
pendekatan ini kadang dianggap sebagai pendekatan yang pro-interia dan anti-
inovasi, sesuai dengan lingkupnya yang relatif sempit dan parsial. (Dror dalam
Ham dan Hill, 1993: 88). Pendekatan ini juga dikritik berkaitan dengan
kelemahannya dalam berpikir induktif dengan berasumsi bahwa stimulus dan
respon jangka pendek dapat menggantikan kebutuhan terhadap visi dan teori
(Djunaedi, 2000: 5; Rustiadi, dkk, 2009: 343).

2.3.3.3 Mixed scanning

26
27

Sebagai tanggapan atas pendekatan rasional dan inkremental, Etzioni


(1967, 1986) menyatakan bahwa pendekatan rasionalitas dalam pembuatan
keputusan membutuhkan sumber daya yang lebih besar daripada apa yang dapat
dimanfaatkan oleh pembuat keputusan. Sedangkan strategi inkremental, yang
mempertimbangkan kapasitas aktor yang terbatas, telah menciptakan keputusan
yang mengabaikan inovasi sosial dasar masyarakat. Etzioni kemudian
mengemukakan pendekatan ketiga yang disebut mixed scanning (pengamatan
campuran).
Mixed scanning mereduksi aspek yang tidak realistis dalam pendekatan
rasional dengan membatasi detail yang dibutuhkan dalam membuat keputusan
fundamental dan membantu mengatasi kecenderungan konservatif
inkrementalisme dengan mengeksplorasi alternatif jangka panjang. Model
mixed scanning ini membuat dualisme tersebut menjadi eksplisit dengan
mengombinasikan (a) proses pembuatan kebijakan fundamental yang
menentukan arah dasar, dan (b) proses inkremental yang disiapkan untuk
keputusan fundamental dan untuk melaksanakannya setelah keputusan itu
tercapai.
Mixed scanning memiliki dua kelebihan daripada inkremantalisme, yaitu
menyediakan suatu strategi untuk evaluasi. Fleksibilitas dari tingkat pengamatan
yang berbeda membuat mixed scanning sebagai suatu strategi yang berguna
untuk pembuatan keputusan dalam lingkungan dengan stabilitas beragam dan
oleh pihak-pihak dengan kontrol beragam serta kapasitas untuk pembangunan
konsensus (Etzioni, 1967: 385).

Dengan demikian model ini mengakui bahwa para pembuat keputusan


harus mempertimbangkan biaya pengetahuan: tak semuanya bisa diamati, jadi
para pembuat keputusan berusaha (atau harus berusaha) untuk mengamati
areaarea utama secara penuh dan secara rasional, sedangkan area lainnya
hanya akan diamati secara sepotong-sepotong (Parsons, 2005: 301).
Ham dan Hill mencatat bahwa ada problem dalam model Etzioni, yaitu
apakah keputusan fundamental memang signifikan seperti yang diungkapkan
Etzioni. Meski dalam beberapa situasi keputusan fundamental memang penting,
namun dalam situasi lainnya pembuatan keputusan dilakukan secara kurang
terstruktur. Dalam beberapa area organisasi dan kebijakan, tindakan dijustifikasi
karena sesuatu selalu telah terlaksana, daripada harus merujuk pada keputusan
fundamental yang berperan sebagai konteks bagi tindakan tersebut. Ketika ini terjadi,
hal-hal yang tidak direncanakan lebih banyak muncul daripada rancangan kebijakan
yang mencirikan proses kebijakan. Kesulitan lain adalah bagaimana membedakan
keputusan fundamental dengan keputusan inkremental (Ham dan Hill, 1993: 91).

2.3.3.4 Perencanaan advokasi

Advocacy planning (perencanaan advokasi) dikembangkan pertama kali


oleh Paul Davidoff (1965). Perencanaan advokasi muncul sebagai tanggapan
atas praktek perencaaan yang dilakukan satu lembaga perencanaan tunggal yang
dikontrol pemerintah tanpa akuntabilitas publik dan dikelola oleh perencana
tanpa pengetahuan tentang kondisi sosial dan ekonomi, dengan mengabaikan
pluralisme nilai-nilai masyarakat serta eksklusi terhadap masyarakat miskin dan
minoritas. (Checkoway, 1994: 141; Clavel, 1994: 146).
Perencanaan advokasi menolak adanya asumsi bahwa hanya ada satu
nilai atau satu kepentingan umum tunggal, tetapi mengakui adanya pluralisme
nilainilai atau kepentingan dari dan dalam kelompok masyarakat yang sebagian
besar tidak mampu diakomodasi dalam perencanaan formal. Karenanya
perencana harus mampu berperan sebagai advokat dalam proses politik untuk
mempertemukan kepentingan pemerintah dan kelompok masyarakat seperti itu,
organisasi atau individu yang menaruh perhatian dalam mengajukan kebijakan
untuk pembangunan masa depan komunitas (Davidoff, 2000 [1965] : 425).
Dalam pendekatan ini perencana dituntut meliki kemampuan khusus, seperti:
keahlian diplomatik dalam mendengarkan, negosiasi, mediasi, penyelidikan, inovasi,
rekonsiliasi, fasilitasi atau organisasi dan banyak lagi (Forester, 1994: 154).
Perencanaan advokasi telah berhasil dalam mencegah munculnya
rencana yang tidak sensitif dan menantang pandangan tradisional tentang
kepentingan umum yang tunggal. Perencanaan advokasi juga dianggap berhasil
dalam menjembatani antara unsur profesional dan politis (Marris, 1994: 143)
serta memberi pengaruh pada perkembangan suatu bentuk pendekatan
perencanaan berikutnya yaitu equity planning (Krumholz, 1994: 150).
Namun, pendekatan ini juga tidak terlepas dari kritik, bahkan pada konsep

28
29

pluralism yang diusungnya. Perencanaan advokasi dianggap terlalu


menyederhanakan bahwa suatu komunitas/kelompok masyarakat memiliki satu
kepentingan, daripada terdiri dari berbagai kepentingan dan sering kali
bertentangan satu sama lain; mengesampingkan kekuatan politik (kekuatan
politik tersembunyi seperti kelompok lobby) bila dibandingkan dengan
analisis
rasional, serta memandang terlalu tinggi terhadap peran perencana-advokat sebagai
formulator dan generator isu (Hayden, 1994: 160; Peattie, 1994: 152).

2.3.3.5 Equity planning

Equity planning atau perencanaan (berdasarkan) keadilan, terinspirasi


dari perencanaan advokasi yang dikemukakan Davidoff. Equity planning
mengikuti pendapat perencanaan advokasi bahwa akar-akar ketidakadilan sosial
ekonomis perkotaan perlu diatasi, tapi tidak sependapat bahwa perencana
mempunyai tanggung jawab eksplisit untuk membantu pihak-pihak yang tidak
beruntung
(Djunaedi, 2000: 4). Equity planning berusaha untuk mencapai redistribusi kekuasaan,
sumber daya atau partisipasi yang semula berpusat pada elit lokal menuju pada
penduduk miskin (Krumholz, 1994: 150).

2.3.3.6 Perencanaan adaptif

Perencanaan adaptif didasarkan pada ide untuk menghasilkan


kesempatan pembelajaran tentang pelaksanaan menyeluruh, pemantauan dan re-
evaluasi pada tahap rencana. Dalam satu pengertian, pendekatan adaptif
mencerminkan peleburan perencanaan dengan manajemen yang menekankan
pentingnya
fleksibilitas dan responsivitas pada level pembuatan keputusan dan rancangan
(Dempster, 1998: 132).
Pendekatan ini dilakukan apabila diperoleh informasi baru maka segera
dilakukan review atas suatu pengelolaan yang sedang berjalan sehingga
dirumuskan pendekatan-pendekatan baru. Perencanaan adaptif hanya dapat
dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan luas yang biasanya
hanya dimiliki oleh pucuk-pucuk pimpinan. Namun pendekatan adaptif
menghadapi kendala, terutama akibat adanya penolakan lembaga pengelola atau
pihak-pihak yang memanfaatkan sumberdaya untuk melakukan penyesuaian
terhadap hal-hal yang bagi mereka penuh ketidakpastian. Selain itu,
perencanaan adaptif yang terlalu longgar, akan banyak menimbulkan
inkonsistensi dalam perspektif jangka panjang yang berpengaruh pada
kesinambungan kebijakan perencanaan dan program-program antar waktu yang
dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuantujuan strategis jangka panjang
(Rustiadi, dkk, 2009: 344).
2.3.3.7 Perencanaan transaktif

Perencanaan transaktif dikembangkan oleh Friedmann sebagai respon


terhadap permasalahan yang timbul akibat sentralisasi dalam perencanaan sosial
yang didasarkan model rasional komprehensif yang abai pada proses (McAvoy,
dkk, 1991: 45). Menurut Friedmann, perencanaan dalam prosesnya haruslah:
normatif, politis, transaktif, inovatif dan berdasarkan pembelajaran sosial
(Friedmann, 1993: 483).
Perencanaan transaktif menempatkan isu keterlibatan para pihak dengan
menempatkan komunitas perencanaan dalam suatu diskusi. Menurut pendekatan
ini, pengetahuan akan bermanfaat dengan baik ketika menghasilkan tindakan
yang berkontribusi dalam mempertemukan kebutuhan kelompok masyarakat
yang berkepentingan. Prinsip utama perencanaan transaktif adalah pembelajaran
bersama melalui kontak langsung dengan para pihak yang dipengaruhi oleh
implementasi dari suatu rencana (Sharma, 2008: 83).
Perencanaan transaktif menempatkan para pihak yang terpengaruhi
tersebut dalam proses perencanaan, bersifat partisipatif. Dalam beberapa situasi
hal ini secara nyata menguntungkan ketika isu-isu lokal langsung diperoleh dari
semua kelompok yang hadir, dan interaksi tatap muka dengan mereka atau
kelompok perwakilan mengalami kecocokan. (Alexander, 1994: 375).

2.3.3.8 Consensus building

Munculnya consensus building (pembangunan konsensus) sebagai suatu


pendekatan dalam perencanaan telah membuka peluang untuk memformulasi

30
31

ulang perencanaan komprehensif. Consensus building muncul secara pararel


dengan pemikiran rasionalitas komunikatif dalam pengertian bahwa suatu

keputusan dikatakan rasional pada derajat dimana keputusan tersebut dicapai


dengan persetujuan melalui diskusi yang melibatkan semua stakeholder dalam
kedudukan yang setara (Innes, 1996: 461).
Consensus building berperan sebagai suatu cara dalam menemukan
strategi yang layak untuk menghadapi perencanaan dan kebijakan yang tidak
pasti, kompleks dan kontroversial. Karena melalui konsensus akan muncul
pengetahuan, ide dan aksi bersama yang lebih baik untuk menghadapi kondisi
tersebut. Melalui proses konsensus, para stakeholder akan mampu belajar,
secara bersama memperoleh pemahaman baru dan membangun kepercayaan dan
menciptakan solusi yang efektif (Innes dan Booher, 1999: 421).
Tabel 2.6 Perbandingan Pendekatan Perencanaan
Pendekatan Rasional Komprehensif Inkremental Mixed Scanning Perencanaan Advokasi
perencanaan
Karakteristik Netral Sama seperti rasional Sama seperti rasional Advokasi dalam proses
Perencanaan Aktivitas teknis yang komprehensif komprehensif politik untuk
berpusat pada negara mempertemukan
kepentingan pemerintah
dan kelompok
masyarakat
Peran negara Sebagai perantara netral Sama seperti rasional Sama seperti rasional Mendengarkan dan
yang ingin mencapai komprehensif komprehensif menerima aspirasi
masyarakat yang stabil masyarakat
dengan pengetahuan teknis
Tujuan Peningkatan kualitas Sama seperti rasional Sama seperti rasional Keadilan sosial terutama
lingkungan komprehensif komprehensif bagi masyarakat yang
termajinalkan
Ruang lingkup Fisik/spasial dan sosial Fisik/spasial dan sosial Fisik/spasial dan sosial Permasalahan dari
ekonomi ekonomi ekonomi masyarakat yang
termajinalkan
Metode Perumusan masalah Sama seperti rasional Sama seperti Advokasi kelompok yang
Pengumpulan data komprehensif, namun inkremental, namun tetap terpinggirkan agar dapat
Analisis hanya memfokuskan memperhatikan tujuan diakomodasi pemerintah.
Tujuan dan sasaran untuk melanjutkan jangka panjang
Perencanaan kondisi yang telah ada
Pengambilan keputusan dalam jangka pendek
Implementasi (setahap demi setahap)
Sumber: Shetawy, 2002: 81

39

Tabel 2.6 (Lanjutan)


Perbandingan Pendekatan Perencanaan
Pendekatan Equity Planning Perencanaan Adaptif Perencanaan Transaktif Consensus building
perencanaan
Karakteristik Merepresentasikan semua Perubahan dilakukan Pembelajaran Pembelajaran
Perencanaan kelas sosial dengan cepat sesuai bersama dengan para bersama dengan para
kondisi yang telah ada pihak yang pihak yang
dipengaruhi oleh dipengaruhi oleh
implementasi dari implementasi dari
suatu rencana suatu rencana

Peran negara Mengakomodasi kepentingan Dominan, keputusan Negara sebagai pengatur Negara sebagai fasilitator
semua kelas sosial diamnil oleh pihak-pihak umum dan regulator, melibatkan semua
yang memiliki terbuka untuk dominasi stakeholder dalam
kewenangan salah satu pihak atau kedudukan yang setara
menekan pihak lain.
Tujuan Keadilan sosial, kesetaraan Perubahan dalam waktu Kompromi Persetujuan yang
kelas singkat melibatkan semua
stakeholder dalam
kedudukan yang setara
Ruang lingkup Kepentingan semua kelompok Rencana yang sedang Kelompok kepentingan Kelompok kepentingan
berjalan
Metode Diskusi yang melibatkan semua Review atas suatu Diskusi yang melibatkan Diskusi yang melibatkan
stakeholder dalam kedudukan pengelolaan yang sedang semua stakeholder semua stakeholder dalam
yang setara berjalan sehingga kedudukan yang setara
dirumuskan
pendekatanpendekatan
baru
Sumber: Shetawy, 2002: 81
40
41

2.4 Model Penelitian

Model penelitian dimulai dari kajian pustaka terkait dengan topik


penelitian yaitu tentang pendekatan perencanaan. Konsep yang sudah ditentukan
akan menjadi sebuah penjelasan tentang apa saja yang dicari dalam penelitian ini.
Rumusan masalah merupakan indikator untuk menentukan teori yang akan
digunakan untuk menganalisisnya.
Perencanaan tata ruang dapat dipahami dengan teori pendekatan
perencanaan, namun prakteknya tidak mungkin membicarakan perencanaan
terpisah dari konteks institusional dan politik, serta adanya kesulitan dalam
memadankan relasi kekuasaan dalam diskursus perencanaan, sehingga diperlukan
juga teori perubahan kebijakan publik untuk memahami proses perencanaan tata
ruang wilayah sebagai bagian dari proses perumusan kebijakan publik yang
bersifat birokratis.

Dengan demikian untuk mengetahui pendekatan perencanaan yang


diterepkan dalam perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar, perlu diketahui
terlebih dahulu proses dan pihak-pihak dan kepentingan-kepentingan yang terlibat
dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar. Untuk lebih jelas model perencanaan
dapat dilihat pada Gambar 2.2
42

Perencanaan Kota sebagai aktivitas Perencanaan Kota sebagai fungsi


teknis yang rasional dan netral negara yang diformulasikan melalui
proses politik dan kebijakan publik

Proses penyusunan Siapa dan bagaimana Pendekatan


pihak
- pihak Perencanaan
berpengaruh

Teori perubahan kebijakan Teori pendekatan perencanaan:


konfigurasi subsistem Karakteristik perencanaan
kebijakan Proses analisis Tujuan
Ruang Lingkup
Metode
Kesimpulan dan saran

Gambar 2.2 Model PenelitianBAB III


BAB III
METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang rancangan penelitian, lokasi penelitian, jenis dan sumber data yang digunakan, instrumen
penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, serta teknik penyampaian hasil analisis.

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui integrasi teori dan praktek perencanaan yang mencakup proses dan substansi
perencanaan kota dalam tingkatan rencana tata ruang wilayah kota serta dampak rencana tersebut pada struktur dan pola ruang.
Berdasarkan hal yang ingin dicapai tersebut, maka penelitian dilakukan dengan metode kualitatif. Format kualitatif dimanfaatkan untuk
keperluan meneliti sesuatu dari segi prosesnya. Serta data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka
(Moleong,2008:7).

Penelitian ini menggunakan pendekatan penulisan deskriptif. Penelitian deskriptif mempunyai bertujuan untuk menggambarkan,
meringkas berbagai kondisi, situasi atau fenomena realitas yang menjadi obyek penelitian dan berupaya menarik realitas itu ke
permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun fenomena tertentu (Bungin,
2008: 68).
Rancangan penelitian yang dilakukan ini melalui beberapa tahapan, yakni diawali dengan menentukan permasalahan,
menentukan instrumen penelitian, menentukan metode yang dipergunakan mencakup wawancara dan studi

43
dokumentasi. Selanjutnya, tahapan menganalisis data yang sudah terkumpul. Tahap terakhir merupakan kesimpulan serta rekomendasi.
Keseluruhan rangkaian proses tersebut disusun dan kemudian disajikan dalam wujud tesis.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di Kota Denpasar dengan ruang lingkup penelitian pada kasus perencanaan tata ruang wilayah
Kota Denpasar. Karena perencanaan merupakan salah satu fungsi pemerintahan maka penelitian juga dilakukan pada lingkungan
birokrasi Pemerintah Kota Denpasar yang membidangi perencanaan kota.

Tabel 3.1
Peta Lokasi Penelitian/Orientasi Perencanaan
3.3 Jenis dan Sumber Data

Sesuai dengan pendekatan penelitian maka jenis data yang akan diperoleh adalah data kualitatif yang diungkapkan dalam bentuk
kalimat serta uraian-uraian.
Sumber data dapat dibagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer bersumber dari
informasi dari para stakeholder yang terlibat dalam proses dan memahami substansi perencanaan tata ruang Kota
Denpasar, meliputi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Denpasar dan Dewan Perwakilan Rakyat Kota Denpasar.
Sumber data sekunder utama berupa peraturan daerah tentang rencana tata ruang yang mencakup Perda RUTR Kota No.11 tahun
1992, Dokumen RTRWK tahun 1993, dan Perda RTRWK No.10 tahun 1999,notulen rapat dan berita acara rapat. Sumber data sekunder
lainnya berupa bahan-bahan informasi mengenai proses rencana tata ruang yang dikeluarkan instansi yang membidangi perencanan
kota, seperti majalah, buletin, berita-berita media massa, pengumuman, atau pemberitahuan. Penjabaran jenis dan sumber data dalam
penelitian ini dapat dilihat melalui tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1
Jenis dan Sumber Data
N Tujuan Data Jenis Sumber Perolehan
o Data Data
1 Mengetahui proses Laporan Panitia Kualitati Wawanc Bappeda
penyusunan Perda Khusus f ara Studi Kota
No. 27 Tahun 2011 RTRW. dokumen Denpasar
tentang Notulendan berita DPRD
RTRW Kota acara rapat Kota
Denpasar 2011- Denpasar
2031 serta produk Media massa.
kebijakan yang
dihasilkan

2 Mengetahui pihak- Laporan Panitia Kualitati Studi Bappeda


. pihak dan Khusus f dokumen Kota
kepentingan yang RTRW. Denpasar
berpengaruh dalam Notulendan berita DPRD
penyusunan Perda acara rapat Kota
No. 27 Tahun 2011 Denpasar
Naskah RTRW.
tentang RTRW Kota
Materi teknis RTRW
Denpasar 2011-
Peraturan
2031.
perundangundangan.
3 Mengetahui Laporan Panitia Kualitati Studi Bappeda
. pendekatan yang Khusus f dokumen Kota
diterapkan dalam RTRW. Denpasar
perencanaan tata Media massa. DPRD
ruang wilayah di Naskah RTRW. Kota
Kota Denpasar. Peraturan Denpasar
perundangundangan.
3.4 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, instrumen yang dipakai dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada diri peneliti sebagai
alat pengumpulan data. Hal ini disebabkan oleh sulitnya mengkhususkan secara tepat pada apa yang akan diteliti. Di samping itu, orang
sebagai suatu instrumen dapat mengambil keputusan secara luwes. Ia dapat menilai keadaan dan dapat mengambil keputusan (Moleong,
1988:19).
Dalam penelitian ini, instrumen penelitian yang dipakai untuk mengumpulkan data adalah pedoman wawancara, seperangkat
komputer dan alat tulis.

3.4.1 Pedoman wawancara

Pedoman wawancara digunakan pada metode wawancara yang dilakukan pada orang-orang yang terlibat dalam proses
perencanaan RTRW Kota Denpasar, serta para pakar dan praktisi yang berkompoten dalam bidang perencanaan. Di dalamnya termuat
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan rumusan masalah dan sasaran pada penelitian yang dilaksanakan. Pertanyaan yang
diberikan lebih terfokus pada proses perencanaan RTRW Kota Denpasar serta dampaknya pada struktur dan pola ruang Kota Denpasar
(pedoman wawancara terlampir).

3.4.2 Daftar para pihak dan tahapan kegiatan

Daftar tahapan kegiatan digunakan untuk mengelompokkan pihak-pihak yang terlibat berserta gagasan masing-masing, serta
untuk menyusun tahapantahapan kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar.
Tahapan-tahapan kegiatan tersebut disusun berdasarkan urutan kronologis.
3.4.3 Tabel perbandingan pendekatan perencanaan

Tabel perbandingan pendekatan perencanaan digunakan untuk mencocokkan proses perencanaan yang terjadi dengan teori
pendekatan
perencanaan seperti yang tertulis pada Tabel 2.6

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan teknik kepustakaan. Wawancara dilakukan terhadap Bappeda Kota
Denpasar dan DPRD Kota Denpasar. Teknik wawancara menggunakan petunjuk umum atau prosedur wawancara. Jenis wawancara ini
menggunakan petunjuk umum atau prosedur wawancara tanpa perlu dilakukan secara berurutan. Demikian pula penggunaan dan
pemilihan kata untuk wawancara dalam hal tertentu tidak dirumuskan secara baku. Petunjuk wawancara berisi petunjuk secara garis
besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup. Pelaksanaan
wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dalam konteks wawancara yang sebenarnya. Arahan
wawancara ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai proses dan substansi perencanaan serta dampaknya terhadap tata ruang
wilayah.
Teknik studi dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder berupa dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi,
seperti yang telah disebutkan pada bagian jenis dan sumber data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik perekaman
dan pencatatan baik untuk wawancara maupun dokumentasi, serta teknik penelurusan data secara online melalui internet.
3.6 Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, reduksi data
yaitu melakukan penyusunan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan sumber data sekunder, kemudian ditentukan data atau
informasi yang sesuai fokus penelitian. Sementara data yang kurang relevan dikesampingkan.
Kedua, pengklasifikasian data dalam beberapa titik tekan pada persoalan atau rumusan masalah penelitian. Pada tahap inilah
pendekatan-pendekatan teori yakni teori-teori yang relevan dijadikan teori untuk memahami, meneliti serta menganalisis fokus dalam
penelitian.
Tabel 3.2 Teknik Analisis Data
No Tujuan Instrumen Teknik analisis
Data
Penelitian
1 Mengetahui Laporan Panitia Daftar para Data dianalisis
proses Khusus RTRW. pihak dan berdasarkan
penyusunan Media massa. tahapan urutan
Perda No. 27 kegiatan kronologi
Tahun 2011 Pedoman proses
tentang wawancara perencanaan
RTRW Kota RTRW dengan
Denpasar teori perubahan
2011-2031 kebijakan,
dengan
penekanan
pada:

Keadaan
agenda
setting

Arena
Konflik
2. Mengetahui Laporan Panitia Daftar Para pihak yang
pihakpihak dan Khusus RTRW. para pihak ada dianalisis
kepentingan Media massa. dan dengan teori
yang Naskah RTRW. tahapan konfigurasi
berpengaruh Peraturan kegiatan subsitem
dalam perundangundangan. kebijakan.
penyusunan
Perda No. 27
Tahun
2011 tentang
RTRW Kota
Denpasar
20112031.
3. Mengetahui Laporan Panitia Tabel Menguraikan
pendekatan Khusus RTRW. perbandinga proses dan
yang Media massa. n pendekatan produk
diterapkan Naskah RTRW. perencanaan kebijakan yang
dalam Peraturan dihasilkan
perencanaan perundangundangan. dalam poinpoint
tata ruang berikut:
wilayah di Tujuan
Kota Denpasar Metode
serta produk
kebijakan yang
dihasilkan.

3.7 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun yang dapat memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan
dan pengambilan tindakan. Penyajian informasi dilakukan dalam bentuk teks naratif yang memperlihatkan adanya proses perencanaan
serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses perencanaan
Penarikan simpulan merupakan satu bagian dari satu kegiatan konfigurasi yang utuh. Penarikan simpulan dilakukan berdasarkan
analisis yang cermat dan mendalam terhadap data-data yang diperoleh. Simpulan yang didapat harus mampu memberikan jawaban atas
beberapa pertanyaan yang telah dikemukakan dalam rumusan permasalahan penelitian ini.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Proses Penyusunan RTRW Kota Denpasar Tahun 2011 -2031

Maksud Penyusunan RTRW Kota Denpasar adalah merevisi Perda Nomor

10 tahun 1999 tentang RTRW Kota Denpasar sesuai amanat Pasal 78 UU. Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Perda RTRW
Kota Denpasar harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam UU Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN serta Perda Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali, agar
terjadi kesinambungan dan integrasi sistem penataan ruang nasional, provinsi dan daerah kota.
Penyusunan RTRW dimaksud diinisiasi oleh Bappeda Kota Denpasar dalam sebuah proses yang melibatkan beberapa pihak.
Proses tersebut diuraikan dalam uraian di bawah ini.

4.1.1. Rapat Evaluasi RTRW

Dalam rangka revisi Perda Nomor 10 Tahun 1999 tentang RTRW Kota

Denpasar, maka diadakan rapat untuk membahas evaluasi RTRW Kota Denpasar

(Perda Nomor 10 Tahun 1999) bertempat di Bappeda Kota Denpasar pada 19 Mei 2006. Rapat dihadiri seluruh kepala desa/lurah Kota
Denpsar. Rapat ini bertujuan memperoleh informasi atau masukan sebagai bahan kajian dalam rangka evaluasi
RTRW.
50
Beberapa informasi yang diterima Bappeda Kota Denpasar, antara lain informasi dari Lurah Serangan, bahwa perumahanan
masyarakat di Serangan sudah ada sejak lama, dan kondisi sempadan pantai tidak lagi memenuhi ketentuan (Jarak dari pantai rata-rata
mencapai lima meter, bahkan kurang). Kepala Desa Sanur Kaja menyampaikan bahwa permasalahan kawasan jalur hijau di Jalan Sedap
Malam yang mengalami pembangunan secara masif, sehingga semakin mengurangi kawasan jalur hijau. Lurah Sesetan menyatakan
bahwa warga Sesetan yang memiliki lahan di kawasan hutan bakau mengusulkan untuk merubah ketentuan penggunaan lahan di
kawasan tersebut. Kepala Desa Kesiman Petilan menyampaikan bahwa masih menginginkan adanya jalur hijau di wilayahnya karena di
wilayahnya terdapat Subak Delod Sema yang masih berfungsi hingga kini (Notulen Rapat dalam Rangka Evaluasi dan Revisi RTRW
Kota Denpasar, 2006).

4.1.2. Pembahasan Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar

Rapat pembahasan ini bertujuan untuk memperoleh masukan dan informasi terhadap Laporan Pendahuluan Penyusunan
Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar. Rapat diselenggarakan di Kantor Bappeda Kota Denpasar pada 27 Juli 2006,
dan dihadiri Kepala Bappeda Provinsi Bali, Kepala PU Provinsi Bali, Pimpinan Komisi DPRD Kota Denpasar, Kepala SKPD yang
terkait lingkungan Kota Denpasar, institusi pendidikan, asosiasi profesi, PHDI, seluruh bidang di lingkungan Bappeda Kota Denpasar
dan seluruh camat di Kota Denpasar.
Evaluasi terhadap Perda Nomor 10 Tahun 1999 tentang RTRW Kota

Denpasar dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: Pertama, evaluasi data, yakni mengumpulkan berbagai data pemanfaatan ruang yang
terjadi, selanjutnya dibandingkan dengan strategi dan rencana pemanfaatan ruang yang termuat dalam RTRW Kota Denpasar Tahun
1999, serta mengumpulkan data mengenai kebijakankebijkan dan strategi yang ada saat ini dibandingkan dengan kebijakan dan strategi
pembangunan yang dijadikan dasar dalam RTRW Kota Denpasar Tahun 1999. Kedua, penentuan perlu tidaknya peninjauan kembali
RTRW Kota Denpasar karena terjadinya perubahan kebijakan pemerintah, terjadinya simpangansimpangan yang besar terhadap struktur
dan pemanfaatan ruang. Ketiga, tipologi peninjauan kembali RTRW Kota Denpasar, dimana dalam hal ini akan dilihat besarnya
simpangan yang terjadi dan perubahan-perubahan faktor eksternal (Bappeda Kota Denpasar, 2006: I-8).
Pemaparan yang disampaikan dalam rapat antara lain, terjadinya pelanggaran jalur hijau, sempadan dan pemanfaatan lahan.
Kurun waktu pelaksanaan Perda Nomor 10 Tahun 1999 tentang RTRW yang sudah berlangsung lebih dari lima tahun dan harus
disesuaikan dengan peraturan di atasnya. Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa daerah terbangun di Kota Denpasar telah mencapai
64% dari luas Kota Denpasar.
Dalam pemaran juga disampaikan mengenai tinjauan kebijakan pembangunan dari Provinsi Bali dan Kota Denpasar. Tinjauan
kebijakan pembangunan Provinsi Bali yang dimaksud meliputi Rencana Strategis Provinsi
Bali yang mencakup visi dan misi pembangunan Provinsi Bali, yaitu: Terwujudnya

Bali Dwipa Jaya berdasarkan Tri Hita Karana. Tinjauan kebijakan pembangunan

Kota Denpasar meliputi Visi dan Misi Pembangunan Kota Denpasar, yaitu:
Mewujudkan Pembangunan Kota Denpasar yang Berwawasan Budaya yang Dijiwai oleh Agama Hindu dan Dilandasi Tri Hita Karana.
Terhadap pemaparan laporan pendahuluan tersebut muncul beberapa masukan, antara lain dari Kepala Bappeda Kota Denpasar
koreksi terhadap luas wilayah, batas-batas administrasi, jumlah kecamatan dan penyesuaian Visi dan Misi Kota Denpasar sesuai RPJM
2006. Kelompok ahli Pemkot Denpasar mengusulkan perlu adanya sinkronisasi antara kebijakan tata ruang nasional, provinsi dan kota.
Bappeda Provinsi Bali memberikan masukan agar laporan yang disusun fokus pada tata ruang dan menampilkan data yang akurat.
Perwakilan dari REI dan IAI mempertanyakan tolak ukur dalam menentukan lahan terbangun mencapai 64%. DPRD Kota Denpasar
menyampaikan agar dibuat jadwal mengenai tahapantahapan penyusunan RTRW yang akan dilakukan (Notulen Rapat Pembahasan
Laporan Pendahuluan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar, 2006)
Kepala Bappeda Kota Denpasar menyatakan bahwa penyusunan RTRW

telah digunakan dasar yang jelas sebagai acuan. Setidaknya ada tiga poin penting yang bisa dijadikan landasan dalam melakukan revisi
Perda RTRW Tahun 1999. Disebutkan, landasan pertama, yakni masa peraturan perundang-undangan (Perda) dapat ditinjau kembali bila
sudah berlaku lima tahun atau lebih. Selain itu, kondisi di lapangan juga menjadi dasar pertimbangan dalam perubahan ini.
4.1.3. Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota Denpasar

Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota Denpasar dilakukan oleh Bappeda Kota Denpasar setelah proses pengolahan data
menjadi database terstruktur dilakukan.

4.1.3.1. Analisis pengembangan wilayah

Data yang terkumpul dianalisis menjadi beberapa poin analisis, yang selanjutnya diuraikan dalam uraian berikut. Analisis fisik
wilayah, yang meliputi letak dan administrasi wilayah kota denpasar, landform, relief dan topografi, iklim, geologi, litologi dan jenis,
hidrologi, analisis kesesuaian lahan, analisis ekosistem wilayah dan analisis kawasan rawan bencana (tsunami, banjir, abrasi, intrusi
laut ).
Pola ruang wilayah Kota Denpasar yang meliputi: pemanfaatan ruang daratan, penggunaan ruang perairan/lautan dan
pemanfaatan ruang udara. Kondisi dan analisis sosial kependudukan, yang meliputi jumlah dan perkembangan, kepadatan penduduk,
komposisi penduduk, mobilitas penduduk, proyeksi jumlah dan penyebaran penduduk.
Kondisi dan analisis sosial budaya yang meliputi: sejarah Kota Denpasar, kondisi sistem sosial Budaya Bali di Kota Denpasar,
komponen superstruktur sosiokultural Bali, struktur sosial budaya masyarakat Denpasar, infrastruktur sosial budaya, analisis Kota
Denpasar Berwawasan Budaya Bali, analisis sosial budaya sebagai landasan tata ruang Kota Denpasar serta analisis perwujudan Kota
Denpasar yang beridentitas Budaya Bali.
Analisis perekonomian Kota Denpasar yang meliputi: pertumbuhan ekonomi kota, sektor basis dan sektor unggulan, sektor basis
dan sektor unggulan, identifikasi kegiatan perekonomian perkotaan dan perekonomian sektor informal kota.
Analisis kondisi dan kebutuhan sistem transportasi yang meliputi: sistem dan struktur jaringan jalan, kondisi dan pelayanan
jaringan jalan, sistem perangkutan dan terminal, headway angkutan umum, kondisi Pelabuhan Benoa, analisis pengembangan Pelabuhan
Benoa, dan usulan perbaikan dan peningkatan sistem transportasi.
Kondisi dan analisis sistem infrastruktur wilayah, jaringan air bersih, jaringan listrik dan sumber daya energi lainnya, jaringan
telekomunikasi, jaringan drainase, jaringan air limbah, pengelolaan persampahan dan jaringan irigasi.
Analisis kebutuhan fasilitas, yang meliputi: analisis fasilitas perumahan, analisis fasilitas perkantoran pemerintahan, analisis
kebutuhan fasilitas pendidikan, analisis kebutuhan fasilitas kesehatan, analisis kebutuhan fasilitas peribadatan, analisis kebutuhan
fasilitas perdagangan dan jasa, serta fasilitas ruang terbuka, rekreasi dan olah raga.
Analisis Kecenderungan Pola Ruang Wilayah yang meliputi :Analisis Pola

Penyebaran Aktivitas Penduduk; Kecencerungan Pola Ruang yang meliputi: Analisis kecenderungan perkembangan kawasan
perumahan dan permukiman, analisis kecenderungan perkembangan kawasan perdagangan dan jasa, analisis kecenderungan alih fungsi
kawasan pertanian; analisis kawasan lindung yang meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan
perlindungan setempat, analisis kawasan cagar budaya, analisis kawasan suaka alam; analisis daya tampung ruang dan daya dukung
prasarana yang meliputi analisis daya tampung ruang, analisis daya dukung prasarana air bersih, analisis pemanfaatan ruang perairan
dan analisis pemanfaatan ruang udara.
Analisis struktur ruang wilayah yang meliputi analisis keterkaitan kota denpasar dengan wilayah sekitar, analisis struktur
jaringan jalan utama, analisis sistem pusat-pusat kegiatan dan pelayanan serta potensi dan permasalahan pengembangan.
4.1.3.2. Penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan wilayah

Setelah melalui tahapan analisis, tahapan yang dilakukan berikutnya adalah penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan
wilayah, yang meliputi: tinjauan visi dan misi pembangunan Kota Denpasar, perumusan tujuan dan sasaran penataan ruang wilayah,
kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang dan kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang.

4.1.3.3. Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota

Tahap berikutnya adalah penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota, yang meliputi: Rencana Struktur Ruang, Rencana Pola
Ruang Wilayah Kota,
Rencana Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) dan Rencana Pengembangan kawasan

Strategis Kota.

1. Rencana Struktur Ruang

Rencana struktur ruang wilayah Kota Denpasar merupakan kerangka tata ruang wilayah Kota Denpasar yang tersusun atas konstelasi
pusat-pusat kegiatan yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kota.
Rencana struktur ruang wilayah kota berfungsi: sebagai arahan pembentuk sistem pusat kegiatan wilayah kota yang memberikan
layanan bagi bagian wilayah kota dan kawasan di sekitarnya yang berada dalam wilayah kota; dan sistem perletakan jaringan prasarana
wilayah kota yang menunjang keterkaitannya serta memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada dalam wilayah kota, terutama
pada pusat-pusat kegiatan yang ada.
Rencana struktur ruang wilayah kota dirumuskan berdasarkan : kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kota, kebutuhan
pengembangan dan pelayanan wilayah kota dalam rangka mendukung kegiatan sosial ekonomi, daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup wilayah kota dan ketentuan peraturan perundangundangan.
Rencana struktur ruang wilayah Kota Denpasar memperhatikan dan mengadopsi kebijakan pengembangan sistem perkotaan
berdasarkan arahan RTRWN dan RTRWP Bali, yang selanjutnya diintegrasikan dengan penetapan sistem perkotaan dan sistem
prasarana wilayah kota. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan struktur ruang pada tingkat nasional, Provinsi Bali dan
Kota Denpasar.
Rencana struktur ruang wilayah Kota Denpasar akan ditinjau sesuai kedudukan Kota Denpasar dalam lingkup makro
(keterkaitan antar wilayah) dan dalam lingkup mikro (keterkaitan antar kawasan/kecamatan di dalam wilayah Kota
Denpasar.
Dalam lingkup makro, Rencana Struktur Tata Ruang Kota Denpasar diarahkan untuk meningkatkan integrasi dan keterkaitan
Kota Denpasar dengan wilayah yang lebih luas yaitu :
Keterkaitan dalam lingkup Wilayah Nasional, bahwa Kota Denpasar merupakan Kota Inti dari PKN (Pusat Kegiatan Nasiona)
yaitu Kawasan Perkotaan
Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan yang sekaligus KSN (Kawasan Strategis Nasional) yaitu Kawasan Metropolitan Sarbagita,
berfungsi sebagai pusat pengembangan perekonomian nasional.
Keterkaitan dalam lingkup Wilayah Provinsi Bali, bahwa Kota Denpasar merupakan Ibukota Provins Bali, pusat system
perkotaan Bali dan Bali Bagian Selatan, sehingga perlu dikembangkan aksesibilitas yang tinggi ke masing-masing kota-kota fungsi
PKW (Pusat Kegiatan Wilayah) seperti Kota Singaraja, Kota Semarapura dan Kota Negara serta kota-kota fungsi PKL (Pusat Kegiatan
Lokal) seperti Kota Bangli, Kota Amlapura, Kota Seririt.
Keterkaitan dalam lingkup Kawasan Metropolitan Sarbagita, bahwa Kota Denpasar sebagai Kota Inti Kawasan Metropolitan
Sarbagita membutuhkan koordinasi dan integrasi pengembangan sistem prasarana kota yang terpadu dengan
Kota-Kota Satelit di sekitarnya (Kawasan Perkotaan Badung/Mangupura, Gianyar, Tabanan, Jimbaran) beserta pusat-pusat kegiatan
lainnya seperti ibukota kecamatan (Kediri, Blahkiuh, Kerobokan, Sukawati, Blahbatuh) dan pusat-pusat kegiatan pariwisata (Kawasan
Pariwisata Nusa Dua, Tuban, Kuta, Sanur, Lebih, Ubud, dan
Kawasan Daya Tarik Wisata Khusus Tanah Lot).
Dalam lingkup mikro, Rencana Struktur Tata Ruang Kota Denpasar diarahkan untuk meningkatkan pemerataan dan hirarki
pusat-pusat pelayanan kota, Bagian Wilayah Kota, lingkungan Permukiman yang didukung sistam prasarana kota yang efisein dan
efektif.
Dengan demikian Rencana Struktur Ruang Kota Denpasar pada dasarnya merupakan Rencana Struktur Sistem Pusat Pelayanan
Perkotaan Kota Denpasar.
Rencana ini merupakan kerangka dasar pembentuk wujud tata ruang wilayah Kota Denpasar yang terdiri atas: sistem pusat pelayanan
kota; pengembangan distribusi kependudukan; dan sistem prasarana wilayah kota.
Sistem pusat pelayanan kota, sebagaimana dimaksud di atas, mencakup: sistem perwilayahan pengembangan kota; sistem pusat-
pusat pelayanan kota yang berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan atau pemerintahan; dan sistem hirarki
pelayanan kegiatan kota.
Sedangkan pengembangan sistem prasarana wilayah kota, mencakup: sistem jaringan transportasi sebagai jaringan prasarana
utama; sistem jaringan energi; sistem jaringan telekomunikasi; sistem jaringan sumber daya air; sistem jaringan air minum; sistem
jaringan air limbah; sistem persampahan; sistem jaringan drainase; sistem penanggulangan bencana. Peta rencana struktur ruang wilayah
Kota Denpasar, dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Rencana Struktur Ruang
Sumber: Bappeda Kota Denpasar, 2011

2. Rencana Pola Ruang Wilayah Kota

Rencana pola ruang wilayah merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah Kota Denpasar yang meliputi
rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya. Ukuran atau luasan fungsi fungsi lindung dan fungsi budidaya
ditentukan berdasarkan kebutuhan ruang untuk berbagai kegiatan serta target proporsi pemanfaatan ruang terbangun yang diharapkan.
Berdasarkan misi penataan ruang Kota Denpasar yaitu untuk mencapai kebutuhan ruang terbuka yang ingin dituju adalah 35% yang
terdiri dari RTH Publik dan RTH Privat, maka komposisi pemanfaatan uang harus dikelola sedemikian rupa untuk dapat
mewujudkannya.
Rencana pola ruang wilayah kota berfungsi: sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kota; mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang; sebagai dasar
penyusunan indikasi program pembangunan; dan sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah kota.
Rencana pola ruang wilayah dirumuskan berdasarkan: kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kota; daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup wilayah kota; kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan lingkungan; dan
ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Rencana pola ruang wilayah Kota Denpasar merujuk pada rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN, RTRWP Bali, serta
diserasikan dengan
RTRW Kabupaten yang berbatasan yang terdiri dari Kawasan Lindung dan

Kawasan Budidaya.
Hirarki fungsi ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya di Kota Denpasar terdiri dari: Kawasan lindung, mencakup:
kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya; kawasan perlindungan setempat; kawasan pelestarian alam, cagar
budaya dan ilmu pengetahuan; kawasan rawan bencana; dan ruang terbuka hijau kota.
Kawasan budidaya, mencakup: kawasan peruntukan perumahan dan permukiman; kawasan peruntukan perdagangan dan jasa;
kawasan peruntukan perkantoran pemerintahan; kawasan peruntukkan fasilitas pendidikan; kawasan peruntukkan fasilitas kesehatan;
kawasan peruntukkan fasilitas rekreasi, taman dan olah raga; kawasan peruntukkan fasilitas peribadatan; kawasan peruntukan
pariwisata; kawasan peruntukkan industri dan pergudangan; kawasan peruntukkan kegiatan pertahanan dan keamanan; kawasan
peruntukkan prasarana transportasi kawasan peruntukan prasarana infrastruktur kota; kawasan peruntukan setra dan kuburan; kawasan
ruang terbuka non hijau; kawasan peruntukan pertanian; kawasan peruntukan perikanan; dan peruntukan kawasan pesisir dan laut.
Rencana pengembangan kawasan lindung wilayah kota diarahkan seluas 1.200,1 Ha atau 8,39% dari luas wilayah Kota.
Rencana pengembangan kawasan budidaya diarahkan seluas 11.577,9 Ha atau 90,61% dari total luas wilayah kota.
Peta rencana pola ruang wilayah kota dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 R encana Pola Ruang Wilayah Kota Denpasar
3. Rencana Ruang Terbuka Hijau Kota
Sumber: Bappeda Kota Denpasar, 2011

Ruang terbuka hijau menurut Per-Mendagri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
adalah : ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area
memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan.
Ruang Terbuka Hijau menurut Per-MenPU No. 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang terbuka
Hijau di Kawasan Perkotaan adalah RTH adalah area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
Ruang Terbuka Hijau Kota adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman
guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.
Menurut Pasal 28 dan Pasal 29, UU. No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, disebutkan bahwa perencanaan tata ruang
wilayah kota, harus menyediakan rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang terdiri dari ruang terbuka hijau publik
dan ruang terbuka hijau privat, yaitu: Ruang terbuka hijau publik, adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah yang
digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Ruang terbuka hijau privat, adalah RTH milik institusi tertentu atau orang
perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik
masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Ruang Terbuka Hijau Privat penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab
pihak/lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang.
Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota, dengan proporsi
ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari luas wilayah kota.
Berdasarkan Rencana Pola Ruang, sebaran beberapa fungsi kawasan yang menjadi komponen pola ruang, serta jenis fungsi
ruang yang dapat dikategorikan termasuk dapat berfungsi sebgai RTHK, maka target Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Kota
(RTHK) di Kota Denpasar 20 tahun mendatang sesuai
kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan adalah minimal 35% dari luas wilayah kota, sehingga melebihi 5% dari target minimal
sebesar 30% yang telah ditetapkan
UU. No. 26 Tahun 2007, maupun PP. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN serta Perda

Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali.

Tata cara pencapaian angka minimal RTHK 35% adalah :

a. RTHK disadari terdapat baik pada ruang Kawasan Lindung maupun ruang Kawasan Budidaya, dalam bentuk ruang terbuka
maupun dalam bentuk ruang terbangun. Didapatkan komposisi rencana pola ruang Kawasan
Lindung dan Kawasan Budidaya di Kota Denpasar adalah 9,39% dan 90,61%, sedangkan perbandingan ruang terbuka dan ruang
terbangun adalah 32,10% dan 67,90%.
b. Komposisi RTHK pada ruang terbangun baik hunian maupun non hunian merupakan komponen Koefisen Daerah Hijau (KDH)
Minimum dari Ruang
Terbangun Kota yaitu jumlah proporsi ruang dalam satu kapling yang tidak tertutup bangunan atau tutupan lahan lainnya. KDH
Minimum adalah sisa ruang kapling setelah dikurangi luas Koefisien Tapak Bangunan (KTB) maksimum. KTB terdiri dari ruang untuk
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan % luas prasarana yang diperkeras. KDH minimum juga dapat disetarakan dengan taman
permukiman, atau bangunan lainnya yang tidak tertutup perkerasan.
KDH Minimum diasumsikan sebagai berikut :

Minimal 20% untuk perumahan, perkantoran pemerintahan, kawasan efektif pariwisata, pernidustrian dan pergudangan, fasilitas
pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas peribadatan dan fasilitas pertahanan dan keamanan
Minimal 15% untuk perdagangan dan jasa

c. Penetapan Kawasan Lindung yang terdiri dari Tahura Ngurah Rai, sempadan pantai, sempadan sungai dan hutan kota seluas
1.200,1 Ha atau 9,39% luas wilayah kota seluruhnya menjadi RTHK.
d. Penetapan taman-taman kota, lapangan olah raga dan taman rekreasi lainnya sebagai RTHK dengan asumsi komposisi 90%
berupa bukaan yang ditanami tanaman maupun rerumputan. Perlu upaya mendorong pengembangan taman-taman terbuka, ruang
terbuka di lingkungan permukiman, pusat kawasan dan skala kota yang baru.
e. Penetapan taman-taman median, ruang terbuka di pinggir jalan, telajakan, dan bahu jalan pada seluruh jaringan jalan dengan
asumsi 10% dari luas seluruh jaringan jalan
f. Penetapan sawah yang merupakan komponen sabuk hijau kota sebagai RTHK, walalupun tidak seluruh masa waktu setahun
merupakan masa tanam, namun sawah yang dipertahankan berkelanjutan di Kota Denpasar merupakan sawah yang dikelola
subak, sebagai wujud kota yang berjatidiri budaya Bali.
g. Penetapan KDH dari lokasi infrastruktur kota seperti Pelabuhan, terminal, TPA, IPAL dan lainnya yang diasumsikan 10%.
Gambar 4.3 Skema Penetapan dan Pencapaian Target Proporsi RTHK 35%

Sumber: Bappeda Kota Denpasar, 2011


Gambar 4.4
Sebaran uangT
R erbukaHijau Kota( RTHK)
4. Rencana Pengembangan Kawasan Strategis Kota
Sumber: Bappeda Kota Denpasar, 2011
UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 memberikan perhatian khusus terhadap Kawasan Strategis dan memasukkannya sebagai
Kawasan yang harus diprioritaskan penataan ruangnya.
Kawasan strategis Kota atau kawasan lainya dapat menjadi bagian dari kawasan strategis nasional atau kawasan strategis
provinsi, dan bagi kawasankawasan tersebut penataan ruangnya memerlukan koordinasi dengan Pemerintah atau Pemerintah Provinsi
Bali atau Pemerintah Kabupaten yang berbatasan;
Berdasarkan kriteria Kawasan Strategis Kota Denpasar, maka penetapan kawasan strategsi adalah: Kawasan strategis yang
memiliki kepentingan signifikan dalam perekonomian kota atau wilayah, mencakup: Kawasan Pusat Kota, Kawasan
Sanur, Kawasan Ubung Kaja, Kawasan Pulau Serangan, Kawasan Pelabuhan Benoa, Kawasan Pengembangan LC Margaya.
Kawasan strategis yang memiliki kepentingan pelestarian nilai historis dan budaya yang menjadi jati diri kota, mencakup:
Kawasan Pusat Kota, Kawasan Taman Budaya (Art Centre). Kawasan strategis yang memiliki kepentingan untuk pelayanan sosial dan
publik yang tinggi, mencakup : Kawasan Pusat Pemerintahan
Provinsi Bali; Kawasan Pusat Perkantoran Pemerintahan Kota; dan Kawasan Sanglah.
Kawasan strategis yang memiliki kepentingan perlindungan keragaman sumber daya hayati dan perlindungan terhadap bencana,
mencakup Kawasan
Tahura Ngurah Rai. Peta penetapan kawasan strategis kota dapat dilihat pada

Gambar 4.5.
4.1.3.4.Gambar 4.5
Penetapa
Penyusunan arahan npemanfaatan
Kawasanruang
Strategis Kota
wilayah

Sumber: Bappeda Kota Denpasar, 2011


Pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang.
Arahan pemanfaatan ruang dilaksanakan melalui penyusunan indikasi program pemanfaatan ruang, rencana indikasi pembiayaan beserta
pengembangan penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan udara, dan penatagunaan sumber daya alam lainnya;
Arahan pengembangan struktur ruang dan pola ruang dilakukan berdasarkan arahan pengembangan struktur ruang beserta
komponen pembentuknya yang dituangkan dalam indikasi program jangka panjang dan indikasi program utama jangka menengah lima
tahunan.
Pemanfaatan ruang diselenggarakan dengan kegiatan penyusunan dan penetapan neraca penatagunaan tanah, neraca
penatagunaan sumber daya air, neraca penatagunaan udara, dan neraca penatagunaan sumber daya alam lainnya.
Penatagunaan tanah pada ruang yang direncanakan untuk pembangunan prasarana dan sarana bagi kepentingan umum
memberikan hak prioritas pertama bagi pemerintah daerah untuk menerima pengalihan hak atas tanah dari pemegang hak atas tanah.
Dalam pemanfaatan ruang pada ruang yang berfungsi lindung, diberikan prioritas pertama bagi pemerintah daerah untuk menerima
pengalihan hak atas tanah dari pemegang hak atas tanah jika yang bersangkutan akan melepaskan haknya.
Dalam penyelenggaraan penatagunaan, dikembangkan peta dasar wilayah atau kawasan yang bersumber dari data peta citra
satelit terkini dengan koordinat terpadu antara peta dasar kota dengan peta dasar provinsi dan kabupaten sekitar, yang selanjutnya
dimutakhirkan setiap lima tahun.

4.1.3.5. Penyusunan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang

Tujuan pengendalian pemanfaatan ruang adalah untuk menjamin tercapainya konsistensi pemanfaatan ruang dengan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan. Dalam hal ini pengendalian pemanfaatan ruang merupakan perangkat untuk memastikan perencanaan tata
ruang dan pelaksanaan pemanfaatan ruangnya telah berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dengan demikian
penyimpangan-penyimpangan pemanfaatan ruang dapat dihindari.
Pengendalian pemanfaatan ruang dapat berjalan dengan cukup efektif dan efisien apabila mempunyai dasar perencanaan tata
ruang yang baik dan berkualitas serta informasi yang akurat terhadap praktek-pratek pemanfaatan ruang yang berlangsung.
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota termuat dalam Pasal 28, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, yang berlaku mutatis mutandis sebagaimana dimaksud pada Pasal 26 ayat (1), yang merupakan bagian dari muatan yang harus
ada dalam sebuah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK).
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota berisi: ketentuan umum peraturan zonasi; ketentuan perizinan;
ketentuan insentif dan disinsentif; dan arahan sanksi.
Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui mekanisme perizinan pemanfaatan ruang, dengan berpedoman pada rencana
tata ruang yang lebih rinci (RDTR, RRTR dan ketentuan peraturan zonasi), dengan memperhatikan ketentuan, standar teknis,
kelengkapan prasarana, kualitas ruang, dan standar kinerja kegiatan yang ditetapkan. Untuk mendukung pelaksanan pengendalian
pemanfaatan ruang dibutuhkan kegiatan pengawasan dan penertiban. Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota dilakukan oleh
Walikota melalui Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota.

4.1.4. Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I DPRD Kota Denpasar

Pembahasan dilakukan antara Bappeda Kota Denpasar, Bagian Hukum

Setda Kota Denpasar bersama dengan Panitia Khusus (Pansus) I RTRW Kota Denpasar pada tanggal 15 Oktober 2008 dan 3 November
2008. Pembahasan mengalami jeda waktu yang cukup lama karena baru disahkannya beberapa peraturan perundang-undangan yang
terkait dengan Perda RTRW, seperti UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Perda RTRW Provinsi Bali sebagai payung
RTRW Denpasar.
Pada rapat pembahasan bersama Pansus RTRW muncul beberapa

pertanyaan dan usul terhadap Ranperda RTRW Kota Denpasar, antara lain tentang berapa persen ruang terbuka di Kota Denpasar dan
kondisi hutan mangrove. Berdasarkan data pada tahun 2006, persentase ruang terbuka adalah 45,46% dan luas hutan mangrove di Kota
Denpasar adalah 564,01 atau 4,41%. Syarat minimal
Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk Kawasan Perkotaan menurut Pasal 28 dan 29

UU Nomor 26 Tahun 2007 adalah 30% yang meliputi RTH Publik 20% dan RTH

Privat 10%.
Berdasarkan Rencana Pola Ruang Kota Denpasar Tahun 2026 dan Komposisi Fungsi Ruang Terbuka Hijau di Kota Denpasar,
maka proporsi target pencapaian Ruang Terbuka Hijau di Kota Denpasar sampai pada tahun 2026 adalah minimal 35%, dengan uraian
sebagai berikut: Koefision Wilayah Terbangun Kota Denpasar adalah 67,19% (dihitung berdasarkan luas kawasan terbangun
berbanding luas wilayah kota), sehingga proporsi Ruang Terbuka adalah kebalikannya yaitu 32,18%, masih di bawah target 35% sesuai
dengan yang tertuang dalam Kebijakan dan Strategi Pengembangan Ruang Terbangun dan Terbuka Kota.
Terkait pertanyaan mengenai mekanisme disinsentif untuk mengendalikan perkembangan yang tidak sesuai. Bappeda Kota
Denpasar menjawab: Pengendalian rencana tata ruang dilakukan dengan menyusun mekanisme dan perangkat disinsentif untuk
mengendalikan perkembangan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, berupa: pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan
dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang dan/atau pembatasan
penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi dan pengenaan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sanksi-
sanksi yang dimaksud antara lain: peringatan dan/atau teguran, penghentiuan sementara pelayanan administratif, penghentian sementara
kegiatan pembangunan dan atau pemanfaaatan ruang, pencabutan ijin yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang, pemullihan fungsi atau
rehabilitasi fungsi ruang, pembongkaran bagi bangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, pemutihan perijinan dan
pengenaan denda.
Terkait pertanyaan mengenai pengembangan Kawasan Margaya, jawaban yang diberikan adalah: Pengelolaan Kawasan
Pengembangan Margaya yang merupakan kawasan pengembangan baru pada perbatasan wilayah Kota Denpasar dengan Kecamatan
Kuta, Kabupaten Badung, didasarkan atas: Kebutuhan pengembangan terusan jaringan jalan linglar barat Kota Denpasar untuk
mengurangi kemacetan di wilayah Kota Denpasar yang terkoneksi langsung dengan Jalan Sunset di Kabupaten badung yang berfungsi
sebagai jalan antar wilayah (jalan kolektor primer); Adanya keinginan masyarakat untuk mengalihkan fungsi kawasan tersebut menjadi
kawasan budidaya (permukiman) dengan proses Land Consolidation (LC): Pada kawasan ini diarahkan akan menjadi pusat kegiatan
perdagangan dan jasa serta kegiatan sosial budaya Kota Denpasar di bagian barat.
Terkait pertanyaan mengenai kewenangan Badan Koordinasi Penataan

Ruang, jawaban yang diberikan adalah: Kewenangan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Kota (BKPRD) adalah bersifat ad-hoc
untuk membantu pelaksanaan tugas koordinasi penataan ruang di daerah berdasarkan Keputusan Menteri Dalam
Negeri Nomor 147 Tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang. BKPRD Provinsi ditetapkan oleh Gubernur dan BKPRD
Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota (Berita Acara Pembahasan Materi Ranperda
RTRW Denpasar dalam Sidang Pansus I (RTRW Kota Denpasar) DPRD Kota

Denpasar, 2006).
4.1.5. Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang

Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar

Rapat sinkronisasi dihadiri oleh Kepala Bappeda Kota Denpasar, Kepala


Litbang Bappeda Kabupaten Badung, Kepala Bappeda Kabupaten Gianyar, DPRD

Kota Denpasar, DPRD Kabupaten Badung, DPRD Kabupaten Gianyar, Tim

BKPRD Kota Denpasar, BKPRD Kabupaten Badung, serta BKPRD Kabupaten Gianyar, dan diselenggarakan pada tanggal 9 Februari
2010.
Rapat sinkronisasi menghasilkan kesimpulan dan kesepakatan, antara lain: Kebijakan pengembangan struktur ruang makro antar
wilayah Kota Denpasar ditetapkan dengan pemanfaatan fungsi Kota sebagai Ibu Kota Provinsi Bali, kawasan perkotaan inti dari Pusat
Kegiatan Nasional, Kawasan Strategis Nasional dan Kawasan Metro Sarbagita. Kebijakan dan strategi pengembangan sistem
infrastruktur dirancang secara terpadu antar Kota Denpasar dengan kabupaten penyanding beserta sub-sistemnya.
Rencana struktur ruang wilayah kota yang mencakup sistem pusat pelayanan, prasarana wilayah dan pengembangan distribusi
kependudukan dirancang dengan memperhatikan dan mengarahkan pada wilayah sekitar Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar
sebagai daerah (kota) satelit. Pola ruang meliputi kawasan lindung dan budidaya, Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Gianyar
sepakat untuk saling mensinkronkan peruntukan pada kawasan-kawasan yang berbatasan, terutama pada daerah yang mempunyai fungsi
lindung.
Kawasan strategis kota yang didasarkan pada peran yang signifikan dalam perekonomian, yang memiliki nilai historis dan
budaya, serta kawasan yang memiliki tingkat pelayanan sosial dan publik yang tinggi, dirancang sebanyak 12
Kawasan Strategis Kota Denpasar. Kawasan Strategis Kota yang menyatu dengan Kawasan Strategis Nasional, kawasan Strategis
Provinsi atau menjadi bagian kawasan strategis lainnya, penataan ruangnya dikoordinasikan dengan Pemerintah,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten yang berbatasan, sedangkan untuk Kawasan Strategis yang menyatu dengan Kawasan
Strategis lainnya dirancang lebih detail dalam RDTR Metropolitan Sarbagita dan RDTR Teluk Benoa.
Arahan pemanfaatan ruang khususnya pada daerah perbatasan dilakukan sinkronisasi peruntukan, sehingga terjadi harmonisasi
dalam pemanfaatannya. Untuk batas wilayah akan dilakukan penegasan dengan pematokan yang akan difasilitasi oleh Provinsi Bali.
Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan secara sinergis antara Pemerintah Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Kabupaten
Gianyar (Berita Acara Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana

Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar, 2010).

4.1.6. Rapat Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD

Provinsi Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar

Rapat koordinasi diselenggarakan di Kantor bappeda Provinsi Bali pada tanggal 11 Maret 2010 dan 19 Mei 2010, dengan
kegiatan penilaian kelengkapan dokumen materi teknis Ranperda tentang RTRW Kota Denpasar dan penilaian substansi kelengkapan
materi teknis Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota

Denpasar terhadap Perda Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009-2029 dan Kebijakan Provinsi Bali.
Dalam rapat Bappeda Provinsi Bali memberikan masukan dan koreksi, antara lain mengenai kebijakan dan strategi penataan
ruang wilayah kota, yaitu:
Kebijakan dan strategi penataan ruang kota harus mencantumkan kawasan strategis Kota Denpasar. Kebijakan pengembangan kawasan
budidaya prioritas yang mencakup kebijakan pengembangan kawasan andalan di kawasan Denpasar-UbudKintamani (Bali Selatan),
serta pengembangan pertanian organik dalam kebijakan dan strategi penataan ruang Kota Denpasar.
Bappeda Provinsi Bali juga memberikan masukan mengenai rencana struktur ruang wilayah kota, antara lain: Perlu dicantumkan
kawasan perkotaan
Metropolitan Sarbagita, disamping PKN, KSN juga kawasan strategis Provinsi

Bali, lokasi helipad untuk pendaratan helikopter sebagai transportasi udara, Pelabuhan Benoa tidak perlu menyediakan lokasi akomodasi
perlu disesuaikan dengan dokumen RDTR Teluk Benoa.
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali mengkoreksi tentang kesesuaian prosentase RTHK sebesar 35% yang belum sesuai
dengan hasil penjumlahan RTHK Publik 15,75% dan RTHK Privat sebesar 15%. Koreksi lain adalah pencantuman ketinggian bangunan
yakni 5 level agar dikoreksi menjadi 15 meter sehingga tidak multitafsir. Dinas PU Provinsi Bali menyarankan untuk mengatur arahan
insentif dan bentuk-bentuk insentif dalam Ranperda RTRW Kota Denpasar.
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali mempertanyakan RTH mininmal 35% dari luas wilayah kota apakah sudah
realitis, mengingat dalam perhitungan memasukkan komponen lahan sawah sebagai komponen RTH yang rawan mengalami alih fungsi
lahan. Untuk menambah luas RTHK perlu dihitung RTHK sepanjang ruas jalan.
Dinas Kelautan dan Perikanan mengkoreksi tentang jarak perairan kabupaten/kota sepanjang 4 mil dirubah menjadi sepertiga
wilayah kewenangan provinsi, serta lokasi Marina Serangan yang sedang diusulkan perlu dimasukkan dalam Ranperda RTRW Kota
Denpasar.

4.1.7. Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW
Kota Denpasar kepada Menteri Pekerjaan Umum

Sekretaris Daerah Kota Denpasar mengirim surat permohnan rekomendasi gubernur untuk persetujuan substansi terhadap
Ranperda Kota Denpasar tengang RTRW Wilayah Kota Denpasar pada tanggal 9 Februari 2010. Atas surat tersebut Gubernur Bali
kemudian mengirimkan surat kepada Menteri Pekerjaan Umum pada tanggan 24 Mei 2010, yang menyatakan bahwa Rancangan Perda
Kota Denpasar tentang RTRW telah dikonsultasikan dan dibahas dalam Rapat Koordinasi
Kelompok Kerja Perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali dan Rapat Pleno BKPRD Provinsi Bali di Kantor Bappeda Provinsi
Bali pada tanggal 11 Maret 2010 dan 19 Mei 2010.
Berdasarkan hasil konsultasi dan pembahasan, Gubernur Bali memberikan rekomendasi bahwa Ranperda Kota Denpasar tentang
RTRW Kota Denpasar dapat diproses lebih lanjut untuk dilakukan evaluasi materi muatan teknis oleh instansi Pemerintah anggota
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) untuk selanjutnya mendapat persetujuan substansi dari Menteri Pekerjaan Umum
(Rekomendasi Pemberian Persetujuan Substansi Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar, 2010).

4.1.8. Persetujuan Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar 2010-2030 oleh Menteri Pekerjaan
Umum

Menteri Pekerjaan Umum pada prinsipnya menyetujui Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar untuk segera
diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dengan beberapa catatan, yaitu mengingat Kota Denpasar
memiliki RTH seluas 24,12 % dari luas wilayah kota, maka untuk memenuhi ketentuan Pasal 29 ayat (2) UU Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang, Pemerintah Kota Denpasar agar mengupayakan perwujudan RTH seluas 31,14% dari luas wilayah kota pada
akhir tahun rencana sebagaimana tercantum dalam Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar.

4.1.9. Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar

Berdasarkan hasil Rapat Paripurna Ke-10 masa persidangan ketiga DPRD

Kota Denpasar pada tanggal 28 November 2011 telah menyetujui 13 Ranperda Kota

Denpasar termasuk di dalamnya Ranperda tentang RTRW menjadi Perda Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011 tentang RTRW Kota
Denpasar Tahun 2011-2031 (Keputusan DPRD Kota Denpasar Nomor 07 Tahun 2011).
4.1.10. Rangkuman Proses Penyusunan RTRW Kota Denpasar

Berdasarkan uraikan di atas, maka proses penyusunan RTRW Kota

Denpasar secara garis besar, melalui tahapan sebagai berikut:

1. Evaluasi RTRW

2. Pembahasan Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar
3. Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota Denpasar, yang meliputi tahapan sebagai berikut:
a. Analisis pengembangan wilayah

b. Penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan wilayah

c. Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota

d. Penyusunan arahan pemanfaatan ruang wilayah

e. Penyusunan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang

4. Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I DPRD Kota Denpasar
5. Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang

Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar
6. Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi

Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota

Denpasar
7. Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi

Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri Pekerjaan Umum
8. Persetujuan Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar 2010-2030 oleh menteri Pekerjaan Umum
9. Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota Denpasar tentang

RTRW Kota Denpasar

4.2. Para Pihak dan Kepentingan yang Berpengaruh dalam Penyusunan

RTRW Kota Denpasar

Terdapat dua aspek utama dalam proses pembahasan Ranperda RTRW Kota Denpasar. Yaitu, pertama, adalah pihak yang terlibat
dalam kebijakan, di mana yang dimaksud di sini adalah orang atau institusi yang mempengaruhi kebijakan tertentu. Kedua, jaringan
kebijakan, yaitu bagaimana masing-masing pihak degan gagasan-gagasannya menjalin hubungan (bisa saling mendukung atau bertolak
belakang) dalam mempengaruhi kebijakan.
Berdasarkan proses penyusunan RTRW Kota Denpasar seperti yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditentukan para pihak
dan kepentingan yang berpengaruh dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar adalah sebagai berikut.

4.2.1. Bappeda Kota Denpasar

Bappeda Kota Denpasar memiliki tugas membuat perumusan kebijakan teknis bidang Perencanaan Pembangunan Daerah yang
meliputi bidang Sosial Budaya, perekonomian, sarana dan prasarana wilayah, pemerintahan dan aparatur, pendataan dan pelaporan, serta
bidang penelitian dan pengembangan, termasuk dalam bidang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar. Bappeda Kota Denpasar
terlibat dalam semua proses penyususnan RTRW, mulai dari tahapan evaluasi hingga pembahasan materi atau substansi RTRW.

4.2.2. Seluruh Kepala Desa dan Lurah se Kota Denpasar

Kepala desa dan lurah dilibatkan dalam tahap evaluasi RTRW Kota

Denpasar. Beberapa gagasan yang disampaikan antai lain:

Lurah Serangan menyampaikan bahwa perumahanan masyarakat di Serangan sudah ada sejak lama, dan kondisi sempadan
pantai tidak lagi memenuhi ketentuan (Jarak dari pantai rata-rata mencapai lima meter, bahkan kurang). Gagasan mengenai sempadan
pantai yang dapat kurang dari lima meter tidak diakomodasi dalam RTRW, sebab dalam Pasal 83 Ayat (3) huruf a, ditulis bahwa
sempada pantai dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat.
Kepala Desa Sanur Kaja menyampaikan bahwa permasalahan kawasan jalur hijau di Jalan Sedap Malam yang mengalami
pembangunan secara masif, sehingga semakin mengurangi kawasan jalur hijau. Gagasan ini diakomodasi secara parsial dalam Pasal 50
huruf a bahwa Jalan Sedap Malam termasuk dalam kawasan peruntukan kegiatan sektor informal, yaitu: pedagang bunga dan tanaman
hias, tanpa mendirikan bangunan permanen.
Lurah Sesetan menyatakan bahwa warga Sesetan yang memiliki lahan di kawasan hutan bakau mengusulkan untuk merubah
ketentuan penggunaan lahan di kawasan tersebut. Usul ini tidak diakomodasi dalam RTRW, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 10
Ayat (2) huruf c bahwa memantapkan hutan bakau di Kawasan Denpasar Selatan sebagai kawasan taman hutan raya.

4.2.3. DPRD Kota Denpasar

DPRD Kota Denpasar berperan sebagai badan legislatif yang memberikan persetujuan dan pengesahan dari Ranperda menjadi
Perda RTRW. DPRD Kota
Denpasar dilibatkan dalam tahapan penyusunan berikut ini: Pembahasan Laporan

Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar,

Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I DPRD

Kota Denpasar, Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata

Ruang Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Badung dan Kabupaten Gianyar; dan Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi

Perda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar. Pada Rapat Pembahasan
Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I DPRD Kota Denpasar, disampaikan beberapa usul dan pertanyaan, yang
semuanya sudah dijawab dalam rapat tersebut.

4.2.4. Asosiasi Profesi

Perwakilan dari REI dan IAI mempertanyakan tolak ukur dalam menentukan lahan terbangun mencapai 64% pada Pembahasan
Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar, yang sudah dijawab melalui Materi Teknis RTRW Kota
Denpasar.
4.2.5. Bappeda Kabupaten Badung dan Bappeda Kabupaten Gianyar

Bappeda Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar terlibat dalam tahap

Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang Wilayah Kota

Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar. Masing-masing institusi berperan sebagai
perwakilan dari masing-masing kabupaten/kota. Hasil dari sinkronisasi adalah kesepakatan bersama antara Walikota Denpasar,
Kabupaten Badung dan Kabuaten Gianyar tentang Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi RTRW Kota Denpasar dengan Kabupaten
Badung dan Kabupaten Gianyar.

4.2.6. Bappeda Provinsi Bali

Bappeda Provinsi Bali terlibat dalam tahapan Pembahasan Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota
Denpasar; serta Rapat
Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang
RTRW Kota Denpasar.
Dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali, Bappeda Provinsi Bali memberikan
masukan dan koreksi, antara lain mengenai kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kota, yaitu:
Kebijakan dan strategi penataan ruang kota harus mencantumkan kawasan strategis Kota Denpasar. Kebijakan pengembangan kawasan
budidaya prioritas yang mencakup kebijakan pengembangan kawasan andalan di kawasan Denpasar-UbudKintamani (Bali Selatan),
serta pengembangan pertanian organik dalam kebijakan dan strategi penataan ruang Kota Denpasar.
Usulan mengenai penentuan kawasan strategis Kota Denpasar diakomodasi dalam Bab VI Penetapan Kawasan Strategis Kota.
Usulan tentang kebijakan pengembangan kawasan budidaya prioritas yang mencakup kebijakan pengembangan kawasan andalan di
kawasan Denpasar-Ubud-Kintamani (Bali Selatan) diakomodasi dalam Pasal 11 Ayat (4) Huruf b, bahwa: Strategi pengembangan
kawasan budidaya kreatif dan unggulan adalah dengan menyelaraskan fungsi-fungsi kegiatan pariwisata, pertanian, industri kecil
unggulan untuk mendukung kawasan andalan nasional pada poros pengembangan Kawasan Denpasar Ubud Kintamani.

4.2.7. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali

Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali terlibat dalam tahap Rapat Koordinasi

Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota
Denpasar.
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali mengkoreksi tentang kesesuaian prosentase RTHK sebesar 35% yang belum sesuai
dengan hasil penjumlahan RTHK Publik 15,75% dan RTHK Privat sebesar 15%. Koreksi lain adalah pencantuman ketinggian bangunan
yakni 5 level agar dikoreksi menjadi 15 meter sehingga tidak multitafsir. Dinas PU Provinsi Bali menyarankan untuk mengatur arahan
insentif dan bentuk-bentuk insentif dalam Ranperda RTRW Kota Denpasar.
Koreksi atas jumlah RTHK telah diakomodasi dalam Pasal 42 Ayat (4) dan

(5) yang menyatakan bahwa RTHK mencapai 36% dari luas wilayah Kota

Denpasar, dengan perincian RTHK publik sebesar 20% dan RTHK Privat sebesar

16%. Koreksi atas ketinggian bangunan diakomodasi dalam Pasal 68 Ayat (2) huruf b, bahwa ketinggian bangunan yang
memanfaatkan ruang udara di atas permukaan tanah dibatasi maksimal 15 m.

4.2.8. Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali terlibat dalam tahap Rapat

Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang
RTRW Kota Denpasar.
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali mempertanyakan RTH mininmal 35% dari luas wilayah kota apakah sudah
realitis, mengingat dalam perhitungan memasukkan komponen lahan sawah sebagai komponen RTH yang rawan mengalami alih fungsi
lahan. Untuk menambah luas RTHK perlu dihitung RTHK sepanjang ruas jalan. Usulan ini diakomodasi dalam Pasal 42 Ayat (2) huruf
c, yang mengikutsertakan jalur hijau jalan sebagai komponen RTHK.
4.2.9. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali terlibat dalam tahap Rapat

Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang
RTRW Kota Denpasar.
Dinas Kelautan dan Perikanan dalam rapat tersebut di atas mengkoreksi tentang jarak perairan kabupaten/kota sepanjang 4 mil
dirubah menjadi sepertiga wilayah kewenangan provinsi, serta lokasi Marina Serangan yang sedang diusulkan perlu dimasukkan dalam
Ranperda RTRW Kota Denpasar.
Koreksi tentang ruang laut tidak diakomodasi dalam RTRW Kota Denpasar,

Pasal 4 Ayat (2) menyatakan bahwa Ruang laut terdiri atas wilayah laut paling jauh 4 (empat) mil diukur dari garis pantai ke arah laut
lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan dan sejauh jarak garis tengah antar wilayah laut kabupaten yang berdekatan. Usulan mengenai
Marina di Serangan diakomodasi dalam Pasal 47 ayat
(4) huruf a.

4.2.10. Gubernur Bali

Gubernur Bali berperan dalam pemberian persetujuan substansi Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada
Menteri Pekerjaan Umum setelah melalui Rapat Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang
BKPRD Provinsi Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar.
4.2.11. Menteri Pekerjaan Umum

Menteri Pekerjaan Umum terlibat dalam pemberian persetujuan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar untuk
segera diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.2.12. Jaringan dan Taksonomi Kebijakan

Merujuk pada taksonomi dari policy networks yang dikemukakan Howlett dan Ramesh (1998: 470) ada dua kelompok pelaku
kebijakan yaitu negara dan masyarakat, serta ada empat model jaringan kebijakan, yaitu birokratik,
partisipatori, jaringan isu dan jaringan pluralis.

Dari pembahasan di atas maka pelaku negara adalah: Bappeda Kota

Denpasar, DPRD Kota Denpasar, Gubernur Bali, dan BKPRN, sedangkan pelaku masyarakat/non-negara adalah asosiasi profesi
komponen dan masyarakat khususnya, jajaran kepala desa dan lurah se-Denpasar. Melihat dari gagasan dan argumentasi dari para pihak
yang telah dikemukakan sebelumnya, terlihat bahwa pihak yang paling dominan dalam mempengaruhi jaringan kebijakan adalah
lembaga negara.
Fakta ini sejalan dengan pandangan Gramscian tentang hegemoni bahwa kekuasaan dari kelas penguasa lebih halus ketimbang
dominasi fisik dari satu kelas atau kelas lainnya. Kelas penguasa punya hegemoni atas proses mental dari pihak yang dikuasai.
Kekuasaan riil dari kelas dominan adalah kekuasaan mereka dalam membuat pandangan mereka tentang dunia mendominasi orang lain
(Parsons, 2005: 149). Dari sini dapat dilihat bahwa DPRD tidak sekedar mengontrol agenda atau definisi problem dari Ranperda tentang
RTRW ini tetapi juga mempunyai kapasitas untuk mengontrol cara orang untuk memandang realitas tentang permasalahan yang akan
ditanggulangi dalam Ranperda tentang RTRW ini.
Secara kuantitas para pihak yang ada dalam jaringan kebijakan ini relatif sedikit dan dengan dominannya lembaga negara, maka
model jaringan kebijakan yang terjadi adalah jaringan birokratis, yang bercirikan sistem klien atau jaringan korporatis. Jaringan
birokratis ini terjadi dari kelompok kecil anggota DPRD (Pansus RTRW), dan instansi pemerintah, yang sering bekerja sangat erat
bersamasama untuk waktu yang lama. Mereka mengembangkan hubungan pribadi dan saling memiliki ketergantungan sistemik,
sehingga "menutup" proses kebijakan dari kontrol populer/masyarakat. Selain itu jaringan birokratis ini juga terjadi secara vertikal,
antara Pemerintah Kota Denpasar dan DPRD Kota Denpasar dengan Gubernur Bali dan BKPRN.
Dari sudut pandang taksonomi komunitas kebijakan ada empat model komunitas kebijakan, yaitu, hegemonik, perlombaan,
perpecahan dan kekacauan. Walaupun negara menjadi pihak yang dominan, serta adanya sedikit gagasan/ide yang berseberangan dari
masing-masing pihak, namun tidak ada dominasi ide atau gagasan yang mewarnai proses pembahasan Ranperda RTRW Denpasar ini.
Dengan demikian, maka model taksonomi komunitas kebijakan yang terjadi adalah model perlombaan.
Sedangkan dari aspek taksonomi perubahan kebijakan ada empat model perubahan kebijakan yaitu pradigmatik cepat,
inkremental cepat, paradigmatik gradual dan inkremental gradual. Bila dilihat dari waktu pembahasan yang memakan waktu selama
empat tahun dari tahun 2006 sampai 2011. Maka kecepatan perubahan kebijakan yang terjadi adalah perubahan secara lambat.
Sedangkan model perubahan yang terjadi tidak bersifat pragmatik, terlihat dari tidak adanya perubahan isu mendasar yang
mengakibatkan perubahan substansi Ranperda secara mendasar. Perubahannya terjadi secara bertahap dalam tempo yang lama, sehingga
model perubahan kebijakan yang terjadi adalah perubahan inkremental gradual.

4.3. Pendekatan yang Diterapkan dalam Perencanaan Tata Ruang


Wilayah di Kota Denpasar

Perencanaan tata ruang wilayah kota merupakan aktivitas yang bersifat teknis, namun sekaligus merupakan fungsi negara yang
diformulasikan dalam kebijakan publik, sehingga untuk menentukan pendekatan yang diterapkan dapat dilihat melalui dua sudut
pandang, yaitu: perubahan kebijakan publik dan pendekatan berdasarkan atas teori perencanaan.

4.3.1. Perubahan Kebijakan Publik

Penyusunan RTRW Kota Denpasar 2011-2031 berawal dari evaluasi terhadap RTRW Kota Denpasar Tahun 2009, sehingga
untuk memahami
perubahan kebijakan yang terjadi perlu diketahui agenda setting dan arena konflik dari proses kebijakan RTRW ini.

4.3.1.1. Keadaan agenda setting

Dalam menganalisis agenda setting, ada dua aspek yang menjadi perhatian utama yaitu persepsi dan fokus perhatian kebijakan.

1. Persepsi

Bila melihat alat analisis yang diajukan Grindle dan Thomas (1991) tentang aspek ekonomi politik dari perubahan kebijakan,
dapat dilihat bahwa dalam situasi ini keadaan agenda settingnya berada pada garis situasi politik seperti biasanya.
Keadaan agenda setting yang membentuk persepsi pada politik seperti biasanya dapat dilihat dari lima variabel, yaitu adanya
persoalan yang telah dipilih, tingkat pertaruhan rendah, pengambilan keputusan tingkat rendah, perubahan inkremental dan waktu yang
fleksibel. Kelima variabel ini ditemukan dalam proses perubahan Perda tentang RTRW ini.
a. Persoalan yang dipilih;

Rencana Pemerintah Kota Denpasar untuk melakukan perubahan Perda No. 10 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Denpasar sejatinya sudah muncul sejak tahun 2006. Perubahan ini dilandasi pertimbangan bahwa Perda No. 10 tahun 1999
tentang RTRW Kota Denpasar dinilai sudah kadaluwarsa dan kondisi di lapangan sudah banyak yang berubah. Berdasarkan fakta
tersebut, Bappeda Kota Denpasar telah merancang revisi Perda RTRW yang akan diberlakukan dalam menata ruang di Kota Denpasar.
Pembahasan awal ranperda RTRW ini diprakarsai Bappeda Kota Denpasar yang melibatkan konsultan perencana untuk Secara garis
besar permasalahan tata ruang yang dialami Kota Denpasar adalah sebagai berikut:
1) Terus bertambahnya kebutuhan lahan baru untuk permukiman dalam rangka menampung pertumbuhan penduduk yang demikian
cepat dan hal ini menimbulkan meningkatnya kepadatan di Kota Denpasar serta adanya proses densifikasi permukiman ke
kawasan pinggiran kota (urban sprawl);
2) Tingginya pertambahan jumlah penduduk terutama pendatang, membutuhkan tambahan sarana dan prasarana perkotaan serta
lapangan kerja yang mencukupi;
3) Besarnya potensi alih fungsi lahan sawah irigasi, akibat tuntutan permukiman dan kegiatan produktif lainnya yang
membutuhkan ruang, namun di sisi lain banyak terdapat lahan tidur yang belum termanfaatkan;
4) Kemacetan lalu lintas pada beberapa ruas jalan utama yang disebabkan kurangnya dukungan sistem infrastruktur terutama
jaringan jalan dan terus menambahnya kepemilikan kendaraan serta bercampurnya arus lalu lintas regional dan lokal pada
kawasan perkotaan di Kota Denpasar dan
sekitarnya;

5) Makin mendominasinya kawasan perdagangan dan jasa pada jalan-jalan utama di Kota Denpasar, sehingga Kota Denpasar
terkesan lebih cenderung menjadi kota perdagangan ketimbang kota budaya;
6) Maraknya pelanggaran-pelanggaran terhadap kawasan-kawasan

perlindungan setempat seperti kawasan sempadan pantai, Ruang Terbuka Hijau (RTH), sempadan jalan, sempadan sungai, dan
radius kawasan suci dan tempat suci;
7) Mulai berkurangnya kualitas pelayanan air bersih, persampahan, air limbah, drainase akibat daya tampung jaringan yang ada
beberapa diantaranya telah mencapai kapasitasnya;
8) Kurang terintegrasinya pola pemanfaatan ruang terutama di wilayahwilayah perbatasan antar Kawasan Metropolitan Sarbagita;
9) Makin memudarnya wajah tata ruang bernuansa budaya Bali baik tata lingkungan, konsep catuspatha, tata bangunan maupun
wajah arsitektur Bali yang merupakan jati diri unik kota-kota di Bali;
10)Belum terintegrasinya Struktur Tata Ruang Kawasan Metropolitan

Sarbagita, yang dapat mendorong keserasian hubungan fungsional antara Kota Denpasar sebagai kota inti dengan ibukota
kabupaten/kecamatan atau pusat-pusat kegiatan lainnya yang berdekatan;
11)Belum adanya pengaturan tentang pemanfaatan ruang wilayah perairan dan laut sesuai batas kewenangan 4 mil laut untuk
pemerintah Kota/Kabupaten; dan
12)Belum tertuangnya penerapan konsep-konsep mitigasi bencana dalam penataan ruang wilayah Kota Denpasar. mengawali revisi
Perda RTRW sebelumnya.
Dari fakta di atas, tampak bahwa inisiatif awal dari perubahan Perda No. 10 tahun 1999 tentang RTRW Kota Denpasar datang
dari keinginan untuk melakukan perubahan bukan karena tekanan publik untuk melakukan perubahan. Latar belakang perubahan Perda
RTRW ini adalah persoalan yang dipilih bersama antara eksekutif dan legislatif, dalam hal ini Pemerintah Kota Denpasar dan DPRD
Kota Denpasar.
b. Tingkat pertaruhan yang rendah

Tidak adanya tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan menyebabkan terjadinya tingkat pertaruhan yang rendah. Hal ini
tampak dari perubahan legal drafting sebanyak enam kali untuk mengakomodasi baik perubahan-perubahan di lapangan maupun
penyesuaian dengan peraturan-peraturan baru yang secara hirarkis berada di atas Perda, yaitu Perda No. 16 Tahun 2009 tentang RTRW
Provinsi Bali 2009-2029 dan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

c. Pengambilan keputusan tingkat rendah

Tidak nampak pengambilan keputusan dari level tertinggi, yakni Walikota

Denpasar dan pimpinan DPRD dalam pengambilan keputusan, dikarenakan tidak ada situasi krisis dan tekanan yang mendesak
pengambilalihan keputusan pada level tertinggi. Pengambilan keputusan dilakukan pada level SKPD dan Pansus RTRW.

d. Perubahan inkremental

Perubahan secara inkremental memiliki karakteristik konservatif, karena cenderung menisbikan perubahan sosial yang
revolusioner (perubahan besar dan dalam waktu relatif singkat), sehingga pendekatan ini kadang dianggap sebagai pendekatan yang pro-
interia dan anti-inovasi, sesuai dengan lingkupnya yang relatif sempit dan parsial.
Seperti telah diungkapkan dalam poin analisis sebelumnya, bahwa perubahan yang terjadi adalah perubahan secara inkremental.
Perubahan kebijakan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan Perda No. 16 Tahun 2009 tentang RTRW Provinsi Bali 2009-
2029 dan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
e. Waktu yang fleksibel

Tidak adanya tekanan dalam mengesahkan Perda RTRW dengan segera membuat waktu pembahasan Perda RTRW ini bersifat
fleksibel. Hal ini terlihat dari waktu pembahasan yaitu dari tahun 2007 hingga tahun 2011.

2. Fokus perhatian pembuatan kebijakan

Pada bagian analisis mengenai pihak kebijakan sebelumnya dijelaskan bahwa model taksonomi jaringan kebijakan yang terhadi
adalah jaringan birokratis yang dihegemoni oleh lembaga negara. Dalam proses pembahasan Ranperda RTRW ini, tidak ditemukan
adanya pengaruh politik makro yang dapat merubah substansi dari Ranperda RTRW ini. Pembuatan kebijakan cenderung didominasi
oleh relasi politik mikro dan hubungan birokratik. Hal ini tampak dari kurangnya partisipasi publik dalam pembahasan Ranperda ini.
Relasi yang terjadi adalah relasi antar instansi dalam domain lembaga negara. Sehingga proses pembahasan Ranperda ini cenderung
tertutup dari kontrol dan tekanan publik.

4.3.1.2. Arena konflik

Situasi politik seperti biasanya membawa kebijakan ini pada arena konflik di tingkat birokratik. Seperti telah diuraikan dalam
analisis mengenai taksonomi komunitas kebijakan yang terjadi adalah perlombaan ide di dalam komunitas. Perlombaan ide yang terjadi
hanya terbatas pada jaringan birokratik yang terbentuk dan tidak meluas kepada pertentangan ide dalam masyarakat.

4.3.2. Pendekatan Perencanaan Berdasarkan Teori Perencanaan

Untuk mengetahui pendekatan perencanaan yang diterapkan dalam


Penyusnan RTRW Kota Denpasar, digunakan Perbandingan Pendekatan Perencanaan, yang diuraikan ke dalam pokok-pokok uraian:
karakteristik perencanaan, peran negara, tujuan perencanaan, ruang lingkup perencanaan dan metode perencanaan.

4.3.2.1. Karakteristik perencanaan

Perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar dipelopori oleh Bappeda

Kota Denpasar yang berperan sebagai lembaga teknis daerah yang bertanggung jawab terhadap perencanaan pembangunan sebagaimana
diamanatkan dalam pasal 14 , ayat (1), Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa salah satu urusan
wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah adalah urusan perencanaan dan pengendalian pembangunan. Kewenangan
perencanaan pengendalian tersebut kemudian dipertegas kembali dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota, dari 26 (dua puluh enam) urusan sesuai dengan pasal 7, ayat (2), Bappeda sebagai salah satu lembaga teknis
daerah yang merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah, mengemban 3 (tiga) urusan wajib yang wajib dilaksanakan, yaitu urusan
penataan ruang, perencanaan pembangunan dan urusan statistik.
Aktivitas perencanaan yang dilakukan dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar berpusat pada Bappeda sebagai institusi yang
merencanakan sejak awal hingga melakukan pembahasan substansi dari RTRW Kota Denpasar. Karena sifat perencanaannya yang
bersifat teknis dan berpusat pada lembaga negara, yakni
Bappeda Kota Denpasar, maka pendekatan perencanaan yang sesuai dengan Teori Pendekatan Perencanaan adalah Pendekatan Rasional
Komprehensif.

4.3.2.2. Peran negara dalam perencanaan tata ruang wilayah


Dalam rangka penyusunan RTRW, Bappeda Denpasar melakukan revisi terhadap Perda No. 10 tahun 1999 tentang RTRW,
dengan melalui beberapa tahapan, yang melibatkan perwakilan masyarakat, asosiasi profesi dan instansi terkait. Dalam setiap tahapan
muncul berbagai usulan dan masukan yang diterima oleh Bappeda Kota Denpasar dan diakomodasi ke dalam RTRW Kota Denpasar.
Dalam hal ini Bappeda Kota Denpasar sebagai perwakilan negara berperan sebagai perantara netral yang ingin mencapai
masyarakat yang stabil dengan pengetahuan teknis, mendengarkan dan menerima aspirasi masyarakat, melakukan pembelajaran
bersama dengan para pihak yang dipengaruhi oleh implementasi dari suatu rencana. Berdasarkan peran ini, maka pendekatan yang
diterapkan dari sudut pandang peran negara adalah rasional komprehensif, pendekatan advokasi, transaktif dan consensus building.

4.3.2.3. Tujuan perencanaan

Tujuan Penyusunan RTRW Kota Denpasar adalah dalam rangka mewujudkan RTRW sebagai pedoman penataan ruang dan
pembangunan bagi pemerintah Kota Denpasar dan pihak-pihak lainnya.
Sasaran yang ingin dicapai dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar

adalah :

a. Terwujudnya keterpaduan rencana tata ruang wilayah kota dengan rencana tata ruang wilayah nasional, provinsi serta rencana
jangka panjang daerah
b. Terarahnya pengembangan struktur ruang dan pola ruang wilayah kota yang terintegrasi dengan wilayah yang lebih luas
c. Terkendalinya pembangunan di Kota Denpasar baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat;
d. Terciptanya keserasian pemanfaatan ruang antara kawasan lindung dan kawasan budidaya perkotaan ;
e. Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program pembangunan di
Kota Denpasar;
f. Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha.

g. Terkoordinasinya pembangunan antar kawasan dan antar sektor pembangunan.

Tujuan perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar yang ingin dicapai secara garis besar adalah peningkatan kualitas
lingkungan, yang sejalan dengan tujuan dari pendekatan rasional komprehensif.

4.3.2.4. Ruang lingkup perencanaan

Ruang lingkup perencanaan adalah Wilayah Kota Denpasar dengan luas daratan keseluruhan 12.778 Ha yang terletak pada
koordinat 0836'20 - 0844'48
LS dan 11510'00 - 11516'26 BT, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara: Kecamatan Mengwi dan Abiansemal (Kabupaten Badung)

2. Sebelah Timur: Kecamatan Sukawati ( Kabupaten Gianyar ) dan Selat Badung

3. Sebelah Selatan: Kecamatan Kuta Selatan (Kabupaten Badung) dan Teluk

Benoa

4. Sebelah Barat: Kecamatan Kuta Utara dan Kuta (Kabupaten Badung)


Ruang wilayah juga mencakup ruang perairan, sehingga lingkup ruang perairan adalah sejauh batas kewenangan pemerintah
Kota/Kabupaten yaitu sejauh
4 mil laut. Sedangkan ruang udara dibahas sampai batas tertentu yang berpengaruh. Selain itu batas pengamatan wilayah daratan juga
memperhatikan keterkaitan fungsional dengan wilayah di sekitarnya, terutama Kawasan Metropolitan
Sarbagita.
Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Denpasar sesuai arahan ayat 1, Pasal 26 dan Pasal 28 UU. No. 26 Tahun
2007, menghasilkan output sebagai berikut :
a. tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah kota;

b. rencana struktur ruang wilayah kota yang meliputi sistem permukiman perkotaan dan sistem jaringan prasarana wilayah kota;
c. Rencana pola ruang wilayah kotayang meliputi kawasan lindung kota dan kawasan budi daya kota;
d. penetapan kawasan strategis kota;

e. rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau;

f. rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka nonhijau; dan

g. rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan
ruang evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan
pusat pertumbuhan wilayah.
h. arahan pemanfaatan ruang wilayah kota yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan; dan
i. ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota yang berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan,
ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.
Secara garis besar ruang lingkup perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar mencakup aspek fisik, spasial dan sosial
ekonomi, sesuai dengan ruang lingkup dari perencanaan rasional komprehensif.
4.3.2.5. Metode perencanaan

Penyusunan perencanaan RTRW dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

1. Evaluasi RTRW

2. Pembahasan Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar
3. Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota Denpasar, yang meliputi tahapan sebagai berikut:
a. Analisis pengembangan wilayah

b. Penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan wilayah

c. Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota

d. Penyusunan arahan pemanfaatan ruang wilayah

e. Penyusunan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang

4. Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang Pansus I DPRD Kota Denpasar
5. Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang

Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar
6. Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi

Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar
7. Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi

Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri

Pekerjaan Umum
8. Persetujuan Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar 2010-2030 oleh Menteri Pekerjaan Umum
9. Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar

Tahapan-tahapan di atas dapat dikelompokkan ke dalam metode dari pendekatan komprehensif.


1. Perumusan masalah; dilakukan dengan cara melakukan evaluasi terhadap RTRW Kota Denpasar Tahun 2009-2029, dari evaluasi
ini kemudian ditemukan beberapa permasalahan, yang mendorong terjadinya penyusunan RTRW Kota Denpasar Tahun 2011-
2031.
2. Pengumpulan data, dilakukan melalui tahapan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar, yang
menghasilkan berbagai data yang diperlukan termasuk masukan dan usulan dari lembaga dan instansi terkait.
3. Analisis, dilakukan dalam tahapan Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota

Denpasar, yang meliputi: Kondisi Dan Analisis Fisik Wilayah, Analisis Pola
Ruang Wilayah Kota Denpasar, Analisis Sosial Kependudukan, Analisis Sosial Budaya, Analisis Perekonomian Kota Denpasar,
Analisis Kondisi dan Kebutuhan Sistem Transportasi, Analisis Sistem Infrastruktur Wilayah,
Analisis Kebutuhan Fasilitas, Analisis Kecenderungan Pola Ruang

Wilayah, Analisis Struktur Ruang Wilayah


4. Penentuan tujuan dan sasaran, Secara umum tujuan penataan ruang wilayah Kota Denpasar adalah untuk mewujudkan Kota
Denpasar yang berwawasan budaya, nyaman, aman, kreatif, produktif dan berdaya saing, dan berkelanjutan, sejalan dengan
rencana pembangunan jangka panjang Kota, Provinsi dan Nasional. Selanjutnya secara khusus Penataan ruang wilayah kota
bertujuan untuk mewujudkan:
a. ruang wilayah kota yang nyaman, aman, produktif, kreatif,

berkelanjutan dan mencerminkan jatidiri budaya Bali;

b. keterpaduan struktur ruang kota dengan Kawasan Metropolitan

Sarbagita, wilayah Provinsi Bali dan sistem perkotaan nasional;

c. keterpaduan dan optimalisasi pola ruang kawasan lindung, kawasan budidaya beserta ruang terbuka hijau kota
d. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan kota yang berwawasan
budaya Bali akibat pemanfaatan ruang;
e. keseimbangan dan keserasian perkembangan antar bagian wilayah kota;
f. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor; dan
g. ruang wilayah kota yang tanggap terhadap mitigasi dan adaptasi bencana.
5. Perencanaan, dilakukan dalam tahapan Penyusunan Materi Teknis RTRW

Kota Denpasar, yang meliputi Rencana Struktur Ruang, Rencana Pola Ruang Wilayah Kota, Rencana Ruang Terbuka Hijau
(RTHK), Rencana

Pengembangan Kawasan Strategis Kota.

6. Pengambilan keputusan, dilakukan melalui tahapan

a. Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota Denpasar dalam Sidang

Pansus I DPRD Kota Denpasar

b. Sinkronisasi dan Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang

Wilayah Kota Denpasar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah

Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar

c. Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi

Bali dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota

Denpasar
d. Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi

Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri

Pekerjaan Umum

e. Persetujuan Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota

Denpasar 2010-2030 oleh Menteri Pekerjaan Umum

f. Persetujuan Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota Denpasar tentang

RTRW Kota Denpasar


98
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar dilakukan melalui


beberapa tahapan yaitu: (1) Evaluasi RTRW Kota Denpasar 2009-2029; (2)
Pembahasan
Laporan Penyusunan Database Terstruktur dan Evaluasi RTRW Kota Denpasar;
(3) Penyusunan Materi Teknis RTRW Kota Denpasar, yang meliputi tahapan
sebagai berikut: (a) Analisis pengembangan wilayah, (b) Penyusunan kebijakan
dan strategi pengembangan wilayah, (c) Penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota, (d) Penyusunan arahan pemanfaatan ruang wilayah, (e)
Penyusunan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang;

Tahapan berikutnya adalah (4) Pembahasan Materi Ranperda RTRW Kota

Denpasar dalam Sidang Pansus I DPRD Kota Denpasar (5) Sinkronisasi dan
Harmonisasi Substansi Teknis Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar;
(6) Koordinasi Kelompok Kerja perencanaan Tata Ruang BKPRD Provinsi Bali
dalam Pembahasan Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar (7)
Rekomendasi Gubernur Bali tentang Pemberian Persetujuan Substansi Ranperda
Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar kepada Menteri Pekerjaan Umum
(8) Persetujuan Substansi atas Ranperda Kota Denpasar tentang RTRW Kota
Denpasar 2010-2030 oleh menteri Pekerjaan Umum; serta (9) Persetujuan
Penetapan Ranperda Menjadi Perda Kota Denpasar tentang RTRW Kota Denpasar

105
Para pihak yang terlibat dalam penyusunan RTRW Kota Denpasar 2011-

2031 adalah Bappeda Kota Denpasar, Seluruh Kepala Desa dan Lurah se Kota
Denpasar, DPRD Kota Denpasar, Asosiasi Profesi, Bappeda Kabupaten Badung
dan Bappeda Kabupaten Gianyar, Bappeda Provinsi Bali, Dinas Pekerjaan Umum
Provinsi Bali, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Dinas Kelautan dan
Perikanan Provinsi Bali, Gubernur Bali, serta Menteri Pekerjaan Umum.

Masing-masing pihak memiliki gagasan dan usulan yang disampaikan


selama proses penyusunan RTRW Kota Denpasar. Beberapa gagasan tersebut ada
yang telah diakomodasi dalam RTRW Kota Denpasar 2011-2031, dan ada
beberapa gagasan yang tidak diakomodasi.

Model jaringan kebijakan yang terjadi adalah jaringan birokratis, yang


bercirikan sistem klien atau jaringan korporatis. Jaringan birokratis ini terjadi dari
kelompok kecil anggota DPRD (Pansus RTRW), dan instansi pemerintah.
Walaupun negara menjadi pihak yang dominan, serta adanya sedikit gagasan/ide
yang berseberangan dari masing-masing pihak, namun tidak ada dominasi ide atau
gagasan yang mewarnai proses pembahasan Ranperda RTRW Denpasar ini.
Dengan demikian, maka model taksonomi komunitas kebijakan yang terjadi
adalah model perlombaan atau kompetisi gagasan.

Dalam situasi ini keadaan agenda settingnya berada pada garis situasi
politik seperti biasanya, hal ini dapat dilihat dari lima variabel, yaitu adanya
persoalan yang telah dipilih, tingkat pertaruhan rendah, pengambilan keputusan
tingkat rendah, perubahan inkremental dan waktu yang fleksibel. Relasi yang 107

terjadi adalah relasi antar instansi dalam domain aktor negara. Sehingga proses
penyusunan RTRW Kota Denpasar ini cenderung tertutup dari kontrol dan
tekanan publik.

Berdasarkan lima uraian mengenai perbandingan perencanaan, yaitu:


karakteristik perencanaan, peran negara, tujuan perencanaan, ruang lingkup
perencanaan dan metode perencanaan, maka pendekatan yang diterapkan dalam
perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar adalah pendekatan rasional
komprehensif.

5.2 Saran

Dengan model jaringan birokratis dan relasi yang terjadi adalah antar
instansi dalam domain negara, penyusunan RTRW Kota Denpasar ini cenderung
tertutup dari kontrol dan tekanan publik. Kepada lembaga pemerintah yang
100
terlibat dalam penyusunan RTRW disarankan untuk meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam perencanaan tata ruang untuk menjaga transparansi dalam
pemanfaatan ruang dan memenuhi prinsip partisipasi dan berkeadilan. Partisipasi
yang dimaksud bukan hanya bersifat keterwakilan oleh kepala desa atau lurah,
namun partisipasi secara langsung dalam diskusi publik dalam proses perencanaan
tata ruang berikutnya.

Walaupun dalam proses penyusunan RTRW Kota Denpasar ini terjadi


konsensus di antara pengambil kebijakan, namun konsenseus tersebut tidak
melibatkan masyarakat secara aktif. Pembangunan konsensus berperan sebagai
suatu cara dalam menemukan strategi yang layak untuk menghadapi perencanaan
dan kebijakan yang tidak pasti, kompleks dan kontroversial. Karena melalui
konsensus akan muncul pengetahuan, ide dan aksi bersama yang lebih baik untuk
menghadapi kondisi tersebut. Melalui proses konsensus, para stakeholder akan
mampu belajar, secara bersama memperoleh pemahaman baru, menembus
penghalang mental dan emosional, membangun kepercayaan dan menciptakan
solusi yang efektif.

Masyarakat yang saat ini cenderung dikecualikan dari proses perencanaan


tata ruang, harus diikutsertakan di masa depan, bukan hanya demi formalitas
tetapi juga secara aktif dalam kegiatan penataan ruang. Ini adalah strategi dimana
masyarakat bergabung dalam menentukan bagaimana informasi dibagi, tujuan dan
kebijakan ditetapkan, sumber daya yang dialokasikan, program-program yang
dioperasikan, dan manfaat yang diperoleh. Partisipasi adalah sarana bagi
masyarakat yang memungkinkan untuk berbagi manfaat dari masyarakat yang
makmur dan berkeadilan sesuai asas penataan ruang, untuk itu diharapkan juga
kepedulian masyarakat agar terlibat secara pro-aktif dalam perencanaan tata
ruang.
DAFTAR PUSTAKA

Buku

Adisasmita, R. 2008. Pengembangan Wilayah-Konsep dan Teori. Yogyakarta:


Graha Ilmu.
Barker, C. 2008. Cultural Studies-Teori dan Praktik, Edisi Keempat. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
Bolan, R.S. 1996. Planning and Institusional Design. In: Mandelbaum, S.J,
Mazza, L., Burchell, R.W., editors. Explorations in Planning Theory. New
Jersey:
Center for Urban Policy Research The State University of New Jersey. p.
497513.
Bungin, M. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.
Davidoff, P. 2000[1965]: Advocacy and Pluralism in Planning. In: Legates, R.T.
dan Stout, F., editors. The City Reader. London: Routledge. p. 423-33.
Forester, J. 1996a. The Rationality of Listening, Emotional Sensitivity, and Moral
Vision. In: Mandelbaum, S.J, Mazza, L., Burchell, R.W., editors.
Explorations in Planning Theory. New Jersey: Center for Urban Policy
Research The State University of New Jersey. p. 204-44.
________. 1996b. Argument, Power, and Passion in Planning Practice. In:
Mandelbaum, S.J, Mazza, L., Burchell, R.W., editors. Explorations in
Planning Theory. New Jersey: Center for Urban Policy Research The State
University of New Jersey. p. 241-62.
Friedmann, J. 1996. Two Centuries of Planning Theory: An Overview. In:
Mandelbaum, S.J, Mazza, L., Burchell, R.W., editors. Explorations in
Planning Theory. New Jersey: Center for Urban Policy Research The State
University of New Jersey. p. 10-29.
Gottdiener, M. dan L. Budd. 2005. Key Concepts in Urban Studies. London:
SAGE Publications Ltd.
Grindle, M.S. and J.W. Thomas .1991. Public Choices and Policy Change: The
Political Economy Of Reform In Developing Countries. Baltimore: John
Hopkins University Press.
Ham, C., dan M. Hill. 1993. The Policy Prosess in the Modern Capitalist State. 2nd
edition. New York: Harvestey Wheatsheaf.
Harvey, D. 1985. The Urbanization of Capital. Maryland: The Johns Hopkins
University Press.
Hoogerwerf. A. 1983. Ilmu Pemerintahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Howlett, Michael, M. Ramesh, 1998. Policy Subsystem Configurations and Policy
Change: Operationalizing the Postpositivist Analysis of the Politics of the
Policy Process, Policy Studies Journal, Vol. 26, No. 3

Islamy, M. I. 1988. Materi Pokok Kebijakan Publik. Jakarta: Penerbit Karunika.


Universitas Terbuka.
102
___________. 1992. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijaksanan Negara. Jakarta:
Bumi Aksara.

109
Klaasen, I.T., 2003. Knowledge- Based Design: Developing Urban & Regional
Design Into A Science. Armsterdam: Delf University Press.
Krueckeberg, D.A. 1997. The Culture of Planning. In: Krueckeberg, D.A., editor.
Introduction to Planning History in the United States. New Jersey: Center for
Urban Policy Research The State University of New Jersey. p.1-12.
Lindblom, C.E. 1986. Proses Penetapan Kebijaksanaan Edisi Kedua. (Ardian
Syamsudin, Pentj). Jakarta: Erlangga.
Moleong, L. J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

Parsons, W. 2005. Public Policy Pengantar Teori dan Praktik Analisis


Kebijakan. (Tri Wibowo Budi Santoso, Pentj). Jakarta: Prenada Media.
Paturusi, S.A. 2008. Perencanaan Kawasan Pariwisata. Denpasar: Udayana
University Press.
Purdom, C. B. 1921. An Introductory Chapter. In: Purdom, C. B., editor. Town
Theory and Practice. London: Benn Brothers Limited.
Rustiadi, E, dkk. 2009. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta:
Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia.

Rydin, Y. 1993. The British Planning System An Introduction. London:


Macmillan.

Soetomo, S. 2009. Urbanisasi dan Morfologi Proses Perkembangan Peradaban


dan Wadah Ruang Fisiknya: Menuju Ruang Kehidupan yang Manusiawi.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Supriyatno, B. 2009. Manajemen Tata Ruang. Tangerang: CV. Media Berlian.
Tarigan, R. 2008. Perencanaan Pembangunan Wilayah Edisi Revisi. Jakarta: PT
Bumi Aksara.

Thorns, D. C., 2002. The Transformation of Cities Urban Theory and Urban
Life. New York: Palgrave Macmillan.
UN-Habitat. 2009. Planning Sustainable Cities. London: Earthscan.
United Nations Human Settlements Programme. 2007. Inclusive and Sustainable
Urban Planning: A Guide for Municipalities, Volume 1: An Introduction to
Urban Strategic Planning. Nairobi: United Nations Human Settlements
Programme.
Winarno, B. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Penerbit
Media Press.
Yunus, H. B. 2008 Struktur Tata Ruang Kota, Edisi VII. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Peraturan Perundang-undangan

Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 10 tahun 1999 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Denpasar 1999-2019.
Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Denpasar Tahun 2011 2031
Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Provinsi Bali 2009-2029
104

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang.

Tesis dan Disertasi

Dempster, M. B. 1998. A Self-Organizing Systems Perspective on Planning for


Sustainability (tesis). Ontario: University Waterloo.
Mukhlis, M. 2009. Analisis Kebijakan dalam Perencanaan Kota Baru Lampung
di Natar (tesis). Lampung: Universitas Lampung.
Pratiwi, I.A.T. 2006. Nilai-nilai Budaya Bali dalam Produksi Tata Ruang di Kota
Denpasar (Studi Kasus Jl. Gatot Subroto Timur, Denpasar) (tesis). Jakarta:
Universitas Indonesia.
Sharma, V. 2008. Planning for Holistic Sustainability: A Study of Process in
Kerala (India) and Sweden (disertasi). Adelaide: The University of Adeilade.
Shetawy , Ahmed Adel Amin. 2004. The Politics Of Physical Planning Practice:
The Case Of The Industrial Areas In Tenth Of Ramadan City Egypt (disertasi).
London: The Development Planning Unit The Bartlett School Of Architecture
And Planning University College London University Of London. Stefan, A. M.
2004. The New Urbanism Movement: the Case of Sweden (tes is). Sweden:
Blekinge Tekniska Hgskola International Masters Programme in European
Spatial Planning.

Jurnal, Makalah dan Paper

Alexander, E. R. 1994. The Non-Euclidean Mode of Planning: What is It to Be.


Journal of the American Planning Association, Vol. 60, No.3 (Summer 1994):
372-76.
Almandoz, A. 2004. The Garden City in Early Twentieth-Century Latin America.
Urban History, 31, 3: 437-52.
Ardhana, I Ketut. 2004. Denpasar: Perkembangan Dari Kota Kolonial Hingga
Kota Wisata. Konferensi International I Sejarah Kota (The First
105

International Conference on Urban History) di Universitas Airlangga,


Surabaya 23-25 Agustus 2004.
Brooks, M. 1993. A Plethora of Paradigms? Journal of the American Planning
Association, Vol. 59, No .2: 142-45.
Bryson, J. M., dan R. C. Einsweiler. 2000 [1988]. Masa Depan Perencanaan
Strategis untuk Publik. (Achmad Djunaedi, Pentj). Tulisan Asli: Bryson, John
M.; dan Robert C. Einsweiler. 1988. The Future of Strategic Planning for
Public Purpose, dalam buku J. M. Bryson dan R.C. Einsweiler (eds.),
Strategic Planning: Threats and Opportunities for Planners. Planners Press,
American Planning Association, Chicago, Illinois. Hal. 216-230.
Diterjemahkan, disingkat dan dimodifikasi untuk bahan kuliah MPKD UGM.
Carlino, G. A., dan A. Saiz. 2008. City Beautiful. IZA Discussion Paper No. 3778.
Bonn: The Institute for the Study of Labor.
Checkoway, B. 1994. Paul Davidoff and Advocacy Planning in Retrospect.
Journal of the American Planning Association, Vol. 60, No.2 (Spring 1994):
142-45.
Clavel, P. 1994. The Evolution of Advocay Planning. Journal of the American
Planning Association, Vol. 60, No.2 (Spring 1994): 146-49.
Djunaedi, A. 1995. Perencanaan Stratejik Untuk Perkotaan: Belajar dari
Pengalaman Negara Lain. Jurnal PWK, Nomor 19/Juni 1995: 20-25.
_________ . 2000. Keragaman Pilihan Corak Perencanaan (Planning Styles)
untuk Mendukung Kebijakan Otonomi Daerah. Makalah disampaikan pada
Seminar dan Temu Alumni MKPD 2000. Sanur. 27-30 Agustus.
Etzioni, A. 1967. Mixed-Scanning: A Third Approach to Decision-Making.
Public Administration Review, Vol. 27, No.5 (Dec., 1967): 385-92.
_________. 1986. Mixed Scanning Revisited. Public Administration Review, Vol.
46, No. 1 (Jan. - Feb., 1986): 8-14.
Fainstein, S.S. 2005. Planning Theory and the City. Journal of Planning
Education and Research, Vol.25: 121-30.
106

Forester, J. 1994. Bridging Interest and Community Planning and the Challenges
of Deliberative Democracy. Journal of the American Planning Association,
Vol. 60, No.2 (Spring 1994): 153-58.
Friedmann, J. 1993. Toward a Non-Euclidian Mode of Planning. Journal of the
American Planning Association, Vol. 60, No.2 (Spring 1994): 160-61.
__________. 1998. Planning Theory Revisited. European Planning Studies,
Vol.59, No.4: 482-85.
Hayden, D. 1994. Who Plans the USA? A Comment on Advocacy and Pluralism
in Planning. Journal of the American Planning Association, Vol. 60, No.2
(Spring 1994): 160-61.
Hudson, B. M. 1979. Comparison of Current Planning Theories: Counterparts and
Contradictions. Journal of the American Planning Association, Vol.45, No.4:
387-98.
Innes, J. E. 1983. Planning Theory and Practice: Bridging the Gap. Journal of
Planning Education and Research, Vol. 3, No. 1 (Summer 1983): 35-45.
________. 1996. Planning Through Consensus Building: A New View of the
Comprehensive Planning Ideal. Journal of the American Planning
Association, Vol. 62, No.4 (Autumn 1996): 460-72.
________. dan D. E. Booher. 1999. Consensus Building and Complex Adaptive
Systems: A Framework for Evaluating Collaborative Planning. Journal of the
American Planning Association, Vol. 65, No.4 (Autumn 1999): 412-23.
Kaufman, J.L, dan H.M. Jacobs. 2000 [1996]. Perencanaan Strategis: Kajian dari
Perspektif Perencanaan Publik. (Achmad Djunaedi, Pentj). Tulisan Asli:
Kaufman ,J.L.; dan Jacobs, H.M. 1996. A Public Planning Perspective on
Strategic Planning, dalam Journal of the American Planning Association, Vol
. 53, No. 1, 1987. Diterjemahkan, disingkat dan dimodifikasi untuk bahan
kuliah MPKD UGM.
Krumholz, N. 1994. Advocacy Planning: Can it Move the Center? Journal of the
American Planning Association, Vol. 60, No.2 (Spring 1994): 150-51.
107

Lindblom, C. E. 1959. The Science of Muddling Through. Public


Administration Review, Vol.19, No.2 (Spring 1959): 79-88.
Marris, P. 1994. Advocacy Planning As a Bridge Between the Professional and the
Political. Journal of the American Planning Association, Vol. 60, No.2
(Spring 1994): 143-46.
Pallagst, K. 2006. Growth Management in the San Francisco Bay Area:
Interdependence of Theory and Practice. IURD Working Paper Series 02,
Institute of Urban and Regional Development, UC Berkeley.
Peattie, L. R. 1994. Communities and Interests in Advocacy Planning. Journal of
the American Planning Association, Vol. 60, No.2 (Spring 1994): 151-53.
Yewlett, CJL. 2001. Theory and Practice in Operational Research and Town
Planning: a Continuing Creative Strategy? Journal of the Operational
Research Society, Vol.52: 1304-314.
Yone, H.L. 2007. Another Planning Theory? Rewriting the Meta-Narrative.
Planning Theory, Vol 6, No.3: 31526.

Website

American Planning Association. 2009. What is Planning? [cited 2010 Feb. 11].
Available from URL:
http://www.planning.org/aboutplanning/whatisplanning .htm.
_________________________. 2010. New Urbanism. [cited 2010 Jun. 26].
Available from URL: http://www.planning.org/divisions/newurbanism/ Avena, C.
2010. City Beautiful Movement in the Progressive Age. [cited 2010 Feb.
20]. Available from URL: http://www.fordham.edu/academics/colleges
__graduate_s/undergraduate_colleg/fordham_college_at_l/special_programs/
honors_program/honors_history/homepage/progressive_movement/index.asp.
Cambridge Dictionary, 2010. [cited 2010 Jun. 25]. Available from URL:
http://dictionary.cambridge.org/
108

Doxiadis, C. A. 1970. Ekistics, the Science of Human Settlements. [cited 2010


Feb. 20]. Available from URL: http://www.doxiadis.org/files/pdf/ecistics _the
_science_of_human_settlements.pdf
Rose, J.K. 2010. The City Beautiful Movement. [cited 2010 Feb. 20]. Available
from URL: http://xroads.virginia.edu/~CAP/CITYBEAUTIFUL/city.html.
Savage, C. 2010. City Beautiful Movement. [cited 2010 Feb. 20]. Available from
URL: http://digital.library.okstate.edu/encyclopedia/entries/C/CI007.html.
Suarca. I. N. 2010. Tata Ruang di Propinsi Bali. In: Direktorat Jenderal Penataan
Ruang Departemen Pekerjaan Umum. Sejarah Penataan Ruang Indonesia.
[cited 2010 Feb 06]. Available from URL: http://www.penataanruang.net/
taru/sejarah/
Suardana, I.N.G. 2009. Denpasar, Ketika Pertumbuhannya tak Terkendali. [cited
2009 Nov. 28]. Available from URL: http://ingsuardana.blogspot.com/ 2009/
07/denpasar-ketika-pertumbuhannya-tak.html.
Winarno, H. 2010. Teori Ekistics dan Penataan Ruang di Indonesia. In: Direktorat
Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum. Sejarah Penataan
Ruang Indonesia. [cited 2010 Feb 06]. Available from URL:
http://www.penataanruang.net/ taru/sejarah/
LAMPIRAN

Pedoman wawancara kepada Bappeda Kota Denpasar

1. Apa yang melatarbelakangi revisi RTRW Kota Denpasar 2009 2029?

2. Bagaimana proses perencanaan RTRW Kota Denpasar tahap demi tahap?

3. Bagaimana prosedur perencanaan RTRW Kota Denpasar? 4. Siapa saja


pihak yang terlibat dalam perencanaan RTRW?
5. Bagaimana substansi atau materi teknis RTRW disusun?

Pedoman wawancara kepada para pihak yang terlibat dalam proses perencanaan

RTRW.

1. Pada tahap apa anda terlibat dalam proses perencanaan RTRW?

2. Bagaimana proses perencanaan RTRW Kota Denpasar tahap demi tahap


yang anda ikuti?
3. Apa masukan, saran atau pendapat yang anda sampaikan pada setiap
tahap?
114