Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam teknik kimia, reaktor kimia adalah suatu bejana tempat
berlangsungnya reaksi kimia. Rancangan dari reaktor ini tergantung dari banyak
variabel yang dapat dipelajari di teknik kimia. Perancangan suatu reaktor kimia
harus mengutamakan efisiensi kinerja reaktor, sehingga didapatkan hasil produk
dibandingkan masukan (input) yang besar dengan biaya yang minimum, baik
itu biaya modal maupun operasi (Anggieta, 2014).. Perubahan energi dalam suatu
reaktor kimia bisa karena adanya suatu pemanasan atau pendinginan, penambahan
atau pengurangan tekanan dan gaya gesekan.
Teknik Kimia adalah suatu cabang ilmu teknik/rekayasa yang mempelajari
pemrosesan barang mentah menjadi barang yang berguna secara ekonomis, dengan
langkah-langkah yang melibatkan peristiwa kimia, biologis dan /atau fisis
sehingga mengalami perubahan tingkat wujud, kandungan energi, atau komposisi
(HMTK AKPRIND, 2015). Sarjana teknik kimia diharapkan memiliki kualitas
dalam konsepsi dan perancangan proses kimia untuk tujuan produksi, transformasi
dan penanganan material, memiliki wawasan ilmu yang luas sehingga mampu
mengembangkan sumberdaya alam baik fosil (minyak bumi, gas bumi, batubara)
maupun non-fosil, menjadi komoditi yang bernilai tambah tinggi (Teknik Kimia
UI, 2011). Saat ini kebutuhan dunia akan Industri terus meningkat sehingga peran
sarjana Teknik Kimia dalam perancangan pabrik sangat dibutuhkan untuk
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pabrik yang dirancang
dapat berupa pabrik kimia, bioproses, makanan, dan masih banyak lainnya namun
lebih fokus ke arah proses, baik meningkatkan kapasitas produksi maupun
memperbaiki proses yang ada (FTI ITB, 2015). Salah satu perancangan yang
dilakukan ialah perancangan reaktor.
Dalam perancangan reaktor harus menentukan ukuran reaktor, tipe
reaktor dan metode operasi paling tepat untuk menghasilkan kinerja reaktor
terbaik. Selain itu juga dibutuhkan bentuk matematis yang dapat
mendiskripsikan reaksi yang terjadi didalam reaktor. Salah satunya adalah
persamaan laju reaksi, dari integral persamaan tersebut dapat diketahui waktu
tinggal didalam reaktor. Namun, hal ini tidak dapat memprediksi secara
keseluruhan kinerja reaktor. Temperatur dan komposisi fluida yang bereaksi
perubahannya sangat bervariasi dari titik ke titik dalam reaktor, tergantung
pada sifat reaksi yaitu endotermis atau eksotermis, ada tidaknya penambahan
atau penghilangan panas pada sistem, dan pola aliran fluida dalam bejana.
Beberapa uraian diatas, menunjukan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi
kinerja reaktor. Perlakuan paling tepat pada faktor-faktor tersebut merupakan
masalah utama dalam perancangan reaktor (Levenspiel, 1999). Pada beberapa
perancangan reaktor yang telah ada, perhitungan berbagai macam data
dilakukan dengan metode numerik secara manual. Perhitungan tersebut
merupakan masalah numerik yang kompleks. Sebagai perbaikan metode yang
telah ada, akan dilakukan perancangan dan simulasi reaktor secara numerik
menggunakan perangkat lunak yang disebut Scilab. Perangkat lunak ini hampir
menyerupai Matlab, sebagai sebuah program interaktif untuk komputasi
numerik dan visualisasi data (Sasongko, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, akan dilakukan perancangan dan simulasi reaktor
Mixed Batch pada kondisi non adiabatis untuk reaksi Isomerisasi Paraxylene
Menjadi Orthoxylene reaksinya bersifat eksotermis dan reversible. Perancangan
dan simulasi disebut dilakukan menggunakan program Scilab 5.5.2.
1.3 Tujuan
1. Dapat mengoperasikan software Scilab 5.5.2 dengan benar
2. Dapat mensimulasikan dan merancang ukuran reaktor Mixed Batch
3. Dapat mensimulasikan dan menentukan profil hubungan konversi terhadap
volume
4. Dapat mensimulasikan dan menentukan profil hubungan suhu terhadap
konversi
1.4 Manfaat
1. Mampu mengoperasikan software Scilab 5.5.2 dengan benar
2. Mampu mensimulasikan dan merancang ukuran reaktor Mixed Batch
3. Mampu mensimulasikan dan menentukan profil hubungan konversi terhadap
volume
4. Mampu mensimulasikan dan menentukan profil hubungan suhu terhadap
konversi
5. Mampu mensimulasikan dan menentukan profil hubungan konversi terhadap
volume