Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Manusia sebagai mahkluk sosial yang hidup berkelompok dimana satu
dengan yang lainnya saling behubungan untuk memenuhi kebutuhan sosial.
Kebutuhan sosial yang dimaksud antara lain : rasa menjadi milik orang lain atau
keluarga, kebutuhan pengakuan orang lain, kebutuhan penghargaan orang lain dan
kebutuhan pernyataan diri.
Secara alamiah individu selalu berada dalam kelompok, sebagai contoh
individu berada dalam satu keluarga. Dengan demikian pada dasarnya individu
memerlukan hubungan timbal balik, hal ini bisa melalui kelompok.
Penggunaan kelompok dalam praktek keperawatan jiwa memberikan
dampak positif dalam upaya pencegahan, pengobatan atau terapi serta pemulihan
kesehatan seseorang. Meningkatnya penggunaan kelompok terapeutik, modalitas
merupakan bagian dan memberikan hasil yang positif terhadap perubahan perilaku
pasien atau klien, dan meningkatkan perilaku adaptif dan mengurangi perilaku
maladaptif.
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh individu atau klien melalui
terapi aktifitas kelompok meliputi dukungan (support), pendidikan meningkatkan
pemecahan masalah, meningkatkan hubungan interpersonal dan juga
meningkatkan uji realitas (reality testing) pada klien dengan gangguan orientasi
realitas (Birckhead, 1989).
Terapi aktifitas kelompok sering digunakan dalam praktek kesehatan jiwa,
bahkan dewasa ini terapi aktifitas kelompok merupakan hal yang penting dari
ketrampilan terapeutik dalam keperawatan. Terapi kelompok telah diterima
profesi kesehatan.
Pimpinan kelompok dapat menggunakan keunikan individu untuk
mendorong anggota kelompok untuk mengungkapkan masalah dan mendapatkan
bantuan penyelesaian masalahnya dari kelompok, perawat juga adaptif menilai
respon klien selama berada dalam kelompok.

I.2 Tujuan

1
Untuk meningkatkan pengetahuan tentang Terapi Aktivitas Kelompok serta
dapat mengaplikasikannya dalam praktik keperawatan.

I.3 Ruang Lingkup


Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang kami miliki serta
sesuai materi yang harus dibahas dalam makalah ini yang diberikan oleh dosen
mata kuliah, maka ruang lingkup makalah ini terbatas pada pembahasan Defenisi
TAK, Tujuan TAK, Manfaat TAK, Tahap-Tahap TAK, Peran Perawat TAK,
Macam-Macam TAK, Kerangka Teoritis TAK dan Terapi.

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara
satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang
sama.
Sedangkan kelompok terapeutik memberi kesempatan untuk saling bertukar
(Sharing) tujuan, misalnya membantu individu yang berperilaku destruktif dalam
berhubungan dengan orang lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif
untuk membantu merubah perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Setiap kelompok mempunyai struktur dan identitas tersendiri. Kekuatan
kelompok memberikan kontribusi pada anggota dan pimpinan kelompok untuk
saling bertukar pengalaman dan memberi penjelasan untuk mengatasi masalah
anggota kelompok. Dengan demikian kelompok dapat dijadikan sebagai wadah
untuk praktek dan arena untuk uji coba kemampuan berhubungan dan berperilaku
terhadap orang lain.
Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat
kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
Aktivitas yang digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target
asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung,
saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru
yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.

2.2 Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok


1. Mengembangkan stimulasi kognitif
Tipe: biblioterapy
Aktivitas: menggunakan artikel, sajak,puisi, buku, surat kabar untuk
merangsang dan mengembangkan hubungan dengan orang lain.
2. Mengembangkan stimulasi sensori
Tipe: musik, seni, menari.
Aktivitas: menyediakan kegiatan, mengekspresikan perasaan.
Tipe: relaksasi

3
Aktivitas: belajar teknik relaksasi dengan cara napas dalam, relaksasi
otot, dan imajinasi.
3. Mengembangkan orientasi realitas
Tipe: kelompok orientasi realitas, kelompok validasi.
Aktivitas: focus pada orientasi waktu,tempat dan orang, benar, salah
bantu memenuhi kebutuhan.
4. Mengembangkan sosialisasi
Tipe: kelompok remitivasi
Aktivitas: mengorientasikan klien yang menarik diri, regresi
Tipe: kelompok mengingatkan
Aktivitas: focus pada mengingatkan untuk menetapkan arti positif.
Secara umum tujuan kelompok adalah :
1. Setiap anggota kelompok dapat bertukar pengalaman
2. Memberikan pengalaman dan penjelasan pada anggota lain
3. Merupakan proses menerima umpan balik

2.3 Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok


Secara umum manfaat terapi aktivitas kelompok adalah :
1. Meningkatkan kemampuan uji realitas (reality testing) melalui
komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.
2. Melakukan sosialisasi.
3. Membangkitkan motivasi untuk kemajuan fungsi kognitif dan afektif.

Secara khusus manfaatnya adalah :


1. Meningkatkan identitas diri.
2. Menyalurkan emosi secara konstruktif.
3. Meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau sosial.

Di samping itu manfaat rehabilitasinya adalah :


1. Meningkatkan keterampilan ekspresi diri.
2. Meningkatkan keterampilan sosial.
3. Meningkatkan kemampuan empati.
4. Meningkatkan kemampuan atau pengetahuan pemecahan masalah.

2.4 Tahap-Tahap dalam Terapi Aktivitas Kelompok


Menurut Yalom yang dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1995, Fase fase
dalam terapi aktivitas kelompok adalah sebagai berikut :

4
A. Pre kelompok
Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang menjadi
leader, anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut dilaksanakan,
proses evaluasi pada anggota dan kelompok, menjelaskan sumber sumber
yang diperlukan kelompok seperti proyektor dan jika memungkian biaya
dan keuangan.
B. Fase awal
Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi yaitu
orientasi, konflik atau kebersamaan.
1. Orientasi.
Anggota mulai mengembangkan system social masing masing, dan
leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak
dengan anggota.
2. Konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai
memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran
anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan terjadi.
3. Kebersamaan
Anggota mulai bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota
mulai menemukan siapa dirinya.
C. Fase kerja
Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan
engatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina,
bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, kecemasan
menurun, kelompok lebih stabil dan realistic, mengeksplorasikan lebih jauh
sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok, dan penyelesaian masalah yang
kreatif.
D. Fase terminasi
Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok
mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses.

2.5 Peran Perawat dalam Terapi Aktivitas Kelompok


Peran perawat jiwa professional dalam pelaksanaan terapi aktivitas
kelompok adalah :
1. Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok
Sebelum melaksanakan terapi aktivitas kelompok, perawat harus terlebih
dahulu, membuat proposal.
Proposal tersebut akan dijadikan panduan dalam pelaksanaan terapi
aktivitas kelompok, komponen yang dapat disusun meliputi : deskripsi,

5
karakteristik klien, masalah keperawatan, tujuan dan landasan teori,
persiapan alat, jumlah perawat, waktu pelaksanaan, kondisi ruangan serta
uraian tugas terapis.
2. Tugas sebagai leader dan coleader
Meliputi tugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi
yang terjadi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk
menyadari dinamisnya kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok
menetapkan tujuan dan membuat peraturan serta mengarahkan dan
memimpin jalannya terapi aktivitas kelompok.
3. Tugas sebagai fasilitator
Sebagai fasilitator, perawat ikut serta dalam kegiatan kelompok sebagai
anggota kelompok dengan tujuan memberi stimulus pada anggota kelompok
lain agar dapat mengikuti jalannya kegiatan.
4. Tugas sebagai observer
Tugas seorang observer meliputi : mencatat serta mengamati respon
penderita, mengamati jalannya proses terapi aktivitas dan menangani
peserta/anggota kelompok yang drop out.

5. Tugas dalam mengatasi masalah yang timbul saat pelaksanaan terapi


Masalah yang mungkin timbul adalah kemungkinan timbulnya sub
kelompok, kurangnya keterbukaan, resistensi baik individu atau kelompok
dan adanya anggota kelompok yang drop out.
Cara mengatasi masalah tersebut tergantung pada jenis kelompok terapis,
kontrak dan kerangka teori yang mendasari terapi aktivitas tersebut.
6. Program antisipasi masalah
Merupakan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
keadaan yang bersifat darurat (emergensi dalam terapi) yang dapat
mempengaruhi proses pelaksanaan terapi aktivitas kelompok.

Dari rangkaian tugas diatas, peranan ahli terapi utamanya adalah sebagai
fasilitator. Idealnya anggota kelompok sendiri adalah sumber primer
penyembuhan dan perubahan.
Iklim yang ditimbulkan oleh kepribadian ahli terapi adalah agen perubahan
yang kuat. Ahli terapi lebih dari sekedar ahli yang menerapkan tehnik; ahli terapi
memberikan pengaruh pribadi yang menarik variable tertentu seperti empati,
kehangatan dan rasa hormat (Kaplan & Sadock, 1997).
Sedangkan menurut Depkes RFI 1998, di dalam suatu kelompok, baik itu
kelompok terapeutik atau non terapeutik tokoh pemimpin merupakan pribadi yang

6
paling penting dalam kelompok. Pemimpin kelompok lebih mempengaruhi
tingkat kecemasan dan pola tingkah laku anggota kelompok jika dibandingkan
dengan anggota kelompok itu sendiri. Karena peranan penting terapis ini, maka
diperlukan latihan dan keahlian yang betul-betul professional.
Stuart & Sundeen (1995) mengemukakan bahwa peran perawat psikiatri
dalam terapi aktivits kelompok adalah sebagai leader/co leader, sebagai observer
dan fasilitator serta mengevaluasi hasil yang dicapai dalam kelompok.
Untuk memperoleh kemampuan sebagai leader/co leader, observer dan
fasilitator dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok, perawat juga perlu mendapat
latihan dan keahlian yang professional.

2.6 Macam-Macam Terapi Aktivitas Kelompok


1. Terapi aktifitas kelompok stimulasi kognitif atau persepsi
Terapi aktifitas kelompok stimulus kognitif/persepsi adalah terapi yang
bertujuan untuk membantu klien yang mengalami kemunduran orientasi,
menstimuli persepsi dalam upaya memotivasi proses berfikir dan afektif
serta mengurangi perilaku maladaptif.
Tujuan :
a. Meningkatkan kemampuan orientasi realita
b. Meningkatkan kemampuan memusatkan perhatian
c. Meningkatkan kemampuan intelektual
d. Mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang lain
e. Mengemukakan perasaanya
Karakteristik :
a. Penderita dengan gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai-
nilai
b. Menarik diri dari realitas
c. Inisiasi atau ide-ide negative
d. Kondisi fisik sehat, dapat berkomunikasi verbal, kooperatif dan mau
mengikuti kegiatan

2. Terapi aktifitas kelompok stimulasi sensori


Terapi aktifitas kelompok untuk menstimulasi sensori pada penderita
yang mengalami kemunduran fungsi sensoris. Teknik yang digunakan
meliputi fasilitasi penggunaan panca indera dan kemampuan
mengekpresikan stimulus baik dari internal maupun eksternal.
Tujuan :

7
a. Meningkatkan kemampuan sensori
b. Meningkatkan upaya memusatkan perhatian
c. Meningkatkan kesegaran jasmani
d. Mengekspresikan perasaan

3. Terapi aktifitas kelompok orientasi realitas


Terapi aktifitas kelompok orientasi realitas adalah pendekatan untuk
mengorientasikan klien terhadap situasi nyata (realitas). Umumnya
dilaksanakan pada kelompok yang menghalami gangguan orientasi terhadap
orang, waktu dan tempat. Teknik yang digunakan meliputi inspirasi represif,
interaksi bebas maupun secara didaktik.
Tujuan :
a. Penderita mampu mengidentifikasi stimulus internal (fikiran,
perasaan, sensasi somatik) dan stimulus eksternal (iklim, bunyi, situasi
alam sekitar)
b. Penderita dapat membedakan antara lamunan dan kenyataan
c. Pembicaraan penderita sesuai realita
d. Penderita mampu mengenali diri sendiri
e. Penderita mampu mengenal orang lain, waktu dan tempat
Karakteristik :
a. Penderita dengan gangguan orientasi realita (GOR); (halusinasi, ilusi,
waham, dan depresonalisasi ) yang sudah dapat berinteraksi dengan
orang lain
b. Penderita dengan GOR terhadap orang, waktu dan tempat yang sudah
dapat berinteraksi dengan orang lain
c. Penderita kooperatif
d. Dapat berkomunikasi verbal dengan baik
e. Kondisi fisik dalam keadaan sehat

4. Terapi aktifitas kelompok sosialisasi


Kegiatan sosialisasi adalah terapi untuk meningkatkan kemampuan klien
dalam melakukan interaksi sosial maupun berperan dalam lingkungan
sosial. Sosialisasi dimaksudkan memfasilitasi psikoterapis untuk :
a. Memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal
b. Memberi tanggapan terhadap orang lain
c. Mengekspresikan ide dan tukar persepsi
d. Menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan
Tujuan umum :

8
Mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok,
berkomunikasi, saling memperhatikan, memberi tanggapan terhadap orang
lain, mengekpresikan ide serta menerima stimulus eksternal.
Tujuan khusus :
a. Penderita mampu menyebutkan identitasnya
b. Menyebutkan identitas penderita lain
c. Berespon terhadap penderita lain
d. Mengikuti aturan main
e. Mengemukakan pendapat dan perasaannya
Karakteristik :
a. Penderita kurang berminat atau tidak ada inisiatif untuk mengikuti
kegiatan ruangan
b. Penderita sering berada ditempat tidur
c. Penderita menarik diri, kontak sosial kurang
d. Penderita dengan harga diri rendah
e. Penderita gelisah, curiga, takut dan cemas
f. Tidak ada inisiatif memulai pembicaraan, menjawab seperlunya,
jawaban sesuai pertanyaan
g. Sudah dapat menerima trust, mau berinteraksi, sehat fisik

5. Penyaluran energi
Penyaluran energi merupakan teknik untuk menyalurkan energi secara
kontruktif dimana memungkinkan penembanghan pola-pola penyaluran
energi seperti katarsis, peluapan marah dan rasa batin secara konstruktif
dengan tanpa menimbulkan kerugian pada diri sendiri maupun lingkungan.
Tujuan :
a. Menyalurkan energi, destruktif ke konstrukstif.
b. Mengekspresikan perasaan
c. Meningkatkan hubungan interpersonal

2.7 Kerangka Teoritis Terapi Aktivitas Kelompok


1. Model fokal konflik
Menurut Whiteaker dan Liebermens, terapi kelompok berfokus pada
kelompok dari pada individu.
Prinsipnya: terapi kelompok dikembangkan berdasarkan konflik yang
tidak disadari. Pengalaman kelompok secara berkasinambungan muncul
kemudian konfrontir konflik untuk penyelesaian masalah, tugas terapi

9
membantu anggota kelompok memahami konflik dan mencapai
penyelesaian konflik.
Menurut model ini pimpinan kelompok (leader) harus memfasilisati dan
memberikan kesempatan kepada anggota untuk mengekspresikan perasaan
dan mendiskusikannya untuk menyelesaiakan masalah.
2. Model komunikasi
Model komunikasi menggunakan prinsip-prinsip teori komunikasi dan
komunikasi terapeutik. Diasumsikan bahwa disfungsi atau komunikasi tak
efektif dalam kelompok akan menyebabkan ketidak puasan anggota
kelompok, umpan balik tidak sekuat dari kohesi atau keterpaduan kelompok
menurun.
Dengan menggunakan kelompok ini leader memfasilitasi komunikasi
efektif, masalah individu atau kelompok dapat diidentifikasi dan
diselesaikan.
Leader mengajarkan pada kelompok bahwa:
a. Perlu berkomunikasi
b. Anggota harus bertanggung jawab pada semua level, misalnya
komunikasi verbal, nonverbal, terbuka dan tertutup.
c. Pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain
d. Anggota dapat menggunakan teori komunikasi dalam membantu satu
dan yang lain untuk melakukan komunikasi efektif
Model ini bertujuan membantu meningkatkan keterampilan interpersonal
dan sosial anggota kelompok. Selain itu teori komunikasi membantu
anggota merealisasi bagaimana mereka berkomunikasi lebih efektif.
Selanjutnya leader juga perlu menjelaskan secara singkat prinsip-prinsip
komunikasi dan bagaimana menggunakan didalam kelompok serta
menganalisa proses komunikasi tersebut.
3. Model interpersonal
Sullivan mengemukakan bahwa tingkah laku (pikiran, perasaan dan
tindakan) dagambarkan melalui hubungan interpersonal. Contoh: interaksi
dalam kelompok dipandang sebagai proses sebab akibat dari tingkah laku
anggota lain.

10
Pada teori ini terapis bekerja dengan individu dan kelompok. Anggota
kelompok ini belajar dari interaksi antar anggota dan terapis. Melalui ini
kesalahan persepsi dapat dikoreksi dan perilaku social yang efektif
dipelajari. Perasaan cemas dan kesepian merupakan sasaran untuk
mengidentifikasi dan merubah tingkah laku/perilaku. Contoh: tujuan salah
satu aktivitas kelompok untuk meningkatkan hubungan interpersonal. Pada
saat konplik interpersonal muncul, leader menggunakan situasi tersebut
untuk mendorong anggota untuk mendiskusikan perasaan mereka dan
mempelajari konplik apa yang membuat anggota merasa cemas dan
menentukan perilaku apa yangdigunakan untuk menghindari atau
menurunkan cemas pada saat terjadi konflik.
4. Model psikodrama
Dengan model ini memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai
dengan peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang lalu. Anggota
memainkan peran sesuai dengan yang perna dialami. Contoh: klien
memerankan ayahnya yang dominin atau keras.

2.8 Terapis
Terapis adalah orang yang dipercaya untuk memberikan terapi kepada klien
yang mengalami gangguan jiwa. Adapun terapis antara lain :
a. Dokter
b. Psikiater
c. Psikolog
d. Perawat
e. Fisioterapis
f. Speech teraphis
g. Occupational teraphis
h. Sosial worker

Persyaratan dan kualitas terapis


Menurut Globy, Kenneth Mark seperti yang dikutip Depkes RI menyatakan
bahwa persyaratan dan kualifikasi untuk terapi aktivitas kelompok adalah :
a. Pengetahuan pokok tentang pikiran-pikiran dan tingkah laku normal dan
patologi dalam budaya setempat.

11
b. Memiliki konsep teoritis yang padat dan logis yang cukup sesuai untuk
dipergunakan dalam memahami pikiran-pikiran dan tingkah laku yang
normal maupun patologis.
c. Memiliki teknis yang bersifat terapeutik yang menyatu dengan konsep-
konsep yang dimiliki melalui pengalaman klinis dengan pasien.
d. Memiliki kecakapan untuk menggunakan dan mengontrol institusi untuk
membaca yang tersirat dan menggunakannya secara empatis untuk
memahami apa yang dimaksud dan dirasakan pasien dibelakang kata-
katanya.
e. Memiliki kesadaran atas harapan-harapan sendiri, kecemasan dan
mekanisme pertahanan yang dimiliki dan pengaruhnya terhadap teknik
terapeutiknya.
f. Harus mampu menerima pasien sebagai manusia utuh dengan segala
kekurangan dan kelebihannya.

BAB III

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN

TAK ORIENTASI REALITA

3.1 Kriteria
Kriteria klien yang mengikuti terapi TAK orientasi realita di kelas 2B S1

Keperawatan STIKES ABI Surabaya.


1. Klien dengan gangguan mengenal orang, waktu, tempat.
2. Klien yang sudah bisa mengontrol halusinasinya.
3.2 Masalah Keperawatan
1. Gangguan mengenal orang.
2. Gangguan mengenal waktu.

12
3. Gangguan mengenal tempat.
3.3 Persiapan
1. Analisa Situasi :
Waktu pelaksaan :
Tempat : Ruang Kelas 2B S1 Keperawatan
Hari/Tanggal : Kamis, 10 November 2016
Waktu : 08.00 09.00 WIB
Alokasi Waktu : Perkenalan dan pengarahan (5 menit)

Permainan (35 menit)

Ekpress feeling (15 menit)

Penutup (5 menit)

2. Pengorganisasian kelompok :
Leader : Luluk Badriyah
Wakil Leader : Zamania Safiga
Observer : Ayuk C. Fitri
Fasilitator : St. Rahmatul Maryamah
Ach. Sholeh
Iwan Irawan
Moh. Habib Musthofa
Maria Rerebain
3. Alat Bantu :
a. Spidol
b. Papan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK
c. Bola tenis
d. Gambar-gambar berpasangan
e. Tape recorder
f. Kaset lagu
g. Kalender
h. Jam dinding

4. Proses Pelaksanaan :
a. Perkenalan
1) Kelompok perawat memperkenalkan diri, urutan ditunjuk oleh

pembimbing untuk memulai menyebut nama, kemudian leader

menjelaskan tujuan dan peraturan kegiatan dalam kelompok


2) Bila akan mengemukakan perasaannya klien diminta untuk lebih

dulu menunjukkan tangannnya

13
3) Bila klien ingin keluar untuk minum, BAB/BAK harus minta ijin

pada perawat
4) Pada akhir perkenalan pemimpin mengevaluasi kemampuan

identifikasi terhadap perawat dengan menanyakan nama perawat

yang ditunjuk oleh leader.


b. Permainan
1) Klien yang telah diseleksi dikumpulkan di tempat yang cukup luas

dan duduk membentuk lingkaran


2) Leader memberikan lembaran kertas yang bergambar pasangan dari

alat-yang setiap hari digunakan : piring dengan sendok, sapu

dengan tempat sampah, pensil dengan buku, sepatu dengan kaus

kaki, meja dengan kursi, dan membagikan pada setiap peserta

secara acak.
3) Selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai dengan

gambar yang dipegang. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan

identitas selengkapnya : nama, alamat, hobby, yang disukai tentang

dirinya, serta ketrampilan yang dimiliki.


4) Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok

identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya.


5) Kemudian dilanjutkan sesuai SOP yang telah dibuat.
6) Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara .

c. Peer Review (Evaluasi Kelompok)


1) Klien dapat mengemukakan perasaannya setelah memperkenalkan

dirinya.
2) Klien mengemukakan perasaannya setelah disapa oleh klien lain

dengan menyebut nama, alamat, dan ruangan di rumah sakit.


3) Klien mengemukakan pendapat tentang kegiatan ini.
d. Terminasi
1) Klien dapat menyebutkan kembali tujuan kegiatan.
2) Leader menjelaskan kembali tentang tujuan dan manfaat dari

kegiatan kelompok ini.


e. Antisipasi Masalah

14
1) Penanganan klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok
(a) Memanggil klien.
(b) Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab

sapaan perawat atau klien yang lain.


2) Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :
(a) Panggil nama klien.
(b) Tanya alasan klien meninggalkan permainan.
(c) Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan

penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan

keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi.


3) Bila ada klien lain ingin ikut
(a) Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada klien

yang telah dipilih.


(b) Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang

mungkin dapat diikuti oleh klien tersebut.


(c) Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak

memberi peran pada permainan tersebut.

Sesi Pertama : Mengenal Orang

a. Pengertian
Upaya memfasilitasi kemampuan sejumlah pasien dengan masalah

gangguan orientasi realita.


b. Tujuan
Pasien dapat mengenal orang orang disekitarnya dengan cepat
c. Indikasi
1) Demensia
2) Halusinasi
3) Kebingungan
d. Persiapan Alat
1) Name tag sejumlah pasien dan perawat yang ikut
2) Spidol
3) Bola tenis
4) Tape recorder
5) Kaset dangdut
e. Prosedur
1) Persiapan
(a) Memilih pasien sesuai indikasi.
(b) Membuat kontrak dengan klien sesuai indikasi.
(c) Mempersiapkan alat dan tempat (peserta duduk melingkar).
2) Orientasi

15
(a) Mengucapkan salam teraupetik
(b) Menanyakan perasaan klien hari ini
(c) Menjelaskan tujuan kegiatan
(d) Menjelaskan aturan main
(e) Masing- masing pasien duduk dikursinya masing-masing sampai

permainan selesai
(f) Bila ingin keluar dari kelompok harus meminta izin dari terapis
(g) Lama kegiatan 45 menit
3) Kerja
(a) Terapis memberikan name tag untuk masing- masing peserta
(b) Terapis meminta masing-masing peserta menyebutkan nama, nama

panggilan, status dan alamatnya


(c) Terapis meminta masing-masing peserta menuliskan nama

panggilannya dimasing-masing name tag yang telah dibagikan


(d) Terapis meminta masing-masing peserta memperkenalkan diri

secara berutun searah jarum jam dimulai dari terapis meliputi

menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, alamatnya.


(e) Terapis menjelaskan langkah berikut: tape recorder akan

dinyalahkan saat music terdengar bola tennis dipindahkan dari satu

peserta ke peserta yang lain. Saat music dihentikan peserta yang

sedang memegang bola tennis menyebutkan nama, nama panggilan

dan alamatsemua peserta yang lain.


(f) Terapis menyalakan tape dan menghentikan saat musik dihentikan

peserta yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama,

nama panggilan dan alamatsemua peserta yang lain.


(g) Ulangi langkah no.6 sampai semua peserta mendapatkan giliran.
(h) Terapis memberikan pujian, setiap kali pasien selesai menceritakan

perasaannya.
4) Terminasi
(a) Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti TAK.
(b) Memberi pujian atas pencapaian kelompok.
(c) Menganjurkan agar pasien untuk kontak dan interaksi dengan

orang lain.

16
(d) Membuat kontrak kembali untuk TAK berikutnya untuk mengenal

tempat.

Sesi Kedua : Mengenal Tempat

a. Pengertian
Upaya memfasilitasi kemampuan sejumlah pasien dengan masalah

gangguan orientasi realita


b. Tujuan
Pasien dapat mengenal waktu dan tempat
c. Indikasi
1) Demensia
2) Halusinasi
3) Kebingungan

d. Persiapaan alat
1) Bola tenis
2) Tape recorder
3) Kaset dangdut
e. Prosedur
1) Persiapan
(a) Terapis mengingatkan kontrak pada sesi yang telah lalu.
(b) Mempersiapkan alat dan tempat (peserta duduk melingkar).
2) Orientasi
(a) Mengucapkan salam teraupetik
(b) Menanyakan perasaan klien hari ini
(c) Terapis menanyakan apakah peserta masih mengingat nama-nama

peserta yang lain


(d) Menjelaskan aturan main :
Klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
Bila ingin keluar dari kelompok harus meminta izin dari

terapis
Lama kegiatan 45 menit
3) Kerja
(a) Terapis menanyakan kepada peserta nama rumah sakit, nama

ruangan, nomor tempat tidur, peserta diberi kesempatan menjawab

dengan tepat.
(b) Terapis menjelaskan langkah berikutnya : Tape recorder akan

dinyalakan saat musik terdengar, bola tennis dipindahkan dari satu

peserta kepeserta yang lain. Saat musik dihentikan peserta yang

17
sedang memegang bola tennis menyebutkan nama rumah sakit,

nama ruangan yang tepat.


(c) Terapis menyalakan tape dan menghentikan saat music dihentikan

peserta yang sedang memegang bola tenis menyebutkan nama

rumah sakit, nama ruangan yang tepat.


(d) Ulangi langkah no.3 sampai semua peserta mendapat giliran.
(e) Terapis memberikan pujian.
(f) Terapis mengajak peserta berkeliling keruang- ruang yang ada.
4) Terminasi
(a) Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti TAK.
(b) Memberi pujian atas pencapaian kelompok.
(c) Menganjurkan untuk menghafal nama- nama.
(d) Membuat kontrak kembali untuk TAK berikutnya.

Sesi Ketiga : Mengenal Waktu

a. Pengertian
Upaya memfasilitasi kemampuan sejumlah pasien dengan masalah

gangguan orientasi realita


b. Tujuan
Pasien dapat mengenal tanggal, hari, tahun dengan tepat
c. Indikasi
1) Demensia
2) Halusinasi
3) Kebingungan
d. Persiapaan alat
1) Bola tenis
2) Tape recorder
3) Kaset dangdut
4) Kalender
5) Jam dinding
e. Prosedur
1) Persiapan
(a) Terapis mengingatkan kontrak pada sesi yang telah lalu.
(b) Mempersiapkan alat dan tempat (peserta duduk melingkar).
2) Orientasi
(a) Mengucapkan salam teraupetik.
(b) Menanyakan perasaan klien hari ini.
(c) Terapis menanyakan apakah peserta masih mengingat nama-nama

peserta yang lain.


(d) Menjelaskan aturan main :
Klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

18
Bila ingin keluar dari kelompok harus meminta izin dari

terapis.
Lama kegiatan 45 menit.
3) Kerja
(a) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan.
(b) Terapis menanyakan kepada peserta hari, tanggal, bulan dan tahun

sekarang.
(c) Terapis menjelaskan langkah berikutnya: Tape recorder akan

dinyalakan saat music terdengar bola tennis dipindahkan dari satu

peserta ke peserta yang lain. Saat music dihentikan peserta yang

sedang memegang bola tenis menjawab pertanyaan dari terapis.


(d) Terapis menyalakan tape dan menghentikan saat music dihentikan

peserta yang sedang memegang bola tennis menjawab pertanyaan dari

terapis.
(e) Ulangi langkah no.4 sampai semua peserta mendapat giliran.
(f) Terapis memberikan pujian, setiap kali pasien selesai menceritiakan

perasaannya.
4) Terminasi
(a) Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti TAK.
(b) Memberi pujian atas pencapaian kelompok.
(c) Menganjurkan mendengarkan musik-musik yang baik dan yang

bermakna dalam kehidupan.


(d) Membuat kontrak kembali untuk TAK berikutnya.

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara
satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang
sama.
Sedangkan kelompok terapeutik memberi kesempatan untuk saling bertukar
(Sharing) tujuan, misalnya membantu individu yang berperilaku destruktif dalam
berhubungan dengan orang lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif
untuk membantu merubah perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat
kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
Aktivitas yang digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target
asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung,
saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru
yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.

4.2 Saran
Sebagai perawat haruslah mengetahui tentang terapi aktivitas kelompok
serta dapat mengaplikasikannya dalam praktik keperawatan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Purwaningsih, Wahyu & Karlina Ina. 2010. Asuhan Keperawatan Jiwa.


Jogjakarta:Nuha Medika.
Herawaty, Netty, Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok, FIK Jakarta 1999.
Gail Wiscart Stuart, Sandra J. Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3,

EGC, Jakarta.

21