Anda di halaman 1dari 17

Angkutan Darat

Terminologi yang digunakan dalam penyajian data angkutan darat adalah sebagai berikut :

1. Kendaraan bermotor

adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang ada pada
kendaraan tersebut, biasanya digunakan untuk angkutan orang atau barang diatas
jalan raya selain kendaraan yang berjalan di atas rel. Kendaraan bermotor yang
dicatat adalah semua jenis kendaraan kecuali kendaraan bermotor TNI/Polri dan
Korps Diplomatik.

2. Mobil Penumpang

adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi dengan tempat duduk untuk
sebanyak-banyaknya delapan orang, tidak termasuk tempat duduk untuk
pengemudi, baik dilengkapi atau tidak dilengkapi bagasi.

3. Mobil bis

adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi dengan tempat duduk untuk lebih
dari delapan orang, tidak termasuk tempat duduk untuk pengemudi, baik dilengkapi
atau tidak dilengkapi bagasi.

4. Mobil Truk

adalah setiap kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang, selain
mobil penumpang, mobil bis, dan kendaraan bermotor roda dua.

5. Sepeda Motor

adalah setiap kendaraan bermotor yang beroda dua.

6. Surat Ijin Mengemudi (SIM)


adalah surat yang dikeluarkan oleh kepolisian sebagai tanda kelayakan seseorang
mengendarai suatu kendaraan bermotor. Data yang disajikan terdiri dari surat yang
dikeluarkan pada tahun yang bersangkutan, baik SIM baru, perpanjangan maupun
SIM penggantian akibat hilang atau rusak. SIM dibagi menjadi beberapa jenis yaitu
SIM A, SIM BI, SIM BII dan SIM C.

7. SIM A

adalah surat ijin untuk mengemudikan mobil penumpang, mobi bus, dan mobil
barang yang mempunyai berat tidak lebih dari 3500 kilogram.

8. SIM BI

adalah surat ijin untuk mengemudikan mobil bus dan mobil barang yang mempunyai
berat diatas 3500 kilogram.

9. SIM BII

adalah surat ijin untuk mengemudikan traktor atau kendaraan bermotor dengan
menarik kereta tempelan atau gandengan dengan berat yang diperbolehkan untuk
kereta tempelan atau kereta gandengan lebih dari 1000 kilogram.

10. SIM C

adalah surat ijin untuk mengemudikan sepeda motor yang dirancang mampu
mencapai kecepatan lebih dari 40 kilometer per jam.

11. Jalan

adalah jalan dalam bentuk apapun yang terbuka untuk lalu lintas kendaraan umum.
Data yang disajikan dalam publikasi ini adalah semua jalan di Indonesia baik di
bawah wewenang pemerintah pusat maupun tingkat I dan tingkat II.

12. Kereta api


adalah kendaraan dengan tenaga gerak (listrik, diesel, atau tenaga uap) yang
berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lain, yang akan atau
sedang bergerak diatas rel, terdiri dari kereta penumpang dan kereta barang.

13. Kilometer penumpang

adalah jumlah kilometer dari semua penumpang yang berangkat. Besaran ini
merupakan penjumlahan jarak tujuan masing-masing penumpang.

14. Rata-rata Jarak Perjalanan Per Penumpang

adalah rata-rata yang ditempuh oleh setiap penumpang, atau kilometer penumpang
dibagi dengan jumlah penumpang berangkat.

15. Kilometer Ton

adalah jumlah kilometer semua ton yang diangkut. Besaran ini merupakan hasil
penjumlahan jarak asal tujuan masing-masing dalam ton.

16. Rata-rata Jarak Angkut Barang

adalah rata-rata jarak yang ditempuh oleh setiap ton barang atau jumlah kilometer
ton dibagi dengan ton dimuat.

Angkutan Laut

1. Bongkar/Impor Barang

adalah pembongkaran barang dari kapal, baik barang yang diangkut dari pelabuhan
asal di Indonesia ataupun dari luar negeri.

2. Muat/Ekspor Barang

adalah pemuatan barang ke kapal untuk diangkut ke pelabuhan tujuan di Indonesia


atau ke luar negeri.
3. Pelabuhan

adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-
batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang
dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan
atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran
dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan
antar moda transportasi.

4. Pelabuhan Umum

adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat


umum.

5. Pelabuhan Laut

adalah pelabuhan umum yang menurut kegiatannya melayani kebiatan angkutan


laut.

6. Kantor Administrator Pelabuhan (ADPEL)/Kantor Pelabuhan (KANPEL)

adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,


yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perhubungan
Laut.

7. Pelabuhan yang diusahakan

adalah pelabuhan yang dikelola secara komersial oleh PT (Persero) Pelabuhan


Indonesia, untuk memberikan fasilitas pelayanan yang diperlukan bagi kapal yang
memasuki pelabuhan untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang dan lain-lain.

8. Pelabuhan yang tidak diusahakan

adalah pelabuhan laut yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis/Satuan Kerja
pelabuhan di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Perhubungan yang pembinaan
teknis operasional dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Sedangkan tugas dan fungsinya sama dengan pelabuhan yang diusahakan, tetapi
fasilitas yang dimiliki belum selengkap pelabuhan yang diusahakan.

9. Pelayaran Antar Pulau

adalah perusahaan/usaha yang melakukan kegiatan pelayaran antar pelabuhan di


Indonesia

10. Pelayaran Luar Negeri

adalah perusahaan/usaha yang melakukan kegiatan angkutan laut ke atau dari luar
negeri yang dilakukan secara tetap dan teratur dan atau dengan pelayaran tidak
tetap dan tidak teratur dengan menggunakan semua jenis kapal.

11. Jenis Pelayaran Untuk Yang Tidak Diusahakan atau Pelabuhan Dibawah Naungan
Ditjen Perhubungan Laut

adalah berdasarkan jenis bendera kapal. Bendera Ri didefinisikan sebagai jenis


pelayaran dalam negeri, sedangkan bendera asing didefinisikan sebagai jenis
pelayaran luar negeri.

12. Pelabuhan Strategis

adalah pelabuhan yang dianggap telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern,
diantaranya fasilitas untuk pelayaran angkutan peti kemas, barang curah, barang
umum dan penumpang serta mempunyai kepadatan pergerakan kapal.

13. Kunjungan Kapal

adalah kapal yang datang di pelabuhan baik untuk berlabuh di perairan maupun
bersandar di dermaga.

14. Gross Ton (GT)


adalah volume ruangan kapal dalam m kubik meliputi volume ruangan kapal kecuali
tunnel(terowongan), lubang poros baling-baling, chain locker (tempat jangkar) dan
alas ganda.

15. Penumpang Naik

adalah penumpang yang naik ke kapal untuk berangkat ke pelabuhan tujuan.

16. Penumpang Turun

adalah penumpang yang turun dari kapal yang diangkut dari pelabuhan asal.

Angkutan Udara

1. Jadwal Penerbangan

Penerbangan yang dilakukan secara teratur dengan rute dan jadwal yang tetap.

2. Aircraft-Km

Jumlah jarak penerbangan (Km) selama periode waktu tertentu (satu tahun).

3. Performed Seat-Km

Hasil perkalian antara jumlah tempat duduk yang tersedia dengan jarak penerbangan
(Km) dari tiap-tiap penerbangan selama periode waktu tertentu.

4. Performed Total-Km

Jumlah perkalian berat barang (ton) dengan jarak (Km)dari tiap-tiap penerbangan
selama periode waktu tertentu (satu tahun

Menurut BPS
I. Penduduk Miskin

Konsep :
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan
dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai
ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan
makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang
memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
Panel Modul Konsumsi dan Kor.

II. Garis Kemiskinan (GK)

Konsep:

1. Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan


(GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai
penduduk miskin.

2. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum


makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi
kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian,
ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan
lemak, dll)

3. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk


perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar
non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di
pedesaan.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
Panel Modul Konsumsi dan Kor.

Rumus Penghitungan :
GK = GKM + GKNM

GK = Garis Kemiskinan
GKM = Garis Kemiskinan Makanan
GKNM = Garis Kemiskinan Non Makan

Teknik penghitungan GKM


Tahap pertama adalah menentukan kelompok referensi (reference populaion) yaitu
20 persen penduduk yang berada diatas Garis Kemiskinan Sementara (GKS).
Kelompok referensi ini didefinisikan sebagai penduduk kelas marginal. GKS dihitung
berdasar GK periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari
penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan
Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi
dasar makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan
dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya
Pangan dan Gizi 1978. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan
dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut.
Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah :

Dimana :
GKMj = Gris Kemiskinan Makanan daerah j (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori).
Pjk = Harga komoditi k di daerah j.
Qjk = Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j.
Vjk = Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j.
j = Daerah (perkotaan atau pedesaan)

Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengan mengalikan 2100
terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari penduduk referensi, sehingga :

Dimana :
Kjk = Kalori dari komoditi k di daerah j
HKj = Harga rata-rata kalori di daerah j

Dimana :
Fj = Kebutuhan minimum makanan di daerah j, yaitu yang menghasilkan energi setara
dengan 2100 kilokalori/kapita/hari.

Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan penjumlahan nilai kebutuhan


minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan,
sandang, pendidikan dsan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan
mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan
dengan perubahan pola konsumsi penduduk. Pada periode sebelum tahun 1993
terdiri dari 14 komoditi di perkotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Sejak tahun 1998
terdiri dari 27 sub kelompok (51 jenis komoditi) di perkotaan dan 25 sub kelompok
(47 jenis komoditi) di pedesaan. Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-
kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran
komoditi/sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok
yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil
Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKP 2004), yang dilakukan untuk
mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-
makanan yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul Konsumsi. Nilai kebutuhan
minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :

Dimana:
NFp = Pengeluaran minimun non-makanan atau garis kemiskinan non makanan daerah p
(GKNMp).
Vi = Nilai pengeluaran per komoditi/sub-kelompok non-makanan daerah p (dari Susenas
modul konsumsi).
ri = Rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok non-makanan menurut daerah (hasil SPPKD
2004).
i = Jenis komoditi non-makanan terpilih di daerah p.
p = Daerah (perkotaan atau pedesaan).

III. Persentase Penduduk Miskin

Konsep :
Head Count Index (HCI-P0), adalah persentase penduduk yang berada dibawah Garis
Kemiskinan (GK).

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
Panel Modul Konsumsi dan Kor.

Rumus Penghitungan :

Dimana :
=0
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis
kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.

IV. Indeks Kedalaman Kemiskinan

Konsep :
Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1), merupakan ukuran rata-rata
kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran pesuduk dari garis
kemiskinan.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :

Dimana :
=1
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis
kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.

V. Indeks Keparahan Kemiskinan

Konsep :
Indeks Keparahan Kemiskinan (Proverty Severity Index-P2) memberikan gambaran
mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks,
semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
Panel Modul Konsumsi dan Kor.

Rumus Penghitungan :

Dimana :
=2
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis
kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.

1. Perusahaan Industri Pengolahan

Konsep dan Definisi

Industri Pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan


mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga
menjadi barang jadi/setengah jadi, dan atau barang yang kurang nilainya menjadi
barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekatkepada pemakai akhir.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa industri/makloon dan pekerjaan
perakitan (assembling).
Jasa industri adalah kegiatan industri yang melayani keperluan pihak lain. Pada
kegiatan ini bahan baku disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengolah hanya
melakukan pengolahannya dengan mendapat imbalan sejumlah uang atau barang
sebagai balas jasa (upah makloon), misalnya perusahaan penggilingan padi yang
melakukan kegiatan menggiling padi/gabah petani dengan balas jasa tertentu.

Perusahaan atau usaha industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang
melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, terletak
pada suatu bangunan atau lokasi tertentu, dan mempunyai catatan administrasi
tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seorang atau lebih yang
bertanggung jawab atas usaha tersebut.

Perusahaan Industri Pengolahan dibagi dalam 4 golongan yaitu :

1. Industri Besar (banyaknya tenaga kerja 100 orang atau lebih)

2. Industri Sedang (banyaknya tenaga kerja 20-99 orang)

3. Industri Kecil (banyaknya tenaga kerja 5-19 orang)

4. Industri Rumah Tangga (banyaknya tenaga kerja 1-4 orang)

Penggolongan perusahaan industri pengolahan ini semata-mata hanya didasarkan


kepada banyaknya tenaga kerja yang bekerja, tanpa memperhatikan apakah
perusahaan itu menggunakan mesin tenaga atau tidak, serta tanpa memperhatikan
besarnya modal perusahaan itu.

Klasifikasi Industri

Klasifikasi industri yang digunakan dalam survei industri pengolahan adalah


klasifikasi yang berdasar kepada International Standard Industrial Classification of all
Economic Activities (ISIC) revisi 4 , yang telah disesuaikan dengan kondisi di
Indonesia dengan nama Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) tahun
2009.

Kode baku lapangan usaha suatu perusahaan industri ditentukan berdasarkan


produksi utamanya, yaitu jenis komoditi yang dihasilkan dengan nilai paling besar.
Apabila suatu perusahaan industri menghasilkan 2 jenis komoditi atau lebih dengan
nilai yang sama maka produksi utama adalah komoditi yang dihasilkan dengan
kuantitas terbesar.

Golongan Pokok

1. Makanan

2. Minuman
3. Pengolahan tembakau

4. Tekstil

5. Pakaian jadi

6. Kulit, barang dari kulit dan alas kaki

7. Kayu,barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang
anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya

8. Kertas dan barang dari kertas

9. Pencetakan dan reproduksi media rekaman

10. Produk dari batu bara dan pengilangan minyak bumi

11. Bahan kimia dan barang dari bahan kimia

12. Farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional

13. Karet, barang dari karet dan plastik

14. Barang galian bukan logam

15. Logam dasar

16. Barang logam, bukan mesin dan peralatannya

17. Komputer, barang elektronik dan dan optik

18. Peralatan listrik

19. Mesin dan perlengkapan ytdl

20. Kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer

21. Alat angkutan lainnya

22. Furnitur
23. Pengolahan lainnya

24. Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan

2 Jumlah Tenaga Kerja

Konsep dan Definisi

Jumlah tenaga kerja adalah banyaknya pekerja/karyawan rata-rata perhari kerja baik
pekerja yang dibayar maupun pekerja yang tidak dibayar.

Pekerja Produksi adalah pekerja yang langsung bekerja dalam proses produksi atau
berhubungan dengan itu, termasuk pekerja yang langsung mengawasi proses
produksi, mengoperasikan mesin, mencatat bahan baku yang digunakan dan barang
yang dihasilkan.

Pekerja lainnya adalah pekerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses
produksi, pekerja ini biasanya sebagai pekerja pendukung perusahaan, seperti
manager (bukan produksi), kepala personalia, skretaris, tukang ketik, penjaga
malam, sopir perusahaan, dll.

3 Nilai Tambah

Konsep dan Definisi

Nilai tambah adalah besarnya output dikurangi besarnya nilai input (biaya antara).

Metode Penghitungan:

NTB = Output-Input

4 Produktifitas Tenaga Kerja

Konsep dan Definisi

Produktivitas tenaga kerja adalah kemampuan tenaga kerja dalam menghasilkan


barang produksi.

Metode Penghitungan:
Produktifitas TK = Output / Jumlah tenaga kerja yang dibayar.

Sumber Data : Survei Tahunan Perusahaan Industri Pengolahan Besar dan Sedang

5 Komposisi Biaya Input

Konsep dan Definisi

Input atau biaya antara adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang
terdiri dari biaya:

1. Bahan Baku
Bahan baku adalah semua jenis bahan baku dan bahan penolong yang
digunakan dalam proses produksi dan tidak termasuk: pembungkus,
pengepak, pengikat barang jadi, bahan bakar yang dipakai habis, perabot/
peralatan.

2. Bahan bakar, tenaga listrik dan gas


Bahan bakar yang digunakan selama proses produksi yang berupa: bensin,
solar, minyak tanah, batubara dan lainnya.

3. Sewa gedung, mesin dan alat-alat

4. Jasa non industri


Jasa yang tidak berkaitan dengan proses produksi

Komposisi biaya input adalah persentase dari masing-masing komponen biaya input
terhadap biaya input.

o Komposisi Nilai Output


Konsep dan Definisi

Output adalah nilai keluaran yang dihasilkan dari proses kegiatan industri yang terdiri
dari:

1. Barang yang dihasilkan


Barang barang yang dihasilkan dari proses produksi

2. Tenaga listrik yang dijual


Tenaga listrik yang dibangkitkan sendiri oleh perusahaan dan sebagiannya
dijual kepada pihak lain.

3. Jasa industri yang diterima dari pihak lain


Adalah kegiatan industri yang melayani keperluan pihak lain. Pada kegiatan ini
bahan baku disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengolah hanya
melakukan pengolahannya dengan mendapat imbalan sejumlah uang atau
barang sebagai balas jasa (upah makloon).

4. Selisih nilai stok barang setengah jadi


Selisih nilai stok barang setengah jadi akhir tahun dikurangi dengan stok awal
tahun.

5. Penerimaan lain dari jasa non industri


Komposisi nilai output adalah persentase dari masing-masing komponen nilai
output terhadap nilai output.

o Sumber Data

1. Survei Tahunan Perusahaan Industri Pengolahan Besar dan Sedang

2. Survei Industri Mikro dan Kecil


erikanan

1. Kapal Perikanan
Kapal nelayan adalah kapal yang secara langsung pasti digunakan dalam kegiatan
memancing ikan/hewan laut lainnya/tumbuhan laut. Seluruh kapal yang digunakan
termasuk kedalamnya. Kapal pengangkut yang khusus digunakan hanya untuk
mengangkut tidak termasuk didalamnya. Perahu yang digunakan untuk membawa
nelayan, peralatan penangkapan ikan, ikan, dan lain-lain. Dalam perikanan
menggunakan alat-alat penangkapan seperti bagan, sero, dan kelong.

2. Produksi Perikanan
Nilai Produksi Perikanan diyatakan dalam berat hidup ikan pada saat baru dipancing.
misalnya the "round fresh", "round whole" or ex water weight equivalent of the
quantities recorded at the time of landing.

3. Fishing operator s
Rumah tangga nelayan adalah rumah tangga yang melakukan aktivitas memancing
atau menjaring ikan-ikan/hewan laut lainnya/tanaman-tanaman laut. Usaha ini selalu
dilakukan baik oleh anggota keluarga atau nelayan yang dipekerjakan.

4. Pemancingan Ikan
Pemancingan Ikan adalah Aktivitas rumah tangga untuk memperoleh ikan tambak,
sungai budidaya kolam ikan, saluran sungai, rawa, danau atau laut, dan sebagainya.
Dengan maksud untuk dijual atau untuk menambah penghasilan.

5. Penangkapan Ikan
Manangkap ikan adalah aktivitas rumahtangga memperoleh ikan. Di laut, sungai,
atau perairan umum lainnya untuk dijual atau menambah pendapatan.

Hewan Ternak

6. Rumah Potong Hewan (RPH)


Ruamah Potong Hewan (RPH) adalah semua pemotongan hewan atau ternak yang
mempunyai bangunan permanen atau semi permanen yang khusus digunakan untuk
tempat pemotongan hewan/ternak yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai
Rumah Potong Hewan.

7. Penjagal Hewan/Keurmaster
Penjagal hewan adalah petugas (biasanya pegawai Dinas Peternakan atau Pemda
setempat)yang diberi wewenang untuk memeriksa kesehatan ternak sebelum
dipotong (ante mortem), memeriksa daging ternak setelah dipotong apakah cukup
layak untuk dikonsumsi (post mortem),memungut retribusi, pajak potong dan
sebagainya.