Anda di halaman 1dari 11

Laporan Kasus

HIPOPION
Oleh :

ROMA ULINA SIAHAAN


211210233

Pembimbing :

dr. DASRIL , Sp. M

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
RSUD dr. DJASAMEN SARAGIH PEMATANGSIANTAR
2017

KATA PENGANTAR
Puji dan rasa syukur yang besar saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dan terimakasih kepada
dr. Dasril , Sp.M selaku pembimbing saya yang memberi kesempatan bagi saya
menyelesaikan makalah ini guna memenuhi persyaratan penilaian Kepaniteraan Klinik Senior
Bagian Ilmu Penyakit Mata di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar. Adapun judul
makalah ini HIPOPION
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya selaku penyaji bahan juga menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna,
sehingga dengan senang hati saya akan menerima segala bentuk kritik dan saran yang
membangun. Demikian tulisan ini saya sajikan, Atas kritik dan sarannya saya ucapkan
terimakasih.

\ Pematangsiantar, Maret 2017


Penulis

Roma Ulina Siahaan

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................. i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 2


1 Definisi ................................................................................................. 2
2 Etiologi.................................................................................................. 2
3 Faktor resiko......................................................................................... 3
4 patofisiologi.......................................................................................... 4
5 presentasi klinis..................................................................................... 5
6 Diagnosa .............................................................................................. 5
7 Diagnosa banding.................................................................................. 6
8 Komplikasi klinis.................................................................................. 6
9 Penatalaksanaan ................................................................................... 7
10 Prognosa ...............................................................................................

BAB III LAPORAN KASUS......................................................................................... 8

BAB IV KESIMPULAN............................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 1

BAB I
PENDAHULUAN
Bilik mata depan adalah ruang yang terdapat antara kornea dan iris. Sedangkan bilik
mata belakang adalah ruang yang lebih kecil yang terdapat diantara iris dan lensa. Kedua
ruangan ini diisi oleh cairan aqueous. Berbagai perubahan yang terjadi pada mata dapat
menyebabkan perubahan dari cairan aqueous dan bilik mata depan. Karena itu gambaran
klinis pada bilik mata depan dapat membantu dalam menegakan diagnosa penyakit, juga
dalam memantau respons pasien terhadap terapi.
Reaksi inflamasi iris dan badan siliar akan memberikan gambaran Anterior chamber
cell and flare di bilik mata depan. Diartikan sebagai kumpulan sel dan peningkatan protein
(flare) di aqueous humor. Kumpulan sel biasanya terdiri dari sel darah putih, disebut juga
hipopion. Kadang bisa juga terdiri dari sel darah merah, disebut sebagai hifema. Kumpulan
sel ini akan mengendap di bagian inferior, membentuk lapisan yang dapat terlihat di bilik
mata depan.
Sel darah di bilik mata depan merupakan hasil pelepasan sel darah akibat dilatasi
pembuluh darah di iris dan badan siliar. Adanya sel di bilik mata depan memberikan
gambaran penyakit yang onsetnya akut. Sedangkan flare adalah akumulasi dari protein di
bilik mata depan. Dapat menetap, bahkan setelah sel darah tidak ditemukan lagi. Mungkin
disebabkan karena adanya kebocoran persisten dari blood-aqueous barrier. Karena itu,
presentasi flare sendiri tidak bisa dijadikan pegangan sebagai gejala inflamasi yang masih
aktif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
2. 1 Definisi
Hipopion didefinisikan sebagai pus steril yang terdapat pada bilik mata depan.
Hipopion dapat terlihat sebagai lapisan putih yang mengendap di bagian bawah bilik mata
depan karena adanya gravitasi. Komposisi dari pus biasanya steril, hanya terdiri dari lekosit
tanpa adanya mikroorganisme patogen, seperti bakteri, jamur maupun virus, karena hipopion
adalah reaksi inflamasi terhadap toxin dari mikroorganisme patogen, dan bukan
mikroorganisme itu sendiri.

2. 2 Etiologi
Hipopion merupakan reaksi inflamasi di bilik mata depan. Karena itu semua penyakit
yang berhubungan dengan uveitis anterior dapat menyebabkan terjadinya hipopion.
Hipopion dapat timbul setelah operasi atau trauma disebabkan karena adalanya
infeksi. Misalnya pada keratitis. Bakteria, jamur, amoba maupun herpes simplex dapat
menyebabkan terjadinya hipopion. Bakteri patogen yang umumnya ditemukan adalah
Streptococcus dan Staphylococcus. Hipopion karena infeksi jamur jarang ditemukan.

Beberapa keadaan yang dapat memberikan gambaran hipopion, diantaranya:


- Ulkus Kornea. Apabila terjadi peradangan hebat tapi belum terjadi perforasi dari
ulkus, maka toksin dari peradangan kornea dapat sampai ke iris dan badan siliar,
dengan melalui membran Descemet, endotel kornea ke cairan bilik mata depan.
Dengan demikian iris dan badan siliar mengalami peradangan dan timbulah
kekeruhan di cairan bilik mata depan disusul dengan terbentuknya hipopion.
- Uveitis Anterior. Peradangan dari iris dan badan siliar. menyebabkan penurunan
permeabilitas dari blood-aqueous barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin
dan sel radang dalam cairan aqueous.
- Rifabutin. Merupakan terapi profilaksis untuk Mycobacterium avium complex pada
penderita dengan HIV. Uveitis merupakan efek samping yang dapat terjadi pada
pemakaian Rifabutin.
- Trauma. Corpus alienum, toxic lens syndrome, post operasi.

2. 3 Faktor resiko
Faktor resiko terjadinya hipopion antara lain :
Pembedahan pada mata yang melibatkan manipulasi pada segmen anterior mata.
Misalnya pada LASIK (Laseer In Situ Keratomileusis), dan operasi ekstraksi lensa
dengan pemasangan IOL pada katarak.
Pengguanaan bandage contact lens pascabedah
Riwayat trauma

2. 4 Patofisiologi
Bangunan yang berhubungan dengan hipopion adalah iris dan badan siliar. Radang
iris dan badan siliar menyebabkan penurunan permeabilitas dari blood-aqueous barrier
sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel radang dalam cairan aqueous, sehingga
memberikan gambaran hipopion.
Adanya pus di bilik mata depan biasanya memberikan gambaran lapisan putih.
Hipopion yang berwarna kehijauan biasanya disebabkan oleh infeksi Pseudomonas.
Sedangkan hipopion yang berwarna kekuningan bisanya disebabkan oleh jamur.
Karena pus bersifat lebih berat dari cairan aqueous, maka pus akan mengendap di
bagian bawah bilik mata depan. Kuantitas dari hipopion biasanya berhubungan dengan
virulensi dari organisme penyebab dan daya tahan dari jaringan yang terinfeksi. Beberapa
organisme menghasilkan pus lebih banyak dan lebih cepat. Diantaranya Pneumokokus,
Pseudomonas, Streptokokus pyogenes dan Gonokokus.
Hipopion pada ulkus fungal biasanya dapat terinfeksi karena jamur dapat menembus
membran Descemet. Bakteri memproduksi hipopion lebih cepat dari jamur sedangkan infeksi

1
virus tidak menyebabkan hipopion. Apabila ditemukan hipopion pada infeksi virus, biasanya
disebabkan adanya infeksi sekunder oleh bakteri.

2. 5 Presentasi Klinis
Gejala subyektif yang biasanya menyertai hipopion adalah rasa sakit, iritasi, gatal dan
fotofobia pada mata yang terinfeksi. Beberapa mengalami penurunan visus atau lapang
pandang, tergantung dari beratnya penyakit utama yang diderita.
Gejala obyektif biasanya ditemukan aqueous cell and flare, eksudat fibrinous, sinekia
posterior dan keratitis presipitat.

2. 6 Diagnosa
Diagnosis hipopion ditegakan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
menggunakan slit lamp. Pada anamnesa, ditanyakan adanya riwayat infeksi,
pemakaian lensa kontak, trauma, pemakaian obat serta riwayat operasi. Pada pemeriksaan
dengan slit lamp, ditemukan lapisan berwarna putih yang bersifat opaque pada bagian inferior
dari bilik mata depan. Jarang sekali hipopion ini ditemukan pada bagian lain dari bilik mata
depan.
Aspirasi jarum pada bilik mata depan oleh oftalmologis dapat dibutuuhkan untuk
mengidentifikasi organisme penyebab pada infeksi yang resisten. Hipopion biasanya dinilai
berdasarkan tingginya, diukur dari dasar bilik mata depan dengan satuan milimeter.
Atau bisa juga dengan hitungan kasar, misalnya. ringan, moderat, setengah bilik mata
depan dan seluruh mata depan.
Anamnesis
Gejala subyektif yang biasanya menyertai hipopion adalah rasa sakit, iritasi, gatal dan
fotofobia pada mata yang terkena. Ada juga pasien yang mengalami penurunan ketajman
penglihatan, fotofobia, dan penyempitan lapang pandang. Keluhan bergantung pada
parahnya penyakit yang mendasari. Kelopak mata dapat bengkak dan terdapat
kemosis pada infeksi yang berat.

Pemeriksaan

Gejala obyektif biasanya ditemukan aqueous cell and flare, eksudat fibrinous,
sinekia posterior dan keratitis presipitat. Pada pemeriksaan dengan slit lamp, ditemukan
lapisan bewarna putih pada bagian inferior dari bilik mata depan. Hipopion biasanya
dinilai berdasarkan tingginya, diukur dari dasar bilik mata depan dengan satuan
millimeter, warna, keutuhan kornea, posisi, dan kekentalannya. Atau dapat juga dengan
hitungan kasar, misalnya ringan, moderat, setengah bilik mata depan dan seluruh mata
depan. Menurut posisi, hipopion dapat muncul sebagai inverse hypopyon.

Cara terbaik untuk menilai hipopion adalah dengan terlebih dahulu meminta pasien
duduk beberapa saat supaya hipopion dapat mengendap sempurna. Selanjutnya pasien
diminta melihat ke bawah dan sinar diarahkan dari bagian atas-depan iris.

Hipopion dapat timbul sebagai manifestasi klinis dari TASS yang terdiri dari
tanda dan gejala:
Penurunan tajam penglihatan
Edema kornea
Pupil fixed

2. 7 Diagnosa Banding
Hipopion harus dibedakan dari7:
Pseudohipopion yang ditemukan pada retinoblastoma, injeksi steroid okular dan ghost
cell glaucoma. Pseudohipopion termasuk dalam kelompok sindrom masquerade.
Untuk membedakan harus dilakukan pemeriksaan dengan pupil yang telah dilebarkan
dengan midriatik. Sindrom Masquerade disebabkan oleh iridoskisis, atrofi iris
esensial, limfoma maligna, leukemi, sarkoma sel retikulum, retinoblastoma,
pseudoeksfoliatif dan tumor metastasis.

Pseudohipopion dan infiltrasi tumor di iris


Gambar diambil dari http://www.sarawakeyecare.com/Atlasofophthalmology

1
Ghost Cell Glaucoma merupakan glaukoma sekunder sudut terbuka dimana
trabecular meshwork mengalami obstruksi oleh sel darah merah yang terdegenerasi,
disebut ghost cells. Biasanya didahului oleh trauma.

Metastasis ke bilik mata depan, misalnya dari leukemia dan Ca mammae.

2. 8 Komplikasi Klinis
Komplikasi hipopion dapat berupa endoftalmitis kronik dan kehilangan
penglihatan secara permanen. Selain itu struktur dari hipopion yang mengandung fibrin,
merupakan reaksi tubuh terhada inflamasi. Tetapi fibrin-fibrin ini dapat
menyebabkan terjadinya perlengketan antara iris dan lensa (sinekia posterior).
Bila seluruh pinggir iris melekat pada lensa disebut seklusio pupil, sehingga cairan
dari cop tidak dapat melalui pupil untuk masuk ke coa, iris terdorong ke depan, disebut iris
bombe dan menyebabkan sudut coa sempit sehingga timbul glaukoma sekunder. Peradangan
di badan silier dapat juga menyebabkan kekeruhan dalam badan kaca oleh sel-sel radang,
yang tampak sebagai kekeruhan seperti debu.
Peradangan ini menyebabkan metabolisme lensa terganggu dan dapat menimbulkan
kekeruhan lensa, hingga terjadi katarak. Pada kasus yang sudah lanjut, kekeruhan badan kaca
pun mengalami jaringan organisasi dan tampak sebagai membrana yang terdiri dari jaringan
ikat denganneovaskularisasi yang berasal dari sistem retina, disebut retinitis proliferans.
Bila membrane ini mengkerut, dapat menarik retina sehingga robek dan cairan badan
kaca masuk kedalam celah retina potensial melalui robekan tersebut sehingga
mengakibatkan ablasi retina. Bila membrana ini mengkerut, dapat menarik retina sehingga
robek dan cairan badan kaca melalui robekan itu masuk ke dalam celah retina
potensial dan mengakibatkan ablasi retina.

2. 9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipopion tergantung dari ringan atau beratnya penyakit. Sel darah
putih biasanya akan di reabsorpsi. Tetapi bila hipopion memberikan gambaran yang berat,
maka bisa dilakukan drainase.
Terapi yang lebih spesifik biasanya tergantung dari penyakit utama yang
menyebabkan hipopion. Apabila terjadi inflamasi, dapat diberikan kortikosteroid.
Anti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan dosis sebagai berikut:
Dewasa : Topikal dengan dexamethasone 0,1 % atau prednisolone 1 %.
Bila radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler :
- dexamethasone phosphate 4 mg (1 ml)
- prednisolone succinate 25 mg (1 ml)
- triamcinolone acetonide 4 mg (1 ml)
- methylprednisolone acetate 20 mg
Cycloplegic dapat diberikan dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dengan
memobilisasi iris, mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa anterior ( sinekia
posterior ), yang akan mengarahkan terjadinya iris bombe dan peningkatan tekanan
intraocular, menstabilkan blood-aqueous barrier dan mencegah terjadinya protein leakage
(flare) yang lebih jauh. Agent cycloplegics yang biasa dipergunakan adalah atropine 0,5%,
1%, 2%, homatropine 2%, 5%, Scopolamine 0,25%, dan cyclopentolate 0,5%, 1%, dan 2%.

2. 10 Prognosa
Hipopion adalah gejala klinis yang muncul sebagai respon inflamasi. Sel darah putih
akan diabsorpsi sepenuhnya. Tetapi prognosis tergantung dari penyakit dan komplikasi yang
dapat terjadi.

BAB 3. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:

Hipopion didefinisikan sebagai pus steril yang terdapat pada bilik mata depan yang
terlihat sebagai lapisan putih yang mengendap di bagian bawah bilik mata depan.
Hipopion merupakan reaksi inflamasi di bilik mata depan. Karena itu semua penyakit
yang berhubungan dengan uveitis anterior dapat menyebabkan terjadinya
hipopion.
Etilogi hipopion merupakan proses inflamasi baik karena trauma, bedah,
penyakit infeksi lain yang ,mendasari baik lokal seperti keratitis, ulkus kornea,

1
uveitis, dan endoftalmitis maupun infeksi sistemik, serta agen toksik non infeksi dan
penyakit non infksi lain seperti sindrom behcet.
Faktor resiko timbulnya hipopion antara lain riwayat infeksi mata, riwayat trauma dan
pembedahan.
Diagnosis Hipopion ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
menggunakan slit lamp, serta pemeriksaan penunjang lain terkait penyakit lain yang
mendasari terjadinya hipopion.
Diagnosis banding hipopion berupa pseudohipopion (merupakan tanda keganasan),
Ghost Cell Glaucoma, metastase.
Penatalaksanaan hipopion biasanya tergantung dari jenis dan derajat penyakit yang
mendasarinya.
Komplikasi hipopion dapa berupa endoftalmitis kronik dan kehilangan
penglihatan secara permanen. Apabila berkelanjutan, hipopion dapat
menyebabkan komplikasi berupa glaukoma sekunder, katarak, retinitis
proliferans dan pada kasus yang berat dapat menyebabkan ablasi retina.
Prognosa dari hipopion bergantung pada proses yang mendasari dan
komplikasi-komplasi yang sudah muncul dari penyakit yang menjadi keluhan utama

dapa kehilangan
endoftalmitis
dan berupa kronik