Anda di halaman 1dari 11

1.

Analisis Unsur Intrinsik


a. Tokoh dan penokohan

Tokoh :

Pelukis, istri pelukis, opseter pekuburan kotapraja, walikota kotapraja, wakil


walikota kotapraja, perdana menteri kotapraja, kepala dinas pekerjaan umum
kotapraja, mandor dan pegawai pekuburan kotapraja, maha guru opseter, ayah
opseter, brigadier polisi, nona tua, centeng pekuburan, masyarakat, penjaga
pekuburan, wanita bangsa asing, turis dan wartawan.

Penokohan :
1. Pelukis : protagonis (tokoh utama)
Ketika pelukis ditinggal mati oleh istrinya, dia berubah menjadi orang
yang pemabuk, dan bertingkah seperti orang gila berteriak-teriak
memanggil nama istrinya. Namun pada sebelumnya, dia adalah seorang
pelukis yang terkenal, digemari oleh banyak orang, baik, penyayang dan
penyabar.
2. Istri pelukis : protagonis (tokoh pendamping)
Setia, penyayang, patuh dan berbakti kepada suaminya.
3. Opseter perkuburan kotapraja : antagonis (tokoh pendamping)
Opseter pekuburan kotapraja adalah putra satu-satunya dari hartawan
terkaya diseluruh negara. Orangnya pintar, cerdas, berpendidikan, berfikir
secara berdisiplin dan kritis, pembangkang dan suka membuat hidup hidup
orang sengsara.
4. Walikota kotapraja : tritagonis (tokoh pembantu)
Walikota adalah seorang pemimpin yang tegas, keras, berbicara kasar,
angkuh dan egois.
5. Wakil walikota kotapraja (tokoh pembantu)
Baik, tidak egois, berperasaan lemah dan ikhlas.
6. Perdana menteri kotapraja (tokoh pembantu)
Patuh, penurut terhadap atasannya/walikota.
7. Kepala dinas pekejaan umum kotapraja (tokoh pembantu)
Patuh, penurut terhadap peraturan dan atasannya/walikota.
8. Mandor dan pegawai pekuburan kotapraja (tokoh pembantu)
Kasar dalam berbicara, patuh dan penurut terhadap atasannya.
9. Maha guru opseter (tokoh pembantu)
Maha guru opseter adalah seorang maha guru di sebuah universitas ilmu
filsafat. Orangnya sombong dan angkuh.
10. Ayah opseter (tokoh pembantu)
Ayah opseter adalah seorang hartawan terkaya diseluruh negara. Orangnya
sombong, angkuh dan penyayang.
11. Brigadir polisi (tokoh pembantu)
Baik hati, dan berpikir secara kritis
12. Nona tua (tokoh pembantu)
Nona tua adalah seorang ibu dari istri pelukis yang telah lama
ditinggalkannya di panti asuhan sejak ia masih kecil (mertua pelukis).
Orangnya tegar, penyabar dan penyayang.
13. Centeng pekuburan (tokoh pembantu)
Centeng pekuburan adalah seorang mantan maha guru opseter pekuburan
di universitas filsafat. Orangnya baik dan suka bercanda.
14. Masyarakat (tokoh figuran)
15. Penjaga pekuburan (tokoh figuran)
16. Wanita bangsa asing (tokoh figuran)
17. Turis (tokoh figuran)
18. Wartawan (tokoh figuran)

b. Latar tempat, waktu, sosial, dan suasana

Tempat :

1. Tikungan : disalah satu tikungan (p1, b2, hal


1)
2. Rumah kecil : ke satu kamar kecil, di satu rumah
kecil, di pinggir kota kecil (p3, b6, hal 1)
3. Kakilima jalan raya : Dia lari tunggang-langgang ke
kakilima jalan raya (p5, b4, hal 1)
4. Jalan : Selesai mandi dan berpakaian, dia
lari ke jalan (p2, b1, hal 2)
5. Tempat menyewa kamar : Ketika sampai di depan rumah
tempat dia menyewa kamar (p5, b1, hal 2)
6. Kedai arak : Kemudian dia lari sekencang-
kencangnya ke kedai arak (p5, b37, hal 2)
7. Di ujung jalan : Hanya seekor anjing kurus dan
kotor di ujung jalan (p3, b3, hal 3)
8. Kota : membuat seolah dia jauh sekali
dari kota di mana dia kini ada (p4, b3, hal 3)
9. Di kedai : Mencuci piring di kedai (p2, b13,
hal 5)
10. Di sebelah tokoh : Dia duduk di sebelah tokoh kita
(p1, b6, hal 8)
11. Di pekuburan : Dia tentulah tahu istrinyanya
dikubur di perkuburan (b19, hal 9)
12. Di kompleks perkuburan : Opseter lari girang pulang ke
ruamhnya di kompleks perkuburan (p3, b2, hal 10)
13. Di rumah dinas opseter : dan jendela rumah dinasnya (p1,
b3, hal 11)
14. Ruang sidang : dan jendela-jendela ruang sidang
(p2, b9, hal 12)
15. Di alun-alun : Orang-orang di alun-alun ikut
berteriak (p3, b1, hal 19)
16. Di pintu gerbang perkuburan : di ruang kamar tunggu di pintu
gerbang perkuburan (b7, hal 28)
17. Di mesjid dan gereja : Bahkan khotbah di mesjid-mesjid
dan dan gereja-gereja (b11, hal 36)
18. Warung kopi : maupun dalam obrolan-obrolan
warung kopi biasa (b4, hal 37)
19. Kantor dan pabrik : Kantor-kantor dan pabrik-pabrik
menjadi sunyi (p1, b7, hal 37)
20. Kotapraja : Segera laporan ini diteruskan oleh
opseter ke kotapraja (p2, b1, hal 48)
21. Di jembatan : kita di jembatan sana tadi? (p1,
b10, hal 59)
22. Di garis finish : khalayak ramai di garis finish
marathon tadi (p1, b15, hal 59)
23. Studio : Ketika petangnya dia kembali ke
studionya (p4, b1, hal 68)
24. Hotel dan losmen : dia diam di hotel-hotel dan di
losmen-losmen (b1, hal 70)
25. Di atas aspal : dan gelisah di atas aspal kering
(p4, b3, hal 72)
26. Balaikota : Mari saya kawani Saudara-saudara
berdua ke balaikota (p1, b2, hal 74)
27. Kantor polisi : apakah lantas dia dapat digiring ke
kantor polisi (p6, b7, hal 74)
28. Gubuk : Setelah istrinya direbahkannya
dalam gubuk itu (p5, b4, hal 77)
29. Rumah dinas walikota : yang membawanya segera ke
rumah dinas walikota (p5, b6, hal 86)
30. Dalam bilik : mengunci dirinya dalam biliknya
(p3, b4, hal 87)
31. Di perpustakaan : Inilah acara satu-satunya istrinya
sehari itu, di perpustakaan (p5, b4, hal 88)
32. Di gubuk tepi pantai : ke gubuk yang masih utuh di
pantai (p9, b2, hal 89)
33. Pantai : pergi mengipas-ngipas mukanya
ke pantai (p4, b7, hal 93)
34. Di lembah : Dan seperti bebek-bebek di
lembah (p3, b2, hal 94)
35. Kantor cacatan sipil : Di kantor cacatan sipil dulu (p9,
b3, hal 96)
36. Di panggung : pada lampu sorot di panggung
(p1, b4, hal 99)

Waktu :
1. Pagi hari
Juga pagi itu dia bangun (p1, b1, hal 1)
Paginya dia selalu gmbira (p2, b1, hal 1)
di ufuk tiap pagi membawa ingatan putih baginya (p4, b4, hal 1)
saya minum arak sepagi hari (p9, b6, hal 7)
2. Tengah hari
persis tengah hari mereka berpisahan (p4, b22, hal 10)
3. Sore hari
menjelang benamnya matahari, dia berhenti kerja (p3, b10, hal 11)
4. Malam hari
Begitu malam jatuh, perutnya dituangnya arak penuh-penuh (p3, b1, hal
1)
menghidupi detik-detik selanjutnya dari malam yang sisa (p3, b8, hal 1)
Malam-malamnya seperti ini (p4, b1, hal 1)
Malamnya, dia menyuruh penjaga perkuburan (p1, b1, hal 2)
malam itu dia ada melihat matahari sepanjang malam (p4, b4, hal 2)
Sosial :

Suasana :
1. Gembira
menggeger suatu tawa gempita dari atas tembok (p2, b2, hal 15)
2. Sunyi
sunyi senyap dipekuburan itu (p10, b36, hal 113)
3. Ramai
ke tengah orang ramai itu
4. Panik
hadirin geger (p1, b1, hal 38)
5. Gelisah
dia mulai gelisah
6. Hening
sesudah itu hening, sehening-heningnya (p3, b10, hal 3)
7. Sedih
demi satu titik membasah di matanya (p10, b37, hal 123,124)

c. Alur
Alur dalam novel ini sedikit membingungkan pembaca, karena
pengarang menggunakan alur Flash Back. Diawal cerita, diceritakan sang
pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian
belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis
dengan istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-
saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja tetapi
pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan
opseter sebelum menjadi opseter.

d. Gaya Bahasa
Bahasa dalam novel ini sangat penuh dengan ungkapan-ungkapan dan
majas-majas sehingga menimbulkan keindahan bahasa. Selain itu, banyak
pula terdapat istilah-istilah filsafat di dalamnya sehingga semakin
menambah kememikatan terhadap novel Ziarah ini sastra karena penuh
dengan ungkapan dan majas-majas.
a) Ungkapan-ungkapan ataupun konotasi :
1. Pada kedua matanya yang redup, Zenith bertemu Nadir. (26)
2. Hanya untuk mempersaksikan sepasang merpati yang sedang asyik di
atas aspal panas itu. (73)
3. Yang mulia ini bersama staf ahli-ahlinya juga cuma dapat garuk garuk
kepala saja. (35)
4. Fraksi-fraksi pro dan kontra sama-sama tarik urat lehernya. (35)
seolah udara kutub menghembus masuk ke dalam tubuhnya melalui
rongga mulutnya. (46)
b) Majas Personifikasi
1. Rasa riang mendaki dalam dirinya. (2)
2. Dia, Opseter berpikiran setan (9)
3. praktek-praktek menjilat atasannya (20)
4. mereka terbang ke pintu gerbang. (28)
c) Majas Hiperbola
1. Tuan adalah nabi seni lukis masa datang. (69)
d) Filsafat karena terdapat beberapa istilah filsafat di dalamnya.
1. Kebenaran dari jenis subtil, yakni: yang memperhitungkan apa yang
disebut nuans. Ya! Nuanslah yang terlalu sedikit sekali diperkirakan
dalam undang-undang dasar tiap-tiap Negara. Dan kini, demi nuans
itu, dia harus membangkang. (17)
2. Yes, truly; for, look you, the sins of the father are to be laid upon the
children; therefore, I promise ye, I fear you. I was always plain with
you, and so now I speak my agitation of the matter; therefore be of
good cheer, for truly I think you are damnd. The is but one hope in it
that can do you any good; and that is but a kind of bastard hope
neither. (38)

e. Tema
Tema pada novel Ziarah ini adalah memberitahukan tentang
kehidupan dan realitas dunia yang tidak memiliki dalamnya sebuah
kepastian, selalu terjadi sebuah peristiwa kematian. Sesungguhnya manusia
dapat menggenggam kebebasan dalam kedua tangannya sendiri, dan
membentuk kebebasan yang dimilikinya menurut kehendaknya sendiri.
Manusia dihadapkan pada sebuah kematian, dihadapkan pada batas akhir
hidup, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang harus dijalani,
sebagaimana kelahirannya sendiri.

f. Amanat
1. Jangan suka menambah penderitaan orang lain, karena itu akan
menambah penderitaanmu.
2. Kesedihan tidak harus selalu ditangisi terus-menerus, akan tetapi
kesedihan haruslah diawali dengan kebahagiaan.
3. Jangan sewenang-wenang menyalahkan seseorang, tanpa adanya bukti
yang pasti.
4. Jalanilah kehidupan ini dengan kesederhanaan jiwa, jangan hanya
memikirkan diri sendiri, sebab itu akan merendahkan harkat dan
martabatmu.

g. Aliran karya sastra


Aliran karya sastra ini menggunakan aliran eksistensialisme adalah
aliran di dalam filsafat yang muncul dari rasa ketidak puasan terhadap
dikotomi aliran idealism dan aliran materialism dalam memaknai kehidupan
ini. Aliran idealisme yang hanya mementingkan ide sebagai sumber
kebenaran kehidupandan materialism yang menganggap materi sebagai
sumber kebenaran kehidupan, mengabaikan manusia sebagai makhluk hidup
yang mempunyai keberadaan sendiri yang tidak sama dengan makhluk
lainnya. Idealism melihat manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai
kesadaran, sedangkan materialisme melihat manusia hanya sebagai objek.
Materialisme lupa bahwa sesuatu di dunia ini disebut objek karena adanya
subjek. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua pemikiran
yang di anggap ekstream itu yang berpikiran bahwa manusia di samping ia
sebagai subjek ia pun juga sekaligus sebagai objek dalam kehidupan ini.
(Ahmad Tafsir,1994 hal 193).

2. Analisi Unsur Ekstrinsik


a. Iwan Simatupang dilahirkan di Silbolga 18 Januari 1928, meninggal di
Jakarta 4 Agustus 1970. Nama lengkapnya Iwan Martua Lokot Dongan
Simatupang. Mendapat pendidikan HBS di Medan, sekolah dokter di
Surabaya (tidak selesai), lalu belajar antropologi dan filsafat di RIJK
Universiteit Leiden, dan Paris. Dikenal sebagai wartawan dan sastrawan.
Sebagai penulis ia sudah memulainya pada tahun 1952 di Majalah Siasat
dan Mimbar Indonesia. Terkenal karena 2 novelnya Merahnya Merah
(1968) dan Ziarah (1970). Ia juga menulis drama, antara lain Cactus dan
Kemerdekaan dan Petang di Taman. Dua novelnya yang lain Kering
(1972) dan Koong (1975), terbit setelah ia meninggal. Merahnya Merah
mendapat hadiah nasional 1970, dan Ziarah dalam terjemahan bahasa
Inggris mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977.

b. Angkatan 66.

c. Di zaman revolusi, Iwan selalu aktif selaku tentara pelajar dan ikut
berjuang di garis depan. Iwan pernah jadi guru, wartawan, pengarang
cerpen serta puisi, tidak hanya menulis esai, drama serta novel. Karena
lebih tertarik pada karang-mengarang, Iwan berhenti jadi guru. Dia terus
mengarang dan menjadi wartawan. Sebagai wartawan Iwan menulis
banyak sketsa perihal orang-orang tersisih terpinggirkan. Iwan
memperoleh hadiah penghargaan untuk narasi pendeknye dalam Erwin
Gastilla di Filipina, serta hadiah untuk karya nonfiksi dari Mrs. Judi Lee
dari Singapura. Sejak meninggal, buku-buku Iwan mendapat perhatian
khusus kalangan seniman, khususnya sastrawan. Tahun 1970 nama Iwan
Simatupang menjulang dalam dunia sastra Indonesia, karena pengarang ini
memelopori cara baru dalam penulisan prosa di Indonesia.

d. Karya sastra Iwan Simatupang tahun 1960, Ziarah, merupakan karya


sastra yang menarik dan berbeda dibandingkan dengan karya sastra
Indonesia lainnya. Ziarah banyak mendapat kritik dari para pakar sastra
karena isi ceritanya melibatkan budaya Barat dan menganggap Iwan
Simatupang sebagai pengarang borjuis. Dalam penerbitannya, Ziarah
mengalami kesulitan hingga akhirnya Ziarah dapat diterbitkan pada tahun
1969 berkat surat rekomendasi yang dikirim oleh HB. Jassin dan Bangun
Siagian ke penerbit. Permasalahan dalam penelitian ini adalah di mana
letak daya tarik karya Iwan Simatupang dalam Ziarah dan pengetahuan
apa yang harus dimiliki oleh pembacanya agar mereka dapat memahami
karyanya. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan makna Ziarah. Makna
Ziarah dapat diketahui dengan menelusuri komunikasi antar budaya yang
terdapat dalam karyanya berdasarkan landasan pemikiran.

e. Iwan Simatupang menunjukkan tren baru dan membawa udara baru bagi
dunia sastra, dengan memperlihatkan corak yang unik dengan pemikiran
yang bernas dan orisinal. Iwan Simatupang gagal menjadi dokter dan tidak
jadi rahib juga, walaupun dia pintar dan jenius, itu menjadi inspirasi dan
dituangkan ke novel Merahnya Merah.

3. Ringkasan dari karya sastra

Di sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis


terkenal di seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan
trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dia kawini
dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri
karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang
mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena
kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika
terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis
langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis di atas jalan raya. Hal
ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa
mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
Pelukis merasa benar-benar kehilangan terutama saat dia tahu bahwa
istrinya mati, pelukis pun langsung pergi ke kantor sipil guna mengurusi
penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan.
Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah
kecintaannya pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak
memiliki surat penguburan yang sah. Pelukis pun menghilang ketika dicari
walikota (diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena
tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu
asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis.
Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan
dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan. Sampai
penguburan usai, sang pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya, dia
melihat wanita tua kecil yang ternyata adalah ibu kandung dari istrinya. Bercerita
panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan
dengan anaknya yang justru membuat dilema bagi si anak. Dan sesaat kemudian
pelukis memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membuang
bunga-bunga tersebut ke laut kemudian membakar gubuknya sampai habis.
Beberapa bunga yang masih tersisa ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan
karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah. Ia seolah tak pernah
percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu
istrinya di tikungan entah tikungan mana dan malam harinya di tuangkan arak ke
perutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya, menangis dan
kemudian tertawa keras-keras. Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang
meminta dia mengapur tembok perkuburan Kotapraja yang sebelumnya telah
berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur
tembok perkuburan Kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan
opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini
membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri
geger. Hingga walikota akan memberhentikan opseter perkuburan. Tetapi ketika
mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-
kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan di negeri
karena opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya
memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan, pada suatu
hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran
kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter
kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter
memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, opseter
ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya opseter
ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari
pegawai-pegawai pekuburan. Penguburan opseter berlangsung cepat. Setelah
penguburan, pelukis bertemu maha guru dari opseter yang kemudian
menceritakan riwayat opseter.
Pada akhirnya pelukis pergi ke balai kota untuk melamar menjadi opseter
pekuburan agar ia dapat terus-menerus berziarah pada mayat-mayat manusia
terutama pada mayat istrinya.