Anda di halaman 1dari 2

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada hari minggu, 11 Desember 2016 di

Kolaka. Wawancara dilakukan pada salah satu petani tambak yaitu Bapak Kaharudin. Bapak

Kaharudin umur 28 tahun, alamatnya di Dusun 3 desa Towua kecamatan Wundulako. Bapak

Arman Tamatan SMP dengan pekerjaan sehari-harinya yaitu mengelola tambak. Bapak

Kaharudin merupakan penduduk yang berasal dari daerah sulawesi selatan yang merantau ke

kolaka, tepatnya di desa towua kecamatan wundulako. Sebelum memulai usaha tambak , beliau

mengumpulkan uang berupa tabungan dan hasil kerja-kerja sampingan lalu memulainya dengan

menyewa lahan milik orang lain dengan harga Rp.2.000.000 untuk lima tahun kedepan.. Sehari

hari beliau datang untuk memberi pakan ataupun datang untuk mengecek keadaan tambak yang

dikelolanya dari pagi jam 08.00 sampai sore jam 16.00 .Beliau memiliki 1 orang istri dan 1 orang

anak dengan jumlah tanggungan 3 orang jiwa.

Bapak kaharudin menyewa lahan tambak yang memiliki luas 4 hektar yang dibagi 2

petak, tambak yang diproduksi oleh beliau adalah ikan bandeng dan udang vanamei yang

digabungkan dalam 1 wadah atau satu petak. Setiap 3-4 hari beliau memberi pakan kepada ikan

bandeng dan udang vanamei pada pagi hari maupun siang hari, untuk sampai ke tempat lokasi

tambak yang dikelolanya, beliau menggunakan motor untuk sampai ke tempat tambak. Adapun

pengeluaran untuk membantu pekerjaan mengurus tambak berupa rumah-rumah kecil yang

berada di dekat tambak, mesin untuk mengelola air tambak dan alat bantu lainnya yang

semuanya memerlukan biaya Rp.1.000.000.

Proses produksi Bapak Kaharudin dengan cara memproduksi yaitu mempersiapkan lahan

selama 1 minggu untuk proses pengeringan sempurna kemudian memasukkan pupuk Urea dan

TSP kedalam tambak selama 1 hari dengan tujuan menumbuhkan plankton. Kemudian

memasukkan air melalui saluran pintu masuk air di bantu dengan mesin pompa mesin air 23 Pk
selama 1 hari, untuk udang kualitas air harus di perhatikan. Kemudian siapkan bibit udang dan

ikan bandeng untuk di masukkan kedalam tambak selama 1 hari. Selanjutnya bibit yang telah di

sebar di dalam tambak di rawat dan di awasi dan di kontrol dan di beri makan sebanyak 3-4 kali

sehari dengan makanan pelet, sampai pembesaran sambil penyakit yang mungkin akan terjadi

terhadap udang yaitu penyakit pink dan pada ikan bandeng jarang terdapat penyakit Karena

biasanya ikan bandeng akan memakan tubuhnya sendiri hingga kepalanya membesar Karena

pakan yang tak terkontrol. pada tahap kegiatan panen, hasilnya di jual kepada pengumpul. Saat

panen , Beliau dibantu oleh warga sekitar dan digaji oleh beliau sendiri dengan upah yang biasa-

biasa saja, dan ikan bandeng dan udang vanamei ini akan dikumpulkan di rumah beliau sampai

pengumpul dating sendiri untuk mengambilnya , beliau melakukan transaksi melalu telepon

genggam miliknya yang mengatakan kepada beberapa para pelanggannya selain pengumpul

untuk datang mengambil hasil produksinya, kemudian pelanggan datang mengambil hasil

produksinya dengan menggunakan mobil lalu dipasarkan di pasar terdekat desa wundolako

ataupun dipasarkan di kota kolaka.

Setelah Bapak Kaharudin menerima hasil panennya dari transaksi dari


pengumpul maupun pelanggannya, beliau mengatakan juga bahwa semua hasil
panennya tidak semuanya dijual ke pasar. Selama menunggu hasil panen, beliau
terkadang mendapat masalah berupa Binatang yang suka mengganggu tambak
yaitu kambing dan burung yang dimana rata-rata disetiap tambak terpasang papan
peringatan untuk kambing liar yang mencari makanan, kendala lainnya yaitu udang
mengalami penyakit pink, dimana jika itu terjadi maka penambak akan gagal panen
selama 2 bulan dan memulai lagi setelah pembersihan tambak tersebut.