Anda di halaman 1dari 27

RINGKASAN ILMU TAJWID

13 Feb

251

36

Rate This

1. HUKUM NUN MATI

Izh-har Halqi, yaitu pembacaan nun mati atau tanwin yang sesuai makhroj-nya (tidak di-
ghunnah-kan) apabila bertemu dengan salah satu huruf izhhar.
Huruf-huruf izhhar adalah :
Contoh-contoh izhhar:


Idgham, yaitu pengucapan nun mati atau tanwin secara lebur ketika bertemu huruf-huruf
idgham, atau pengucapan dua huruf seperti dua huruf yang di-tasydid-kan. Ketentuan ini berlaku
ketika pertemuan nun mati dengan huruf idgham dalam dua kata yang terpisah. Idgham dibagi
dua yaitu:
> Idgham bil ghunnah atau maal ghunnah (yang harus digunakan)
> Idgham bila ghunnah (yang tidak boleh digunakan)
Huruf-huruf idgham bil ghunnah :
Huruf-huruf idgham bila ghunnah :

Contoh-contoh idgham :


Dikecualikan empat kata yang tidak boleh dibaca sesuai dengan kaidah ini, karena pertemuan
nun mati dengan huruf idgham dalam satu kata. Cara membacanya harus jelas dan disebut izhhar
muthlaq, yaitu:

Iqlab, yaitu pengucapan nun mati atau tanwin yang bertemu dengan huruf ba yang berubah
menjadi mim dan disertai dengan ghunnah.

Contoh-contoh iqlab:

Ikhfa Haqiqi, yaitu pengucapan nun mati atau tanwin ketika bertemu dengan huruf-huruf
ikhfa memiliki sifat antara izhhar dan idgham dengan disertai ghunnah. Huruf-huruf ikhfa
berjumlah 15, yaitu:

Contoh ikhfa haqiqi:





2. HUKUM MIM MATI

Ikhfa Syafawi, yaitu apabila mim mati bertemu dengan ba. Cara pengucapannya mim
tampak samar (bibir tanpa ditekan kuat) disertai dengan ghunnah. Contoh:

Idgham Mitslain, atau idgham mimi yaitu apabila mim mati bertemu dengan mim. Cara
pengucapannya harus disertai dengan ghunnah.

Contoh:

Izh-har Syafawi, yaitu apabila mim mati bertemu dengan selain huruf mim dan ba. Cara
pengucapannya adalah mim harus dibaca jelas, harus tampak jelas tanpa ghunnah, terutama
ketika bertemu dengan fa dan waw. Sedikitpun mim tidak boleh terpengaruh makhroj fa dan
waw walaupun makhrojnya berdekatan/sama. Contoh:

3. HUKUM MIM DAN NUN BERTASYDID

Setiap mim dan nun yang bertasydid wajib dighunnahkan. Ketika membaca mim yang bertasydid
cara membacanya bibir harus merapat dengan sempurna, dan ketika membaca nun yang
bertasydid ujung lidah harus menempel pada makhroj nun dengan sempurna/kuat. Contoh:

4. HUKUM LAM TARIF (ALIF LAM)

Berdasarkan cara pembacaannya ini, alif lam dibagi menjadi dua macam :

Alif Lam Qamariyah, yakni alif lam harus dibaca jelas ketika menghadapi huruf-huruf
berikut:
Contoh :

Alif Lam Syamsiyah, yakni alif lam harus dibaca idgham (masuk ke dalam huruf berikutnya)
apabila bertemu dengan huruf-huruf berikut:

Contoh:

5. HUKUM MAD

Mad adalah memanjangkan lama suara ketika mengucapkan huruf mad. Huruf mad ada tiga yaitu
:
( waw sukun) yang huruf sebelumnya berharokat dhommah.
( ya sukun) yang huruf sebelumnya berharokat kasrah.
( alif) yang huruf sebelumnya berharakat fat-hah. Contoh:
Mad secara umum terbagi menjadi dua, yaitu Mad Ashli dan Mad Fari.

I. Adapun pembagian mad Ashli adalah sebagai berikut:

a. Mad Thabii, yaitu mad yang tidak terpengaruhi oleh sebab hamzah atau sukun, tetapi
didalamnya ada salah satu huruf mad yang tiga; alif, ya, waw. Contoh:

b. Mad Badal, yaitu apabila terdapat hamzah bertemu dengan mad. Panjangnya 2 harakat.
Contoh:

c. Mad Iwadh, yaitu berhenti pada huruf yang bertanwin fat-hah. Panjangnya 2 harakat.
Catatan:
Huruf Hamzah yang bertanwin fat-hah terkadang disudahi dengan alif, atau terkadang didahului
alif, cara membaca tetap sama 2 harakat. Dan pengecualian berhenti pada Ta Marbuthah yang
bertanwin fat-hah cara membacanya ta harus mati dan berubah menjadi Ha.
Contoh:

d. Mad Tamkin, yaitu apabila terdapat ya bertasydid bertemu dengan ya sukun. Panjangnya 2
harakat.

Contoh:

e. Mad Shilah Qashirah, yaitu apabila terdapat ha dhamir (bunyi hu atau hi) bertemu dengan
selain
hamzah. Panjangnya 2 harakat.

Contoh:

Keterangan:
Ha dhamir tidak dibaca panjang 2 harakat apabila salah satu huruf sesudah atau sebelumnya
mati. Kecuali ayat 69 didalam surah Al-Furqan, yaitu:
maka ha dibaca panjang 2 harakat walaupun sebelumnya didahului huruf mati. Mad
ini disebut Mad Al-Mubalaghah.
Selain ha dhamir tidak dibaca panjang.
Contoh:

II. Adapun pembagian mad Fari adalah sebagai berikut:


Mad Fari yang bertemu dengan hamzah ada 3 macam:

a. Mad Wajib Muttashil, yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu
kalimat. Panjangnya 4 harakat ketika washal, sedangkan dalam keadaan waqaf boleh dibaca 4, 5
atau 6 harakat.
Contoh:

b. Mad Jaiz Munfashil, yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat
yang terpisah. Panjangnya 4 atau 5 harakat.

Contoh:

c. Mad Shilah Thawilah, yaitu apabila terdapat ha dhamir bertemu dengan hamzah dalam
kalimat yang terpisah. Panjangnya 4 atau 5 harakat.

Contoh:

Mad Fari yang bertemu dengan Sukun atau Tasydid ada 5 macam:

a. Mad Farqi, yaitu mad badal sesudahnya berupa huruf yang bertasydid. Panjang 6 harakat.
Mad ini hanya terjadi pada 2 kalimat dan terdapat di dalam tiga surat, yakni surat Al-Anam :
143-144, Yunus : 59 dan An-Naml : 59.
Lafazhnya:

b. Mad Lazim Kilmiy Mutsaqqal, yaitu apabila huruf atau bacaan mad sesudahnya berupa
huruf yang bertasydid. Panjangnya 6 harakat.

Contoh:

c. Mad Lazim Kilmiy Mukhoffaf, yaitu mad badal sesudahnya terdapat huruf sukun.
Panjangnya 6 harakat, dan mad ini hanya terdapat pada surat Yunus: 51 dan 91. Contoh:

d. Mad Lazim Harfiy Mutsaqqal, yaitu mad yang terjadi pada huruf Muqaththaah yang
terdapat di sebagian beberapa awal surat. Cara membaca huruf tersebut sesuai dengan nama
=
hurufnya, dibaca panjang 6 harakat dan diidghamkan. Contoh: =

e. Mad Lazim Harfiy Mukhaffaf, yaitu mad yang terjadi pada huruf Muqaththaah yang
terdapat disebagian beberapa awal surat. Cara membaca huruf tersebut sesuai dengan nama
hurufnya, dibaca panjang 6 harakat, tetapi tanpa diidghamkan. Contoh: = =

Mad Fari karena waqaf, ada 2 macam:

a. Mad Aridh Lissukun, yaitu apabila mad thabii jatuh sebelum huruf yang diwaqafkan.
Panjangnya boleh 2, 4 atau 6 harakat.
Contoh:
b. Mad Liin, yaitu apabila berhenti pada suatu huruf sebelumnya berupa waw sukun atau ya
sukun yang didahului oleh huruf berharakat fat-hah. Panjangnya boleh 2, 4 atau 6 harakat.
Contoh:

6. AT-TAFKHIM DAN AT-TARQIQ

Tafkhim berarti menebalkan suara huruf, sedangkan Tarqiq adalah menipiskannya. Tafkhim dan
Tarqiq terdapat pada 3 hal :

a. Lafazh Jalalah, yaitu lafazh Allah. Al Jalalah maknanya adalah kebesaran atau keagungan.
Cara membacanya ada dua macam, yaitu tafkhim dan tarqiq.

Lafazh Jalalah dibaca tafkhim apabila keadaannya sebagai berikut:



Berada di awal susunan kalimat atau disebut Mubtada (Istilah tata bahasa Arab). Contoh:


Apabila Lafazh Jalalah berada setelah huruf berharakat fat-hah.
Contoh:
Apabila Lafazh Jalalah berada setelah huruf berharakat dhammah.
Contoh:

Sedangkan dibaca Tarqiq apabila sebelum lafazh Jalalah huruf berharakat kasroh. Contoh:

b. Huruf-huruf Istila ( )

Semua huruf istila harus dibaca tafkhim, dengan dua tingkatan. Pertama, tingkatan tafkhim yang
kuat, yakni ketika sedang berharakat fat-hah atau dhammah. Kedua, adalah tingkatan tafkhim
yang lebih ringan, yakni ketika berharakat kasrah atau ketika sukun dengan huruf sebelumnya
berharakat kasrah. Juga harus dibaca tafkhim apabila nun mati atau tanwin (hukum ikhfa haqiqi)
bertemu dengan huruf istila, kecuali apabila bertemu dengan huruf ghain dan kha. Sebaliknya,
seluruh huruf istifal (huruf-huruf selain huruf istila) harus dibaca tarqiq, kecuali ra dan lam
pada lafazh jalalah.

c. Huruf Ra, dibacanya tafkhim apabila:


Ketika berharakat fat-hah.
Ketika berharakat dhammah.
Ra sukun sebelumnya berharakat fat-hah.
Ra sukun sebelumnya huruf berharakat dhammah.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya huruf berharakat fat-hah.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya huruf berharakat dhamaah.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya alif.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya waw.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya huruf yang mati, dan didahului huruf
fat-hah atau dhammah.
Ra sukun sebelumnya hamzah washal.
Ra sukun sebelumnya huruf berharakat kasrah dan sesudahnya huruf istila
tidak berharakat kasrah serta berada dalam satu kalimat.
Sedangkan huruf Ra dibaca tarqiq apabila keadaannya sebagai berikut:
Ra berharakat kasrah.
Ra sukun sebelumnya berharakat kasrah dan sesudahnya bukan huruf isti-
la, atau bertemu huruf istila namun dalam kata yang terpisah.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya huruf kasrah atau ya sukun.
Ra sukun karena waqaf sebelumnya bukan huruf istila dan sebelumnya di
dahului oleh kasrah.
Kemudian Ra yang boleh dibaca tafkhim atau tarqiq:
Ra sukun sebelum berharakat kasrah dan sesudahnya huruf istila berhara-
kat kasrah.
Ra sukun karena waqaf, sebelumnya huruf istila sukun yang diawali de-
ngan huruf berharakat kasrah.
Ra sukun karena waqaf dan setelahnya terdapat ya terbuang.

7. IDGHAM

Idgham artinya memasukkan atau melebur huruf. Idgham dibagi 3 yaitu:

a. Idgham Mutamatsilain, yaitu apabila berhadapannya dua huruf yang sama makhraj dan
sifatnya.
Contoh:

b. Idgham Mutajanisain, yaitu apabila berhadapannya dua huruf yang sama makhrajnya,
namun sifatnya berlainan. Yaitu pada makhraj huruf:
(--( )--( )-)

Contoh: dibaca langsung masuk ke huruf ta


dibaca langsung masuk ke huruf mim

c. Idgham Mutaqaribain, yaitu apabila berhadapannya dua huruf yang ham-pir sama makhraj
dan sifatnya. Yaitu pada huruf dan .
Contoh: dibaca tanpa meng-qalqalah-kan qaf
dibaca tanpa menampakkan lam

8. TANDA-TANDA WAQAF (BERHENTI)


yaitu tanda waqaf yang menunjukkan penekanan untuk berhenti.
yaitu tanda waqaf yang menunjukkan dilarang berhenti secara total (tidak melanjutkan
membaca lagi), jika sekedar mengambil nafas dibolehkan.
yaitu tanda waqaf boleh berhenti, namun washal lebih utama.
yaitu tanda waqaf yang menunjukkan waqaf atau washal sama saja.
yaitu tanda waqaf yang menunjukkan lebih baik berhenti.
yaitu tanda waqaf agar berhenti pada salah satu kata.

9. ISTILAH-ISTILAH DALAM AL-QURAN


a. Sajdah. Pada ayat-ayat sajdah disunahkan melakukan sujud tilawah. Sujud ini dilakukan di
dalam atau diluar shalat, disunahkan pula bagi yang membaca dan yang mendengarkannya.
Hanya saja ketika didalam shalat, sujud atau tidaknya tergantung pada imam. Jika imam sujud,
makmum harus mengikuti, dan begitu pula sebaliknya. Ayat Sajdah terdapat dalam surat: 7:206,
13:15, 16:50, 17:109, 19:58, 22:18, 22:77, 25:60, 27:26, 32:15, 38:24, 41:37, 53:62, 84:21,
96:19.

b. Saktah ( ) yaitu berhenti sejenak tanpa bernafas. Ada didalam surat: 18:1-2, 36:52, 75:27,
83:14. Contoh:

c. Isymam, yaitu menampakkan dhammah yang terbuang dengan isyarat bibir. Isymam hanya
ada di surat Yusuf ayat 11, pada lafazh

d. Imalah, artinya pembacaan fat-hah yang miring ke kasrah. Imalah ada di dalam surat Hud
ayat 41, pada lafazh dibaca MAJREHA.

e. Tas-hil, artinya membaca hamzah yang kedua dengan suara yang ringan atau samar. Tas-hil
dibaca dengan suara antara hamzah dan alif. Terdapat di dalam surat Fushshilat ayat 44, pada
lafazh hamzah yang kedua terdengar seperti ha.

f. Nun Al-Wiqayah, yaitu nun yang harus dibaca kasrah ketika tanwin bertemu hamzah washal,
agar tanwin tetap terjaga.
Contoh:

g. Ash-Shifrul Mustadir, yaitu berupa tanda (O) di atas huruf mad yang menunjukkan bahwa
mad tersebut tidak dibaca panjang, baik ketika washal maupun waqaf (bentuknya bulatan
sempurna, dan biasanya terdapat di mushaf-mushaf timur tengah).
Contoh:

h. Ash-Shifrul Mustathilul Qaim, yaitu berupa bulatan lonjong tegak (0) biasanya diletakkan
di atas mad. Mad tersebut tidak dibaca panjang ketika washal, namun dibaca panjang ketika
waqaf.
Contoh:

i. Naql, yaitu memindahkan harakat hamzah pada huruf sebelumnya.


Contoh:
dibaca

(Diringkas seperlunya dari buku Pedoman Daurah Al-Quran Kajian Ilmu Tajwid oleh Abdul
Aziz Abdur Rauf. Al-Hafizh, Lc. Dan buku Ilmu Tajwid Plus oleh Moh. Wahyudi.)

Abu Fahd Negara Tauhid


1. A. Hukum Mim Bertasydid dan Nun Bertasydid (Ghunnah)

Hukum nun tasydid dan mim tasydid adalah wajib dibaca ghunnah ( )yaitu dengan
membunyikan sambil mendengung. Adapun lama mendengungnya selama dua ketukan atau satu
alif. Lama ketukan itu disesuaikan dengan irama lagu yang dibaca oleh pembaca

Contoh:

No Huruf Tertulis Dibaca Sebab

Nun ditasydid
1

Nun ditasydid
2

Mim ditasydid
3

Mim ditasydid
4

1. B. Hukum Nun Mati dan Tanwin

1. 1. Pengertian Nun Mati dan Tanwin

Nun Skinah ialah nun yang tidak berbaris atau lebih dikenali sebagai nunmati. Nun Skinah
adalah suara yang keluar dari pangkal hidung (khaisyum) dania akan mengeluarkan suara
dengung atau sifat ghunnah sebagai suatu ciri yangmesti ada pada nun Skinah ini.

Tanwin ialah baris dua sama ada baris dua di atas (fathatain), baris dua dibawah (kasratain) atau
baris dua di hadapan (dhommatain). Tanwin adalahsuatu yang bernun yaitu baris yang
mengeluarkan suara nun Skinah secaratidak langsung (zaidah) walaupun nun tersebut tidak
kelihatan.

1. 2. Hukum Nun Mati dan Tanwin

1. a. Bacaan Idgham
Menurut Muhammad Mahmud, idgham dalam arti bahasa berarti: yaitu
Memasukkan sesuatu pada sesuatu. Artinya disini adalah memasukkan huruf nun mati pada
huruf idgham. Sedang dalam arti istilah berarti:

Pertemuan huruf yang mati dengan huruf yang hidup, sehingga kedua huruf itu menjadi satu
huruf yang ditasydid.[1]

Adapun huruf-huruf idgham ada 6yang berkumpul pada rumus , sehingga jika ada nun
mati atau tanwin bertemu salah satu keenam huruf tersebut, maka nun mati atau tanwin tersebut
harus dimasukkan padanya. Keenam huruf itu ada yang dibaca mendengung dan ada yang tidak,
karena itu idgham dibagi menjadi dua macam:

1) Idgham Bighunnah ()

Yaitu membunyikan nun mat atau tanwin dengan memasukkan pada huruf idgham bighunnah
yaitu (ya, nun, mim, wawu) disertai mendengung, dengan syarat antara nun mati atau tanwin
tersebut terpisah dengan huruf idgham bighunnah sebelumnya.

Contoh:

Jika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf idgham bighunnah dalam satu
kalimat(tidak terpisah) maka membacanya terang (Izhar). Ulama tajwid menyebutnya Izhar
Kilmi atau Izhar wajib.

Contoh:

2) Idgham Bilaghunnah ()

Cara membaca nun mati atau tanwin dengan memasukkan pada huruf idgham bilaghunnah yaitu
lam dan ra tanpa mendengung.

Contoh:

1. b. Bacaan Iqlab
Menurut Muhammah Mahmud, iqlab dalam arti bahasa adalah: yaitu
Mengubah bentuk sesuatu dari asalnya. Dalam arti mengubah huruf nun mati atau tanwin pada
huruf iqlab. Sedangkan menurut istilah adalah:

Menjadikan huruf satu pada ketentuan huruf lain disertai mendengung.[2]

Pada pengertian di atas jelas bahwa nun mati atau tanwin ketika bertemu denganhuruf iqlab
maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca sebagaimana bacaan iqlab disertai mendengung.

Adapun huruf iqlab hanya ada satu yaitu: . maka apabila ada nun mati atau tanwin bertemu
dengan huruf ba maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca mim( )karena bacaan iqlab.

Contoh:

1. c. Bacaan Ikhfa

Menurut Muhammad mahmud, ikhfa dalam arti bahasa adalah: ., menutupi atau
menyembunyikan. Sedangkan menurut istilah adalah:

Ikhfa adalah pengungkapan huruf yang mati dan tersembunyi atau sunyi dari tasydid pada
bacaan antara terang dan memasukkan dengan mendengungkan pada huruf pertama.[3]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bacaan ikhfa itu bacaan yang samar-samar
antara izhar (terang) dengan idgham (memasukkan pada yang lain) disertai mendengung.

Huruf ikhfa ada 15 yang terkumpul pada awal bait;

Dari kelima belas huruf ikhfadi atas terdapat 3 klasifikasi, yaitu:

1) Ikhfa Ala ( ) yaitu bacaan ikhfa yang lebih lama dari ghunnahnya. Adapun
hurufnya ada tiga, yaitu: , ,

Contoh:
2) Ikhfa Adna ( ) yaitu bacaan ikhfa yang lebih pendek dari ghunnahnya, sedang
hurufnya adalah: ,

Contoh:

3) Ikhfa Ausath ( ) yaitu antara bacaan ikhfa dengan ghunnah sama-sama sedang.
Hurufnya selain dari ikhfa ala dan adna.

Contoh:

1. d. Bacaan Izhar

Dari sudut bahasa: Menyatakan, menerangkan sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid:
Mengeluarkan sebutan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) tanpa dengung

1. Lughot/Bahasa : Jelas

2. Istilah Ahli Tajwid: Melapalkan/membaca dengan jelas dengungnya dan tidak panjang
bacaannya ketika bertemu nun mati atau tanwin dengan beberapa huruf idhar.

Pembagian Idhar:

1) Izhar Halqi( ) .

Dari sudut bahasa: Menyatakan, menerangkan sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid:
Mengeluarkan sebutan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) tanpa dengung. Ia
dinamakan Halqi kerana enam hurufnya keluar dari kerongkong. Huruf-huruf tersebut ialah:
Hamzah( ) , Ha'( ) , Ain( ) , Ha'( ), Ghain( ) dan Kha'( ) .[4]

2) Izhar Mutlaq( ) .

Dari sudut bahasa: Menyatakan, menerangkan sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid:
Mengeluarkan sebutan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) tanpa dengung. Ia
dinamakan Mutlaq ialah kerana makhrajnya bukan dari tekak atau mulut. Izhar Mutlaq dibaca
apabila huruf Ya atau Wau terdapat selepas Nun Sukun di dalam satu kalimah. Ia terdapat pada
empat tempat sahaja di dalam al-Quran yaitu:

1. C. Hukum Mim Mati (Sakinah)

Huruf mim mati apabila bertemu salah satu dari huruf hijaiyah, maka mempunyai tiga dampak
hukum, yaitu:

1. 1. Ikhfa Syafawi( )
Ikhfa berarti samar-samar, sedang syafawi berarti bibir. Jadi, ikhfa syafawi adalah cara
membunyikan huruf secara samar-samar antara yang terang(izhar) dan berdengung(idgham)
sambil bibir tertutup.

Huruf ikhfa syafawi hanya: , karena itu jika ada mim sukun bertemu denganhuruf ba maka
disebut bacaan ikhfa syafawi.[5]

Contoh:

1. 2. Idgham Mitslain ( )

Idgham berarti memasukkan, sedang mitslain adalah sama, atau hurufnya sama. Karena itu
idgham mitslain berarti cara membunyikan huruf dengan memasukkan huruf tertentu pada huruf
sepadan dengannya. Idgham mitslain disebut juga Idgham Mimi () .[6]

Adapun huruf idgham mitslain adalah: , yaitu huruf yang sepadan (sama) dengan mim.

Contoh:

1. 3. Izhar Syafawi ( )

Izhar artinya terang, sedang syafawi artinya bibir. Jadi yang dimaksud izhar syafawi adalah cara
membunyikan huruf secara terang sambil bibir tertutup.

Huruf-huruf izhar syafawi adalah semua huruf hijaiyah kecuali mim dan ba. Maka apabila ada
mim mati bertemu salah satu dari huruf hijaiyah selain mim dan ba harus dibaca izhar syafawi.

Contoh:

No Contoh Sebab

1 bertemu

2 bertemu
3 bertemu

4 bertemu

1. D. Hukum Tafkhim dan Tarqiq

Tafkhim ( )merupakan masdar dari fakhkhama ( )yang berarti menebalkan. Sedang yang
dimaksud dengan bacaan tafkhim adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau
bacaan tebal. Jadi, bacaan tafkhimadalah menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan
huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan (mencucu)

Tarqiq ()Merupakan bentuk masdar dari Roqqoqo ( )yang berarti menipiskan. Sedang
yang dimaksud dengan bacaan tarqiq adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara
atau bacaan tipis.[7]

1. 1. Bacaan Tafkhim

Huruf hijaiyah yang wajib dibaca tafkhim terdapat 7 huruf, yaitu huruf istila yang berkumpul
pada kalimat , kesemuanya harus dibaca tebal.

Contoh:

, , ,
,
, ,

Selain ketujuh huruf tersebut harus dibaca tarqiq, kecuali huruf lam dan ra yang
mempunyai ketentuan sendiri.

Pertama , huruf lam dibaca tafkhim jika berada dalam lafal jalalah yakni lam yang terdapat pada
lafal: dengan syarat agar lam itu didahului tanda baca fathah atau dhammah.

Contoh:

Kedua, ra wajib dibaca tafkhim (tebal) apabila:

1. Ra bertanda baca fathah. Contoh:


1. Ra bertanda baca dhammah.Contoh:

1. Ra bertanda sukun (mati), sedang huruf dibelakangnya berupa huruf yang difathah.
Contoh:

1. Ra bertanda sukun, sedang huruf dibelakangnya berupa huruf yang didhammah. Contoh:

1. Ra yang bertanda baca sukun, sedang huruf dibelakangnya berupa huruf yag dikasrah,
namun kasrah ini bukan asli tetapi baru datang. Contoh:

1. Ra bertanda baca sukun, sedang huruf di belakangnya berharakat kasrah asli dan sesudah
ra bertemu dengan huruf istila. Contoh:

1. 2. Bacaan Tarqiq

Pertama, huruf lam dibaca tarqiq (tipis), jika huruf lam itu berada dalam lam jalalah yang
didahului huruf yang bertanda baca kasrah. Contoh:

Kedua, ra wajib dibaca tarqiq (tipis) jika:

1. Huruf ra bertanda baca kasrah. Contoh:

1. Huruf ra yang bertanda baca hidup yang jatuh setelah ya mati atau huruf lien. Contoh:

1. Huruf ra mati dan sebelumnya ada huruf yang berharakat kasrah asli, sedang sesudah ra
bukan huruf istila. Contoh:


1. E. Hukum Qalqalah

Yang termasuk huruf qalqalah yaitu:

Apabila huruf qalqalah tersebut mati atau pada huruf qalqalah itu membaca berhenti maka huruf
itudiucapkan seraya menambahkan semacam pantulan bunyi dari huruf itu sendiri di akhir
pengucapan.

Qalqalah ada dua yaitu, Qalqalah Sughraa dan Qalqalah Qubraa.

Pada Qalqalah Sughraa huruf qalqalah itu memang mati (mati asli). Contoh:

Pada Qalqalah Qubraa huruf qalqalah itu menjadi mati karena membaca berhenti padahurufitu.
Di sini pemantulan bunyi dilahirkan lebih jelas lagi. Contoh:

1. F. Hukum Bacaan Idgham

Sebagaimana pada hokum nun mati dan tanwin, maka yang dimaksud dengan idgham adalah
memasukkan sesuatu pada sesuatu. Atau pengucapan dua huruf menjadi satu yakni seperti dua
huruf yang ditasydid.

Sebagaimana dijelaskan ulama Qurra secara ijmak, bahwa idgham dibagi menjadi 3 macam,
yaitu:

1. Idgham mutamatsilain

2. Idgham mutajanisain

3. Idgham mutaqaribain

Untuk lebih jelasnya, ketiga bagian tersebut dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

1. 1. Idgham Mutamatsilain

Idgham mutamatsilain dalam arti bahasa adalah idgham yang sepadan atau serupa. Sedangkan
menurut istilah adalah:

Idgham yangterjadi bila dua hurufnya itu sama-sama makhraj maupun sifatnya.
Idgham mutamatsilain adalah pertemuan dua huruf yang sama, sama dalam arti bentuknya
sehingga sama pula makhraj dan sifatnya. Idgham mutamatsilain dibagi menjadi dua bagian:

1. a. Idgham Mutamatsilain Kubra, Idgham Mutamatsilain yang besar, sedang menurut


istilah yaitu:

Jika kedua hurufnya dihidupkan.

Contoh:

1. b. Idgham Mutamatsilain Sughra, Idgham Mutamatsilain yang kecil, menurut


istilah yaitu:

Jika salah satu diantara kedua hurufnya dimatikan.[8]

Namun, tidak semua huruf hijaiyah yang sama makhraj dan sifat bertemu menjadi
idgham, ada juga yang rus dibaca idhar yaitu bertemunya huruf dengan dan dengan , kedua
huruf itu walaupun sepadan, tetapi tidak boleh diidghamkan karena jika diidghamkan berarti
menghilangkan panjang (mad)nya. Karena keduanya termasuk huruf mad. Contoh:

1. 2. Idgham Mutajanisain

Idgham Mutajanisain dalam arti bahasa berarti idghom yang sejenis. Namun menurut istilah
adalah:

Idgham yang terjadi bila hurufnya sama-sama makhrajnya, tetapi berbeda sifatnya.

Misalnya:

1. Huruf dengan ;sama-sama makhraj lisan, tetapi sifatnya berbeda. Tha jahar, sedang
ta Mahmus; Tha Istila, sedang ta Istifal; tha Ithlaq, sedang ta Infitah.
2. Huruf dengan ;sama-sama makhraj lisan, tetapi sifat zha pada istila, sedang dzal
istifal. Zha Ithbaq, sedang dzal Infitah.

3. Huruf dengan ;sama-sama makhraj lisan, tetapi dzal sifatnya jahar, sedang ta
mahmuz, dzal Rakhawah sedang ta Syiddah.[9]

Kondisi demikian itu mewajibkan idghom, yaitu huruf pertama dimasukkan pada huruf kedua,
sehingga seakan-akan menjadi satu huruf yang ditasydid.

Idgham Mutajanisain dibagi menjadi dua:

1. a. Idgham Mutajanisain Kubra

Jika kedua hurufnya dihidupkan.

Contohnya: ,

1. b. Idgham Mutajanisain Sughra,

Jika salah satu diantara kedua hurufnya dimatikan.

Contohnya:

1. 3. Idgham Mutaqaribain

Idgham Mutaqaribain dalam arti bahasa berarti idgham yang berdekatan, sedang menurut istilah:

Idgham yang berdekatan hurufnya, baik makhraj maupun sifatnya.

Idgham mutaqaribain merupakan idgham yang tidak sama makhraj dan sifatnya, hanya saja
huruf yang diidghamkan berdekatan makhraj dan sifatnya, sehingga cara membacanya huruf
pertama harus dimasukkan pada huruf kedua, sehingga seakan-akan menjadi satu huruf yang
ditasydid. Misalnya:

Huruf dengan ; keduanya berbeda makhraj dan sifatnya, walaupun berdekatan.


Makhraj Qaf pada pangkal lidah dekat anak lidah dengan langit-langit yang lurus
diatasnya. Sedangkan Kaf pada pangkal lidah dengan langit-langit yang lurus diatasnya,
yang agak sedikit keluar dari makhraj Qaf. Karena itu, dua huruf tersebut berdekatan
makhrajnya. Sedangkan sifat Qaf, pada jahar dan Kaf pada mahmus. Qaf Istila, sedang
Kaf Istifal, keduanya sama dalam sifat syiddah, Infitah dan Ishmat. Karena itu, Qaf
dengan Kaf berdekatan makhraj dan sifatnya.

Idgham mutaqaribain juga dibagi 2:

1. a. Idgham Mutaqaribain Kubra,

Jika kedua hurufnya dihidupkan.

Contohnya:

1. b. Idgham Mutaqaribain Sughra,

Jika salah satu diantara kedua hurufnya dimatikan.[10]

Contohnya:

G. Hukum Mad dan Qashar

1. 1. Bacaan Mad

2. a. Pengertian Mad

Mad dalam arti bahasa ialah ziyadah yang berarti tambah. Sedangkan menurut istilah ahli
qiraat ialah membaca sebuah huruf panjang lebih dari satu alif.

Qashar menurut bahasa ialah menahan. Menurut istilah ahli qiraat ialah membaca huruf
panjang tidak lebih dari astu alif.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa antara mad dan qashar adalah
pembeda antara huruf yang dibaca panjang lebih dari satu alif (2 harakat) dan huruf yang dibaca
dengan panjang tidak lebih dari satu alif.
1. b. Huruf-Huruf Mad

Huruf mad yang dipanjangkan ada 3 macam, yaitu:

1) Huruf wawu ( )mati yang jatuh setelah huruf yang yang berharakat dhommah. Contoh:
, ,

2) Huruf ya ( ) mati yang jatuh setelah huruf yang berharakat kasrah.

Contoh: , ,

3) Huruf alif ( )mati yang jatuh setelah harakat fathah.

Contoh:

,
,

Maka apabila ada huruf hijaiyah yang disrtai huruf-huruf mad tersebut, harus dibaca panjang.
Sedangkan panjangnya, disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

1. c. Panjang Bacaan Mad

1) Panjang yang pendek ( ), yaitu cara membaca huruf mad sepanjang 1 alif (2
harakat/ketukan)

2) Panjang yang tengah-tengah (( , yaitu cara membaca huruf mad sepanjang 1 alif (3
harakat/ketukan)

3) Panjang yang panjang (), yaitu cara membaca huruf mad sepanjang 2 alif (5
harakat) atau 3 alif (6 harakat).

1. d. Pembagian Mad

Mad dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

Mad Thabii (mad asli)

Mad Thabii menurut arti bahasa ialah mad yang masih asli, yakni panjang bacaanya tetap 1 alif
(2 harakat atau ketukan).

Sedangkan menurut istilah ialah keadaan mad itu sebagaimana mestinya. Maksudnya ialah
panjang bacaan mad tidak melebihi panjang semula (1 alif), sebab tidak dimasuki hamzah dan
sukun yang dapat mmenambah panjang bacaan semula.

Setiap ada alif yang jatuh setelah harakat fathah, ya yang jatuh setelah harakat kasrah, dan wawu
yang jatuh setelah harakat dhommah, maka dihukumi mad Thabii (wajib dibaca panjang 1 alif).
, ,
Contoh:

Mad Thabii (mad asli) dibagi menjadi 2, yaitu:

v Mad Asli Dhazhiry

Yaitu mad asli yang jelas berikut bacaanya. Seperti halnya contoh bacaan mad diatas.

v Mad Asli Muqaddar

Yaitu mad asli yang huruf madnya tidak jelas, namun bacaanya sepanjang mad asli. Mad ini
ditandai adanya fathah tegak, kasrah tegak dan dhommah terbalik.

Mad Fari

Mad fari menurut bahas ialah mad cabang. Sedangkan menurut istilah ialah mad yang melebihi
mad asli, sebab ada hamzah dan sukun.

Mad fari harus dibaca lebih dari 1 alif (2 harakat). Ketentuan ini berlaku karena setelah huruf
mad terdapat hamzah atau sukun, sehingga cara membacanya melebihi semestinya.

Panjang mad fari tersebut menimbulkan perselisihan mengenai panjang sebenarnya dan apakah
harus bertemu hamzah atau sukun.

Oleh karena perselisihan tersebut, maka mad fari terbagi menjadi 13 macam, yaitu:

1) Mad Wajib Muttashil

Mad Wajib artinya wajib dibaca panjang, sedangkan Muttashil artinya bersambung. Jadi Mad
wajib muttashil adalah wajib dibaca panjang karena ada huruf mad dalam satu kalimat dengan
hamzah.

Antara mad dan hamzah terdiri dalam satu kalimat.

Ukuran panjang mad wajib muttashil adalah 2 alif (5 ketukan). Sedang panjang pendek
ketukan itu disesuaikan dengan irama bacaan yang dialunkan. Karena itu diharapkan dalam
bacaannya tidak boleh melebihi ketentuan itu karena ketentuan itu sudah disepakati oleh semua
ahlul Qurra.

Contoh:
, ,

2) Mad Jaiz Munfashil

Mad Jaiz artinya boleh dibaca panjang boleh tidak dari ketentuan mad asli, sedang munfashil
artinya terpisah. Jadi yang dimaksud Mad Jaiz Munfashil adalah kebolehan membaca panjang
karena ada huruf mad yang terpisah dua kalimat dengan hamzah.

Disebut Mad Jaiz Munfashil karena huruf mad berada disatu kalimat, sedangkan hamzah
berada di kalmiat lain.[11]

Dari pengertian itu cara membaca Mad Jaiz Munfashil tidak wajib dibaca panjang sepanjang
mad wajib muttashil. Karena itu terdapat 5 macam cara membacanya, yaitu:

1. Imam Nawawi dan Imam Hamzah membacanya 3 alif (6 ketukan).

2. Imam Ashim seorang guru dari Imam Hafsh dan Syubah membacanya 2 alif (5
ketukan). Bacaan ini yang banyak dianut ahli Qurra.

3. Imam Ibnu Amer dan Imam KisaI membacanya 2 alif (4 ketukan).

4. Imam Qolun dan Imam Dury membacanya 1 alif (3 ketukan).

5. Imam Ibnu Katsir dan Imam Susy membacanya 1 alif (2 ketukan).

Contoh:

, ,

3) Mad Aridh Lissukun

Mad artinya panjang, sedangkan Aridh Lissukun artinya baru karena dimatikan. Jadi, yang
dimaksud dengan Mad Aridh Lissukun adalah bacaan panjang karena terdapat pertemuan antara
huruf mad dengan huruf yang dimatikan (sukun) setelah diwakafkan.

Berhenti di akhir kalimat dan sebelum huruf yang dihentikan itu terdapat huruf Mad Thabii.

Para ulama Qurra belum sepakat sepenuhnya, berapa panjang bacaan Mad Aridh Lissukun ini.
Sebagian ada yang membaca Qoshor dengan 1 alif, sebagian ada yang tawasuth yakni 2 alif da
nada yang membaca thulun dengan 3 alif dan pendapat yajng terakhir inilah yang paling banyak
digunakan oleh ahlul Qurra.
Contoh:

, ,

4) Mad Badal

`Badal artinya pengganti. Sedangkan menurut istilah:

huruf mad dan hamzah berkumpul dalam satu kalimat akan tetapi yang hamzah tersebut lebih
dahulu daripada mad.

Ulama sepakat, panjang bacaan mad badala adalah satu alif sebagaimana mad Thabii. dikatakan
mad badal karena mad ini sebagai pengganti dari huruf hamzah yang dibuang. Mad badal semula
merupakan hamzah kemudian diganti dengan bacaan ini. Alasan penggantian itu karena ada dua
hamzah dalam satu kalimat yang pertama hidup sedang yang kedua mati maka hamzah yang mati
diganti mad agar membacanya tidak terlalu berat. Contoh:

, , ,

5) Mad Iwadh

Iwadh artinya pengganti. Sedangkan yang dimaksud Mad Iwadh adalah:

Mad yang terjadi karena wakaf pada lafad yang ditanwin, dibaca nasab diakhir kalimat.

Pada pengertian itu tampak bahwa Mad Iwadh semula berupa kalimat yang dibaca nasab
kemudian diwakafkan sehingga tanwinnya diganti dengan tanda baca biasa (bukan tanwin),
setelah diganti maka cara membacanya menjadi lebih panjang (mad). Sedang lama bacaannya
sekitar 1 alif (2 ketukan).

Contoh:

, ,
,

6) Mad Lazim Mutsaqal Kalimi

Mad lazim berarti kelaziman untuk memanjangkan. Sedang mutsaqal berarti berat, dan
kalimi berarti satu kalimat.

Jadi yang dimaksud dengan mad lazim mutsaqal kalimi ialah bacaan mad yang harus
dipanjangkan, karena ada tasydid dalam satu kalimat.
Muhammad Mahmud merumuskan pengertian mad lazim mutsaqal kalimi sebagai berikut:

Mad yang terjadi stelah huruf mad, terdapat huruf ditasydid dalam satu kalimat.

Jika ada huruf mad yang bertemu sukun (dalam hal ini tasydid), maka merupakan suatu
kelaziman untuk dibaca panjang, dengan syarat antara huruf mad dengan huruf yang ditasydid
berada dalam satu kalimat.

Adapun panjangnya, menurut kesepakatan Ulama ialah 3 alif (6 harakat/ketukan).

,
Contoh: ,

Sebagian Ulama (Qurro) menyebutnya dengan mad lazim muthawwal kilmi.[12]

7) Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi

Mukhaffaf berarti diringankan.

Sedangkan Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi ialah bacaan mad yang terjadi ketika huruf-huruf mad
bertemu huruf yang mati dalam satu kalimat.

Muhammad Mahmud merumuskan sebagai berikut:

Mad yang terjadi karena setelah huruf mad ada huruf yang mati (disukun).

Panjang mad lazim mukhaffaf kalimi ialah 3 alif (6 harakat).

Contoh: ,

8) Mad Lazim Mutsaqqal Harfi

Mad lazim mutsaqal sebagaimana pengertian diatas ialah mad yang lazim dipanjangkan atau
dibaca panjang dan berat.

Harfi berarti dalam huruf. Jadi yang dimaksud dengan mad lazim mutsaqqal harfi ialah bacaan
mad yang terjadi pada huruf tertentu dipermulaan surat tertentu.

Muhammad Mahmud mermuskan sebagai berikut:


Mad yang ditemukan pada huruf permulaan surat dimana huruf itu mempunyai 3 bagian
huruf, huruf kedua merupakan huruf mad, sedangkan huruf yang terakhir merupakan huruf
yang disukun.

Dari pengertian tersebut, ditemukanlah syarat-syarat mad lazim mutsaqqal harfi, yaitu:

1. Terjadi pada huruf dipermulaan surat

2. Huruf yang dimaksud, bersifat 3 bagian huruf. Misalnya huruf maka bagian huruf itu
adalah: , ,,, dimana huruf tengah merupakan mad, sedang huruf terakhir mati.

3. Cara membacanya sepanjang 3 alif (6 harakat).

Dalam Al-Quran ialah huruf-huruf yang digunakan dalam permulaan surat, yaitu: , , ,
, , , , , , , ,

Dan lain sebagainya yang merupakan Mafatikhus Suwar.

Dari mafatikhus suwar tersebut, yang mempunyai tanda panjang 6 harakat merupakan bacaan
mad lazim mutsaqqal harfi.

Adapun huruf-huruf mutsaqqal harfi dalam Alquran ada 8 huruf, yang tegabung dalam kalimat:

Sebagian Ulama menyebut mad ini dengan mad lazim musyabba harfi atau mad lazim
muthawwal harfi.

Contoh: , ,,

9) Mad Lazim Mukhaffaf Harfi

Mad Lazim Mukhaffaf Harfi ialah mad yang biasa terjadi pada huruf yang mengawali
permulaan surat, yang bersifat 2 bagian. Muhammad Mahmud merumuskan pengertian Mad
Lazim Mukhaffaf Kalimi sebagai berikut:

Mad yang bertemu huruf yang bersifat dua bagian.

Syarat-syarat mad lazim musukhaffaf harfi ialah sebagai berikut:

1. Terjadi pada huruf dipermulaan surat

2. Huruf tersebut bersifat dua bagian, misalnya huruf yang terdiri atas dan

3. Panjangnya 1 alif (2 harakat)


Adapun huruf-huruf mad lazim mukhaffaf harfi itu ada 5, yang terkumpul dalam lafal

Contoh:

Ketiga contoh tersebut dibaca mad lazim mukhaffaf harfi sebab mad bertemu huruf sebangsa dua
dalam satu kata.

Dalam Al-Quran, mad ini ditandai dengan fathah tegak), pada huruf yang mengawali surat.

10) Mad Lien/ Mad Lain

Yaitu mad yang jatuh padea huruf wawu dan ya yang jatuh setelah harakat fathah. Dengan kata
lain, mad lain ialah fathah diikuti atau ya sukun bertemu huruf hidup dibaca waqaf.[13]

Sedangkan panjang mad lain ialah 1 alif (2 harakat) jika berada ditengah-tengah kalimat. Dan 2
atau 3 alif juka berada diakhir kalimat.

Contoh: ,

11) Mad Shilah

Mad Shilah berarti mad yang sambung. Atau dengan kata lain, mad shilah adalah huruf mad
tambahan yang diperkirakan setelah ha dhomir, yang dikira-kirakan dengan dhommah atau
kasrah.

Muhammad Mahmud mermuskan pengertian mad shilah tersebut sebagai berikut:

Mad shilah adalah huruf tanbahan yang dikira-kirakan setelah ha dhomir, dan dikira-kirakan
setelah harakat dhommah dan kasrah.

Mad Shilah dibagi menjadi 2 macam:

1. a. Mad Shilah Qashirah

Yaitu apabila ada dhomir jatuh setelah huruf hidup dan tidak bersambung dengan kalimat
sesudahnya , yang diberi al tarif.

Dengan kata lain, mad shilah qashirah ialah hu dan hi yang dibaca panjang. Panjang mad shilsh
qashirah ialah 1 alif, Namun ada juga yang membacanya dengan 2 alif.

Contoh: ,

Mad qashirah tidak berlaku (dibaca qashar) jika dhamir ha disambung dengan huruf didepanya
yang diberi al-tarif.
,
Contoh:

Begitupun ketika ha dhamir tesebut jatuh setelah huruf mati.

Contoh: , ,

1. b. Mad Shilah Thawilah

Yaitu mad shilah (qashirah0 yang bertemu dengan huruf hamzah bentuknya alif.

Mayoritas Ulama Qurra membacanya dengan panjang 2 alif (5 harakat), namun diantara
mereka ada juga yang membaca qashar dengan 1 alif.

Contoh: , ,

12) Mad Farq

Mad farq/mad farqu berarti mad pembeda. Dengan kata lain, mad farq ialah mad yang berfungsi
sebagai pembeda antara istifham (kata tanya) dengan khabar (kabar berita). Dengan tidak adanya
mad farq ini, maka orang akan menyangka hamzah istifham sebagai hamzah khabar.

Panjang bacan mad farq ialah 3 alif (6 harakat).

Contoh:

13) Mad Tamkin

Mad tamkin ialah mad yang terjadi karena ada 2 ya, yang satu mati sedang yang lain hidup,
bertanda baca kasrah dan tasydid, ya yang berharakat kasrah dan tasydid jatuh terlebih dahulu
dari ya yang mati. Dengan kata lain, mad tamkin ialah ya kasrah brtasydid ytang bertemu
dengan ya sukun. [14]

Contoh: , ,

1. 2. Bacaan Qashar

Sebagaimana yang diterangkan diawal, bahwa bacaan qashar adalah bacaan yang dipendekan,
yang semula dibaca panjang. Ada 2 tanda yang digunakan dalam Al-Quran untuk bacaan qashar,
yaitu:

1. Shafrun Mustadir
Yaitu tanda lingkaran seperti bentuk bola yang ditulis diatas huruf atau lafadz yang diqasharkan.

1. Shafrun Mustathil

Yaitu tanda lingkaran yang memanjang seperti bentuk telur yang ditulis diatas huruf atau lafadz
yang diqasharkan.

Bacaan yang bertanda Shafrun Mustadir harus dibaca pendek, baik ketika washal maupun waqaf.

, ,
Contoh: , ,

Sedangkan bacaan yang bertanda Shafrun Mustathil itu mempunyai dua cara membaca, yaitu:

Tetap dibaca panjang jika diwakafkan.

Harus dibaca qashar, jika diwashalkan bacaanya.

Contoh: ( tertulis)

( wakaf)

( washal)

= =

Dalam Al-Quran, terdapat pula bacaan qashar yang tidak memilki tanda shafrul mustadir
maupun shafrul mustathil

Contoh: ,