Anda di halaman 1dari 7

Nama: Ghrena Amadea M. A.

NIM:
1161050035
Kromium (Cr)

Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang Cr dan nomor atom 24. Kromium trivalen (Cr(III), atau Cr3+) diperlukan dalam
jumlah kecil dalam metabolisme gula pada manusia. Kekurangan kromium trivalen dapat
menyebabkan penyakit yang disebut penyakit kekurangan kromium (chromium deficiency).
Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat.
Dengan sifat ini, kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen
bangunan, komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor, maupun sebagai
pelapis perhiasan seperti emas, emas yang dilapisi oleh kromium ini lebih dikenal dengan
sebutan emas putih. Perpaduan Kromium dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan
karat.

Sejarah Penemuan Kromium


Kristal cromium
Pada tahun 1797, analis dari Prancis, yang bernama Louis-Nicholas Vauquelin menemukan
kromium. Namun sebelumnya, Vauquelin menganalisis zamrud dari Peru dan menemukan bahwa
warna hijau adalah karena adanya unsur baru, yaitu kromium.
Bahkan, nama kromium berasal dari kata Yunani kroma yang berarti warna, dinamakan
demikian karena banyaknya senyawa berwarna berbeda yang diperlihatkan oleh kromium Satu atau
dua tahun kemudian seorang kimiawan dari Jerman, Tassaert yang bekerja di Paris menemukan
kromium dalam bijih Kromit, Fe(CrO2)2, yang merupakan sumber utama kromit hingga sekarang.
Pada pertengahan abad ke-18 seorang analisis dari Siberia menunjukkan bahwa kromium
terdapat cukup banyak dalam senyawa PbCrO4, tetapi juga terdapat dalam senyawa lain. Ini akhirnya
Nama: Ghrena Amadea M. A.
NIM:
1161050035
diidentifikasi sebagai kromium oksida. Kromium oksida ditemukan pada 1797 oleh Louis-Nicholas
Vauquelin.
Kromium sebagai unsur logam pertama kali ditemukan dua ratus tahun yang lalu, pada
1797. Namun sejarah kromium benar-benar dimulai beberapa dekade sebelum ini.
Pada 1761, Johann Gottlob Lehmann mengunjungi Mines Beresof di lereng Timur dari
Pegunungan Ural di mana ia memperoleh sampel dari mineral merah-oranye yang disebutnya ujung
merah Siberia. Setelah kembali ke St Petersburg pada 1766, ia menganalisis mineral ini dan
menemukan bahwa itu berisi "mineralisasi dengan spar selenitic dan partikel besi". Bahkan, mineral
itu crocoite, sebuah kromat timbal (PbCrO4).
Pada tahun 1770, Peter Simon Pallas juga mengunjungi Pertambangan Beresof dan
diamatinya "merah memimpin mineral yang sangat luar biasa yang belum pernah ditemukan dalam
tambang lainnya. Ketika dilumatkan, itu memberikan guhr kuning indah yang dapat digunakan dalam
lukisan miniatur.
Meskipun jarang dan kesulitan dengan yang diperoleh dari Pertambangan Beresof
(pengangkutan ke Eropa Barat sering mengambil dua tahun), penggunaan timbal merah Siberia
sebagai pigmen cat cepat dihargai dan itu ditambang baik sebagai kolektor item serta untuk industri
cat - kuning cerah yang terbuat dari cepat crocoite menjadi warna modis untuk kereta bangsawan di
Prancis dan Inggris.
Pada 1797, Nicolas-Louis Vauquelin, profesor kimia dan pengujian di School of Mines di
Paris, menerima beberapa sampel bijih crocoite.. Analisis berikutnya mengungkapkan unsur logam
baru, yang disebutnya kromium setelah khrma kata Yunani, yang berarti warna.
Setelah penelitian lebih lanjut dia terdeteksi jejak unsur kromium dalam permata
memberikan karakteristik warna merah batu delima dan zamrud hijau khas, serpentine, dan mika
krom.
Pada 1798, Lowitz dan Klaproth menemukan kromium dalam sampel batu hitam berat
ditemukan lebih ke utara dari Pertambangan Beresof dan pada 1799 Tassaert diidentifikasi kromium
dalam mineral yang sama dari sejumlah kecil deposit di wilayah Var Selatan-Timur Perancis.
Mineral ini ia ditentukan sebagai besi spinel krom sekarang dikenal sebagai kromit (FeOCr 2O3).

Defisiensi Kromium
Defiensi krom diaplikasikan dalam beberapa bentuk diabetes telah ditunjukkan dalam
studi-studi kasus alimentasi parental. Penurunan kandungan krom jaringan dengan umur
dapat mencerminkan sekurang-kurangnya untuk sebagian, adanya defisiensi krom di dalam
makanan di Amerika Serikat dan di masyarakat lain yang teknologinya sudah maju.
(Schoeder et al) Mengkorelasikan nilai-nilai kandungan krom jaringan dengan nilai dugaan
konsumsi krom dalam makanan berbagai populasi dan menemukan konsumsi krom dalam
Nama: Ghrena Amadea M. A.
NIM:
1161050035
makanan di Amerika Serikat berkisar antara 5 sampai 150 per hari dengann rata-rata 60 , jauh
lebih rendah daripada konsumsi-konsumsi yang dilaporkan dari berbagai wilayah di seluruh
dunia.
Kandungan krom yang lebih rendah diduga terjadi akibat pengolahan dan pemurnian
pangan, dengan kehilangan krom diperkirakan sampai 80 persen untuk jenis bahan pangan,
karena ada kecenderungan orang lebih menyukai serealia, biji-bijian, lemak dan gula yang
telah dimurnikan dan diolah lebih lanjut, dan mengingat bahwa dalam bentuknya yang
dimurnikan bahan-bahan itu adalah sumber krom. Amerika Serikat agaknya terdapat
konsumsi krom yang sangat marginal.
Penelitian-penelitian tentang suplementasi Cr3+ pada subjek manula memberikan
dugaan adanya defisiensi krom dalam kelompok indian memperkuat proporsi bahwa
konsumsi krom dalam makanan Amerika Serikat mungkin tidak cukup untuk memelihara
kandungan krom jaringan sepanjang hayat. Ketidakcukupan konsumsi krom dapat
bertanggung jawab sekurang-kurangnya atas beberapa kasus peningkatan ketidaktoleran
glukosa dengan meningkatnya usia. Masalah analitik dan intrumental menghambat suatu
usaha pembuktian adanya hubungan langsung seperti itu pada manusia.
Di dalam tubuh manusia dewasa pada umumnya mengandung 0,4 mg hingga 6 mg
Chromium, dengan kadar yang lebih rendah umumnya dimiliki oleh individu yang berusia
lanjut. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa perean trace element
chromium penting bagi tubuh karena chromium sangat membantu melindungi tubuh terhadap
resiko diabetes. Namun, elemen chromium ini sukar diserap usus dan dibuang lewat usus dan
ginjal. Semakin bertambah usia, semakin buruk pula penyerapan chromium oleh usus. Selain
itu, pada kenyataannya, mereka yang berusia lanjut ternyata berisiko kekurangan chromium
di dalam tubuh, seperti tercantum pada The British Journal of Nutrition. Hal ini disebabkan
karena mereka yang berusia lanjut lebih banyak mengalami kehilangan chromium melalui
urine. Kehilangan chromium ini sendiri berhubungan dengan meningkatnya pengeluaran
chromium seiring dengan bertambahnya usia dan asupan chromium pada mereka yang
berusia lanjut juga diketahui lebih rendah. Padahal, kekurangan chromium dapat mengganggu
metabolisme glukosa, metabolisme lemak, dan kerja hormon insulin seperti tercantum pada
jurnal Metabolism: Clinical and Experimental. Akibatnya, tingkat risiko penyakit diabetes
dan penyakit jantung pun meningkat.
Dalam beberapa studi kesehatan berdasarkan variasi geografis (tempat tinggal),
ditemukan adanya hubungan yang kuat antara asupan gizi Chromium dengan penyakit
Nama: Ghrena Amadea M. A.
NIM:
1161050035
diabetes dan jantung. Di tempat yang masyarakatnya mengkonsumsi cukup Chromium,
jumlah penderita diabetes dan jantung jauh lebih sedikit daripada tempat yang masyarakatnya
tidak mengkonsumsikan cukup Chromium.
Kebutuhan nutrien yang tergolong essential trace mineral (mineral penting yang
dibutuhkan dalam jumlah kecil) ini sangat sedikit hingga sering tak diperhitungkan padahal
zat ini sangat diperlukan bagi hampir semua jaringan tubuh manusia, termasuk kulit, otak,
otot, limpa, ginjal dan testis. Kromium berasal dari bebatuan dalam perut bumi dan hanya
tumbuh-tumbuhan yang bisa langsung menyerap mineral dari tanah. Kandungan kromimum
dalam tanaman bergantung pada jenis tanaman, kandungan kromium tanah dan musim.
Cukup konsumsi makanan hidup seperti buah-buahan segar dan sayuran dan makanan
alami lainnya setiap hari dapat menghindari resiko kekurangan kromium.
Tetapi karena banyaknya penggunaan zat-zat kimia dan pengoalahan yang berlebihan
menyebabkan jumlah kromium berkurang. Kekurangan kromium dapat menyebabkan
kelelahan, kegelisahan, diabetes, gangguan metabolisme asam amino dan meningkatkan
resiko aterosklerosis.
Salah satu faktor yang disalahkan adalah pola diet tinggi karbohidrat yang
diolah(refined) seperti kue, es krim, sirop kaya sukrosa, karena makanan sejenis itu selain
miskin krom, juga menguras kandungan krom tubuh. Dari berbagai penelitian di banyak
negara pada dekade terakhir, asupan dietetik krom jauh di bawah anjuran (Mervyn L,1980).
Sehingga penyakit defisiensi krom sering terjadi.
Patogenesis defisiensi krom
Pada pasien defisiensi krom, lebih dari 90% asupan krom di bawah dosis yang
dianjurkan (Anderson RA, Kozlovsky AS, 1985). Pada karbohidrat yang diolah (refined),
elemen nutriennya telah banyak hilang sehingga dapat menguras krom tubuh
(WHO,1973)Lazimnya dibutuhkan bertahun-tahun sebelum muncul tanda kekurangan
kromium (Richard A).
Menurut penelitian, kromium dibutuhkan untuk pengobatan penderita diabetes.
Sebab:
Kadar kromium menjadi faktor penentu utama dalam sensitivitas insulin, sebagai pengatur
transportasi gula di dalam tubuh.Kromium berperan untuk mengendalikan metabolisme
insulin dalam tubuh, sehingga disebut faktor pengendali kadar gula darah (glucose
tolerance factor / GTF).
Kromium terlibat dalam pengaturan gula darah, baik ketika kekurangan maupun kelebihan
gula di dalam tubuh. Percobaan pada hewan menunjukan bahwa kekurangan krom dapat
Nama: Ghrena Amadea M. A.
NIM:
1161050035
menyebabkan gangguan toleransi terhadap glukosa, walaupun konsentrasi insulin normal.
Dalam keadaan berat defisiensi krom dapat menunjukkan sindroma mirip diabetes.
Insulin bertindak seperti usher, berfungsi membuka pintu agar glukosa dapat masuk ke
dalam sel. Dan sel membutuhkan glukosa untuk memproduksi energi. Namun, pada
penderita diabetes proses metabolismenya kolaps, gula darah banyak terdapat di dalam
darah. Karena terlalu tingginya sehingga glukosa berlebihan dan dilepaskan melalui urine.
Gula yang banyak terdapat di dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga sel
meminta gula. Hormon insulin yang bisa membukakan pintu agar gula dapat masuk tidak
bekerja sebagaimana seharusnya.
Krom bekerja sama dengan pelepasan dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam
sel-sel, dengan demikian dalam pelepasan energi. Krom diduga merupakan bagian dari
ikatan organik faktor toleransi terhadap glukosa (glucose tolerance factor) bersama asam
nikotinat dan glutation.
Konsentrasi krom di dalam jaringan tubuh menurun dengan umur, kecuali pada jaringan
paru-paru yang justru meningkat. Dengan adanya kromium ini pemanfaatan insulin tubuh
lebih efisien dan keseimbangan kadar gula darah terjaga. Kromium juga membantu proses
pencernaan protein dan lemak.
Penelitian membuktikan bahwa kromium dapat menurunkan kadar trigliserid dan
kelebihan total kolesterol darah, sekaligus memperbaiki rasio LDL (kolesterol jahat) dan
HDL (kolesterol baik).
Penyerapan kromium oleh tubuh cenderung lamban, tetapi keluarnya dari tubuh malah
sebaliknya, sangat mudah. Karena itu resiko kelebihan atau keracunan jarang
terjadi.walaupun belum ada angka resmi kecukupan kromium, tetapi kemampuan tubuh
menyerap kromium hanya 2 % sehingga sedikitnya diperlukan 100-200 mcg kromium per
hari dari makanan.
Kromium dalam Metabolisme Tubuh
Kromium termasuk logam mineral yang jumlahnya sedikit, baik dalam makanan
maupun pada tubuh manusia, tetapi sangat penting bagi kesehatan. Nutrien ini tergolong
essential trace mineral ( mineral penting yang dibutuhkan dalam jumlah kecil ) karena tidak
dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan sehari-hari. Semakin
sedikit kebutuhannya, keberadaan mineral ini sering tak diperhitungkan oleh para ahli gizi.
Kromium diperlukan oleh hampir semua jaringan tubuh manusia, termasuk kulit, otak, otot,
limpa, ginjal dan testis.Di dalam tubuh, kromium berfungsi membantu proses metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein.
Fungsi Kromium secara umum dalam tubuh adalah :
Nama: Ghrena Amadea M. A.
NIM:
1161050035
a. Menjaga keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan efisiensi kerja insulin.
b. Chromium sering disebut sebagai Glucose Tolerance Factor (faktor pengendali kadar
gula darah) dibutuhkan pada proses pengolahan glukosa menjadi energi.
c. Membantu menurunkan berat badan dengan cara membakar lemak menjadi energi.
d. Menurunkan kolesterol dan trigliserid sehingga dapat menjaga kesehatan jantung.
e. Meningkatkan massa otot sehingga dapat membentuk otot yang ideal.
f. Membantu sintesa kolesterol, lemak dan protein serta meningkatkan jaringan otot.
Kromium dapat menurunkan kolesterol dengan menurunkan kadar trigliserid dan
kelebihan total kolesterol darah, sekaligus memperbaiki rasio LDL (kolesterol jahat) dan
HDL (kolesterol baik). Selain itu, kromium termasuk salah satu mineral yang berperan
mengendalikan metabolisme insulin dalam tubuh sehingga dianggap sebagai faktor
pengendali kadar gula darah ( glucose tolerance factor / GTF ). Krom bekerja sama dengan
insulin dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel-sel, dengan demikian pelepasan
energi dapat berlangsung. Krom diduga merupakan bagian dari ikatan organik faktor toleransi
terhadap glukosa (glucose tolerance factor) bersama asam nikotinat dan glutation. Dengan
kecukupan kromium dalam tubuh akan lebih efisien memanfaatkan insulin dan keseimbangan
kadar gula darah dapat terjaga. Kromium juga dapat mengurangi risiko penyakit
kardiovaskular, bahkan membantu menurunkan berat badan.

Pencernaan dan Penyerapan:

Krom dalam bentuk Cr+++ diabsorbsi sebanyak 10% hingga 25%. Bentuk lain krom
hanya diabsorbsi sebanyak 1%. Mekanisme absorbsi belum diketahui dengan pasti. Absorbsi
dibantu oleh asam-asam amino yang mencegah krom mengendap dalam media alkali usus
halus.

Jumlah yang diabsorbsi tetap hingga konsumsi sebanyak 49 ug, setelah itu ekskresi
melalui urin meningkat. Ekskresi melalui urin meningkat akibat oleh konsumsi gula
sederhana yang tinggi, aktivitas fisik berat atau trauma fisik

Penyerapan kromium oleh tubuh cenderung lamban, tetapi keluarnya dari tubuh
malah sebaliknya, sangat mudah. Karena itu resiko kelebihan atau keracunan jarang
terjadi.walaupun belum ada angka resmi kecukupan kromium, tetapi kemampuan tubuh
menyerap kromium hanya 2 % sehingga sedikitnya diperlukan 100-200 mcg kromium per
hari dari makanan.
Nama: Ghrena Amadea M. A.
NIM:
1161050035
Metabolisme:

Seperti halnya besi, krom diangkut oleh transferin yang terdapat pada mitokondria
hati, mikrosom, dan sinositol. Bila tingkat kejenuhan transferin tinggi, krom dapat diangkut
oleh albumin.