Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PERKEMBANGAN MANUSIA

PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL PADA MASA ANAK ANAK


AKHIR

DISUSUN OLEH :

1. ASRI DIAH KUSUMAWATI (P27228015 070)


2. FERANITA AGUS SETIANI (P27228015 082)
3. ILHAM RIPALDI (P27228015 089)
4. RETNO TRI INDIYANI (P27228015 103)
5. VIVI AGUSTIN PERMATASARI (P27228015 114)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN

KESEHATAN SURAKARTA

JURUSAN OKUPASI TERAPI

PRODI DIV OKUPASI TERAPI

2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan hidayah serta taufik-Nya karena atas berkat dan rahmat-Nyalah
kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul PERKEMBANGAN
SOSIOEMOSIONAL PADA MASA ANAK ANAK AKHIR.
Tentu saja dalam penyelesaian makalah ini, kami tidak lupa menghaturkan ucapan
terima kasih khususnya kepada,
1. Ibu Lis Sarwi Hastuti,M.Sc selaku dosen mata kuliah Perkembangan
Manusia yang telah memberikan arahannya, sehingga makalah ini dapat
terselesaikan
2. Teman teman mahasiswa prodi DIV Okupasi Terapi yang telah
membantu kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan tepat pada
waktunya.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu
kami mohon saran dan kritik dari pembaca demi menyempurnakan makalah ini di
kemudian hari. Atas kritik dan sarannya kami mengucapkan terima kasih.

Surakarta, Maret 2016

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

Emosionalitas ( emosionaliteit ) adalah mudah atau tidaknya perasaan


seseorang terpengaruh oleh suatu kesan.
Sedangkan perasaan adalah : gejala psikis yang bersifat subyektif yang umumnya
berhubungan dengan gejala mengenal, pengalaman senang dan tidak senang
dalam berbagai taraf.
Pengalaman emosional yang sesuai pada tiap tahap merupakan dasar
perkembangan kemampuan koginitif, sosial, emosional, bahasa, keterampilan dan
konsep dirinya di kemudian hari. Tahapan tersebut saling berkesinambungan,
tahapan yang lebih awal akan mempersiapkan tahapan selanjutnya.

Tahapan perkembangan emosi tersebut adalah:

1. REGULASI DIRI DAN MINAT TERHADAP LINGKUNGAN

Kemampuan seorang anak dalam meregulasi diri dan minat


terhadap lingkungan sangat beragam. Bila anak belum memiliki regulasi
diri maka anak tersebut bisa saja akan tenggelam dalam usahanya
mencari rangsang yang dibutuhkannya atau sebaliknya menghindari
rangsang yang membuatnya tidak nyaman.

Kemampuan yang dimiliki anak seperti dibawah ini :

1. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang dalam lingkungan


sedikitnya selama 3 detik
2. Bisa tenang dan terfokus pada sesuatu sedikitnya 2 menit
3. Pulih dari kondisi tidak menyenangkan dalam 20 menit dengan bantuan
4. Menunjukkan minat terhadap pengasuh, tidak hanya terhadap benda.

2. KEAKRABAN-KEINTIMAN
Kemampuan anak untuk terlibat dalam suatu relasi yang hangat,
akrab, menyenangkan dan penuh cinta.

Kemampuan yang dimiliki anak seperti dibawah ini :

1. Menunjukkan respon terhadap tawaran pengasuh (dengan senyum,


kerenyit, vokalisasi, meraih dan tingkah laku bertujuan yang lain)
2. Menunjukkan respon terhadap tawaran pengasuh dengan rasa senang yang
nyata
3. Menunjukkan respon terhadap tawaran pengasuh dengan rasa ingin tahu
dan minat asertif (misalnya dengan mengamati wajah)
4. Bisa mengantisipasi bahwa benda yang ada jadi hilang dari pandangannya
(misalnya dengan tersenyum atau berceloteh untuk menunjukkan minat)
5. Menunjukkan rasa tidak suka bila didiamkan/tidak direspon selama
sedikitnya 30 detik saat bermain
6. Memprotes dan mulai marah saat frustrasi
7. Pulih dari kondisi tidak menyenangkan dalam 15 menit dengan bantuan.

3. KOMUNIKASI DUA ARAH

Kemampuan anak untuk terlibat dalam komunikasi dua arah,


menutup siklus komunikasi (aksi-reaksi). Komunikasi di sini tidak harus
verbal, yang penting ia bisa mengkomunikasikan intensi/tujuannya dan
kemudian mengenal konsep sebabakibat (berpikir logis) dan konsep diri.

Kemampuan yang dimiliki anak seperti dibawah ini :

1. Menunjukkan respon terhadap gestures pengasuh dengan gestures


bertujuan (misalnya meraih ingin digendong bila tangan kita terentang,
menatap atau berceloteh bila diajak bicara)
2. Memulai interaksi dengan pengasuh (misalnya memegang hidung/rambut
anda, mengulurkan tangan ingin digendong)
3. Menunjukkan emosi akrab/kedekatan (balas memeluk, meraih ingin
digendong bila tangan terentang), kegembiraan dan kegairahan (tersenyum
senang saat mengambil mainan dari mulut anda dan memasukkannya ke
mulutnya sendiri), rasa ingin tahu yang asertif (menyentuh dan mengelus
rambut anda), memprotes dan marah (mendorong
makanan di atas meja sampai jatuh, menjerit bila mainan yang diinginkan
tidak diberikan) , takut (membalik/menjauh, tampak ketakutan, menangis
bila orang tak dikenal mendekatinya terlalu tiba-tiba)
4. Pulih dari rasa tidak senang dalam 10 menit dengan terlibat dalam
interaksi sosi

4. KOMUNIKASI KOMPLEKS

Mampu memahami pola karakter dan tingkah laku orang lain


sehingga mulai memahami apakah tingkah lakunya disetujui atau tidak,
akan dipuji atau diejek, dll sehingga mulai berkembang kemampuan
memprediksi kejadian dan kemudian mengarah pada kemampuan
memecahkan masalah berdasarkan keurutan logis
sebabakibat (berpikir logis) dan konsep diri.

Kemampuan yang dimiliki anak seperti dibawah ini :

1. Menutup sedikitnya 10 siklus komunikasi secara berkelanjutan (misalnya


memegang tangan anda. menuntun ke lemari es, menunjuk, berceloteh,
berespon terhadap pertanyaan anda dengan celoteh dan gestures,
meneruskan pertukaran gestural sampai anda membuka pintu lemari es dan
mengambil apa yang diinginkannya)
2. Menirukan tingkah laku pengasuh dengan bertujuan (misalnya memakai
topi ayah dan berjalan berkeliling menunggu pujian)
3. Menutup sedikitnya 10 siklus dengan vokalisasi atau kata, ekspresi wajah,
saling menyentuh/memeluk, bergerak dalam ruang, aktifitas motorik
(kejar-kejaran) dan komunikasi dengan jarak yang jauh (di ruangan yang
luas ada jarak antara dirinya dan pengasuh)
4. Pulih dari rasa tidak senang dengan meniru tingkah laku (membanting-
banting kaki ke lantai atau membalas teriak bila dibentak).

5. IDE EMOSIONAL
Kemampuan anak untuk menciptakan ide, mengenal simbol,
termasuk bahasa yang melibatkan emosi. Kemampuan menciptakan ide
awalnya berkembang melalui permainan pura-pura yang memberikan
kesempatan bereksperimen dengan perasaan, keinginan dan harapan.
Kemampuan yang dimiliki anak seperti dibawah ini :

1. Bermain pura-pura dengan sedikitnya 2 ide yang bisa saja belum terkait
(mobil tabrakan, memuat batu di mobil itu, memeluk boneka kemudian
pura-pura minum teh)
2. Menggunakan kata-kata, gambar, gestures untuk mengungkapkan
sedikitnya 2 ide sekaligus, tidlak harus berhubungan ('nggak bobok, main')
3. Mengkomunikasikan keinginan, intensi dan perasaannya dengan katakata,
beberapa gestures sekaligus, sentuhan (pelukan)
4. Bermain permainan motorik dengan aturan yang sederhana (bergiliran
melempar bola)
5. Pulih dari rasa tidak senang dengan main pura-pura (pura-pura makan kue
yang tidak boleh dimakannya).

6. BERPIKIR EMOSIONAL

Kemampuan anak untuk menciptakan kaitan antar berbagai ide


sehingga mampu berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas. Mampu
mengekspresikan berbagai emosi dalam bermain, memprediksi perasaan
dan akiba' dari suatu aktifitas, mengenal konsep ruang, waktu serta bisa
memecahkan masalah secara verbal dan memiliki pendapatnya sendiri.
Bila anak bisa mencapai kemampuan ini maka ia akan siap belajar berpikir
abstrak dan mempolajari strategi berpikir.

Kemampuan yang dimiliki anak seperti dibawah ini :

1. Bermain pura-pura dengan mengkaitkan sedikitnya 2 ide secara logis,


walau
kadang-kadang ide itu sendiri tidak realistik (misalnya dengan mobil
berkunjung ke bulan, dengan cara terbang cepat sekali)
2. Mengembangkan ide bermain pura-pura orang dewasa (misalnya anak
memasak sup, ditanya apa yang dimasak, dijawabnya "batu-batu dan
ranting-ranting")
3. Berbicara dengan ide-ide yang saling terkait secara logis dan realistik
("nggak mau tidur, mau nonton tv")
4. Menutup sedikitnya 2 siklus konunikasi verbal ("mau pergi ke luar"
ditanya kenapa, dijawabnya "mau main")
5. Berkomunikasi secara logis, mengaitkan sedikitnya 2 ide mengenai
intensi, keinginan, kebutuhan, perasaan dengan kata-kata, beberapa
gestures (pura-pura jadi anjing yang marah) dan sentuhan (sering memeluk
sebagai bagian dari drama ketika anak menjadi ayah)
6. Bermain motorik dan spasial dengan aturan (bergantian meluncur)
7. Menggunakan permainan pura-pura atau kata-kata
8. Pulih dari rasa tidak senang dengan bermain pura-pura yang memiliki
keurutan logis, kadang mengisyaratkan cara menghadapi masalah
(misalnya, anak menjadi guru yang sok mengatur kelas).

EMOSI BERPERANAN BANYAK DALAM PROSES BERPIKIR ANAK

mengarahkan aksi dan tingkah laku

memungkinkan mengontrol tingkah laku

memberi arti terhadap pengalaman

menyimpan, mengorganisasi dan mengingat kembali pengalaman

menggagas pengalaman baru

memecahkan masalah

berpikir kreatif, selektif, logis, tidak idiosinkretik (aneh)

memahami kalimat lisan maupun tulisan ('rasa' bahasa)


memahami konsep kuantitas, waktu, ruang, sebab-akibat yang bersifat
'relatif

membentuk konsep diri, pengertian atas diri (dengan membandingkan

perasaan dengan situasi yang dialaminya)

memisahkan realitas dan fantasi

mengendalikan tingkatan perkembangan emosi, sosial dan intelektual

GANGGUAN EMOSIONAL PADA MASA KANAK-KANAK

1. Kebrutalan atau kebringasan


Anak nampak pada perilakunya mereka menunjukkan suatu perbuatan
yang sering kali memerlukan bantuan orang lain. Misalrya berkelahi,
membohong, mencuri, merusak hak milik dan merusak aturan yang
berlaku. Bentuk-bentuk tindakan tersebut merupakan ekspresi yang keluar
dari emosional yang terganggu. Setiap perilaku anti sosial yang kronis
harus dianggap sebagai suatu tanda adanya emosional yang terganggu.
2. Gangguan Kecemasan
Berbagai gangguan kecemasan dimulai pada masa kanak-kanak.
Gangguan keinginan tersebut dapat berupa gangguan keinginan terpisah
dan ketakutan (phobia) sekolah. Gangguan keinginan terpisah dari orang
yang terdekat disebabkan berbagai hal yang berbeda-beda dan dnpnt
berakibat anak mengalami sakit kepala.
3. Takut Sekolah
Suatu ketakutan yang tidak realistis adalah apabila seorang anak tidak mau
sekolah, mungkin kondisi semacam ini juga merupakan keinginan
terpisah. Ketakutan terhadap guru yang keras dan galak atau mendapat
tugas yang berat di sekoiah. Ketakutan anak tersebut adalah wajar, hal ini
bukannya disebabkan oleh anak, melainkan lingkungan yang tidak
kondusif.
4. Kematangan Sekolah
Kematangan sekolah merupakan suatu kondisi di mana anak telah
memiliki kesiapan cukup memadai, baik dilihat dari fisiknya maupun
mental, untuk dapat memenuhi tuntutan pendidikan formal. Dalam
hubungan tuntutan yang bertalian dengan aspek penguasaan materi atau
bahan pelajaran, dan kemampuan membina interaksi antara teman-teman
sebaya, baik teman satu kelas maupun teman dari kelas lain, berinteraksi
dengan guru, kepala sekolah, dan personil sekolah lainnya.
5. Depresi pada masa Kanak-Kanak
Gangguan depresi dapat mengakibatkan anak tidak suka bersenang-senang
tidak dapat berkonsentrasi dan menunjukkan berbagai reaksi emosional
yang tidak normal. Anak-anak yang mengalami depresi sedikit sekali suka
berjalan atau berteriak. Gejala-gejala depresi antara lain: gangguan
konsentrasi, tidur kurang, selera makan kurang, mulai berbuat kejelekan di
sekolah tidak merasa bahagia, selalu mengeluh karena penyakit jasmani
yang dideritanya, selalu merasa bersalah.

PERAWATAN PROBLEMA EMOSIONAL

Pilihan untuk perawatan secara khusus untuk gangguan tertentu


sangat tergantung pada berbagai faktor, misalnya problema yang bersifat
alamiah, kepribadian anak. kesediaan orang tua untuk berpartisipasi,
kemudahan diperolernya perawatan dalam masyarakat sosial ekonomi
orang tua dan orientasi profesional pada pertama kali berkonsultasi.

A. Beberapa jenis Terapi

Perawatan secara psikologis dapat dilakukan dengan beberapa cara:


pertama terapi secara individual, yaitu dengan melihat anak satu persatu,
membantu agar anak dapat mengenal dirinya atau kepribadiannya dan
hubungannya dengan orang lain, dan mengintepretasikan perasaan dan
perilaku anak. Psikoterapi anak biasanya akan lebih efektif apabila
dikombinasikan dengan memberikan konsultasi pada orang tuanya.

1. Terapi jangka pendek dan jangka panjang


Terapi merupakan penetapan sistematik dari sekumpulan prinsip
belajar terhadap suatu kondisi atau perilaku yang dianggap menyimpang,
dengan tujuan melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud dapat
berarti menghilangkan, mengurangi, meningkatkan atau memodifikasi
suatu Kondisi atau perilaku tertenlu. Secara umum, terdapat dua jenis
terapi utama, yaitu pertama, terapi yang dilakukan dalam jangka pendek,
biasanya berkaitan dengan masalah ringan, yang dapat diselesaikan dengan
metode memberikan dorongan (encouragement), dukungan, memberi ide-
ide bagus, menghibur atau membujuk anak agar mau berbuat sesuatu.
Kedua, dilakukan dalam jangka waktu panjang, yaitu bertalian dengan
berbagai masalah yang memerlukan keteraturan dan kontinuitas demi
terciptanya perubahan perilaku anak. Sebagai contoh dapat dikemukakan
antara lain terapi bermain dan terapi keluarga.
2. Terapi bermain
Terapi ini berusaha mengubah perilaku anak yang bermasalah,
dengan menempatkan anak dalam situasi bermain. Untuk pelaksanaannya
biasanya disediakan ruangan khusus yang telah diatur sedemikian rupa
sehinggi anak bisa bersantai, dan dapat mengekspresikan segala perasaan
dengan bebas. Dengan metode ini dapat diketahui permasalahan yang
sedang dihadapi oleh seorang anak, selanjutnya diusahakan suatu metode
yang tepat bagaimana mengatasi atau memecahkan masalah tersebut.
3. Terapi keluarga
Terapi ini berusaha mengubah perilaku anak yang memiliki
permasalahan dalam lingkungan keluarga saling akrab satu sama lain
saling cinta mencintai saling mendukung atau menggambarkan bantuan
dengan penuh pengertian. Oleh karena itu untuk melaksanakan terapi ini
perlu kehadiran seluruh keluarga, atau minimal anggota keluarga yang
paling dekat dengan anak tersebut. Dalam ha! ini usaha pembinaan dan
bimbingan dari keluarga yang lebih tua sangat dibutuhkan.
4. Terapi perilaku atau modifikasi perilaku
Metode ini diterapkan dengan mempergunakan teori belajar untuk
mengubah perilaku anak Yaitu dengan menghilangkan perilaku yang tidak
disenangi seperti pemarah, atau mengembangkan keinginan, misalnya
mengerjakan pekerjaan rumah (PR).
5. Efektifitas terapi
Pada umumnya terapi psikologik sangat membantu (RJ Casey &
Berman, 1983). Pada tinjauan (review) 75 hasil studi, diperoleh informasi
bahwa anak-anak yang memperoleh perawatan mendapat skor lebih baik
daripada anak-anak yang tidak memperoleh perawatan. Skor tersebut
diperoleh dari beberapa pengukuran (measures) yang mencakup konsep
diri, penyesuaian, kepribadian, keterampilan sosial kemampuan di sekolah,
fungsi kognitif dan resolusi atas rasa takut dan keinginan.
Perawatan untuk berbagai masalah khusus, misalnya karena terlalu
aktif akan lebih banyak daripada terapi yang tujuannya untuk penyesuaian
sosial yang lebih baik. Tidak seorang pun yang dapat memberikan terapi
secara keseluruhan, misalnya bagi seorang anak atau kelompok atau
perawatan bagi anak dan orang tuanya sekaligus, sebaiknya suatu
perawatan untuk masalah tertentu saja (Tuma, 1989). Obat-obatan dapat
menolong perawatan bagi anak yang menderita gangguan, namun jangan
mengabaikan psikoterapi. Biasanya penggunaan obat-obatan
dikombinasikan dengan perawatan lain agar dapat lebih efektif. Akan
tetapi penggunaan pil untuk mengubah perilaku anak merupakan langkah
yang sangat radikal. Dalam beberapa kasus obat-obatan dapat
menghilangkan gejala perilaku, namun tidak dapat menghilangkan
penyebab penyakitnya. aktivitas oleh raga, dan memenuhi berbagai
kebutuhan emosional orang tuanya.
BAB II

JURNAL PENELITIAN
Judul : Interaksi Sosial pada Anak Periode Late Childhood yang Bekerja
Penulis : Muhammad Ibnu Pradana, S.Psi
Tujuan : Mengetahui penyebab anak pada periode latechildhood untuk
bekerjadan mengetahui proses terbentuknya interaksi sosial yang terjadi
pada anak periode late childhood yang bekerja.
Subjek/sampel : Subjek penelitian berjumlah 2 orang dengan masing-
masing significant othernya.
Metode penelitian : Metode kualitatif karena dengan menggunakan metode
kualitatif peneliti akan mendapatkan data yang lebih
mendalam tentang topik yang akan diteliti.
Ringkasan Isi :
Perkembangan sosial pada periode Late Childhood ditandai dengan
meluasnya lingkungan sosial pada anak dan akan menghasilkan adanya
interaksi sosial. Bentuk-bentuk interaksi menurut Gillin dan Gillin (dalam
Soekanto, 2005) yaitu adanya proses asosiatif yang terdiri dari kerjasama,
akomodasi dan asimilasi. Dan proses disosiatif yang terdiri dari
persaingan, kontravensi dan ertentangan atau konflik.

Syarat-syarat interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan


komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya
hubungan, seperti sentuhan dan kontak mata. Sedangkan komunikasi
merupakan bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama
lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk.

Faktor-faktor interaksi sosial adalah adanya faktor imitasi, faktor


sugesti, identifikasi dan simpati. Faktor imitasi merupakan peranan yang
sangat penting dalam proses interaksi sosial, salah satu segi positifnya
adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-
kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Faktor sugesti berlangsung apabila
seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari
dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Identifikasi dilakukan
orang kepada orang lain yang diangapnya ideal dalam suatu segi untuk
memperoleh sistem norma, sikap, dan nilai yang dianggap ideal, untuk
menutupi kekurangan dalam dirinya. Simpati dilakukan orang kepada
orang lain yang diangapnya ideal dalam suatu segi untuk memperoleh
sistem norma, sikap, dan nilai yang dianggap ideal, untuk menutupi
kekurangan dalam dirinya. Late childhood masuk ke dalam fase anak
sekolah (usia sekolah dasar) dimana anak sudah dapat mereaksi
rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang
menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif seperti
membaca, menulis dan menghitung. (Yusuf, 2001) Dari penjelasan diatas
dapat disimpulkan bahwa yang disebut anak adalah individu antara umur 2
15 tahun yang terbagi menjadi 2 tahapan. Tahapan pertama yang disebut
early childhood (gang-age) yaitu antara umur 2 6 tahun dan yang kedua
yaitu tahapan late childhood (usia sekolah dasar) dimana anak berumur 6
15 tahun.
Ciri-ciri Late Childhood
a. Perkembangan fisik
Menurut Santrock (2002) masa akhir anak-anak meliputi pertumbuhan yang
lambat dan konsisten. Sedangkan menurut teori perkembangan psikoseksual
yang dikembangkan oleh Freud (dalam Riyanti dkk, 1996), periode late
childhood termasuk ke dalam fase periode laten dimana ini adalah masa
tenang, walau anak mengalami perkembangan pesat pada aspek motorik dan
kognitif.

b. Perkembangan intelektual
Menurut Yusuf (2001) pada periode late childhood anak sudah dapat bereaksi
terhadap rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang
menuntut kemampuan kognitif seperti membaca, menulis, dan menghitung.
Sedangkan Hurlock (1996) mengatakan pada masa ini banyak keterampilan-
keterampilan yang mulai terasah, antara lain keterampilan menolong diri,
menolong orang lain, keterampilan bersekolah, dan keterampilan bermain.
c. Perkembangan bahasa
Menurut Yusuf (2001) periode late childhood merupakan masa berkembang
dengan pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata.
Banyaknya kosakata yang dipelajari dan dimiliki menjadi salah satu ciri
perkembangan bahasa pada masa ini antara lain kosakata etiket, warna,
bilangan, uang, waktu, kata populer dan makian serta kosakata simbol atau
rahasia. (Hurlock, 1996)
d. Perkembangan sosial
Perkembangan sosial pada late childhood menurut Monks dkk (2002) ditandai
oleh meluasnya lingkungan sosial. Anak-anak melepaskan diri dari keluarga,
ia makin mendekatkan diri pada orang lain disamping anggota keluarga,
terutama teman sebayanya baik di lingkungan sekolah atau lingkungan
bermain. Menurut Yusuf (2001) pada usia ini anak mulai memiliki
kesanggupan menyesuaikan diri sendiri kepada sikap yang kooperatif (bekerja
sama) atau sosiosentris (memperhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat
berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat
keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok bermain, dia tidak
merasa senang jika tidak diterima dalam kelompoknya.

e. Perkembangan emosi
Menurut Yusuf (2001) perkembangan emosi pada anak periode late childhood
menginjak pada proses kemampuan mengontrol ekspresi emosinya.
Kemampuan mengontrol emosinya diperoleh melalui peniruan dan latihan.
Sedangkan menurut Hurlock (dalam Riyanti dkk, 1996) perkembangan emosi
anak sangatlah dipengaruhi oleh faktor kemasakan dan belajar.
f. Perkembangan moral
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga.
Namun pada periode late childhood karena bersamaan dengan masa sekolah,
maka anak sudah dapat mengikuti pertautan antara tuntutan dari orang tua atau
lingkungan sosialnya. Selain itu anak sudah dapat mengasosiasikan setiap
bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk. (Yusuf, 2001)

Dampak dari anak pada masa late childhood yang bekerja menurut Usman
dan Nachrowi (2004) sangat beragam, dimulai dari aspek fisik, kognitif,
emosional serta sosialnya.
a. Fisik, bekerja dapat mengganggu kesehatan, koordinasi, kekuatan
penglihatan dan pendengaran. Menurut hasil observasi dan penelitian oleh
yayasan Kusuma Buana di Bantar Gebang pemulung 8 13 tahun hampir
semuanya menderita cacingan sehingga mereka kekurangan gizi.
b. kognitif, tidak bisa membaca, kesulitan dalam berhitung, memperoleh
pengetahuan.
c. Emosional, hilangnya harga diri, ikatan keluarga, perasaan dicintai, dan
diterima secara memadai.
d. Sosial, rasa identitas kelompok yang hilang, berkurangnya kemauan untuk
bekerja sama dengan orang lain, tidak mampu membedakan baik dan buruk.

Hasil penelitian : Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mengenai


penyebab kedua subjek bekerja adalah faktor kemiskinan dan permintaan dari
orangtua. Sedangkan Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan Pusat Kajian
dan Perlindungan Anak ditemukan banyak faktor yang menyebabkan anak
terpaksa bekerja. Kemiskinan ditemukan sebagai salah satu penyebab utama
(prime suspect).

Bentuk bentuk Interaksi Sosial:


a). Proses proses asosiatif
1. Kerjasama
Kedua subjek masing masing melakukan kerjasama baik didalam
lingkungan keluarga,sekolah,maupun lingkungan sosial.
2. Akomodasi
akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa
menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak kehilangan
kepribadiannya.
b). Proses proses diasosiatif
1. Persaingan
Kedua subjek melakukan persaingan pada saat bermain untuk mendapatkan
kemenangan.
2. Kontravensi
Subjek pertama membalas cacian yang ditujukan kepada dirinya secara diam-
diam sehingga pihak lawan tidak mengetahuinya. subjek kedua memendam
rasa kesal dan marahnya, lalu menceritakannya kepada orang yang dekat
dengan subjek.
3. Pertentangan
subjek pertama melakukan pertentangan kepada orangtuanya karena dipaksa
bekerja. Subjek tidak ingin bekerja karena malu dengan teman-temannya.
Sedangkan subjek kedua melakukan pertentangan dengan melakukan
perkelahian.
Subjek berkelahi karena ingin meolong temannya yang mendapat hinaan dari
orang lain.
Berdasarkan hasil penelitian dari kedua subjek, dapat diketahui bahwa
kedua subjek melakukan interaksi yang mengarah pada proses proses
asosiatif yaitu kerjasama dan akomodasi. Selain itu juga melakukan interaksi
sosial yang mengarah pada proses-proses yang disosiatif seperti persaingan,
kontravensi, dan pertentangan.Tetapi bentuk-bentuk interaksi yang sering
dilakukan kedua subjek adalah kerjasama.

Faktor-faktor Yang Menyebabkan Subjek Menggunakan


Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
1. Faktor Imitasi
Pada saat subjek pertama bekerjasama dengan ibunya,
subjek melakukan imitasi ketika memasak dan mensortir
sampah bersama. Imitasi yang dilakukan subjek kedua pada
saat bekerjasama ketika subjek membersihkan kelas dan
mengerjakan tugas kelompok.
2. Faktor Identifikasi
Kedua subjek sama-sama melakukan faktor identifikasi, terutama mereka
beridentifikasi terhadap teman-temannya dikarenakan masa anak-anak adalah
masa dimana mereka saling berkelompok.
Subjek pertama melakukan identifikasi pada saat bekerjasama dan bersaing
ketika melakukan sebuah permainan berkelompok.
Subjek kedua melakukan identifikasi karena subjek senang akan kebersamaan
yang terjadi antara subjek dan temannya pada saat bekerjasama. Subjek juga
melakukan identifikasi pada saat bersaing dengan kelompok lain ketika
bermain.
3. Faktor Simpati
Faktor simpati hanya dilakukan oleh subjek kedua. Faktor simpati yang
dilakukan subjek ketika bekerjasama dengan ibunya. Subjek membantu
ibunya karena subjek tidak ingin melihat ibunya sakit-sakitan karena bekerja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada kedua subjek. Faktor-


faktor yang banyak mendorong subjek untuk melakukan bentuk-bentuk
interaksi sosial adalah faktor imitasi dan identifikasi.

Dampak Bekerja terhadap Bentuk-bentuk Interaksi yang Digunakan

Terdapat kesamaan dari dampak bekerja yang dilakukan kedua subjek


terhadap bentuk-bentuk interaksi sosial yang dilakukan. Pekerjaan yang
dilakukan membuat kedua subjek terbiasa untuk bekerjasama baik di rumah,
sekolah, tempat bekerja maupun lingkungan bermainnya.
Kesimpulan : Kedua subjek melakukan pekerjaannya karena permintaaan
orangtuanya mencari nafkah. Bentuk interaksi sosial yang paling
banyak dilakukan oleh kedua subjek yaitu kerjasama. Kedua subjek
selalu melakukan kerjasama setiap harinya dengan semua pihak, baik
dengan keluarga, teman bekerja, teman sekolah, maupun teman di
lingkungan bermainnya.
Faktor-faktor yang mendorong kedua subjek untuk melakukan
bentuk-bentuk interaksi adalahfaktor imitasi dan identifikasi. Bentuk
interaksi kerjasama pada kedua subjek sebagai dampak dari pekerjaan
yang mereka lakukan setiap harinya, karena pada saat bekerja kedua
subjek dituntut untuk bekerja sama oleh orangtua maupun situasi yang
ada pada saat bekerja.

BAB III
JUDUL VIDEO

Perbedaan karakter anak-anak usia akhir 6-12 tahun

https://www.youtube.com/watch?v=y7wlsZXrNLg