Anda di halaman 1dari 25

TAX AMNESTY

TUGAS PAPER

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Akuntansi, kelas B

Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Miqdad S.E., M.M., Ak.

Oleh :

Kelompok 2

Riza Dwi Fitrianingtyas (140810301034)


Intan Fajar Puteri (140810301090)
Denis Nabila (140810301123)
Hening Cahyani (140810301129)
Khoiriana (140810301142)
Siti Sueb Junaroh (140810301171)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas paper mata kuliah Seminar Akuntansi ini.

Terimakasih kami ucapkan atas bimbingan Bapak Dosen beserta teman-


teman Seminar Akuntansi kelas B.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki paper ini.

Akhir kata kami berharap semoga paper tentang tax amnesty ini dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jember, 13 Maret 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3
2.1 Pengertian............................................................................................3
2.2 Tax Ammesty........................................................................................4
2.3 Tax Ammesty di Dunia.........................................................................6
2.4 Tax Ammesty di Indonesia dari Masa ke Masa....................................8
2.5 Latar Belakang Pemerintah Indonesia Menerapkan Tax Ammesty......9
2.6 Kebijakan Tax Ammesty di Indonesia..................................................10
2.7 Kepatuhan Wajib Pajak terhadap Kebijakan Tax Ammesty di
Indonesia.............................................................................................15
KESIMPULAN.....................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu sumber penerimaan terbesar negara Indonesia berasal dari


penerimaan pajak. Pajak menyumbang sekitar 70% dari seluruh penerimaan
negara. Pajak memiliki peran yang sangat vital dalam sebuah negara, tanpa pajak
kehidupan negara tidak akan bisa berjalan dengan baik. Pembangunan
infrastruktur, biaya pendidikan, biaya kesehatan, subsidi bahan bakar minyak
(BBM), pembayaran para pegawai negara dan pembangunan fasilitas publik
semua dibiayai dari pajak. Semakin banyak pajak yang dipungut maka semakin
banyak fasilitas dan infrastruktur yang dibangun.

Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan


peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan
kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Namun pada nyatanya kepatuhan wajib pajak di Indonesia masih tergolong
rendah. Beberapa faktor penyebabnya adalah rendahnya tingkat kesadaran
masyarakat dalam melaksanakan kewajiban penyetoran dan pelaporan pajak,
minimnya jumlah fiskus atau pemeriksa pajak.

Dari 240 juta lebih penduduk Indonesia, jumlah wajib pajak yang terdaftar
masih kurang dari 30 juta orang (atau hanya sekitar 11% dari total penduduk
Indonesia). Dari jumlah tersebut, hanya sepertiganya yang melaporkan SPT PPh
2015 atau kurang dari 10 juta penduduk.

Untuk memaksimalkan penerimaan negara dari sektor pajak, maka


pemerintah kembali menerapkan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty)
yang pernah diterapkan pada tahun 1960an dan tahun 2004. Pada tahun 2016,
pemerintah Indonesia kembali menerapkan kebijakan ini. Dengan adanya

1
kebijakan amnesty pemerintah berharap dapat meningkatkan penerimaan negara
dari sektor pajak

2
Dalam Paper ini kami akan mencoba menjelaskan terkait dengan kebijakan
tax amnesty, mulai dari perkembangan amnesti diindonesia maupun dunia,
kebijakan tax amnesty di Indonesia dan tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap
kebijakan ini.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dibahas dalam Paper
ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud tax amnesty ?


2. Bagaimana perkembangan tax amnesty ?
3. Bagaimana kebijakan tax amnesty di Indonesia ?
4. Bagaimana tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap kebijakan tax
amnesty ?

1.3. Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan Paper ini
adalah:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan tax amnesty
2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan tax amnesty
3. Untuk mengetahui bagaimana kebijakan tax amnesty di Indonesia
4. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap
kebijakan tax amnesty

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
2.1.1. Pajak

UU nomor 28 tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara


Perpajakan menyatakan bahwa pajak adalah kontribusi wajib kepada negara oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
negara sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

2.1.2. Pengampunan Pajak (Tax Amnesty)

Menurut UU Tax Amnesty No 11 tahun 2016 Pengampunan Pajak (Tax


Amnesty) adalah pengampunan atau pengurangan pajak terhadap property yang
dimiliki oleh perusahaan dalam bentuk penghapusan pajak terutang, penghapusan
sanksi pajak terutang, penghapusan sanksi pidana tertentu yang harus diharuskan
membayar dengan uang tebusan. Pengampunan pajak ini bukan hanya properti
yang disimpan di luar negeri tetapi juga berasal dari dalam negeri yang
laporannya tidak diberikan secara benar.

2.1.3. Wajib Pajak

Menurut UU Tax Amnesty No 11 tahun 2016 wajib pajak adalah Wajib Pajak
adalah orang pribadi atau badan yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
Secara umum, setiap wajib pajak yang belum menunaikan kewajiban
perpajakannya diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam program tax amnesty.
Artinya, program tax amnesty ini ditujukan kepada wajib pajak yang telah berada
dalam sistem administrasi perpajakan dan wajib pajak yang belum masuk dalam

3
sistem administrasi perpajakan. Perlakuan yang berbeda dimungkinkan ketika
wajib pajak yang hendak berpartisipasi dalam program tax amnesty telah diperiksa
atau sedang dalam proses pemeriksaan. Dalam hal ini, wajib pajak yang telah
diperiksa atau sedang dalam proses pemeriksaan tersebut tidak diperbolehkan
berpartisipasi dalam program tax amnesty karena jumlah tunggakan pajaknya
telah diketahui oleh otoritas pajak. Wajib pajak juga dapat diberikan
pengampunan jika ketentuan peraturan perundang-undangan menyatakan wajib
pajak yang mengungkapkan kewajiban perpajakan atau harta kekayaannya secara
sukarela berhak mendapatkan penurunan atau penghapusan sanksi administrasi.

2.2. Tax Amnesty

Tax amnesty adalah suatu kesempatan waktu yang terbatas pada kelompok
pembayar pajak tertentu untuk membayar sejumlah tertentu dan dalam waktu
tertentu berupa pengampunan kewajiban pajak (termasuk bunga dan denda) yang
berkaitan dengan masa pajak sebelumnya atau periode tertentu tanpa takut
hukuman pidana.

Tax amnesty dapat digunakan secara sistematis sebagai mekanisme


diskriminatif untuk meningkatkan efisiensi atau bahkan ekuitas dari sistem pajak.
Namun, apabila kredibilitas dari tax amnesty tersebut kurang, amnesty sebenarnya
melemahkan penerimaan pajak di masa depan. Tax amnesty dapat diberikan oleh
otoritas daerah maupun pusat. Manfaat tax amnesty bagi penggunanya terkadang
juga meluas untuk masa depan seperti dapat mengurangi wajib pajak di masa
depan. Aspek penting dari tax amnesty adalah informasi yang diberikan oleh
penggunanya yang berfungsi untuk mangatur pembayaran pada masa depan (Carla
Marchese, 2014).

Pengampunan pajak diharapkan menghasilkan penerimaan pajak yang


selama ini belum atau kurang bayar, hal ini kedepannya dapat meningkatkan
kepatuhan membayar pajak. Dengan kata lain kebijakan ini berpotensi tinggi
dapat meningkatkan subyek pajak maupun obyek pajak (subyek pajak dapat
berupa kembalinya dana-dana yang berada di luar negeri, sedangkan dari sisi
obyek pajak berupa penambahan jumlah wajib pajak).

4
Namun terdapat kelemahan apabila diterapkan pengampunan pajak (tax
amnesty) yaitu tidak serta merta menjamin peningkatan kinerja setoran pajak ke
kas negara. Hal ini dikarenakan adanya beberapa pengusaha yang melakukan
penyelewengan, manipulasi data aset yang dimiliki, dan melkukan penggelapan
pajaknya.

Dalam teori keberhasilan tax amnesty bergantung pada peningkatan


pemeriksaan pajak, pengenaan efisiensi penegakan pajak dan hukum terkait
lainnya dan organisasi yang lebih baik dari administrasi pajak. Efek jangka
pendek dari tax amnesty adalah peningkatan kepatuhan pajak. ini disebabkan oleh
pengungkapan penghasilan pajak dan wajib pajak dari perekonomian informal.
Deteksi penghasilan kena pajak dan pajak tidak diketahui, sehingga meningkatkan
kepatuhan pajak dalam jangka berikutnya. Sehingga mereka tidak akan berbohong
dan melarikan dri dari pajak berikutnya. Dalam jangka panjang mengurangi
kesediaan wajib pajak untuk mematuhi kewajiban mereka. Sehingga tax amnesty
dapat meningkatkan penipuan pajak. Oleh karena itu tax amnesty mungkin
berguna untuk negara-negara yang ingin beralih dari satu sistem ke sistem
lainnya.

Carla Marchese di dalam jurnalnya menjelaskan kelompok-kelompok yang


tidak mendukung adanya tax amnesty. Dengan alasan efisiensi, argumen utama
dalam tax amnesty adalah bahwa kredibilitas mungkin timbul mengenai
kemampuan atau komitmen negara untuk menegakkan hukum pajak. Tax amnesty
dapat mengurangi kesediaan wajib pajak secara keseluruhan untuk membayar,
baik melalui kepatuhan biasa atau melalui pengampunan pajak. Selama
pemerintah tidak memiliki komitmen untuk menegakkan hukum pajak, fungsi dari
pengampunan pajak tidak akan berjalan apabila kredibilitas ancaman hukuman
juga kurang. Sebagian kritikus memiliki pandangan bahwa tax amnesty tidak
dapat diterima karena tax amnesty memperkenalkan perlakuan yang diskriminatif
terhadap warga sesuai penegakan hukum. Tidak semua orang yang mengajukan
untuk pengampunan pajak adalah pengelak pajak.

Carla Marchese juga menjelaskan kelompok-kelompok yang mendukung


tax amnesty terdapat gagasan bahwa tax amnesty dapat mendorong untuk

5
mengurangi pelanggaran dan menumbuhkan rasa untuk berperilaku kooperatif
yang berguna untuk masa depan. Pengguna tax amnesty dapat dibenarkan jika itu
adalah demi kepentingan terbaik dari wajib pajak untuk memperbaiki
perekonomiannya. Bagi kelompok yang setuju dengan adanya tax amnesty juga
berpendapat bahwa tax amnesty dapat meningkatkan efisiensi ketika tax amnesty
dirancang sebagai kebijakan yang optimal di bidang perpajakan.

Alm, McKee, dan Beck (1990), dalam sebuah studi eksperimental


menemukan bahwa kepatuhan menurun setelah dilakukan amnesti (sendiri), tapi
naik jika amnesti diselaraskan dengan ketatnya pelaksanaan.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, ada lima kunci
kebijakan untuk menyukseskan tujuan tax amnesty. Pertama, tax amnesty harus
dirancang sebagai titik tolak dari sistem perpajakan yang baru melalui rekonsiliasi
data atau tax reform . Kedua, Direktorat Jenderal Pajak harus memiliki data akurat
dan membangun administrasi perpajakan yang kuat dan efektif. Wajib pajak yang
mendapat amnesti harus dipantau secara ketat. Bahkan harus dipersiapkan
peningkatan audit dan pengenaan sanksi yang lebih berat bagi wajib pajak yang
mengabaikan kesempatan untuk diamnesti. Ketiga, kebijakan ini harus bersifat
mengikat bagi semua pengaju pengampunan pajak dengan pelaksanaan yang
jelas. Keempat, pengampunan pajak seharusnya dilakukan secara mendadak
dengan durasi yang sangat singkat, yakni maksimal setahun. Dan kelima,
kebijakan ini harus diikuti dengan penindakan hukum yang tegas untuk menjamin
efektivitas pengampunan yang akan diberikan.

2.3. Tax Amnesty di Dunia

Program tax amnesty (pengampunan pajak) telah dilakukan banyak negara,


baik oleh negara maju maupun negara berkembang dengan berbagai cerita sukses
maupun kegagalan. Kebijakan amnesty pajak sudah ditawarkan di hampir seluruh
Negara bagian amerika serikat sejak tahun 1980. Sebanyak 42 negara telah siap
untuk kebijakan ini termasuk Louisiana, Arizona, Connecticut, Florida,
Massachusetts, Missouri, New Jersey, dan New York. Dari tahun 1980 sampai
2004 total 78 program amnesti telah diperkenalkan oleh negara bagian AS.

6
Jumlah amnesti pajak per tahun di AS pada rentang tahun 1982-2004 bahwa
pada awal penerapan kebijakan tax amnesty ini akan sangat banyak jumlah wajib
pajak yang melakukan atau melaporkan hartanya pada gelombang pertama
pertengahan tahun 1980an kemudian semakin menurun dan kembali meningkat
setelah beberapa tahun kemudian hingga tahun 2004.

Dalam penerpannya di Amerika Serikat, kebijakan tax amnesty mampu


meningkatkan penerimaan pajak hingga ratusan juta dolar, yang sulit diperoleh
atau bahkan akan hilang sama sekali. Tax amnesty terbukti mampu meningkatkan
jumlah pembayaran pajak. Dalam hal ini, instansi yang menangani penerimaan
negara telah mengestimasi bahwa tax amnesty yang dipublikasikan dengan baik,
dengan dukungan penegakan hukum yang lebih ketat atas peraturan perpajakan,
dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Dalam makalah Eric Le Borgne ini dipaparkan mengenai factor-faktor


penentu amnesty pajak untuk Negara AS, kemudian berikut ini adalah alasan
utama diperkenalkannya amnesty pajak :

1. Untuk meningkatkan pendapatan jangka pendek Negara


2. Untuk meningkatkan kepatuhan (misal untuk mendorong kemauan wajib
pajak untuk melaporkan dan membayar pajak, pengembalian berkas,
mendaftar sebagai wajib pajak,dll) sehingga membantu Negara untuk
menerima pendapatan jangka menengah.
3. Memungkinkan wajib pajak yang belum mendaftar menjadi terdeteksi dan
bersedia berpartisipasi dalam amnesty pajak.

Di AS sendiri dari $ 6,6 miliar pada keseluruhan pendapatan amnesti bruto


negara selama 1980-2004, 92 persen berasal dari program-program yang
memungkinkan wajib pajak dengan piutang untuk berpartisipasi. Kemudian kunci
lain dalam meningkatkan pendapatan Negara adalah dengan meningkatkan
pengiklanan amnesty pajak dan deteksi administrasi dan penegakan hukumnya.
Meskipun pada kenyataannya tingkat keberhasilan dari tax amnesty ini dukur
berdasarkan factor pendapatan secara langsung (pendapatan jangka pendek) dari
hasil penerapan kebijakan tersebut. Sedangkan keuntungan bersih jangka pendek,
kepatuhan jangka panjang, dan efek dari pendapatan tidak diperhitungkan.

7
Dalam kasus tax amnesty negara Afrika Selatan, antusias masyarakat Afrika
Selatan dengan adanya fasilitas amnesti ini sangat besar, hal ini ditunjukan dengan
keberhasilan pemerintah Afrika Selatan mengumpulkan total penerimaan uang
tebusan tax amnesty mencapai 2,2 miliar And melalui kebijakan tax amnesty pada
tahun 2003.

Pemerintah India pada 1997 juga menerapkan kebijakan tax amnesty yang
berhasil mencapai tujuannya. Keberhasilan ini tidak terlepas dari s ituasi krisis
yang terjadi di negara dengan populasi terbesar kedua di dunia tersebut. Krisis
yang terjadi akhirnya mendorong wajib pajak di India berpartisipasi dalam tax
amnesty yang merupakan program pengampunan pajak terakhir. Dari program
tersebut, dana repatriasi yang bisa diserap mencapai USD2,5 miliar.

Negara lain yang berhasil menerapkan tax amnesty adalah Irlandia pada
tahun 1988. Saat itu Pemerintah Irlandia menegaskan, program tax amnesty
tersebut merupakan yang pertama dan terakhir. Dengan langkah tersebut, dana
yang didapatkan Pemerintah Irlandia mencapai USD750 juta melampaui dana
yang ditargetkan sebesar USD50 juta.

Italia juga beberapa kali menerapkan program pengampunan pajak, yakni


pada 1982, 1984, dan 2001/2002. Dari program tersebut, Pemerintah Italia
berhasil membawa pulang sekitar 80 miliar euro dan sekitar 4 miliar euro penalti
dari dana penduduk Italia yang ditanam di luar negeri.

2.4. Tax Amnesty di Indonesia dari Masa ke Masa

Upaya pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan tax Amnesty


bukan kali pertama. Upaya ini telah dimulai dari tahun 1960an, namun upaya
tersebut selalu mengalami kegagalan. Pada tahun 1964 dan 1984 telah
dilaksanakan pengampunan pajak model investigation amnesty. Pengampunan
pada tahun 1964 dirancang karena kondisi inflasi yang memburuk pada masa itu,
dan pada tahun 1984 pengampunan dilaksanakan untuk membangun sistem
perpajakan yan baru (Waluyo, 2007). Pada tahu 2008, pemerintah
menyelenggarakan sunset policy yang merupakan wujud dari soft tax amnesty

8
melalui penghapusan sanksi denda administrasi (Tambunan, 2015). Program tax
amnesty pada tahun 2015 melalui TPWP (Tahun Pembinaan Wajib Pajak)
merupakan tax amnesty sebagian uruk mengejar penerimaan pajak yang jauh dari
target.

Sejak Program Sunset Policy diimplementasikan sepanjang tahun 2008 telah


berhasil menambah jumlah NPWP baru sebanyak 5.653.128 NPWP,
bertambahnya SPT tahunan sebanyak 804.814 SPT dan bertambahnya penerimaan
PPh sebesar Rp7,46 triliun. Jumlah NPWP orang pribadi 15,07 juta, NPWP
bendaharawan 447.000, dan NPWP badan hukum 1,63 juta. Jadi totalnya 17,16
juta (data DJP, 2010 kuartal 1).

2.5. Latar Belakang Pemerintah Indonesia Menerapkan Tax Amnesty

Pembangunan nasional membutuhkan anggaran yang besar. Salah satu


usaha pemerintah untuk mewujudkan pembangunan tersebut adalah pendapatan
pajak. Pajak merupakan sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) yang mendominasi saat ini. Pemerintah harus menyiapkan beberapa
upaya untuk dapat mengimplementasikan pemungutan pajak secara maksimal.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan tax amnesty atau
pengampunan pajak. Diharapakan dari kebiajakn ini dapat meningkatkan objek
pajak dan subjek pajak. Objek pajak merupakan penambahan dana dari wajib
pajak, sedangkan subjek pajak merupakan kembalinya dana yang berada di luar
negeri.

Menteri Keuangan Republik Indonesia mengatakan bahwa tax amnesty


merupakan kebijakan ekonomi yang bersifat mendasar, jadi tidak semata-mata
kebijakan terkait fiskal (khususnya pajak).

Dari sisi pajaknya, dengan adanya tax amnesty maka ada potensi
penerimaan yang akan bertambah dalam APBN kita baik di tahun ini atau tahun-
tahun sesudahnya yang akan membuat APBN kita lebih sustainable. APBN
lebih sustainable dan kemampuan pemerintah untuk spending atau untuk belanja
juga semakin besar sehingga otomatis ini akan banyak membantu program-

9
program pembangunan tidak hanya infrastruktur tapi juga perbaikan kesejahteraan
masyarakat.

Apabila dilihat dari sisi lainnya, dengan adanya tax amnesty akan sangat
membantu upaya pemerintah dalam memperbaiki kondisi perekonomian,
pembangunan dan mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan serta
memperbaiki ketimpangan. Di sisi lain di luar fiskal atau pajak, dengan
kebijakan amnesty ini yang diharapkan dengan diikuti repatriasi sebagian atau
keseluruhan aset orang Indonesia di luar negeri maka akan sangat membantu
stabilitas ekonomi makro di Indonesia. Apakah itu dilihat dari nilai tukar rupiah,
apakah itu dilihat dari cadangan devisa, apakah itu dilihat dari neraca pembayaran
Indonesia atau bahkan sampai kepada likuiditas dari perbankan. Jadi kami
(Kemenkeu) melihat bahwa kebijakan ini sangat strategis karena dampaknya
dampak yang sifatnya makro, menyeluruh dan fundamental bagi perekonomian
Indonesia.

2.6. Kebijakan Tax Amnesty di Indonesia

Amnesti pajak adalah program pengampunan yang diberikan oleh


Pemerintah kepada Wajib Pajak meliputi penghapusan pajak yang seharusnya
terutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan, serta penghapusan sanksi
pidana di bidang perpajakan atas harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan
sebelumnya yang belum dilaporkan dalam SPT, dengan cara melunasi seluruh
tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan. Program ini berlaku
untuk Wajib Pajak pribadi, badan, UMKM, bahkan juga mencakup orang pribadi
yang belum menjadi Wajib Pajak.

Terdapat empat tujuan yang ingin dicapai pemerintah dalam penerapan


kebijakan pengampunan pajak, yaitu (1) repatriasi atau menarik dana warga
negara Indonesia yang ada di luar negeri, (2) meningkatkan pertumbuhan
nasional. Diharapkan dana yang berhasil direpatriasi ke dalam atau dana yang
selama ini berada di underground economy dapat dimunculkan untuk aktivitas
yang menunjang pertumbuhan ekonomi agar arah pembangunan ekonomi dapat
lebih terarah dan tertata, (3) meningkatkan basis perpajakan nasional, yaitu aset

10
yang disampaikan dalam permohonan pengampunan pajak dapat dimanfaatkan
untuk pemajakan yang akan datang, disertai dengan perbaikan administrasi
perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dan (4) meningkatkan penerimaan
pajak.

Tax amnesty diperuntukkan untuk semua wajib pajak yang mempunyai


kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan
(PPh) berhak mendapatkan pengampunan pajak atau tax amnesty. Namun terdapat
pengecualian, yaitu diperuntukkan orang pribadi seperti petani, nelayan,
pensiunan, tenaga kerja Indonesia atau subjek pajak warisan yang belum terbagi,
yang jumlah penghasilannya pada Tahun Pajak Terakhir di bawah Penghasilan
Tidak Kena Pajak (PTKP) dapat tidak menggunakan haknya untuk mengikuti
Pengampunan Pajak.

Kebijakan pengampunan pajak berlaku sejak disahkan hingga 31 Maret 2017, dan
terbagi kedalam 3 (tiga) periode, yaitu:

1. Periode I: Dari tanggal diundangkan s.d 30 September 2016

2. Periode II: Dari tanggal 1 Oktober 2016 s.d 31 Desember 2016

3. Periode III: Dari tanggal 1 Januari 2017 s.d 31 Maret 2017

Fasilitas Amnesti Pajak yang akan didapat oleh Wajib Pajak yang mengikuti
program Amnesti Pajak antara lain:

1. penghapusan pajak yang seharusnya terutang (PPh dan PPN dan/atau PPn
BM), sanksi administrasi, dan sanksi pidana, yang belum diterbitkan
ketetapan pajaknya;

2. penghapusan sanksi administrasi atas ketetapan pajak yang telah


diterbitkan;

3. tidak dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan


penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan;

11
4. penghentian pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan
penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, dalam hal Wajib Pajak
sedang dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan
penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan; dan

5. Penghapusan PPh Final atas pengalihan Harta berupa tanah dan/atau


bangunan serta saham

Harta yang direpatriasi wajib dinvestasikan ke dalam negeri selama 3 tahun sejak
dialihkan dalam bentuk:

1. surat berharga Negara Republik Indonesia;

2. obligasi Badan Usaha Milik Negara;

3. obligasi lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah;

4. investasi keuangan pada Bank Persepsi;

5. obligasi perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas


Jasa Keuangan;

6. investasi infrastruktur melalui kerja sama Pemerintah dengan badan usaha;

7. investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh Pemerintah;


dan/atau

8. bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan.

Uang tebusan dihitung dengan mengalikan tarif dengan Dasar Pengenaan


Uang Tebusan yaitu nilai Harta bersih yang belum atau belum seluruhnya
dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh Terakhir.

12
Besarnya Dasar Pengenaan Uang Tebusan adalah Harta tambahan yang
belum pernah dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh Terakhir dikurangi dengan
utang yang terkait dengan perolehan Harta tambahan tersebut.

No. Periode Tarif Uang Tebusan


Penyampaian
Harta di Dalam Harta di Luar Wajib Pajak yang peredaran
Surat
Negeri/ Negeri usahanya sampai dengan
Pernyataan
Harta Yang yang tidak Rp4,8M (UMKM)
dialihkan ke dialihkan ke
Nilai Harta Nilai Harta
Dalam Negeri Dalam Negeri
Rp10M >Rp10M

1. Juli 2016 s.d 30 2% 4% 0,5% 2%


September 2016

2. 1 Oktober 2016 3% 6%
s.d 31 Desember
2016

3. 1 Januari 2017 5% 10%


s.d 31 Maret
2017

Tata cara pengajuan Amnesti Pajak adalah sebagai berikut:

1. Wajib Pajak datang ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak


terdaftar atau tempat lain yang ditentukan oleh Menteri untuk meminta

13
penjelasan mengenai pengisian dan pemenuhan kelengkapan dokumen
yang harus dilampirkan dalam Surat Pernyataan, yaitu:

o Bukti pembayaran Uang Tebusan;

o Bukti pelunasan Tunggakan Pajak bagi Wajib Pajak yang memiliki


Tunggakan Pajak;

o Daftar rincian Harta beserta informasi kepemilikan Harta yang


dilaporkan;

o Daftar Utang serta dokumen pendukung;

o Bukti pelunasan pajak yang tidak atau kurang dibayar atau pajak
yang seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang
dilakukan pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan;

o Fotokopi SPT pph Terakhir; dan

o Surat pernyataan mencabut segala permohonan yang telah diajukan


ke Direktorat Jenderal Pajak

o Surat pernyataan mengalihkan dan menginvestasikan Harta ke


dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia paling singkat
selama jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak dialihkan dalam
hal Wajib Pajak akan melaksanakan repatriasi;

o Melampirkan surat pernyataan tidak mengalihkan Harta ke luar


wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia paling singkat
selama jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak diterbitkannya
Surat Keterangan dalam hal Wajib Pajak akan melaksanakan
deklarasi;

o Surat pernyataan mengenai besaran peredaran usaha bagi Wajib


Pajak yang bergerak di bidang UMKM

14
2. Wajib Pajak melengkapi dokumen-dokumen yang akan digunakan untuk
mengajukan Amnesti Pajak melalui Surat Pernyataan, termasuk membayar
uang tebusan, melunasi tunggakan pajak, dan melunasi pajak yang tidak
atau kurang dibayar atau pajak yang seharusnya tidak dikembalikan bagi
Wajib Pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan atau
penyidikan

3. Wajib Pajak menyampaikan Surat Pernyataan ke Kantor Pelayanan Pajak


tempat Wajib Pajak terdaftar atau Tempat Lain yang ditentukan Menteri
Keuangan.

4. Wajib Pajak akan mendapatkan tanda terima Surat Pernyataan.

5. Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri menerbitkan Surat
Keterangan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja
terhitung sejak tanggal diterima Surat Pernyataan beserta lampirannya dan
mengirimkan Surat Keterangan Pengampunan Pajak kepada Wajib Pajak

6. Dalam hal jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sebagaimana dimaksud


pada ayat (4) Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri belum
menerbitkan Surat Keterangan, Surat Pernyataan dianggap diterima

7. Wajib Pajak dapat menyampaikan Surat Pernyataan paling banyak 3 (tiga)


kali dalam jangka waktu terhitung sejak Undang-Undang ini mulai berlaku
sampai dengan tanggal 31 Maret 2017 di mana Surat Pernyataan Kedua
dan Ketiga dapat disampaikan sebelum atau setelah Surat Keterangan atas
Surat Pernyataan sebelumnya dikeluarkan

2.7. Kepatuhan Wajib Pajak terhadap Kebijakan Tax Ammesty di


Indonesia

Tingkat kepatuhan wajib pajak (WP) memegang peran penting terhadap


keberhasilan pemerintah dalam menentukan besarnya penerimaan subjek dan
obyek pajak. kepatuhan WP di Indonesia masih tergolong rendah. Beberapa faktor
penyebabnya adalah rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam

15
melaksanakan kewajiban penyetoran dan pelaporan pajak, minimnya jumlah
fiskus atau pemeriksa pajak.

Dari 240 juta lebih penduduk Indonesia, jumlah wajib pajak yang terdaftar
masih kurang dari 30 juta orang (atau hanya sekitar 11% dari total penduduk
Indonesia). Dari jumlah tersebut, hanya sepertiganya yang melaporkan SPT PPh
2015 atau kurang dari 10 juta penduduk. Sistem perpajakan yang bersifat
worldwide income (semua jenis pendapatan akan dipajaki) dan tarif pajak yang
lebih tinggi dari negara tetangga juga menjadi pendorong orang untuk
menghindari pembayaran pajak di Indonesia. Rasio pajak Indonesia terhadap PDB
tidak pernah melebihi 12% dalam empat belas tahun terakhir di bawah Malaysia
dan Thailand yang di atas 16%, dan jauh di bawah Belgia dan Inggris di kisaran
25% dari PDB.

Pada akhir periode pertama kebijakan tax amnesty, jumlah wajib pajak yang
meyampaikan SPH sebanyak 405.405 wajib pajak dengan jumlah uang tebusan
sebesar Rp. 93,49 triliun dan deklarasi harta Rp. 3.826,81 triliun yang terdiri dari:

a. Wajib pajak orang pribadi sebanyak 321.893 dengan jumlah uang


tebusan sebesar Rp. 83,00 triliun dan deklarasi harta Rp. 3.322,26
triliun, yang diantaranya terdapat 64.334 wajib pajak UMKM dengan
jumlah uang tebusan sebesar Rp. 2,99 triliun dan deklarasi harta Rp.
254,62 triliun
b. Wajib pajak badan sebanyak 83.512 dengan jumlah uang tebusan
sebesar Rp. 10.49 triliun dan deklarasi harta sebesar Rp. 504,55 triliun
yang diantaranya terdapat 16.568 wajib pajak UMKM dengan jumlah
uang tebusan sebesar Rp. 196,44 miliar dan deklarasi harta sebesar Rp.
20,62 triliun

Total deklarasi harta sebesar Rp. 3.826,81 triliun terbagi menjadi:

a. Deklarasi harta dalam negeri sebsar Rp. 2.703,00 triliun


b. Deklarasi harta luar negeri sebesar Rp. 981,04 triliun
c. Repatriasi sebesar Rp. 142,77 triliun (Rp. 1,45 triuliun diantaranya
berasala dari wajib pajak UMKM)

16
Kebijakan perpajakan yang berlandaskan unsur ketuhanan akan lebih
menyentuh hati Wajib Pajak dari pada meniadakannya. Meniadakan Tuhan dan
hanya mengejar aspek materialitas merupakan ciri utama dari kehidupan
modernitas. Dalam kehidupan modernitas, nilai-nilai luhur budaya lokal
termarjinalkan oleh nilai-nilai logosentrisme (Triyuwono, 2013). Logosentrisme
dalam kebijakan tax amnesty terlihat dari adanya uang tebusan yang dibayar WP
untuk menghapus dosa perpajakannya selama ini. Sedangkan kita ketahui, tujuan
dari diberlakukannya tax amnesty yaitu pemerintah berharap dengan tax amnesty
ini dapat meningkatkan pendapatan Indonesia.

Dharma diartikan sebagai pengabdian yang dilakukan oleh WP untuk


mengabdi kepada bangsa dan tanah airnya dengan taat terhadap peraturan yang
ditetapkan oleh pemerintah demikian pula dengan DJP yang seyogyanya
menyusun kebijakan yang bijak bagi seluruh WP. Slogan dari DJP Orang Bijak
Taat Bayar Pajak merupakan salah satu wujud dari kebijakan yang bijak. Namun
slogan tersebut harus diwujudkan dalam bentuk kebajikan dalam segala peraturan
yang disusun oleh DJP. Dalam RUU Tax Amnesty terdapat tarif tebusan
pengampunan pajak yaitu: 2 % untuk pemohon 3 bulan pertama, 4% untuk
pemohon 3 bulan kedua, sedangkan 6 % untuk pemohon pada semester dua yang
semuanya dihitung dari selisih nilai aset bersih terhadap nilai bersih aset SPT
2014.

Selisih nilai harta bersih yang akan dilaporkan Wajib Pajak pada saat
memanfaatkan kebijakan tax amnesty merupakan harta yang belum dilaporkan
oleh WP dalam SPT Tahun 2014, dengan asumsi bahwa SPT Tahun 2014 sebagai
basis pengurang. Dalam keyakinan kami, Artha merupakan segala harta benda
yang bersifat duniawi yang dimiliki Wajib Pajak. Artha tersebut hendaknya
diperoleh dengan sifat dharma, namun dalam RUU Tax Amnesty tidak ada
penjelasan sedikitpun mengenai harta yang lupa, belum, sengaja tidak dilaporkan
Wajib Pajak yang akan dilaporkannya dalam pemanfaatan kebijakan tax amnesty
adalah harta yang diperoleh berdasarkan Dharma. Bahkan dalam penjelasan RUU
Pengampunan Nasional disebutkan bahwa ketentuan fiskal tidak membedakan

17
antara harta yang diperoleh dengan usaha halal atau tidak halal (misalnya
korupsi).

Kebijakan tax amnesty tidak akan berjalan jika pemerintah mengadopsi


semua keinginan. Disinilah peran penting pemerintah untuk meyakinakan
masyarakat bahwa kebijakan tax amnesty berdasakan Kama yang berlandaskan
Dharma. Artinya adalah bahwa niat dari pemerintah menyusun kebijakan tax
amnesty untuk meningkatkan pendapatan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat baik jangka pendek dan jangak panjang yang berlandaskan
kebajikan.

Menurut pertimbangan perilaku ekonomi non klasik bahwasannya setiap


individu memilki sifat egois atau yang sering disebut individualisme. Emosi
sangat penting bagi kelangsungan prinsip-prinsip (Rawls 1983). Studi psikologi
telah menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat jelas antarapsikologi dan
tindakan. Tax amnesty setelah dikaitkan dengan tindakan untuk alasan yang
berbeda seperti untuk mengakhiri litigasi, menyelesaikan konflik, dan
memungkinkan individu untuk melakukan pemenuhan pajak.

18
BAB III

KESIMPULAN

Pada saat ini, pajak merupakan sumber penerimaan yang sangat


berpengaruh bagi negara. Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Salah satu program yang banyak diterapkan oleh negara-
negara di dunia untuk meningkatkan jumlah pembayaran pajak adalah dengan
menjalankan program tax amnesty. Tax amnesty sendiri merupakan suatu
kesempatan waktu yang terbatas pada kelompok pembayar pajak tertentu untuk
membayar sejumlah tertentu dan dalam waktu tertentu tanpa takut hukuman
pidana.

Penerapan tax amnesty dibuat dengan mempertimbangkan kelebihan dan


kelemahan baik dampak yang ditimbulkan untuk jangka panjang maupun jangka
pendek. Dengan masing-masing tujuan yang diinginkan pada setiap pemerintahan,
baik di Indonesia maupun penerapannya di luar negeri dan dengan harapan bahwa
kebijakan yang dibuat dapat meningkatkan pendapatan pajak Negara untuk
pembangunan dan membiayai belanja Negara.

Telah banyak negara-negara maju maupun negara-negara berkembang yang


menerapkan program tax amnesty ini, begitu pula Indonesia. Upaya pemerintah
Indonesia menerapkan kebijakan tax amnesty bukanlah hal yang baru. Pada tahun
1960 Indonesia telah menerapkan kebijakan Tax amnesty. Alasan negara Indonesia
menerapkan kebijakan tax amnesty adalah untuk pembangunan nasional.

Pada setiap Negara kebijakan ini dipengaruhi oleh factor yang berbeda-
beda, namun sebagian besar dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi dan politik yang
diterapkan pada Negara tersebut. Sedangkan indonesia sendiri melaksanakannya
berlandaskan nilai-nilai luhur dan budaya local yang dipercaya akan lebih cocok
dengan situasi dan masayarat atau penduduk indonesia.

19
20
DAFTAR PUSTAKA

Aneswari, Yuyung Rizka. Gugus Irianto. Ali Djamhuri. 2016. Does The
formulation of tax amnesty considering smes?.

Bagiada, I Made. Inyoman Darmayasa. 2016. Tax Amnesty membangun


kepatuhan sukarela.
Borgne E. L. 2009. Economic and political determinants of tax amnesties in the
U.S States.

Direktorat Jendral Pajak Kementerian Keuangan. http://www.pajak.go.id/faq-


amnesti/uang-tebusan (diakses pada Rabu, 1 Maret 2017)

Fatih, Osman. 2011. Tax Amnesty with Effects and Effecting Aspects: Tax
Compliance. Tax Audits and Enforcements Around: The Turkish Case.

Gunawan, Andri., I Made Sukartha. 2016. Pengaruh Persepsi Tax Amnesty,


Pertumbuhan Ekonomi dan Transformasi Kelembagaan Direktorat Jenderal
Pajak pada Penerimaan Pajak. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.
Vol.17.3.

Kementerian Keuangan. http://www.kemenkeu.go.id/taxamnesty.

Keterangan Pers Kementerian Keungan Republik Indonesia. 2016. Evaluasi


Amnesti Pajak Periode Pertama dan Strategi Periode Kedua dan Ketiga.

Koran SINDO. http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=9&date=2016-07-


17 (diakses pada Kamis, 9 Maret 2017)

Marchese, Carla. 2014. Tax Amnesties.


Mehmet, Nar. 2015. Pengaruh Perilaku Ekonomi pada Amnesty Pajak.

Ragimun, 2016. Analisis Implementasi Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) di


Indonesia.

Resmi, Siti. 2017. Perpajakan: Teori dan Kasus. Jakarta Selatan: Salemba Empat.

21