Anda di halaman 1dari 7

OBJEKTIVITAS DAN SUBJEKTIVITAS AKUNTANSI DALAM

AKUNTANSI

TUGAS RESUME

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Akuntansi, kelas B

Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Miqdad S.E., M.M., Ak.

Oleh :

Hening Cahyani (140810301129)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

2017
Objektivitas dan Subjektivitas Akuntansi Dalam Akuntansi

Ruth D. Hines dalam jurnalnya yang berjudul Akuntansi keuangan:


mengomunikasikan realitas, dan membangun realitas memaparkan bagaimana
akuntansi keuangan mengomunikasikan realitas sekaligus membangun realitas
tersebut. Ruth D. Hines menggambarkan hal tersebut melalui sebuah percakapan
antara seorang guru dan muridnya. Mereka membicarakan kehidupan yang berada
pada sebuah lembah yang terdapat berbagai macam bangunan yang dikelilingi
oleh pagar. Selain itu terdapat masyarakat dan sungai yang mengalir melalui
lembah tersebut. Di sisi lain di luar pagar banyak pohon yang tersebar di atas
lembah. Semua yang terdapat dilembah tersebut itulah yang dapat disebut sebagai
organisasi kecuali lembah dan pohon-pohonnya. Sungai yang berada di luar pagar
pun merupakan bagian dari organisasi. Sungai tersebut diumpamakan sebagai aset
organisasi. Apabila organisasi tersebut di jual maka aset tersebut dapat menjadi
bagian dari realitas organisasi. Jika sesuatu tersebut telah jelas maka kita harus
mengakuinya, dan inlah yang disebut dengan realisasi.

Bagaimana dengan hal-hal lain seperti pendapatan dan keuntungan. Apakah


perlakuannya sama dengan sungai tersebu ? pendapatan dan keuntungan dapat
kita akui setelah terealisasi. Apabila telah terealisasi aka kita telah mengakuinya
dengan jelas. Terdapat banyak metode dalam mengakui pendapatan diantaranya
yaitu ketika pendapatan diterima, atau pendapatan tersebut dapat diperkirakan
kapan akan diterima, atau ketika menagih ke pelanggan, atau pelanggan
membayar.

Bagaimana dengan kehidupan yang ada diluar pagar tetapi masih menjadi
bagian darinya. Saat ini kita harus mengkominukasikan realita namun pada
nyatanya hal tersebut sulit untuk dilakukan karena terdapat banyak kendala
misalnya saat kita mengkomunikasikan realita ada berbagai macam perbedaan
gambaran dari banyak orang mengenai hal tersebut. Kemudian perbedaan tersebut
akan berdampak hilangnya kepercayaan masyarakat, adanya campur tangan pihak
lain, kritik kritik. Jadi sebuah organisasi hanya akan dapat berpikir apakah
melakukannya dengan baik atau melakukannya dengan buruk. Kita bebas
mendefinisikan dan mengukur segala sesuatu, namun ketika orang sebelumnya
mempunyai dugaan-dugaan mengenai realita kita tidak dapat menolaknya karena
semua perbedaan konsep realita harus dapat diterima. Ada beberapa kasus terdapat
tipe orang-orang radikal yang terus menerus menuntut akan perubahan dan tidak
menyukai realita. Menurut mereka pihak yang menganut keyakinan tersebut
dianggap sebagai pihak yang konservatisme, mendefinisikan dan mengukur segala
sesuatu sesuai dengan aturan aturan yang berlaku, tidak mencoba membuat yang
lebih baik dan tidak mencoba untuk membuat perubahan.

Kita menciptakan sebuah gambar dalam organisasi. Orang yang mempunyai


tanggung jawab mempunyai kekuatan yang besar, seperti itulah seorang akuntan.
Kekuatan akuntan tersembunyi, karena orang-orang hanya berpikir bahwa akuntan
hanya mengkomunikasikan realita tetapi saat seorang akuntan
mengkomunikasikan realita dia juga membangun realita. Akuntansi keuangan
organisasi tidak selalu mendeskripsikan dan mengkomunikasiakn informasi
tentang organisasi tersebut namun bagaimana akuntansi keuangan menjadi bagian
dalam konstruksi organisasi.

Adanya perbedaan pandangan dari pakar pakar akuntansi menyebabkan


adanya perbedaan saat pembuatan akuntansi keuangan. Pada akhirnya laporan
keuangan masing masing perusahaan berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan
penyajian ini membuat laporan keuangan dinyatakan tidak sesuai dengan realita.
Untuk itulah akuntan membangun realita tersebut dengan membuat standar yang
objektif.

Realitas akuntansi

Dalam menyampaikan laporan, organisasi membutuhkan akun yang


realistis. Akun bisa terdiri dari sombol (tekstual atau numerik) yang dianggap
mewakili peristiwa dalam organisasi sehingga akun harus dipahami jauh lebih
luas. selain persyaratan pelaporan ekstrnal kebutuhan untuk membuat akun dapat
berasal dari internal yang disesuaikan dengan realitas. Namun tidak dengan
kenyataannya contohnya seorang manajer yang akan mengambil keputusan
berdasarkan laporan, angka atau akun lain tanpa benar-benar sesuai dengan realita
(Robson.1992)

Terdapat 8 perbedaan tujuan dalam pengukuran kinerja yang dapat dilihat


dalam laporan keuangan yaitu :

1. Menilai
2. Mengevaluasi
3. Mengontrol
4. Memberi anggaran
5. Memotivasi
6. Mempromosikan
7. Merayakan
8. Pembelajaran atau meningkatkan tujuan.

Tujuan tersebut berbeda beda, hal tersebut menyatakan bahwa dalam satu
pendekatan yang digunakan dapat menghasilkan berbagai tujuan yang berbeda
pula hal ini dibuktikan dengan pendapat dari Brian Kane, pendekatan akuntansi
memungkinkan untuk dapat digunakan dalam 8 tujuan yang berbeda-beda
(Behn,2003)

Roberts dan Scapens (1985) menyatakan bahwa sebuah gambaran akuntansi


merupakan representasi objektif dalam realitas organisasi. Paradigma
managerisme membenarkan bahwa gambaran dari akuntansi terletak pada apa
yang terjadi, atau sesuai peristiwa yang nantinya akan menjadi realitas akuntansi.
Seperti halnya proses mengambil gambar, kita akan memotret suatu pemandangan
dan kita akan melakukan sebuah pengeditan atau menambahkan sebuah seni pada
gambar tersebut. Seperti halnya pada laporan akuntansi bahwa peristiwa
organisasi nantinya akan akan diproses menjadi laporan keuangan organisasi,
namun tidak semuanya sesuai dengan kenyataan. Karena manajer akan mengedit
menambahkan atau mengurangi suatu laporan agar sesuai dengan kenyataan. Oleh
karena itu, harus ada sebuah penilaian validitas representasi akuntansi dengan
kriteria subjek (Hoebeke,1990). Validitas akan menghasilkan representasi
akuntansi yang benar sesuai dengan fenomena atau peristiwa yang benar-benar
terjadi.
Hal lain yang dipertanyakan adalah apakah basis yang digunakan akan
tampak seperti fakta jika sistem akuntansi pada setiap organisasi berbeda-beda.
Namun, apabila pengembangan sistem akuntansi tidak didefinisikan dengan baik,
bagaimana hal tersebut menghasilkan representatif yang benar, lengkap dan
objektif dalam realitas organisasi? Karena organisasi yang berbeda memiliki
sistem akuntansi yang berbeda, mereka tidak akan menghasilkan gambaran
akuntansi yang sama, sehingga gambaran yang dihasilkan menjadi bergantung
pada sistem yang digunakan. Kita dapat menyimpulkan bahwa gambaran
akuntansi dipengaruhi oleh praktek akuntansi dan sistem akuntansi.

Praktek akuntansi menjadi orientasi bagi pelaku organisasi. Gambaran


akuntasi dapat digunakan dalam upaya untuk mengubah etos dalam organisasi
(Ezzamel, Lille et al. 2004). Ini dapat diartikan bahwa langkah sederhana
akuntansi akan mungkin dapat mengubah perilaku subjek. Selain itu perbedaan ini
mungkin akan berdampak pada subjek yang digunakan untuk mengubah
organisasi. Akuntansi dapat diibaratkan seperti mengambil foto yang sepenuhnya
merupakan fenomena yang diinginkan. Namun dalam proses pengambilannya,
potografer memiliki kamera yang berbeda, dalam hal ini kamera diibaratkan
sistem akuntansi, namun apabila kita membayangkan bahwa organisasi dapat
beralih kamera, maka akan menghasilkan gambar yang berbeda. Untuk beberapa
jenis subjek, kita mungkin dapat menangkapnya dalam sebuah foto, tapi untuk
proses sosial akan lebih sulit untuk dipotret. Hasil potret proses sosial akan
berbeda dengan kenyataan yang ada.

Dalam prakteknya, kita sebagai pengguna laporan keuangan mungkin


skeptis tentang keabsahannya sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.
Namun, sistem akuntansi, seperti sistem manajemen kinerja merupakan dasar dari
pengaturan dan perencanaan pola pikir. Akuntansi sebagai disiplin ilmu tertanam
dalam sebuah bagian epistimologis tertentu yang menerima praktik dalam
representatif hampir di segala sesuatu yang berhubungan dengan angka tanpa
kehilangan validitas. Hal ini menciptakan perspektif asumsi dasar dibalik
pernyataan tersebut adalah bahwa seluruh organisasi harus mengadopsi
pemahaman dan definisi yang sama.
Sosiologis Giddens dan Latour berpikir untuk berupaya menghapus
dikotomi antara subjek dan objek, atau antara struktur dan tindakan. Duality of
structure pada dasarnya mengusulkan bahwa struktur mempengaruhi tindakan dan
ditentukan oleh tindakan. Penetapan peluang pengembangan, inovasi dan
pembelajaran berarti menyatakan bahwa tindakan mempengaruhi sistem struktur.
Sebaliknya, penciptaaan struktut menjadi input atau dampak dari tindakan yang
lebih kenservatif. Akutansi baik atau buruk harus memenuhi syarat relatif terhadap
objektifitas akuntansi.

Penelitian selanjutnya harus menyelidiki bagaimana akuntansi dapat


digunakan dalam bentuk bentuk lain dari representasi, teknik pengambilan gambar
yang lain, yang menghasilkan gambar lain. Penelitian selanjutnya akan mengarah
pada interaksi antara praktik-praktik akuntansu dan dinamika organisasi
berdasarkan pernyataan bahwa hubungan antara rasionalitas akuntansi dan realitas
organisasi.

Realitas akuntansi memiliki dua makna. Pertama hal tersebut bermakna


bahwa akuntansi mendekati penciptaan yang realitas dan digunakan untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Kedua penciptaan praktik akuntansi yang sesuai
dengan kenyataan.
Daftar Pustaka
Hines, R. D. 1988. Financial Acoounting: In Communicating Reality, We
Construct Reality. Accounting, Organization and Society. Vol 13, No. 3,
hlm 251-261.
Kane, Brian. Accounting For Realities.