Anda di halaman 1dari 7

BAB V

PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Bahan Ajar Berbasis Green

Chemistry pada Metode Pembelajaran Problem Based Learning pada

Kelas Eksperimen dan Menggunakan Bahan Ajar pada Metode

Pembelajaran Problem Based Learning pada Kelas Kontrol

Berdasarkan lembar observasi keterlaksanaan tahapan pembelajaran yang

dirancang pada RPP, diketahui bahwa tahapan pembelajaran yang dilaksanakan

sudah sesuai dengan rancangan. Namun terdapat beberapa kegiatan yang tidak

dapat terlaksana karena beberapa hambatan yang ditemukan selama kegiatan

pembelajaran berlangsung. Berikut penjelasan mengenai kendala yang ditemui

selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan.

Pada pertemuan pertama di kelas eksperimen, siswa kesulitan untuk

mengisi lembar SHS (Study History Sheet). Hal ini disebabkan siswa yang tidak

memahami tentang SHS yang merupakan perangkat pembelajaran yang baru dan

siswa tidak pernah menggunakan sebelumnya. Selain itu, pada pertemuan pertama

di kelas eksperimen dan kelas kontrol, siswa mengalami kesulitan dalam

mengungkapkan pandangan mereka pada saat guru menyajikan masalah

pencemaran air yang disebabkan limbah deterjen. Siswa bingung tentang

hubungan limbah deterjen dan masalah pencemaran air. Siswa juga kesulitan

menghubungkan masalah pencemaran air, limbah deterjen dan materi

59
60

pembelajaran yaitu kesetimbangan larutan, hubungan Ksp dan penulisan Ksp. Hal

ini disebabkan siswa yang belum terbiasa dalam belajar mandiri. Siswa terbiasa

dengan metode pembelajaran dimana guru menjelaskan secara langsung materi

pembelajaran kepada siswa. Siswa juga bingung tentang terlalu banyaknya

perangkat pembelajaran yang digunakan hal ini menyebabkan siswa kurang fokus

terhadap tujuan pembelajaran.

Pada pertemuan kedua dikelas eksperimen siswa masih mengalami

kesulitan dalam menggunakan perangkat pembelajaran SHS karena siswa belum

terbiasa menggunakan perangkat pembelajaran ini. Hal ini menyebabkan siswa

kebingungan dalam mengisi kolom referensi-2. Sebagian besar siswa mengisi

kolom tersebut dengan kalimat yang sama hal ini berarti siswa masih belum bisa

menuliskan pendapat pribadi mereka tentang kesan terhadap referensi-2. Pada

pertemuan kedua, para siswa masih belum bisa menghubungkan masalah

pencemaran air yang disajikan dengan materi pembelajaran yaitu menghitung

kelarutan suatu elektrolit yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp atau

sebaliknya. Siswa masih belum terbiasa belajar mandiri dalam mendapatkan

pengetahuan tentang kelarutan dan hasil kali kelarutan.

Namun, pada pertemuan kali ini siswa sudah mulai berfikir kritis dalam

mengemukakan pendapat mereka tentang pencemaran air dan solusinya. Hal ini

merupakan suatu kemajuan dibandingkan pertemuan pertama. Siswa sudah mulai

berfikir kritis tentang masalah pencemaran air yang disajikan dalam referensi-2

tentang air berklorin. Hal ini ditunjukkan dengan jawaban para siswa yang lebih

bervariasi pada worksheet-2. Pada pelaksanaan pembelajaran di kelas kontrol


61

maupun eksperimen, setiap tahapan metode pembelajaran Problem Based

Learning bisa terlaksana lebih baik daripada pertemuan pertama.

Pada pertemuan ketiga dikelas eksperimen terdapat 5 siswa yang bertindak

sebagai predictermasih kurang baik dalam menuliskan paragraf prediksinya.

Ketepatan prediksi dalam paragraf yang dibuat masih kurang kuat jika

dihubungkan dengan fakta dan sains. Pada pertemuan ketiga guru mengingatkan

kembali kepada siswa yang bertindak sebagai predicterbahwa dalam membuat

paragraf prediksi harus sesuai dengan judul bacaan.Saat pembahasan hasil diskusi,

banyak siswa yang mengalami kesalahan konsep, maka guru menjelaskan kembali

materi yang membutuhkan waktu lebih banyak pada kegiatan penutup. Sehingga

tahapan pemberian kuis tidak dapat terlaksana karena tahapan pembelajaran

sebelumnya tidak sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan.Pada

kelas kontrol, siswa yang bertindak sebagai questioner dalam masing-masing

kelompok masih kurang baik dalam membuat pertanyaan karena kualitas

pertanyaan yang dibuat masih belum menunjukkan siswa telah menggali

pengetahuannya secara lebih mendalam.Secara keseluruhan pelaksanaan metode

pembelajaran Problem Based Learningpada kelas kontrol dan kelas eksperimen

pada pertemuan ketiga menurun dari pertemuan sebelumnya.

Pada pertemuan keempat dikelas eksperimen maupun kelas kontrol, siswa

yang bertindak sebagai predictercukup baik dalam membuat paragraf prediksi.

Paragraf prediksi yang dibuat sesuai dengan maksud, tujuan, dan isi materi.

Bahasa yang digunakan sudah baik dan benar serta tidak ambigu.Untuk siswa

yang bertindak clarifiersudah baik dalam menemukan kata-kata sulit dalam

multimedia pembelajaran. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan siswa


62

dalam mengidentifikasi informasi penting dari bacaan. Siswa yang bertindak

sebagai questioner sudah mampu membuat pertanyaan sesuai dengan berbagai

jenis tingkat pertanyaan sesuai dengan ranah konstruksi. Saat guru mengajukan

pertanyaan ketika pembahasan hasil diskusi, siswa sudah bisa menjawab dengan

lebih baik daripada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pencapaian tujuan

pembelajaran pada kelas kontrol dan kelas eksperimen pada pertemuan keempat

sudah dapat tercapai. Masing-masing anggota kelompok sudah mampu bekerja

sama dengan baik.

Pada pertemuan kelima dikelas eksperimen maupun kelas kontrol, masing-

masing anggota kelompok sudah baik dalam mengerjakan tugas selama proses

pembelajaran. Kerjasama dan tanggung jawab siswa selama proses pembelajaran

mengalami peningkatan. Antusiasme siswa saat pembahasan hasil diskusi juga

semakin meningkat. Siswa aktif bertanya karena materi yang dipelajari adalah

kegunaaan dan dampak buruk berbagai koloid dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran kimia di SMAN 2 Malang dilaksanakan sebanyak 5 jam

pelajaran dalam 1 minggu. Perlakuan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

diberikan sebanyak 4x45 menit yang terbagi dalam 2 pertemuan setiap minggu.

Untuk 1 pertemuan dengan alokasi waktu 1x45 menit, baik di kelas kontrol

maupun kelas eksperimen digunakan untuk pendalaman konsep materi maupun

pelaksanaan tanya jawab tentang kesulitan yang ditemui pada pembelajaran

sebelumnya. Hal ini diharapkan siswa lebih mampu menggali pengetahuan secara

mandiri.

B. Prestasi Belajar Siswa


63

Uji hipotesis prestasi belajar menunjukkan bahwa terdapat perbedaan

prestasi belajar antara siswa pada kelas eksperimen yang dibelajarkan

menggunakan bahan ajar yang berbasis green chemistry dengan metode

pembelajaran problem based learning dibandingkan siswa pada kelas kontrol

yang menggunakan bahan ajar biasa dengan metode pembelajaran problem based

learning. Rata-rata prestasi belajar siswa kelas eksperimen sebesar 74,79

sedangkan kelas kontrol sebesar 68,25. Setelah dianalisis menggunakan

Independent Sample t-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,002. Nilai

signifikansi kurang dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan prestasi belajar antara siswa pada kelas eksperimen

dengan siswa pada kontrol.

Rata-rata prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen yang dibelajarkan

menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning berbantuan bahan

ajar berbasis green chemistry dengan siswa pada kelas kontrol yang dibelajarkan

menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning menurun

dibandingkan dengan rata-rata kemampuan awalnya. Penurunan rata-rata nilai ini

disebabkan oleh beberapa faktor.

Faktor pertama, yaitu kurang maksimalnya penerapan metode

pembelajaran Problem Based Learning ketika proses pembelajaran berlangsung.

Peneliti yang bertindak sebagai guru masih kurang baik dalam menjelaskan tujuan

penerapan metode pembelajaran Problem Based Learning dikelas. Peneliti masih

kurang baik dalam menjelaskan tata cara penggunaan bahan ajar. Penguasaan

kelas oleh peneliti masih kurang baik dikarenakan terlalu banyaknya kelompok

yang terbentuk dalam masing-masing kelas yaitu 6 kelompok. Kelompok yang


64

memperhatikan selama proses pembelajaran berlangsung hanya kelompok yang

berada didepan. Sedangkan kelompok yang berada dibelakang kurang

memperhatikan.

Faktor kedua, adanya faktor internal. Faktor tersebut sangat

mempengaruhi prestasi belajar siswa karena datang dari diri sendiri. Faktor

internal berupa kondisi psikologis siswa. Siswa pada kelas eksperimen dan kelas

kontrol sebagian besar masih menyontek saat mengerjakan worksheet dan angket.

Selain itu di kelas eksperimen siswa menuliskan pendapat yang cenderung sama

dengan temannya di SHS. Siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

sebagian besar masih malu untuk mengajukan pertanyaan jika terdapat kesulitan

dan menuliskan pandangan mereka sendiri. Rendahnya minat siswa untuk

berperilaku jujur dan berketerampilan mengajukan pertanyaan dapat diketahui

berdasarkan data penilaian afektif pada Lampiran 22 dan Lampiran 23.

Faktor ketiga, yaitu adanya kelemahan pada metode pembelajaran

Problem Based Learning yaitu siswa yang tidak dapat menyusun kata-kata dengan

baik ke dalam sebuah kalimat dan kemudian susunan kalimat mereka hanya cukup

mengungkapkan sebagian kecil isi dalam keseluruhan bacaan dengan benar

(Foster & Rotoloni, 2005:13). Siswa yang tidak terbiasa menyusun kalimat

dengan baik dan benar maka akan merasa kesulitan ketika diterapkan metode

pembelajaran Problem Based Learning. Penggunaan multimedia hanya membantu

jalannya proses pembelajaran. Namun penggunaan multimedia dalam metode

pembelajaran Problem Based Learningcukup efektif memberikan pengaruh yang

positif terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan adanya perbedaan

prestasi belajar antara siswa pada kelas eksperimen yang dibelajarkan


65

menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learningberbantuan

multimedia (82,94) dengan siswa pada kelas kontrol yang menggunakan metode

pembelajaran Problem Based Learningsaja (79,36).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning

dengan bahan ajar berbasis green chemistry lebih baik daripada pembelajaran

menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning dengan bahan ajar

tidak berbasis green chemistry. Robith (2010) menyatakan bahwa penerapan

metode pembelajaran Problem Based Learning berbasis media pembelajaran

visualberpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa. Antari

(2012) menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar

antara siswa yang diajarkan menggunakan metode pembelajaran Problem Based

Learningberbantuan multimedia dengan siswa yang diajarkan menggunakan

pembelajaran konvensional.