Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Poliploidi adalah penggandaan genome yang tersebar dan
terjadi di dalam sel, jaringan, organ, dan organisme baik pada
tumbuhan maupun hewan. Poliploidi menyebabkan terjadinya
perubahan jumlah perangkat kromosom, yang biasa terjadi
selama diferensiasi sel tumbuhan maupun hewan, dan juga
merupakan proses yang penting pada evolusi spesies (DAmato,
et al., 2002). Sedangkan menurut Gradner (1991), poliploidi pada
hewan itu lebih jarang terjadi dibandingkan dengan pada
tanaman.
Poliploidi dapat terjadi secara alami maupun dengan
rekayasa manusia. Poliploidi alami dapat terjadi karena polusi
perairan yang mengandung berbagai bahan kimia, faktor
geografis dan juga akibat dari radiasi ultraviolet serta dapat
berupa faktor internal. Sedangkan poliploidi yang dirakayasa
(dimanipulasi) oleh manusia dapat dilakukan dengan kejutan
panas atau dengan pemberian bahan kimia (Kadi, 2007).
Analisis poliploidi penting untuk mengetahui jumlah
perangkat kromosom. Menurut Carman dalam Karmila (2000),
salah satu metode yang dapat digunakan dalam analisis
poliploidi adalah dengan penghitungan nukleolus, yang relatif
murah dan mudah dilakukan. Dalam Corebima (2000) juga
disebutkan bahwa poliploidi secara alami terutama dijumpai
pada hewan-hewan hermaprodit, seperti cacing tanah dan
planaria; demikian pula pada hewan betina yang partenogenetik,
misalnya ikan mas. Mable (2011) juga menyatakan bahwa
poliploidi paling sering terjadi pada organisme yang tidak
mempunyai mekanisme mengatur suhu internal mereka (yaitu
tumbuhan dan hewan ektothermik misalnya katak dan ikan).
2

Ikan wader merupakan salah satu ikan air tawar yang


banyak ditemukan di danau, kolam-kolam, waduk, sungai
ataupun selokan-selokan yang airnya jernih. Salah satu jenis ikan
wader yang banyak dijumpai adalah ikan wader pari (Rasbora
argyrotaenia) (Fauzi, 2010). Namun, dalam penelitian kami ini
akan menggunakan ikan wader dengan nama spesies Puntius
binotatus. Ikan wader ini memiliki bentuk tubuh pipih dan
panjang tubuh 5 cm dan lebar 12 s.d 3 cm. Berwarna putih
dengan warna hitam di bagian dorsal. Ikan wader ini memiliki
perawakan mirip ikan nila atau mujair namun memiliki semacam
kumis di kanan kiri mulut nya dan ekornya memiliki cabang
dikotom.
Habitat ikan wader yaitu di air tawar baik di danau, kolam,
selokan, dan sungai yang memiliki air yang jernih. Dalam
penelitian ini kami memilih tiga lokasi yang berada di Kabupaten
Blitar dan Kabupaten Malang. Terkait dengan penelitian
sebelumnya yang dinyatakan dalam Corebima (2000) bahwa
poliploidi dapat terjadi secara spontan maupun terinduksi. Untuk
itu pengambilan sampel ikan wader dilakukan pada 3 daerah ini,
karena pada 3 daerah ini memiliki kondisi geografis yang
berbeda, sehingga kemungkinan ploidi yang muncul pada 3
daerah ini berbeda-beda (dapat memicu terjadinya poliploidi
alami).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka dapat dibuat rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Bagaimanakah frekuensi poliploidi pada Ikan wader (Puntius
binotatus) dari Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang?
2. Bagaimanakah pengaruh perbedaan daerah dengan jumlah
poliploidi Ikan wader (Puntius binotatus) dari Kabupaten Blitar
dan Kabupaten Malang?
3

3. Apa saja faktor yang mempengaruhi jumlah poliploidi pada Ikan wader
(Puntius binotatus) dari Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang?
4. Apakah kelemahan dari penentuan poliploidi Ikan wader (Puntius binotatus)
dengan menggunakan metode penghitungan nukleolus?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari proyek ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui frekuensi poliploidi pada Ikan wader (Puntius
binotatus) dari Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.
2. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan tempat dengan
jumlah poliploidi Ikan wader (Puntius binotatus) dari daerah
Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi proses poliploidi pada Ikan
wader (Puntius binotatus) dari Kabupaten Blitar dan Kabupaten
Malang.
4. Untuk mengetahui kelemahan penentuan poliploidi Ikan
wader (Puntius binotatus) dengan metode penghitungan
nucleolus.

D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi Mahasiswa Biologi
a) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang poliploidi alami pada
vertebrata rendah yaitu dari kelas Pisces
b) Memperluas pemahaman tentang fenomena poliploidi alami pada vertebrata
rendah yaitu dari kelas Pisces
c) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang pengkajian poliploidi
dengan metode penghitungan jumlah nukleolus
d) Memberikan pengetahuan tentang faktor yang dapat mempengaruhi jumlah
poliploidi pada ikan khususnya adalah perbedaan faktor geografis
2. Bagi Peneliti
a) Memberikan informasi tentang penyebab perbedaan jumlah poliploidi oleh
faktor alami pada vertebrata rendah yaitu dari kelas Pisces
b) Meningkatkan keterampilan dalam proses pengamatan ploidi dengan metode
perhitungan jumlah nucleolus
4

E. Asumsi Penelitan
Asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Umur Puntius binotatus yang digunakan pada setiap daerah dianggap sama.
2. Puntius binotatus yang digunakan dalam penelitian ini dianggap memiliki jenis
kelamin yang sama.
3. Puntius binotatus yang digunakan dalam penelitian ini memiliki sumber makanan
yang sama pada setiap daerah.
4. Puntius binotatus yang digunakan pada setiap daerah dianggap memiliki kondisi
kesehatan yang sama.
5. Volume larutan yang diberikan pada setiap perlakuan dalam penelitian ini
dianggap sama.

F. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Jenis ikan yang dipakai adalah Puntius binotatus dari daerah Kabupaten
Blitar dan Kabupaten Malang.
2. Bagian tubuh yang dipakai dalam penelitian ini yaitu sirip kaudal 1 cm.
3. Puntius binotatus pada setiap ulangan menggunakan ikan yang berbeda.
4. Dalam satu preparat dibagi menjadi 2 range dan setiap range diamati
sebanyak 3 bidang pandang.
5. Penelitian ini hanya terbatas pada perhitungan jumlah nucleolus.
6. Jumlah ploidi yang dihitung yaitu n, 2n, 3n, dan 4n pada setiap bidang
pandang.

G. Definisi Operasional
1. Ikan wader (Puntius binotatus) adalah ikan yang hidup di
perairan air tawar dengan ciri tubuh ditutupi sisik yang
mengkilat.
2. Nukleolus adalah organel di dalam nukleus yang terlihat di
mikroskop dengan bentuk bulat kecil dan berwarna hitam.
3. Fiksasi adalah perlakuan yang digunakan untuk melunakkan
sirip caudal ikan agar lebih lunak saat dicacah.
4. Mencacah adalah perlakuan yang dilakukan untuk
menghaluskan jaringan sirip caudal ikan .
5. Suspensi adalah hasil pencacahan jaringan sirip caudal ikan
yang sudah halus.
5

6. Ploidi menunjukkan banyaknya perangkat kromosom yang


dimiliki oleh ikan yang diamati.
7. Poliploidi adalah organisme yang memiliki 1 atau lebih
penambahan perangkat kromosom.
8. Nukleolus adalah organel yang berbentuk bulat sampai oval
yang merupakan penunjuk ploidi dari ikan yang diamati.
9. Metode penghitungan jumlah nukleolus adalah metode yang
digunakan dengan menghitung banyaknya jumlah nukleolus
yang tampak untuk menentukan ploidi pada ikan yang
diamati.
6

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Klasifikasi dan Karakteristik Ikan wader


Ikan wader adalah ikan air tawar yang persebarannya
cukup luas di daerah Malang dan Blitar. Menurut Saanin (1984)
klasifikasi ikan Puntius binotatus adalah sebagai berikut :
Kelas : Actinopterygii
Subkelas : Teleostei
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius binotatus

Gambar 2.1 Ikan wader (Puntius binotatus)


Sumber : Mulyadi, et al., 2011
Ikan ini dikenal juga dengan nama Spotted Barb karena
memiliki ciri khusus berupa bintik hitam pada pangkal ekor dan
di bagian depan pangkal sirip punggung Menurut Saanin (1984)
7

nama local dari Puntius binotatus adalah benteur, wader cakul,


tanah, sepadak, tewaring, sunau, puyau, dan keperas. Menurut
Roberts (1989), warnanya bervariasi, dari abu-abu keperakan
sampai abu-abu kehijauan, agak gelap/kehitaman pada bagian
punggung, terdapat tanda bitnik atau pita pada tubuh anaknya
yang akan menghilang saat ikan dewasa atau ukurannya besar,
kecuali bintik pada pangkal ekor. Menurut Saanin (1984), ikan ini
memiliki ukuran kepala 3,3 4,5 kali lebar mata, dan tinggi
batang ekornya sama dengan panjangnya dan 1/3 - kepala.
Menurut Roberts (1989), panjang maksimalnya bisa mencapai 20
6
cm. Ikan ini memiliki gurat sisik diatas gurat sisi, dan terdapat 12
buah sisik di sekeliling batang ekor.
Ikan Puntius binotatus tergolong benthopelagik, hidup di
perairan tawar daerah tropis dengan kisaran pH 6,0 - 6,5 dan
suhu perairan 24 26 0C (Roberts, 1989). Umumnya ikan ini
dapat ditemukan diselokan-selokan, sungai, dan tambak. Ikan ini
memiliki daerah penyebaran di perairan Indocina, Singapura,
Philipina, Malaka, dan perairan Indonesia. Penyebaran ikan ini di
perairan Indonesia meliputi Selat Sunda, Bali, Lombok, Sumatera,
Nias, Jawa, Kalimantan, Bangka, dan Belitung (Kottelat et al.,
1993).

B. Poliploidi
Organisme poliploidi adalah organisme yang memiliki satu
atau lebih penambahan perangkat kromosom (Hussain, 1996).
Poliploidi terjadi karena penggandaan perangkat kromosom
secara keseluruhan (Corebima, 2000). Dalam hal ini individu-
individu yang tergolong diploid dapat menghasilkan keturunan
yang triploid dan tetraploid.
Organisme poliploidi awalnya diperoleh akibat terjadinya polusi perairan
yang mengandung berbagai bahan kimia dan radiasi sinar ultraviolet atau akibat
pengaruh hormon berlebihan (Rottman et al., 1999 dalam Kadi, 2007). Bahan
8

kimia, penyinaran dan efek kerja hormon ini berpengaruh terhadap organisme
yang sedang mengalami reproduksi pada fase pembelahan kromosom gamet oosit
I dan oosit II, tepat pada saat terjadi fertilisasi oleh spermatozoa. Pada
pembelahan kromosom, idealnya benang gelondong kromosom pada fase meiosis
mendistribusikan kromosom pada sel-sel anakan tanpa kesalahan, tetapi ada
kalanya terjadi kecelakaan yang disebut nondisjunction. Nondisjunction adalah
kondisi dimana bagian-bagian dari pasangan kromosom yang homolog tidak
bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada waktu fase pembelahan
meiosis I, atau dimana kromatid saudaranya gagal berpisah selama fase meiosis II
(Kadi, 2007).
Poliploidi terbentuk dalam dua kelompok, yaitu kelompok pertama
autopoliploidi yaitu penggandaan ploidi melalui penggabungan genom-genom
yang sama. Ploidi yang dihasilkan dari proses ini adalah aneuploid (kromosom
abnormal) yakni dalam bentuk triploid, tetraploid dan pentaploid. Kelompok
kedua alopoliploidi adalah penggandaan kromosom yang terjadi melalui
penggabungan genom-genom yang berbeda (Kadi, 2007).
Individu poliploidi secara fenotif, berbeda dengan diploid maupun haploid.
Sel darah merah triploid dan tetraploid lebih besar dibandingkan sel darah diploid
dan haploid. Kelebihan individu poliploid adalah tumbuh lebih cepat dan mudah
beradaptasi dengan lingkungan, dibandingkan dengan individu diploid dan
haploid. Individu triploid dan tetraploid dapat berperan mengontrol pertumbuhan
organisme lain di lingkungan habitat yang sama (Sistina, 2000).
Individu normal di alam pada umumnya memiliki 2 set kromosom yang
biasa disebut diploid (2n). Individu diploid yang menghasilkan mutan gamet
haploid (n) biasanya berumur pendek. Apabila telur dari organisme diploid
dirangsang untuk menjalani embriogenesis tanpa fertilisasi oleh sperma, lebih
dahulu akan menghasilkan individu haploid yang menyimpang (Adisoemarto,
1988). Manipulasi poliploidi menghasilkan individu triploid, tetraploid dan ploidi
yang lebih tinggi. Poliploid ini dapat tumbuh lebih pesat dibandingkan individu
diploid dan haploid. Individu triploid memiliki sifat steril dan individu tetraploid
bersifat fertil (Sistina, 2000).
9

Menurut Russel dalam Corebima (2000), poliploidi dapat


terjadi secara spontan maupun sebagai akibat perlakuan.
Poliploidi yang terjadi secara spontan antara lain adalah
dikarenakan faktor ekologi dan geografis, misalnya penyebaran
habitat yang berbeda (Soltis, 2003). Mable (2011) menyatakan
bahwa pada ikan, poliploidi yang paling umum telah diinduksi
oleh salah satu kejutan suhu atau tekanan, dengan kejutan
dingin biasanya disukai untuk spesies air hangat dan shock
hangat disukai untuk spesies air dingin. Kejutan suhu dapat
menginduksi poliploidi oleh salah satu dari dua mekanisme yaitu:
(1) menyebabkan retensi badan kutub kedua meiosis atau (2)
menghalangi pembelahan mitosis pertama.
Mable (2011), tekanan yang tinggi antara 400 dan 600
atmosfer juga dapat menginduksi poliploidi. Sementara kejutan
tekanan tidak relevan dengan pembentukan poliploidi dalam
sistem liar, dingin atau guncangan panas dapat terjadi secara
alami melalui perubahan thermoclines, air gerakan-gerakan
seperti banjir atau pencairan salju, hujan lebat atau perubahan
yang cepat dalam suhu musiman.
Corebima (2000), menyatakan poliploidi juga dapat terjadi
sebagai akibat dari penyimpangan selama pembelahan mitosis
dan meisosis. Menurut Kadi (2007), juga menyatakan bahwa bila
pada saat terjadinya pembelahan meiosis, kromosom tidak
berpisah dengan homolognya juga dapat menyebabkan
terjadinya indvidu poliploidi.
Menurut Kadi (2007), terjadinya poliploidi secara alami
adalah sebagai berikut:
Jika kromosom di dalam telur hadir dalam bentuk triplikat
(rangkap 3), sehingga sel memiliki 2n+1= 3 perangkat
kromosom yang disebut trisomik.
10

Jika kromosom hilang dan sel memiliki 2n-1=1 perangkat


kromosom, maka sel yang tebentuk adalah haploid yang
disebut monosomik.

C. Nukleolus
Salah satu cara untuk mengidentifikasi poliploidi adalah
dengan cara penghitungan nukleolus. Nukleolus merupakan
struktur padat yang terdapat dalam nukleus. Struktur ini tidak
dikelilingi oleh membran dan sering disebut sebagai suborganel.
Nukleolus terbentuk dari pengulangan pasangan rDNA, yaitu DNA
yang mengkode rRNA. Area ini disebut Nucleolar Organizer
Region (NOR). Fungsi utama nukleolus adalah untuk mensintesis
rRNA dan pembentukkan ribosom.
Menurut Phillips et al. dalam Karmila (2000),
penghitungan nukeolus merupakan metode yang mudah dan
relatif murah serta mempunyai peluang besar untuk diterapkan
pada berbagai spesies ikan, serta tanpa membunuh ikan. Jumlah
nukleolus terdeteksi secara nyata dengan perak nitrat. Nukleus
akan tampak berwarna kekuningan atau kecoklatan, sedangkan
nukleoli berwarna hitam. Pewarnaan perak nitrat akan
memperlihatkan nukleolus berwarna hitam dalam nukleus yang
berwarna kuning (Phillips et al., 1986). Perbedaan warna ini
merupakan ciri khas dari pewarna perak nitrat (AgNO 3), sehingga
banyak peneliti yang menyatakan bahwa penentuan level ploidi
mempergunakan pewarnaan perak nitrat (silver staining) sangat
mudah, sederhana, cepat dan dapat dipergunakan sebagai
standar untuk beberapa spesies.
Carman, et al. (1992) mengatakan bahwa variasi yang
terjadi pada jumlah maksimum kemungkinan disebabkan fusi
dan fisi dari bentuk nukleoli tunggal atau tiga, karena beberapa
proses fisiologis yang terjadi selama siklus sel. Phillips, et al.
(1986) mengemukakan, individu haploid mempunyai 1 nukleolus
11

per sel, diploid mempunyai 1 atau 2 nukleoli per sel dan triploid
mempunyai 1, 2 atau 3 nukleoli per sel. Setiap satu set
kromosom haploid mengandung satu kromosom dengan satu
NOR, sedangkan inti diploid normal mengandung dua nucleoli
(Fankhauser, et al., 1943).
Carman, et al (1997) menunjukkan hasil melalui preparasi
NOR mempergunakan perak nitrat, ditemukan 1, 2, 3 atau 4
kromosom yang mempunyai NOR. NOR merupakan daerah
dimana terdapat gen-gen yang mengatur rRNA dan memberikan
bentuk pada nukleolus. Daerah ini terletak pada daerah
penyempitan kedua (secondary contriction) yang mengandung
gen kode 18 S dan 28 S rRNA (Zwarzacher dan Wachtler, 1983
dan Kimball, 1994).

D. Metode Perhitungan Nukleolus


Analisis jumlah kromosom dan morfologi (karyotyping) merupakan salah
satu metode yang dapat menentukan secara langsung tingkat ploidi. Karena
jumlah kromosom menentukan jumlah molekul DNA. Nucleolar Organizer
Regions (NORs) adalah gulungan DNA yang terdapat pada nukleus sel, yang
mempengaruhi gen rRNA. NORs dapat diwarnai pada kromosom metafase
dengan teknik argyrophil (Jankun et al., 2007). Jumlah maksimal nukleolus pada
setiap spesies hewan atau tumbuhan adalah tertentu, dengan demikian jumlah
nukleolus pada setiap sel dari suatu organisme mempunyai kemampuan
membentuk nukleolus yang maksimal sesuai dengan jumlah materi genetiknya
(Firdaus, 2002).
Pada beberapa spesies ikan, jumlah nukleoli pada sel interfase
mencerminkan tingkat ploidi dari suatu organisme. Nucleolar Organizer Regions
(NORs) mengandung sekelompok 18S, 5S, 8S dan 28S ribosomal RNA gen
(rDNA), bertanggung jawab untuk mengorganisir nukleolus. NORs dapat
dideteksi dengan teknik pewarnaan perak (Ag-NOR). Perak (Ag) berikatan
dengan protein NOR seperti subunit RNA polymerase I yang berkonjugasi dengan
rRNA. Nucleoli dapat dilihat pada sel interfase dari keping darah atau epitelium
12

(sirip dan insang). Nucleoli dan tempat NOR pada kromosom dapat dilihat secara
jelas sebagai titik coklat kehitaman dalam nukleus yang berwarna kuning (Jankun
et al., 2007).
Beberapa tempat NOR dapat inaktif selama transkripsi dan tidak terlihat
saat pewarnaan perak. NORs ini tidak membentuk nukleoli, jadi jumlah nukleoli
bervariasi pada setiap sel. Pada organisme diploid memiliki NOR yang
menghubungkan gen hanya pada satu lokus (satu pasang kromosom), satu atau
maksimum dua nukleoli yang dibentuk. Pada ikan triploid terdapat satu, dua, atau
maksimum tiga nukleoli per sel (Jankun et al., 2007).

B C
Gambar 2.2 (A) Pewarnaan Perak pada Nukleoli (Titik Hitam) pada Sel
Epitelial Sirip Kaudal dari Diploid, (B) Triploid dan (C) Tetraploid pada Ikan
Trout Pelangi, Oncorhynchus mykiss (Jankun et al., 2007).

Nukleolus terlihat sebagai titik hitam di dalam nukleus yang berwarna


coklat terang. Dimana dua atau lebih titik yang berkumpul dengan jarak sangat
dekat pada nukleus, jumlah tepat dalam agregat ini tidak dapat dihitung, agregat
dihitung sebagai satu kesatuan. Tiga tipe dari pola AgNOR telah diidentifikasi
oleh Kulkarni et al., (2009) secara histologis, yaitu:
Tipe 1: tunggal atau beberapa titik besar dalam nukleus
Tipe 2: titik kecil tersendiri dalam nukleolus
Tipe 3: titik kecil berjumlah banyak tersebar diluar nukleoplasma
Rata-rata nilai AgNOR dapat dihitung pada setiap kasus dan rata-rata
kelompok dapat diperoleh (Kulkarni et al., 2009).

E. Wilayah Pengambilan Sampel


13

Pengambilan sampel pada proyek ini dilakukan di dua


kabupaten, yaitu di Kabupaten Blitar (Kecamatan Srengat dan
Kecamatan Doko) dan Kabupaten Malang (Kecamatan
Donomulyo).
1. Kecamatan Srengat
Alamat : Desa Dermojayan, Kec. Srengat Kab. Blitar
Ketinggian : 252 meter di atas permukaan laut

Gambar 2.3 Lokasi Pengambilan Ikan Wader (Puntius binotatus)


Di Desa Dermojayan Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar
Sumber : Dokumen Pribadi
Sungai pertama yang akan digunakan sebagai tempat
pengambilan sampel proyek Genetika 1 ini berada di Desa
14

Dermojayan Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Sungai ini


mengalir di tengah lokasi persawahan. Sungai ini memiliki lebar
100 cm dan kedalaman 50 cm sehingga aliran air di sungai
ini masuk dalam kriteria sedang, namun air sungai di sini
memiliki tingkat kekeruhan yang cukup rendah. Karena, air
sungai ini adalah merupakan air hujan (sungai tadah hujan) dan
jarang sekali ditemukan sampah di sungai tersebut. Lokasi
sekitar sungai merupakan area persawahan, sehingga sungai
juga berfungsi untuk irigasi sawah. Selain itu, keadaan sekitar
titik pengambilan sampel ikan tidak rimbun dan pada siang hari
mendapat sinar matahari penuh sebab berada di tengah area
persawahan dan tidak ada tumbuhan yang menghalangi
penyinaran ke sungai ini. Karena keadaan air sungai yang cukup
jernih tanpa adanya pencemaran oleh sampah, aliran air sungai
yang termasuk sedang, penyinaran matahari yang cukup, dan
lokasi sekitar yang masih begitu alami sehingga cukup banyak
jumlah spesies ikan yang hidup di sungai ini cukup beragam.
Namun, dari berbagai spesies ikan yang ada di sana kami
mengambil ikan wader (Puntius binotatus) sebagai sampel
penelitian kami.

2. Kecamatan Doko
Alamat : Desa Suru, Kec. Doko Kab. Blitar
Ketinggian: 365 meter di atas permukaan laut
15

Gambar 2.4 Lokasi Pengambilan Ikan Wader (Puntius binotatus)


Di Desa Suru Kecamatan Doko Kabupaten Blitar
Sumber : Dokumen Pribadi
Lokasi kedua yang akan digunakan sebagai tempat
pengambilan sampel ikan adalah sungai yang mengalir di Desa
Suru Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Sungai ini memiliki lebar
100 cm dan kedalaman 100 cm. Oleh karena itu, aliran air
disungai ini tidak begitu deras namun tetap mengalir secara
teratur dan terus menerus. Air di sungai ini tergolong masih
jernih karena masih cukup bisa terlihat bagian dasar dari sungai.
Selain itu, tidak ditemui sampah berserakan di sungai ini ataupun
di sekitar sungai. Sungai ini mengalir ditepi lokasi persawahan,
sehingga sungai ini juga berfungsi untuk irigasi sawah di lokasi
itu. Titik pengambilan sampel ikan terletak tepat di bawah
pepohonan bambu, sehingga udara di sekitarnya terasa sejuk
saat siang hari dan terasa dingin saat malam hari. Namun,
walaupun terdapat cukup rimbun pohon bambu disekitarnya itu
tidak menghalangi cahaya matahari ke sungai itu. Titik
pengambilan sampel ikan itu tetap mendapatkan cahaya
matahari dengan intensitas yang cukup. Terdapat berbagai
spesies ikan yang hidup disungai itu seperti ikan gatul, ikan
uceng, ikan wader, dan ikan tawes. Namun, jumlah populasi
terbanyak adalah ikan gatul dan yang kedua terbanyak ikan
wader. Oleh karena syarat dari proyek ini tidak diperkenankan
menggunakan ikan dari Poecillia maka kami memilih untuk
menggunakan ikan wader.

3. Kecamatan Donomulyo
Alamat : Desa Tlogosari, Kec. Donomulyo Kab. Malang
16

Ketinggian: 546 meter di atas permukaan laut

Gambar 2.5
Lokasi

Pengambilan Ikan Wader (Puntius binotatus)


Di Desa Tlogosari Kecamatan Donomulyo Kabupaten Blitar
Sumber : Dokumen Pribadi
Sungai ketiga yang akan digunakan sebagai tempat
pengambilan sampel proyek Genetika 1 ini berada di Desa
Tlogosari, Kec. Donomulyo Kab. Malang. Sungai ini mengalir di
pinggir lokasi persawahan. Sungai ini memiliki lebar 1 1,5
meter dan kedalaman 50 - 100 cm sehingga aliran air di sungai
ini masuk dalam kriteria sedang. Air sungai ini memiliki tingkat
kekeruhan yang rendah. Karena, air sungai ini adalah merupakan
air hujan (sungai tadah hujan) dan jarang sekali terdapat
17

ditemukan sampah di sungai tersebut. Lokasi sekitar sungai


merupakan area persawahan, sehingga sungai juga berfungsi
untuk irigasi sawah. Sungai ini telah dibangun dan tidak lagi
seperti sungai alami, jadi lebih mirip saluran irigasi untuk
pengairan sawah. Ikan yang hidup di sungai ini adalah ikan kecil
seperti gatul, wader dan uceng. Titik pengambilan sampel ikan
itu tetap mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang
cukup. Keadaan sungai ini lebih bersih daripada sungai ke satu
dan kedua yang berada di daerah kabupaten Blitar.
18

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konseptual
Poliploidi merupakan salah satu peristiwa yang
menyebabkan kromosom berjumlah lebih dari 2. Poliploidi
merupakan peristiwa yang kerap dijumpai pada tumbuhan dan
hanya sedikit dijumpai pada hewan. Salah satu hewan yang
masih dapat diamati adanya poliploidi adalah pada ikan dan
amfibi. Poliploidi dapat disebabkan karena faktor buatan dan
alami dari alam.Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji poliploidi Ikan wader
(Puntius binotatus) dari tiga daerah yang berbeda kondisi geografisnya yaitu dari
daerah Kabupaten Blitar diambil dua daerah yaitu Kecamatan Srengat dan
Kecamatan Doko. Serta dari daerah Kabupaten Malang diambil dari Kecamatan
Donomulyo. Dalam pengamatan ploidi pada ikan digunakan
pengamatan tidak langsung yakni dengan metode pewarnaan
dengan menggunakan AgNO3. Teknik pewarnaan ini akan
memberikan warna pada protein pada daerah di nukleolus. Hasil
pewarnaan ini akan menyebabkan nukleolus tampak berwarna
coklat kehitaman sehingga mampu terlihat dan dihitung jumlah
ploidi dari ikan wader (Puntius binotatus). Perbedaan daerah
pengambilan sampel ikan ini diharapkan dapat memunculkan
perbedaan jumlah ploidi pada ikan wader (Puntius binotatus).
Pengkajian poliploidi ikan wader (Puntius binotatus) ini dilakukan dengan
menggunakan metode perhitungan tidak langsung yaitu dengan pewarnaan
nukleolus menggunakan AgNO3. Nukleolus akan tampak berwarna hitam. Dari
uraian berikut maka kemudian dapat dibuat kerangka konseptual sebagai berikut.

Poliploidi adalah penggandaan genome yang tersebar dan terjadi di dalam sel,
jaringan, organ, dan organisme
19

Ikan wader adalah salah satu ikan dengan penyebaran yang luas di Indonesia.
Contoh persebaran dari Ikan wader di daerah Srengat, Doko, dan Donomulyo

Untuk mengetahui frekuensi ploidi digunakan metode penghitungan jumlah


nukleolus
Penghitungan jumlah nukleolus dapat dilakukan dengan pewarnaan
menggunakan
16 AgNO3
Terdapat frekuensi kemunculan nukelolus yang berbeda dari n, 2n, 3n, dan 4n
dari masing-masing daerah pengambilan Ikan wader (Puntius binotatus)
B. Hipotesis Penelitian
1. Ploidi dengan frekuensi kemunculannya paling banyak adalah haploid.
2. Terdapat pengaruh perbedaan daerah dengan poliploidi Ikan wader.
3. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi poliploidi pada ikan, baik
faktor alami ataupun faktor buatan.
4. Terdapat kelemahan pengkajian poliploidi Ikan wader dengan menggunakan
metode perhitungan jumlah nukleolus.
20

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Rancangan dan Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan
untuk mengetahui frekuensi ploidi pada ikan wader (Puntius binotatus) melalui
metode pengamatan secara tidak langsung yaitu dengan metode perhitungan
nukleolus dari Puntius binotatus pada tiga daerah berbeda. Daerah tersebut
meliputi Daerah Kabupaten Blitar yaitu Kecamatan Srengat dan Kecamatan Doko
serta Kabupaten Malang yaitu Kecamatan Donomulyo. Pengamatan nukleolus
menggunakan metode pewarnaan silver staining yang dilakukan sebanyak 15 kali
ulangan pada masing-masing daerah. Setiap ulangan dibuat 2 range dan masing-
masing diamati sebanyak 3 bidang pandang. Hasil perhitungan nukleolus dari
ketiga tempat kemudian dibandingkan.
B. Variabel
Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
1. Variabel bebas : Perbedaan daerah pengambilan ikan
2. Variabel terikat : Jumlah ploidi alami pada ikan wader (Puntius binotatus)
3. Variabel kontrol : - Jenis ikan
- Waktu fiksasi
- Volume larutan yang diberikan
- Suhu box staining

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah ikan wader (Puntius binotatus) di
daerah Kabupaten Blitar (Srengat dan Doko) dan Kabupaten Malang
(Donomulyo).
2. Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah 15 ekor ikan wader (Puntius binotatus)
di daerah Kabupaten Blitar (Kec. Srengat Dan Kec. Doko) dan Kabupaten Malang
(Kec. Donomulyo).

D. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai pada tanggal 24 Januari sampai
pada tanggal 28 April 2014 di Gedung 18
Biologi O5 ruang 310 Biologi FMIPA
21

Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel dilakukan di Kabupaten Blitar


dan Kabupaten Malang. Pengambilan sampel di Kabupaten Blitar dilakukan di 2
tempat yang berbeda, yaitu di Kecamatan Srengat dan Kecamatan Doko.
Pengambilan sampel di Kabupaten Malang dilakukan di satu tempt, Kecaatan
Donomulyo.

E. Instrumen Penelitian
1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut.
a Jaring digunakan untuk menangkap ikan di daerah Kabupaten Blitar yaitu
Kecamatan Srengat dan Kecamatan Doko serta Kabupaten Malang yaitu
Kecamatan Donomulyo.
b Ember dan Bak air digunakan sebagai tempat hidup ikan
c Beaker glass digunakan untuk mencampurkan dan memanaskan akuades yang
akan dibuat larutan
d Gelas ukur digunakan untuk mengukur larutan yang akan dibuat
e Pengaduk digunakan untuk mengaduk larutan yang dibuat
f Botol selai digunakan sebagai tempat menyimpan larutan yang telah di buat
g Kulkas digunakan untuk menyimpan larutan yang telah dibuat
h Plastik digunakan untuk menutup botol selai yang berisi larutan
i Karet gelang digunakan untuk mengikat plastik penutup botol selai
j Pipet tetes merupakan alat yang digunakan untuk mengambil larutan saat
praktikum berlangsung
k Gunting digunakan untuk memotong sirip kaudal ikan
l Botol vial digunakan sebagai tempat untuk perendaman atau fiksasi sirip ekor
ikan
m Gelas arloji digunakan sebagai tempat pencacahan sirip ekor ikan
n Silet merupakan alat yang digunakan untuk mencacah sirip ekor ikan
o Kaca benda dan kaca penutup merupakan tempat yang digunakan meletakkan
preparat hasil pencacahan sirip ekor ikan
p Spidol digunakan untuk menandai kaca benda yang sudah di buat dan larutan
yang telah dibuat
q Box staining namun dalam penelitian ini dimodifikasi menggunakan hitter
digunakan untuk memanaskan preparat untuk tujuan pewarnaan
r Termometer digunakan untuk mengukur suhu pada hitter sehingga dapat terus
stabil pada suhu 30-40oC
s Stopwatch digunakan untuk menghitung waktu pencacahan dan pemanasan
preparat
t Mikroskop cahaya digunakan untuk mengamati nukleolus
22

2. Bahan yang digunakan pada kegiatan ini yaitu:


a Ikan wader (Puntius binotatus) merupakan ikan yang diambil sirip kaudalnya
b Larutan A (AgNO3 + aquades) digunakan untuk mewarnai nukleolus
c Larutan B (gelatin + aquades + gliserin) untuk menjaga kesegaran atau
kelembaban, meningkatkan indeks bias dan mencegah agar preparat tidak
bergeser kerena gliserin jeli (gelatin) berbentuk padat pada suhu ruang
d Larutan C atau disebut juga larutan Carnoy (asam asetat glasial + alkohol
absolut + kloroform) digunakan untuk perendaman atau fiksasi sirip ekor ikan
e Larutan asam asetat (asam asetat glasial + aquades) digunakan untuk
diteteskan pada saat pencacahan sehingga tidak kering
f Tissue digunakan untuk membersihkan kaca benda yang telah di rendam
alkohol sebelumnya
g Kertas label digunakan untuk menandai atau melabeli nama larutan dan
melabeli kaca benda
h Minyak imersi digunakan untuk memperjelas hasil amatan saat pengamatan
menggunakan mikroskop
i Alkohol 70% digunakan untuk merendam kaca benda (mensterilkan kaca
benda)
j Xylol digunakan untuk membersihkan lensa mikroskop
k Kertas lensa digunakan untuk mengelap atau membersihkan lensa mikroskop
l Alat tulis digunakan untuk menuliskan hasil pengamatan perhitungan jumlah
nukleolus pada hasil cacahan sirip kaudal ikan wader.

3. Prosedur Kerja
a) Pembuatan Larutan
1) Larutan A
Pembuatan larutan ini dilakukan dengan mencampur AgNO 3 dan aquades
dengan perbandingan 1:2
2) Larutan B
Pembuatan larutan ini dilakukan dengan mencampur 22 gram gelatin 50
mL aquades hangat (600C) dan 50 mL gliserin jenuh.
3) Larutan C (Carnoy)
Pembuatan larutan ini dilakukan dengan mencampur asam asetat glasial
jenuh, alkohol absolut, dan klorofom dengan perbandingan 1:1:1
4) Larutan Asam Asetat
Pembuatan larutan ini dilakukan dengan mencampur asam asetat glasial 50
ml dan aquades hingga 100 ml dengan perbandingan 1:2.
23

b) Pembuatan Preparat
1. Memotong sirip kaudal ikan wader (Puntius binotatus) sepanjang 1 cm.
2. Memfiksasi sirip kaudal di dalam larutan Carnoy, setelah 30 menit mengganti
larutan Carnoy lama dengan larutan Carnoy yang baru. Melanjutkan fiksasi
selama 1 x 24 jam.
3. Setelah di fiksasi, meletakkan sirip kaudal ikan pada gelas arloji dan menetesi
asam asetat
4. Mencacah jaringan sirip kaudal ikan dengan menggunakan silet yang tajam
hingga terbentuk suspensi sel (tiap jaringan yang di cacah, melakukan
pencacahan selama 60 menit).
5. Ditetesi dengan larutan D ketika mencacah sehingga hasil cacahan tidak
menjadi kering
6. Mengambil dan meletakkan suspensi di kaca benda dan meratakkannya
dengan tusuk gigi (1 kaca benda terdapat 2 range suspensi. Sebelum
digunakan, merendam kaca benda pada alkohol 70% (1 hari sebelum
digunakan)
7. Mengangin-anginkan kaca benda yang sudah terdapat suspensi
8. Menambahkan larutan A dan meratakannya dengan tusuk gigi
9. Menetesi masing-masing range dengan larutan B dan meratakannya dengan
tusuk gigi
10. Meletakkan preparat dalam box staining bersuhu 400C-500C selama 20-30
menit sampai agak kering
11. Mengambil dan membilas preparat dengan air secara halus dan perlahan
dengan menggunakan pipet tetes
12. Mengangin-anginkan preparat hingga kering
13. Menutup preparat dengan menggunakan kaca penutup
14. Mengamati preparat dengan perbesaran 1000x, menggunakan 2 range dan
setiap range sebanyak 3 bidang pandang

4. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada kegiatan penelitian yaitu dengan cara
perhitungan banyaknya nukleolus untuk penentuan ploidi masing-masing ikan di
setiap daerah. Hasil perhitungan jumlah nukleolus dimasukkan ke dalam tabel
berikut.
4.1 Tabel pengamatan ploidi ikan wader dari daerah Srengat Blitar
Range 1 Range 2
Ulangan Ploidi
1 2 3 1 2 3
24

N
2n
1
3n
4n
N
2 2n
3n
4n

Dan seterusnya sampai 15 preparat

4.2 Tabel pengamatan ploidi ikan wader dari daerah Doko Blitar
Ring 1 Ring 2
Ulangan Ploidi
1 2 3 1 2 3
n
2n
1
3n
4n
n
2n
2
3n
4n
Dan seterusnya sampai 15 preparat

4.3 Tabel pengamatan ploidi ikan wader dari daerah Donomulyo Malang
Ring 1 Ring 2
Ulangan Ploidi
1 2 3 1 2 3
n
2n
1
3n
4n
n
2n
2
3n
4n
Dan seterusnya sampai 15 preparat

5. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
presentase dari masing-masing daerah pengambilan sampel ikan wader (Puntius
25

binotatus) di daerah Kabupaten Blitar (Srengat Dan Doko) dan Kabupaten Malang
(Margomulyo), kemudian menggambarkan dalam bentuk grafik batang serta
analisis menggunakan teknik analisis varian tunggal (ANAVA) untuk mengetahui
pengaruh perbedaan daerah terhadap jumlah poliploidi pada ikan wader (Puntius
binotatus).
BAB V
DATA DAN ANALISI DATA

A. Data
Berdasarakan hasil penelitian penghitungan nucleolus dari tiga daerah
didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut.

Tabel 5.1 Tabel Data Ploidi Daerah 1 (Srengat Blitar)


Range 1 Range 2
Ulangan Ploidi
MP 1 MP 2 MP 3 MP 1 MP 2 MP 3
n 77 47 198 124 135 152
2n 32 15 42 38 18 49
1
3n 7 15 28 21 2 2
4n 0 0 15 0 0 0
n 95 101 135 105 112 98
2n 43 18 8 43 25 5
2
3n 9 20 3 15 9 1
4n 1 0 0 3 0 0
n 98 251 28 76 20 27
2n 56 73 9 54 43 23
3
3n 10 35 17 36 20 4
4n 3 2 2 5 0 0
n 53 67 78 63 27 77
2n 2 11 56 6 8 18
4
3n 0 0 18 2 0 1
4n 0 0 1 0 0 1
n 41 55 53 69 76 37
2n 9 71 0 12 12 6
5
3n 2 5 4 4 1 2
4n 1 0 0 1 0 1
n 54 63 54 51 51 43
2n 9 24 17 12 21 5
6
3n 8 7 5 3 2 3
4n 1 0 0 1 0 0
n 47 71 53 47 49 37
2n 8 17 21 11 19 10
7
3n 7 6 6 11 9 2
4n 0 0 0 0 0 0
8 n 78 57 57 48 37 31

24
26

2n 23 16 21 12 10 11
3n 12 5 11 12 1 5
4n 1 0 1 1 1 1
n 61 61 62 53 48 43
2n 36 21 10 14 11 9
9
3n 10 8 7 10 18 6
4n 0 1 0 1 0 0
n 62 54 73 61 36 51
2n 41 20 13 16 23 17
10
3n 17 9 3 7 10 9
4n 2 0 1 0 0 1
n 59 73 57 57 27 49
2n 32 21 21 17 25 16
11
3n 11 7 5 8 9 10
4n 1 1 1 1 1 1
n 58 62 65 49 41 38
2n 27 26 17 22 15 19
12
3n 11 6 5 9 11 11
4n 1 0 1 1 1 1
n 101 76 89 105 44 73
2n 28 31 23 24 27 20
13
3n 14 6 6 19 10 10
4n 2 0 0 2 2 2
n 53 75 54 93 137 29
2n 21 24 16 6 13 2
14
3n 11 2 5 0 1 0
4n 1 0 1 0 1 1
n 49 65 32 72 201 41
2n 22 17 17 1 9 3
15
3n 14 1 12 0 0 1
4n 1 0 1 0 0 1

Tabel 5.2 Tabel Data Ploidi Daerah 2 (Doko Blitar)


Range 1 Range 2
Ulangan Ploidi
MP 1 MP 2 MP 3 MP 1 MP 2 MP 3
n 178 129 77 93 154 207
2n 17 9 13 5 13 33
1
3n 2 0 2 0 0 0
4n 1 1 1 0 0 0
n 123 68 135 142 193 161
2n 93 16 18 6 18 14
2
3n 46 10 1 2 0 0
4n 2 0 0 1 1 0
3 n 236 301 256 356 310 310
2n 56 28 28 48 58 32
3n 26 19 17 31 37 14
27

4n 1 2 2 5 1 0
n 305 296 311 219 198 237
2n 58 45 31 43 38 43
4
3n 12 28 26 18 19 21
4n 4 4 2 0 2 4
n 253 283 287 316 372 378
2n 97 41 27 45 53 54
5
3n 18 36 16 28 40 21
4n 2 2 2 6 1 2
n 15 39 148 91 58 87
2n 2 12 28 10 17 18
6
3n 1 3 1 3 1 0
4n 0 0 1 1 1 1
n 112 99 105 125 131 119
2n 26 31 27 37 28 31
7
3n 12 16 10 17 16 17
4n 0 0 0 0 0 0
n 78 107 93 102 135 97
2n 17 21 13 32 36 26
8
3n 0 10 0 17 24 17
4n 1 0 0 0 1 1
n 112 96 105 124 132 110
2n 34 23 32 26 24 41
9
3n 21 14 14 17 16 12
4n 0 0 0 0 0 0
n 97 106 110 141 112 135
2n 21 20 24 41 37 36
10
3n 7 13 14 21 16 22
4n 0 0 0 1 2 0
n 123 107 205 152 113 167
2n 54 21 31 42 41 41
11
3n 19 21 17 36 21 25
4n 2 0 2 2 2 2
n 156 105 204 167 152 121
2n 53 23 31 43 43 36
12
3n 21 21 17 36 21 21
4n 2 0 2 2 3 2
n 201 216 216 173 153 171
2n 54 21 41 36 36 46
13
3n 19 16 21 21 17 20
4n 2 0 1 1 2 3
n 172 216 207 124 172 123
2n 36 36 36 31 47 36
14
3n 21 24 21 20 11 21
4n 2 2 0 1 2 1
15 n 186 118 187 168 101 141
28

2n 28 31 37 41 51 37
3n 20 23 18 26 16 17
4n 3 1 2 2 2 1

Tabel 5.3 Tabel Data Ploidi Daerah 3 (Donomulyo - Malang)


Range 1 Range 2
Ulangan Ploidi
MP 1 MP 2 MP 3 MP 1 MP 2 MP 3
n 178 98 127 83 103 156
2n 34 21 37 15 41 28
1
3n 2 3 0 2 2 0
4n 1 0 0 0 1 1
n 185 168 296 120 136 111
2n 20 16 28 34 52 28
2
3n 2 3 3 10 27 6
4n 0 1 0 1 2 0
n 278 136 183 158 168 102
2n 14 3 37 52 2 35
3
3n 0 2 0 0 1 0
4n 0 0 0 0 0 0
n 152 169 268 275 159 278
2n 3 5 31 47 22 76
4
3n 0 0 1 8 4 2
4n 0 0 0 0 1 0
n 373 306 412 356 313 296
2n 112 98 87 106 78 115
5
3n 34 27 31 34 21 20
4n 0 1 1 1 1 0
n 326 327 352 256 415 296
2n 105 76 93 117 98 105
6
3n 31 31 26 26 21 21
4n 5 5 5 3 1 2
n 278 152 104 301 306 304
2n 15 31 21 22 98 97
7
3n 12 11 15 5 18 31
4n 3 2 4 1 2 5
n 354 205 268 405 258 298
2n 36 173 31 101 96 83
8
3n 18 21 14 36 23 34
4n 7 5 3 3 5 2
n 326 237 351 411 243 347
2n 104 119 77 201 86 105
9
3n 37 20 34 74 51 54
4n 3 3 2 3 4 3
10 n 254 305 352 393 256 357
2n 46 41 85 35 96 91
3n 36 31 36 21 31 25
29

4n 4 2 3 4 3 4
n 363 298 347 297 358 401
2n 32 38 93 45 98 97
11
3n 16 41 26 37 24 37
4n 2 3 4 5 1 4
n 378 391 302 197 169 258
2n 33 98 38 28 32 21
12
3n 13 36 17 15 1 11
4n 5 4 5 2 3 5
n 229 142 97 107 208 407
2n 25 18 18 7 5 9
13
3n 8 11 4 2 3 8
4n 2 0 1 1 0 0
n 196 274 287 238 376 256
2n 41 38 33 39 47 15
14
3n 8 20 27 16 21 11
4n 0 9 6 4 3 6
n 223 385 391 319 199 374
2n 25 47 42 41 39 21
15
3n 12 25 5 28 28 8
4n 4 11 9 9 4 2

B. Analisis Data
1. Analisis Kajian Frekuensi Poliploidi Puntitus binotatus

JUMLAH POLIPLOIDI Puntatus binotatus Daerah Srengat


POLIPLOIDI JUMLAH RATA-RATA PERSENTASE
n 7735 515.6666667 74.99%
2n 1976 131.7 19.16%
3n 543 36.2 5.26%
4n 61 4.066666667 0.59%
TOTAL 10315 687.67 100.00%

Berdasarkan tabel perhitungan di atas maka dapat digambarakan dalam


bentuk diagram sebagai berikut.

PLOIDI Puntius binotatus

5%1%
19%
n 2n 3n 4n

75%
30

Gambar 5.1 Grafik Persentase Ploidi Puntius binotatus dari Srengat Blitar
Berdasarkan grafik di atas, persentase ploidi yang paling banyak pada
Puntius binotatus dari Srengat adalah haploid dengan persentase sebesar 74.99%
sedangkan persentase ploidi paling sedikit adalah tetraploid yaitu sebesar 0.59%.

Tabel 5.5 Jumlah Poliploidi Puntius binotatus Daerah Doko - Blitar


POLIPLOIDI JUMLAH RATA-RATA PERSENTASE
n 14822 988.13 78.08%
2n 2991 199.40 15.76%
3n 1052 70.13333333 5.54%
4n 117 7.8 0.62%
TOTAL 18982 1265.47 100.00%
Berdasarkan tabel perhitungan di atas maka dapat digambarakan dalam
bentuk 16diagram sebagai berikut.

PLOIDI Puntius binotatus

6%1%
16%
n 2n 3n 4n

78%

Gambar 5.2 Grafik Persentase Ploidi Puntius binotatus dari Doko Blitar
Berdasarkan grafik di atas, persentase ploidi yang paling banyak pada
Puntius binotatus dari Doko adalah haploid dengan persentase sebesar 78.08%
sedangkan persentase ploidi paling sedikit adalah tetraploid yaitu sebesar 0.62%.

Tabel 5.6 Jumlah Poliploidi Puntius binotatus Daerah Donomulyo - Malang


POLIPLOIDI JUMLAH RATA-RATA PERSENTASE
n 24318 1621.20 75.23%
2n 5778 385.20 17.88%
3n 1973 131.53 6.10%
4n 254 16.93 0.79%
TOTAL 32323 2154.87 100.00%
31

Berdasarkan tabel perhitungan di atas maka dapat digambarakan dalam


bentuk diagram sebagai berikut.

PLOIDI Puntius binotatus

6% 1%
18%
n 2n 3n 4n

75%

Gambar 5.3 Grafik Persentase Ploidi Puntius binotatus dari Donomulyo - Malang
Berdasarkan grafik di atas, persentase ploidi yang paling banyak pada
Puntius binotatus dari Doko adalah haploid dengan persentase sebesar 75.23%
sedangkan persentase ploidi paling sedikit adalah tetraploid yaitu sebesar 0.79%.

Perbandingan Poliploidi dari Ketiga Daerah


78.08
80 74.99 75.23

70

60

50
Srengat Doko Donomulyo
40

30
19.16 17.88
15.76
20
5.546.1
5.26
10
0.79
0.62
0.59
0
n 2n 3n 4n

Gambar 5.4 Grafik Persentase Ploidi Puntitus binotatus dari Daerah Srengat,
Doko, dan Donomulyo
Berdasarkan grafik di atas, persentase ploidi pada Puntitus binotatus yaitu
haploid mengalami kenaikan pada ketinggian sedang dan kembali mengalami
penurunan seiring pertambahan ketinggian tempat, persentase diploid mengalami
32

penurunan seiring dengan pertambahan ketinggian tempat dan kembali mengalami


kenaikan dengan bertambahnya pula tingkat ketinggian daerah, persentase
triploid dan tetraploid mengalami peningkatan yang berbanding lurus dengan
peningkatan ketinggian tempat. Persentase ploidi yaitu haploid paling tinggi pada
Puntitus binotatus dari Daerah Doko (78.08%) sedangkan persentase terendah
pada Puntitus binotatus dari Daerah Srengat (74.99%). Persentase diploid paling
tinggi yaitu pada Puntitus binotatus dari Srengat (19.16%) sedangkan persentase
terendah pada Puntitus binotatus dari Daerah Doko (15.76%). Persentase triploid
paling tinggi yaitu pada Puntitus binotatus dari Daerah Donomulyo (6.10%)
sedangkan persentase paling rendah yaitu pada Puntitus binotatus dari Daerah
Srengat (5.26%). Persentase tetrapoid yang paling tinggi yaitu pada Puntitus
binotatus dari Donomulyo (0.79%) sedangkan persentase paling rendah pada
Puntitus binotatus dari Daerah Srengat (0.59%).
2. Analisis Pengaruh Perbedaan Daerah Terhadap Jumlah Poliploidi Ikan
Wader (Puntius binotatus)
a) Analisis Haploid
Tabel 5.4 Tabel Data Hasil Transformasi Haploid (n)

Tabel 5.5 Tabel ANAVA Haploid


SK db JK KT Fhit Ftab5% Ftab1%
Perlakuan 2 101.2 50.6 2.025 3.21 5.12
Galat 42 1049 24.99
Total 44

Hasil analisis dari tabel anava menunjukkan bahwa Fhit (2,025) < Ftabel
(3,21) pada taraf signifikansi 5%. Artinya hipotesis penelitian ditolak. Sehingga
33

ketinggian tidak berpengaruh terhadap ploidi haploid ikan wader di Daerah


Srengat, Doko dan Donomulyo.
b) Analisis Diploid
Tabel 5.6 Tabel Data Hasil Transformasi Diploid (2n)

Tabel 5.7 Tabel ANAVA Diploid


SK Db JK KT Fhit Ftab5% Ftab1%
Perlakuan 2 112.904 56.4521 3.52248 3.21 5.12
673.10
Galat 42 1 16.0262
Total 44

Hasil analisis dari tabel anava menunjukkan bahwa Fhit (3.52248) >
Ftabel (3.21) pada taraf signifikansi 5%. Artinya hipotesis penelitian diterima.
Sehingga ketinggian berpengaruh terhadap ploidi diploid ikan wader (Puntius
binotatus) di Daerah Srengat, Doko dan Donomulyo.
c) Analisis Triploid
Tabel 5.8 Tabel Data Hasil Transformasi Triploid (3n)

Tabel 5.9 Tabel ANAVA Triploid


SK Db JK KT Fhit Ftab5% Ftab1%
34

Perlakuan 2 2.0132 1.0066 0.08192 3.21 5.12


Galat 42 516.083 12.2877
Total 44
Hasil analisis dari tabel anava menunjukkan bahwa Fhit (0.08192) <
Ftabel (3.21) pada taraf signifikansi 5%. Artinya hipotesis penelitian ditolak.
Sehingga ketinggian tidak berpengaruh terhadap ploidi triploid ikan wader
(Puntius binotatus) di Daerah Srengat, Doko, dan Donomulyo.
d) Analisis Tetraploid
Tabel 5.10 Tabel Data Hasil Transformasi Tetraploid (4n)

Tabel 5.11 Tabel ANAVA Tetraploid


SK db JK KT Fhit Ftab5% Ftab1%
Perlakuan 2 2.36084 1.18042 0.29635 3.21 5.12
Galat 42 167.296 3.98323
Total 44

Hasil analisis dari tabel anava menunjukkan bahwa Fhit (0.29635) <
Ftabel (3,21) pada taraf signifikansi 5%. Artinya hipotesis penelitian ditolak.
Sehingga ketinggian tidak berpengaruh terhadap ploidi tetraploid ikan wader
(Puntius binotatus) di Daerah Srengat, Doko, dan Donomulyo.
e) Analisis Poliploidi Pada Tiga Daerah yang Berbeda
Tabel 5.12 Tabel Data Hasil Transformasi Poliploidi
35

Tabel 5.13 Tabel ANAVA Poliploidi dari Ketiga Daerah


SK db JK KT Fhit Ftab5% Ftab1%
Perlakuan 2 154.463 77.2313 36.6912 3.21 5.12
Galat 42 88.4058 2.1049
Total 44
Hasil analisis dari tabel anava menunjukkan bahwa Fhit (36.6912) >
Ftabel (3,21) pada taraf signifikansi 5%. Artinya hipotesis penelitian diterima.
Sehingga ketinggian berpengaruh terhadap poliploidi ikan wader (Puntius
binotatus) dari ketiga Daerah yang meliputi Daerah Srengat, Doko dan
Donomulyo.
36

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Kajian Frekuensi Poliploidi Ikan Wader (Puntitus binotatus) di Daerah


Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan frekuensi jumlah ploidi
pada Puntius binotatus pada setiap ketinggian. Hal ini telah ditunjukkan pada
hasil analisis data bahwa Daerah Donomulyo memiliki frekuensi poliploidi yang
paling tinggi jika dibandingkan dengan dua daerah yang lainnya. Perhitungan
jumlah poliploidi ini dilakukan dengan penghitungan jumlah nukleolus dengan
pewarnaan AgNO3 yang sesuai dengan pernyataan Jankun, et al. (2007) yaitu,
perhitungan jumlah ploidi dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan
jumlah nukloli. Nukleoli pada sel interfase mencerminkan tingkat ploidi dari suatu
organisme.
Menurut Sumner (1990), Nucleolar Organizer Region (NOR) adalah
daerah pada kromosom yang mengandung gen rRNA utama. NORs dapat
diwarnai secara spesifik dengan menggunakan perak. Pewarnaan kromosom
dengan metode ini menghasilkan nukleus berwarna kuning terang dengan NORs
muncul sebagai titik hitam. Beberapa tempat NORs dapat di nonaktifkan selama
transkripsi dan tidak terlihat saat pewarnaan perak. Oleh karena itu, pada
perhitungan jumlah nukleolus dapat bervariasi. NORs ini tidak membentuk
nukleoli, jadi jumlah nukleoli bervariasi pada setiap sel. Pada organisme diploid,
memiliki NORs yang menghubungkan gen hanya pada satu lokus (satu pasang
kromosom), oleh karenanya aka nada satu atau maksimum dua nukleoli yang
dibentuk (Jankun, et al., 2007).
Perbedaan frekuensi jumlah ploidi berhubungan dengan ketinggian tempat
dari lokasi pengambilan sampel Puntius binotatus. Hal tersebut dapat dilihat dari
hasil analisis yang menunjukkan bahwa frekuensi ploidi n paling banyak pada
Puntius binotatus dari Daerah Doko yang memiliki ketinggian 365 mdpl.
Frekuensi ploidi 2n paling banyak terdapat pada Puntius binotatus dari Daerah
Srengat dengan ketinggian 252 mdpl. Sedangkan frekuensi ploidi 3n dan 4n
37

paling banyak terdapat pada Puntius binotatus dari Kota Batu yang memiliki
ketinggian 546 mdpl.
Penyebab terjadinya perbedaan frekuensi jumlah ploidi ini karena
perbedaan letak geografis dari daerah pengambilan ikan wader (Puntius
binotatus) yang pada penelitian ini dapat dibedakan merupakan perbedaan
ketinggian tempat. Karena, seiring dengan bertambahnya ketinggian tempat suatu
daerah, maka suhu di daerah tersebut akan semakin rendah yang dapat
menyebabkan peningkatan poliploidi pada ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Leggat, et al. (2003) yang menyatakan bahwa poliploidi pada suatu spesies dapat
diindikasikan oleh terjadinya kromosom yang berjumlah 2N pada ovum dan
35
sperma suatu spesies diploid. Suhu yang rendah ataupun penurunan suhu secara
tiba-tiba dapat pula mengakibatkan poliploidi pada ikan. Selain faktor suhu ada
beberapa faktor lain yang mempengaruhi poliploidi yang akan dibahas pada
subbab selanjutnya.
B. Pengaruh Perbedaan Daerah Terhadap Jumlah Poliploidi Pada Ikan
Wader (Puntius binotatus)
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data dengan perhitungan anava
tunggal, diperoleh Ftabel lebih besar dari Fhitung pada haploid (n), triploid (3n)
dan tetraploid (4n). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh perbedaan
tempat terhadap ploidi haploid, triploid dan tetraploid ikan wader (Puntius
binotatus) di daerah Srengat, Doko dan Donomulyo (hipotesis penelitiannya
ditolak dan hipotesis nolnya diterima). Sedangkan hasil analisis data diploid (2n)
menunjukkan Fhitung lebih besar dari pada Ftabel, sehingga hipotesis penelitian
diterima yang menunjukkan adanya pengaruh perbedaan tempat terhadap ploidi
diploid (2n) ikan wader (Puntius binotatus) di daerah Srengat, Doko dan
Donomulyo.
Kadi (2007) menyatakan bahwa, individu normal di alam pada umumnya
memiliki 2 set kromosom yang biasa disebut diploid (2n) dan individu diploid
tersebut akan menghasilkan mutan gamet haploid (n). Sedangkan adanya individu
triploid dan tetraploid tersebut menunjukkan adanya poliploidi. Namun,
berdasarkan data yang di dapatkan tidak menunjukkan adanya pengaruh
perbedaan tempat terhadap frekuensi poliploidi.
38

Poliploidi terbentuk dalam dua kelompok, yaitu : kelompok pertama


autopoliploidi yaitu penggandaan ploidi melalui penggabungan genom-genom
yang sama. Ploidi yang dihasilkan dari proses ini adalah aneuploid (kromosom
abnormal) yakni dalam bentuk triploid, tetraploid dan pentaploid. Kelompok
kedua alopoliploidi adalah penggandaan kromosom yang terjadi melalui
penggabungan genom-genom yang berbeda (Kadi,2007).
Ketinggian tempat sangat berhubungan dengan suhu suatu daerah tersebut.
Semakin tinggi suatu tempat maka suhunya akan semakin rendah begitu
sebaliknya. Dari ketiga daerah tersebut daerah yang merupakan daerah tertinggi
adalah Daerah Donomulyo dengan ketinggian 546 mdpl. Sedangkan pada Daerah
Srengat memiliki ketinggian 252 mdpl dan Daerah Doko memiliki ketinggian
yaitu 365 mdpl. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan jumlah ploidi yang
ditemukan dari ketiga daerah tersubut. Namun, frekuensi poliploidi yaitu triploid
dan tetraploid pada penelitian ini tidak dipengaruhi oleh perbedaan daerah. Hal ini
sesuai dengan rujukan yang ada bahwa perbedaan daerah dengan kondisi
geografis yang tidak signifikan tidak berpengaruh secara nyata terhadap frekuensi
poliploidi pada ikan seperti yang terdapat dalam Randolph (1932) bahwa suhu
tinggi menyebabkan poliploidi karena dapat menyebabkan peristiwa gagal
berpisah (Nondisjunction) dan suhu rendah juga terdapat mempengaruhi
poliploidi. Namun, perbedaan tempat dengan kondisi geografis yang sama tidak
akan memberikan pengaruh terhadap poliploidi.
Berdasarkan analisis varian tunggal tentang pengaruh perbedaan tempat
dengan jumlah ploidi pada ikan wader (Puntius binotatus) adalah ada pengaruh
perbedaan tempat dengan jumlah nukleolus. Jumlah ploidi paling banyak
ditemukan di daerah Donomulyo karena Donomulyo memiliki ketinggian
tertinggi yang berarti memiliki suhu paling rendah di bandingkan dua daerah yang
lain. Sedangkan jumlah ploidi paling rendah adalah Srengat yang memiliki
ketinggian paling rendah dalam penelitian ini. Suhu yang tinggi ini akan
meningkatkan terjadinya poliploidi begitu pula dengan suhu yang rendah. Hal ini
disebabkan suhu dapat menginduksi terjadinya peristiwa nondisjunction (gagal
berpisah) yang terjadi pada saat satu gamet menerima dua jenis kromosom yang
39

sama dan satu gamet lain tidak mendapat salinan (copy) sama sekali. Hal ini yang
menyebabkan adanya poliploidi (Welcome, 2001).
Salah satu garnet yang menyimpang ini bersatu dengan gamet normal.
Pada hewan poliploidi secara alami jarang terjadi, namun terjadi pada katak dan
ikan. Organisme yang memiliki dua set kromosom lengkap, didalam sel telur yang
telah dibuahi secara umum dapat berubah sehingga terbentuk kromosom
poliploidi, dengan istilah spesifik triploid (3n) dan tetraploid (4n), masing-masing
menunjukkan 3 atau 4 set kromosom. Organisme triploid bisa dihasilkan dari
fertilisasi telur diploid abnormal yang mengalami nondisjunction (gagal berpisah)
pada semua kromosomnya. Peristiwa berikutnya menghasilkan kromosom
tetraploid yang tebentuk akibat kegagalan zigot 2n dalam membelah diri setelah
replikasi kromosom-kromosomnya pada pembelahan mitosis berikutnya. Proses
ini akan menghasilkan embrio yang memiliki kromosom 4n ( Weatherley,
1972).
C. Faktor Penyebab Poliploidi Ikan Wader (Puntius binotatus)
Berdasarkan analisis data yang telah didapatkan, frekuensi kemunculan
ploidi pada ikan wader di tiga tempat pengambilan sampel (Doko, Srengat dan
Donomulyo) menunjukkan perbedaan walaupun tidak signifikan. Banyak faktor
yang mempengaruhi proses terjadinya poliploidi pada ikan. Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan pembentukan individu poliploidi pada ikan yang hidup di
alam ada faktor ekologis dan faktor intrinsik dari ikan yang membuat mereka
lebih rentan terhadap pembentukan awal poliploid. Sebagian besar kejadian
poliploidisasi di hewan dianggap telah dihasilkan dari pembentukan gamet yang
tidak mengalami reduksi kromosom ketika meiosis (Bretagnol et.al;. 1995).
Menurut Corebima (2000), poliploidi juga dapat terjadi sebagai akibat dari
penyimpangan selama pembelahan mitosis dan meisosis. Namun mekanisme lain,
seperti polispermia juga mungkin terjadi. Tidak seperti tanaman, poliploidisasi
somatik belum dijelaskan pada hewan. Ada pertimbangan faktor-faktor lain yang
dapat meningkatkan peluang untuk pembentukan individu poliploid, seperti
produksi gamet, lingkungan reproduksi dan kecenderungan untuk hibridisasi. Can
et.al. (2012:306), menyatakan mekanisme terjadinya poliploidisasi dengan 3 cara
yaitu dengan penggandaaan kromosom, nonreductional gamet, polispermia.
40

Poliploidi pada ikan dapat berlangsung akibat beberapa faktor. Menurut


Can et.al. (2012:306), efek dari lingkungan, terutama seperti suhu tidak dapat
diabakan dalam proses poliploidi pada ikan. Faktor lingkungan seperti rangsangan
suhu panas dan dingin, serta radiasi juga berperan dalam proses terjadinya
poliploidi. Sementara menurut Donaldson et al., (2008) dalam Mable (2011),
tekanan yang tinggi antara 400 dan 600 atmosfer juga dapat menginduksi
poliploidi. Sementara kejutan tekanan tidak relevan dengan pembentukan
poliploidi dalam sistem alami, suhu dingin atau guncangan panas dapat terjadi
secara alami melalui perubahan iklim, gerakan air seperti banjir atau pencairan
salju, hujan lebat atau perubahan yang cepat dalam suhu musiman. Rosalind
(2003 : 242), menyatakan bahwa suhu rendah yang tiba tiba berubah pada
lingkungan juga dapat menginisisasi terjadinya poliploidi secara alami. Selain itu
poliploidi juga dapat terjadi karena adanya senyawa kimia seperti kolkisin.
Adanya kolkisin dapat menghambat terbentuknya benang-benang spindel pada
saat pembelahan mitosis. Dalam hal ini kromosom yang telah bereplikasi tetap
tidak terpisah dan tidak dapat memasuki tahap anafase. Pada keadaan ini sel telah
memiliki jumlah kromososm sebanyak 2 kali lipat (Corebima, 2000).
Mable (2011) menjelaskan bahwa ada faktor yang mempengaruhi
pembentukan poliploidi dan ada faktor yang mempengaruhi penyusunan
poliploidi. Dalam hal ini, Mable (2011) menjelaskan faktor yang mempengaruhi
pembentukan poliploidi seperti frekuensi dari gamet yang tidak tereduksi,
polispermia, produksi gamet, lingkungan reproduktif, dan kecenderungan
hibridisasi atau perkawinan silang. Sedangkan faktor yang mempengaruhi
penyusunan poliploidi seperti perkawinan secara asortatif atau berganti pasangan,
tingginya toleransi ekologi, tekanan berupa patogen. Namun pada kejadian alami
kita tidak dapat memprediksi yang mana yang terjadi.
D. Kelemahan Penggunaan Metode Perhitungan Jumlah Nukleolus
Dalam proyek ini, menggunakan metode penghitungan
nukleous untuk menentukan ploidi pada ikan wader di tiga
tempat pengambilan sampel yang berbeda. Menurut Thorgaard
(1983), penghitungan nukleolus merupakan metode tidak
langsung untuk identifikasi polyploidi. Jumlah pewarnaan
41

nukeolus dengan preak ini terbukti berkorelasi dengan tingkat


poliploidi pada organisme (Sumner 2003). Pewarnaan perak
adalah metode sitogenetika yang umum digunakan untuk
mempelajari jumlah, ukuran, dan distribusi AgNORs di
metaphase atau nucleolus di interfase (Kim et.al : 2015).
Menurut Kim et.al (2015:255), pengaplikasian pewarnaan perak
saat interfase, akan menimbulkan endapan atom perak pada
nucleolus sehingga nucleolus berwarna hitam.
Metode ini menggunakan pewarnaan perak nitrat untuk
mewarnai nucleolus ikan wader sehingga bisa diamatai lewat
mikroskop dan bisa dengan mudah untuk dihitung. Dalam
mengunakan metode ini ada kekurangan dan kelebihan.
Kelebihan metode ini adalah proses penghitungan nucleolus lebih
mudah dan dapat dilakukan oleh seotang peneliti yang masih
pemula. Selain itu biaya untuk melakukan penelitian dengan
metode ini lebih murah. Selain itu, menurut Carman et.al
(1992:2308), dengan metode ini dapat menganalisa polploidi
pada ikan tanpa membunuh ikan tersebut, karena pada metode
ini jaringan yang dipakai adalah sirip kaudal dari ikan. Gulia et.al
(2011: 1013), keuntungan dari metode pewarnaan perak nitrat
adalah murah, simple dan mudah digunakan serta memiliki
korelasi yang bagus dengan proliveraative marker.
Kekurangan penggunaan metode penghitungan nucleolus
adalah tingkat keakuratannya. Gulia et.al (2011: 1014). Namun,
harus disebutkan bahwa beberapa kesulitan teknis yang ditemui
selama penelitian ini, pewarnaan metode ini harus cermat
berkaitan dengan durasi pewarnaan, suhu, kemurnian air,
reagen, dll (semua parameter tersebut memiliki pengaruh yang
besar pada hasil akhir) sebelum diadopsi sebagai prosedur rutin.
Afinitas nucleolus terhadap perak nitrat sangat berpengaruh,
sebab jika digunakan dalam konsentrasi tinggi maka akan buram
jika diamati Gulia et.al (2011: 1015). Kadang kala nucleolus tidak
42

bisa terwarnai dengan sempuran sehingga tidak begitu jelas


ketika diamati menggunakan mikroskop. Selain itu jika oengamat
kurang teliti dalam menghitung nucleolus yang tampak, maka
hasilnya pun juga akan kurang akurat. Dalam menggunakan
metode ini sulit untuk membedakan bentuk nucleolus antara
triploid, tetraploid dan haploid serta diplod yang berlekatan.
Selain itu ketika menggunakan metode ini mikroskop yang
digunakan juga akan sangat berpengaruh. Menurut Carman et.al
(1997), pewarnaan menggunakan perak nitrat hanya dapat
mewarnai nucleolus (NORs), yang sedang aktif melakukan
sintesis ribosom dan protein sebelum dilakukan fiksasi.
Ketika mengguakan mikroskop yang bagus, maka
nucleolus dapat terlihat dengan jelas dan mudah dibedakan
antara yang haploid, diploid, triploid dan tetraploid. Selain itu
preparat yang telah diwarnai dan tidak sempat diamati, sudah
tidak bisa diamati lagi keesokan harinya, sebab preparat akan
terlihat gelap dan akan sulit membedakan nucleolus dengan
kotoran atau kontaminan yang lain.
43

BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan, dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Frekuensi poliploidi ikan wader (Puntius binotatus) dari Daerah
Doko (78.08%) sedangkan persentase terendah pada Puntitus binotatus dari
Daerah Srengat (74.99%). Persentase diploid paling tinggi yaitu pada
Puntitus binotatus dari Srengat (19.16%) sedangkan persentase terendah pada
Puntitus binotatus dari Daerah Doko (15.76%). Persentase triploid paling
tinggi yaitu pada Puntitus binotatus dari Daerah Donomulyo (6.10%)
sedangkan persentase paling rendah yaitu pada Puntitus binotatus dari Daerah
Srengat (5.26%). Persentase tetrapoid yang paling tinggi yaitu pada Puntitus
binotatus dari Donomulyo (0.79%) sedangkan persentase paling rendah pada
Puntitus binotatus dari Daerah Srengat (0.59%).
2. Tidak ada pengaruh perbedaan tempat terhadap poliploidi ikan wader
(Puntius binotatus) dari daerah Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.
3. Faktor yang mempengaruhi proses poliploidisasi ikan Wader
(Puntius binotatus) dari daerah Srengat dan Doko Kabupaten
Blitar dan daerah Donomulyo Kabupaten Malang ada
beberapa faktor antara lain: frekuensi gamet tidak tereduksi,
polispermia, produksi gamet, lingkungan reproduktif, dan
kecenderungan untuk hibridisasi. Selain itu juga ada faktor
lingkungan meliputi suhu, pH, tekanan, radiasi, pencemaran
dan zat kimia.
4. Kelebihan dari teknik analisisn poliploidi dengan metode
perhitungan nucleolus adalah mudah, murah dan memiliki
korelasi yang bagus dengan proliveraative marker.
Kekurangan dari dari teknik analisis poliploidi dengan metode
perhitungan nucleolus adalah kurang akurat. Pewarnaan
menggunakan perak nitrat hanya dapat mewarnai nucleolus
(NORs), yang sedang aktif melakukan sintesis ribosom dan
44

protein sebelum dilakukan fiksasi. Serta jika menggunakan


perak nitrat dalam konsentrasi tinggi maka akan
menghasilkan hasil yang buram.
B. Saran
1. Dalam melakukan fiksasi sirip kaudal, untuk mengganti larutan Carnoy 30
menit pertama sebaiknya tepat waktu.
2. Pada saat pembuatan preparat diusahakan untuk hati-hati dan menggunakan
teknik yang benar agar tidak terjadi kesalahan prosedur, dan agar
mendapatkan hasil pengamatan semaksimal mungkin.
3. Dalam pembuatan preparat, sebaiknya saat pengeringan hasil cacahan
sebelum diberi larutan A dan B tidak terlalu lama sehingga preparat tidak
42
menjadi sangat kering.
4. Dalam pemasukan preparat dalam box straining sebaiknya tidak melebihi 30
menit karena dapat menyebabkan kerusakan preparat.
5. Lebih teliti dalam menghitung nukleolus yang ploidi (n, 2n,
3n, dan 4n) agar mendapatkan data yang lebih akurat.
6. Menggunakan mikroskop yang baik agar preparat bisa
diamati dengan jelas.

DAFTAR RUJUKAN

Bretagnolle F, Thompson J D. 1995. Gametes with the somatic chromosome


number: mechanisms of their formation and role in the evolution of
autopolyploid plants. New phytol, 129: 122
45

Campbel, N. A., L.G. Reece dan Mitchell. 2010. Biology 5th Edition. New York:
Mc graw Hill co.
Can, Shong., Shaojun, Liu., Jun, Xiao., Weiguo, He., Yi, Yhou., Qinbo, Qin.,
Chun, Zhang., Yun, Liu. 2012. Polyploid organism. Sci China Life Sci,
55: 301311, doi: 10.1007/s11427-012-4310-2.
Can, Song, Liu Shaojun, Xiao Jun, He Weiguo, Zhou Yi, Qin Qinbo, Zhang Chun,
dan Liu Yun. 2012. Poliploid Organisms. Article of China Life Science.
55(4)301-311.(Online), (http://download.springer.com/static/pdf/300/art
%253A10.1007%252Fs11427-012-4310-2.pdf?
auth66=1427725786_93eb7ef74f3da0746c42ac6c98830f6c&ext=.pdf,
diakses tanggal 1 April 2016).
Carman, O., Alimuddin, Sastrawibawa, S. Dan Arfah, H. (1997) Determinasi
Kromosom dan Nukleoli Kelamin pada Ikan Nila Merah (Oreochromis
sp.). Zuriat, Volume 8, Nomor 2. Hal: 83-89
Carman, O., T. Oshiro, dan F. Takashima. 1990. Estimation of Effective Condition
for Induction of Poliploidi in Goldfish, Caurassius auratus Linnaeus.
Tokyo: Tokyo Suisandai Kempo.
Carman, Odang., Oshiro, Takashi., Takhasima, Fumio. 1992. Variation in the
Maximum Number of Nucleoli in Diploid and Triploid Common Carp.
Jurnal Nippon Suisan Gakkaishi 58(12), 2303-230.
Corebima, A.D. 2000. Genetika Mutasi Dan Rekombinasi. Malang : FMIPA UM
DAmato, Francesco dan Durante, Mauro. 2002. Polyploidy. Encyclopedia of Life
Sciences. (Online), (http://www.els.net, diakses tanggal 13 April 2015).
Firdaus, Syarifin. 2002. Studi Tentang Jumlah Nukleolus sebagai Metode Analisis
Ploidi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Ras Punten hasil Poliploidi Kejutan
Panas. Skripsi (tidak diterbitkan). Malang: Biologi FMIPA UM.
Gradner, dkk. 1991. Principle of Genetics, Eight edition. John Wiley & Sons, Inc:
New York
Gulia, S.P., Sitaraman, E., Reddy, K.P. 2011. The Role of Silver Staining
Nucleolar Organiser Regions (AgNORs) in Lesions of the Oral Cavity.
Journal of Clinical and Diagnostic Research. 201 1 October, Vol-5(5):
1011-1015
Jankun, Malgorzata, Henryk Kuzminski, dan Grazyna Furgala-Selezniow. 2007.
Cytology Ploidy Determination in Fish-An Example of Two Salmonoid
Species. Journal of Environmental Biotechnology. 3(2): 52-56. (Online),
(http://yadda.icm.edu.pl/yadda/element/bwmeta1.element.baztech-
article-BAR0-0062- 44
0104/c/httpwww_environmentalbiotechnology_plebdzialyebonline2007v
ol32ms060mjankun.pdf, diakses tanggal 24 April 2016).
January 2004 Pages 173191
46

Karmila, Mimin. 2000. Fenotipe Warna Keturunan Diploid dan Triploid Hasil
Persilangan Ikan Koi (Cyprinus carpio L.) Kohaku dan Sanke Betina
dengan Jantan Shiromuji dan Jantan Higoi. Skripsi (tidak diterbitkan)
Bandung: Institute Pertanian Bogor.
Kim, Sumin., Lee, DoKyoung., Rayburn, A.L,. 2015. Analysis of Active Nucleolus
Organizing Regions in Polyploid Prairie Cordgrass (Spartina pectinata
Link) by Silver Staining. Jurnal Cytologia 80(2): 249258.
Kottelat, M.A.J. Whitten, S.N. Kartikasari & S, Wirjoatmojo 1993.
Freshwater Of Westren Indonesia and Sulawes. London:
Periplus Edition.
Kulkarni, Sunita, R.N. Mody, Sanjeev Jindal, Ravinder Singh Sohl, dan
Bhawandeep Kaur. 2009. Silver Bnding Nucleolar Organiser Region in
Oral Submucous Fibrosis, Licjen Planus, Leukoplakia, and Squamous
Cell Carcinoma. Journal of Cancer Research and Experimental
Oncology. 1(2): 15-19. (Online),
(http://www.academicjournals.org/article/article1379429481_Kulkarni
%20et%20al.pdf, diakses tanggal 24 April 2016).
Mable B. K., et, al. 2011. Genome duplication in amphibians and fish: an
extended synthesis. Journal of Zoology 284 (2011) 151182 c 2011.
Mulyadi, A.F., Masud E., dan Jaya M.M. 2011. Modul Teknologi Pengolahan
Ikan Gabus. (Online),
(http://maharajay.lecture.ub.ac.id/files/2013/06/Modul-Abdimas-Ikan-
Gabus-2011.pdf, diakses tanggal 24 April 2016).
Randolph, L. F. 1932. Some Effects Of High Tempera Ture On Polyploidy And
Other Variations In Maize. United States Department Of Agriculture And
Cornell University: USA.
Roberts, W. E. 1989. Puntius binotatus http://www.fishbase.org.
diakses pada tanggal 27 April 2016.
Rosalind, A., Leggatt,. George, K. Iwama. 2003. Occurrence of polyploidy in the
shes. Jurnal Reviews in Fish Biology and Fisheries 13: 237246, 2003.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I.
Jakarta: Bina Cipta
Sistina, Y., 2000, Biologi Reproduksi, Purwokerto: Fakultas Biologi, Universitas
Jenderal Soedirman.
Soltis, Douglas, Pamela., Tate, Jennifer. 2003. Advances in the study of
polyploidy since Plant speciation. Jurnal phytologist Volume 161, Issue 1
Sumner, A. T. 2003. Chromosomes Organization and Function. Blackwell
Publishing, North Berwick.
47

Sumner, A.T. 1990. Chromosome Banding. London: Unwin Hyman Inc.


Thorgaard, G. H.1983. Chromosome set manipulation and sex control in fish, in
"Fish Physiology" (ed. by W. S. Hoar, D J., Randall and E. M.
Donaldson). Vol. IXB, Academic Press, New York, 1983, pp. 405-434.
Weatherley, A.H. 1972. Growth and ecology offish population. Academic press.
Welcome, R. L. 2001. Inland Fisheries. Ecology and Management. Blackwell
Science Ltd. London.

Anda mungkin juga menyukai