Anda di halaman 1dari 9

Hari / Tanggal : Kamis / 21 November 2013

Waktu : 14.00 - 16.30 WIB


Kelompok : I / Sore
Penanggung jawab : Siti Sadiah, Apt. M.Si.

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI VETERINER


TOKSIKOLOGI LOGAM BERAT DAN METALOID

KELOMPOK I :

Andra Adi Esnawan (B04090010) .


Anizza Dyah K. M. (B04100069) .
Arlita Sariningrum (B04100070) .
Fahmi Khairi (B04100071) .
Fitri Aprian H (B04100072) .
Irene Soteriani U (B04100073) .

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
Pendahuluan
Logam berat adalah benda padat atau cair yang mempunyai berat 5 gram atau lebih
untuk setiap cm3 sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5g adalah logam ringan. Tubuh
makhluk hidup mempunyai logam berat dan termasuk dalam mineral trace atau mineral
yang jumlahnya sangat sedikit. Beberapa mineral trace adalah esensiil karena digunakan
untuk aktivitas kerja sistem enzim misalnya seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe), kobalt (Co),
mangan (Mn) dan beberapa unsur lainnya. Beberapa logam bersifat non-esensiil dan bersifat
toksik terhadap makhluk hidup misalnya : merkuri (Hg), perak (Ag), barium (Ba) dan timbal
(Pb).
Logam-logam berat dan garam-garamnya seringkali menimbulkan keracunan, baik
pada manusia maupun hewan. Keracunannya dapat terjadi karena adanya logam-logam
tersebut dalam makanan atau air minum yang disebabkan oleh limbah industri, adanya unsur
atau garam logam dalam tanah, padang rumput, tempat makan atau minum yang mengandung
logam. Gejala-gejala keracunan logam harus dikenali dan antidota perlu dipelajari untuk
mengatasi suatu peristiwa keracunan. Selain itu, identifikasi jenis logam dalam keracunan
logam diperlukan untuk penanggulangan secara tepat dan akurat.

Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengetahui adanya senyawa-senyawa untuk menetralisir
senyawa-senyawa logam berat atau metaloid dan memahami antidota kimia logam dan
metaloid tersebut. Selain itu, praktikan mampu melakukan identifikasi jenis logam dengan
cara yang mudah dan sederhana.

Tinjauan Pustaka
Timbal dan senyawa lain yang bersifat toksin dapat ditransmisikan melalui air yang
tercemar. Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam pengendalian dan pemantauan dampak
lingkungan adalah melakukan analisis unsur-unsur dalam ikan air tawar, terutama Pb, Cu, dan
Cd (Koeman 1987). Timbal merupakan logam berat yang sangat beracun dan dapat dideteksi
secara praktis pada seluruh benda mati di lingkungan dan seluruh system biologis
(Widaningrum 2007). Proses masuknya Pb ke dalam tubuh dapat melalui beberapa jalur,
diantaranya makanan dan minuman, udara dan penetrasi atau perembesan pada selaput atau
lapisan kulit Absorpsi timbal di dalam tubuh sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi dan
menjadi dasar keracunan yang progresif. Keracunan timbal ini menyebabkan kadar timbal
yang tinggi dalam aorta, hati, ginjal, pankreas, paru-paru, tulang, limpa, testis, jantung dan
otak (Mukono 2005).
Perak (Ag) adalah suatu elemen yang ditemukan secara alami di lingkungan. Paparan
pada level yang tinggi dari perak untuk periode waktu yang lama dapat menyebabkan argyria,
kelainan pigmentasi kulit menjadi berwarna biru-abu-abu, serta kelainan pada organ lainnya.
Sedangkan pada paparan dengan level yang rendah oleh perak juga dapat menyebabkan
terdepositnya perak di kulit dan bagian lain dari tubuh meskipun belum diketahui tingkat
bahayanya. Argyria adalah efek yang sifatnya permanen, tetapi kejadian ini muncul saat
terjadi masalah kosmetik yang sebenarnya bersifat tidak berbahaya bagi kesehatan (ATSDR
1999).
Barium adalah salah satu logam alkali dalam tanah berupa metal berwarna putih
keperak-perakan . Barium dapat ditemukan di alam, pada batuan beku dan sedimentasi,
bahan bakar fosil, udara, air dan tanah. Warna putih ini terjadi karena biasanya Barium
bersenyawa dengan zat kimia lainnya seperti dengan Belerang, Karbon atau Oksigen dan
tidak ditemukan bebasdi alam. Senyawa barium yang paling umum adalah barium sulfat
(barit) dan, pada tingkat lebih rendah adalah barium karbonat (witherite). Senyawa Barium
juga bisa diproduksi oleh industri dan banyak terdapat di lingkungan.
Dalam tabel periodik kimia, Barium adalah suatu unsur kimia dengan lambang Ba dan
nomor atom 56. Contoh kristal yang dihasilkan Barium antara lain Barium Sulfat (BaSO4)
dan contoh basa yang mengandung Barium antara lain Barium Hidroksida (Ba(OH)2). Jika
larut dalam cairan tubuh selama jangka pendek mengakibatkan kesulitan bernapas, tekanan
darah meningkat, perubahan denyut jantung, iritasi perut, pembengkakan otak, kelemahan
otot, kerusakan pada: hati, ginjal, jantung dan limpa.
Keracunan Hg pernah terjadi pada manusia. Studi epidemiologi yang dilakukan
mengungkap bahwa keracunan metal dan etil merkuri sebagian besar di sebabkan oleh
konsumsi ikan yang di peroleh dari daerah tercemar atau makanan yang berbahan baku
tumbuhan yang disemprot dengan pestisida jenis fungisida alkil merkuri. Pada tahun 1968
Katsuna melaporkan adanya epidemic keracunan Hg di Teluk Minamata, dan pada tahun
1967 terjadi pencemaran Hg di sungai Agano di Nigata. Pada saat terjadi epidemi, kadar Hg
pada ikan di Teluk Minamata sebesar 11 g/kg berat basah dan di sungai Agano sebesar 10
g/kg berat basah. Menurut Zekk (1994), efek keracunan Hg tergantung dari kepekaan
individu dan faktor genetik. Individu yang peka terhadap keracunan Hg adalah anak dalam
kandungan (prenatal), bayi, anak-anak, dan orang tua. Gejala yang timbul akibat keracunan
Hg dapat merupakan gangguan psikologik berupa rasa cemas dan kadang timbul sifat agresi.
Penyakit lain yang disebabkan oleh keracunan Hg adalah Pink Disease yang terjadi di
Guatemala dan Rusia yang merupakan outbreak keracunan Hg akibat mengkonsumsi padi-
padian yang terkontaminasi oleh Hg.

Metodologi
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung-tabung reaksi, pipet, corong
gelas, dan kertas saring. Sedangkan bahan yang digunakan adalah seduhan the kental, larutan
Pb Asetat 10%, alcohol, HCl encer, larutan Natrium thiosulfat 2%, larutan argentum 1%,
larutan Natrium klorida 0.9%, larutan Natrium sulfat 2%, larutab Barium klorida 10%,
larutan HCl 0.1 N, larutan HgCl 1%, larutan segar albumin telur, dan kalium iodine.
Cara Kerja
1. Antidota Timah Hitam (Pb)
Seduhan teh ditambahkan ke dalam larutan Pb Asetat 10% lalu diambil sebagian
untuk ditambah alkohol. Sedangkan sisanya ditambahkan larutan HCl encer. Larutan
thiosulfat 2% ditambahkan ke dalam Pb asetat 10%. Perhatikan reaksi yang terjadi.
2. Antidota Perak (Ag)
Sebanyak 0.55cc NaCl 0.9% ditambahkan ke dalam 0.5cc larutan AgNO 3 1%.
Kemudian pada tabung selanjutnya tambahkan 0.5cc larutan Na thiosulfat 2% ke dalam
larutan AgNO3. Kedua campuran kemudian disaring masing-masing dan diambil filtratnya
diambil sedikit untuk ditambah larutan NaCl 0.9%. Perhatikan reaksi yang terjadi.
3. Antidota Barium (Ba)
Larutan Natrium sulfat 2% ditambahkan ke dalam larutan Barium klorida 10%. Lalu
ditambahkan pula HCN 0.1 N. Perhatikan reaksi yang terjadi.
4. Antidota Air Raksa (Hg)
a. Seduhan teh ditambahkan ke dalam 5 mL larutan HgCl 2. Selanjutnya cairan dibagi menjadi
dua campuran, lalu satu bagian ditambahkan alkohol dan bagian lainnya ditambahkan larutan
HCl encer.
b. Sebanyak 0.5 mL larutan HgCl2 ditambahkan dngan sedikit larutan albumin segar telur.
Perhatikan reaksi yang terjadi lalu ditambahkan kembali larutan albumin segar secar berlebih.
c. Sebanyak 5 tabung reaksi masing-masing diisi dengan larutan HgCl2 1%. Pada tabung
pertama ditambahkan beberapa tetes Natrium thiosulfat. Pada tabung kedua ditambahkan
secara cepat 2 cc larutan Natrium thiosulfat. Pada tabung ketiga tambahkan beberapa tetes
kalium iodide. Pada tabung keempat ditambahkan secara cepat larutan Natrium thiosulfat
sebanyak 2 cc diikuti Kalium iodide beberapa tetes. Pada tabung kelima ditambahkan
Natrium thiosulfat kemudian kalium iodide beberapa tetes. Ulangi teteapi sebagai ganti dari
satu tetes Natrium sulfat, tambahkan beberapa tetes.
Hasil Percobaan
Reaksi logam dan
No Logam Hasil
antidota
1. Timbal Kiri: berwarna bening
Hitam dan terdapat gumpalan
Kiri: Pb asetat + teh
abu-abu kehijauan
(Pb) + alkohol Kanan: membentuk
Kanan: Pb asetat + endapan putih seperti
bubuk dan larutan
teh + HCl
berwarna kuning

Pb asetat + larutan menghasilkan endapan


putih seperti bubuk di
natrium thiosulfat dasar tabung

2. Perak Kiri: Membentuk


(Ag) larutan berwarna putih
susu dengan bentukan
Kiri: AgNO3+NaCl filtrat berwarna putih
0,9% pula
Kanan: Membentuk
Kanan: AgNO3+Na- larutan berwarna
thiosulfat kecokelatan agak
keruh dan membentuk
filtrat berwarna
kehitaman
3. Barium
Menghasilkan endapan
(Ba)
Ba + Natrium sulfat putih dan cairan putih
keruh

4. Air
raksa Kiri: HgCl2 + teh +
Kiri: keruh (+)
(Hg) HCl
Kanan: lebih keruh (+
Kanan: HgCl2 + teh +)
+ alkohol

HgCl2 + albumin
terdapat gumaplan
putih
a. HgCl2 + Na2S2O3
Larutan menjadi putih
(beberapa tetes)
endapan kuning

b. HgCl2 + Na2S2O3
Larutan menjadi
(langsung 2cc)
cokelat kehitaman
c. HgCl2 + KI
(beberapa tetes)

Larutan menjadi
d. HgCl2 + N2S2O3 + oranye/pink dengan ada
KI (beberapa tetes) sedikit gumpalan
e. HgCl2 + albumin
+ KI (beberapa Larutan menjadi oranye
tetes) dan dibagian dasar
berwarna lebih kuning

Larutan jernih dengan


gumpalan kuning cerah

Metode cepat identifikasi logam berat


t
S
E
+
a
n
i
m
a
H
d
p
l
C
a
p
l
k
e
o
a
h
n
b
+
o
e
l
p
r
t
u
e
t
b
h
i
a
h

t
S
e d t
S
e
a
in i a
in
m
d m
d
p
a d p
a
l
p
k u l
p
k
e
a e
a
n
a g n
a
+
d a +
d
d
a
d
a
iN H
P iN
a
d
e a
d
e
u
n b
g u
n
g
d g
d
a a
p p
B
a A
a
a
n
g
n
d d
i i
d d
u u
g g
a
a
H P
g b

Pembahasan
Pada percobaan kali ini diujikan beberapa bahan sebagai antidota dari timah hitam
(Pb) dalam bentuk cair yaitu Pb asetat 10%. Percobaan pertama, ditambahkan seduhan teh ke
dalam larutan Pb asetat yang menghasilkan gumpalan seperti kapas. Larutan kemudian dibagi
dua dan di tambahkan alkohol pada tabung pertama dan HCl pada tabung kedua. Larutan
yang ditambahkan dengan HCl membentuk endapan putih seperti bubuk dan larutan
berwarna kuning, sedangkan larutan yang ditambahkan dengan alkohol berwarna bening dan
terdapat gumpalan abu-abu kehijauan.
Percobaan kedua dilakukan dengan menambahkan larutan Natrium thiosulfat 2% ke
dalam larutan Pb asetat 10% yang menimbulkan warna putih keruh pada larutan dan tidak
terbentuk endapan. Jika Pb asetat ditambahkan dengan Natrium thiosulfat, maka hasil yang
didapat akan menghasilkan endapan putih seperti bubuk di dasar tabung. Hasil percobaan
tersebut menunjukkan bahwa teh (tannin) dapat digunakan sebagai antidota dari Pb asetat.
Percobaan penambahan natrium klorida (NaCl) terhadap perak nitrat (AgNO 3)
menunjukkan hasil reaksi berupa larutan bewarna putih susu. Larutan putih susu tersebut
didiamkan beberapa saat dan kemudian terbentuk endapan berupa filtrat halus berwarna putih
susu pula di dasar tabung reaksi. Sedangkan penambahan natrium thiosulfat terhadap perak
nitrat menghasilkan warna larutan agak keruh kecokelatan dengan massa kehitaman. Setelah
disaring dan filtratnya ditambah dengan natrium klorida menghasilkan perubahan warna
menjadi jernih pada cairan yang berwarna putih susu. Sedangkan dari larutan yang berwarna
keruh dengan massa kehitaman didapatkan hasil akhir berupa warna jernih kekuningan.
Berikut merupakan reaksi kimiawi yang terjadi selama penambahan NaCl dan Na-
thiosulfat:
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3 (Putih Susu)
AgNO3 + Na2S2O3 NaNO3 + Ag2S2O3 (Coklat kehitaman)
Natrium thiosulfat dapat digunakan sebagai antidota keracunan perak nitrat, karena
berfungsi sebagai donor sulfur yang akan berikatan dengan perak dan akan membentuk
endapan AgS2O3. Natrium thiosulfat akan menjadi ion tiosianat yang relatif tidak toksik.
Pemberian natrium thiosulfat secara intravena yang didistribusikan ke cairan ekstrasel dengan
waktu paruhnya 0.65 jam (Plumlee et al. 2001).
Pada percobaan antidota barium didapat bahwa Na2SO4 dapat mengendapkan Barium
klorida 10% hal ini terjadi sesuai dengan sifat barium itu sendiri yaitu Barium adalah bivalen
dalam garam-garamnya, membentuk kation barium. Klorida dan nitratnya larut, tetapi dengan
menambahkan asam klorida pekat atau asam nitrat pekat kepada larutan barium, barium
klorida atau nitrat mungkin mengendap sebagai akibat hukum kegiatan massa (Svehla 1985).
Natrium sulfat + Barium Klorida menjadi larutan putih susu + HCl menghasilkan larutan
agak jernih dengan endapan di dasar tabung reaksi.
REAKSI :
Ketika barium klorida (BaCl2) direaksikan dengan natrium sulfat (Na2SO4) akan
menghasilkan suatu endapan putih barium sulfat (BaSO4). Endapan putih yang terbentuk ini
sukar larut dalam air. Reaksi kimia tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
BaCl2 + Na2SO4 BaSO4 + 2NaCl
(larutan) (larutan) (padatan) (larutan)
Endapan tersebut terbentuk karena larutan terlalu jenuh dengan zat terlarutnya,
kelarutan suatu endapan sama dengan konsentrasi molar dari larutan. Kelarutan endapan
bertambah besar dengan kenaikan suhu, meskipun dalam beberapa hal khusus (seperti kalium
sulfat), terjadi sebaliknya. Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda. Pada beberapa
hal, perubahan kelarutan dengan berubahnya suhu dapat menjadi alasan pemisahan.
Percobaan pertama adalah penambahan alkohol dan HCl ke dalam HgCl 2 yang telah
ditambahkan dengan seduhan teh pekat. Terbukti bahwa dengan alkohol maka endapan Hg
lebih banyak terbentuk dengan terbentuknya warna cokelat lebih keruh di dasar tabung.
Percobaan antidota terhadap Hg yang kedua menggunakan albumin dengan dua perlakuan.
Pertama albumin diteteskan sedikit demi sedikit sedangkan yang kedua albumin dituangkan
secara cepat dan berlebih. Hasil yang diperoleh yaitu albumin berikatan dengan Hg sehingga
muncul gumpalan-gumpalan putih. Hal tersebut disebabkan campuran albumin yang berlebih
dengan HgCl2 menjadi jenuh dan tidak mampu berikatan dengan Hg.
Natrium thiosulfat merupakan antidota yang baik untuk Hg. Pemberian secara
perlahan-lahan akan menghasilkan larutan berwarna putih dan terbentuk endapan
kekuningan. Apabila natrium thiosulfat diberikan sekaligus maka larutan akan menjadi coklat
kehitaman. Dari kedua perlakuan tersebut dapat dilihat bahwa pemberian secara perlahan
akan lebih efektif karena mampu mengendapkan Hg lebih banyak. Sedangkan pada
pemberian yang sekaligus akan menyebabkan larutan tersebut menjadi jenuh. Pemberian
kalium iodida sebagai antidota Hg akan memberikan hasil endapan oranye/pink cerah. Hal ini
berarti KI dapat mengendapkan Hg. Reaksi yang terjadi adalah HgCl 2 + KI KCl + HgI2.
Endapan berwarna oranye tersebut merupakan HgI2.
Pemberian natrium thiosulfat secara cepat dan berlebih yang diikuti KI beberapa tetes
akan menghasilkan endapan yang berwarna oranye dan dibagian dasar berwarna lebih
kuning. Ikatan Natrium thiosulfat yang diberikan secara cepat akan menjenuhkan larutan
sehingga Hg tidak dapat berikatan sempurna. Ketika diberi beberapa tetes KI maka Hg yang
masih bebas akan diikat oleh Iodium sehingga menhasilkan warna orange. Untuk percobaan
dengan penambahan albumin menunjukkan terjadinya gumpalan albumin. Hasil ini
menunjukkan bahwa albumin merupakan antidota alami yang dapat mengikat logam.

Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa senyawa-senyawa yang dapat
menetralisir dan sebagai antidota dari logam-logam berat ialah teh (Pb dan Hg), Natrium
thiosulfat (Ag, Pb, Hg), Natrium sulfat (Ba), albumin (Hg). Identifikasi senyawa logam berat
dapat diketahui dengan cara penambahan tiga latutan yaitu teh, Natrium sulfat, dan Natrium
thiosulfat.

Daftar Pustaka

[ATSDR]. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. 1999. United State Public
Helath and Human Services.
Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi ed.4. Jakarta: Gaya Baru
Koeman JH. 1987. Pengantar Umum Toksikologi. Terjemahan oleh R.H. Yudono Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Mukono HJ. 2005. Toksikologi Lingkungan. Surabaya: Airlangga University Press.
Plumlee, Konie. 2004. Clinical Veterinary Toxicology. United State: Mosby Inc.
Svehla, S. 1985. Vogel Bagian 1. Jakarta: Kalman Media Pustaka
Widaningrum Miskiyah, Suismono. 2007. Bahaya Kontaminasi Logam Berat dalam Sayuran
dan Alternatif Pencegahan Cemarannya. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian Vol.
3 2007
Zekk C. 1994. Occupational Medicine Third ed. USA: Mosby. Hal 625 629.