Anda di halaman 1dari 11

PENGANTAR ANTIINFEKSI

Infeksi
Infeksi adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama yang menyebabkan
cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi intraseluler, atau respon antigen-
antibodi. Infeksi dapat timbul bila beberapa agen mikroba telah melekat pd beberapa permukaan tubuh
atau masuk dan menyerang jaringan hospes untuk kemudian tumbuh dan menjadi banyak.
Infestasi
Infestasi adalah serangan atau bertahannya parasit pd kulit dan/atau organ kulit, misalnya oleh serangga,
tungau; kadangkala dipakai untuk menunjukkan invasi parasit pd jaringan atau organ, misalnya oleh
cacing. Syarat terjadinya infeksi :
Faktor mikroba
1. Daya transmisi
Merupakan cara pemindahan/penularan infeksi, dapat secara :
a) Langsung, misalnya melalui batuk, bersin, atau berciuman
b) Tidak langsung, misalnya melalui lingkungan sekitar seperti tanah, air, makanan, berbagai
permukaan benda, eskudat, eksreta, transfusi darah, atau melibatkan vektor seperti
serangga.
Daya transmisi ini juga ditentukan oleh sifat intrinsik mikroorganisme, misalnya :
a) mikroorganisme yang tahan terhadap kekeringan (biasanya yang membentuk spora) akan
mudah dipindahkan melalui lingkungan.
b) Sebaliknya mikroorganisme yang sensitif terhadap kekeringan dan perubahan suhu seperti
Treponema palidum penyebab sifilis sangat terbatas daya transmisinya.
2. Daya invasi
Setelah masuk ke dalam hospes baru, agen mikroba harus mampu bertahan dalam tubuh
hospes utk dpt menimbulkan infeksi. Misalnya :
a) Vibrio cholera, melekat kuat pada permukaan epitel usus supaya tidak terhanyut oleh
gerakan usus.
b) Bakteri penyebab disentri basiler, harus memasuki lapisan superfisial usus untuk dapat
menimbulkan infeksi.
c) Clostridium tetani, mengekskresikan racun yang dapat dibawa oleh darah dan
menimbulkan efek yang luas yang menandai penyakit ini.
3. Kemampuan untuk menimbulkan penyakit
Mikroorganisme memiliki kemampuan menimbulkan penyakit melalui :
a) pengeluaran eksotoksin atau endotoksin (yg dikeluarkan jika tjd lisis) yg dapat larut dan
bersirkulasi dan menimbulkan perubahan fisiologis yang nyata pada sel-sel tertentu.
Misalnya pada infeksi difteri dan tetanus
b) proses imunologi yaitu interaksi antigen-antibodi, seperti pada infeksi TBC,
glomerulonefritis, atau infeksi virus.
Faktor hospes
bahwa organisme yang menular harus mampu melekat, menduduki, atau memasuki hospes dan
berkembangbiak paling tidak sampai taraf tertentu dan menyerang jaringan hospes. Sebagai
reaksi, spesies hewan termasuk manusia mengembangkan mekanisme pertahanan tertentu pada
berbagai tempat yang berhubungan dengan lingkungan. Faktor hospes pada infeksi Merupakan
mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi, berupa :
1. Sawar fisik, kimia, dan biologi tubuh
Kulit dan mukosa orofaring
Saluran pencernaan
Saluran pernafasan
Sawar pertahanan lain
2. Reaksi peradangan yg bertindak dalam membatasi, menetralisir, dan membunuh organisme yg
menyerang
3. Sel fagositik dalam sistem monosit-makrofag, serta imunitas khusus terutama hati dan limfa
Infeksi Oportunistik
Infeksi ini timbul akibat kesempatan yang disediakan oleh keadaan fisiologi hospes. Misalnya ketika
antibiotik atau kortikosteroid tertentu diberikan untuk waktu yang lama, mikroorganisme tertentu yg dlm
keadaan berbeda bersifat non-patogen, menjadi patogen krn penekanan flora normal dan pertahanan
imun. Infeksi ini sering timbul pasien AIDS.
Contoh : infeksi usus oleh Escherichia coli, pneumonia oleh Pneumocystis carinii (PCP) pd penderita
AIDS, dll.
Flora Mikroba Normal
Hospes bersama flora normal atau flora mikroba merupakan ekosistem yang keseimbangannya
merupakan bagian penting dari keadaan sehat. Flora normal ada pd saluran cerna (usus dan feses),
permukaan kulit, epitel kulit, rongga mulut, saliva. Keseimbangan ini dikontrol oleh faktor-faktor yang
menyangkut interaksi mikroba-mikroba, dan interaksi hospes-mikroba. Jika keseimbangan ini terganggu
maka akan menimbulkan bahaya/resiko besar bagi hospes.
Sejarah Perkembangan Obat Antiinfeksi
Ignaz Semmelweis (1847) : mengenalkan kalsium hipoklorit sbg desinfektan tangan shg kematian
ibu-ibu akibat melahirkan 90% dikurangi.
Louis Pasteur (1863) : mempublikasikan penelitian ttg proses fermentasi dan pembusukan.
Joseph Lister : berdasarkan kerja yg dirintis Pasteur, mensyaratkan penggunaan karbol pd
pekerjaan bedah aseptik.
Robert Koch (1876) : menemukan Bacillus antrhacis penyebab peny.antraks, meletakkan dasar
metode yg penting bagi penelitian bakteri, perkembangbiakan, dan pewarnaannya.
Paul Ehrlich : menemukan Salvarsan (senyawa arsen/arsphenamin) untuk mengobati sifilis dan
tripanosomiasis, mengembangkan pengertian toksisitas selektif, dasar-dasar khemoterapi
Vuillemin (1889) : mendefinisikan antibiot sbg prinsip aktif yg dihasilkan mikroorganisma hidup
utk memusnahkan organisme lain utk kelangsungan hidupnya sendiri.
Emil von Bering (1893) : mengenalkan serum difteri, profilaksis, dan terapi dgn serum
Nicolle (1907) : mengisolasi dari Bacillus subtilis suatu zat yg menyebabkan lisis in vitro berbagai
perbenihan mikroba.
Alexander Flemming (1928) : menemukan penisilin yg dihasilkan oleh jamur Penicillium notatum
dapat menghambat pertumbuhan koloni bakteri
Gratin dan Jaumain (1931) : memproduksi mikrolisat yang dapat mengatasi infeksi
Staphylococcus menahun
Gerhard Domagk (1932) : menemukan kerja bakteriostatik dari sulfonamid
Ernst Chain (1940) : berhasil mengisolasi penisilin
Waksman (1943) : menemukan streptomisin.
Turpin dan Velu (1957) : mengemukakan bahwa antibiotik adalah semua senyawa kimia yg
dihasilkan oleh organisme hidup atau diperoleh dari sintesis, memiliki indeks khemoterapi yang
tinggi dengan manifestasi aktivitas terjadi pada dosis yang sangat rendah secara spesifik melalui
inhibisi proses vital tertentu pada mikroba, virus, dan berbagai organisme bersel majemuk.
Toksisitas selektif
Toksisitas selektif artinya toksis untuk mikroba, tidak toksis untuk tuan rumah/inang. Toksisitas selektif
adalah dasar penggunaan antbiotika secara klinis. Sampai tahun 1970 telah ditemukan sekitar 5000
antibiotik. Hanya sebagian kecil dari semua antibiotika yang ditemukan dapat digunakan secara klinis.
Hal tsb disebabkan tidak semua antibiotik tersebut memenuhi toksisitas selektif. Contoh :
Penisilin bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri, tidak berpengaruh thd manusia
karena adanya perbedaan komponen pd dinding selnya. Dinding sel bakteri mgd murein/asam
muramat pd lapisan peptidoglikan, sedang manusia tidak memiliki.
Sulfonamid bekerja selektif thd bakteri dgn mengganggu pembentukan asam folat pd bakteri.
Manusia jg memerlukan asam folat tapi bakteri tdk mendapat suplai lain ketika diganggu,
sementara manusia bisa mendapatkan dari makanan.
Golongan Antiinfeksi
1. Antimikroba (mengatasi infeksi akibat bakteri, jamur, virus) :
Antibiotik
Antijamur
Antivirus
Antiseptik/desinfektan
2. Antiparasit (mengatasi infeksi akibat parasit) :
Antiprotozoa
Anticacing
Perbandingan antibiotik dan antiseptik
Toksisitas
Cara pemakaian Daya kerja
selektif

- Bakteriostatik
Antibiotik Ada oral., parenteral, lokal
- Bakterisid sekunder

Antiseptik Tidak ada Lokal, topikal Bakterisid primer

Desinfektan
Menurut pemakaiannya desinfektan dibagi dua yaitu :
1. Desinfektan kasar
Desinfektan kasar digunakan untuk mendesinfeksi ruang, toilet, saluran pembuangan, produk
penyakit (misal nanah).
2. Desinfektan halus (antiseptik)
Digunakan untuk mendesinfeksi pakaian, alat-alat, dan tangan. Juga mendesinfeksi kulit dan
mukosa misalnya pada operasi.

RESISTENSI
Resistensi adalah ketahanan mikroba terhadap antibiotik tertentu. Resistensi terjadi melalui tiga
mekanisme yaitu :
1. Resistensi alamiah
Resistensi alamiah dapat terjadi akibat sifat alamiah mikroba yang tidak mempunyai
reseptor/komponen yang bisa diganggu oleh antimikroba.
2. Resistensi kromosomal
Resistensi kromosomal terjadi karena mutasi spontan pada gen kromosom. Kromosom yang
termutasi dapat dipindahkan shg terbentuk populasi yg resisten
3. Resistensi ekstrakromosomal
Resistensi ekstrakoromosomal diperantarai oleh plasmid/faktor R yg terdapat dalam sitoplasma yg
membawa resistensi bakteri thd berbagai antibiotik.

Penggunaan antibiotik yang tepat


Pemilihan didasarkan pada orientasi mikroba penyebab infeksi. Misal : di saluran pernafasan
biasanya Clostridium dan Streptococcus; di sal.cerna : Shigella dan E.coli
Dosis harus tepat dan cukup sehingga mencapai kadar darah yang efektif utk pengobatan
Waktu pemakaian tepat, pengobatan harus terus menerus hingga tercapai waktu pengobatan yg
optimal untuk memusnahkan mikroba
Dilakukan pengontrolan sewaktu pengobatan dengan antibiotik yang berefek samping luas atau
berat. Contoh : pengobatan dgn streptomisin harus dilakukan kontrol pendengaran
Penggolongan antibiotika
Didasarkan pada :
1. Daya kerja
Bakterisid, yaitu membunuh mikroba secara langsung dan irreversibel. Contoh : antibiotik beta
laktam, aminoglikosida, polipeptida, antiTBC.
Bakteriostatik, yaitu menghambat perkembangan mikroorganisme saja, tidak membunuh,
membutuhkan sistem pertahanan tubuh yang kuat untuk membunuh mikroba lebih lanjut.
Contoh : sulfonamida, tetrasiklin, makrolida, dan kloramfenikol
Antibakteri yang bekerja menghambat sintesis protein bakteri, mempengaruhi metabolisme :
bakteriostatik
Antibakteri yang bekerja menghambat sintesis dinding sel bakteri : bakterisid
Daya kerja antibakteri juga ditentukan oleh dosis. Bila dosis ditingkatkan maka bakteriostatik
dpt berubah mjd bakterisid. Bila dosis diturunkan maka bakterisid akan mjd bakteriostatik
Ada juga zat yg bila digunakan tunggal bersifat bakteriostatik tapi bila dikombinasi mjd
bakterisid. Misal : trimetoprim-sulfametoksazol (kotrimoksazol)
Bakterisid digunakan pada infeksi akut/kronis, pd kondisi antibodi rendah atau sistem imun
belum bekerja
Bakteriostatik digunakan pada infeksi ringan & tdk terlalu berat
2. Spektrum kerja
Spektrum luas (broad spectrum) : bekerja pada bakteri Gram positif, Gram negatif, dan jamur.
Contoh : tetrasiklin, kloramfenikol, antibiotika beta laktam
Spektrum sempit (narrow spectrum) : bekerja hanya pada Gram positif saja atau Gram negatif
saja. Misal : Penisilin G untuk Gram positif, polimiksin utk Gram negatif
3. Mekanisme kerja
Menghambat sintesis dinding sel bakteri. Contoh : penisilin, sefalosporin, sikloserin, vankomisin,
basitrasin
Menghambat sintesis molekul lipoprotein membran sel. Contoh : polimiksin, amfoterisin, nistatin
Mengganggu fungsi ribosom bakteri, menyebabkan inhibisi sintesis protein secara reversibel.
Contoh : tetrasiklin, kloramfenikol, makrolida
Menghambat sintesis/metabolisme asam nukleat. Contoh : rifampisin
Fiksasi pada subunit ribosom 30S menyebabkan produksi polipeptida abnormal. Contoh :
aminoglikosida
4. Struktur kimia
Antibiotika beta laktam : penisilin, sefalosporin, monobaktam, karbapenem
Aminoglikosida : streptomisin, gentamisin, neomisin, kanamisin, framisetin, paromomisin
Makrolida : eritromisin, spiramisin, roksitromisin, azitromisin, linkomisin, klindamisin
Kloramfenikol : kloramfenikol, tiamfenikol
Streptogramin : dalfopristin, quinupristin
Tetrasiklin: tetrasiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin
Polipeptida siklik : polimiksin B dan E, basitrasin
Rifamisin : rifampisin dan rifamisin
Poliena : nistatin , amfoteri
Sulfonamida : sulfasetamid, sulfadiazin, sulfametoksazol
Quinolon : siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin
Lain-lain : vankomisin, griseofulvin
1. Bakterisid + bakterisid
Contoh : - streptomisin + piperasilin
2. Bakteriostatik + bakteriostatik
Contoh :
- trimetoprim + sulfametoksazol
- Trisulfa (sulfamerazin, sulfametazin, sulfamezatin)

ANTIBIOTIKA penghambat sintesis dinding sel


A. Antibiotika beta laktam
Antibiotika beta-laktam ditandai dengan cincin -laktam beranggota 4. Gugus karboksil yang
biasanya ada dalam molekul senyawa memungkinkan terbentuknya garam (biasanya garam natrium)
sehingga larut baik dalam air.
Mekanisme kerja : Menghambat enzim D-alanin transpeptidase yang mengakibatkan pita glikan
dari dinding sel yang baru tidak dapat menyatu shg dinding sel tdk mendapatkan stabilitas yang
dibutuhkan, yang selanjutnya akan menyebabkan kematian sel.
Daya kerja : bakterisid
Spektrum kerja : luas, bervariasi pada masing-masing senyawa
Toksisitas : kecil (karena perbedaan komponen dinding sel host dgn bakteri)
Reaksi alergi : disebabkan oleh terbukanya cincin -laktam yang berikatan kovalen dgn gugus
amino protein membentuk antigen penuh shg menstimulasi terbentuknya antibodi yg akan
membentuk komplek Ag-Ab.
Bahaya sensibilisasi paling besar tjd pd pemakaian lokal, sehingga harus dihindari
Antibiotika beta laktam terdiri dari :
1. Penisilin
Antibiotika penisilin ditemukan oleh Alexander Flemming pd tahun 1928 dari hasil isolasi
jamur Penicillium.
Biosintesis turunan penisilin dilakukan melalui bahan antara yg disebut 6-APA (6-
aminopenicillanic acid/6-asam aminopenisilanat) yg diperoleh dari P. chrysogenum
Struktur kimia penisilin tdd satu cincin thiazolidine (A) yg mrpk amida siklik yg menyerupai
ester siklik berupa lakton yg ditempelkan dgn satu cincin -laktam (B) yg mrpk gugus amino
sekunder (RNH2-), dimana rangka molekul mrpk turunan asam amino sistein dan alim.
Penggantian substituen pada atom R dan gugus amino akan mengubah aktivitas biologi,
metabolisme, dan perubahan molekul kimia
Penisilin alam yang mmlk arti penting dan satu-satunya yg digunakan scr klinis adalah
penisilin G (benzil penisilin) yg diisolasi dari P. notatum dan P.chrysogenum
Daya kerja penisilin : bakterisid
Dosis diatur sesuai berat ringannya penyakit
Penggunaan penisilin harus jelas indikasinya, cara pemakaian benar (oral/parenteral), dan
anamnese yang teliti
Efek samping :
- Pemberian scr oral akan membunuh flora normal tetapi tdk signifikan dlm memberikan
efek klinis, dan akan kembali normal bila obat dihentikan. Pada bbrp penderita dpt tjd
superinfeksi sbg akibat matinya flora normal
- Reaksi hipersensitivitas dgn angka kejadian 0,7-4% berupa kemerahan pada kulit,
urtikaria, demam, bronkospasme, dermatitis, sindrom Steven Johnson, dan syok
anafilaktik sampai terjadi kematian.
- Pada dosis tinggi atau pemakaian intratekal tjd efek neurologis, resiko meningkat pada
pasien insufisiensi ginjal, epilepsi, dan meningitis.
Resistensi
Resistensi penisilin tjd mll tiga mekanisme :
- Inaktivasi antibiotik dgn beta-laktamase atau penisilinase
- Perubahan target protein binding penicillin (PBPs)
- Proses penetrasi antibiotik menuju target kerja dihambat pd lapisan permeabel
Kombinasi penisilin dgn obat lain
- Penisilin + aminoglikosida : Kombinasi penisilin khususnya asilaminopenisilin
(azlosilin,mezlosilin, piperasilin) dan karboksil penisilin (tikarsilin, temosilin) dgn
aminoglikosida akan menghasilkan efek sinergis
- Penisilin tahan penisilinase + penisilin tidak tahan penisilinase : Kombinasi kedua jenis
penisilin ini akan menghasilkan kerja adisi. Tapi kombinasi ini masih dipertentangkan
walau sudah tersedia sediaannya di pasaran
- Penisilin + inhibitor beta-laktamase/penisilinase : Asam klavulanat strukturnya mirip
asam penisilanat dgn kerja antimikroba lemah, tetapi mmlk kelebihan dpt mernghambat
penisilinase dari Streptococcus dan beta-laktamase berbagai mikroba gram negatif. Asam
klavulanat, tazobaktam, atau sulbaktam dikombinasi dgn penisilin tdk tahan penisilinase
sehingga meningkatkan spektrum aktivitasnya
Penisilin alam (Penisilin G/benzilpenisilin)
a. Penisilin alam memiliki kelebihan dan kekurangan.
b. Kelebihan : perkembangan resistensi lambat dan toksisitas minimum
c. Kekurangan : spektrum kerja sempit (hanya Gram +), waktu paruh pendek (0,5-1 jam), tdk
tahan asam lambung (shg tdk bisa diberikan per oral), absorpsi buruk, dan tidak tahan
enzim penisilinase (shg tdk efektif thd Staphylococcus aureus)
d. Dibentuk turunan semisintetik penisilin dgn berbagai perbaikan sifat kimia maupun
aktivitas farmakologi.
e. Turunan/derivat penisilin dibentuk dgn cara memecahkan pensilin G secara enzimatik
membentuk 6-APA kemudian menambahkan rantai samping baru
Penisilin semisintetik/derivat penisilin
a. Penisilin oral
Penisilin oral tahan thd asam lambung, sedangkan penisilin alam akan rusak oleh asam
lambung
Absorpsi baik (30-80%)
Stabilitas thd penisilinase sedikit atau tidak stabil sama sekali
Daya kerja -1/2 x penisilin G
Spektrum kerja = penisilin G
Contoh : penisilin V (fenoksimetilpenisilin) dan propisilin
b. Penisilin tahan penisilinase (antiStaphylococcal)
Stabil thd penisilinase yg dihasilkan oleh Staphylococcus aureus atau S. epidermidis
Absorpsi 20-70%
Spektrum kerja = penisilin G, sama sekali tidak berkhasiat thd bakteri gram negatif
Daya kerja 1/100-1/10 penisilin G
Contoh : metisilin, nafsilin, oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin
c. Penisilin spektrum luas
Karboksil penisilin
- Contoh : karbenisilin, tikarsilin, dan temosilin
- Tikarsilin tdk tahan asam dan beta-laktamase, sedangkan temosilin tahan beta-
laktamase
- Aktivitas thd P.aeruginosa dan Proteus yg resisten thd ampisilin dan turunannya
tetapi tdk efektif thd S.aureus, Enterococcus faecalis, Klebsiella, dan
L.monocytogenes, B.fragilis.
- Efek samping karbenisilin berupa CHF atau kerusakan jantung sbg akibat
pengeluaran ion Na+, tjd hipokalemia, pendarahan sebagai akibat abnormalitas
agregasi platelet.
- Indikasi : infeksi saluran urin oleh Proteus
- Tikarsilin mmlk struktur sama dgn karbenisilin , aktivitas 2-4x lebih besar thd
P.aeruginosa.
Aminopenisilin
- Meliputi ampisilin, amoksisilin, bakampisilin, episilin
- Golongan ini tidak tahan beta-laktamase yg dihasilkan oleh bakteri gram positif
dan bakteri gram negatif.
- Mmlk sifat tahan thd asam, serta dapat menyebabkan diare.
- Indikasi :
- Infeksi saluran pernafasan atas yg disebabkan oleh S.pneumonia, S.pyogenes,
H.influenza seperti sinusitis, otitis medis, bronkhitis kronis.
- Pemberian kombinasi beta-laktamase inhibitor dgn antibiotik spt amoksisilin-
asam klavulanat atau ampisilin-sulbaktam memberikan efek yg lebih baik
terhadap H.influenza dan Enterobacteriaceae
- Infeksi saluran urin yg disebabkan oleh Enterobacteriaceae, E.coli
- Meningitis akut pd anak-anak oleh S.pneumonia atau N.meningitidis dan
L.monocytogenes. Pada pengobatan meningitis, pemberian antibiotika kombinasi
ampisilin dengan vankomisin dan sefalosporin generasi ketiga merupakan
pengobatan pilihan.
- Infeksi Salmonella, infeksi ini menimbulkan penyakit tifus.
Asilaminopenisilin
- Terdiri dari azlosilin, mezlosilin, apalsilin dan piperasilin
- Mmlk aktivitas thd P.aeruginosa lebih besar drpd karbenisilin dan tikarsilin, selain
itu aktif thd Klebsiella dan bakteri gram negatif lainnya.
- Mezlosilin mmlk aktivitas lebih besar thd E. Faecalis dibanding tikarsilin.
Piperasilin mmlk aktivitas thd Enterobacteriaceae yg tdk memproduksi beta-
laktamase, bakteri gram positif bentuk kokus dan L.monocytogenes.
- Kombinasi piperasilin-tazobaktam mmlk aktivitas antibakteri dgn spektrum luas.
Kedua golongan tsb sensitif thd penguraian oleh beta-laktamase.
d. Penisilin kerja panjang
Terbentuk dari reaksi antara penisilin G dengan basa organik. Kelarutan dlm air buruk
shg diberikan scr i.m dan diabsorpsi scr lambat dari otot menghasilkan waktu paruh yg
panjang.
Contohnya :
prokain benzilpenisilin (penisilin G + prokain) yg disuntikkan scr i.m dengan waktu
paruh >12 jam
benzatin benzilpenisilin dgn waktu paruh 10-20 hari
klemizol benzilpenisilin dgn waktu paruh >24jam
Sebelum memakai penisilin kerja panjang harus dicek dahulu hipersensitivitasnya
dengan skin tes.
e. Penisilin antiPseudomonas
Penisilin antiPesudomonas digunakan terutama untuk terapi infeksi serius yang
disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa.
Digunakan juga untuk infeksi oleh bakteri Gram negatif lainnya.
Contoh : piperasilin dan tikarsilin
Piperasilin dan tikarsilin diberikan melalui suntikan
Dapat dikombinasi dengan aminoglikosida untuk terapi awal infeksi yg serius
(misalnya septikemia, endokarditis) saat bakteri penyebab belum teridentifikasi.
Indikasi Penisilin
Infeksi pneumokokus :
Infeksi Streptokokus
Infeksi bakteri anaerob
Infeksi Staphylococcus
Infeksi meningokokkus
Infeksi sifilis
Actinomycosis
Difteria
Anhrax
Infeksi klostridial
Infeksi fusospiochaetal
2. Sefalosporin
Sefalosporin pertamakali diisolasi dari Cephalosporium acremonium tahun 1948 oleh Brotzu
yg diperoleh dari tanah pantai Sardinia.
Dimana hasil penelitiannya dpt menghambat bakteri Staphylococcus aureus secara invitro
serta mampu mengobati infeksi oleh bakteri Staphylococcus dan infeksi tifus pada manusia.
Kemudian diisolasi sefalosporin golongan P, N, dan C
Setelah berhasil diisolasi inti aktif sefalosporin C yang berupa asam-7-aminosefalosporanat,
penambahan gugus pada rantai samping menjadikan aktivitas antibakteri lebih besar
dibandingkan sefalosporin induknya.
Rumus Kimia: Sefalosporin C memiliki struktur sama dengan penisilin berupa bisiklik
dengan cincin beta-laktam dengan 4 rantai yang digabungkan dgn 6 rantai dari cincin
dihidrotiazin
Sefalosporin relatif stabil dalam asam dan memiliki ketahanan yang baik terhadap
penisilinase.
Spektrum aktivitas sedang hingga luas, derivat yang baru aktif thd kuman yang sangat resisten
Penetrasi baik ke tulang dan sendi, perikardium, cairan pleura
Sangat mudah menembus sawar plasenta
Mekanisme kerja : sama seperti penisilin, menghambat sintesa dinding sel bakteri
Efek samping :
- Reaksi alergi, reaksi anafilaktik
- Gangguan lambung usus
- Superinfeksi (terutama pada pasien dengan imunitas rendah)
- Reaksi lokal pada tempat penyuntikan
- Nyeri, infiltrasi
- Enteritis bakterial dengan diare masif
- Jarang terjadi : gangguan ginjal, perdarahan, reaksi neurotoksik, gangguan hati,
takikardia
Klasifikasi
a. Sefalosporin generasi pertama : sefalotin, sefazolin, sefaleksin, sefadroksil
Aktivitas thd :
- Streptococcus, kecuali yg resisten penisilin
- Staphylococcus, kecuali yg resisten methicillin
- Gram negatif (sedang)
- Moraxella catarrhalis, E.coli, K.pneumoniae, dan P.mirabilis
- Resisten thd Bacillus fragilis

b. Sefalosporin generasi kedua : sefamandol, sefoksitin, sefaklor, sefuroksim, sefuroksim


aksetil,
- Memiliki aktivitas yg tinggi thd bakteri Gram negatif dibanding generasi 1
- Aktif juga thd B.fragilis, Moraxella catarrhalis, E.coli, H. influenzae, S.aureus dan
P.mirabilis
- Kurang aktif thd bakteri Gram positif
c. Sefalosporin generasi ketiga : sefotaksim, sefpodoksim, seftriakson, sefoperazon
- Umumnya kurang aktif thd bakteri Gram positif kokus dibanding generasi 1
- Lebih aktif thd Enterobacteriaceae termasuk penghasil beta laktamase
d. Sefalosporin generasi keempat : sefepim, sefpirom
- Memiliki aktivitas terhadap Gram negatif yang lebih baik dibandingkan generasi
ketiga
- Stabilitas tinggi thd hidrolisis oleh plasmid dan kromosom yg dimediasi beta
laktamase
e. Penggolongan Lain Sefalosporin
- Sefalosporin parenteral
Tanpa peningkatan stabilitas thd beta laktamase : sefazolin, sefradin
Dengan stabilitas thd beta laktamase yg lebih tinggi : sefuroksim, sefotiam
Dengan stabilitas thd beta laktamase yg tinggi dan efek menonjol thd kuman
anaerob : sefoksitin, sefotetan
Dengan stabilitas thd beta laktamase tinggi dan spektrum lebar : sefotaksim,
seftriakson
- Sefalosporin oral
Tanpa peningkatan stabilitas thd beta laktamase : sefaleksin, sefaklor, sefadroksil
Dengan stabilitas thd beta laktamase yang tinggi : sefuroksim aksetil, sefiksim,
sepfodoksim
3. Monobaktam
Merupakan senyawa monosiklik beta-laktam (monobaktam) yang diisolasi dari
Chromobacterium violaceum.
Contoh : aztreonam
Mekanisme kerja membentuk ikatan dengan PBPs dari mikroorganisme yg rentan dan
menginduksi pembentukan serabut panjang struktur bakteri.
Senyawa ini tahan terhadap beta-laktamase yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif.
Aktivitas antimikroba berbeda dengan antibiotik beta-laktam dan mirip golongan
aminoglikosida.
Bakteri Gram positif dan mikroorganisme anaerob menunjukkan resistensi,
Memiliki aktivitas yang baik terhadap Enterobacteriaceae, P.aeruginosa secara invitro
menunjukkan aktivitas terhadap H.influenza dan Gonococcus.
4. Karbapenem
Karbapenem merupakan beta-laktam yg memiliki struktur dmn cincin beta-laktam mengalami
penggabungan.
Contoh : imipenem dan meropenem
a. Imipenem
Imipenem di pasaran dikombinasi dengan silastatin merupakan obat yg mampu
menghambat degradasi/penguraian imipenem oleh tubuli renalis dipeptidase.
Imipenem merupakan senyawa turunan dari thiamycin dihasilkan oleh Streptomyces
catteya.
Aktivitas antimikroba dengan membentuk ikatan dengan PBPs yang akan merusak
sintesa dinding sel bakteri yang dapat menyebabkan kematian mikroorganisme yang
resisten terhadap hidrolisa beta-laktamase
b. Meropenem
Senyawa ini tidak perlu penggabungan dengan silastatin karena tidak sensitif terhadap
renal peptidase.
Memiliki aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa tetapi kurang aktif terhadap
Gram positif. Secara klinik meropenem sama dengan imipenem
Meropenem sangat tahan thd beta laktamase yg dihasilkan oleh bbrp bakteri
Di pustaka (Neal, M.J., 2006) disebutkan bahwa meropenem mmlk spektrum aktivitas
yg lebar tapi tidak aktif melawan bbrp strain Pseudomonas dan MRSA (Methicillin
Resistant S. aureus)
B. Vankomisin
Vankomisin adalah antibiotik bakterisidal yg tidak diabsorpsi secara oral. Bekerja dengan
menghambat pembentukan peptidoglikan
Vankomisin aktif melawan sebagian besar organisme Gram positif.
Vankomisin i.v penting utk terapi pasien dgn septikemia atau endokarditis akibat strain
Staphylococcus aureus yg resisten metisilin
Vankomisin mrpk obat pilihan yg diberikan secara oral utk kolitis pesudomembranosa

PENGHAMBAT BETA-LAKTAMASE
Penghambat beta laktamase seperti asam klavulanat, tazobaktam, dan sulbaktam mampu
menghindari/menjaga peruraian antibiotika beta-laktam, dengan melawan terjadinya pengkodean plasmid
beta-laktamase, tetapi secara klinik tidak memiliki aktivitas.
1. Sulbaktam
Merupakan penghambat beta-laktamase yang memiliki struktur mirip asam klavulanat yang dapat
dikombinasi dengan ampisilin peroral atau parenteral.
2. Asam klavulanat
Asam klavulanat yang dihasilkan Streptomyces clavuligerus, memiliki aktivitas antimikroba yang
rendah tetapi memiliki kemampuan menghambat secara ireversibel kemampuan beta laktamase
yang dihasilkan oleh mikroorganisme gram negatif maupun positif.
Senyawa ini dapat dikombinasi dengan amoksisilin atau tikarsilin
3. Tazobaktam
Merupakan asam penisilanik sulfon penghambat beta-laktamase. Memiliki aktivitas yang baik
terhadap plasmid beta-laktamase tetapi kurang baik terhadap kromosomal beta-laktamase.
Tazobaktam dapat dikombinasi dengan piperasilin untuk parenteral.