Anda di halaman 1dari 5

NAMA : MUHAMMAD ABID ALBAR

KELAS : IX E

Cara Kerja Sistem Pengapian Magnet Pada Sepeda


Motor
Sistem pengapian pada sepeda motor berfungsi untuk mengatur proses terjadinya
pembakaran campuran udara dan bahan bakar di ruang bakar agar sesuai dengan timing atau
waktu pengapian yang sudah ditentukan. Selain itu sistem pengapian juga bertugas untuk
mensuplai tegangan tinggi yang diperlukan oleh busi agar dihasilkan percikan bunga api yang
kuat pada busi. Sistem pengapian ini sangat penting dan dibutuhkan karena syarat
pembakaran pada mesin adalah adanya harus ada api untuk membakar campuran bahan bakar
dan udara dan api tersebut harus tepat waktunya, terkait dengan ini silahkan baca artikel
tentang syarat terjadinya pembakaran pada mesin. Salah satu tipe atau jenis sistem pengapian
pada sepeda motor adalah sistem pengapian magnet. Dan pada artikel ini Guru Otomotif akan
bahas apa dan bagaimana cara kerja sistem pengapian magnet tersebut.

Sistem pengapian manget menggunaan flywheel generator atau magneto, sistem


pengapian ini merupakan sistem pengapian yang paling sederhana dan banyak dipakai pada
sepeda motor terutama sebelum munculnya sistem pengapian elektronik.
Apa Keuntungan Sistem Pengapian Magnet?
Sistem pengapian dengan magnet ini memiliki keuntungan yaitu tidak bergantung pada
baterai untuk menghidupkan awal mesinnya, hal ini karena sumber tegangan yang didapatkan
diperoleh dari koil sumber sendiri.

Komponen Sistem Pengapian Magnet


Sistem pengapian magnet memiliki komponen seperti rotor yang berisi magnet
permanen dan stator yang isinya adalah koil pengapian dan spul lampu. Rotor tersebut diikat
pada salah satu ujung poros engkol dan berputar bersama poros engkol, rotor juga berfungsi
sebagai flywheel tambahan. Flywheel magneto inilah yang menghasilkan arus listrik dan
disebut juga sebagai alternator. Arus listrik yang dihasilkan flywheel magneto tersebut berupa
arus listrik bolak-balik atau AC, kenapa arus AC? karena kutub magnet berubah dari utara ke
selatan secara terus menerus ketika magnet berputar.

Cara Kerja Sistem Pengapian Magnet


Prinsip kerja sistem pengapian magnet dapat diumpamakan sebagai pemindah energi
atau pembangkitan medan magnet. Dimana koil sumber pengapian dihubungkan dengan
kumparan primer koil pengapian. Antara dua komponen tersebut dipasang kontak pemutus
atau platina yang fungsinya untuk memutus dan menghubung (saklar) dan dipasang secara
pararel dengan koil tadi. Rangkaian sistem pengapian magnet dapat dilihat pada gambar
berikut ini:

Cara kerja sistem pengapian magnet adalah sebagai berikut:


Ketika platina dalam posisi menutup, arus yang dihasilkan oleh magnet akan mengalir
menuju massa melalui platina, sedangkan pada koil pengapian yang letaknya disebelahnya
tidak ada arus listrik yang mengalir. Posisi rotor sedemikian rupa sehingga arus listrik yang
dihasilkan oleh koil sumber sedang maksimum, pada saat itu platina akan terbuka oleh nok
(cam).
Karena platina membuka maka arus listrik yang menuju massa melewati platina tadi
akan terputus dan menyebabkan arus mengalir menuju kumparan primer koil dalam bentuk
tegangan induksi yang besarnya sekitar 200-300 volt. Sementara itu pada tegangan sekunder
yang lilitan kumparannya lebih banyak dari pada kumparan sekunder, maka akan terjadi
induksi yang lebih besar yaitu sekitar 10-20 kilo volt (10.000-20.000 volt) dan tegangan besar
ini mampu untuk menghasilkan loncatan bunga api pada elektroda busi. Kedua induksi ini
disebut dengan induksi bersama atau mutual induction.
Syarat agar terjadi tegangan induksi yang besar ketika platina mulai membuka adalah
tidak boleh ada percikan bunga api dan aliran arus pada platina tersebut (yang cenderung
ingin mengalirkannya ke massa). Oleh karena itulah pada rangkaian sistem pengapian
terdapat kondensor atau kapasitor yang berfungsi untuk mengatasi percikan bunga api ketika
platina mulai membuka.

Pengaturan Saat Pengapian (Timing Ignition) Pengapian Magnet


Pengontrolan saat pengapian yang ada pada sistem pengapian magnet ini pada
umumnya sudah disetel oleh pabrik yang membuatnya. Dimana posisi stator telah ditentukan
sedemikian rupa sehingga untuk mengubah timing pengapian tidak dapat dilakukan pada
variasi yang besar. Namun untuk mengubah saat pengapiannya hanya dapat dilakukan pada
variasi yang kecil yaitu dengan merubah celah platina, silahkan baca artikel tentang cara
menyetel celah platina yang tepat.
Perubahan timing pengapian yang hanya kecil tersebut masih cukup bagi motor kecil 2
tak, sedangkan untuk motor 4 tak atau mesin yang lebih besar harus diperlukan pemajuan
atau advance saat pengapian yang lebih besar seiring naiknya putaran mesin. Dan untuk
mengatasi penyetelan timing pengapian pada mesin 4 tak atau yang lebih besar pada
pengapian magnet ini dipasang unit pengatur saat pengapian otomatis atau automatic timing
unit (ATU). Konstruksi dari ATU seperti pada gambar di bawah ini:
ATU atau pengatur saat pengapian terdiri dari piringan yang pada bagian tengahnya
terdapat pasak atau pin yang membawa nok. Nok atau cam bisa berputar pada pin, namun
pergerakannya dikontrol oleh dua pegas pemberat. Ketika kecepatan rendah dan idle, pegas
akan menahan cam ke posisi memundurkan saat pengapian. Untuk lebih jelas lihat gambar di
bawah ini.

Sedangkan pada saat kecepatan tinggi, pemberat akan terlempar ke luar karena adanya
gaya sentrifugal ketika pengapian. Hal ini akan berakibat nok berputar dan terjadi pemajuan
saat pengapian. Semakin naik putaran maka pemajuan saat pengapianpun akan bertambah
maksumum, dan pemajuannya sekitar lebih dari 20 derajat putaran sudur poros engkol.
Selain sistem pengapian magnet magnet, masih ada sistem pengapian lain yaitu sistem
pengapian baterai maupun sistem pengapian yang lebih canggih yaitu pengapian elektronik.
Semuanya akan kita bahas satu persatu pada artikel tersendiri insyaAllah. Semoga artikel
tentang cara kerja sistem pengapian magnet pada sepeda motor ini dapat bermanfaat.
Salam Otomotif