Anda di halaman 1dari 9

KEPERAWATAN JIWA

PELAYANAN DAN KOLABORASI INTERDISIPLIN

DALAM KESEHATAN DAN KEPERAWATAN JIWA

KEPERAWATAN JIWA PELAYANAN DAN KOLABORASI INTERDISIPLIN DALAM KESEHATAN DAN KEPERAWATAN JIWA Di Susun oleh : 1.

Di Susun oleh :

1.

Alfiatur Rohmah

(010114a008)

2.

Ana Fitriyati

(010114a009)

3.

Anita Istifaizah

(010114a010)

4.

Eka Sakti

(010114a)

5.

Jamal Huda

(010114a)

6.

Kamsidi

(010114a)

7.

Lalu Julio

(010114a)

8.

Lisa Erfana

(010114a062)

9.

Lusiana G

(010114a063)

10. Lusy Farida

(010114a064)

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO UNGARAN FAKULTAS KEPERAWATAN S1 KEPERAWATAN UNGARAN

2016

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang Kesehatan jiwa masyarakat (community mental health) telah menjadi bagian masalah kesehatan masyarakat (public health) yang dihadapi semua negara. Salah satu pemicu berbagai masaagkesehatan jiwa adalah dampak modernisasi dimana semua orang tidak siap untuk menghadapi cepatnya perubahan dan kemajuan teknologi baru. Gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung namun akan menyebabkan penderitaanya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga sertalingkungan masyarakat lainya. Dalan Undang-Undang Nomer 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal (4) disebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu hubungan kerjasama yang dilakukan oleh pihak tertentu. Dari sekian banyak pengertian yang dikemukaan

  • B. Rumusan Masalah

    • 1. Apa yang dimaksud dengan pengertian kolaborasi?

    • 2. Apa yang dimaksud dengan elemen penting dalam kolaborasi?

    • 3. Apa yang dimaksud dengan manfaat kolaborasi interdisiplin dalam keperawatan jiwa?

    • 4. Apa yang dimaksud dengan hambatan dalam melakukan kolaborasi interdisiplin dalam keperawatan jiwa?

    • 5. Apa yang dimaksud dengan piramida pelayanan kesehatan jiwa?

    • 6. Apa yang dimaksud dengan pengorganisasian sumber daya kesehatan?

    • 7. Apa yang dimaksud dengan pengorganisasian masyarakat?

  • C. Tujuan

    • 1. Menjelaskan tentang pengertian kolaborasi

    • 2. Menjelaskan tentang elemen penting dalam kolaborasi

    • 3. Menjelaskan tentang manfaat kolaborasi interdisiplin dalam keperawatan jiwa

    • 4. Menjelaskan tentang hambatan dalam melakukan kolaborasi interdisiplin dalam keperawatan jiwa

    • 5. Menjelaskan tentang piramida pelayanan kesehatan jiwa

    • 6. Menjelaskan tentang pengorganisasian sumber daya kesehatan

    • 7. Menjelaskan tentang pengorganisasian masyarakat

  • BAB II PEMBAHASAN

    • A. Pengertian Definisi pelayanan kesehatan menurut Depkes RI (2009) adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atupun masyarakat. Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan sharing pengetahuan yang direncanakan yang disengaja, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien. Kadangkala itu terjadi dalam hubungan yang lama antara tenaga profesional kesehatan. (Lindeke dan Sieckert, 2005). Kolaborasi (ANA, 1992), hubungan kerja diantara tenaga kesehatan dalam memeberikan pelayanan kepada pasien/klien adalah dalam melakukan diskusi tentang diagnosa, melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling berkonsultasi atau komunikasi serta masing-masing bertanggung jawab pada pekerjaannya.

    • B. Elemen penting dalam kolaborasi

    Kerjasama

    adalah

    menghargai

    pendapat

    orang

    lain dan bersedia untuk

    memeriksa beberapa alternatif pendapat dan perubahan kepercayaan. Asertifitas penting ketika individu dalam tim mendukung pendapat mereka dengan keyakinan. Tindakan asertif menjamin bahwa pendapatnya benar-benar didengar dan konsensus untuk dicapai. Tanggung jawab, mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil konsensus dan harus terlibat dalam pelaksanaannya. Komunikasi artinya bahwa setiap anggota bertanggung jawab untuk membagi informasi penting mengenai perawatan pasien dan issu yang relevan untuk membuat keputusan klinis. Otonomi mencakup kemandirian anggota tim dalam batas kompetensinya. Kordinasi adalah efisiensi organisasi yang dibutuhkan dalam perawatan pasien, mengurangi duplikasi dan menjamin orang yang berkualifikasi dalam menyelesaikan permasalahan.

    Kolaborasi didasarkan pada konsep tujuan umum, konstribusi praktisi profesional, kolegalitas, komunikasi dan praktek yang difokuskan kepada pasien. Kolegalitas menekankan pada saling menghargai, dan pendekatan profesional untuk masalah-masalah dalam team dari pada menyalahkan seseorang atau atau menghindari tangung jawab. Hensen menyarankan konsep dengan arti yang sama :

    mutualitas dimana dia mengartikan sebagai suatu hubungan yang memfasilitasi suatu proses dinamis antara orang-orang ditandai oleh keinginan maju untuk mencapai

    tujuan dan kepuasan setiap anggota. Kepercayaan adalah konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa rasa pecaya, kerjasama tidak akan ada, asertif menjadi ancaman, menghindar dari tanggung jawab, terganggunya komunikasi. Otonomi akan ditekan dan koordinasi tidak akan terjadi.

    Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan untuk mencapai tujuan kolaborasi team :

    Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian unik profesional. Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya. Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas. Meningkatnya kohesifitas antar profesional. Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional. Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami orang lain.

    Komunikasi

    dibutuhkan

    untuk

    mewujudkan

    kolaborasi

    yang

    efektif,

    hal

    tersebut perlu ditunjang oleh sarana komunikasi yang dapat menyatukan data

    kesehatan pasien secara komfrenhensif sehingga menjadi sumber informasi bagi semua anggota team dalam pengambilan keputusan.

    • C. Manfaat Kolaborasi Interdisiplin Dalam Pelayanan Keperawatan Jiwa Kolaborasi didasarkan pada konsep tujuan umum, konstribusi praktisi profesional, kolegalitas, komunikasi dan praktek yang difokuskan kepada pasien. Kolegalitas menekankan pada saling menghargai, dan pendekatan profesional untuk masalah-masalah dalam tim dari pada menyalahkan seseorang atau atau menghindari tangung jawab. Beberapa tujuan kolaborasi interdisiplin dalam pelayanan keperawatan jiwa antara lain :

    1)

    Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan

    2)

    keahlian unik profesional untuk pasien sakit jiwa. Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya.

    3)

    Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas.

    4)

    Meningkatnya kohesifitas antar profesional.

    5)

    Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional.

    6)

    Menumbuhkan komunikasi, menghargai argumen dan memahami orang lain.

    • D. Hambatan Dalam Melakukan Kolaborasi Interdisiplin dalam Keperawatan Jiwa Kolaborasi interdisiplin tidak selalu bisa dikembangkan dengan mudah. Ada banyak hambatan antara anggota interdisiplin, meliputi :

    1)

    Ketidaksesuaian pendidikan dan latihan anggota tim.

    2)

    Struktur organisasi yang konvensional.

    3)

    Konflik peran dan tujuan.

    4)

    Kompetisi interpersonal.

    5)

    Status dan kekuasaan, dan individu itu sendiri

    • E. piramida Pelayanan Kesehatan Jiwa Pelayanan kesehatan jiwa adalah pelayanan yang berkesinambungan yaitu pelayanan yang :

      • 1. Sepanjang hidup.

      • 2. Sepanjang rentang sehat-sakit.

      • 3. Pada setiap konteks keberadaan (di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di rumah sakit atau dimana saja).

  • F. Jenjang pelayanan kesehatan jiwa Menurut Ommeren tahun 2005 jenjang kesehatan antara lain:

    • 1. Perawatan mandiri individu dan keluarga.

    • 2. Dukungan dari sektor formal dan informal diluar sektor kesehatan.

    • 3. Pelayanan kesehatan jiwa melalui pelayanan kesehatan dasar.

    • 4. Pelayanan kesehatan jiwa di RSU atau RSUD.

    • 5. Pelayanan kesehatan jiwa di RSJ.

  • G. Komponen jenjang pelayanan kesehatan jiwa

    • 1. Perawatan mandiri individu dan keluarga Kebutuhan pelayan jiwa terbesar adalah kebutuhan kesehatan jiwa yang dipenuhi oleh masing-masing individu dan keluarga. Masyarakat baik individu maupun keluarga diharapkan dapat secara mandiri memelihara kesehatan jiwanya. Pada tingkat ini sangat mungki untuk mempeberdayakan keluarga dengan melibatkan mereka dalam memelihara kesehatan anggota keluarganya.

    • 2. Dukungan masyarakay formal dan informal di luar sektor kesehatan Apabila masalah kesehatan jiwa yang dialami individu tidak mampu diatasi secara mandiri ditingkat individu dan keluarga maka upaya solusi tingkat berikutnya

  • adalah leader formal dan informal yang ada di masyarakat mereka menjadi tempat rujukan. Tokoh masyarakat, krlompok formal dan informal di luar tatanan pelayanan kesehatan merupakan target pelayanan kesehatan jiwa. Kelompok yang dimaksud adalah TOMA (tokoh agama, tokoh wanita, kepala desa/lurah, RT, RW)

    • 3. Pelayanan kesehatan jiwa melalui pelayanan kesehatn dasar Puskesmas memiliki kesehatan jiwa untuk rawat jalan dan kunjungan ke masyarakat sesuai wilayah kerja masyarakat. Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan jiwa adalah perawat yang telah dilatih CMHN atau perawat plus CMHN dan dokter yang telah dilatih kesehatan jiwa (dokter plus kesehatan jiwa) yang bekerja secara team yang disebut team kesehatan jiwa pukesmas.

    • 4. Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat kabupaten/kota Tim kesehatan yang terdiri dari psikiater,psikolog klinik, perawat jiwa CMHN dan psikolog (yang telah mendapatpelatihan jiwa).

    • 5. Pelayanan kesehatan jiwa di RSU Diharapkan tingkat kabupaten atau kota menyediakan pelayanan rawat jalan dan rawat inap bagi pasien gangguan jiwa dengan jumlah tempat tidur terbatas sesuai kemampuan.

    • 6. Pelayan RSJ RSJ merupakan pelayanan spesialis jiwa yang difokuskan pada pasien gangguan jiwa yang tidak berhasil dirawat di keuarga/puskesma/RSU. Sistem rujukan dari RSU dan rujukan kembali dari masyarakat yaitu puskesmas harus jelas agar kesinambungan pelayanan di keluarga dapat berjalan. Pasien yang telah selesai dirawat di RSJ dirujuk kembali ke puskemas. Penanggungjawaban pelayanan kesehatan jiwa masyarakat (puskesmas) bertangungjawab terhadap lanjutan asuhan di keluarga.

    • H. Pengorganisasian Sumber Daya Kesehatan

      • 1. Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan yang berperan dalam pelayanan kesehatan jiwa komunitas pada setiap level pelayanan adalah sebagai berikut:

    Level perawatan mandiri dan keluarga : perawat kesehatan jiwa komunitas

    (perawat CNHN) dan kader kesehatan jiwa. Level dukungan masyarakat Informal dan Formal diluar sektor kesehatan:

    perawat kesehatan jiwa komunitas (perawat CNHN) dan kader kesehatan jiwa. Level pelayanan kesehatan jiwa melalui pelayanan kesehatan dasar :

    perawat kesehatan jiwa komunitas (perawat CNHN) dan kader kesehatan jiwa.

    Fokus pelayanan pada tahap awal adalah anggota masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa meliputi :

    • a) Pemberi asuhan keperawatan secara langsung (practitioner).

    • b) Pendidik (Educator)

    • c) Koordinator (Coordinator)

    • I. Pengorganisasian Masyarakat Masyarakat terjadi dari sekelompok orang dengan berbagai karakteristik seperti umur, jenis kelamin, suku, status ekonomi sosial, budaya, pekerjaan dan pendidikan, serta dengan kondisi kesehatan yang bervariasi dalam rentang sehat sakit. Respon mereka terhadap perubahan kehidupan dapat berada pada rentang sehat sakit, dan secara umum dibagi 3 yaitu :

    Respon yang sehat akan adaftif. Misalnya, orang yang kehilangan anak telah

    menerima kondisinya. Respon yang menunjukkan masalah psikososial. Misalnya, orang yang bagian

    tubuhnya tidak dapat berfungsi merasa tidak ada berguna. Respon yang menunjukkan gangguan jiwa. Misalnya, orang berbicara sendiri, tidak peduli terhadap diri atau marah tanpa sebab.

    • 1. Pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat. Ada 3 pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat yaitu:

      • a) Perencanaan sosial (Social Planning)

      • b) Aksi sosial (Social Action)

      • c) Pengembangan masyarakat (Comunity Development)

    2.

    Penerapan pengorganisasian masyarakat dalam keperawatankesehatan jiwa

    komunitas. Pengorganisasian masyarakat diterapkan dalam keperawatan kesehatan jiwa

    komunitas sebagai berikut, perawat kesehatan jiwa komunitas bertanggung jawab terhadap wilayah kerja puskesmas tempat bekerja, bekerja sama dengan perawat komunitas dan masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan:

    • a) Mengidentifikasi kebutuhan masalah, dan sumber daya yang ada di masyarakat.

    • b) Mengelompokkan data yang dikumpulkan dalam 3 kelompok : sehat, resiko dan gangguan jiwa.

    • c) Merencanakan melaksanakan tindakan-tindakan keperawatan terhadap kasus.

    • d) Melakukan evaluasi dan tindak lanjut.

    PENUTUP

    A. Kesimpulan Suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah

    dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atupun masyarakat

    Kolaborasi

    merupakan

    proses komplek yang membutuhkan sharing

    pengetahuan yang direncanakan yang disengaja, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien. Kadangkala itu terjadi dalam hubungan yang lama antara tenaga profesional kesehatan.