Anda di halaman 1dari 11

TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

KEGIATAN : SINKRONISASI DAN PEMANTAPAN PERENCANAAN


PEMBANGUNAN BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN
PEKERJAAN : PENYUSUNAN KEBIJAKAN BIDANG INDUSTRI

Bab I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebagaimana yang
tertuang dalam Peraturan Presiden No 7 tahun 2005, bahwa fokus
pembangunan industri pada jangka menengah (2004-2009) adalah penguatan
dan pembuatan klaster-klaster industri inti, yaitu: 1). Industri makanan dan
minuan; 2). Industri pengolahan hasil laut; 3). Industri tekstil dan produk
tekstil; 4). Industri alas kaki; 5). Industri kelapa sawit; 6). Industri barang
kayu (termasuk rotan dan bambu); 7). Industri karet dan barang karet; 8).
Industri pulp dan kertas; 9). Industri listrik dan peralatan listrik; dan 10).
Industri petrokimia. Pengembangan 10 klaster industri tersebut, secara
komprehensif dan integratif, didukung industri terkait (related industries) dan
industri penunjang (supporting industries).
Untuk menentukan industri yang prosfektif, dilakukan pengukuran daya
saing, baik dari sisi penawaran maupun sisi permintaan untuk mengetahui
daya saing di dalam negeri maupun luar negeri. Hasil dari analisis daya saing
terhadap industri yang sudah berkembang di kelompokkan ke dalam dua
kelompok yaitu produksi orientasi ekspor dan produksi orientasi dalam
negeri. Selanjutnya, kedua kelompok tersebut dibedakan atas 4 (empat)
kategori, yaitu: industri padat sumberdaya alam; industri padat tenaga kerja;
industri padat modal; dan industri padat teknologi.
Selanjutnya, kebijakan pembangunan industri nasional tertuang dalam dua
tahapan guna mencapai sasaran pembangunan sektor industri. Kedua tahapan
itu adalah pembangunan menengah (2005-2009), jangka panjang (2010-
2020). Sasaran jangka menengah meliputi antara lain; tumbuhnya industri
yang mampu mencipkan lapangan kerja yang besar, selesainya program
revitalisasi, konsolodasi dan restrukturisasi industri. Sedangkan untuk jangka
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

panjang (2010-2020) adalah telah kuatnya basis industri manufaktur sehingga


menjadi world class industry, telah kuatnya industri penggerak pertumbuhan
ekonomi, telah meningkatnya sumbangan Industri Kecil dan Menengah
(IKM) terhadap PDB dibandingkan dengan sumbangan industri besar.
Dengan demikian, berdasarkan kondisi riil yang ada, industri di tanah ar
diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional,
dan menjadi tulang punggung ketahanan perekonomian nasional di masa
yang akan datang.

1.1.1. Industri di Kalimantan Tengah


Industri merupakan salah satu jenis kegiatan dunia usaha yang banyak
diusahakan oleh perusahaan swasta di Kalimantan Tengah, baik golongan
industri besar dan sedang, serta industri kecil menengah. Industri tersebut
banyak bergerak di bidang bisnis agraris (bergerak dibidang pertanian dalam
arti luas) dan manufaktur. Sektor industri tersebut akan semakin berkembang
seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik, sehingga
dimasa mendatang bidang industri memegang peranan sangat penting dalam
perekonomian daerah Kalimantan Tengah khususnya industri pertanian,
perkayuan, industri logam mulia dan industri kecil dan rumah tangga.
Sektor industri pengolahan sebagai salah satu sektor andalan pembangunan
nasional, diharapkan terus mengalami perkembangan yang signifikan dari
tahun ke tahun. Sektor industri pengolahan, dapat dilihat bukan pada jumlah
perusahaannya saja, tetapi juga dilihat dari segi penyerapan tenaga kerja, nilai
tambah yang dihasilkan dan sumbangannya terhadap Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB).
Sektor industri pengolohan hanya terdiri dari subsektor industri pengolahan
tanpa gas. Pada tahun 2001 sektor ini masih mengalami pertumbuhan negatif
sebesar 3.59%. Kemudian sejak tahun 2002 hingga 2004 mampu tumbuh
secara positif dan cenderung meningkat dari 2.08% menjadi 7.66%.
Kontribusi sektor industri pengolahan mengalami penurunan dari 9.94% pada
tahun 2000 menjadi 9.35% pada tahun 2004. Peningkatan terjadi hanya pada
tahun 2003 menjadi 9.13% dari tahun sebelumnya 9.02%. Rendahnya
kontribusi sektor industri ini, belum mampu menciptakan perubahan struktur
perekonomian daerah Kalimantan Tengah. Sebenarnya diharapkan terjadinya
penurunan kontribusi sektor pertanian, dan diimbangi dengan peningkatan
kontribusi sektor industri pengolahan. Namun kenyataannya, bahwa sektor
pertanian masih tetap merupakan kontributor utama dalam pembentukan
PDRB daerah.
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

1.1.2. Jumlah Perusahaan Industri


Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kalimantan Tengah pada
tahun 2003 sebanyak 26 perusahaan, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak
10.860 orang. Industri tersebut banyak bergerak di bidang bisnis agraris
(bergerak dibidang pertanian dalam arti luas) dan manufaktur. Di Kalimantan
Tengah, terdapat 9 kelompok industri yang dilakukan oleh perusahaan swasta
golongan industri besar dan sedang, dan 7 kegiatan (77,78%) diantaranya
adalah bidang industri hasil pertanian terutama hasil hutan, yaitu: Saw
Timber; Plywood; Dowel, Moulding, CPO, Rotan Bulat, Udang Laut/Udang
Sungai.
Pada perusahaan kelompok industri kecil menengah di Kalimantan Tengah,
berdasarkan data tahun 2004, terdapat sebanyak 3.323 unit usaha. Dari
sebanyak 3.323 unit usaha tersebut, terdapat 5 kelompok bidang usaha yang
dilakukan oleh perusahaan kelompok industri kecil menengah di Kalimantan
Tengah, yaitu usaha pangan, sandang, kimia dan bahan bangunan, logam dan
elektronika, serta kerajinan. Pada tahun 2004, secara komulatif, industri kecil
menengah di Kalimantan Tengah banyak bergerak di bidang kerajinan
(31,57%), diikuti secara berturut-turut oleh usaha kimia dan bahan bangunan
(27,84%), pangan (18,78%), logam elektronika (16,34%), dan sandang
(5,48%). Berbagai jenis usaha tersebut sebagian besar masih bersifat non
formal (75,20%), sedang yang bersifat formal baru sebanyak 24,80%.
Sedangkan pada tahun 2005, jumlah industri kecil menengah sebanyak 2.420
unit usaha. Dari 2.420 unit usaha tersebut, sebanyak 32,64% bergerak
dibidang kerajinan 32,64%, sandang 7,11 %, logam 7,40%, elektronik
12,40% dan bahan kimia dan bangunan 17,77 %.

1.1.3. Arah Kebijakan Bidang Industri Kalimantan Tengah


Sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Strategis Pembangunan Ekonomi
Kalimantan Tengah, bahwa Arah Kebijakan Bidang Industri adalah sebagai
berikut:
1) Pengembagan Ekomoni Daerah dan Wilayah, dengan program:
a. Pengembangan jaringan prasarana dan sarana antar wilayah untuk
mendukung pemasaran produk industri
b. Pengembangan kawasan tertinggal dengan mengembangkan industri
pengolahan dan kerajinan rakyat
c. Pengembangan wilayah cepat tumbuh dengan potensi industri
pengolahan
d. Pengembangan Kawasan Strategis untuk pengembangan
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

agroindustri dan agribisinis


2) Pengembangan industri dalam bentuk lingkungan industri kecil (LIK)
khusus untuk industri yang mempunyai dampak penyerapan tenaga
kerja
3) Pengembangan Industri Pengolahan (industri kayu, CPO, kerajinan
rakyat, dan rotan) dengan dukungan potensi sumberdaya alam yang
tersedia dan berorientasi pasar global
4) Pengembangan industri kecil dan menengah dan handal sebagai tulang
pungung pembangunan industri terutama agribisnis dan agroindustri
5) Terciptanya industri yang memiliki daya saing tinggi dan bertumpu
pada sumberdaya manusia industrial yang berkualitas dan
berkemampuan terhadap penguasaan IPTEK
6) Pembangunan industri yang berazaskan kebersamaan dan pemerataan
dengan prioritas industri kecil dan menengah yang mampu tumbuh
dengan cepat dan meningkatkan peran serta masyarakat secara luas dan
produktif

1.2. Maksud, Tujuan dan Sasaran


1) Maksud
a) Maksud dari Penyusunan Kebijakan di Bidang Industri Kalimantan
Tengah ini adalah untuk memberi arah dalam pengembangan
industri industri daerah berdasarkan potensi ekonomi (basis
ekonomi daerah) daerah masing masing
b) Sebagai suatu kerangka pengembangan bagi pelaku dunia usaha di
bidang industri Provinsi Kalimantan Tengah
c) Arahan atau pedoman implementasi program yang merupakan
arahan operasional pelaku usaha bidang industri yang dapat
berfungsi sebagai instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi
wilayah melalui kebijakan-kebijakan yang kondusif serta
peningkatan peran masyarakat lokal dalam kegiatan usaha
perindustrian.
2) Tujuan
Tujuan dari penyususnan kebijakan di bidang industri ini, antara lain
adalah:
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

a) Terbentuknya kebijakan yang dapat memacu pengembangan potensi


Perindustrian di masing masing Kabupaten/Kota sebagai daerah
basis industri potensial
b) Terbentuknya kebijakan perindustrian yang berbasis pada
pengembangkan industri daerah sebagai sektor andalan untuk
meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD)
c) Terbentuknya keijakan pengembangan potensi industri daerah serta
kawasan-kawasan potensial secara berkelanjutan
d) Terbentuknya keijakan secara kondusif untuk mendorong
pembangunan sektoral daerah terpadu melalui pengembangan
kegiatan industri serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat
setempat dan investasi swasta
3) Sasaran
Sebagai sasaran dari Penyusunan Kebijakan di Bidang Industri di
Kalimantan Tengah ini adalah:
a) Terciptanya kebijakan yang dapat dijadikan sebagai pedoman
perencanaan terpadu, pelaksanaan, pengembangan, monitoring dan
evaluasi perindustrian,
b) Terwujudnya kebijakan di bidang industri sebagai komitmen
bersama diantara para pihak dalam pengembangan Industri,
c) Terwujudnya kebijakan di bidang industri untuk pertumbuhan
industri di Kalimantan Tengah secara efektif dan efisien,
d) Tersedianya kebijakan di bidang industri yang dapat dijadikan
pedoman atau arahan bagi pelaku usaha di bidang industri di
Kalimantan Tengah

1.3. Ruang Lingkup Studi


Studi Penyusunan Kebijakan di Bidang Industri ini dilakukan di Kalimantan
Tengah, yang mencakup 13 kabupaten 1 kota. Permasalahan yang dikaji
adalah kebijakan di bidang Industri.

1.4. Tahap Pelaporan


Tahapan ini merupakan pekerjaan studio (kantor), yaitu dalam rangka
penyusunan laporan. Sistematika laporan ini terdiri 2 (dua) tahap laporan
yaitu: (1). Laporan Pendahuluan, dan (2). Laporan Akhir (Final Raport).
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

1) Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan ini merupakan laporan berisi: penjabaran TOR
yang telah diberikan, pendekatan (studi) perencanaan, metodologi atau
kerangka acuan umum pelaksanaan pekerjaan, dan rencana kerja yang
akan dilakukan. Laporan Pendahuluan diserahkan paling lamnat 14 hari
kerja setelah kontrak dilakukan.
2) Laporan Akhir (Final Report)
Laporan akhir ini merupakan revisi atau perbaikan dari laporan draft final
report yang berisi:
a) Perekonomian Kalimantan Tengah
b) Permasalahan dan potensi perindustrian di Kalimantan Tengah
c) Permasalahan kebijakan di Bidang Industri di Kalimantan Tengah
d) Arah kebijakan perindustrian yang berbasis daerah dan pasar di
Kalimantan Tengah

Bab II
Metodelogi Penyusunan

2.1. Dasar Pemikiran


Sebagaimana Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Bidang
INDUSTRI Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2006 2010
1) VISI
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

Meningkatkan Akseleri Perkembangan Iklim Industri dan Dunia Usaha


Yang Berbasis Potensi Dan Keunggulan Daerah yang Saling Terkait
Antar Usaha Dan Antar Daerah
2) Misi
Untuk mewujudkan Visi tersebut Pemerintah Provinsi Kalimantan
Tengah memiliki misi:
a) Meningkatkan jumlah pembukaan usaha baru, penyerapan tenaga
kerja khususnya UKM indag yang berbasis potensi dan keunggulan
daerah
b) Meingkatatkan perkembangan dan daya saing usaha usaha industri
yang lelah berdiri
c) Berkembangnya usaha sentra/Klaster UKM industri dan
pengembangannya klinik bisnis UKM industri
d) Terwujudnya kinerja pelayanan perijinan dan pengawasan perijinan
serta fasilitas pengembangan UKM industri
e) Terwujudnya stabilitas perekonomian wilayah Kalimantan Tengah
f) Terwujudnya stabilitas pengembangan perdagangan dalam negeri
dan luar negeri
Bila dianalisis secara berjenjang, keterkaitan dan arah pembangunan
daerah, dari MISI kelima ini adalah sebagai berikut. Pada awalnya,
jumlah pembukaan usaha baru harus ditingkatkan, baik melalui inisiatif
pemerintah kabupaten/kota maupun oleh inisiatif masyarakat. Agar
harapan hidup dari usaha ini lebih tinggi, maka penekanan pada
pembukaan usaha yang berbasis pada potensi dan keunggulan daerah
menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Selain mempengaruhi
harapan hidup usaha, penekanan pada basis potensi dan keunggulan ini
juga berguna untuk menyiapkan usaha-usaha yang berorientasi pada
ekspor, yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang lebih
kuat. Bertambahnya pembukaan jumlah usaha ini akan berpengaruh
pada pengurangan tingkat pengangguran dan berpengaruh positif pada
peningkatan pendapatan perkapita.
Peningkatan dinamika dunia usaha daerah tidak dapat berhenti hanya
pada pembukaan usaha baru. Untuk ini perlu diwujudkan arah
pembangunan yang kedua, yaitu : meningkatnya perkembangan dan
daya saing usaha-usaha yang telah berdiri, dan Kelembagaan serta
sarana Perdagangan Kondisi ini perlu dijaga untuk semakin menguatkan
upaya pengurangan tingkat pengangguran dan peningkatan pendapatan
perkapita.
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

Selanjutnya, agar pengembangan dinamika dunia usaha ini dapat


berjalan secara otomatis dan bersifat berkelanjutan melalu inisiatif
masyarakat, perlu diwujudkan arah pembangunan yang ketiga, yaitu
berkembangnya usaha sentra/klaster, dan jasa konsultasi pengembangan
Bisnis UKM-Industri, Berkembangnya usaha Sentral/Klaster dan akan
meningkatkan aksesibilitas usaha kecil dan menengah, terutama akses
terhadap pasar, akses modal dan akses terhadap teknologi dan
manajemen.
Dengan terwujudnya kondisi ini, maka upaya peningkatan pembukaan
jumlah usaha baru dan peningkatan daya saing usaha yang telah berdiri
dapat diupayakan sendiri oleh masyarakat dan dunia usaha.
Selain arah pembangunan di atas, aspek yang tidak kalah penting yang
perlu mendapat perhatian adalah pengurangan inefisiensi yang
bersumber dari pelayanan pelayanan perizinan dari pemerintah,
pengurangan pemborosan anggaran saat pelaksanaan fasilitasi
pengembangan usaha kecil dan menengah, serta pengendalian dampak
negatif yang mungkin muncul dari izin - izin yang telah diberikan,
pemborosan anggaran yang seringkali muncul saat pelaksanaan
kegiatan fasilitasi dapat berupa ketidaktepatan penetapan kelompok
sasaran yang akan difasilitasi, rendahnya kinerja pelaksanaan kegiatan
fasilitasi, dan tumpang tindih kegiatan fasilitasi
Hal terakhir yang perlu diwujudkan adalah arah pembangunan daerah
yang kelima, yaitu : terwujudnya stabilitas perekonomian wilayah
Kalimantan Tengah sesuai dengan kewenangan pemerintah propinsi dan
kabupaten / kota

2.2. Program di Bidang Industri


1. Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri
Cara lain yang perlu ditempuh untuk mempercepat peningkatan jumlah
usaha baru adalah dengan secara langsung mengkaitkan peningkatan
kemampuan teknologi industri dengan pembukaan dan pengembangan
usaha Sasaran pokok dari program ini adalah sebagai berikut.
a. Tersalurnya bantuan mesin/peralatan teknologi pengolahan kelapa
terpadu (Virgin Oil, Arang Tempurung, Nata de Coco, Sabut
Kelapa) pada pengusaha yang memenuhi persyaratan kelayakan di
daerah-daerah , potensial.
b. Tersebarkannya informasi teknologi dan teknis produksi industri
berbasis SDA.
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

c. Tersalurkannya bantuan mesin/peralatan teknologi pengolahan


briket batu bara pada usaha yang memenuhi persyaratan kelayakan
di daerah-daerah potensial.
2. Pengembangan Industri Kecil dan Menengah
Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah dilaksanakan
untuk meningkatkan jumlah pembukaan usaha baru dan juga untuk
meningkatkan daya saing usaha-usaha yang telah berdiri, sasaran pokok
dari program ini adalah sebagai berikut:
a. Tersusunnya Rencana Teknis Pengembangan Industri Kecil
Kalimantan Tengah sesuai dengan kondisi riil dan iripart di
lapangan.
b. Terbinanya Sentra Industri Kecil di 14 Kab dan 1 Kota
c. Meningkatnya kemampuan dunia usaha dalam pengelolaan limbah
industri.
d. Meningkatnya kemampuan teknologi produksi dari usaha kecil dan
menengah Industri.

2.3. Metode Pendekatan


2.3.1. Pengumpulan data
Dalam penyusunan Kebijakan di Bidang Industri ini sangat diperlukan data
data yang antara lain:
1) Jumlah Industri kecil, menengah dan besar yang terdapat di masing
masing Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah,
2) Pergerakan masing masing industri di setiap kabupaten dan potensinya,
3) Potensi daerah sebagai basic economic (ekonomi basis) yang
diunggulakan masing masing daerah,
4) Prasarana wilayah penunjang kegiatan perindustrian,
5) Kebijakan kebijakan bidang perindustrian,

2.3.2. Kajian data dan informasi


Jenis industri diklasifikasikan berdasarkan: (a). Pengelompokan menurut
kabupaten, (b). Pengelompokan menurut bidangnya, (c). Pengelompkan
menurut nilai investasi dan penyerapan tenaga kerjanya, dan (d).
Pengelompokkan menurut industri utama/ungulan
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997, pertumbuhan industri di


Kalimantan Tengah mengalami pasang surut jumlahnya. Berbagai persoalan
yang dihadapi oleh para pelaku usaha bidang industri, mulai dari permodalan,
pemasaran, dan keprcayaan dunia perbankan, serta kebijakan kebijakan
yang kurang kondusif dalam menopang perindustrian telah membuat
sebagian usaha di bidang industri kehilangan arah/orientasi dan bahkan
mengalami kebangkrutan (tutup).
Berbagai kebijakan telah dibuat mulai dari Undang-Undang (UU), Peraturan
Pemerintah (PP), dan SK Menteri dan Renstra serta pada tingkat teknis
operasional (Dirjen) dengan maksud agar pertumbuhan industri dalam negeri
menjadi lebih berorientasi terhadap market dan dapat menciptakan lapangan
kerja. Namun demikian, masih dipandang perlu untuk menjabarkan undang-
undang/peraturan tersebut hingga lebih detail pada tingkat operasional sesuai
dengan industri unggulan berdasarkan basic ekonomi pada Kabupaten/Kota
di Provinsi Kalimantan Tengah.

Bab 3
Organisasi dan Jadwal Pelaksanaan

3.1. Oragnisasi
Tim yang terlibat dalam Penyusunan Kebijakan di Bidang Industri
kalimantan Tengah ini, adalah:
A. Tenaga Ahli
1. Penanggung Jawab / Team Leader
2. Ahli Ekonomi Pembangunan
3. Ahli Industri
4. Ahli Hukum
B. Tenaga Pendukung
1. Opretor Komputer/Typis
2. Administrasi
TERMS of REFERENCE (TOR)

PENYUSUNAN KEBIJAKAN DI BIDANG INDUSTRI

3.2. Jadwal Pelaksanaan


Pekerjaan Penyususnan Kebijakan di Bidang Industri Kalimanatan Tengah ini
dilaksanakan selama 60 (enam puluh) hari Kalender. Jadwal pelaksanaan
pekerjaan sebagaimana tabel 1.

TABEL 1.
JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
PENYUSUNAN KEBIJAKAN BIDANG INDUSTRI KALIMANTAN TENGAH
MINGGU
JENIS KEGIATAN
NO I II III IV V VI VII VIII
1 PERSIAPAN
2 MOBILISASI TIM
3 SURVEY ORIENTASI
4 SURVEY PENGUMPULAN DATA
a. SURVEY INSTANSIONAL
b. SUVEY LAPANGAN
5 DEMOBILISASI
6 PEMBUATAN LAPORAN PENDAHULUAN
7 PEMBUATAN LAPORAN AKHIR
8 PENYERAHAN LAPORAN AKHIR