Anda di halaman 1dari 4

Hay

Hay adalah hijauan pakan yang diawetkan melalui pengeringan agar dapat

disimpan lama sehingga dapat digunakan pada musim kemarau ( Siregar, 1996).

Menurut, Siregar (1996), pembuatan hay dapat menggunakan alat pengering

sejenis oven atau dengan bantuan sinar matahari. Pengeringan yang menggunakan

alat pengering membutuhkan biaya yang relatif mahal, sehinggga kurang populer.

Oleh karena itu, cara pengeringan yang lebih ekonomis dan praktis adalah dengan

memanfaatkan sinar matahari. Apalagi di daerah tropis seperti Indonesia, sinar

matahari tersedia sepanjang tahun.

Menurut Aak (1990), manfaat hay antara lain sebagai penyedia makanan

ternak pada saat-saat tertentu, misalnya di masa-masa paceklik dan bagi ternak

selama dalam perjalanan; memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik

tetapi saat itu belum dimanfaatkan.

Susetyo, (1980), mengatakan manfaat pembuatan hay antara lain adalah

menyediakan pakan yang akan dapat digunakan pada musim paceklik,

menampung kelebihan produksi pakan hijauan, memanfaatkan hijauan pada saat

pertumbuhan terbaik tetapi saat itu belum digunakan secara langsung, dan

mendayagunakan hasil limbah pertanian maupun hasil ikutan pertanian.

Hay mengandung nilai gizi yang lebih rendah dari hijauan segar. Menurut

Siregar (1996), untuk menjaga agar nilai gizi hay tidak terlalu turun, perlu

diperhatikan beberapa faktor seperti : kesuburan lahan pertanaman, jenis hijauan

yang akan dibuat hay, waktu pemotongan yang tepat dan proses pengeringan dan

penyimpanan. Limbah pertanian seperti jerami padi, limbah kacang tanah, jagung,

kacang hijau dan lainnya juga dapat dibuat hay. Kandungan kadar air pada hay

(baled) supaya aman disimpan adalah kurang dari 14%.


Kandungan nutrisi Hay daun rami (Bahan Kering, Abu, Protein Kasar,

Lemak Kasar, dan Serat Kasar) menurut Lab Pusat Antar Institut Pertanian Bogor

dilihat dalam tabel 3.

Zat-zat makanan Komposisi (%)


Bahan kering (%) 84,73
Abu (%) 19,34
Protein Kasar (%) 22,39
Serat Kasar (%) 3,51
Lemak Kasar (%) 12,4
Sumber: Laboratorium Pusat Antar Universitas IPB (2011).

Nilai tersebut dipengaruhi oleh :

1. Jenis rumput/hijauan

2. Umur panen

3. Kesuburan tanah, Hay merupakan hijauan yang disimpan dalam bentuk

kering yang digunakan sebagai makanan ternak pada saat ketersediaan

hijauan kurang. Prinsip pembuatan hay adalah pengurangan kandungan air

pada hijauan segar sampai batas aman untuk penyimpanan tanpa

mengakibatkan tumbuhnya jamur atau penurunan kandungan zat makanan.

Kandungan air hay 12-22% atau lebih dari 15 % bergantung penyimpanan.

4. Kehilangan Nutrisi dalam Pembuatan Hay, Kehilangan terjadi dalam

proses pembuatan, terutama saat panen, pengeringan dan pemindahan hay

ke tempat penyimpanan. Kehilangan bahan kering yang terjadi selama

pengeringan di lapangan, akibat respirasi (enzim tanaman), selama proses

pelayuan dan pengeringan adalah 4-15%, (tergantung cuaca), kerusakan

daun 2-5% untuk rumput, 3-15% untuk legume pada kondisi cuaca baik

kehilangan sekitar 15-20% akibat leaching air hujan 5-14%.


Kualitas saat pengeringan di lapangan (filed curing) dipengaruhi faktor :

umur tanaman, metode penanganan, kandungan air, dan kondisi cuaca saat

panen. Hujan mengakibatkan kehilangan bahan kering mencapai 20-40%,

30% P, 65% K, 20% N, dan 35% BETN

5. Kehilangan Nutrient Selama Penyimpanan, Kehilangan nutrien yang lebih

lanjut akan terjadi pada hay yang disimpan di dalam gudang pada kondisi

kandungan air yang berlebih. Kelebihan kandungan air dapat

menyebabkan terjadinya proses fermentasi yang mengakibatkan

meningkatnya temperatur sehingga menghasilkan pembakaran spontan.

Hay yang disimpan pada kondisi temperatur 36oC dengan kandungan air

18% menyebabkan penurunan sekitar 8%. Hay kadar air 16% sedikit

peningkatan temperatur, air 25% memanas mencapai 45oC, hay basah

dengan kadar air 40% panas mencapai 60-65oC mengandung jamur

thermophilik.

6. Nilai Nutrisi Hay, Hay merupakan sumber energi bagi ternak, namun

demikian hay yang dibuat dari rumput dan legume yang berkualitas tinggi

cukup baik sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral. Kandungan

TDN hay antara 50-60% < biji-bijian 75-90%. Pemberian hay untuk

ruminansia dan kuda biasanya ditambahkan sejumlah protein dan mineral.

Kualitas hay ditentukan dengan : tingkat kematangan, warna hijau terang

menunjukan pengeringan yang benar dengan karoten yang tinggi.

Perubahan hijau normal menunjukkan adanya penurunan kualitas

disebabkan oleh air hujan, bleaching oleh sinar matahari, atau sudah

terlalu tua. Aroma hay juga dapat menunjukkan kualitas, hay berjamur
atau busuk menimbulkan bau apek yang mengurangi palatabilitas atau

nilai nutrisinya.

DAFTAR PUSTAKA

Siregar, S. B. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Aak. 1990. Hijauan Makanan Ternak. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Susetyo, S. 1980. Hijauan Makanan Ternak. Direktorat Peternakan Rakyat. Dirjen

Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta