Anda di halaman 1dari 29

LEMBAR KOREKSI

Nama : Christison Luist David Horonis


Stambuk : A 241 14 069
Kelompok : 3 (Tiga)
Asisten : Ririn Handayani
No Hari/Tanggal Keterangan Paraf
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberkati kami sehingga laporan praktikum kami yang berjudul Penentuan
e/m Apparatus dapat diselesaikan. Laporan praktikum ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Fisika Modern. Kami ingin
mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam
proses praktikum dan pembuatan laporan praktikum ini dan berbagai sumber yang
telah kami pakai sebagai data dan fakta pada laporan ini.
Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai
keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat
diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan laporan ini yang telah
kami selesaikan tidak semua dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam
laporanini. Untuk itu kami menerima saran dan kritik dari pembaca yang mana
sebagai batu loncatan untuk penyusunan laporan berikutnya.
Semoga laporan yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi para pembaca,
namun penyusun sangat menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstruktif dari berbagai pihak sangat di
harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan lebih lanjut.

Palu, 01 Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR KOREKSI................................................................................................i

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1. Latar Belakang..........................................................................................1

1.2. Tujuan........................................................................................................1

1.3. Alat dan Bahan..........................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3

2.1. Pemberian Kecepatan pada Elektron.........................................................3

2.2. Gerakan Elektron dalam Medan Magnet...................................................3

2.3. Medan Magnet...........................................................................................4

BAB III METODE PENELITIAN..........................................................................6

3.1. Jenis Penelitian..........................................................................................6

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian....................................................................6

3.3. Prosedur Kerja...........................................................................................6

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................8

4.1. Hasil Pengamatan......................................................................................8

4.2. Analisa Data..............................................................................................8

4.3. Pembahasan.............................................................................................17

BAB V PENUTUP.................................................................................................21

5.1. Kesimpulan..............................................................................................21

5.2. Saran........................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................23
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tabung sinar katoda adalah tabung hampa udara yang dibuat dengan
memanfaatkan teknik pevakuman Geisler yang dapat memancarkan elektron
dalam bentuk sinar katoda ketika saklar dihubungkan. Percobaan ini dilakukan
oleh Julius Plocker. Kemudian peristiwa ini dijelaskan oleh Sir William Crockes
pada tahun 1879 yang berhasil menunjukkan bahwa sinar katoda adalah berkas
sinar bermuatan negatif yang oleh Thomson disebut sebagai elektron.
Pengukuran nilai muatan elektron (e) dapat diketahui setelah percobaan
yang dilakukan oleh J.J. Thomson, yaitu dengan menggunakan peralatan tabung
sinar katoda yang dilengkapi dengan Medan listrik dan Medan magnet. Harga e
dapat didekati dengan harga perbandingan e/m yang di peroleh dari hubungan
antara nilai arus (I), tegangan elektroda (V), dan radius lintasan elektron (r).
Hubungan antar ketiganya dapat diketahui dari sifat-sifat coil helmholzt yang
menyebabkan adanya gaya sentripetal yang membuat elektron berbentuk
lingkaran dari gaya linear yang timbul akibat perbedaan tegangan listrik antara
katoda dan anoda. Bertolak dari percobaan yang pernah dilakukan oleh Thomson
tersebut, eksperimen ini mencoba untuk membuktikan kembali hubungan-
hubungan tersebut.
Percobaan mengenai sinar katoda adalah salah satu eksperimen untuk
mengetahui karakteristik dari elektron yang merupakan partikel sub-atomik yang
fundamental dalam terbentuknya arus listrik. Sehingga eksperimen ini penting
dilakukan mengingat wilayah aplikasi kelistrikan yang sangat luas.

1.2. Tujuan
1. Dapat mengoperasikan alat yang digunakan dalam praktikum.
2. Dapat mengamati cahaya yang tampak pada tabung vakum dan dapat
mengukur jari-jari cahaya tersebut.
3. Dapat menghitung nilai e/m pada percobaan ini.
1.3. Alat dan Bahan
1. e/m apparatus
2. Power supply tegangan tinggi 1 buah
3. Power supply tegangan rendah 1 buah
4. Kabel banana secukupnya
5. Multimeter 2 buah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemberian Kecepatan pada Elektron


Elektron dapat berasal dari suatu logam (katode) yang dipanasi
(thermoelektron). Elektron dipercepat dalam medan listrik. Katode dipanasi
dengan pemanas elektronik sehinggan melepaskan thermoelektron. Kemudian
antara katoda dan anoda dikenai beda tegangan tertentu dimana katoda lebih
negatif dari pada anoda, sehingga thermoelektron bergerak dipercepat antara
katoda dan anoda. Jika kecepatan thermoelektron ketika terlepas dari katoda
(kecepatan karena proses pemanasan) diabaikan, dan jika beda tegangan sebesar V
dikenakan antara katoda dan anoda, maka kelajuan v elektron ketika melewati
anoda dapat dihitung dari hukum kekekalan enrgi sebagai berikut :
1 2
mv =eV
2

atau

v=
2 eV
m (1)

dimana:
e = muatan elektron
m = massa elektron

2.2. Gerakan Elektron dalam Medan Magnet


Elektron yang bergerak tegak lurus terhadapa medan magnet, dalam medan
magnet yang seragam (uniform), akan membentuk lintasan melingkar dengan
kelajuan konstan dalam bidang tegak lurus terhadap medan magnet. Jika rapat
fluks medan magnet adalah B (Wb/m2), kelajuan gerak melingkar elektron adalah
v (m/s) dan jejari lingkaran lintasan elektron adalah r (m), maka gaya Lorentz
merupakan gaya sentripetal gerakan melingkar dan memenuhi persamaan berikut :
mv 2
evB=
r

atau

mv
eB=
r (2)

Dari persamaan (1) dan (2) dapat diperoleh perbandingan muatan terhadap massa
elektron, yakni :
2V
e /m= 2 2
r B (3)

2.3. Medan Magnet


Medan magnet B yang tertulis pada persamaan (3) dihasilkan oleh
kumparan Helmholtz. Kumparan Helmholtz tersusun atas dua kumparan
melingkar dengan jejari R (m) yang sama dan diatur sedemikian rupa sehingga
mempunyai sumbu bersama (coaxial). Dua kumparan tersebut tentu saja sejajar
satu sama lain dan dipisahkan dengan jarak pisah sebesar R (jejari kumparan).
Jika arus I (A) mengalir dengan arah yang sama pada dua kumparan tersebut,
dihasilkan medan magnet seragam (uniform), dengan arah sejajar dengan sumbu
dua kumparan, diantara dua kumparan tersebut. Jika dua kumparan tersebut
terpisah sejauh R (sama dengan radius kumparan) dan kemudian arus I mengalir
dengan arah yang sama pada kedua kumparan, maka hukum Biot-Savart
memberikan medan magnet B di antara dua kumparan sebagai berikut (Durney
and Johnson, 1969) :

0
R
8 (4)
B=
5 5

dengan :
0 = permeabilitas ruang hampa
N = jumlah lilitan
Dengan mengambil 0=4 107 henry/m, khusus untuk alat yang digubakan

dalam percobaan N = 130 lilitan dan R = 0,150 m akan diperoleh :


B=7,793 104 I (Wb/m2) (5)

Substitusi persamaan (5) kedalam persamaan (3) menghasilkan :


2V
e /m= 2 4 2
r (7,793 10 I )

(6)

Persamaan (6) adalah persamaan yang siap dijadikan sebagai dasar operasional
4 2
pengukuran e/m. Jika k = (7,793 10 ) , maka dapat dituliskan :

I=
m 2V 1
ek r (7)

Persamaan (7) menunjukkan bahwa untuk tegangan anoda V tertentu (konstan),


besaran yang berada di bawah tanda akar bernilai konstan, sehingga arus I yang
mengalir pada kumparan Helmholtz berbanding terbalik dengan jejari (r)
lingkaran lintasan elektron. Karena yang akan diukur secara langsung dalam
eksperimen adalah diameter (d = 2r) lingkaran lintasan, maka persamaan (7) dapat
dituliskan :

I=
m8V 1
ek d

(8)

Secara implisit persamaan (8) menunjukkan bahwa d adalah variabel terikat dan I
adalah variabel bebas. Untuk V tertentu (konstan), persamaan (8) merupakan
persamaan garis lurus yang berbentuk :

y=bx

(9)
Dengan y = I dan x = d -1, maka b=
m 8V
ek yang merupakan kemiringan

-1
(slope) grafik yang menggambarkan I sebagai fungsi dari d dengan I sebagai
-1
sumbu vertikal dan d sebagai sumbu horisontal. Untuk arus I konstan,
persamaan (6) atau (7) menunjukkan bahwa V berbanding lurus dengan r2
sebagai :
ek I 2 2
V= r (10)
m2

Persamaan (10) menunjukkan bahwa pengenaan V yang besar akan


memperpendek umur tabung lucutan.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang kami lakukan merupakan eksperimen murni.
Eksperimen murni yaitu jenis penelitian yang dilakukan secara langsung di
laboratorium.

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian


Percobaan Penentuan e/m Apparatus ini dilakukan pada :
Hari/tanggal : Kamis, 01 Desember 2016
Waktu : 10.00 - selesai
Tempat : Laboratorium Fisika FKIP Universitas Tadulako

3.3. Prosedur Kerja


1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Merangkai alat seperti pada gambar berikut:

3. Menyalakan kedua power supply.


4. Menyalakan multimeter sebagai amperemeter DC dan voltmeter DC.
5. Mengatur power supply tegangan tinggi (tetap) dengan tegangan sebesar
150 volt.
6. Mengatur power supply tegangan rendah sebesar 7 volt.
7. Menunggu beberapa saat hingga cahaya (elektron) pada ball lamp dapat
terlihat.
8. Mengukur jari-jari cahaya yang keluar dari ball lamp dengan
memperhatikan penunjukan angka pada mistar dibelakang ball lamp.
9. Mengukur kuat arus dengan membaca angka yang tertera pada
multimeter sebagai amperemeter.
10. Melakukan perlakuan 5-8 untuk tegangan rendah sebesar 8 volt dan 9
volt.
11. Mengatur power supply tegangan rendah (tetap) dengan tegangan sebesar
9 volt.
12. Mengatur power supply tegangan tinggi sebesar 150 volt.
13. Menunggu beberapa saat hingga cahaya (elektron) pada ball lamp dapat
terlihat.
14. Mengukur jari-jari cahaya yang keluar dari ball lamp dengan
memperhatikan penunjukan angka pada mistar dibelakang ball lamp.
15. Mengukur kuat arus dengan membaca angka yang tertera pada power
supply tegangan tinggi.
16. Mengukur tegangan dengan membaca angka yang tertera pada
multimeter sebagai voltmeter
17. Mengulangi langkah 11-15 untuk tegangan tinggi sebesar 175 volt dan
200 volt.
18. Mencatat hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


1. Tegangan tinggi tetap
Vs = 150 V

No. V (volt) I (ampere) r (m)


1. 7,0 1,14 7,0 10-2
2. 8,0 1,30 6,0 10-2
3. 9,0 1,46 5,5 10-2
1
NST Voltmeter = 1,0 10 V
2
NST Amperemeter = 1,0 10 A
3
NST Mistar = 1,0 10 m
2. Tegangan rendah tetap
Vs = 9 V

No. V (volt) I (ampere) r (m)


1. 0,1 1,07 10-2 5,5 10-2
2. 0,2 1,28 10-2 6,0 10-2
3. 0,2 1,48 10-2 6,5 10-2
1
NST Voltmeter = 1,0 10 V
3
NST Amperemeter = 1,0 10 A
3
NST Mistar = 1,0 10 m

4.2. Analisa Data


4.2.1. Perhitungan Umum
1. Tegangan tinggi tetap
a. r = 7,0 10-2 m
3
5 2
e
=
2V
4 () a

m ( N 0 Ir )2
3
5 (

2 7,0 ()
4
0,150 )
2

2
( 130 4 107 1,14 7,0 102 )
0,615

1,698 1010

3,623 109 C/kg

b. r = 6,0 10-2 m
5 3 2
e
=
2V ()
4
a

m ( N 0 Ir )2

5 3(

2 8,0 ()
4
0,150 )
2

2
( 130 4 107 1,30 6,0 102)

0,703

1,622 1010

4,335 10 9 C/kg

c. r = 6,0 10-2 m
5 3 2
e
=
2V ()
4
a

m ( N 0 Ir )2

5 3(

2 9,0 ()
4
0,150 )
2

2
( 130 4 107 1,46 5,5 102)

0,791

1,719 1010

4,602 109 C/kg

2. Tegangan rendah tetap


a. r = 5,5 10-2 m
5 3 2
e
=
2V
4 ()
a

m ( N 0 Ir )2

5 3(

2 0,1 ()
4
0,150 )
2

2
( 130 4 107 1,07 102 5,5 102)

8,789 103

9,233 1015

11
9,519 10 C/kg

b. r = 6,0 10-2 m
3
5 2
e
=
2V
4 () a

m ( N 0 Ir )2
3
5 (

2 0,2 ()
4
0,150 )
2

2
( 130 4 107 1,28 102 6,0 102)

1,757 102

1,572 1014

12
1,118 10 C/kg

c. r = 6,5 10-2 m
5 3 2
e
=
2V
4 ()a

m ( N 0 Ir )2

5 3(

2 0,2 ()
4
0,150 )
2

2
( 130 4 107 1,48 102 6,5 102)
1,757 102

2,467 1014

7,125 1011 C/kg

4.2.2. Perhitungan Ralat


e /m=| |
e /m
V
| V |+
e/m
I | | | |
| I|+
e/m
r
| r|

| | | |
5 3 2 5 3 2

2 ()
4
a
| V |+
4V () 4
a
| I|
2
( N 0 Ir ) I

+ | 4V
5 3 2
()
4
r
a
| r| |
1. Tegangan tinggi tetap
a. r = 7,0 10-2 m

| |
5 3
e /m 1=
2 ()
4
( 0,150 )2
|0,1|
2
( 130 4 107 1,14 7,0 102 )

|
+
4 7,0
5 3
()
4
1,14
( 0,150 )
2

||0,01|

| |
5 3
+
4 7,0
4 ()( 0,150 )
2

|0,1 102|
2
7,0 10

|8,79 102
1,70 1010
|0,1|+ | | |
1,23
1,14
|0,01|

|
+
1,23
7,0 10 2 |
|0,1102|

|5,17 108||0,1|+|1,08||0,01|
+|17,57||0,1102|
7 2 2
5,17 10 +1,08 10 +1,76 10

5,170 107 C/kg

ktpm=5,170 107 C/kg


e

m
ktpr= 100
e
m

5,170 10 7
9
100 =1,427
3,623 10

( )

m
AB=1log
e
m

5,170 10 7
1log (
3,623 10 9 )
1(1,846 )
2,846=3 AB

pelaporan= ( me me )C /kg
( 3,62 0,0517 ) 10 9 C /kg

b. r = 6,0 10-2 m

| |
5 3
e /m2=
2 ()
4
( 0,150 )2
|0,1|
2
( 130 4 107 1,30 6,0 102 )

+| 4 8,0
5 3
()
4
1,30
( 0,150 )
2

|
|0,01|
| |
5 3
+
4 8,0 ()
4
( 0,150 )
2

|0,1 102|
2
6,0 10

| 8,79 102
1,62 1010
|0,1|+ | | |
1,41
1,30
|0,01|

+
| 1,41
6,0 10 2 |
|0,1 102|

|5,43 108||0,1|+|1,08||0,01|

+|23,50||0,1 102|
7 2 2
5,43 10 +1,08 10 +2,35 10

5,430 107 C/kg

ktpm=5,430 107 C/kg


e

m
ktpr= 100
e
m

5,430 107
100 =1,253
4,335 109

( )

m
AB=1log
e
m
7
1log ( 5,430 10
4,335 109 )
1(1,902 )
2,902=3 AB

pelaporan= ( me me )C /kg
( 4,34 0,0543 ) 109 C /kg
c. r = 5,5 10-2 m

| |
5 3
e /m 3=
2 ()
4
( 0,150 )2
|0,1|
2
( 130 4 107 1,46 5,5 102 )

+| 4 9,0
5 3
()
4
1,46
( 0,150 )
2

|
|0,01|

| |
5 3
+
4 9,0
4 ()
( 0,150 )
2

|0,1102|
2
5,5 10

|8,79 102
1,72 10 10
|0,1|+ | | |
1,58
1,46
|0,01|

+
| 1,58
5,5 10 2 |
|0,1 102|

|5,11 108||0,1|+|1,08||0,01|

+|28,73||0,1 102|
7 2 2
5,11 10 +1,08 10 +2,87 10

5,110 107 C /kg

ktpm=5,110 107 C /kg


e

m
ktpr= 100
e
m

5,110 107
100 =1,110
4,602 109

( )

m
AB=1log
e
m
5,110 107
1log ( 4,602 109 )
1(1,954 )
2,954=3 AB

pelaporan= ( me me )C /kg
( 4,6 0 0,0511 ) 109 C /kg

2. Tegangan rendah tetap


a. r = 5,5 10-2 m

| |
5 3
e /m 1=
2 ()
4
( 0,150 )2
2
( 130 4 107 0,0107 5,5 102 )

| |
5 3
|0,1|+
4 0,1
4 ()( 0,150 )
2

|0,0001|
0,0107

| |
5 3
+
4 0,1 ()
4
( 0,150 )
2

|0,1 102|
2
5,5 10

| | | |
2 2
8,79 10 1,76 10
|0,1|+ |0,0001|
9,23 10
15
0,0107

| ||
2
1,76 10
+ 2
0,1 102|
5,5 10

|9,52 1012||0,1|+|1,64||0,0001|

+|3,20 101||0,1 102|

9,52 1011 +1,64 104 +3,20 104

9,520 1011 C /kg


11
ktpm=9,520 10 C /kg
e

m
ktpr= 100
e
m

9,520 1011
100 =100,010
9,519 1011

( )

m
AB =1log
e
m

9,520 1011
1log ( 9,519 1011 )
1( 4,562 105 )
0,999=1 AB

p elaporan= ( me me )C /kg
b. r = 6,0 10-2 m

| |
5 3
e /m 2=
2 ()
4
( 0,150 )2
2
( 130 4 107 0,0128 6,0 102 )

|0,1|+ | 4 0,2
5 3
()
4
0,0128
( 0,150 )
2

||0,0001|

| |
5 3
+
4 0,2 ()
4
( 0,150 )
2

|0,1 102|
2
6,0 10

|8,79 102
1,57 1014
|0,1|+ | |
3,52102
0,0128
|0,0001| |
+|3,52 102
6,0 102 ||
0,1 102|

|5,60 1012||0,1|+|2,75||0,0001|
+|5,87 101||0,1 102|
11 4 4
5,60 10 +2,75 10 +5,87 10

5,600 1011 C /kg

ktpm=5,600 1011 C /kg


e

m
ktpr= 100
e
m

5,600 10 11
12
100 =50,089
1,118 10

( )

m
AB=1log
e
m

5,600 10 11
1log (
1,118 1012 )
1(0,300 )
1,300=1 AB

pelaporan= ( me me )C /kg
c. r = 6,5 10-2 m

| |
5 3
e /m3=
2 ()
4
( 0,150 )2
2
( 130 4 107 0,0148 6,5 102 )

|0,1|+ | 4 0,2 ()5 3


4
0,0148
( 0,150 )
2

|
|0,0001|

| |
5 3
+
4 0,2
4 ()
( 0,150 )
2

|0,1 102|
2
6,5 10
| 8,79 102
2,47 1014
|0,1|+| |
3,52102
0,0148 |
|0,0001|

+| 3,52 102
6,5 102 ||
0,1 102|

|3,56 1012||0,1|+|2,38||0,0001|

+|5,42 101||0,1 102|

3,56 1011 +2,38 104 +5,42 104

3,560 1011 C /kg

ktpm=3,560 1011 C /kg


e

m
ktpr= 100
e
m

3,560 10 11
100 =49,965
7,125 10 11

( )

m
AB =1log
e
m

3,560 10 11
1log ( 7,125 10 11 )
1(0,301 )

1,301=1 AB

pelaporan= ( me me )C /kg
4.3. Pembahasan
Percobaan J.J. Thomson pada tahun 1897 menunjukkan bahwa sinar dalam
tabung katoda dapat dibelokan oleh medan listrik dan medan magnetik sehingga
dapat diketahui bahwa sinar tersebut mengandung partikel-partikel yang
bermuatan listrik. Dengan mengukur besarnya penyimpangan partikel sinar yang
disebabkan oleh medan listrik dan medan magnetik ini, Thomson dapat
menunjukkan bahwa semua partikel memiliki perbandingan muatan terhadap
massa (e/m) relatif sama.
Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan ini adalah dapat
mengoperasikan alat yang digunakan dalam praktikum, dapat mengamati cahaya
yang tampak pada tabung vakum dan dapat mengukur jari-jari cahaya tersebut,
serta dapat menghitung nilai e/m pada percobaan ini.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain e/m
apparatus yang berfungsi untuk menentukan perbandingan muatan elektron
dengan massa, yang nantinya akan memperlihatkan lingkaran elektron yang
berada pada tabung katoda, power supply tegangan tinggi berfungsi untuk
memberikan sumber tegangan DC yang bernilai besar dan tegangan AC, power
supply tegangan rendah berfungsi untuk memberikan tegangan rendah pada
rangkaian, multimeter berfungsi sebagai amperemeter DC yakni untuk mengukur
kuat arus DC yang mengalir pada rangkaian serta berfungsi sebagai voltmeter DC
yakni untuk mengukur tegangan DC yang mengalir pada rangkaian, dan kabel
penghubung (kabel banana) berfungsi untuk menghubungkan komponen
rangkaian.
Langkah kerja dari percobaan ini adalah menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan, merangkai alat dan bahan seperti pada gambar yang ada pada
prosedur kerja dengan menghubungkannya menggunakan kabel penghubung
(kabel banana), menyalakan power supply dan multimeter sebagai amperemeter
dan voltmeter, mengatur power supply tegangan tinggi (tetap) pada tegangan 150
volt, mengatur power suply tegangan rendah pada tegangan 7 volt, selanjutnya
menunggu sampai cahaya elektron tampak berbentuk lingkaran pada ball lamp,
kemudian mengukur jari-jari elektron dan kuat arus pada rangkaian, kemudian
mengulangi perlakuan untuk tegangan 8 volt dan 9 volt. Selanjutnya mengulangi
perlakuan yang sama untuk power supply tegangan rendah (tetap) dengan
mengaturnya pada tegangan 9 volt dan mengatur tegangan tinggi sebesar 150 volt,
175 volt, dan 200 volt.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat cahaya elektron yang tampak pada ball
lamp berbentuk seperti lingkaran, sehingga dapat di ukur jari-jarinya
menggunakan mistar. Adapun data yang diperoleh, untuk tegangan tinggi tetap
diperoleh besarnya tegangan sebesar 7 volt, 8 volt, dan 9 volt. Kuat arus yang
mengalir sebesar 1,14 A, 1,30 A, dan 1,46 A. Jari-jari lingkaran elektron

sebesar 7,0 102 m , 6,0 102 m , dan 5,5 102 m . Untuk tegangan

rendah tetap diperoleh besarnya tegangan sebesar 0,1 volt, 0,2 volt dan 0,2 volt.

Kuat arus yang mengalir sebesar 1,07 102 A , 1,28 102 A , dan

1,48 102 A . Jari-jari lingkaran elektron sebesar 5,5 102 m ,

6,0 102 m , dan 6,5 102 m . Dapat dilihat bahwa, untuk perlakuan

tegangan tinggi tetap, semakin besar tegangan sumber yang mengalir pada
rangkaian maka semakin besar kuat arus yang mengalir dan semakin kecil jari-jari
elektron. Untuk perlakuan tegangan rendah tetap semakin besar tegangan sumber
yang mengalir maka semakin besar kuat arus dan jari-jari elektron.
Adapun hasil analisa data mengenai nilai e/m, untuk tegangan tinggi tetap

diperoleh nilai e/m sebesar 3,623 109 C/kg , 4,335 10 9 C /kg ,

4,602 109 C /kg dan untuk tegangan rendah tetap diperoleh nilai e/m sebesar

9,519 1011 C /kg , 1,118 1012 C/kg , 7,125 1011 C /kg . Nilai KTPr

yang diperoleh dalam percobaan ini untuk tegangan tinggi tetap berkisar antara

1,110 - 1,427 , nilai ini tegolong rendah. Untuk tegangan rendah tetap

berkisar antara 49,965 - 100,010 nilai ini tergolong besar. Nilai KTPr

berpengaruh terhadap ketelitian pengamatan dalam percobaan, semakin besar nilai


KTPr maka semakin rendah tingkat ketelitian pengamatan begitu pula sebaliknya
semakin rendah nilai KTPr maka semakin tinggi tingkat ketelitian pengamatan.
Apabila hasil perhitungan e/m yang diperoleh dibandingkan dengan nilai
11
literatur yakni 1,76 10 C /kg , dapat terlihat perbedaan yang cukup besar. Hal

ini dikarenakan terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan pengamat, antara


lain kesalahan dalam melakukan perangkaian alat dan bahan, dimana pada
awalnya praktikan tidak mendapatkan bentuk lingkaran elektron pada ball lamp,
kemudian kesalahan dalam menentukan nilai jari-jari elektron, dalam hal ini
praktikan kesulitan menetukan batas pengukuran jari-jari elektron pada mistar
dikarenakan ball lamp berbentuk cembung dan mistar berada pada posisi di
belakang ball lamp.
Prinsip kerja dari e/m apparatus yakni ketika katoda dialiri arus listrik,
katoda tersebut akan berpijar karena tumbukan elektron-elektron didalamnya
sehingga dapat menyebabkan elektron dari katoda tersebut loncat dari katoda dan
memasuki daerah medan magnet dari kumparan yang dialiri arus listrik. Jika arah
kecepatan elektron tersebut tegak lurus dengan arah medan magnet, maka elektron
tersebut akan bergerak melingkar di dalam tabung katoda. Sehingga gaya
magnetic memberikan gaya sentripetal yang diperlukan agar terjadi gerak
melingkar.
Pada percobaan ini ketika tegangan yang diberikan pada perlakuan semakin
besar dalam hal ini untuk tegangan tinggi tetap dan tegangan rendah tetap, maka
arus yang mengalir pada rangkaian semakin besar, sehingga menyebabkan medan
magnet yang dihasilkan kumparan Helmholtz semakin besar pula. Medan magnet
yang besar akan membelokkan elektron dengan kuat sehingga diameter lintasan
elektron akan semakin kecil, karena diameter elektron berbanding terbalik dengan
medan magnet. Dalam percobaan ini hal tersebut dapat dilihat pada perlakuan
untuk tegangan tinggi tetap, dimana ketika tegangan pada power supply tegangan
rendah diperbesar, maka jari-jarinya akan semakin mengecil, sedangkan pada
perlakuan untuk tegangan rendah tetap jari-jarinya akan semakin besar.
Seharusnya perlakuan yang dilakukan yakni perlakuan tegangan tetap arus
berubah dan tegangan berubah arus tetap. Seandainya perlakuan tersebut
dilakukan maka akan tampak bahwa ketika dilakukan perlakuan tegangan tetap
arus berubah maka medan magnetnya akan semakin besar, dimana kuat arus
berbanding lurus dengan medan magnet sehingga menyebabkan jari-jarinya akan
semakin kecil, dikarenakan elektron dibelokkan dengan kuat, dan kecepatannya
bertambah. Sedangkan ketika melakukan perlakuan untuk tegangan berubah arus
tetap, maka jari-jari lintasan elektron semakin besar dimana ketika nilai tegangan
beubah semakin besar maka lintasan elektron akan semakin besar karena tegangan
berbanding lurus dengan kuadrat dari jari-jari.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Untuk mengoperasikan alat dengan benar dapat dilakukan sesuai dengan
prosedur kerja yang tertera pada Bab III Metode Penelitian.
2. Pada ruang fakum di apparatus e/m berbentuk lingkaran dengan besar
jari-jari tertentu. Untuk mengukur jari-jari elektron dari lingkaran
tersebut yakni dengan cara membaca skala pada mistar.
Hasil pembacaan nilai jari-jari elektron :
a. Tegangan tinggi tetap
2
1. 7,0 10 m

2. 6,0 102 m

3. 5,5 102 m
b. Tegangan rendah tetap
2
1. 5,5 10 m
2
2. 6,0 10 m
2
3. 6,5 10 m
3. Untuk menghitung nilai e/m digunakan persamaan :
3
5 2
e
=
2V
4 ()a

m ( N 0 Ir )2

Hasil perhitungan e/m dalam percobaan ini :


a. Tegangan tinggi tetap
9
1. 3,623 10 C/kg

2. 4,335 10 9 C /kg

3. 4,602 109 C /kg


b. Tegangan rendah tetap
11
1. 9,519 10 C /kg
12
2. 1,118 10 C/kg
11
3. 7,125 10 C /kg
5.2. Saran
Dalam melakukan percobaan ini, sebaiknya mempelajari rangkaian yang
ada pada modul terlebih dahulu, agar dapat merangkai dengan benar sehingga
dapat menghasilkan lingkaran elektron yang sempurna dan harus memiliki
ketelitian dalam mengukur jari-jari elektron.
DAFTAR PUSTAKA

Durney, Carl H. and Johnson, Curtis C. (1969). Introduction to Modern Physics


Electromagnetic. Tokyo : McGraw Hill.

Halliday dan Resnick. (1992). Fisika Jilid II. Jakarta : Erlangga.

Tim penyusun. (2016). Penuntun Praktikum Fisika Modern. Palu : Universitas


Tadulako.

Zemansky, Sears. (1986). Fisika untuk Universitas 2. Bandung : Bina Cipta.