Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

HUKUM PERBURUHAN DAN KETENAGAKERJAAN


TENTANG HUBUNGAN KERJA DAN TENAGA KERJA ASING

Dosen Pengajar : Dr. Thea Farina, SH, M.Kn

KELOMPOK II

Nama NIM

Bob Elwianto : EAA 115 100


Christian Evangelisto : EAA 115 086
Dwi Tantowi : EAA 115 113
Dyah Ayu Nafisa : EAA 115 123
Effan Oktrapianto : EAA 115 077
Heru : EAA 115 105
M. Nofi Fauzinur : EAA 115 125
Septiwisin : EAA 115 120
Suriadi : EAA 115 119
Tarmiji Rizal : EAA 115 124
Tia Kartika Dewi : EAA 115 121

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2016

2
Daftar Isi
Kata Pengantar.................................................................................................. i

Daftar Isi........................................................................................................... ii

BAB I Pendahuluan

1.1.............................................................................................................Latar
Belakang............................................................................................. 1
1.2.............................................................................................................Rumusa
n Masalah............................................................................................ 4
1.3.............................................................................................................Tujuan
Masalah............................................................................................... 4
1.4.............................................................................................................Manfaat
Penulisan............................................................................................. 4

BAB II Pembahasan

2.1.............................................................................................................Definisi
Hubungan Kerja Menurut Undang Undang Nomor 13
Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan`.............................................. 5
2.2.............................................................................................................Definisi
Perjanjian Kerja Bersama (PKB), Perjanjian
Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT) dan Peraturan Perusahaan..... 5
2.3.............................................................................................................Pengatur
an Hubungan Kerja, Unsur-unsur dalam Perjanjian
Kerja, Bentuk dan Jangka Waktu Perjanjian Kerja serta
Jenis dan Sifat pekerjaan yang diperbolehkan menggunakan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).......................................... 7
2.4.............................................................................................................Pengatur
an nasional mengenai Tenaga Kerja Asing (TKA)............................. 13
2.5.............................................................................................................Impleme
ntasi Dari Pengaturan Tersebut........................................................... 20

BAB III Penutup

2
3.1.............................................................................................................
Kesimpulan......................................................................................... 23
3.2.............................................................................................................Saran
............................................................................................................25

Daftar Pustaka

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan sektor ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya


pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu bagian yang tak
terpisahkan dengan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, dan
pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945, diarahkan pada peningkatan harkat,
martabat dan kemampuan manusia, serta kepercayaan pada diri sendiri dalam
rangka mewujudkan masyarakat sejahtera, adil dan makmur baik materil maupun
spiritual.

Tenaga kerja dan perusahaan merupakan dua faktor yang tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan terjadinya sinergi kedua
faktor itu baru perusahaan akan berjalan dengan baik. Begitu pula sebaliknya,
seahli apapun tenaga kerja tanpa adanya perusahaan hanya akan melahirkan
produk pengangguran.

Hubungan buruh/pekerja yang dalam penulisan ini disebut tenaga kerja


dengan perusahaan sebagai majikan tunduk dibawah aturan ketenagakerjaan
apabila diantara mereka telah ada hubungan kerja. Hubungan kerja antara tenaga
kerja dan majikan/pemberi kerja terjadi apabila diantara mereka telah ada
perjanjian kerja. Hubungan kerja sebagai bentuk hubungan hukum lahir atau
tercipta setelah adanya perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha/pemberi
kerja.

Hubungan kerja saat ini juga dikenal dengan hubungan industrial dan juga
dikenal dengan Perjanjian Kerja Perorangan baik untuk pekerjaan tertentu maupun
waktu tertentu dan Perjanjian Kerja untuk waktu tidak tertentu serta Perjanjian
Kerja kolektif yang dibuat antara perwakilan pekerja yaitu Serikat Pekerja/Serikat

1
Buruh (SP/SB) dengan pengusaha atau gabungan pengusaha. Perjanjian kerja pada
masa sekarang ini masih sangat diperlukan sebagai pendamping dari peraturan
perundang-undangan yang berlaku karena secara umum peraturan perundang-
undangan ketenagakerjaan kita belum mengatur secara terperinci tentang syarat-
syarat kerja, hak dan kewajiban masing-masing pihak, khususnya dalam
peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Untuk pengaturan syarat-
syarat kerja tersebut dapat dipedomani sehari-hari dalam hubungan kerja, maka
perlu diatur melalui Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja
Bersama.

Perjanjian Kerja sebagai suatu bentuk perikatan antara tenaga kerja dan
pengusah/pemberi kerja juga tunduk pada ketentuan Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (KUH Perdata). Pasal 1233 KUH Perdata menentukan bahwa
Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanjian, maupun karena Undang-
Undang. Dari ketentuan tersebut diketahui bahwa perikatan yang lahir dari
perjanjian memang dikehendaki para pihak sedangkan perikatan yang timbul
karena undang-undang menurut Pasal 1352 KUH Perdata diperinci menjadi 2
(dua), yaitu perikatan yang timbul semata-mata karena undang-undang dan
perikatan yang timbul dari undang-undang akibat dari perbuatan orang.

Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menentukan semua persetujuan yang
dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) jo Pasal 1320 mengandung asas kebebasan
berkontrak, maksudnya setiap orang bebas untuk mengadakan atau tidak
mengadakan perjanjian serta bebas untuk menentukan bentuk dan isi dari
perjanjian tersebut menurut yang dikehendaki dalam batas-batas tidak
bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum.

Asas kebebasan berkontrak ini juga mendorong para pihak untuk saling
mengadakan perjanjian yang bebas bentuknya, termasuk dalam perjanjian kerja.

2
Pasal 1601 KUH Perdata memberikan pengertian Perjanjian Kerja adalah suatu
perjanjian di mana pihak kesatu (pekerja), mengikatkan dirinya untuk di bawah
perintah pihak yang lain (majikan/pengusaha) untuk waktu tertentu melakukan
pekerjaan dengan menerima upah. Perjanjian kerja merupakan titik tolak lahirnya
hubungan kerja antara seorang tenaga kerja dengan pengusaha/majikan.

Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang


Ketenagakerjaan memberikan pengertian Perjanjian Kerja adalah perjanjian
antara pekerja/buruh dengan pengusaha/pemberi kerja yang memuat syarat-syarat
kerja, hak dan kewajiban para pihak. Untuk sahnya suatu perjanjian kerja Pasa 52
ayat(1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 menyebutkan bahwa Perjanjian
Kerja dibuat atas dasar:

1. Kesepakatan kedua belah pihak;

2. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum;

3. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan; dan

4. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umun,


kesusilaan dan ketentuan peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dan menyadari kenyataan sejauh ini Indonesia masih memerlukan investor


asing, demikian juga dengan pengaruh globalisasi peradaban dimana Indonesia
sebagai negara anggota WTO harus membuka kesempatan masuknya tenaga kerja
asing. Untuk mengantisipasi hal tersebut diharapkan ada kelengkapan peraturan
yang mengatur persayaratan tenaga kerja asing, serta pengamanan penggunaan
tenaga kerja asing. Peraturan tersebut harus mengatur aspek-aspek dasar dan
bentuk peraturan yang tidak hanya ditingkat menteri, dengan tujuan penggunaan
tenaga kerja asing secara selektif dengan tetap memperioritaskan Tenaga Kerja
Indonesia (TKI).

3
Oleh karena dalam mempekerjakan tenaga kerja asing, dilakukan melalui
mekanisme dan prosedur yang sangat ketat, terutama dengan cara mewajibkan
bagi perusahaan atau korporasi yang menggunakan tenaga kerja asing bekerja di
Indonesia dengan membuat Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)
sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Nomor PER.02/MEN/III/2008
Tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi hubungan kerja menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 ?

2. Apa definisi Perjanjian Kerja Bersama (PKB), Perjanjian Kerja Untuk Waktu
Tertentu (PKWT) dan Peraturan Perusahaan ?

3. Bagaimana Pengaturan Hubungan Kerja, Unsur-unsur dalam Perjanjian Kerja,


Bentuk dan Jangka Waktu Perjanjian Kerja serta Jenis dan Sifat pekerjaan yang
diperbolehkan menggunakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)?

4. Bagaimana pengaturan nasional mengenai Tenaga Kerja Asing (TKA) ?

5. Bagaimana implementasi dari pengaturan tersebut?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk memenuhi Tugas Hukum Perburuhan dan Ketenagakerjaan.

2. Untuk mengetahui tentang Hubungan Kerja dan Pengaturan nasional serta


Implementasi dari pengaturan tersebut mengenai Tenaga Kerja Asing (TKA).

1.4 Manfaat Penulisan

1. Menambah pengetahuan kita tentang hubungan kerja dan tenaga kerja asing.

2. Menambah wawasan kita tentang pengaturan nasional dan implementasi Tenaga


Kerja Asing.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Hubungan Kerja Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003


Tentang Ketenagakerjaan

Dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan disebutkan bahwa Hubungan Kerja adalah hubungan
pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai
unsur pekerjaan, upah dan perintah. Dengan maksud pernyataan tersebut bahwa
hubungan kerja itu adalah hubungan yang hanya terjadi pada seseorang yang
ingin maupun sedang bekerja pada orang lain. Hubungan kerja dilakukan setelah
orang pelamar kerja tersebut diterima ditempat dimana dia melamar pekerjaan
tersebut.

2.2 Definisi Perjanjian Kerja Bersama (PKB), Perjanjian Kerja untuk Waktu
Tertentu (PKWT) dan Peraturan Perusahaan

A. Perjanjian Kerja Bersama (PKB)/Perjanjian Perburuhan

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) adalah suatu kesepakatan secara tertulis


dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang dibuat secara bersama-sama
antara pengusaha atau beberapa pengusaha dengan organisasi serikat pekerja
atau organisasi serikat pekerja yang sudah terdaftar pada instansi yang
bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan.

Dalam KUH Perdata Pasal 1601n disebutkan bahwa Perjanjian


Perburuhan adalah perjanjian yang dibuat oleh seorang atau beberapa orang
perkumpulan pengusaha yang berbadan hukum dan atau beberapa serikat
buruh/serikat pekerja yang berbadan hukum mengenai syarat-syarat kerja
yang harus di indahkan pada waktu membuat perjanjian kerja. Selanjutnya

5
dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan
antara serikat buruh/pekerja dengan pengusaha/majikan disebutkan Perjanjian
Perburuhan adalah perjanjian yang diselenggarakan oleh serikat atau serikat-
serikat buruh yang terdaftar pada Kementerian Perburuhan dengan majikan,
perkumpulan majikan yang berbadan hukum, yang pada umumnya atau
semata-mata memuat syarat-syarat kerja yang harus diperhatikan dalam
perjanjian kerja.

Dengan Perjanjian Kerja tersebut dibuat sekurang-kurangnya rangkap 2


(dua) memiliki kekuatan hukum yang sama. Secara umum menurut Undang-
Undang Ketenagakerjaan ada 2 (dua) macam Perjanjian Kerja yaitu:

Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu atau disebut PKWT


Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak Tertentu atau disebut PKWTT

B. Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT)

Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT) adalah perjanjian kerja


antara pekerja dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam
waktu tertentu atau pekerjaan tertentu.

Apabila Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) telah berakhir jangka


waktunya dan apabila tidak diperpanjang maka akan berakhir dengan
sendirinya. Dengan demikian terjadi pemutusan hubungan kerja demi hukum
karena itu tidak diperlukan mengajukan permohonan izin kepada Panitia
penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah/Pusat (P4D/P4P).

C. Peraturan Perusahaan

Peraturan Perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh


pengusaha yang memuat ketentuan-ketentuan tentang syarat-syarat kerja serta
tata tertib perusahaan. Setiap perusahaan yang mempunyai pekerja dua puluh

6
lima orang atau lebih diwajibkan membuat Peraturan Perusahaan sesuai
dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 2 Tahun 1978. Peraturan
Perusahaan dibuat secara sepihak oleh pengusaha yang menurut ketentuan
harus dikonsultasikan juga dengan wakil pekerja.

Karena peraturan perusahaan dibuat secara sepihak oleh pengusaha dan


hanya dikonsultasikan dengan pekerja (tidak persetujuan) maka tentu saja
pengusaha akan dapat memuat hak kewajiban yang tidak seimbang asalkan
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Walaupun
peraturan perusahaan hanya dimintakan persetujuan dari Departemen Tenaga
Kerja akan tetapi pada umumnya Departemen Tenaga Kerja hanya melihat
apakah peraturan perusahaan tersebut melanggar peraturan perundangan atau
kondisinya jauh dibawah kebiasaan yang berlaku.

2.3 Pengaturan Hubungan Kerja, Unsur-unsur dalam Perjanjian Kerja, Bentuk


dan Jangka Waktu Perjanjian Kerja serta Jenis dan Sifat pekerjaan yang
diperbolehkan menggunakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)

A. Pengaturan Hubungan Kerja

Hubungan Kerja diatur dalam suatu perjanjian kerja yang disetujui oleh
kedua belah pihak. Perjanjian kerja tidak harus diatur secara tertulis, artinya
perjanjian juga dapat dibuat secara lisan. Namun demikian untuk perjanjian
kerja tertentu diharuskan membuat secara tertulis yaitu:

1. Perjanjian Kerja Laut (PKL)

Perjanjian kerja laut dibuat antara awak kapal dengan perusahaan atau
dengan nahkoda yang mewakili pengusaha. Perjanjian kerja ini harus
dibuat secara tertulis dan tidak sah apabila hanya secara lisan.

7
2. Perjanjian Kerja Antar Kerja Antar Negara (AKAN)

Perjanjian kerja Antara Kerja Antar Negara dibuat antara perusahaan


pengerah tenaga kerja dengan tenaga kerja yang dikirim keluar negeri.
Perjanjian kerja ini harus dibuat secara tertulis dan tidak boleh secara lisan.
Hal ini dimaksudkan agar persyaratan-persyaratan yang rumit dapat
dituangkan secara tertulis dan diketahui oleh semua pihak.

3. Perjanjian Kerja Antar Kerja Antar Daerah (AKAD)

Perjanjian ini dibuat antara tenaga kerja dengan perusahaan pemakai yang
memuat persyaratan-persyaratan baik dalam pengerahan maupun yang
berlaku sewaktu pekerja sudah bekerja. Perjanjian kerja ini juga diwajibkan
dibuat secara tertulis.

4. Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (Kontrak)

Perjanjian ini dibuat antara pekerja dengan perusahaan yang memuat


persyaratan dan kondisi didalam bekerja. Perjanjian kerja ini harus dibuat
secara tertulis agar tidak rancu dengan perjanjian kerja untuk waktu tidak
tertentu.

B. Unsur-unsur dalam Perjanjian Kerja

Ada 3 unsur dalam Perjanjian Kerja yaitu:

1. Adanya unsur work atau Pekerjaan

Dalam suatu perjanjian kerja ada pekerjaan yang diperjanjikan, pekerjaan


tersebur haruslah dilakukan sendiri oleh pekerja, hanya dengan seizin
majikan/penusaha/pemberi kerja dapat menyuruh orang lain. Sifat
pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja itu sangat pribadi karena

8
bersangkutan dengan keterampilan/keahliannya, maka menurut hukum jika
pekerja meninggal dunis maka perjanjian kerja tersebut putus demi hukum.

2. Adanya unsur Perintah

Manifestasi dari pekerjaan yang diberikan kepada pekerja oleh pengusaha


adalah pekerja yang bersangkutan harus tunduk pada perintah pengusaha
untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diperjanjikan.

3. Adanya Upah

Upah memegang peranan penting dalam hubungan kerja, bahkan dapat


dikatakan bahwa tujuan utama seorang pekerja bekerja pada pengusaha
adalah untuk memperoleh upah

C. Bentuk dan Jangka Waktu Perjanjian Kerja

Perjanjian kerja dapat dibuat dalam bentuk lisan dan/atau tertulis (Pasal
51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003). Namun, tidak dipungkiri
masih banyak perusahaan-perusahaan yang tidak atau belum membuat
perjanjian kerja secara tertulis disebabkan karena ketidakmampuan sumber
daya manusia maupun kelaziman, sehingga atas dasar kepercayaan membuat
perjanjian kerja secara lisan. Dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa Perjanjian kerja
yang dibuat secara tertulis sekurang-kurangnya memuat keterangan:

a) Nama, alamat perusahaan, dan jenis usaha;

b) Nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pekerja/buruh;

c) Jabatan atau jenis pekerjaan;

d) Tempat pekerjaan;

9
e) Besarnya upah dan cara pembayaran;

f) Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan


pekerja/buruh;

g) Mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja;

h) Tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat;

i) Tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja.

Perjanjian kerja yang dibuat untuk waktu tertentu lazimnya disebut


dengan perjanjian kerja kontrak atau perjanjian kerja tidak tetap. Status
pekerjaannya adalah pekerja tidak tetap atau pekerja kontrak. Perjanjian kerja
yang dibuat untuk waktu tertentu harus dibuat secara tertulis (Pasal 57 ayat(1)
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Ketentuan
ini dimaksudkan untuk lebih menjamin atau menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan sehubungan dengan berakhirnya kontrak kerja. Perjanjian kerja
untuk waktu tertentu tidak boleh mensyaratkan adanya masa percobaan.

Masa percobaan adalah masa atau waktu untuk menilai kinerja dan
kesungguhan serta keahlian seorang pekerja. Dalam pasal 59 Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa
perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan
tertentu yang menurut dan jenis atau kegiatan pekerjaannya akan selesai
dalam waktu tertentu, yaitu:

a. Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;

b. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak


terlalu lama dan paling lama 3 tahun;

c. Pekerjaan yang bersifat musiman;

10
d. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau
produk tambahan yang masih dalam masa percobaan penjajakan.

D. Jenis dan Sifat pekerjaan yang diperbolehkan menggunakan Perjanjian Kerja


Waktu Tertentu (PKWT)

Berikut ini jenis dan sifat pekerjaan yang diperbolehkan menggunakan


Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu yaitu:

1. Pekerjaan yang selesai sekali atau sementara sifatnya yang penyelesaiannya


paling lama 3 (tiga) tahun.

Apabila pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dari yang diperjanjikan


maka Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tersebut putus demi hukum pada
saat selesainya pekerjaan.
Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu harus mencantumkan batasan
suatu pekerjaan dinyatakan selesai.
Apabila pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan, dapat dilakukan
pembaruan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.
Pembaruan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dilakukan setelah masa
tenggang waktu 30 hari setelah berakhirnya Perjanjian Kerja. Selama
tenggang waktu 30 hari tersebut, tidak ada hubungan kerja antara
pekerja dan perusahaan/pengusaha.

2. Pekerjaan Musiman

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu ini hanya dapat dilakukan untuk satu
jenis pekerjaan pada musim tertentu.
Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan untuk memenuhi
pesanan/target tertentu dapat dilakukan dengan Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu sebagai pekerjaan musiman.
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk pekerjaan musiman tidak dapat
dilakukan pembaruan.

11
3. Pekerjaan yang terkait dengan produk baru, kegiatan baru atau produk
tambahan yang masih dalam masa percobaan atau penjajakan.
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk jenis pekerjaan ini hanya dapat
dilakukan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dapat
diperpanjang untuk satu kali paling lama 1 (satu) tahun.
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk pekerjaan ini tidak dapat
dilakukan pembaruan.
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu hanya boleh diberlakukan bagi pekerja
yang melakukan pekerjaan di luar kegiatan atau di luar pekerjaan yang
biasa dilakukan perusahaan.

4. Pekerjaan Harian/ Pekerja Lepas

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dapat dilakukan untuk pekerjaan-


pekerjaan tertentu yang berubah-ubah dalam hal waktu dan volume
pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk pekerja harian/lepas dilakukan
dengan ketentuan pekerja bekerja kurang dari 21 hari dalam 1 bulan.
Apabila pekerja harian bekerja selama 21 hari atau lebih selama 3 bulan
berturut-turut maka Perjanjian Kerja Waktu Tertentu berubah menjadi
Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu.
Pengusaha yang memperkerjakan pekerja harian/lepas wajib membuat
perjanjian kerja secara tertulis.
Perjanjian Kerja tersebut harus memuat sekurang-kurangnya:
Nama/alamat perusahaan atau pemberi kerja, nama/alamat pekerja, jenis
pekerjaan yang dilakukan serta besarnya upah dan/atau imbalan lainnya.

Misalkan para pihak dalam Perjanjian Kerja adalah orang asing, hukum
yang berlaku dalam perjanjian tersebut adalah Hukum Ketenagakerjaan
Indonesia yaitu Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, pada Pasal 57 ayat (1)
menyebutkan bahwa Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu dibuat secara
tertulis serta harus menggunakan Bahasa Indonesia dan huruf latin. Oleh

12
karena itu PKWT harus dibuat dalam Bahasa Indonesia, dengan terjemahan ke
Bahasa Inggris. Segala ketentuan yang mengikat secara hukum adalah
ketentuan yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris dalam
Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu tersebut hanyalah merupakan
terjemahan agar para pihak mengerti isinya.

2.4 Pengaturan nasional mengenai Tenaga Kerja Asing (TKA)

Pengertian Tenaga Kerja Asing (TKA) adalah tiap orang yang bukan warga
negara Indonesia yang mampu melakukan pekerjaan , baik di dalam maupun di
luar hubungan kerja, guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Pengertian Tenaga Kerja Asing ditinjau dari segi undang-
undang (pengertian otentik), yang dimana pada Pasal 1 angka 13 Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa
Tenaga Kerja Asing adalah Warga Negara Asing pemegang visa dengan maksud
bekerja di wilayah Indonesia.

Adapun pengaturan nasional mengenai penggunaan Tenaga kerja Asing


(TKA) yaitu berdasarkan:

1. Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1995 Tentang Penggunaan Tenaga Kerja


Warga Negara Asing Pendatang ( TKWNAP)

Berbeda dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang menggunakan


istilah tenaga kerja asing terhadap warga negara asing pemegang visa dengan
maksud bekerja di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
dalam Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1995 tentang Penggunaan Tenaga
Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP), menggunakan istilah
tenaga kerja warga negara asing pendatang, yaitu tenaga kerja warga negara
asing yang memiliki visa tinggal terbatas atau izin tetap untuk maksud bekerja
(melakukan pekerjaan) dari dalam wilayah Republik Indonesia (Pasal 1 angka

13
1). Istilah TKWNAP ini dianggap kurang tepat, karena seorang tenaga kerja
asing bukan saja datang (sebagai pendatang) dari luar wilayah Republik
Indonesia, akan tetapi ada kemungkinan seorang tenaga kerja asing lahir dan
bertempat tinggal di Indonesia karena status keimigrasian orang tuanya
(berdasarkan asas ius soli/tempat kelahiran atau ius sanguinis/keibubapakan).

Pada prinsipnya, Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1995 tentang


Penggunaan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang adalah mewajibkan
pengutamaan penggunaan Tenaga Kerja Indonesia di bidang dan jenis
pekerjaan yang tersedia belum atau tidak sepenuhnya diisi oleh Tenaga Kerja
Indonesia, maka penggunaan tenaga kerja warga negara asing pendatang
diperbolehkan sampai batas waktu tertentu (Pasal 2). Ketentuan ini
mengharapkan agar Tenaga Kerja Indonesia kelak mampu mengadop skill
Tenaga Kerja Asing bersangkutan dan melaksanakan sendiri tanpa harus
melibatkan tenaga kerja asing. Dengan demikian penggunaan tenaga kerja
asing selektif dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja Indonesia secara
optimal.

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan, penggunaan tenaga kerja asing di Indonesia diatur dalam
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Kerja
Asing (UUPTKA). Dalam perjalannya, pengaturan mengenai penggunaan
tenaga kerja asing tidak lagi diatur dalam undang-undang tersendiri, namun
sudah merupakan bagian dari kompilasi dalam Undang-Undang
Ketenagakerjaan yang baru. Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan,
pengaturan Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) dimuat pada Bab VIII,
Pasal 42 sampai 49. Pengaturan tersebut dimulai dari kewajiban pemberi kerja
yang menggunakan TKA untuk memperoleh izin tertulis; memiliki rencana

14
penggunaan TKA; yang memuat alasan, jenis jabatan dan jangka waktu
penggunaan TKA; kewajiban penunjukan tenaga kerja WNI sebagai
pendamping TKA; hingga kewajiban memulangkan TKA ke negara asal
setelah berakhirnya hubungan kerja.

Undang-Undang Ketenagakerjaan menegaskan bahwa setiap pengusaha


dilarang mempekerjakan orang-orang asing tanpa izin tertulis dari Menteri.
Pengertian Tenaga Kerja Asing juga dipersempit yaitu warga negara asing
pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia. Didalam
ketentuan tersebut ditegaskan kembali bahwa setiap pemberi kerja yang
mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri
atau pejabat yang ditunjuk. Untuk memberikan kesempatan kerja lebih luas
kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI), pemerintah membatasi penggunaan
tenaga kerja asing dan melakukan pengawasan. Dalam rangka itu, Pemerintah
mengeluarkan sejumlah perangkat hukum mulai dari perizinan, jaminan
perlindungan kesehatan sampai pada pengawasan. Sejumlah peraturan yang
diperintahkan oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan antara lain:

Keputusan Menteri tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Penggunaan


Tenaga Kerja Asing (Pasal 43 ayat (4));
Keputusan Presiden tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing serta
Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kerja Pendamping (Pasal
49).

Sejak Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di


undangkan pada tanggal 25 Maret 2003, telah dilahirkan beberapa peraturan
pelaksana undang-undang tersebut, antara lain:

1) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 223/MEN/2003


Tentang Jabatan-jabatan di Lembaga Pendidikan yang Dikecualikan dari
Kewajiban Membayar Kompensasi.

15
2) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
67/MEN/IV/2004 Tentang Pelaksana Program JAMSOSTEK bagi Tenaga
Kerja Asing.

3) Peraturan Menteri Nomor PER.02/MEN/III/2008 Tentang Tata Cara


Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Selanjutnya dijelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja


nasional terutama dalam mengisi kekosongan keahlian dan kompetensi di
bidang tertentu yang tidak dapat ter-cover oleh Tenaga Kerja Indonesia, maka
tenaga kerja asing dapat dipekerjakan di Indonesia sepanjang dalam hubungan
kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu. Mempekerjakan TKA dapat
dilakukan oleh pihak manapun sesuai dengan ketentuan kecuali pemberi kerja
orang perseorangan. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan TKA wajib
memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk kecuali terhadap
perwakilan negara asing sebagai pegawai diplomatik dan konsuler. Ketentuan
mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu bagi tenaga kerja asing
ditetapkan dengan Keputusan Menteri, yaitu Keputusan Menteri Nomor :
KEP-173/MEN/2000 tentang Jangka waktu.

Terhadap setiap pengajuan/ rencana penggunaan tenaga kerja asing di


Indonesia harus dibatasi baik dalam jumlah maupun bidang-bidang yang dapat
diduduki oleh Tenaga Kerja Asing. Hal ini bertujuan agar kehadiran tenaga
kerja asing di Indonesia bukanlah dianggap sebagai ancaman yang cukup
serius bagi tenaga kerja Indonesia, justru kehadiran mereka sebagai pemicu
bagi tenaga kerja Indonesia untuk lebih profesional dan selalu menambah
kemampuan dirinya agar dapat bersaing baik antara sesama TKI maupun
dengan TKA. Oleh, karenanya Undang-Undang Ketenagakerjaan, membatasi
jabatan-jabatan yang dapat diduduki oleh Tenaga Kerja Asing. Terhadap

16
Tenaga Kerja Asing dilarang menduduki jabatan yang mengurusi personalia
dan/atau jabatan-jabatan tertentu.

Jabatan-jabatan yanng dilarang (closed list) ini harus diperhatikan oleh si


pemberi kerja sebelum mengajukan penggunaan tenaga kerja asing. Selain
harus mentaati ketentuan tentang jabatan, juga harus memperhatikan standar
kompetansi yang berlaku. Ketentuan tentang jabatan dan standar kompetensi
didelegasikan ke dalam bentuk Keputusan Menteri. Namun dalam prakteknya,
kewenangan delegatif maupun atributif ini belum menggunakan aturan yang
sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan.

3. Peraturan Menteri Nomor PER.02/MEN/III/2008 Tentang Tata Cara


Penggunaan Tenaga Kerja Asing

Peraturan Menteri ini dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Pasal 42


ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan. Dengan dikeluarkannya Peraturan
Menteri Nomor PER.02/MEN/III/2008 Tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga
Kerja Asing ini maka beberapa peraturan sebelumnya terkait dengan
pelaksanaan Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan ini yakni:
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
KEP.228/MEN/2003 tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Penggunaan
Tenaga Kerja Asing; Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Nomor KEP.20/MEN/III/2004 tentang Tata Cara Memperoleh Ijin
Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing.

a) Tata Cara Permohonan Pengesahan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja


Asing (RPTKA)

Selain harus memiliki izin mempekerjakan TKA, sebelumnya pemberi


kerja harus memiliki Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)
yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Pasal 3

17
menyebutkan bahwa pemberi kerja yang akan mempekerjakan Tenaga
Kerja Asing harus memiliki RPTKA yang digunakan sebagai dasar untuk
mendapatkan Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Untuk
mendapatkan pengesahan RPTKA, pemberi kerja TKA harus mengajukan
permohonan secara tertulis yang dilengkapi alasan penggunaan TKA
dengan melampirkan :

1. Formulir RPTKA yang sudah dilengkapi;

2. surat izin usaha dari instansi yang berwenang;

3. akte pendirian sebagai badan hukum yang sudah disahkan oleh pejabat
yang berwenang;

4. keterangan domisili perusahaan dari pemerintah daerah setempat;

5. bagan struktur organisasi perusahaan;

6. surat penunjukan TKI sebagai pendamping TKA yang dipekerjakan;

7. copy bukti wajib lapor ketenagakerjaan yang masih berlaku berdasarkan


Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor
Ketenagakerjaan di perusahaan; dan

8. rekomendasi jabatan yang akan diduduki oleh TKA dari instansi tertentu
apabila diperlukan.

Formulir RPTKA sebagaimana dimaksud pada angka 1 memuat:

1. Identitas pemberi kerja TKA;

2. Jabatan dan/atau kedudukan TKA dalam struktur bagan organisasi


perusahaan yang bersangkutan;

3. Besarnya upah TKA yang akan dibayarkan;

18
4. Jumlah TKA;

5. Lokasi kerja TKA;

6. Jangka waktu penggunaan TKA;

7. Penunjukan tenaga kerja warga Indonesia sebagai pendamping TKA


yang dipekerjakan; dan

8. Rencana program pendidikan dan pelatihan TKI.

b) Pengesahan RPTKA

Dalam hal hasil penilaian kelayakan permohonan RPTKA telah sesuai


prosedur yang ditetapkan, Dirjen atau Direktur harus menerbitkan
keputusan pengesahan RPTKA. Penerbitan keputusan pengesahan RPTKA
dilakukan oleh Dirjen untuk permohonan penggunaan TKA sebanyak 50
(lima puluh) orang atau lebih; serta Direktur untuk permohonan
penggunaan TKA yang kurang dari 50 (lima Puluh) orang, keputusan
pengesahan RPTKA ini memuat:

1. Alasan Penggunaan TKA;

2. Jabatan dan/atau kedudukan TKA dalam struktur organisasi perusahaan


yang bersangkutan;

3. Besarnya upah TKA;

4. Jumlah TKA;

5. Lokasi kerja TKA;

6. Jangka waktu penggunaan TKA;

7. Jumlah TKI yang ditunjuk sebagai pendamping TKA; dan

19
8. Jumlah TKI yang dipekerjakan.

c) Perubahan RPTKA

Pemberi kerja TKA dapat mengajukan permohonan perubahan RPTKA


sebelum berakhirnya jangka waktu RPTKA. Perubahan RPTKA tersebut
meliputi:

1. Penambahan, pengurangan jabatan beserta jumlah TKA;

2. Perubahan jabatan; dan/atau

3. Perubahan lokasi kerja.

2.5 Implementasi Dari Pengaturan Tersebut

Sejak amandemen UUD 1945, asas otonomi daerah mendapatkan posisinya


dalam Pasal 18 tentang Pemerintah Daerahdan dikembangkannya sistem
pemerintahan yang desentralistis melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah. Lima hal pokok yang menjadi kewenangan pusat
menyusul diberlakukannya otonomi daerah ini adalah luar negeri, pertanahan dan
keamanan, moneter, kehakiman dan fiskal. Masalah ketenagakerjaan pun
menjadi lingkup kewenangan pemerintah daerah, dengan menempatkannya
dalam struktur organisasi dan tata kerja dalam struktur dinas.

Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor PER.02/MEN/III/ 2008 Tentang Tata


Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing, pengajuan mempergunakan tenaga kerja
asing untuk pertama kalinya diajukan kepada Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, selanjutnya untuk perpanjangan diajukan dan diberikan oleh
Direktur atau Gubernur/walikota. Sedangkan ada beberapa kasus yang terjadi
adanya perbedaan pemahaman antara Pusat dan Daerah soal tenaga kerja asing
yang dapat menimbulkan permasalahan dan ketidakpastian hukum. Hal tersebut
tidak perlu terjadi karena dengan tuntutan instansi/lembaga pemerintah di daerah

20
untuk menjalankan otonomi didaerahnya, dalam rangka ketenagakerjaan telah
dikeluarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130-67 Tahun 2002
tentang pengakuan dan kewenangan kota. Pada Lampiran Keputusan Mendagri,
khususnya pada Bidang Ketenagakerjaan angka romawi I huruf A: Penempatan
dan Pendayagunaan, angka 7 : Perizinan dan pengawasan, perpanjangan izin
penggunaan tenaga kerja asing, disebutkan bahwa kewenangan yang dilimpahkan
kepada kabupaten/kota adalah:

1. Penelitian perlengkapan persyaratan perizinan (IKTA);

2. Analisis jabtan yang akan diisi oleh Tenaga Kerja Asing (TKA);

3. Pengecekan kesesuaian jabatan dengan positif List tenaga kerja asing yang
akan dikeluarkan oleh DEPNAKER;

4. Pemberian perpanjangan izin (Perpanjangan IMTA);

5. Pemantauan pelaksanaan kerja Tenaga Kerja Asing; dan

6. Pemberian rekomendasi IMTA.

Terkait permohonan IKTA dalam rangka penanaman modal asing, didasarkan


pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Nomor KEP-
105/MEN/1977 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Izin Kerja Bagi
Tenaga kerja Asing yang akan bekerja dalam rangka Koordinasi penanaman
modal, diatur bahwa IKTA dikeluarkan oleh Ketua Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BPKM). Namun berdasarkan Kepmenaker Nomor KEP-03/MEN/1990
bahwa permohonan IKTA yang diajukan oleh pemohon yang merupakan
perusahaan dalam rangka PMA dan PMDN, disampaikan kepada Ketua BPKM
( Pasal 9 ayat (2)). Kemudian Ketua BPKM atas nama Menteri Tenaga Kerja
mengeluarkan IKTA dengan tembusan disampaikan kepada instansi yang teknis
(Pasal 10 ayat 2 dan 3).

21
Selanjutnya pengaturan secara teknis tentang tata cara permohonan
penyelesaian IKTA bagi perusahaan dalam rangka PMA dan PMDN, wajib
menyesuaikan dan mengikuti ketentuan dalam Kepmenaker Nomor KEP-
416/MEN/1990 (Pasal 21). Namun berdasarkan Kepmenaker Nomor KEP-
169/MEN/2000 tentang Pencabutan Kepmenaker Nomor KEP-105/MEN/1977
Tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Izin Kerja bagi Tenaga Kerja Asing
yang akan bekerja dalam rangka Koordinasi penanaman Modal dan Kepmenaker
Nomor KEP-105/MEN/1985 tentang Penunjukan Ketua BPKM untuk
mensahkan (RPTKA) dalam rangka penanaman modal, mencabut wewenang
pemberian izin kerja (IKTA) oleh Ketua BPKM dalam rangka penanaman modal
(sejak tanggal 1 Juli 2000). Selanjutnya pemberian IKTA dilaksanakan oleh
Menteri Tenaga Kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan disebutkan bahwa Hubungan Kerja adalah hubungan

22
pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai
unsur pekerjaan, upah dan perintah. Dan pengertian atau definisi dari Perjanjian
Kerja Bersama (PKB), Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT) dan
Peraturan Perusahaan yakni:

a. Perjanjian Kerja Bersama (PKB) adalah suatu kesepakatan secara tertulis


dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang dibuat secara bersama-sama
antara pengusaha atau beberapa pengusaha dengan organisasi serikat pekerja
atau organisasi serikat pekerja yang sudah terdaftar pada instansi yang
bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan.

b. Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu adalah perjanjian kerja antara


pekerja dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu
tertentu atau pekerjaan tertentu.

c. Peraturan Perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh


pengusaha yang memuat ketentuan-ketentuan tentang syarat-syarat kerja serta
tata tertib perusahaan.

Dalam Pengaturan hubungan kerja diatur dalam suatu perjanjian kerja yang
disetujui oleh kedua belah pihak, perjanjian kerja tersebut bisa dibuat juga secara
lisan atau tidak tertulis. Adapun perjanjian kerja yang harus dibuat secara tertulis
yaitu Perjanjian Kerja Laut (PKL), Perjanjian Kerja Antar Kerja Antar Negara
(AKAN), Perjanjian Kerja Antar Kerja Antar Daerah (AKAD), dan Perjanjian
Kerja untuk Waktu Tertentu (kontrak). Dalam perjanjian kerja terdapat 3 (tiga)
unsur yaitu pekerjaan, perintah dan upah, serta dalam perjanjian kerja juga
terdapat bentuk dan jangka waktu perjanjian khusus dalam Pasal 54 Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003. Jenis dan sifat pekerjaan yang diperbolehkan
menggunakan Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu yaitu:

23
1. Pekerjaan yang selesai sekali atau sementara sifatnya yang penyelesaiannya
paling lama 3 (tiga) tahun.

2. Pekerjaan Musiman.

3. Pekerjaan yang terkait dengan produk baru, kegiatan baru atau produk
tambahan yang masih dalam masa percobaan atau penjajakan.

4. Pekerjaan Harian/ Pekerja Lepas.

Tenaga Kerja Asing (TKA) adalah tiap orang yang bukan warga negara
Indonesia yang mampu melakukan pekerjaan , baik di dalam maupun di luar
hubungan kerja, guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. Pengertian Tenaga Kerja Asing ditinjau dari segi undang-undang
(pengertian otentik), yang dimana pada Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor
13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa Tenaga Kerja
Asing adalah Warga Negara Asing pemegang visa dengan maksud bekerja di
wilayah Indonesia. Adapun pengaturan nasional mengenai Tenaga Kerja Asing
berdasarkan :

1. Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1995 Tentang Penggunaan Tenaga Kerja


Warga Negara Asing Pendatang ( TKWNAP).

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

3. Peraturan Menteri Nomor PER.02/MEN/III/2008 Tentang Tata Cara


Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

3.2 Saran

Dalam melakukan perjanjian kerja terhadap pekerja/buruh harus


memperhatikan kesejahteraan pekerja, demikian juga untuk peningkatan

24
relevansi, kualitas, dan efisiensi penyelenggaraan kerja maka pemerintah dapat
melakukan pembinaan dan pelatihan kerja.

Demikian juga terhadap penggunaan Tenaga Kerja Asing, pemerintah harus


memperhatikan terhadap perusahaan yang ingin menggunakan Tenaga Kerja
Asing untuk perusahaannya dengan membatasi penggunaan TKA tersebut agar
Tenaga Kerja Indonesia dapat digunakan oleh perusahaan. Juga dalam
melaksanakan hubungan industrial, pemerintah mempunyai fungsi menetapkan
kebijakan, memberikan pelayanan, melaksanakan pengawasan dan melakukan
penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan
ketenagakerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi:

25
Husni, Lalu. 2000. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.

Kosidin, Koko. 1999. Perjanjian Kerja Perjanjian Perburuhan dan Peraturan


Perusahaan. Bandung: Mandar Maju.

Bambang, R. Joni. 2013. Hukum Ketenagakerjaan. Bandung: CV. Pustaka Setia

Peraturan Perundang-Undangan:

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

Peraturan Menteri Nomor PER.02/MEN/III/2008 Tentang Tata Cara Penggunaan


Tenaga Kerja Asing.

26