Anda di halaman 1dari 32

PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Hukum Pajak
yang dibina oleh Ibu Diana Tien Irafahmi, S.Pd., M.Pd.

oleh
Ach. Junaidi Irham Fauzi 140422600555
Amalia Rizqi Maharani 140422604401
Anita Sari 140422602356

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
September 2014

KATA PENGANTAR
Page | 2

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena dengan


rahmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan
motivasi kepada masyarakat tentang kesadaran pentingnya
membayar pajak, sekaligus menyelesaikan tugas mata kuliah
Hukum Pajak. Dalam makalah ini masih terdapat beberapa
kesalahan dan kekurangan karena dalam pembuatan karya tulis
ini kami masih dalam proses belajar untuk itu mohon kritik dan
sarannya demi perbaikan karya tulis ini. Kami berharap semoga
karya tulis ini memberikan manfaat bagi pembaca.

Hormat kami

Penulis

2 | Page
Page | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar 02
Daftar Isi 03
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
04
1.2 Rumusan Masalah
04
1.3 Tujuan 04

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Cara Pembayaran dan Pelaporan Pajak
05
2.2 Syarat-syarat dalam Pembayaran dan pelaporan Pajak
07
2.3 Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Pembayaran dan Pelaporan
Pajak 08
2.4 Batas Waktu Pembayaran dan Pelaporan Pajak
10
2.5 Sanksi yang diberikan jika Wajib Pajak belum
Melakukan
Pembayaran dan Pelaporan Pajak
12
2.6 Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
15

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan 18
3.2 Saran 18

Daftar Rujukan 19

Lampiran
Kasus 20
Petunjuk Pengisian SSP 21
SSP Lembar 1
22
SSP Lembar 2
23
SSP Lembar 3
24
SSP Lembar 4
25
SSP Lembar 5
26

3 | Page
Page | 4

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (UU KUP pasal 1).
Peran pajak terhadap penerimaan negara dari tahun ke tahun
semakin dominan, terutama sejak penerimaan minyak dan gas
bumi tidak mampu lagi membiayai belanja pemerintah. Semakin
besarnya peranan pajak dalam pembangunan menjadi perhatian
semua pihak, karena tingginya pajak menunjukkan kemampuan
kemandirian bangsa dalam membiayai pembangunan dari
seluruh komponen bangsa. Pajak dipungut penguasa
berdasarkan norma hukum untuk menutup biaya produksi
barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan
umum. Pajak merupakan sumber utama pemasukan negara yang
dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Direktorat
Jenderal Pajak. Pajak memberikan manfaat secara tidak langsung
bagi masyarakat,karena kontraprestasi yang akan dikembalikan
pada masyarakat adalah dalam bentuk pembangunan
infrastruktur dan fasilitas umum,sehingga pajak tersebut
seharusnya dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan
masyarakat. Selain untuk membangun infrastruktur dan fasilitas
umum, pajak juga dipergunakan untuk membayar gaji pegawai
negeri, pensiunan pegawai negeri,bahkan subsidi yang selama

4 | Page
Page | 5

ini dirasakan oleh masyarakat berasal dari pajak yang


dibayarkan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana cara pembayaran dan pelaporan pajak?
Apa syarat-syarat pembayaran dan pelaporan Pajak?
Apa saja fungsi,tujuan dan kegunaan pembayaran
dan pelaporan pajak?
Berapa lama jangka waktu pembayaran dan
pelaporan Pajak?
Apa sanksi yang diberikan jika wajib pajak belum
melakukan pembayaran dan pelaporan Pajak?
Bagaimana jika terjadi kelebihan Pembayaran Pajak?

1.3 Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui cara pembayaran dan pelaporan


pajak.
Untuk mengetahui syarat dalam pembayaran dan
pelaporan pajak.
Untuk mengetahui fungsi dan kegunaan pajak.
Untuk melihat sejauh mana batas waktu
pembayaran.
Untuk mengetahui sanksi yang dikenakan dalam
pembayaran dan pelaporan pajak.
Untuk memahami kelebihan pembayaran pajak.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Cara Pembayaran dan pelaporan Pajak


Pembayaran dan pelaporan Pajak dapat dilakukan dengan
menggunakan fasilitas sistem pembayaran online, dilaksanakan
melalui Teller Bank Persepsi/Devisa Persepsi online atau
menggunakan fasilitas alat transaksi yang disediakan oleh Bank
Persepsi/ Devisa Persepsi online.
Cara pembayaran Melalui Teller Bank:
(1.) Wajib Pajak (WP) mendatangi teller Bank dengan
membawa:

5 | Page
Page | 6

Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah diisi secara


lengkap dan benar atau data yang lengkap dan benar
tentang :
Nomor Pokok Wajib Pajak.
Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP) sesuai
dengan jenis pajak yang akan dibayar,
sebagaimana diatur dalam Buku Petunjuk
Pengisian SSP.
Kode Jenis Setoran (KJS) sesuai dengan jenis
setoran pajak yang akan dibayar, sebagaimana
diatur dalam Buku Petunjuk Pengisian SSP (pada
kolom pertama tabel MAP yang bersangkutan).
Nomor ketetapan sebagaimana tercantum dalam
SKPKB, SKPKBT, atau STP yang akan dibayar
( hanya diisi apabila pembayaran dilakukan untuk
melunasi SKPKB, SKPKBT, atau STP).
Masa Pajak, yang menunjukkan periode kewajiban
pajak yang akan dibayar, misalnya masa Agustus
tahun 2002 diisi dengan 08-2002. Apabila
membayar PPh Pasal 29 tahunan, setelah kode
jenis setoran diisi dengan 200 maka bulan dalam
masa pajak akan terisi 00 sehingga WP hanya
tinggal mengisi empat digit tahun pajak.
Alat Pembayaran senilai Pajak yang akan dibayarkan.
(2.) WP menyampaikan SSP yang telah diisi secara
lengkap dan benar atau Data yang lengkap dan benar serta
alat pembayaran sebagaimana dimaksud dalam angka 1
huruf a dan b di atas kepada Teller Bank Persepsi/Devisa
Persepsi Online.
(3.) WP menjawab kebenaran identitas WP tentang Nama
WP dan Alamat WP.
(4.) WP menerima Kembali SSP yang telah disahkan
dengan tanda tangan petugas teller dan cap Bank serta
diberi Nomor Transaksi Pembayaran Pajak (NTPP) dan atau
Nomor Transaksi Bank (NTB), dan atau SSP yang dicetak
oleh Bank yang telah diberi NTPP dan atau NTB dari Teller.
(5.) WP memeriksa kebenaran SSP yang diterima dari
Teller.
(6.) WP melaporkan SSP ke KPP sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Cara Pembayaran Pajak Menggunakan Fasilitas Alat Transaksi
Bank (misalnya ATM dan Internet Banking) :
(1.) WP mendatangi alat transaksi bank dengan
membawa data yang lengkap dan benar tentang:

6 | Page
Page | 7

Nomor Pokok Wajib Pajak.


Kode Mata Anggaran Penerimaan sesuai dengan jenis
pajak yang akan dibayar, sebagaimana diatur dalam
Buku Petunjuk Pengisian SSP (pada keterangan di
atas setiap tabel).
Kode Jenis Setoran sesuai dengan jenis setoran pajak
yang dibayar, sebagaimana diatur dalam Buku
Petunjuk Pengisian SSP (pada kolom pertama tabel
MAP yang bersangkutan).
Nomor ketetapan sebagaimana tercantum dalam
SKPKB, SKPKBT, atau STP yang akan dibayar (hanya
diisi apabila pembayaran digunakan untuk melunasi
SKPKB, SKPKBT, atau STP).
Masa Pajak, yang menunjukkan periode kewajiban
pajak yang akan dibayar, misalnya masa Agustus
tahun 2002 diisi dengan 08-2002. Apabila membayar
PPh Pasal 29 tahunan, setelah kode jenis setoran diisi
dengan 200 maka bulan dalam masa pajak akan
terisi 00 sehingga WP hanya tinggal mengisi empat
digit tahun pajak.
(2.) WP membuka menu Pembayaran Pajak.
(3.) WP mengisi elemen dalam tampilan dengan data
sebagaimana dimaksud dalam angka 1 di atas secara
tepat, lengkap dan benar.
(4.) WP meneliti Identitas WP yang terdiri dari nama dan
Alamat WP yang muncul pada tampilan. Apabila Identitas
WP yang terdiri dari nama dan Alamat WP pada tampilan
tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, maka proses
berikutnya harus dibatalkan dan kembali kepada menu
sebelumnya untuk mengulang pemasukan data yang
diperlukan.
(5.) WP mengisi elemen data lainnya yang diperlukan
dalam tampilan berikutnya secara tepat.
(6.) WP mengambil SSP hasil keluaran fasilitas alat
transaksi Bank.
(7.) WP memeriksa kebenaran SSP yang diperoleh.
(8.) WP melaporkan SSP ke KPP sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Cara pembayaran Pajak Menggunakan Fasilitas Cash
Management Service (CMS).
Pembayaran melalui CMS dilakukan sesuai dengan
kesepakatan antara Bank dan nasabah (Wajib Pajak) sepanjang
sistem yang menangani jenis pelayanan ini terhubung secara
online dengan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.

7 | Page
Page | 8

2.2 Syarat-syarat dalam Pembayaran dan pelaporan Pajak


Tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada
masyarakat. Bila terlalu tinggi, masyarakat akan enggan
membayar pajak. Namun bila terlalu rendah, maka
pembangunan tidak akan berjalan karena dana yang kurang.
Agar tidak menimbulkan berbagai masalah, maka pemungutan
pajak harus memenuhi persyaratan yaitu:

Pemungutan pajak harus adil


Seperti halnya produk, hukum pajak pun mempunyai
tujuan untuk menciptakan keadilan dalam hal pemungutan pajak.
Adil dalam perundangan maupun adil dalam pelaksanaannya.
Contohnya:
Dengan mengatur hak dan kewajiban para wajib
pajak.
Pajak diberlakukan bagi setiap warga negara yang
memenuhi syarat sebagai wajib pajak.
Sanksi atas pelanggaran pajak diberlakukan secara
umum sesuai dengan berat ringannya pelanggaran.
Pengaturan pajak harus berdasarkan UU
Sesuai dengan Pasal 23 UUD 1945 yang berbunyi: Pajak
dan pungutan yang bersifat untuk keperluan negara diatur
dengan Undang-Undang, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penyusunan UU tentang pajak, yaitu:
Pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara yang
berdasarkan UU tersebut harus dijamin
kelancarannya.
Jaminan hukum bagi para wajib pajak untuk tidak
diperlakukan secara umum.
Jaminan hukum akan terjaganya kerahasiaan bagi
para wajib pajak.
Pungutan pajak tidak mengganggu perekonomian
Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa
agar tidak mengganggu kondisi perekonomian, baik kegiatan
produksi, perdagangan, maupun jasa. Pemungutan pajak jangan
sampai merugikan kepentingan masyarakat dan menghambat
lajunya usaha masyarakat pemasok pajak, terutama masyarakat
kecil dan menengah.

8 | Page
Page | 9

Pemungutan pajak harus efisien


Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka
pemungutan pajak harus diperhitungkan. Jangan sampai pajak
yang diterima lebih rendah daripada biaya pengurusan pajak
tersebut. Oleh karena itu, sistem pemungutan pajak harus
sederhana dan mudah untuk dilaksanakan. Dengan demikian,
wajib pajak tidak akan mengalami kesulitan dalam pembayaran
pajak baik dari segi penghitungan maupun dari segi waktu.

Sistem pemungutan pajak harus sederhana


Bagaimana pajak dipungut akan sangat menentukan
keberhasilan dalam pungutan pajak. Sistem yang sederhana
akan memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak
yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat positif
bagi para wajib pajak untuk meningkatkan kesadaran dalam
pembayaran pajak. Sebaliknya, jika sistem pemungutan pajak
rumit, orang akan semakin enggan membayar pajak. Contoh:
Bea meterai disederhanakan dari 167 macam tarif
menjadi 2 macam tarif.
Tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi
hanya satu tarif, yaitu 10%.
Pajak perseorangan untuk badan dan pajak
pendapatan untuk perseorangan disederhanakan
menjadi pajak penghasilan (PPh) yang berlaku bagi
badan maupun perseorangan (pribadi).

2.3 Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Pembayaran dan


Pelaporan Pajak
FUNGSI
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan
pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan
negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk
pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal di atas maka pajak
mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
Fungsi anggaran (budgetair)

9 | Page
P a g e | 10

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk


membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk
menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan
pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat
diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan
untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang,
pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan
pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah,
yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin.
Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan
sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin
meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.
Fungsi mengatur (regulerend)
Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui
kebijaksanaan pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa
digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Contohnya
dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri
maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas
keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam
negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk
produk luar negeri.
Fungsi stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk
menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas
harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan
antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di
masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif
dan efisien.
Fungsi redistribusi pendapatan
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk
membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk
membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan
kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.
MANFAAT
Sebagaimana halnya perekonomian dalam suatu rumah
tangga atau keluarga, perekonomian negara juga mengenal
sumber-sumber penerimaan dan pos-pos pengeluaran. Pajak
merupakan sumber utama penerimaan negara. Tanpa pajak,
sebagian besar kegiatan negara sulit untuk dapat dilaksanakan.

10 | P a g e
P a g e | 11

Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja pegawai


sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan.
Pembangunan sarana umum seperti jalan-jalan, jembatan,
sekolah, rumah sakit/puskesmas, kantor polisi dibiayai dengan
menggunakan uang yang berasal dari pajak. Uang pajak juga
digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan rasa
aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga negara
mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia,
menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang
semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak. Dengan
demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu
negara menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda
pemerintahan dan pembiayaan pembangunan. Secara singkat
pajak dimanfaatkan untuk mendanai:
Pembangunan fasilitas dan infrastruktur
Alokasi Dana Umum
Pemilihan Umum ( PEMILU)
Penegakan hukum
Subsidi pangan dan BBM
Pelayanan Kesehatan
Pendidikan
Pertahanan dan Keamanan
Kelestarian lingkungan hidup
Kelestarian budaya
Transportasi massal

2.4 Batas Waktu Pembayaran dan Pelaporan Pajak


Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
80/PMK.03/2010, batas waktu penyetoran dan pelaporan pajak
diatur sebagai berikut:
Penyetoran Pajak
PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong Pajak
Penghasilan harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib
Pajak harus disetor paling lama tanggal 15 (lima belas)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.

11 | P a g e
P a g e | 12

PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus


disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri harus disetor
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus
disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh
Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 25 harus dibayar paling lama tanggal 15 (lima
belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus
dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk
dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh
Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus
dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan
pabean impor.
PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor yang
dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, harus
disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah
dilakukan pemungutan pajak.
PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara harus disetor
pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran
atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara
atau belanja Daerah, dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak atas nama rekanan dan ditandatangani oleh
bendahara.
PPh Pasal 22 atas penyerahan bahan bakar minyak, gas,
dan pelumas kepada penyalur/agen atau industri yang
dipungut oleh Wajib Pajak badan yang bergerak dalam
bidang produksi bahan bakar minyak, gas, dan pelumas,
harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib
Pajak badan tertentu sebagai Pemungut Pajak harus disetor
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir.

PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri harus


disetor oleh orang pribadi atau badan yang melakukan

12 | P a g e
P a g e | 13

kegiatan membangun sendiri paling lama tanggal 15 (lima


belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak
tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah
Pabean harus disetor oleh orang pribadi atau badan yang
memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau
Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean, paling lama
tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah saat
terutangnya pajak.
PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan
oleh Bendahara Pengeluaran sebagai Pemungut PPN, harus
disetor paling lama tanggal 7 (tujuh) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir
PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan
oleh Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar
sebagai Pemungut PPN, harus disetor pada hari yang sama
dengan pelaksanaan pembayaran kepada Pengusaha Kena
Pajak Rekanan Pemerintah melalui Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara.
PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan
oleh Pemungut PPN selain Bendahara Pemerintah yang
ditunjuk, harus disetor paling lama tanggal 15 (lima belas)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-
Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam
satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling lama
pada akhir Masa Pajak terakhir.
Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak
dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan
beberapa masa pajak dalam satu Surat Pemberitahuan
Masa, harus dibayar paling lama sesuai dengan batas
waktu untuk masing-masing jenis pajak.
Pelaporan Pajak
Wajib Pajak orang pribadi atau badan, baik yang melakukan
pembayaran pajak sendiri maupun yang ditunjuk sebagai
Pemotong atau Pemungut PPh, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5),
ayat (6), ayat (7), ayat (11), dan ayat (12) wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama 20
(dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan PPN atau PPN dan
PPnBM yang telah disetor sebagaimana dimaksud dalam

13 | P a g e
P a g e | 14

Pasal 2 ayat (13) dan ayat (13a), serta Pasal 2A, dengan
menggunakan Surat Pemberitahuan Masa PPN ke Kantor
Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan,
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir.
Orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena
Pajak wajib melaporkan Pajak Pertambahan Nilai yang telah
disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (13)
dengan menggunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak
ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi
tempat bangunan tersebut, paling lama akhir bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
Orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena
Pajak wajib melaporkan Pajak Pertambahan Nilai yang telah
disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (13a)
dengan menggunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak
ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi
tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan
badan tersebut, paling lama akhir bulan berikutnya setelah
saat terutangnya pajak.
Pemungut Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (9) wajib melaporkan hasil pemungutannya secara
mingguan paling lama pada hari kerja terakhir minggu
berikutnya.
Pemungut Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (10) wajib melaporkan hasil pemungutannya paling
lama 14 (empat belas) hari setelah Masa Pajak berakhir.
Pemungut PPN wajib melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM
yang telah disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (14) dan ayat (15) ke Kantor Pelayanan Pajak tempat
Pemungut PPN terdaftar paling lama akhir bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (16) dan ayat (17) yang
melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu Surat
Pemberitahuan Masa, wajib menyampaikan Surat
Pemberitahuan Masa paling lama 20 (dua puluh) hari
setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir.

2.5 Sanksi yang diberikan jika Wajib Pajak belum


Melakukan Pembayaran dan Pelaporan Pajak
Pengetahuan tentang sanksi dalam perpajakan menjadi
penting karena pemerintah Indonesia memilih menerapkan self

14 | P a g e
P a g e | 15

assessment system dalam rangka pelaksanaan pemungutan


pajak. Berdasarkan sistem ini, Wajib Pajak diberikan kepercayaan
untuk menghitung menyetor, dan melaporkan pajaknya sendiri.
Untuk dapat menjalankannya dengan baik, maka setiap Wajib
Pajak memerlukan pengetahuan pajak, baik dari segi peraturan
maupun teknis administrasinya. Agar pelaksanaannya dapat
tertib dan sesuai dengan target yang diharapkan, pemerintah
telah menyiapkan rambu-rambu yang diatur dalam UU
Perpajakan yang berlaku.
Dari sudut pandang yuridis, pajak memang mengandung
unsur pemaksaan. Artinya, jika kewajiban perpajakan tidak
dilaksanakan, maka ada konsekuensi hukum yang bisa terjadi.
Konsekuensi hukum tersebut adalah pengenaan sanksi-sanksi
perpajakan.
Pada hakikatnya, pengenaan sanksi perpajakan
diberlakukan untuk menciptakan kepatuhan Wajib Pajak dalam
melaksanakan kewajiban perpajakannya. Itulah sebabnya,
penting bagi Wajib pajak memahami sanksi-sanksi perpajakan
sehingga mengetahui konsekuensi hukum dari apa yang
dilakukan ataupun tidak dilakukan. Untuk dapat memberikan
gambaran mengenai hal-hal apa saja yang perlu dihindari agar
tidak dikenai sanksi perpajakan, di bawah ini akan diuraikan
tentang jenis-jenis sanksi perpajakan dan perihal pengenaannya.
Ada 2 macam Sanksi perpajakan, yaitu:
Sanksi Administrasi
Terdiri dari:

Sanksi Administrasi Berupa Denda


Sanksi denda adalah jenis sanksi yang paling banyak
ditemukan dalam UU perpajakan. Terkait besarannya denda
dapat ditetapkan sebesar jumlah tertentu, persentase dari
jumlah tertentu, atau suatu angka perkalian dari jumlah tertentu.
Pada sejumlah pelanggaran, sanksi denda ini akan
ditambah dengan sanksi pidana. Pelanggaran yang juga dikenai
sanksi pidana ini adalah pelanggaran yang sifatnya alpa atau
disengaja. Untuk mengetahui lebih lanjut, dalam tabel 1 dimuat
hal-hal yang dapat menyebabkan sanksi administrasi berupa
denda, bentuk pengenaan denda, dan besarnya denda.

Sanksi Administrasi Berupa Bunga

15 | P a g e
P a g e | 16

Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan atas


pelanggaran yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih
besar. Jumlah bunga dihitung berdasarkan persentase tertentu
dari suatu jumlah, mulai dari saat bunga itu menjadi
hak/kewajiban sampai dengan saat diterima dibayarkan.
Terdapat beberapa perbedaan dalam menghitung bunga
utang biasa dengan bunga utang paiak. Penghitungan bunga
utang pada umumnya menerapkan bunga majemuk (bunga
berbunga). Sementara, sanksi bunga dalam ketentuan pajak
tidak dihitung berdasarkan bunga majemuk.
Besarnya bunga akan dihitung secara tetap dari pokok
pajak yang tidak/kurang dibayar. Tetapi, dalam hal Waiib Paiak
hanya membayar sebagian atau tidak membayar sanksi bunga
yang terdapat dalam surat ketetapan pajak yang telah
diterbitkan, maka sanksi bunga tersebut dapat ditagih kembali
dengan disertai bunga lagi.
Perbedaan lainnya dengan bunga utang pada umumnya
adalah sanksi bunga dalam ketentuan perpajakan pada dasarnya
dihitung 1 (satu) bulan penuh. Dengan kata lain, bagian dari
bulan dihitung 1 (satu) bulan penuh atau tidak dihitung secara
harian. Untuk mengetahui lebih Jelas mengenai hal-hal yang
dapat menyebabkan sanksi bunga dan penghitungan besarnya
bunga dalam pajak.

Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan


Jika melihat bentuknya, bisa jadi sanksi administrasi
berupa kenaikan adalah sanksi yang paling ditakuti oleh wajib
Pajak. Hal ini karena bila dikenakan sanksi tersebut, jumlah pajak
yang harus dibayar bisa menjadi berlipat ganda. Sanksi berupa
kenaikan pada dasarnya dihitung dengan angka persentase
tertentu dari jumlah pajak yang tidak kurang dibayar.
Jika dilihat dari penyebabnya, sanksi kenaikan biasanya
dikenakan karena Wajib Pajak tidak memberikan informasi-
informasi yang dibutuhkan dalam menghitung jumlah pajak
terutang. Untuk lebih jelasnya, hal-hal yang dapat menyebabkan
sanksi berupa kenaikan dan besarnya kenaikan dapat dilihat
dalam tabel 3.
Sanksi Pidana
Kita sering mendengar isilah sanksi pidana dalam
peradilan umum. Dalam perpajakan pun dikenai adanya sanksi

16 | P a g e
P a g e | 17

pidana. UU KUP menyatakan bahwa pada dasarnya, pengenaan


sanksi pidana merupakan upaya terakhir untuk meningkatkan
kepatuhan Wajib Pajak.
Namun, pemerintah masih memberikan keringanan
dalam pemberlakuan sanksi pidana dalam pajak, yaitu bagi Wajib
Pajak yang baru pertama kali melanggar ketentuan Pasal 38 UU
KUP tidak dikenai sanksi pidana, tetapi dikenai sanksi
administrasi. Pelanggaran Pasal 38 UU KUP adalah tidak
menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak
benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang
isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara.
Hukum pidana diterapkan karena adanya tindak
pelanggaran dan tindak kejahatan. Sehubungan dengan itu, di
bidang perpajakan, tindak pelanggaran disebut dengan kealpaan,
yaitu tidak sengaja, lalai, tidak hati-hati, atau kurang
mengindahkan kewajiban pajak sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara. Sedangkan tindak kejahatan
adalah tindakan dengan sengaja tidak mengindahkan kewajiban
pajak sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara.
Meski dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara, tindak pidana di bidang perpajakan tidak dapat dituntut
setelah jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terlampaui. Jangka
waktu ini dihitung sejak saat terutangnya pajak, berakhirnya
masa pajak, berakhirnya bagian tahun pajak, atau berakhirnya
tahun pajak yang bersangkutan. Penetapan jangka waktu 10
(sepuluh) tahun ini disesuaikan dengan kadaluwarsa
penyimpanan dokumen-dokumen perpajakan yang dijadikan
dasar penghitungan jumlah pajak yang terutang, yaitu selama 10
(sepuluh) tahun.

Dalam UU Perpajakan Indonesia, ketentuan mengenai


sanksi pidana pada intinya diatur dalam Bab VIII UU KUP sebagai
hukum pajak formal. Namun, dalam UU Perpajakan lainnya,
dapat juga diatur sanksi pidana. Sanksi pidana biasanya disertai
dengan sanksi administrasi berupa denda, walaupun tidak selalu
ada.

2.6 Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak

17 | P a g e
P a g e | 18

Pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi)


terjadi apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang
dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau
telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya
terutang, dengan catatan Wajib Pajak tidak punya hutang pajak
lain.
A. Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
Dalam hal jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar
lebih besar dari pada jumlah pajak yang terutang:
(1.) Wajib Pajak (WP) dapat mengajukan permohonan
restitusi ke Direktur Jenderal Pajak melalui Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) tempat WP terdaftar atau
berdomisili.
(2.) Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan
pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Lebih Bayar (SKPLB) dalam hal:
Pajak Penghasilan, apabila jumlah kredit pajak lebih
besar daripada jumlah pajak yang terutang.
Pajak Pertambahan Nilai, apabila jumlah kredit pajak
lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. Jika
terdapat pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak
Pertambahan Nilai, jumlah pajak yang terutang dihitung
dengan cara jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan
pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan
Nilai tersebut.
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, apabila jumlah
pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak
yang terutang.
(3.) SKPLB diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak paling
lama 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan
diterima secara lengkap.
Dalam hal pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang:
(1.) Pajak yang yang seharusnya tidak terutang adalah
pajak yang telah dibayar oleh WP yang bukan merupakan
objek pajak yang terutang atau kesalahan pemotongan
atau pemungutan yang mengakibatkan pajak yang
dipotong atau dipungut lebih besar daripada pajak yang
seharusnya dipotong atau dipungut berdasarkan ketentuan
perundang-undangan perpajakan atau bukan merupakan
objek pajak.

18 | P a g e
P a g e | 19

(2.) Wajib Pajak (WP orang pribadi dan badan termasuk


orang pribadi yang belum memiliki NPWP) dapat
mengajukan permohonan restitusi ke kantor Direktur
Jenderal Pajak melalui KPP tempat WP terdaftar atau
berdomisili, apabila terjadi kesalahan pembayaran pajak
atas pajak yang seharusnya tidak terutang. Surat
permohonan harus melampirkan:
Asli bukti pembayaran pajak
Perhitungan pajak yang seharusnya tidak terutang
Alasan permohonan pengembalian pembayaran
pajak yang seharusnya tidak terutang.
(3.) WP yang dipotong atau dipungut (PPh, PPN dan
PPnBM) dapat mengajukan permohonan restitusi ke kantor
Direktur Jenderal Pajak melalui KPP tempat WP yang
dipotong atau yang dipungut terdaftar atau melalui KPP
tempat Pengusaha Kena Pajak yang dipungut dikukuhkan
dengan catatan PPh dan PPN serta PPnBM yang dipotong
atau dipungut belum dikreditkan atau dibiayakan. Surat
permohonan harus melampirkan:
Asli bukti pemotongan/pemungutan pajak.
Perhitungan pajak yang seharusnya tidak terutang,
dan.
Alasan permohonan pengembalian pembayaran
pajak yang seharusnya tidak terutang.
(4.) WP yang melakukan pemotongan atau pemungutan
dapat mengajukan permohonan restitusi ke kantor Direktur
Jenderal Pajak melalui KPP tempat WP yang melakukan
pemotongan atau pemungutan terdaftar atau Pengusaha
Kena Pajak yang melakukan pemungutan dikukuhkan,
apabila terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan
pajak yang dilakukannya dan pihak yang dipotong atau
dipungut adalah :
orang pribadi yang belum memiliki NPWP;
subjek pajak luar negeri; atau
terdapat kesalahan penerapan ketentuan oleh
pemotong atau pemungutan kecuali WP yang
melakukan pemotongan atau pemungutan tidak
dapat ditemukan yang disebabkan antara lain karena
pembubaran usaha.
(5.) Surat permohonan harus melampirkan :
Asli bukti pembayaran pajak;
Perhitungan pajak yang seharusnya tidak terutang;
Alasan permohonan pengembalian pembayaran
pajak yang seharusnya tidak terutang.

19 | P a g e
P a g e | 20

Surat kuasa dari pihak yang dipotong atau dipungut


kepada WP yang melakukan pemotongan atau
pemungutan atau Pengusaha Kena Pajak yang
melakukan pemungutan.
(6.) Direktur Jenderal Pajak melakukan penelitian
terhadap permohonan pengembalian pembayaran pajak
yang seharusnya tidak terutang dalam jangka waktu paling
lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan WP diterima secara
lengkap dan menerbitkan SKPLB bila hasil penelitian
tersebut terdapat pembayaran pajak yang seharusnya
tidak terutang. Apabila hasil penelitian tidak terdapat pajak
yang seharusnya tidak terutang, maka Direktur Jenderal
Pajak harus memberitahukan secara tertulis kepada WP.
B. Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak Kepada Wajib
Pajak yang Memenuhi Persyaratan Tertentu
Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu yang
dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak adalah :
Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha
atau pekerjaan bebas.
Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran usaha yang
tercantum dalam SPT Tahunan PPh kurang dari
Rp1.800.000.000,00 (satu milyar delapan ratus juta rupiah)
dan jumlah lebih bayarnya kurang dari Rp1.000.000,00
(satu juta rupiah) atau paling banyak 0,5% (setengah
persen) dari jumlah peredaran usaha yang tercantum
dalam SPT Tahunan PPh tersebut.
Wajib Pajak badan dengan jumlah peredaran usaha yang
tercantum dalam SPT Tahunan PPh paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) dan jumlah lebih
bayarnya kurang dari Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah).
Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dengan
jumlah penyerahan untuk suatu Masa Pajak paling banyak
Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) dan jumlah
lebih bayarnya paling banyak Rp 28.000.000,00 (dua puluh
delapan juta rupiah).
Terhadap permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dari Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan
tertentu, Kepala KPP melakukan penelitian atas :

20 | P a g e
P a g e | 21

Kelengkapan SPT dan lampiran-lampirannya.


Kebenaran penulisan dan penghitungan pajak.
Kebenaran pembayaran pajak yang telah dilakukan oleh
WP.
Kebenaran alamat yang tercantum dalam SPT tersebut
atau dalam SPT perubahan alamat. Dan menerbitkan Surat
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima
secara lengkap untuk Pajak Penghasilan dan paling lama 1
(satu) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap
untuk Pajak Pertambahan Nilai. Dalam hal hasil penelitian
menyatakan tidak lebih bayar, lampiran SPT tidak lengkap,
pembayaran pajak tidak benar, atau alamat tidak sesuai
dengan yang tercantum dalam SPT atau dengan
pemberitahuan perubahan alamat sehingga Surat
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
tidak diterbitkan, maka Kepala KPP harus memberitahukan
secara tertulis kepada WP.

21 | P a g e
P a g e | 22

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, terkait pentingnya
membayar pajak, maka simpulan dapat diuraikan sebagai
berikut:
1 Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
2 Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam
pelaksanaan pembangunan, dan memiliki 4 fungsi yaitu:
a Fungsi Anggaran (Budgetair)
b Fungsi Mengatur (Regureled)
c Fungsi Stabilisasi
d Fungsi Redistribusi Pendapatan
3 Ada beberapa cara untuk membayar pajak:
a. Melalui taller bank
b. Melalui e-banking
c. Melalui CMS
4. Ada dua macam sanksi yang diberikan apabila wajib pajak
tidak membayar pajaknya:
a. Sanksi administrasi
b. Sanksi pidana

3.2 Saran

Pemerintah seharusnya memberikan pengetahuan yang


luas tentang pajak kepada masyarakat sehingga masyarakat
mengetahui hal yang berkaitan dengan pajak. Pemerintah
seharusnya juga memberikan motivasi kepada masyarakat agar
masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi terhadap
pembayaran pajak. Dengan masyarakat yang memiliki kesadaran
tinggi akan pentingnya pajak maka pembangunan di Indonesia
dan kesejahteraan masyarakat akan terlaksana dengan baik.

22 | P a g e
P a g e | 23

DAFTAR RUJUKAN

Aryanto, Yuda, Fitriandi, Primandita & Priyono, Agus Puji. 2010.


Kompilasi Undang-Undang Perpajakan. Jakarta: Salemba Empat

Diharjo, Santoso Broto.1991.Pengantar Ilmu Hukum Pajak.


Bandung: Erosco.

Zain, M. & Arinti, Kusnandi.1990. Pembaharuan Perpajakan


Nasional. Bandung: Citra Aditya Bakti

Setiawati. 2012. Manfaat Pajak Bagi Perekonomian, (Online),


(http://www.setiawatiita.blogspot.com/2012/05/manfaat-pajak-
bagi-perekonomian.html), diakses pada 09 September 2014
(http://www.pajak.go.id/content/kenali-aturan-dalam-pelaporan-
pajak), diakses pada 09 September 2014
(www.pajak.go.id/dmdocument/manfaat%20pajak.pdf), diakses
pada 09 September 2014
(http://konsultanpajak-aaa.com/mengenal-sanksi-pajak.htm),
diakses pada 09 September 2014
(http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-pengembalian-
kelebihan-pembayaran-pajak), diakses pada 09 September 2014

23 | P a g e
P a g e | 24

9.000 Usaha Pertambangan Tidak Bayar Pajak


Senin, 18 Agustus 2014 14:22 wib | Dani Jumadil Akhir - Okezone

JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen) Kementrian


Keuangan akan fokus untuk menelurusi penerimaan pajak dari
sektor pertambangan. Pasalnya, sektor ini menjadi perhatian
khusus untuk titik utama penerimaan pajak untuk negara.
Menurut data dari Kepala Badan Reserse Kriminal
(Bareskrim) Suhardi Alius, diungkapkan bahwa sekitar 11 ribu izin
usaha pertambangan yang mengantongi Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP), hanya 2.000 WP yang sudah membayar pajak.
"Sedangkan 9.000 WP lain belum bayar pajak. Coba kalau
satu WP bayar Rp20 miliar saja, sudah bisa Rp1.800 triliun kita
dapatkan penerimaan negara," ucap Suhardi saat Press
Conference Rapat Koordinasi Direktorat Jenderal Pajak dan Badan
Reserse Kriminal Polri di kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Senin
(18/8/2014).
Dia menambahkan, dengan adanya potensi yang besar ini
akan dapat menambah pemasukan penerimaan pajak untuk
negara.
"Ini akan menambah pemasukan, makanya kita mau
implementasikan," imbuhnya.
Dirinya juga mengungkapkan, dari sekitar 40 juta WP
pribadi, baru 25 juga yang membayar pajak. Sedangkan dari sisi
WP Badan, tercatat sekitar 12 juta di Indonesia. Namun yang
terdaftar sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) baru 5 juta
dan yang melakukan pembayaran 540 ribu WP.
"Kalau ada penyimpangan baik itu dari WP ataupun
petugas pajak, bahkan sampai kongkalikong, maka kita akan

24 | P a g e
P a g e | 25

proses dan tindak tegas. Enggak ada ampun, sebab pajak


merupakan tulang punggung pembangunan," pungkasnya. (rzk)

25 | P a g e
P a g e | 26

PETUNUK PENGISIAN FORMULIR SURAT SETORAN


PAJAK

26 | P a g e
P a g e | 27

27 | P a g e
P a g e | 28

28 | P a g e
P a g e | 29

29 | P a g e
P a g e | 30

30 | P a g e
P a g e | 31

31 | P a g e
P a g e | 32

32 | P a g e