Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH PERKEMBANGAN

ARISITEKTUR
RUMAH TRADISIONAL ACEH

Disusun oleh:

Advent Jimmy Harianja 20315221


Ayu Komalasari Dewi 21315185
Hermanus Yoseph 23315145
M. Ryan Fauzan 24315781
Yolla Ristyani Dewi 27315281

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
perkembangan arsitektur rumah tradisional Aceh

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah perkembangan arsitektur rumah tradisional
Aceh ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Depok,

Oktober 2016

Penyusun

2
i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 4

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................................. 4

1.3 Tujuan .................................................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ARSITEKTUR ACEH ........................................................................ 5

2.1 Provinsi Aceh.......................................................................................................................... 5

2.2 Asal Usul Kota Aceh ............................................................................................................. 5

2.3 Rumah Adat Aceh................................................................................................................... 7

2.4 Distribusi Ruang ..................................................................................................................... 9

2.5 Anatomi Rumah Aceh............................................................................................................. 11

2.6 Jenis jenis Rumah Aceh .......................................................................................................... 13

2.7 Denah Rumah Tradisional Aceh ............................................................................................. 16

2.8 Tampak Rumah Tradisional Aceh .......................................................................................... 17

2.9 Ragam Hias dan Konstruksi Rumah ....................................................................................... 22

BAB III Kesimpulan. ................................................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... iii


LAMPIRAN.................................................................................................................................. iv

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Budihardjo (1994:57) rumah adalah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam bentuk
kreativitas dan pemberian makna bagi kehidupan penghuninya. Selain itu rumah adalah cerminan
diri, yang disebut Pedro Arrupe sebagai Status Conferring Function, kesuksesan seseorang
tercermin dari rumah dan lingkungan tempat huniannya.

Pengertian Rumah Adat


Rumah Adat adalah bangunan yang memiliki cirikhas khusus, digunakan untuk
temphunian oleh suatu suku bangsa tertentu.Rumah adat merupakan salah satu representasi
kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/masyarakat. Keberadaan rumah
adat di Indonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah,
warisan, dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban.
Rumah-rumah adat di indonesia memiliki bentuk dan arsitektur masing-masing daerah
sesuai dengan budaya adat lokal. Rumah adat pada umumnya dihiasi ukiran-ukiran indah, pada
jaman dulu, rumah adat yang tampak paling indah biasa dimiliki para keluarga kerajaan atau
ketua adat setempat menggunakan kayu-kayu pilihan dan pengerjaannya dilakukan secara
tradisional melibatkan tenaga ahli dibidangnya, Banyak rumah-rumah adat yang saat ini masih
berdiri kokoh dan sengaja dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol budaya Indonesia.
Arsitektur
tradisional Aceh banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang merupakan kepercayaan mayoritas
masyarakat Aceh ( Sahriyadi, 2012)Kehidupan keagamaan dalam masyarakat Aceh juga terlihat
dengan adanya rumah-rumah ibadah seperti meunasah (surau/ langgar), dan meuseujid (mesjid),
yang terdapat pada setiap kampung. Sebagian besar dari bangunan-bangunan tersebut masih
merupakan bangunan tradisional. Masyarakat bangsa Aceh yang mendiami sebagian besar daerah
Aceh masih memiliki bangunan tradisional.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Rumah tradisional?


2. Bagaimana arsitetuk Aceh?
3. Bagaimana sejarah bangunan arsitektur Aceh?
4. Bagaimana tata letak ruang arsitektur bangunan Aceh

1.3 Tujuan
4
1. Mengetahui tipologi bangunan arsitektur Aceh
2. Mengetahui sejarah bangunan arsitektur Aceh
3.Membuat analisa mengenai arsitektur Aceh
4. Membuat pembelajaran dalam bentuk penulisan makalah Perkembangan Arsitektur

4
BAB II
PEMBAHASAAN ARSITEKTUR ACEH
2.1 Provinsi Aceh

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia. Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan
merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Ibu kotanya adalah Banda Aceh. Jumlah penduduk
provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa. Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di
India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah
utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di
sebelah tenggara dan selatan.

Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran


Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam
penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-
17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan
termakmur di kawasan Selat Malaka. Sejarah Aceh
diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras
terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah
Belanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan
dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah
yang sangat konservatif (menjunjung tinggi nilai
agama).
Persentase penduduk Muslimnya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai
syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi
yang diatur tersendiri karena alasan sejarah.

2.2 Asal Usul Kota Aceh

Menurut bukti-bukti arkeologis, awalnya penghuni Aceh adalah dari masa pasca Plestosen, di
mana mereka tinggal di pantai timur Aceh (daerah Langsa dan Tamiang), dan menunjukkan ciri-
ciri Australomelanesid. Mereka terutama hidup dari hasil laut, terutama berbagai jenis kerang,
serta hewan-hewan darat seperti babi dan badak. Pada saat itu mereka sudah menggunakan api
dan menguburkan mayat dengan upacara tertentu.

Selanjutnya pembentukan suku-suku Aceh terjadi ketika perpindahan suku-suku asli Mantir
dan Lhan (proto Melayu), serta suku-suku Champa, Melayu, dan Minang (deutro Melayu) yang
datang dan membentuk penduduk pribumi Aceh. Selain itu bangsa asing, seperti bangsa India
selatan, serta sebagian kecil bangsa Arab, Persia, Turki, dan Portugis juga merupakan bagian
komponen pembentuk suku Aceh. Posisi strategis Aceh di bagian utara pulau Sumatra, selama
beribu tahun telah menjadi tempat persinggahan dan percampuran berbagai suku bangsa, yaitu

5
dalam jalur perdagangan laut dari Timur Tengah hingga ke Cina. Sehingga rakyat aceh banyak
merupakan campuran dari bangsa-bangsa lain:Proto dan Deutero Melayu

6
Menurut legenda rakyat Aceh, penduduk Aceh terawal berasal dari suku-suku asli, yaitu;

1. Suku Mante (Mantir)

2. Suku Lhan (Lanun).

Suku Mante diduga berkerabat dekat dengan suku Batak, suku Gayo, dan Alas. Sedangkan
suku Lhan diduga masih berkerabat dengan suku Semang yang bermigrasi dari Semenanjung
Malaya atau Hindia Belakang (Champa, Burma).

Suku Mante mulanya mendiami wilayah Aceh Besar dan kemudian menyebar ke tempat-
tempat lainnya. Ada pula dugaan secara etnologi tentang hubungan suku Mante dengan bangsa
Funisia di Babilonia atau Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, namun hal tersebut belum
dapat ditetapkan oleh para ahli kepastiannya.

Ketika Kerajaan Sriwijaya memasuki masa kemundurannya, diperkirakan sekelompok suku


Melayu mulai berpindah ke tanah Aceh. Di lembah sungai Tamiang yang subur mereka
kemudian menetap, dan selanjutnya dikenal dengan sebutan suku Tamiang. Setelah mereka
ditaklukkan oleh Kerajaan Samudera Pasai (1330), mulailah integrasi mereka ke dalam
masyarakat Aceh, walau secara adat dan dialek tetap terdapat kedekatan dengan budaya Melayu.

Suku Minang yang bermigrasi ke Aceh banyak yang menetap di sekitar Meulaboh dan
lembah Krueng Seunagan. Umumnya daerah subur ini mereka kelola sebagai persawahan basah
dan kebun lada, serta sebagian lagi juga berdagang. Penduduk campuran Aceh-Minang ini
banyak pula terdapat di wilayah bagian selatan, yaitu di daerah sekitar Susoh, Tapaktuan, dan
Labuhan Haji. Mereka banyak yang sehari-harinya berbicara baik dalam bahasa Aceh maupun
bahasa Aneuk Jamee, yaitu dialek khusus mereka sendiri.

Akibat politik ekspansi dan hubungan diplomatik Kesultanan Aceh Darussalam ke wilayah
sekitarnya, maka suku Aceh juga bercampur dengan suku-suku Alas, Gayo, Karo, Nias, dan
Kluet. Pengikat kesatuan budaya suku Aceh yang berasal dari berbagai keturunan itu terutama
ialah dalam bahasa Aceh, agama Islam, dan adat-istiadat khas setempat, sebagaimana yang
dirumuskan oleh Sultan Iskandar Muda dalam undang-undang Adat Makuta Alam.

Suku Aceh juga ada yang merupakan keturunan dari bangsa-bangsa lain di luar negeri.
Mereka datang dari luar dalam rangka perdagangan dan penyebaran agama. Berikut suku-suku
bangsa tersebut;

1. India
Keturunan bangsa India di Aceh berhubung erat dengan perdagangan dan penyebaran agama
Hindu-Buddha dan Islam di tanah Aceh. Bangsa India kebanyakan dari Tamil dan Gujarat.

2. Arab
Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Di antara
para pendatang tersebut terdapat antara lain marga-marga al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-
Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier, dan lain-lain, yang semuanya merupakan marga-marga
bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama penyebar agama Islam dan sebagai
perdagang. Daerah Seunagan misalnya, hingga kini terkenal banyak memiliki ulama-ulama
keturunan sayyid, yang oleh masyarakat setempat dihormati dengan sebutan Teungku Jet atau
Habib. Demikian pula, sebagian Sultan Aceh adalah juga keturunan sayyid. Keturunan mereka di
masa kini banyak yang sudah kawin campur dengan penduduk asli suku Aceh, dan
menghilangkan nama marganya.

3. Persia
Bangsa Persia umumnya datang untuk menyebarkan agama dan berdagang di Aceh, namun
kemudian juga menetap disana.

4. Turki
Bangsa Turki umumnya diundang datang untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih
prajurit, dan serdadu perang kerajaan Aceh.Saat ini dapat ditemukan keturunan bangsa Persia dan
Turki di wilayah Aceh Besar. Nama-nama warisan Persia dan Turki biasa digunakan orang Aceh
untuk menamai anak-anak mereka. Kata Banda dalam nama kota Banda Aceh juga adalah kata
yang berasal dari bahasa Persia (Bandar artinya "pelabuhan").

5. Portugis
Keturunan bangsa Portugis banyak terdapat di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat
Aceh). Mereka datang saat pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto,
yang berlayar hendak menuju Malaka, sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, di
mana sebagian di antara mereka lalu tinggal menetap di sana.

Peristiwa tersebut tercata dalam sejarah antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di
bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Dan sampai saat ini,
masih dapat dilihat keturunan rakyat Aceh yang masih memiliki profil wajah Eropa.

2.3 Rumah Adat

Rumah adat Nangro Aceh Darussalam atau disebut juga Rumoh Aceh merupakan rumah
panggung yang memiliki tinggi beragam sesuai dengan arsitektur si pembuatnya. Namun pada
kebiasaannya memiliki ketinggian sekitar 2,5-3 meter dari atas tanah. Untuk memasukinya harus
menaikit beberapa anak tangga. Terdiri dari tiga atau lima ruangan di dalamnya, untuk ruang
utama sering disebut dengan rambat.

Rumah Aceh yang bertipe tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan untuk tipe lima ruang
memiliki 24 tiang. Bahkan salah satu rumoh Aceh (peninggalan tahun 1800-an) yang berada di
persimpangan jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, milik dari keluarga Raja-raja Pidie,
Almarhum
Pakeh Mahmud (Selebestudder Pidie Van Laweung) memiliki 80 tiang, sehingga sering disebut
dengan rumoh Aceh besar.

Ukuran tiang-tiang yang menjadi penyangga utama rumoh Aceh sendiri berukuran 20 - 35
cm.Biasanya tinggi pintu sekitar 120 - 150 cm dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit
merunduk. Makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan
kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan
kedudukannya. Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang
Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya,
namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.Saat berada di
ruang depan ini atau disebut juga dengan seuramoe keu/seuramoe reungeun, akan kita dapati
ruangan yang begitu luas.

2.4 Distribusi Ruang

Rumoh Aceh merupakan rumah panggung. Besarnya Rumoh Aceh tergantung pada
banyaknya ruweueng (ruang)6. Ada yang tiga ruang, lima ruang, tujuh ruang hingga sepuluh
ruang. Beranda muka disebut seuramo keue(karena di sini ditempatkan tangga masuk, disebut
juga seuramo rinyeuen), serambi belakang disebut seuramo likot. Bagian utama rumah
adalah pada bagian tengah, yang dibuat lebih tinggi dari pada lantai serambi. Bagian utama
rumah ini disebut Tungai
. Pada bagian Tungai ini terletak dua bilik (kamar) tidur, yaitu rumoh Inong dan anjng. 7 Rumoh
inong adalah bilik peurumoh (master bedroom), sedangkan anjng adalah bilik untuk anak
perempuan.

Demikan mulianya posisi peurumoh dalam Adat Aceh. Keharmonisan rumah tangga adalah
hal yang paling penting, sehingga ditempatkan pada posisi yang paling utama, di tengah dan di
lantai tertinggi. Di antara kedua kamar tidur itu ada lorong penghubung antara seuramo
rinyeuen dengan seuramo likt, yang bernama Rambat. Di bagian belakang ada rumoh dapu
(dapur) yang elevasi lantainya lebih rendah dari seuramo likt. Dapur mendapat posisi terendah.
Karena ruang ini merupakan perluasan rumah, atau sebagai tambahan ruang pada rumah saja.

Dapat kita pahami masyarakat Aceh telah mengonsepkan ruang dengan suatu hirarki. Secara
fisik bangunan, hirarki ini tampak pada elevasi yang berbeda di tiap lantai ruangan. Hal ini
Tabel 1. Nama-Nama Ruang Pada Rumoh Aceh

No. Nama Ruang Arti


1. Seuramo Keue Serambi depan, tempat kaum lelaki.
2. Tungai Ruang tengah yang elevasinya lebih tinggi
daripada lantai serambi. Di dalam tungai terdapat
bilik dan rambat.
3. Rambat Lorong penghubung kedua serambi.
4. Rumoh Inong Kamar tidur untuk orang tua atau anak
perempuan yang baru menikah.
5. Anjong Kamar depan, yang berfungsi sebagai kamar
untuk anak perempuan.
6. Seuramo Likot Serambi belakang, tempat kaum perempuan dan
anak-anak.
7. Dapu Dapur, Untuk kegiatan masak-memasak.

2.5 Anatomi Rumah Aceh


Seperti banyak rumah-rumah tradisional di Indonesia lainnya, yang memiliki bagian-
bagian yang terdiri atas kepala, badan dan kaki, maka Rumoh Aceh pun demikian. Namun ada
sedikit perbedaan nama sebutan saja. Kepala rumah biasa disebut bubng. Bubng berarti atap,
atau bagian atap. Biasanya atap ini tidak memakai plafon tetapi langsung menaungi ruangan pada
badan rumah yang fungsional. Sebuah ruang kecil terdapat diantara bubng dan badan rumah,
yakni loteng yang disebut para. Gunanya sebagai gudang. Bagian badan rumah disebut Ateuh
Rumoh, yang berarti bagian atas. Dinamakan seperti ini sebab posisinya memang berada jauh
diatas tanah, untuk mencapai lantai rumah ini perlu menggunakan tangga. Pada ateuh rumoh ini
terdapat ruang-ruang fungsional rumah. Bagian bawah rumah disebut yup moh. Yup moh berarti
bagian bawah rumah. Bagian bawah ini berupa kolong yang ketinggiannya sekitar 2,5 meter.
Bangunan dibuat berpanggung/ bertiang tinggi untuk menghindari banjir
Bubong

Ateuh Rumoh

Yup Moh

9
Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang.
Modifikasi dari tiga ke lima ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan mudah, tinggal menambah atau
menghilangkan bagian ruweueng yang ada di sisi Barat atau Timur rumah. Selain itu, pengaruh keyakinan
dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah
ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.

Teknik sambungan konstruksi kayu menggunakan sistem pasak yang mampu menyelesaikan berbagai
permasalahan gaya yang terjadi pada sambungan. Bila kita pahami lebih mendalam, terdapat elemen-
elemen lain yang membantu kekuatan struktur, diantaranya balok-balok pengunci untuk menjaga posisi
tiang. Setiap pertemuan elemen yang berbeda, dihubungkan dengan cara memasukkan bagian ujung
elemen ke lubang yang tersedia pada elemen lain. Lalu diberi pasak. Begitulah cara utoh Aceh
menghubungkan setiap elemen sehingga menjadi rumah. Tidak memakai paku. Disini timbul kekuatan
struktur dalam merangkai elemen-elemen tersebut. Sebab bila rangkaian tersebut tidak dipikirkan secara
matang, maka konstruksi rumah tidak dapat berdiri dengan kokoh, dan tidak mungkin dapat bertahan
hingga saat ini.

Bagi elemen-lain yang tidak berpasak, maka hubungan atau jalinannya dibuat dengan mengikatkan
tali. Dalam setiap elemennya pun dibuat dengan kesadaran tinggi akan maksud dari dibuatnya konstruksi
tersebut. Maksudnya terdapat nilai-nilai fungsional yang lebih jauh dipikirkan untuk kebutuhan dan
keselamatan penghuni rumah. Tidak hanya sekadar menyambung-nyambungkan elemen-elemen belaka.
Misal, elemen tameh raja dan putroe dipilih yang paling baik, karena sebagai penyambut di serambi
depan, selain juga berfungsi sebagai struktur utama sebagaimana mestinya

DAPU R

S E U R A M O L IK O T

RUMOH Tungai
ANJONG RAMBAT
INONG R U M O H IN O N G
. 42

SEURAMOKEUE
.4
20

Tameh Raja

U
2 .5 0 2 .9 3 2 .5 0 2 .9 3

Tameh Putroe
10
1 0 .8 6

Gambar 3. Posisi tiang raja dan tiang putri


pada rumah bertiang 16

.4
20
. 69

11
Di sini tampak kesadaran masyarakat Aceh akan terbentuknya suatu ruang, berikut
material-material yang akan ia lihat. Kemudian konstruksi atap diikatkan seluruhnya pada taloe
pawai, untuk kemudahan penyelamatan saat kebakaran. Taloe Pawai berada di ujung papan bui
teungeut, dan dikaitkan pada puteng tiang deretan depan dan belakang. Taloe pawai cukup di
potong sehingga terputus, maka jatuhlah seluruh konstruksi atap tersebut. Demikian hebat
teknologi ini apakah masih dapat kita lihat saat ini? Lain lagi pada lantai (aleue) yang jalinan
aslinya berupa ikatan-ikatan tali, ternyata bermaksud untuk memudahkan apabila akan dilepas
untuk keperluan memandikan jenazah.
Rumoh Aceh asli yang saat ini masih bertahan, merupakan rumah yang seluruh elemen
pendukungnya terbuat dari bahan kayu. Strukturnya merupakan sistem struktur rangka yang
tersusun dari konstruksi kayu yang melingkupi tiang-tiang. Rumah ini terbuat dengan
menggunakan sistem post and beam. Sistem ini merupakan salah satu sistem struktur yang
tergolong sederhana. Lantai, dan dindingnya terbuat dari papan. Atapnya ditutupi oleh jalinan
daun rumbia yang disusun menjadi penutup atap. Keseluruhan konstruksi berdiri di atas landasan
batu. Tabel berikut ini menampilkan nama-nama elemen yang menjadi pendukung terbentuknya
Rumoh Aceh. Nama-nama elemen ini memiliki arti tersendiri. Beberapa di antaranya ada yang
memiliki makna mendalam sebagai sebuah elemen struktur pada Rumoh Aceh.

Tabel 2. Nama-nama Elemen pembentuk Rumoh Aceh

No. Nama Elemen Arti


1. Tameh Tiang
2. Tameh Raja Tiang Raja
3. Tameh Putroe Tiang Putri
4. Gaki Tameh Bagian bawah tiang
5. Rok Mengunci, pasang, Balok pengunci
6. Toi Balok pengunci yang arahnya tegak lurus dengan rok.
7. Peulangan Tempat bertumpu dinding dalam (Interior)
8. Kindang Tempat tumpuan dinding luar (eksterior), papan tebal
yang diukir kemudian dilekatkan pada pinggang rumah
(pada ujung toi).
9. Aleue Lantai
10. Rante Aleue Pengikat lantai yang biasanya terbuat dari rotan atau tali.
11. Lhue Balok rangka untuk lantai
12. Neudhuek Lhue Tempat bertumpunya lhue.
13. Binteh Dinding
14. Binteh Cato Dinding catur, merupakan salah satu bentuk jalinan
dinding.
15. Boh Pisang Papan kecil di atas kindang
16. Tingkap Jendela
17. Kap/ Rungka Rangka Atap (yang berbentuk segitiga)
18. Gaseue Kaso

19. Indreng Papan miring penahan kaki kuda-kuda


20. Geunalong Gording, bertempat di dudukan geunalong pada kaki
kuda-kuda (Gaseue gantong)
21. Bara Ateuh Batang atas
22. Bara Panyang Batang panjang
23. Tuleng Rhueng Balok Wuwung, tempat bersandar kaso pada bagian
ujung atas
24. Diri Makelar
25. Gaseue Gantong Kaki Kuda-Kuda
26. Bara Linteung Batang melintang
27. Puteng Tameh Bagian ujung tiang yang dipahat, sebagai penyambung
pada balok-balok.
28. Beulebah Tempat Mengikat atap Rumbia
29. Neudhuek Gaseue Tempat bersandar kaso (Gaseue) pada bagian bawah
30. Taloe Pawai Tali pengikat keseluruhan bagian atap, yang diikat pada
ujung bui teungeut, dan dikaitkan pada puteng tiang
deretan depan dan belakang.
31. On- meuria Daun rumbia
32. Lesplang/ seupi Selembar papan yang agak kecil, yang dipasang pada
bagian ujung kiri dan kanan atap.
33. Bui Teungeut Potongan kayu sebagai penahan pada neudeuk gaseue
34. Tulak Angen Tolak angin, sebuah elemen pada Rumoh aceh yang
terdapat pada setiap sisi dinding rumah aceh yang
berbentuk segitiga. Elemen ini terpasang sedikit miring
menghadap ke bawah.
Setiap elemen ini memiliki dimensi yang spesifik. Bukan dalam satuan meter, namun dalam
hitungan tradisional. Ukuran-ukuran yang sering digunakan antara lain jaroe, paleut dan hah. Juga
ditambahkan dengan ukuran jeungkai, lhuek, dan deupa. (Indonesian Houses, Peter Nas, 2004
hal.141). Namun pada masa sekarang ukuran-ukuran tersebut lebih sering dikonversikan ke dalam
ukuran meter.
Pintu utama Rumoh Aceh tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa.
Biasanya ketinggian pintu ini hanya berukuran 120 - 150 cm sehingga setiap orang yang masuk
ke Rumoh Aceh harus menunduk. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat
lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila
di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi tikar pandan.
Tidak hanya aspek struktur dan konstruksi saja yang sangat ditentukan oleh kondisi
lingkungan alam setempat. Unsur ruang, baik jenis, fungsi, dan perletakan juga sangat
memperhatikan faktor lingkungan. Bagian depan Rumoh Aceh selalu menghadap utara atau
selatan. Sehingga bagian dinding yang berbentuk segitiga menghadap ke arah barat dan timur.
Alasannya adalah untuk menghindari pukulan keras dari angin yang datang. Pada dinding yang
berbentuk segitiga itu pula terdapat komponen tulak angen yang berlubang-lubang. Konstruksi
rumah ini memungkinkan angin untuk melewatinya pada bagian kolong, maupun bagian bawah
bubung dengan melewati tulak angen terlebih dahulu. Terik matahari tidak menjadi masalah pada
orientasi rumah ini, karena jendela-jendela yang ada tidak besar, dan pencahayaan dapat masuk
dari celah-celah lubang pada ukiran.

2.6 Jenis Jenis Rumah Tradisional Aceh

Dari berbagai konsep filosofi tersebut akhirnya dapat membentuk beragambentuk rumah
tradisional Aceh. Dari jenisnya, rumah tradisional Aceh sebenarnya memiliki dua jenis rumah,
yaitu rumah Aceh dan rumah santeut (datar) atau tampong limong atau rumah panggung
Gambar:Rumah Tradisional Aceh di Sigli
Gambar. Rumah Tradisional Aceh di Banda Aceh
Gambar. Rumah Tradisional Aceh di Aceh Besar
Gambar Rumah Tradisional Aceh di Aceh Tengah

Pada umumnya rumah tradisional Aceh disetiap daerah memiliki bentuk yang sama,
karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat Aceh, penyebutan rumoh Aceh dalam masyarakat
Aceh hanya untuk rumah yang tinggi yaitu rumah panggung, hanya saja dari segi ukir-ukiran
atau ornamen rumah tradisional Aceh di tiap-tiap kabupaten di Provinsi Aceh (NAD) tidaklah
sama, masing-masing punya ragam ukiran yang berbeda (Widosari,2010).
2.7 Denah Rumah Tradisional Aceh
Denah rumah tradisional Aceh berbentuk persegi dan juga persegi panjang dan terdiri dari
tiga jalur lantai memanjang sejajar dengan bubungan atapnya. jalur lantai yang tengah sengaja
ditinggikan 25 sampai 40 cm. Denah Rumah Aceh terdiri dari tiga atau lima ruang, rumah
dengan tiga ruang memiliki 16 kolom/tiang, sedangkan rumah dengan lima ruang memiliki 24
tiang/kolom seperti gambar Jalur lantai terdepan dipakai sebagai serambi suami untuk menerima
tamu-tamu laki-laki, sedangkan jalur lantai belakang adalah untuk ibu dan keluarga dan bersifat
pribadi (skaral). Keduanya diantarai oleh dinding seketeng, yang maksudnya untuk memisahkan
serambi depan yang bersifat umum dengan serambi belakang yang bersifat pribadi.

Gambar Denah Rumah Tradisional Aceh dengan 24 tiang


Gambar Denah Rumah Tradisional Aceh dengan 16 tiang
2.8 Tampak Rumah Tradisional Aceh

Rumah tradisional Aceh merupakan rumah panggung, biasanya memiliki ketinggian


sekitar 2,5-3 meter dari atas tanah. Rumah tradisional Aceh didirikan di atas tiang-tiang kayu
atau bambu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari serangan binatang buas dan banjir.

Gambar 2.8. Tampak Depan Rumah Tradisional Aceh

Gambar Tampak Samping Rumah Tradisional Aceh


Gambar Tampak Belakang Rumah Tradisional Aceh

Tampak pada bangunan biasanya terdiri dari beberapa elemen yaitu

Atap Rumah Tradisional Aceh

Gambar Atap Rumah Tradisional Aceh

Atap pada rumah tradisional Aceh berbentuk atap pelana yang hanya menggunakan
satu bubungan dan menggunakan bahan penutup berbahan rumbia yang memiliki andil besar
dalam memperingan beban bangunan sehingga saat gempa tidak mudah roboh. Fungsi yang
lain pun rumbia juga menambah kesejukan ruangan. Keburukan sifat rumbiah yang mudah
terbakar pun juga sudah ada solusinya dalam rumah tradisional Aceh. Ketika rumbiah
terbakar, pemotongan tali ijuk di dekat balok memanjang pada bagian atas dinding
mempercepat runtuhnya seluruh kap rumbiah ke samping bawah sehingga tidak merembet ke
elemen bangunan lainnya

Proporsi Rumah Tradisional Aceh


Rumah tradisional Aceh merupakan rumah panggung yang memiliki proporsi
ketinggian beragam, biasanya memiliki ketinggian tiang kolom sekitar 2,5-3 meter dari atas
tanah sedengakan proporsi dinding memiliki tinggi yang lebih rendah yaitu berukurana 1,5 2
meter.
Gambar Proporsi Rumah Tradisional Aceh
Rumah tradisional Aceh memiliki tinggi pintu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa.
Biasanya ketinggian pintu ini hanya berukuran 120-150 cm sehingga setiap orang yang masuk ke
rumah tradisional Aceh harus menunduk. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang
sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang
duduk bersila di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi
tikar pandan

Dinding Rumah Tradisional Aceh

Gambar Dinding Rumah Tradisional Aceh


Dinding rumah tradisional Aceh terbuat dari papan kayu atau bilah bambu, penggunaan
material tersebut mempengaruhi penghawan udara yang sangat baik karena udara dapat pengalir
melalui selah selah antara atap dan dinding. Pada bagian dinding rumah tradisional Aceh terdapat
tempelan tempelan ornamen yang mempengaruhi unsur tradisional Aceh
Pintu & Jendela Rumah Tradisional Aceh

Gambar Pintu Rumah Tradisional Aceh

Pada dinding sebelah depan yang menghadap ke halaman rumah terdapat pintu masuk
yang disebut pinto rumah, yang berukuran lebih kurang lebar 0,8 meter, dan tingginya 1.8 meter.
Pintu masuk ini kadang-kadang terdapat pada dinding sebelah kanan ruangan serambi depan

Gambar Jendela Rumah Tradisional Aceh

Pada dinding sebelah samping kanan dan kiri terdapat jendela yang berukuran lebih
kurang lebar 0.6 meter dan tingginya 1 meter yang disebut tingkap. Kadang-kadang jendela
terdapat juga pada dinding sisi depan. Jendela-jendela tersebut terdapat pada rumah yang
berdinding papan, sedangkan pada rumah yang berdinding tepas/bamboo pada umumnya tidak
memakai jendela

2
0
Warna Rumah Tradisional Aceh

Gambar Warna Dinding Rumah Tradisional Aceh

Warna pada rumah tradisional Aceh umumnya memakai warna kuning, krem dan
merah, orange, hitam yang kadang kadang di kombinasikan dengan warna putih. Jika
terdapat warna warna lain itu merupakan akibat pengaruh masa kini

Tabel 2.1. Kesan Warna Pada Rumah Tradisional Aceh

Warna Kesan

Merah Emosi yang berubah-ubah, naik turun, hidup

menggairahkan dan menyenangkan,

menumbuhkan semangat.

Kuning Memiliki karakter kuat, hangat, dan memberi


21
nuansa cerah. Menciptakan suasana nyaman

dan menyenangkan.

Putih Bersifat netral, tanpa perasaan dan memliki

kesan suci.

Orange Menunjukkan kehangatan, kesehatan pikiran

dan kegembiraan.

Hitam Melambangkan perlindungan.

2.9 Ragam Hias ( Ornamen) Rumah TradisionalAceh

Pada bangunan tradisional Aceh banyak dijumpai ukiran- ukiran, karenamasyarakat Aceh
pada hakekatnya termasuk suku bangsa yang berjiwa seni. Ukiran-ukiran itu terutama dijumpai
pada bangunan- bangunan rumah tempat tinggal dan bangunan-bangunan rumah ibadat seperti
pada Meuseujid (mesjid) dan meunasah (surau). Ukiran-ukiran yang terdapat pada bangunan
tradisional seperti tersebut di atas mempunyai berbagai motif atau ragam hias. Motif-motif
tersebut adalah motif yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti : flora, fauna, awan,
bintang dan bulan. Fungsi utama dari berbagai jenis motif dan ragam hias itu adalah sebagai
hiasan semata- mata, sehingga dari ukirin tersebut tidak mengandung arti dak maksud-maksud
tertentu, kecuali motif bintang dan bulan, yang menunjukkan simbul ke-Islaman, motif awan
berarak (AWAN meucanek) yang menunjukkan lambang kesuburan, dan motif tali berpintal
(taloe meuputa) yang menunjukkan ikatan persaudaraan yang kuat bagi masyarakat Aceh

22
Pada rumah tradisional Aceh, ada beberapa motif hiasan ornamen yang dipakai, yaitu:

Motif keagamaan. Hiasan Rumah Aceh yang bercorak keagamaan merupakan ukiran-
ukiran yang diambil dari ayat-ayat al-Quran;

Gambar Motif ornamen keagamaan


Motif flora. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi tumbuh-tumbuhan baik
berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran berbentuk stilirisasi
tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang digunakan adalah
Merah dan Hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen (tangga), dinding,
tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah;

Gambar 2.18. Motif Ornamen Flora

Motif fauna. Motif binatang yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang
sering dilihat dan disukai, umumnya bermotifknan binatang unggas seperti merpati,
balam, perkutut.

Gambar 2.19. Motif ornamen Fauna


Motif Aceh memiliki arti bagi masyarakat Aceh, salah satunya seperti motif pucok
reubong yang berarti berproses.Pucok reubong adalah tunas bambu yang diibaratkan sebagai
awal mula kehidupan mengalami proses tumbuh besar. Oleh karena itu masyarakat Aceh yang
pada dasarnya adalah masyarakat yang berjiwa seni, senang menghias rumahnya dengan motif-
motif Aceh yang memiliki makna tersendiri dalam kehidupan. Namun, penempatan motif pada
rumoh Aceh ini tidak ada maksud dan makna tertentu. Murni hanya untuk mempercantik rumah
saja. Begitulah yang dipahami oleh salah seorang pemilik rumoh Aceh di desa Lubok sukon ini.

Konsep-Konsep Islami Dalam Arsitektur Rumoh Aceh

Konsep-konsep Islam didalam Arsitektur Rumoh Aceh, sangat kuat menyimbolkan kadar
keislaman rakyat Aceh, dapat kita lihat antara lain sebagai berikut 8:

Arah kiblat

Setelah Islam masuk ke Aceh, arah Rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan.
Dalam agama Islam, ibadah shalat selalu menghadap ke kiblat. Maka itu, rumah juga dibuat
memanjang ke arah kiblat, yakni ke arah barat, mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk
membangun garis imajiner dengan Kabah yang berada di Mekkah. Itu sebabnya pada seuramo
rinyeuen tangga dan pintu masuk ke Rumoh tidak di letakkan di Barat, tetapi selalu berada di
sebelah Timur atau di tengah seuramo, maksudnya agar tidak mengganggu orang yang sedang
Shalat menghadap ke kiblat.Kuatnya pengaruh orientasi dan ritual agama menyebabkan dalam
proses pembangunan rumah tradisional Aceh juga membutuhkan kehadiran seorang Teungku
atau tokoh agama. Rinyeuen (tangga) Rumoh Aceh adalah juga berfungsi sebagai pengontrol,
bila tidak ada laki-laki di dalam rumah maka menurut adat Aceh tamu yang bukan muhrim tidak
dibenarkan naik ke rumah.

Ide Masyrabiyya pada seuramoe Rumoh Aceh

Bukaan pada dinding seuramo rumoh Aceh tidak terlalu besar dan untuk pencahayaan
digunakan screen (lubang-lubang kecil) untuk meredam terik matahari. Lubang lubang kecil
pada dinding ini mengingatkan kita pada Masyrabiyya di Saudi Arabia.
Tidak seperti halnya serambi rumah Betawi yang terbuka lebar, yang sering kita lihat
pada sinetron Si Doel anak Betawi, serambi rumoh Aceh itu tertutup, hanya sedikit saja bagian
yang terbuka. Orang dari luar sukar melihat ke dalam tetapi orang dari dalam dapat melihat
keluar. Demikian cara Aceh membudayakan seni interior, seolah memberi pesan agar aurat itu
jangan diobral keluar ke semua orang yang lalu lalang di depan rumah. Di dalam Rumoh Aceh,
ada dua buah serambi yang sengaja dibuat terpisah sesuai dengan ajaran Islam, yaitu seuramo
keue, untuk kaum pria dan seuramo likt khusus untuk kaum wanita.

Guci rumoh Aceh

Nabi mengajarkan thaharah, bersuci dengan mandi, berwudhu dan istinja, agar badan
kita menjadi bersih. Raga yang bersih sebagai cerminan dari hati yang suci. Orang Aceh
menaruh guci pembasuh kaki dibawah tangga rumoh Aceh. Sebaiknya kita bersuci dulu, sebelum
naik ke rumah. Karena Rumoh Aceh itu bersih, tidak ada kotoran, tidak ada kayu dan jendela di
rumah ini yang diperoleh dari hasil korupsi. Bersuci itu lahir dan batin. Ideofactnya suci,
sosiofactnya berwudhu, artefaknya guci. Itu sebabnya penulis mengusulkan kepada bapak Rektor
UTU (Universitas Teuku Umar) di Meulaboh untuk menempatkan guci di gerbang masuk
kampus yang akan dibangun, agar semua yang ada didalam kampus itu suci dan bersih jiwa
raganya.
Guci Aceh adalah salah satu karya seni gerabah yang hendaknya dapat dihidupkan
kembali eksistensinya. Tanah Aceh menurut pak Dr Ahmad Akmal sangat potensial untuk seni
kriya membuat keramik ini. Bahan bakunya tersedia dalam jumlah yang banyak dan
kualitasnyapun sangat baik. Dengan adanya prodi Seni kriya ISBI semoga kreasi-kreasi baru
Guci Aceh dan benda-benda seni terapan lainnya akan kembali muncul menghiasi bumi Aceh.

Konstruksi Rumah
Rumah tradisional Aceh mampu bertahan hingga ratusan tahun tentunya didukung oleh
konstruksi yang kokoh dan mutu bahan bangunan yang berkualitas. Dari segi konstruksi,
penempatan tiang rumah menyebabkan pembagian ruang rumah tradisional Aceh pada
umumnya terdiri tiga ruang bertiang 16 atau lima ruang bertiang 24. Rumah tradisional Aceh
didirikan di atas tiang-tiang kayu atau bambu dengan maksud untuk menghindarkan diri dari
serangan binatang buas dan banjir. Karena berkolong maka orang hidup di atas lantai yang
selalu kering, jadi lebih sehat.Rumah tradisional Aceh terbukti mampu bertahan dari gempa
karena struktur utama yang kokoh dan elastis. Kunci kekokohan dan keelastisan ini ada pada
hubungan antar struktur utama yang saling mengunci, hanya dengan pasak dan bajoe, tanpa
paku, serta membentuk kotak tiga dimensional yang utuh (rigid). Keelastisan ini menyebabkan
struktur bangunan tidak mudah patah, namun hanya terombang-ambing ke kanan kiri yang
kemudian kembali tegak atau pun bangunan terlikuifaksi (terangkat ke atas) yang kemudian
mampu jatuh kembali ke tempat semula. Jika bangunan bergeser pun hanya beberapa
centimeter saja dan dalam keadaan utuh.

Gambar. Kerangka Konstruksi Rumah Tradisional Aceh

Tiga komponen struktur utama yang menjadi pusat kekokohan bangunan meliputi
pondasi (komponen kaki) sebagai pusat beban bangunan terbesar, kemudian tiang dan balok
antar tiang (komponen badan) sebagai penyalur beban dari atas dan dari samping, serta rangka
atap (komponen kepala) sebagai penyangga beban elemen paling atas bangunan dan dari

Rangka Atap

Tiang dan Balok antar tiang

Tiang dan Pondasi

samping atas

Gambar Komponen Struktur Utama Rumah Tradisional Aceh


Sistim konstruksinya menggunakan tiang-tiang dan gelagar yang saling ditusukkan dan
dikancing dengan pasak dari bambu. Untuk unsur-unsur bangunan yang kecil dipakai sistim
ikat, dengan tali rotan, ijuk dan lain sebagainya

Gambar.:Sistim Ikat pada Konstruksi Rumah Tradisional Aceh

Gambar Pola Penyambungan dan Hubungan Tiang pada Rumah Tradisional Aceh
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Rumah tradisional Aceh adalah rumah adat yang dibangun atas dasar kepercayaan dan
religious ataupun mitologi setempat.Bangunan dan strukturnya didasarkan atas orientasi pada
lelulur. Pada proses pembangunan rumah tradisional Aceh, teknis dan jenis pembangungan
adalah dengan berdasarkan letak daerah dan dapat membedakan bentukan , semakin besar suatu
rumah adat menafsirkan tingkat dan status.
DAFTAR PUSTAKA

Maspero,Henri.TranslatedbyFrankA.Kierman,Jr.1981.TaoismandChinese
Religion.UniversityofMassachusetts

https://depts.washington.edu/chinaciv/3intrhme.htm

http://sekarnegari.files.wordpress.com

www.kaskus.co.id

http://camyanpharchitecture.blogspot.com/2011/04/aceh-courtyard-house-siheyuan.html)

http://sekarnegari.files.wordpress.com)

http://camyanpharchitecture.blogspot.com/2011/04/tipologi aceh.html)

http://camyanpharchitecture.blogspot.com/2011/04/aceh/dalam/cerita .html)

3
0
LAMPIRAN iv
31
v
32