Anda di halaman 1dari 4

MODUL

6

PENGARUH AGEN FISIKA DAN KIMIA BAGI PERTUMBUHAN MIKROBA

PENDAHULUAN

Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sehingga pengendalian pertumbuhan mikroba adalah hal penting yang harus dilakukan karena perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Metode yang umum digunakan dalam pengendalian tersebut dapat berhubungan dengan agen kimiawi dan fisika yang mempengaruhi struktur dan fungsi pada sel mikroba sehingga menghasilkan efek mikrobisidal atau mikrobiostatik. Efek mikrobisidal membunuh mikroba secara langsung, sedangkan efek mikrobiostatik menghambat reproduksi sel sehingga jumlah populasi mikroba akan tetap.

Metode pengendalian pertumbuhan mikroba menggunakan agen fisika dapat dilakukan dengan temperatur, tekanan osmotik, radiasi, desikasi, getaran sonik, atau filtrasi. Efek yang ditimbulkan adalah kerusakan dinding sel dan membran sel, perubahan komposisi senyawa pada sitoplasma, inaktivasi enzimatis seluler, dan gangguan pada struktur serta fungsi molekul DNA.

Selain pengendalian pertumbuhan mikroba menggunakan agen fisika, pertumbuhan mikrobia juga sangat dipengaruhi oleh agen kimia. Metode pengendalian mikroba menggunakan agen kimia dapat dilakukan dengan antiseptik (senyawa kimia yang digunakan pada jaringan sel yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan sel vegetatif), desinfektan (sama seperti antiseptik, tetapi digunakan pada abiotik), agen kemoterapetik, dan sebagainya.

TUJUAN

1. Menentukan pengaruh panas lembab terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis, Aspergillus niger, dan Saccharomyces cerevisiae.

2. Menentukan pengaruh tekanan osmotik medium terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli.

3. Menentukan pengaruh radiasi ultraviolet terhadap pertumbuhan Sarcina lutea, Bacillus subtilis, dan Aspergillus niger.

4. Menentukan pengaruh agen kemoterapeutik (penicillin dan kanamycin) terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Sarcina lutea, dan Escherichia coli.

5. Menentukan pengaruh desinfektan dan antiseptik (betadine dan listerine) terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Sarcina lutea, dan Escherichia coli.

6. Menentukan koefisien fenol dari kerja wipol dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli.

19

19

ALAT DAN BAHAN

1. Alat: Cawan petri, bunsen, batang L, rak tabung, kertas cakram, penangas, dan sinar UV.

2. Bahan: Akuades, NaCl, NA, PDA, penicillin, kanamycin, betadine, dan listerine.

6.1 Pengaruh Agen Fisika terhadap Pertumbuhan Mikroba

Agen fisika terdiri dari suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar gelombang dan pengeringan. Salah satu agen fisika yang berpengaruh adalah suhu atau temperatur. Mikrobia memiliki batas toleransi masing-masing terhadap suhu. Efek dari suhu yang ekstrim pada mikrobia adalah enzim menjadi inaktif dan kemungkinan hal yang sama terjadi pada beberapa struktur sel lainnya. Akan tetapi, pada kondisi suhu optimumnya mikrobia akan memiliki produktivitas yang optimal.

Jenis mikrobia yang dibedakan berdasarkan kisaran suhunya yaitu: (1) Mikroba psikrofilik dengan suhu minimum 5-0 o C, optimum 5-15 o C, dan maksimum15-20 o C; (2) mikrobia mesofilik dengan suhu minimum10-20 o C, optimum 20-40 o C, maksimum 40-45 o C; dan (3) mikrobia termofilik dengan suhu minimum 25-45 o C, optimim 45-60 o C, maksimum 60-50 o C.

PROSEDUR KERJA

Pengaruh Panas Lembab terhadap Pertumbuhan Mikroba Kultur: Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Saccharomyces cerevisiae

1. Kultur dimasukkan ke dalam penangas bersuhu 60 o C, 80 o C, 100 o C, dan 25 o C (kontrol) selama 10 menit dan ditunggu hingga suhunya 45-50 o C.

2. Diinokulasikan pada NA miring (untuk bakteri) dan PDA miring (untuk ragi dan jamur).

3. Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 24-48 jam (bakteri) dan 25 o C selama 4-5 hari (ragi dan jamur).

4. Catat hasil pengamatan

Pengaruh Tekanan Osmotik Lingkungan Kultur: Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

1. Kultur diinokulasikan dengan metode gores pada medium NA miring + NaCl (dengan variasi konsentrasi NaCl sebesar 0.85%, 5%, 10%, dan 15%).

2. Diinkubasi pada suhu 25 o C selama 24-48 jam.

3. Catat hasil pengamatan

Pengaruh Radiasi UV terhadap Pertumbuhan Mikroba

Kultur: Escherichia coli, Staphylococcus aureus

dan Saccharomyces cerevisiae

1. Kultur diinokulasikan dengan metode gores pada cawan petri berisi medium NA (bakteri) dan PDA (jamur).

2. Tutup cawan Petri dibuka dan dilakukan iradiasi sebagai berikut: 0 menit (kontrol), 3 menit, 5 menit, dan 10 menit.

3. Diinkubasi pada suhu 25 o C selama 24-48 jam dan 4-5 hari.

4. Catat hasil pengamatan

20

20

6.2 Pengaruh Agen Kemoterapeutik terhadap Pertumbuhan Mikroba

Secara umum, kemoterpeutik dikenal sebagai antibiotik yaitu suatu substansi kimia yang diperoleh dari berbagai spesies mikroorganisme, dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme lainnya. Antibiotik pada umumnya diperoleh dari genus Bacillus, Penicillium, dan Streptomyces. Antibiotik dapat merusak dinding sel mikroba atau mencegah sintesisnya, sehingga dinding selnya peka terhadap tekanan osmotik. Bakteri memiliki dinding sel terdiri dari lapisan molekul protein yang disatukan oleh ikatan peptida. Jenis bakteri gram positif atau negatif gram berpengaruh terhadap kepekaan terhadap berbagai golongan antibiotik.

PROSEDUR KERJA

Uji Sensitivitas Antimikroba dengan Metode Kirby-Bauer Kultur: Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

1. Kultur diinokulasikan 0,1 mL ke dalam cawan petri berisi medium NA dengan metode spread.

2. Kertas cakram ditetesi antibiotik dengan pipet atau langsung dicelupkan ke dalam antibiotik (penicillin dan kanamycin) selama beberapa waktu. Kertas cakram lainnya juga dicelupkan ke dalam akuades steril sebagai kontrol.

3. Kertas cakram diletakkan di atas NA yang telah membeku.

4. Kultur bakteri diinkubasi pada suhu 37 o C selama 24-48 jam.

5. Catat hasil pengamatan

6.3 Pengaruh Agen Kimia: Desinfektan dan Antiseptik terhadap Pertumbuhan Mikroba

Beberapa agen kimia dapat menghambat pertumbuhan mikroba, agen kimia tersebut dikenal juga sebagai antiseptik dan desinfektan. Antiseptik dan desinfektan memiliki fungsi yang sama tetapi berbeda dalam cara penggunanaannya. Desinfektan merupakan proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit yang biasanya merupakan zat kimiawi dan digunakan untuk objek-objek tak hidup. Desinfektan tidak menjamin objek menjadi steril karena spora viabel dan beberapa mikroorganisme tetap dapat tersisa.Sedangkan, antiseptis merupakan proses pencegahan infeksi dengan cara inaktivasi atau mematikan mikroorganisme dengan cara kimia. Antiseptik merusak jaringan inang dan tidak setoksik desinfektan.

Agen kimia yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis, formaldehida, alkohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulforamida dan antibiotik.

PROSEDUR KERJA

Koefisien Fenol Kultur: Escherichia coli

1. Suspensi kultur dimasukkan dengan cepat menggunakan Oose ke dalam tabung reaksi berisi akuades dengan pengenceran fenol (variasi pengenceran 1:70, 1:80, 1:90, dan 1:100) dan lisol (variasi pengenceran 1:400, 1:450, dan 1:500).

2. Dikocok untuk memudahkan terjadinya kontak antara desinfektan dengan mikroba.

3. 1 loop kultur dipindahkan ke dalam cawan Petri berisi medium NA baru pada interval 5, 10, dan 15 menit. Sebelumnya cawan Petri dibagi menjadi 3 bagian.

4. Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 24 jam.

21

21

5. Catat hasil pengamatan

Metode Sensitivitas Lempeng Agar Kultur: Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

1. Kultur diinokulasikan 0,1 mL ke dalam cawan petri berisi medium NA dengan metode spread.

2. Diletakkan kertas cakram yang telah dicelupkan ke dalam antiseptik (betadine, detol dan listerine) dan akuades di atas agar.

3. Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 24-48 jam.

4. Catat hasil pengamatan

22

22