Anda di halaman 1dari 27

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI

Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad


Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :
1. Test
2. Calix
3. Oral
disk
4. Oral

Ventral Samping Foto

opening
5. Holdfast

No. Peraga : 726

Filum : Bryozoa

Kelas : Gymnolaemata

Ordo : Hoemosporidia

Family : Odontobelusidae

Genus : Odontobelus

Spesies : Odontobelus tripartitus gracilis (A.)

Proses Pemfosilan : Permineralisasi

Bentuk : Branching

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Jura Bawah (215-195 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :
Fosil dengan nomor peraga 726 ini berasal dari Filum Bryozoa, Kelas

Gymnolaemata, Ordo Hoemosporidia, Family Odontobelusidae, Genus

Odontobelus, dan dengan nama Spesies Odontobelus tripartitus gracilis (A.)

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan

berada pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk.

Kemudian mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun

angin. Selama proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching

(pencucian fosil) dan pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang

relatif stabil. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh

material-material sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan.

Lama kelamaan, material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong

sehingga material semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi

sesuai dengan lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO 3. Pada saat

fosil ini tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni

permineralisasi dimana sebagian bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain

yang lebih resisten/tahan terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami

litifikasi sehingga membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen

yaitu tektonik, lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan

sedimen yang cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi

sehingga akan nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil

tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, calix yaitu garis-garis yang terdat pada dinding tubuh fosil, oral disk yaitu

cakram pada daerah mulut fosil, oral opening yaitu bagian yang berfungsi sebagai

mulut dan holdfast yaitu tempat tertambatnya fosil. Fosil ini memiliki bentuk

branching yaitu menyerupai ranting tumbuhan. Fosil ini memiliki komposisi kimia

CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl
0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui

lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan waktu geologi, fosil

ini berumur Jura bawah, yaitu sekitar 215-195 juta tahun.

Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :
1. Test
2. Zooid
3. Zoorium

Ventral Foto

No. Peraga : 263

Filum : Bryozoa

Kelas : Phylactolaemata

Ordo : Ctenostomata

Family : Heliolithesidae

Genus : Heliolithes

Spesies : Heliolithes cf. megastoma McCOY

Proses Pemfosilan : Permineralisasi

Bentuk : Branching

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Silur Tengah (435-395 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 263, termasuk dalam Filum Bryozoa, Kelas

Phylactolaemata, Ordo Ctenostomata, Family Heliolithesidae, Genus Heliolithes,

dan Spesies Heliolithes cf. megastoma McCOY.


Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan

berada pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk.

Kemudian mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun

angin. Selama proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching

(pencucian fosil) dan pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang

relatif stabil. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh

material-material sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan.

Lama kelamaan, material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong

sehingga material semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi

sesuai dengan lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO 3. Pada saat

fosil ini tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni

permineralisasi dimana sebagian bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain

yang lebih resisten/tahan terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami

litifikasi sehingga membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen

yaitu tektonik, lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan

sedimen yang cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi

sehingga akan nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil

tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, zooid yaitu lubang yang berukuran kecil pada fosil serta zoorium yaitu lubang

berukuran sedang pada fosil. Fosil ini memiliki bentuk branching yaitu menyerupai

ranting tumbuhan. Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO 3, dimana komposisi

kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi

reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya

adalah laut dangkal. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur Silur tengah,

yaitu sekitar 435-395 juta tahun.


Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :
1. Test
2. Calix
3. Oral disk
4. Oral opening

Ventral Foto

No. Peraga : 792

Filum : Bryozoa

Kelas : Gymnolaemata

Ordo : Cylostomata

Family : Coralidae

Genus : Coral

Spesies : Coral limestone

Proses Pemfosilan : Permineralisasi

Bentuk : Branching

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Kapur Atas (100-65 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 792 ini berasal dari Filum Bryozoa, Kelas

Gymnolaemata, Ordo Cylostomata, Family Coralidae, Genus Coral, dan dengan

nama Spesies Coral limestone.


Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan

berada pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk.

Kemudian mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun

angin. Selama proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching

(pencucian fosil) dan pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang

relatif stabil. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh

material-material sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan.

Lama kelamaan, material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong

sehingga material semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi

sesuai dengan lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO 3. Pada saat

fosil ini tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni

permineralisasi dimana sebagian bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain

yang lebih resisten/tahan terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami

litifikasi sehingga membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen

yaitu tektonik, lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan

sedimen yang cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi

sehingga akan nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil

tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, calix yaitu garis-garis pada dinding tubuh fosil, oral disk yaitu cakram pada

daerah mulut fosil, dan oral opening yaitu bagian yang berfungsi sebagai mulut.

Fosil ini memiliki bentuk branching yaitu menyerupai ranting tumbuhan. Fosil ini

memiliki komposisi kimia CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat

diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia

fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal.

Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur Kapur atas, yaitu sekitar 100-65 juta

tahun.
Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :
1. Test
2. Endoderm
3. Eksoderm

Ventral Foto

No. Peraga : 948

Filum : Protozoa

Kelas : Sarcodina

Ordo : Foraminifera

Family : Nummulitesidae

Genus : Nummulites

Spesies : Nummulites millecaput BOUBEE

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Plate

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Eosen Tengah (50-44 Juta tahun)


Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 948 ini berasal dari Filum Protozoa, Kelas

Sarcodina, Ordo Foramenifera, Family Numulitesidae, Genus Nummulites, dan

dengan nama Spesies Nummulites millecaput BOUBEE

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan

berada pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk.

Kemudian mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun

angin. Selama proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching

(pencucian fosil) dan pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang

relatif stabil. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh

material-material sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan.

Lama kelamaan, material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong

sehingga material semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi

sesuai dengan lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO 3. Pada saat

fosil ini tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi

dimana seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih

resisten/tahan terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga

membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik,

lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang

cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan

nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, endoderm yaitu bagian dalam fosil, dan eksoderm yaitu bagian luar fosil.

Fosil ini memiliki bentuk plate yaitu bentuk yang pipih. Fosil ini memiliki

komposisi kimia CaCO3, dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui

setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini
dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Berdasarkan

waktu geologi, fosil ini berumur Kapur atas, yaitu sekitar 50-44 juta tahun.

Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :
1. Test
2. Eksoderm
3. Endoderm

Ventral Foto

No. Peraga : 614

Filum : Bryozoa

Kelas : Gymnolaemata

Ordo : Kriptostoma

Family : Fanestellanidae

Genus : Fanestella

Spesies : Fanestella explanata A.ROEM.

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Plate

Komposisi Kimia : SiO2

Umur : Devon Tengah (370-360 Juta tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dalam

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 614 ini berasal dari Filum Bryozoa, Kelas

Gymnolaemata, Ordo Kriptostoma, Family Fanestellanidae, Genus Fanestella, dan

dengan nama Spesies Fanestella explanata A.ROEM.


Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan

berada pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk.

Kemudian mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun

angin. Selama proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching

(pencucian fosil) dan pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang

relatif stabil. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh

material-material sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan.

Lama kelamaan, material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong

sehingga material semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi

sesuai dengan lingkungan pengendapannya yaitu dari material SiO 2. Pada saat fosil

ini tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi

dimana seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih

resisten/tahan terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga

membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik,

lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang

cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan

nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, endoderm yaitu bagian dalam fosil, dan eksoderm yaitu bagian luar fosil.

Fosil ini memiliki bentuk plate yaitu bentuk yang pipih. Fosil ini memiliki

komposisi kimia SiO2, dimana komposisi kimia dari fosil ini dapat diketahui setelah

ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi kimia fosil ini dapat

diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dalam. Berdasarkan waktu

geologi, fosil ini berumur Devon tengah, yaitu sekitar 370-360 juta tahun.

Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk
mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :
1. Test
2. Holdfast
3. Zoorium

Ventral Foto

No. Peraga : 887

Filum : Bryozoa

Kelas : Gymnolaemata

Ordo : Cheilostomata

Family : Caninianidae

Genus : Caninia

Spesies : Caninia cornucopiae NICH.

Proses Pemfosilan : Permineralisasi

Bentuk : Branching

Komposisi Kimia : CaCO3

Umur : Karbon Bawah (345-318 Juta tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dangkal

Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 887 ini berasal dari Filum Bryozoa, Kelas

Gymnoleamata, Ordo Cheilostomata, Family Caninianidae, Genus Caninia, dan

dengan nama Spesies Caninia cornucopiae NICH.


Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan berada

pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk. Kemudian

mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun angin. Selama

proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching (pencucian fosil) dan

pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang relatif stabil. Seiring

dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh material-material

sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan. Lama kelamaan,

material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong sehingga material

semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi sesuai dengan

lingkungan pengendapannya yaitu dari material CaCO 3. Pada saat fosil ini

tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni permineralisasi

dimana sebagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih resisten/tahan

terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga membentuk

lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik, lapisan

sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang cenderung

mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan nampak fosil.

Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, holdfast yaitu tempat tertambatnya fosil, dan zoorium yaitu lubang berukuran

sedang pada fosil. Fosil ini memiliki bentuk branching yaitu menyerupai ranting

tumbuhan. Fosil ini memiliki komposisi kimia CaCO 3, dimana komposisi kimia

dari fosil ini dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi.

Dari komposisi kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah

laut dangkal. Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur Karbon bawah, yaitu

sekitar 345-318 juta tahun.

Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk
mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Hari/Tgl : Selasa, 7 Maret 2017 Nama : Andi Muhammad
Yusril
Acara : Protozoa dan Bryozoa NIM : D61116009

Keterangan :

Ventral Samping Foto

1. Test
2. Holdfast
3. Callix
4. Oral disk
5. Oral opening

No. Peraga : 1744

Filum : Bryozoa

Kelas : Stenoleamata

Ordo : Cyclosmata

Family : Acanthocerasidae

Genus : Acanthoceras

Spesies : Acanthoceras rhotomageuse (DEFR.)

Proses Pemfosilan : Mineralisasi

Bentuk : Tabular

Komposisi Kimia : SiO2

Umur : Kapur Atas (100-65 Juta Tahun)

Lingkungan Pengendapan : Laut Dalam


Keterangan :

Fosil dengan nomor peraga 1744 ini berasal dari Filum Bryozoa, Kelas

Stenoleamata, Ordo Cyclosmata, Family Acanthocerasidae, Genus Acanthoceras,

dan dengan nama Spesies Acanthoceras rhotomageuse (DEFR.)

Proses pemfosilan dari fosil ini bermula ketika organisme ini mati dan

berada pada tempat yang terlindungi dari pemangsa dan bakteri pembusuk.

Kemudian mengalami transportasi yang dapat disebabkan oleh air, es maupun

angin. Selama proses transportasi tersebut, fosil mengalami proses leaching

(pencucian fosil) dan pada akhirnya akan terendapkan pada daerah cekungan yang

relatif stabil. Seiring dengan berjalannya waktu organisme tersebut tertimbun oleh

material-material sedimen yang berbutir halus yang terakumulasi dalam cekungan.

Lama kelamaan, material-material yang sangat kecil akan mengisi ruang kosong

sehingga material semakin padat atau terkompaksi. Lalu fosil akan tersementasi

sesuai dengan lingkungan pengendapannya yaitu dari material SiO 2. Pada saat fosil

ini tersementasi, fosil ini juga mengalami proses pemfosilan yakni mineralisasi

dimana seluruh bagian tubuh fosil digantikan oleh mineral lain yang lebih

resisten/tahan terhadap proses pelapukan. Kemudian mengalami litifikasi sehingga

membentuk lapisan-lapisan sedimen. Akibat dari tenaga endogen yaitu tektonik,

lapisan sedimen akan terangkat ke permukaan tanah. Lapisan sedimen yang

cenderung mudah larut ini akan mengalami pelapukan dan erosi sehingga akan

nampak fosil. Maka dari itulah para ahli paleontologi mendapati fosil tersebut.

Adapun bagian fosil yang masih dapat dikenali terdiri dari test yaitu tubuh

fosil, holdfast yaitu tempat tertambatnya fosil, calix yaitu garis-garis pada dinding

tubuh fosil, oral disk yautu cakram pada daerah mulut fosil, dan oral opening yaitu

sebagai mulut fosil. Fosil ini memiliki bentuk tabular yaitu bentuk seperti tabung.

Fosil ini memiliki komposisi kimia SiO 2, dimana komposisi kimia dari fosil ini

dapat diketahui setelah ditetesi HCl 0,1 M kemudian terjadi reaksi. Dari komposisi
kimia fosil ini dapat diketahui lingkungan pengendapannya adalah laut dalam.

Berdasarkan waktu geologi, fosil ini berumur Kapur atas, yaitu sekitar 100-65 juta

tahun.

Manfaat fosil digunakan untuk penentuan umur relatif batuan, untuk korelasi

antar batuan, untuk mengetahui iklim dan cuaca pada saat fosil ini hidup, dan untuk

mengetahui lingkungan pengendapan batuan sedimen yang didalamnya terdapat

fosil.

/
ASISTEN PRAKTIKAN

( APRILIA F. PARMA ) ( ANDI MUHAMMAD

YUSRIL )