Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN INSTRUMEN TEKNIK

PADA TINDAKAN DEBRIDEMENT


RSUD PELEM
PARE

Oleh
BRIAN BRAMMAD PRIAMBODO
NIM 1301460014

PROGRAM D IV KEPERAWATAN PERIOPERATIF

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN

MALANG

2017

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI

Pengertian debridemen adalah menghilangkan jaringan mati juga membersihkan


luka dari kotoran yang berasal dari luar yang termasuk benda asing bagi
tubuh.Caranya yaitu dengan mengompres luka menggunakan cairan atau beberapa
material perwatan luka yang fungsinya utuk menyerap dan mengangkat bagian-
bagian luka yang nekrotik. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Brunner &
Suddarth, 2002.Suzzane C. Smeltzer Brenda G.Bare )
Debridement merupakan suatu tindakan eksisi yang bertujuan untuk membuang
jaringan nekrosis maupun debris yang mengahalangi proses penyembuhan luka dan
potensial terjadi atau berkembangnya infeksi sehingga merupakan tindakan pemutus
rantai respon inflamasi sistemik dan maupun sepsis. Tindakan ini dilakukan seawal
mungkin, dan dapat dilakukan tindakan ulangan sesuai kebutuhan.
Tujuan dilakukannya debridement yaitu untuk mengeluarkan kontaminan
dengan rasa nyeri yang minimal pada pasien serta trauma jaringan yang minimal
pula.untuk luka yang kotor,mencelupkan bagian yang cidera ke dalam air yang sama
dengan suhu tubuh , dapat meredakan nyeri dan dapat membantu menghilangka
debris. ( Manajemen luka Moya J.Morison, 2004.EGC)
Debridemen adalah proses pengangkatan jaringan avital atau jaringan mati dari
suatu luka. Jaringan avital dapat berwarna lebih pucat, coklat muda atau hitam dan
dapat kering atau basah. Terdapat 4 metode debridement, yaitu autolitik, mekanikal,
enzimatik dan surgikal. Metode debridement yang dipilih tergantung pada jumlah
jaringan nekrotik, luasnya luka, riwayat medis pasien, lokasi luka dan penyakit
sistemik. Dimana pada kasus ini dilakukan debridemen surgical.

B. JENIS JENIS DEBRIDEMENT


1. Debridemen alami: Pada peristiwa debridemen alami, jaringan mati akan
memisahkan diri secara spontan dari jaringan viable yang ada di bawahnya.
Namun, pemakaian preparat topical anti bakteri cenderung memperlambat proses
pemisahan ester yang alami. Tindakan mempercepat proses ini akan
menguntungkan bagi pasien dan dapat dilakukan dengan cara-cara lain seperti
debridemen mekanis atau bedah sehingga waktu antara terjadinya invasi bakteri
dan tumbuhnya masalah yang lain dapat dikurangi.
2. Debridemen mekanis: Debridemen mekanis meliputi penggunaan gunting bedah
dan forsep untuk memisahkan dan mengangkat eskar. Teknik ini dapat dilakukan
oleh dokter atau perawat yang berpengalaman, dan biasanya debridemen mekanis
dikerjakan setiap hari pada saat penggantian balutan serta pembersihan luka.
Debridemen dengan cara-cara ini dilaksanakan sampai tempat yang masih terasa
sakit dan mengeluarkan darah. Preparat hemostatik atau balutan tekan dapat
digunakan untuk menghentikan perdarahan dari pembuluh-pembuluh darah yang
kecil.
3. Debridemen bedah: Debridemen bedah merupakan tindakan operasi dengan
melibatkan eksisi primer seluruh tebal kulit sampai fasia (eksisi tangensial) atau
dengan mengupas lapisan kulit yang terbakar secara bertahap hingga mengenai
jaringan yang masih berdarah. Tindakan ini dapat dimulai beberapa hari atau
segera setelah kondisi hemodinamik pasien stabil dan edemanya berkurang.
Kemudian lukanya segera ditutup dengan graf kulit atau balutan. Balutan biologic
temporer atau balutan biosintetik dapat digunakan dahulu sebelum graf kulit
dipasang pada pembedahan berikutnya.
C. INDIKASI
1. Luka bakar diindikasikan pada luka bakar yang dalam misalnya luka bakar deep-
dermal dan subdermal.
2. Skin Loss
3. Luka Nekrotik
D. KONTRAINDIKASI
A. Kondisi fisik yang tidak memungkinkan
B. Gangguan pada proses pembekuan darah
C. Tidak tersedia donor yang cukup untuk menutup permukaan terbuka (raw
surface) yang timbul.
E. PERSIAPAN ALAT
MEJA MAYO
1. Washing & dressing forceps (desinfeksi klem)
:1
2. Towel clamp (doek klem)
:5
3. Dissecting forceps (pinset chirugis) / pinset bebek chirugis
: 1/1
4. Tissue forceps (pinset anatomis) / pinset bebek anatomis
: 1/1
5. Scalp blade & handle (handvat mess) no. 3
:1
6. Delicate haemostatic forceps pean curve (mosquito klem pean
bengkok kecil)
:2
7. Delicate haemostatic forceps pean curve (klem pean bengkok sedang)
:2
8. Retractor (Haak similar)
:1
9. Delicate haemostatic forceps kocher curve (klem kocher bengkok
sedang)
:2
10. Small metzenbaum scissor (gunting metzenbaum kecil)
:1
11. Surgical scissor curve (gunting jaringan kasar bengkok)
:1
12. Surgical scissor straight (gunting benang lurus)
:1
13. Needle holder (naldfoeder kecil)
:2
14. Scapelaple (kuret)
:1
15. Canule suction
:1
16. Tang cucut
:1
MEJA INSTRUMEN
Duk besar
:8
Duk kecil
:6
Sarung meja mayo
:1
Gaun operasi
:6
Selang suction
:1
Kabel couter
:1
Bengkok
:2
Cucing / kom
:2
Perlak karet
:1
Handuk kecil
:4

B. PERSIAPAN BAHAN HABIS PAKAI


1. Paragon mess no. 11/15 : 1/1
2. Handscoen 6,5/7/7,5/8 :
sesuai kebutuhan
3. Cairan NS 0,9% 1 liter :2
4. Monosyn 4-0 / 5-0 : 2/2
5. Big kass (besar) :2
6. Deppers (kecil) : 10
7. Kassa sedang : 30-40
8. Betadine 10% :
100cc
9. Adrenalin :2
10. Catheter no. 16 :1
11. Urobag :1
12. Underpad steril/on : 4/2
13. Sufratulle : 10
14. Soffban :1
15. Elastomol :1
16. EMP :1
17. Hipavix

C. PERSIAPAN PASIEN
1. Memberitahu klien tentang tujuan dan prosedur pembedahan (informent
consent operator + anestesi)
2. Persiapan alat dan obat-oabatan
3. Sudah dalam keadaan puasa
4. Meninggalkan semua perhiasan yang digunakan (bila ada)
5. Pasien dilakukan, general anastesi
6. Persiapan psikologis pasien

D. TEKNIK INSTRUMENTASI
1. Sign In
2. Membuka bebat yang masih terpasang di lengan kanan pasien
3. Perawat instrumen melakukan cuci tangan, memakai gaun operasi
dan sarung tangan steril.
4. Perawat sirkuler memasang catheter no.16 two way dengan posisi
urobag di gantung kemudian pasang plat diatermi di bawah paha
atas.
5. Perawat instrumen melakukan cuci tangan, memakai gaun operasi
dan sarung tangan steril
6. Perawat instrumen memakaikan gaun operasi dan sarung tangan
steril kepada tim operasi
7. Perawat instrument menyaiapkan larutan adrenalin 1:500 cc (1
ampul adrenalin dicampur 500 cc NS 0,9%) untuk mengurangi
perdarahan.
8. Perawat instrumen memberikan pada operator desinfeksi klem dan
cucingyang berisi deppers, savlon kemudian betadhine untuk
antisepsis area operasi (lengan mulai bawah ketiak sampai jari
tangan)
9. Dilakukan drapping dengan memasang u-ped steril kemudian duk
besar tebal di bawah tangan kanan, duk segitiga di pasang di atas
siku lengan kanan kemudian fiksasi dengan towel klem untuk atas
beri duk tebal 1 pasang di atas dagu terakhir duk besar untuk
sampai ke bawah
10. Pasang selang suction dan selang couter, ikat dengan kasa dan
fiksasi pada drapping dengan duk klem
11. Mengecek fungsi alat masing masing

Perawat sirkuler melakukan time out


12. Konfirmasi nama pasien umur register ruangan, diagnose dan
tindakan, nama tim operasi.
13. Pembacaan doa sebelum operasi dipimpin oleh dokter operator.
14. Berikan gunting benang kepada operator untuk membuka bekas
jahitan pada operasi sebelumnya
15. Berikan mess no. 15 kepada operator untuk membuat insisi pada
bekas operasi sampai ketemu plat dan wire yang telah terapasang
pada operasi sebelumnya. Setelah wire ketemu kemudian berikan
tang cucut kepada operator untuk mencabut wire.
16. Berikan mess no.15 dan pinset chirrugis pada operator untuk
memulai insisi jaringan fibrotic (jaringan mati)
17. Berikan gunting kasar pada operator untuk melanjutkan mengambil
jaringan fibrotic.
18. Berikan kokher pada asisten untuk memegang jaringan fibrotic
yang di insisi operator.
19. Berikan kassa yang sudah di basahi larutan adrenalin dan NS untuk
mnghentikan perdarahan.
20. Berikan mess no.15 untuk menginsisi kembali jaringan fibrotic
kemudian dilanjutkan gunting kasar sampai jaringan fibrotic
terlepas lalu tutup dengan kassa adrenalin (dilakukan berulang-
ulang sampai jaringan terlihat kemerahan/jaringan sehat).
21. Berikan scalplelaple pada operator untuk membersihkan sisa
jaringan fibrotic yang tidak bisa di insisi sampai tampak warna
kemerahan kemudian tutup dengan kassa adrenalin (dreg).
22. Berikan mosquito pada operator dan pinset anatomis untuk
merawat perdarahan, kassa kering berikan pada asisten untuk
membantu mencari titik perdarahan kemudian hentikan perdarahan
dengan couter.

Perawat sirkuler melakukan sign out

23. Perawat instrument cek kelengkapan alat dan bahan habis pakai
pastikan dalam keadaan cocok, pastikan tindakan yang akan
dilakukan.
24. Berikan 2 big kass yang sudah di basahi adrenalin dan NS untuk
membalut semua jaringan untuk mengurangi perdarahan di tunggu
sampai 5 menit/untuk sementara.
25. Bila sudah 5 menit big kass di lepas, berikan sufratule untuk
menutupi semua jaringan yang sudah sehat kemudian balut dengan
big kass basah lalu tutup big kass kering dilanjutkan softban steril
(10 cm) terakhir balut dengan elastomul (10 cm) secara
merata/tensokrep atau verban gulung.
26. Operasiselesai, merapikan pasien
27. Perawat instrument menginventaris alat alat, kemudian
dekontaminasi menggunakan larutan precept 2,5 gram dalam 5 liter
air rendam selama 10 menit, kemudian bilas, bersihkan dan
keringkan , kemudian inventaris ulang dan dipacking untuk disteril.
28. Bersihkan ruangan dan lingkungan kamar operasi, rapikan dan
kembalikan alat-alat yang dipakai pada tempatnya.
29. Inventaris bahan habis pakai pada depo farmasi
30. Cek kembali kelengkapan status pasien, dan sertakan di brankart
sebelum di bawa ke RR.

Mengetahui,
Pembimbing OK.11

( Suhartatik, AMd. Kep)


DAFTAR PUSTAKA

A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta:


EGC.

Doenges M.E, 1999. Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

Harfa. 2012. Askep Abses. http://keperawatan-harfa.blogspot.com/2012/03/askep-


abses.html

Hermana, Asep. 2012. Debridemen.


http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/235#

Moya J. Morison. 2004. Manajemen luka. Jakarta: EGC

Smeltzer, suzanene C,2001. Buku ajar keperawatan medikal bedal brunner and
suddarth. Alih bahasa :agung waluyo (et al).edisi 8 volume 2.jakarta:EGC

Wanjaya, Fitri. 2010. Debridement.


http://fitriwanjaya13.blogspot.com/2013/07/debridement.html

Wikipedia. 2013. Tulang Selangka. http://id.wikipedia.org/wiki/Tulang_selangka