Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

KRITIK SASTRA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Mata Kuliah Logika

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

Dosen Pengampu

Kelompok 2 :
1. Alpina sari F1012151039
2. Vina Frahestika F1012151065
3. Abd Salim Marna F10121510
4. Yanuarius Gigih N F1012131001
5. Saukil F1012131015

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan


Universitas Tanjungpura
Pontianak
2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kritik merupakan salah satu dari cabang ilmu sastra. Kritik sastra
menganalisis teks karya sastra itu sendiri. Kritik dapat diterapkan pada semua
bentuk karya sastra, baik yang berupa puisi, prosa maupun drama. Kritik adalah
karangan yang menguraikan tentang pertimbangan baik atau buruk suatu karya
sastra. Kritik biasanya diakhiri dengan kesimpulan analisis .
Tujuan kritik bukan hanya menunjukkan keunggulan, kelemahan,
kebenaran, dan kesalahan sebuah karya sastra berdasarkan sudut tertentu, tetapi
mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra tertinggi dan untuk
mengapresiasi karya sastra secara lebih baik. Tugas kritik sastra adalah
menganalisis, menafsirkan, dan menilai suatu karya sastra . Kehadiran kritik sastra
akan membuat sastra yang dihasilkan berikutnya menjadi lebih baik dan berbobot
karena kritik sastra akan menunjukkan kekurangan sekaligus memberikan
perbaikan.
Menurut pelaksanaanya kritik sastra terbagi atas kritik judisial (judicial
criticism) dan impresionistik (impressionistic criticism). Kritik yudisial adalah
kritik sastra yang melakukan analisis, interprestasi, dan penilaiannya berdasarkan
ukuran-ukuran, hukum-hukum dan standar-standar tertentu. Kritikus judisal
melakukan kritik sastra berdasarkan ukuran-ukuran tersebut. Jenis sifatnya
deduktif. Dapat dikatakan kritik ini merupakan kebalikan dari kritik yang sifatnya
induktif.
Dalam kritik yang induktif, seorang kritikus tidak menerapkan standar-
standar tertentu dalam mengkritik karya sastra. Ia berangkat dari fenomena yang
ada dalam karya sastra itu secara objektif. Sedangkan kritik impresionik adalah
kritik yang dibuat kritikus dengan mengemukakan kesan-kesan kritikus tentang
objek kritiknya, tanggapan-tanggapan tentang kara sastra itu berdasarkan apa yang
dirasakan kritikus tersebut. Dalam kritik yang impresionik, seorang kritikus
menggunakan tafsiran untuk mengagumkan pembaca. Dalam kritik jenis ini
kritikus jarang menggunakan penilaian.
Kritik sastra menurut bentuknya dapat digolongkan menjadi kritik teori
(thoeritical criticism), dan kritik terapan (applied criticism). Kritik teori adalah
bidang kritik sastra yang bekerja untuk menerapkan istilah-istilah, kategori-
kategori dan kriteria-kriteria untuk diterapkan dalam pertimbangan dan
interprestasi karya sastra, yang dengannya karya sastra dan para sastrawannya
dinilai. Adapun kritik terapan adalah pelaksanaan dalam penerapan teori-teori
kritik sastra sastra baik secara eksplisit, maupun implisit.

1.2. Rumusan Masalah


a. Pengertian dari kritik sastra?
b. Apa jenis-jenis kritik sastra beserta pengertiannya?
c. Apa saja hal yang bersangkut paut dengan kritik sastra?

1.3. Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui materi tentang kritik sastra?
b. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis Aliran kritik sastra pengertiannya?
c. Untuk mengetahui apa saja hal yang bersangkutan dengan kritik sastra?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kritik Sastra
Kritik merupakan salah satu dari cabang ilmu sastra. Kritik sastra
menganalisis teks karya sastra itu sendiri. Kritik dapat diterapkan pada semua
bentuk karya sastra, baik yang berupa puisi, prosa maupun drama.
Kritik adalah karangan yang menguraikan tentang pertimbangan baik atau
buruk suatu karya sastra. Kritik biasanya diakhiri dengan kesimpulan analisis .
Tujuan kritik bukan hanya menunjukkan keunggulan, kelemahan,
kebenaran, dan kesalahan sebuah karya sastra berdasarkan sudut tertentu, tetapi
mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra tertinggi dan untuk
mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.
Tugas kritik sastra adalah menganalisis, menafsirkan, dan menilai suatu
karya sastra .
Kehadiran kritik sastra akan membuat sastra yang dihasilkan berikutnya
menjadi lebih baik dan berbobot karena kritik sastra akan menunjukkan
kekurangan sekaligus memberikan perbaikan.

1. Ciri-ciri Kritik Sastra


Kritik sastara mempunyai beberapa ciri, yaitu sebagai berikut:
a. Memberikan tanggapan terhadap hasil karya.
b. Memberikan pertimbangan baik dan buruk (kelebihan dan kekurangan )
sebuah karya sastra
c. Pertimbangan bersifat obyektif
d. Memaparkan kesan pribadi kritikus terhadap sebuah karya sastra
e. Memberikan alternatif perbaikan atau penyerpurnaan
f. Tidak berprasangka
g. Tidak terpengaruh siapa penulisnya

2. Pentingnya Kritik/ Fungsi Kritik


1. Bagi Pembaca
Bagi pembaca merupakan penuntun untuk dapat menikmati ciptaan yang
dikritik itu, sehingga dapat memberikan pandangannya dan menghargainya
2. Bagi Seniman atau Pengarangnya
Bagi pengarangnya merupekan petunjuk yang berharga yang wajib
dipertimbangkan untuk kebaikan ciptaan yang akan datang.
3. Prinsip-Prinsip Penulisan Kritik
1. Penulis harus secara terbuka mengemukakan dari sisi mana ia menilai karya
sastra tersebut.
2. Penulis harus obyktif dalam menilai
3. Penulis harus menyertakan bukti dari teks yang dikritik

B. Jenis-jenis Aliran Kritik Sastra


1. Jenis-Jenis Kritik Sastra
a. Kritik sastra intrinsik, yaitu menganalisis karya sastra berdasarkan
unsur intrinsiknya, sehingga akan diketahui kelemahan dan kelebihan
yang ada dalam karya sastra
b. Kritik sastra ekstrinsik, yaitu menganalisis dengan cara
menghubungkan karya sastra dengan penulisnya, pembacanya , atau
masyarakatnya. Disamping itu juga melibatkan faktor ekstinsik lain
seperti sejarah, psikologi, relegius, pendidikan dan sebagainya
c. Kritik deduktif , yaitu menganalisis dengan cara berpegang teguh pada
sebuah ukuran yang dipercayainya dan dipergunakan secara konsekuen
d. Kritik Induktif, yaitu menganalisis dengan cara melepaskan semua
hukum atau aturan yang berlaku
e. Kritik impresionik, yaiti menganalisis hasil karya berdasarkan kesan
pribadi secara subyektif terhadap karya sastra
f. Kritik penghakiman , yaitu menganalisis dengan cara berpegang teguh
pada ukuran atau aturan tertentu untuk menentukan apakah sebuah
karya sastra baik atau buruk
g. Kritik teknis, yaitu kritik yang dilakukan untuk tujuan tertentu saja
Contoh kritik sastra
a. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay , oleh H.B.
Yassin
b. Pokok dan Tokoh, oleh Dr.A.Teeuw
c. Buku dan Penulis, oleh Amal Hamzah

Tujuan penulisan kritik sastra antara lain:


a. Memberikan panduan yang benar cara memahami karya sastra
b. Berguna untuk penyusunan teori sastra an sejarah sastra
c. Membantu perkembangan kesusastraan suatu bangsa karena
memberikan penjelasan baik buruknya suatu karya sastra
d. Memberikan manfaat kepada masyrakat tentang pemahaman dan
apresiasi sastra

a. Menurut bentuknya
Kritik sastra menurut bentuknya dapat digolongkan menjadi kritik teori
(thoeritical criticism), dan kritik terapan (applied criticism). Kritik teori adalah
bidang kritik sastra yang bekerja untuk menerapkan istilah-istilah, kategori-
kategori dan kriteria-kriteria untuk diterapkan dalam pertimbangan dan
interprestasi karya sastra, yang dengannya karya sastra dan para sastrawannya
dinilai. Adapun kritik terapan adalah pelaksanaan dalam penerapan teori-teori
kritik sastra sastra baik secara eksplisit, maupun implisit.

b. Menurut pelaksanaannya
Menurut pelaksanaanya kritik sastra terbagi atas kritik judisial (judicial
criticism) dan impresionistik (impressionistic criticism). Kritik judisial adalah
kritik sastra yang melakukan analisis, interprestasi, dan penilaiannya berdasarkan
ukuran-ukuran, hukum-hukum dan standar-standar tertentu. Kritikus judisal
melakukan kritik sastra berdasarkan ukuran-ukuran tersebut. Jenis sifatnya
deduktif. Dapat dikatakan kritik ini merupakan kebalikan dari kritik yang sifatnya
induktif.
Dalam kritik yang induktif, seorang kritikus tidak menerapkan standar-
standar tertentu dalam mengkritik karya sastra. Ia berangkat dari fenomena yang
ada dalam karya sastra itu secara objektif.
Sedangkan kritik impresionik adalah kritik yang dibuat kritikus dengan
mengemukakan kesan-kesan kritikus tentang objek kritiknya, tanggapan-
tanggapan tentang kara sastra itu berdasarkan apa yang dirasakan kritikus tersebut.
Dalam kritik yang impresionik, seorang kritikus menggunakan tafsiran
untuk mengagumkan pembaca. Dalam kritik jenis ini kritikus jarang
menggunakan penilaian.

2. Menurut orientasi kritik


Abram (David Logde, 1972:5-21) membagi jenis kritik berdasarkan
orientasinya, yaitu kritik mimetik, kritik ekspresif, kritik pragmatik dan kritik
objektif.
1. Kritik mimetik adalah kritik yang memandang karya sastra sebagai pencerminan
kenyataan kehidupan manusia. Menurut Abrams, kritikus pada jenis ini
memandang karya sastra sebagai tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan
pencerminan/penggambaran dunia kehidupan. Sehingga kriteria yang
digunakan kritikus sejauh mana karya sastra mampu menggambarkan objek
yang sebenarnya. Semakin jelas karya sastra menggambarkan realita
semakin baguslah karya sastra itu. Kritik jenis ini jelas dipengaruhi oleh
paham Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa sastra adalah tiruan
kenyataan.
2. Kritik ekspresif adalah kritik sastra yang memandang karya sastra sebagai
ekspresi, curahan perasaan, atau imajinasi pengarang. Kritik ekspresif
menitikberatkan pada pengarang. Kritikus ekspresif meyakini bahwa
sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang
melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi dan perasaan yang
dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus dalam hal ini cenderung
menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan
pengelihatan mata batin pengarang/keadaan pikirannya. Pendekatan ini
sering mencari fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman
sastrawan yang sadar/tidak, telah membuka dirinya dalam karyanya.
3. Kritik pragmatik memandang karya sastra sebagai sesuatu yang dibangun untuk
mencapai efek-efek tertentu pada audien (pendengar dan pembaca), baik
berupa efek kesenangan, estetis, pendidikan maupun efek lainnya. Kritik ini
cenderung menilai karya sastra menurut berhasil tidaknya karya tersebut
mencapai tujuan tersebut (Pradopo, 199:26). Kritik ini memandang karya
sastra sebagai sesuatau yang dibangun untuk mencapai efek-efek tertentu
pada audien (pendengar dan pembaca), baik berupa efek kesenangan, estetis,
pendidikan maupun efek lainnya. Sementara tujuan karya sastra pada
umumnya: edukatif, estetis, atau politis. Dengan kata lain, kritik ini
cenderung menilai karya sastra atas keberhasilannya mencapai tujuan. Ada
yang berpendapat, bahwa kritik jenis ini lebih bergantung pada pembacanya
(reseptif). Kritik jenis ini berkembang pada Angkatan Balai Pustaka. Sutan
Takdir Alisjabana pernah menulis kritik jenis ini yang dibukukan dengan
judul Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan.
4. Kritik objektif memandang karya satra hendaknya tidak dikaitkan dengan hal-hal
di luar karya sastra itu. Ia harus dipandang dsebagai teks yang utuh dan
otonom, bebas dari hal-hal yang melatarbelakanginya, seperti pengarang,
kenyataan, maupun pembaca. Objek kritik adalah teks satra: unsur-unsur
interinsik karya tersebut.

3. Menurut objek kritik


Karya sastra terdiri atas beragam jenis, yaitu puisi, prosa dan drama.
Artinya, kritik sastra dapat menjadikan puisi, puisi, prosa atau drama sebagai
objeknya. Dengan demikain, jenis kritik ini dapat dibagi lagi menjadi berdasarkan
objeknya, yakni kritik puisi, kritik prosa, kritik drama. Selain itu, kritik satra itu
sendiri dapat dijadikan kritik sehingga dinamakan kritik atas kritik.
Karya sastra merupakan sebuah keseluruhan yang mencakupi dirinya,
tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalinan erat secara batiniah dan
mengehendaki pertimbangan dan analitis dengan kriteria-kriteria intrinsik
berdasarkan keberadaan (kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan
saling berhubungan antarunsur-unsur pembentuknya. Jadi, unsur intrinsik
(objektif)) tidak hanya terbatas pada alur, tema, tokoh, dsb; tetapi juga mencakup
kompleksitas, koherensi, kesinambungan, integritas, dsb. Pendekatan kritik sastra
jenis ini menitikberatkan pada karya-karya itu sendiri.
Kritik jenis ini mulai berkembang sejak tahun 20-an dan melahirkan teori-
teori:
a. New Critics (Kritikus Baru di AS)
b. Kritikus formalis di Eropa
c. Para strukturalis Perancis

4. Menurut sifatnya
Dalam dunia kritik sastra sering terjadi pertentang antara kritik sastra yang
ditulis kalangan akademik dan nonakademik. Hal ini misalnya terlihat pada
polemik antara kritikus sastra yang mengusung apa yang dinamakan metode
Ganzheit dengan tokoh antara lain Goenawan Mohamad dan Arif Budiman versus
kritikus sastra yang kemudian diistilahkan dengan aliran Rawamangun dengan
tokoh-tokohnya antaralain M.S Hutagalung.
Dapat dikatakan kritik aliran Rawamangun mewakili jenis kritik sasta
kalangan akademik. Sedangkan kritik sasta aliran Ganzheti mewakili kalangan
nonakdemik.
Ada perbedaan antara dua kritik sastra dua liran tersebut. Kritik sastra
nonakemik tidak terpaku pada format seperti yang terdapat pada petunjuk Tekhnik
Penulisan Ilmiah; teori dan metode sastra meskipun digunakan tidak
diekspilitkan, dan menggunakan bahasa ilmiah populer.
Jenis-jenis tulisannya berupa esai dan artikel yang dipublikasikan lewat
koran, majalah, atau buku-buku yang merupakan kumpulan kritik sastra. Para
penulisnya umumnya sastrawan, wartawan atau kalangan umum yang tertarik
mendalam dunia sastra. (Perkuliahan).

C. Hal yang bersangkut paut dengan kritik sastra


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kritik sastra menurut bentuknya dapat digolongkan menjadi kritik teori
(thoeritical criticism), dan kritik terapan (applied criticism). Kritik teori adalah
bidang kritik sastra yang bekerja untuk menerapkan istilah-istilah, kategori-
kategori dan kriteria-kriteria untuk diterapkan dalam pertimbangan dan
interprestasi karya sastra, yang dengannya karya sastra dan para sastrawannya
dinilai. Adapun kritik terapan adalah pelaksanaan dalam penerapan teori-teori
kritik sastra sastra baik secara eksplisit, maupun implisit.
Menurut pelaksanaanya kritik sastra terbagi atas kritik judisial (judicial
criticism) dan impresionistik (impressionistic criticism). Kritik judisial adalah
kritik sastra yang melakukan analisis, interprestasi, dan penilaiannya berdasarkan
ukuran-ukuran, hukum-hukum dan standar-standar tertentu. Kritikus judisal
melakukan kritik sastra berdasarkan ukuran-ukuran tersebut. Jenis sifatnya
deduktif.
Dapat dikatakan kritik ini merupakan kebalikan dari kritik yang sifatnya
induktif. Dalam kritik yang induktif, seorang kritikus tidak menerapkan standar-
standar tertentu dalam mengkritik karya sastra. Ia berangkat dari fenomena yang
ada dalam karya sastra itu secara objektif. Sedangkan kritik impresionik adalah
kritik yang dibuat kritikus dengan mengemukakan kesan-kesan kritikus tentang
objek kritiknya, tanggapan-tanggapan tentang kara sastra itu berdasarkan apa yang
dirasakan kritikus tersebut.
Dalam kritik yang impresionik, seorang kritikus menggunakan tafsiran
untuk mengagumkan pembaca. Dalam kritik jenis ini kritikus jarang
menggunakan penilaian.
Dalam dunia kritik sastra sering terjadi pertentang antara kritik sastra yang
ditulis kalangan akademik dan nonakademik. Hal ini misalnya terlihat pada
polemik antara kritikus sastra yang mengusung apa yang dinamakan metode
Ganzheit dengan tokoh antara lain Goenawan Mohamad dan Arif Budiman versus
kritikus sastra yang kemudian diistilahkan dengan aliran Rawamangun dengan
tokoh-tokohnya antaralain M.S Hutagalung. Dapat dikatakan kritik aliran
Rawamangun mewakili jenis kritik sasta kalangan akademik. Sedangkan kritik
sasta aliran Ganzheti mewakili kalangan nonakdemik.
Ada perbedaan antara dua kritik sastra dua liran tersebut. Kritik sastra
nonakemik tidak terpaku pada format seperti yang terdapat pada petunjuk Tekhnik
Penulisan Ilmiah; teori dan metode sastra meskipun digunakan tidak
diekspilitkan, dan menggunakan bahasa ilmiah populer. Jenis-jenis tulisannya
berupa esai dan artikel yang dipublikasikan lewat koran, majalah, atau buku-buku
yang merupakan kumpulan kritik sastra. Para penulisnya umumnya sastrawan,
wartawan atau kalangan umum yang tertarik mendalam dunia sastra.

3.2. Saran
Karya sastra terdiri atas beragam jenis, yaitu puisi, prosa dan drama.
Artinya, kritik sastra dapat menjadikan puisi, puisi, prosa atau drama sebagai
objeknya. Dengan demikain, jenis kritik ini dapat dibagi lagi menjadi berdasarkan
objeknya, yakni kritik puisi, kritik prosa, kritik drama. Selain itu, kritik satra itu
sendiri dapat dijadikan kritik sehingga dinamakan kritik atas kritik.
Karya sastra merupakan sebuah keseluruhan yang mencakupi dirinya,
tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalinan erat secara batiniah dan
mengehendaki pertimbangan dan analitis dengan kriteria-kriteria intrinsik
berdasarkan keberadaan (kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan
saling berhubungan antarunsur-unsur pembentuknya. Jadi, unsur intrinsik
(objektif)) tidak hanya terbatas pada alur, tema, tokoh, dsb; tetapi juga mencakup
kompleksitas, koherensi, kesinambungan, integritas, dsb. Pendekatan kritik sastra
jenis ini menitikberatkan pada karya-karya itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra.Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat,
hidayat-Nya serta kekuatan yang diberikan sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Sastra. Dalam proses penyusunan tulisan ini,
penyusun banyak mendapat bantuan, bimbingan, arahan serta motivasi dari
berbagai pihak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Oleh karena
itu, penyusun mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih belum sempurna.
Untuk itu dengan segala kerendahan hati penyusun mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini, dan penyusun
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

OKU Timur, Oktober 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1


1.1....................................................................Latar Belakang
............................................................................................1
1.2...............................................................Rumusan Masalah
............................................................................................2
1.3.................................................................Tujuan Penulisan
............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 3


2.1.......................................................Pengertian Kritik Sastra
............................................................................................3
2.2............................................Jenis-Jenis Aliran kritik Sastra
............................................................................................5
2.3..........................................Periodesasi Aliran Kritik Sastra
............................................................................................9

BAB III PENUTUP .................................................................................... 14


3.1..........................................................................Kesimpulan
..........................................................................................14
3.2....................................................................................Saran
..........................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16