Anda di halaman 1dari 5

Isolasi Etil-p-metoksisinamat dari Kencur (Kaemferia galanga L.

) dan
Sintesis Asam-p-metoksisinamat:
Sintesis Turunannya dan Penetapan Struktur

Airlangga Diandra Putra

NIM 10512038 ; Kelas 02 ; Kelompok 3


airlanggadiandraputra@yahoo.co.id

Abstrak

Etil p-metoksisinamat adalah senyawa yang terkandung dalam kencur (Kaemferia galanga L.),
senyawa ini dapat digunakan sebagai inhibitor untuk pertumbuhan kanker. Ekstrak dari rimpang
kencur mempunyai kandungan antioksidan, anti-inflamasi dan analgesik. Etil p-metoksisinamat
mudah diisolasi dan dimurnikan karena kadarnya yang cukup tinggi (tergantung spesiesnya) bisa
sampai 10%. Isolasi dilakukan dengan cara merefluks serbuk kencur dalam waktu tertentu dan
dilanjutkan dengan distilasi sederhana. Isolasi Etil p-metoksisinamat ini menghasilkan 2,53%, titik
leleh 49oC-51oC, dan Rf 0,83 (eluen kloroform). Reaksi hidrolisis yang dilakukan pada Etil p-
metoksisinamat dilakukan dengan refluks. Kristal yang diperoleh dari hidrolisis memiliki titik leleh
174oC-175oC, dan Rf 0,76 (eluen kloroform). Pembuatan Asam sinamat dilakukan dengan reaksi
beserta pemanasan menghasilkan titik leleh 135oC-136oC dan Rf 0,73 (eluen kloroform). Berdasarkan
titik leleh yang didapat, dapat disimpulkan kristal yang diperoleh memiliki kemurnian yang cukup
tinggi.

Kata kunci: Etil p-metoksisinamat, Kaemferia galanga L., Isolasi, Hidrolisis.

Abstract

Ethyl p-methoxycinnamate is a compound that can be found in rhizome (Kaemferia galanga L.), this
compound effectively inhibit the growth of cancer. The rhizome extract contain antioxidant, anti
inflammatory activites, and an analgesic. Ethyl p-methoxycinnamate can be easily isolated and
purified because the amount of this compound in rhizome quite a lot (depend on species) up to 10%.
Isolation done with reflux-ing rhizome powder for some time and continued by simple distillation.
The isolation of Ethyl p-methoxycinnamate giving result 2.53%, melting point 49oC-51oC, and Rf
0.83 (chloroform as eluent). Hydrolysis done to Ethyl p-methoxycinnamate with reflux. The acquired
crystal from hydrolysis possess melting point 174oC-175oC, and Rf 0.76 (chloroform as eluent).
Synthesis of cinnamic acid done with reaction with heat giving melting point 135 oC-136oC, and Rf
0.73. Based on the melting point, can be said that the acquired crystal have high percentage of
purity.

Keywords: Ethyl p-methoxycinnamate, Kaemferia galanga L., Isolation, Hydrolysis.

1. PENDAHULUAN bisa sampai 10%, karena itu dengan mudah diisolasi


dan dimurnikan.
Kencur (Kaemferia galanga L.) merupakan Etil p-metoksisinamat (EPMS) memiliki pusat-
tanaman tropis yang banyak tumbuh di kebun dan pusat reaktif yang potensial untuk reaksi kimia, antara
perkarangan, digunakan sebagai bumbu dapur dan lain ikatan rangkap terkonjugasi, cincin aromatik yang
termasuk salah satu tanaman obat tradisional diaktifkan oleh gugus metoksi dan gugus fungsi ester.
Indonesia. Ekstrak dari rimpang kencur mempunyai Karenanya dapat dilakukan beberapa reaksi untuk
kandungan antioksidan, anti-inflamasi dan analgesik. mendapatkan turunannya, antara lain adalah hidrolisis
Senyawa kimia yang terkandung didalamnya yang menghasilkan Asam p-metoksisinamat.
antara lain etil p-metoksisinamat sebagai komponen Isolasi Etil p-metoksisinamat (EPMS) dilakukan
utama. Senyawa ini dapat digunakan sebagai inhibitor dengan cara refluks yang dilanjutkan distilasi
kanker, pada industri banyak digunakan dalam sederhana, sedangkan hidrolisis Etil p-metoksisinamat
kosmetika dan dimanfaatkan sebagai obat asma dan (EPMS) dilakukan dengan refluks. Asam sinamat di
anti jamur [1]. Kadar Etil p-metoksisinamat (EPMS) sintesis dengan reaksi dengan bantuan suhu.
dalam kencur cukup tinggi (tergantung spesiesnya)
2. METODE PERCOBAAN Hidrolisis Etil p-metoksisinamat
Titik leleh 174oC-175oC
Isolasi Etil p-metoksisinamat
Dimasukkan 30 g serbuk kencur ke dalam labu Pembuatan Asam Sinamat
bundar 250 mL dan ditambahkan 100 mL n-heksana. Titik leleh 135oC-136oC
Dipasang kondensor refluks pada labu bundar dan
dilakukan refluks dalam penangas air di atas pemanas Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
listrik selama 30 menit. Disaring campuran kencur Tabel 1. Hasil pemeriksaan Rf
yang telah direfluks dalam keadaan panas ke dalam Sampel Rf
labu bundar 100 mL. Dilakukan distilasi sederhana 1 Etil p-metoksisinamat 0,83
terhadap filtrat dalam labu bundar tersebut dalam 2 Asam p-metoksisinamat 0,76
penangas air di atas pemanas listrik sampai tersisa
sekitar 10 mL. Didinginkan labu pada suhu kamar, 3 Asam Sinamat 0,73
lalu didinginkan dalam penangas es hingga terbentuk
kristal berwarna putih. Disaring kristal yang terbentuk Isolasi Etil p-metoksisinamat
dengan corong Bchner. Ditimbang kristal, dihitung Isolasi merupakan teknik pemisahan yang
rendemennya, dan diukur titik lelehnya. Rekristalisasi dilakukan terhadap komponen senyawa kimia dari
dilakukan dengan pelarut n-heksana. campurannya pada tumbuh-tumbuhan atau bahan
alam. Isolasi bahan organik dilakukan dengan
Hidrolisis Etil p-metoksisinamat menggunakan beberapa metode pemisahan untuk
Dilarutkan 2,5 g etil p-metoksisinamat dalam 5 mL memaksimalkan hasil isolasi yang dilakukan. Metode
etanol dalam labu bundar 100 mL. Ditambahkan 1,25 yang paling sering digunakan untuk mengisolasi suatu
g NaOH dan 20 mL air, direfluks campuran reaksi bahan alam adalah dengan ekstraksi menggunakan
selama 30 menit, kemudian didinginkan pada suhu pelarut tertentu. Perkolasi merupakan salah satu
kamar. Dinetralkan HCl encer untuk menghasilkan contoh ekstraksi yang digunakan untuk memisahkan
kristal putih, disaring dengan corong Bchner dan senyawa organik dari suatu bahan alam.
dicuci kristal yang diperoleh dengan air. Diukur titik
leleh kristal yang diperoleh. Rekristalisasi dilakukan
dengan pelarut metanol.

Pembuatan Asam Sinamat


Dipanaskan campuran 2 g benzaldehid, 3 g asam
malonat, 6 mL piridin, dan 4 testes piperidin dalam
gelas kimia di dalam penangas air selama 1 jam. Gambar 1. EPMS
Ditambahkan 20 mL HCl 5 M, didinginkan campuran
tersebut pada suhu kamar, dilanjutkan dengan Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah salah satu
pendinginan di dalam penangas es. Disaring hasil senyawa hasil isolasi rimpang kencur (Kaempferia
reaksi, dicuci dengan air es, diukur titik leleh hasil Galanga L.). EPMS termasuk dalam golongan
penyaringan. Rekristalisasi dilakukan dengan senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan
campuran air-etanol. Diukur spektrum NMR-nya. gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus
karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar
Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan
Dilarutkan sampel kristal hasil isolasi dan hasil pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran
hidrolisis dalam n-heksana. Ditotolkan menggunakan yaitu etanol, etil asetat, methanol, air, dan heksana.
kapiler pada pelat KLT ukuran 2 x 5 cm, pada jarak Perkolasi dilakukan dengan cara merefluks serbuk
0,7 cm dari bawah. Dimasukkan pelat ke dalam wadah kencur dengan pelarut n-heksana. Prinsip dari metode
pengembang KLT bertutup yang telah dijenuhkan refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan
dengan eluen kloroform. Dilakukan pengamatan noda menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan
hasil KLT di bawah sinar lampu UV. Dihitung Rf dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya
yang didapat. dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor
dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut
akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Fungsi
3. HASIL DAN PEMBAHASAN refluks adalah untuk mempercepat reaksi antara
pelarut dan zat terlarut (Etil p-metoksisinamat).
Isolasi Etil p-metoksisinamat Semakin lama refluks dilakukan semakin baik pula
Massa kristal dihasilkan 0,759 g dengan %recovery hasil dari reaksi tersebut.
sebesar 2,53%, dan titik leleh 49oC-51oC. Hasil refluks perlu dipindahkan dalam keadaan
panas karena pada suhu kamar, Etil p-metoksisinamat
(EPMS) kelarutannya kecil dalam n-heksana. Filtrat
didistilasi sederhana untuk menghilangkan pelarutnya dengan penambahan HCl. Asam karboksilat yang
(n-heksana). Labu yang didiamkan dalam suhu kamar terbentuk (Asam p-metoksisinamat) akan berbentuk
akan membentuk kristal karena kelarutan Etil p- kristal karena ketidaklarutan akibat perbedaan
metoksisinamat (EPMS) dalam n-heksan pada suhu kepolaran.
kamar kecil, digunakan penangas es agar dihasilkan Titik leleh yang terukur adalah 174oC-175oC, yang
kristal yang lebih banyak lagi. mendekati literatur 174oC, dapat disimpulkan senyawa
Massa kristal yang didapat adalah 0,759 g dengan tersebut adalam Asam p-metoksisinamat dan memiliki
%recovery sebesar 2,53%, masih cukup jauh dari kemurnian yang cukup tinggi.
10%, hal ini dikarenakan refluks yang dilakukan
masih belum sempurna (waktu yang kurang lama), Pembuatan Asam Sinamat
kristal yang belum terbentuk seluruhnya, pemindahan
campuran hasil refluks ke labu bundar untuk distilasi
yang tidak sesuai prosedur, dan setiap spesies atau
genus, juga setiap kencur itu sendiri memiliki
kandungan Etil p-metoksisinamat (EPMS) yang
berbeda. Titik leleh yang terukur adalah 49oC-51oC,
yang mendekati literatur 48oC-50oC, dapat
disimpulkan senyawa tersebut adalah Etil p-
metoksisinamat (EPMS) dan memiliki kemurnian Gambar 3. Asam Sinamat
yang cukup tinggi.
Rekristalisasi dilakukan apabila senyawa yang Reaksi dasar dari pembuatan Asam Sinamat
didapat masih banyak pengotornya (ditandai dengan adalah reaksi kondensasi. Reaksi kondensasi
trayek titik leleh yang lebar dan titik leleh yang jauh merupakan reaksi antara dua molekul atau lebih yang
dari literatur). n-heksana dipilih sebagai pelarut untuk bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar
rekristalisasi karena Etil p-metoksisinamat (EPMS) dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil
kelarutannya kecil dalam n-heksana pada suhu kamar, seperti air. Asam sinamat dapat disintesis dengan
tetapi larut pada suhu tinggi. reaksi Knoevenagel, yaitu modifikasi dari kondensasi
aldol. Kondensasi aldol adalah reaksi organik antara
Hidrolisis Etil p-metoksisinamat enol atau ion enolat (senyawa alkena dengan gugus
Etil p-metoksisinamat (EPMS) memiliki pusat- hidroksil yang melekat pada karbon berikatan
pusat reaktif yang potensial untuk reaksi kimia, antara rangkap) dengan senyawa karbonil [2]. Kondensasi ini
lain ikatan rangkap terkonjugasi, cincin aromatik yang adalah adisi nukleofilik senyawa hidrogen aktif ke
diaktifkan oleh gugus metoksi dan gugus fungsi ester. sebuah gugus karbonil yang diikuti reaksi dehidrasi
Karenanya dapat dilakukan beberapa reaksi untuk dengan katalis basa yang menghasilkan alpha atau
mendapatkan turunannya, antara lain adalah hidrolisis beta enon terkonjugasi (senyawa terkonjugasi alkena
yang menghasilkan Asam p-metoksisinamat. dan keton).
Benzaldehid disini sebagai senyawa karbonil, dan
asam malonat sebagai enol. Reaksi dilangsungkan
dalam keadaan panas karena karbonil dengan enol
memerlukan tambahan energi untuk melakukan reaksi.
Selama pemanasan akan terjadi proses dekarboksilasi
dengan melepaskan CO2 untuk membentuk Asam
Sinamat, dekarboksilasi ini terjadi karena merupakan
proses stabilisasi resonansi antara gugus karboksilat
Gambar 2. Asam p-metoksisinamat pada produk antara. Piridin digunakan karena
merupakan basa lemah, jika digunakan basa kuat
Reaksi hidrolisis ini dikenal dengan reaksi maka karbanion yang terbentuk bukan pada posisi
penyabunan (hidrolisis ester menjadi alkohol dan atom C alfa, tetapi atom C pada gugus karboksilat.
asam karboksilat dalam keadaan basa), reaksi ini tidak Titik leleh yang terukur adalah 135oC-136oC, yang
bersifat reversible. OH- dari NaOH akan menyerang mendekati literatur 134oC, dapat disimpulkan senyawa
karbon dari karbonil pada Etil p-metoksisinamat tersebut adalah Asam Sinamat dan memiliki
(EPMS), karena basa yang digunakan adalah basa kemurnian yang cukup tinggi.
alkali, maka hasil penyabunan akan berbentuk garam
karboksilat. Garam karboksilat ini akan membentuk
asam bebas apabila larutan ini dinetralkan dengan
asam, dimana pada percobaan ini penetralan dilakukan
Gambar 4. Pergerakan Elektron dalam Reaksi Pembentukan Asam Sinamat

Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) panjang gelombang tertentu dan akan memberikan
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan penampakan noda di bawah sinar UV.
molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan Selain berfungsi sebagai analisis kualitatif, KLT
antara fasa gerak dan fasa diam untuk memisahkan juga menyediakan gambaran kuantitatif kromatografik
komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. yang disebut nilai Rf ("retardation factor" atau nilai
Molekul yang terlarut dalam fasa gerak, akan "ratio-to-front") yang diekspresikan sebagai fraksi
melewati kolom yang merupakan fasa diam. Molekul desimal. Kristal hasil isolasi (Etil p-metoksisinamat),
yang memiliki ikatan yang kuat dengan kolom akan hasil hidrolisis (Asam p-metoksisinamat), dan hasil
cenderung bergerak lebih lambat dibanding molekul sintesis (Asam Sinamat) dilarutkan dengan n-heksana
yang berikatan lemah. Dengan ini, berbagai macam lalu ditotolkan. Etil p-metoksisinamat (EPMS)
tipe molekul dapat dipisahkan berdasarkan pergerakan menunjukkan Rf yang paling besar, dilanjutkan
pada kolom. dengan Asam p-metoksisinamat, dan terakhir adalah
Kromatografi yang digunakan kali ini adalah Asam Sinamat. Bila dilihat dari kepolaran, Asam
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kromatografi ini Sinamat merupakan senyawa yang paling polar
merupakan salah satu metode pemisahan yang diantara ketiga senyawa tersebut, lalu diikuti oleh
biasanya menggunakan lempeng gelas atau lapisan Asam p-metoksisinamat, dan terakhir paling non-polar
tipis alumina, silia gel, atau bahan serbuk lainnya. adalah Etil p-metoksisinamat (EPMS).
Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan Rf yang semakin kecil semakin polar, semakin
metode pilihan pertama pada pemisahan karena kecil Rf berarti semakin kecil jarak tempuh dan
prosesnya yang mudah dan cepat. Biasanya pelat KLT menunjukkan bahwa semakin tertahan oleh Silika Gel
menggunakan bahan indicator fluorescence yang yang bersifat polar. Maka berdasarkan perhitungan Rf,
dapat memancarkan warna di bawah sinar UV pada data yang diperoleh sesuai karena Etil p-
panjang gelombang 254 nm. Senyawa yang akan diuji metoksisinamat (EPMS) yang relatif non-polar berada
ditotolkan pada pelat KLT, lalu pelat KLT paling atas dan dilanjutkan oleh Asam p-
dimasukkan ke dalam wadah tertutup (chamber) yang metoksisinamat dan Asam Sinamat yang paling polar
telah dijenuhkan dengan eluen dan proses KLT pun berada paling bawah.
dijalankan. Pelat akan menyerap sinar UV pada

NMR Asam Sinamat

Gambar 5. Spektrum NMR 13C Asam Sinamat


Gambar 6. Spektrum NMR 1H Asam Sinamat

4. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA


Tabel 2. Karakterisasi Sampel [1] Otih Rostiana, Rosita SMD, Mono Rahardjo
Sampel Titik Leleh Rf dan Taryan (2005), Budidaya Tanaman
Etil p-metoksisinamat 49oC-51oC 0,83 Kencur, Badan Penelitian dan Pengembangan
Asam p-metoksisinamat 174oC-175oC 0,76 Pertanian Balai Penelitian Tanaman Obat dan
Asam Sinamat 135oC-136oC 0,73 Aromatika, Yogyakarta.
%Recovery Etil p-metoksisinamat sebesar 2,53% [2] Solomons, T.W.G. dan Fryhle, C.B. (2011),
Organic Chemistry, 10th edition, John Wiley
Berdasarkan karakterisasi yang dilakukan, dapat & Sons, New York, 876-881.
disimpulkan senyawa yang diperoleh dari hasil
isolasi (Etil p-metoksisinamat), hidrolisis (Asam p-
metoksisinamat), dan sintesis (Asam Sinamat)
adalah benar senyawa tersebut yang sesuai
karakterisasinya dengan literatur.

UCAPAN TERIMAKASIH
Dalam menyelesaikan laporan ini, penulis
banyak mendapat bantuan, doa, serta dukungan
dari berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur
kepada Tuhan YME, penulis ingin menyampaikan
terima kasih dan penghargaan kepada: Dr. Deana
Wahyuningrum selaku dosen pembimbing
praktikum organik atas arahan dan bimbingan yang
beliau ajarkan pada penulis; Dr. Lia Dewi Juliawaty
selaku dosen pengajar kimia organik atas segala
ilmu yang beliau ajarkan pada penulis; Kedua orang
tua tercinta, atas segala doa, cinta, kasih sayang,
motivasi terbaik yang selalu menyertai dalam
kondisi apapun dan dimanapun berada; Asisten
praktikum atas perhatian dan ilmu yang telah
diberikan selama praktikum pada penulis; Rekan
praktikum kelompok 3 sekaligus teman yang
inspiratif untuk kebersamaan, inspirasi, dan
motivasi selama menimba ilmu di ITB; Pihak-pihak
lain yang ikut membantu namun tidak bisa
disebutkan satu per satu oleh penulis, baik yang ikut
terlibat secara langsung maupun tidak langsung
dalam penulisan laporan ini.