Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

SINDROM OVARIUM POLIKISTIK

Disusun oleh:
Sellita Seplana 04054821517050
Eliya 04084821517039
Fredy Tandri 04084821517029
Fitri Amaliah 04054821618068
Muhammad Gufron Nusyirwan 04084821618203
Rofifah Dwi Putri 04084821618228
Norfaridzuan Bin Abdul Nain 04084821618240

Kepaniteraan Klinik Bagian Obstetri dan Ginekologi


Periode 25 April 2016 - 4 Juli 2016

Pembimbing: Dr. R. M. Aerul Cakra Alibasyah, Sp.OG(K)

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

i
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Persalinan Preterm

Oleh :

Sellita Seplana
Eliya
Fredy Tandri
Fitri Amaliah
Muhammad Gufron Nusyirwan
Rofifah Dwi Putri
Norfaridzuan Bin Abdul Nain

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang Periode 25
April 2016 - 4 Juli 2016.

Palembang, Mei 2016

Dr. R. M. Aerul Cakra Alibasyah, Sp.OG(K)

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T. atas karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Sindrom Ovarium Polikistik.
Laporan kasus ini merupakan salah satu syarat Kepaniteraan Klinik di
Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP DR. Moh. Hoesin Palembang
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terima kasih Dr. R. M. Aerul Cakra Alibasyah,
Sp.OG(K) selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama
penulisan dan penyusunan laporan kasus ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan
kasus ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan. Semoga laporanini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Palembang, Mei 2015

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1
BAB I STATUS PASIEN ..................................................................................3
Identifikasi..............................................................................................3
Anamnesis..............................................................................................3
Pemeriksaan Fisik..................................................................................4
Pemeriksaan Penunjang..........................................................................6
Diagnosis Kerja......................................................................................7
Tatalaksana.............................................................................................7
Prognosis................................................................................................7
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................8
BAB IV ANALISIS KASUS...............................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................22

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Sindroma ovarium polikistik (SOPK) merupakan kelainan kompleks


endokrin dan metabolik yang ditandai dengan adanya anovulasi kronik dan atau
hiperandrogenisme yang diakibatkan oleh kelainan dari fungsi ovarium dan bukan
oleh sebab lain. Pertama kali diperkenalkan oleh Stein dan Leventhal (1935)
dalam bentuk penyakit ovarium polikistik (polycyctic ovary disease/PCO/Stein-
Leventhal Syndrome), dimana gambaran dari sindroma ini terdiri dari polikistik
ovarium bilateral dan terdapat gejala ketidakteraturan menstruasi sampai
amenorea, riwayat infertil, hirsutisme, retardasi pertumbuhan payudara dan
kegemukan. Sindroma ini dicirikan dengan sekresi gonadotropin yang tidak
sesuai, hiperandrogenemia, peningkatan konversi perifer dari androgen menjadi
estrogen, anovulasi kronik, dan ovarium yang skerokistik dengan demikian
sindroma ini merupakan 1 dari penyebab paling umum dari infertilitas.
Dalam perkembangannya manifestasi dari sindroma ini menjadi lebih
kompleks. Sindroma ini dapat disertai atau tanpa adanya kelainan morfologi di
ovarium. Stephen dkk mendapatkan sebanyak 75% wanita dengan ovarium
polikistik mengalami menstruasi yang tidak teratur. Peneliti lain mendapatkan dari
350 wanita dengan hirsutisme hanya 50% memiliki ovarium polikistik dengan
siklus tidak teratur. Sebaliknya Fox mendapatkan 14% wanita dengan hirsutisme
dan oligomenorea tidak dijumpai adanya peningkatan jumlah folikel pada
pemeriksaan USG. Sementara dengan Pache dkk mendapatkan 50% wanita
dengan SOPK secara klinis mempunyai ovarium yang normal. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang tetap antara gambaran klinis dan
perubahan histologis ovarium. Dengan demikian maka sindroma Stein-Leventhal
hanya merupakan bagian dari spektrum yang luas dengan kondisi klinik berbeda
yang berhubungan dengan kista ovarium, yang mempunyai konotasi sedikit
terbatas.
Penelitian Burghen dkk (1980) menunjukkan korelasi linear positif antara
hiperandrogenisme dan hiperinsulinemia pada wanita obese dengan SOPK dan

1
jangka panjang wanita dengan SOPK mempunyai resiko yang meningkat
menderita hipertensi, diabetes maupun penyakit kardiovaskuler. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa saat ini spektrum klinik dari OPK lebih luas dari pada saat
pertama kali diperkenalkan oleh Stein dan Leventhal pada tahun 1935. Kelainan
dari patofisiologi yang mendasari hingga saat ini masih belum diketahui, akan
tetapi sindroma ini berhubungan dengan keadaan resistensi insulin,
hiperandrogenisme dan perubahan dinamis dari hormon gonadotropin.
SOPK sering menunjukkan beragam manifestasi klinis maka pemahaman
gejala klinis sangat penting sehingga diagnosis dapat ditegakkan seakurat
mungkin, dengan demikian penatalaksanaan yang diberikan dapat serasional
mungkin dan bermanfaat baik secara medikamentosa ataupun operatif.

2
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI
a. Nama : Ny. NFWU
b. Umur : 26 tahun
c. Alamat : Lrg. Ilham Green Plaju E no.26 Kelurahan 16 Ulu
Kecamatan Seberang Ulu II Palembang
d. Suku : Lubuk Linggau
e. Bangsa : Indonesia
f. Agama : Islam
g. Pendidikan : Sarjana
h. Pekerjaan : Dokter
i. MRS : 29 April 2016
j. No. RM : 950456

II. ANAMNESIS (Tanggal 29 April 2016)


Keluhan Utama : Menstruasi tidak teratur

Riwayat Penyakit Sekarang


Kisaran 5 tahun lalu, pasien mengeluhkan menstruasi tidak teratur. Pasien
menyebutkan siklus menstruasi tidak lancar semenjak umur 14 tahun, pasien
mengaku siklus menstruasi tidak teratur atau setiap 1 sampai 2 bulan sekali
selama 5-8 hari dengan darah berwarna merah, bergumpal dihari pertama, dan 2x
ganti pembalut/hari. Pasien berobat ke rumah sakit swasta dan diberikan obat
kontrasepsi.
Kisaran 1 hari lalu, pasien mengaku bahwa 3 bulan terakhir ini hanya
mengalami menstruasi sebanyak 1 kali yang berlangsung 5-7 hari dengan darah
berwarna merah segar tanpa disertai nyeri. Pusing, mual, muntah, kenaikan berat
badan, lemas hingga tidak dapat melakukan aktivitas disangkal oleh pasien.
Menstruasi terakhir dirasakan pasien kisaran tanggal 24 Maret 2016 dengan
banyak ganti pembalut sebanyak 3x. Riwayat nyeri menstruasi (-), bergumpal-
gumpal (-), os pernah diberi pil KB 3x, keluhan membaik tetapi bila tidak makan
pil KB menstruasi kembali tidak teratur. Riwayat BAK dan BAB terganggu (-).
Pasien lalu datang ke dr. SpOG dikatakan ada polycystic ovarium dan disarankan
ke RSUPMH.

Riwayat Penyakit Dahulu

2
Riwayat darah tinggi (-)
Riwayat darah tinggi pada kehamilan sebelumnya (-)
Riwayat kencing manis (-)

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Riwayat darah tinggi dalam keluarga (-).

Status Sosial Ekonomi dan Gizi : sedang


Status Perkawinan : menikah 1 kali, lamanya 3 tahun, belum
memiliki anak.
Status Reproduksi : menarche usia 14 tahun
siklus haid tidak teratur
lamanya haid 7 hari.
HPHT 8 Maret 2016
8 Maret 2016, 16 Februari 2016, 16 Januari
2016
Status Persalinan : tidak ada

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan Fisik Umum
Keadaan Umum : Tidak tampak sakit
Kesadaran : Compos mentis
BB : 63 kg
TB : 155 cm
Status Gizi : Overweight (26,2 kg/m2)
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 81x/ menit, isi/kualitas cukup, reguler
Respirasi : 22x/menit, reguler
Suhu :36,7oC

Pemeriksaan Khusus
Kepala
Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-),
edema palpebra (-), pupil isokor 3mm,
refleks cahaya (+/+).
Hidung : Kavum nasi dextra et sinistra lapang, sekret
(-), perdarahan (-).

3
Telinga : CAE dekstra et sinistra lapang, sekret (-),
serumen (+), membran timpani sulit dinilai.
Mulut : Perdarahan di gusi (-), sianosis sirkumoral
(-), mukosa mulut dan bibir kering (-),
fisura (-), cheilitis (-).
Lidah : Atropi papil (-).
Faring/Tonsil : Dinding faring posterior hiperemis (-),
tonsil T1-T1, tonsil tidak hiperemis,
detritus (-).
Kulit : CRT < 3 s

Leher
Inspeksi : Tidak ada kelainan
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar getah
bening, JVP (5-2) cmH2O
Thorax
Paru
Inspeksi : Simetris, retraksi intercostal, subkostal,
suprasternal (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler normal di kedua lapangan paru,
ronkhi (-), wheezing (-).
Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba, tidak ada thrill
Perkusi : Jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-).
Abdomen
Inspeksi : Cembung
Lihat pemeriksaan obstetrik
Ekstremitas : Akral hangat (+), edema pretibial (-).

PEMERIKSAAN OBSTETRIK
Pemeriksaan Luar : Abdomen datar, lemas, simetris.
Pemeriksaan Dalam
Inspekulo : Tidak dilakukan
Vaginal toucher : Portio kenyal, OUE tertutup,

4
PEMERIKSAAN PENUNJANG
USG

Hasil:
Uterus anteflexi
Tebal endometrium 56 mm
Ovarium kanan tampak beberapa folikel kecil-kecil tersebar dan struma dominan
Ovarium yang kiri dengan gambaran yang sama
Tak tampak massa adneksa

IV. DIAGNOSIS KERJA


Polycistic ovarium bilateral

V. TATALAKSANA
R Dx/ USG transvaginal
R Th/ Profertil
Kontrol ke poliklinik endokrin
Rencana program untuk kehamilan

5
VI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad fungtionam : Bonam
Quo ad sanationam : Bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Polycystic ovary syndrome (PCOS) atau Sindroma Ovarium Polikistik
(PCOS) adalah suatu sindroma, kumpulan dari gejala disfungsi ovarium, dengan
tampilan utama hiperandrogenisme dan morfologi ovarium yang polikistik.
Manifestasi klinis dari kelainan ini dapat berupa : menstruasi yang ireguler, tanda-
tanda kelebihan kadar androgen beserta obesitas, dan dihubungkan dengan DM
tipe 2. Sindrom ini merupakan kelainan endokrin yang sangat umum terjadi pada
wanita dalam masa reproduksi dan sampai saat ini masih menjadi kontroversi.

Epidemiologi
PCOS adalah kelainan endokrin wanita yang paling sering dijumpai, yang
melibatkan 5-10% dari wanita dalam masa reproduksi. Walaupun ovarium
polikistik dapat ditemukan dalam 20% populasi wanita, hal ini tidak harus
menimbulkan gejala klinik seperti PCOS, akan tetapi dalam perjalanannya akan

6
menimbulkan gejala klinik bila diprovokasi oleh kenaikan berat badan atau
resisten terhadap insulin. PCOS berkaitan dengan 75% dari seluruh kelainan
anovulasi yang menyebabkan infertility, 90% dari wanita dengan
oligomenorrhoea, lebih dari 90% dengan hirsutism dan lebih dari 80% dengan
acne yang persisten.

Etiologi dan Faktor Risiko


Etiologi dari PCOS sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Genetik
dan multifaktor diduga sebagai penyebab kelainan ini. Model pasti hubungan
genetik atau familial dari PCOS masih belum jelas. PCOS diketahui sebagai
kelainan yang bersifat familial yang mana saudara kandung penderita PCOS
mempunyai risiko mengalami kelainan ini sebesar 50%. Prevalensi risiko
penderita PCOS meningkat sebesar 32%-66% antara saudara kandung, dan 24%-
52% antara ibu dengan anak.

Patofisiologi yang pasti dari PCOS adalah kompleks dan kebanyakan


masih tidak jelas, akan tetapi suatu ketidakseimbangan hormonal yang
mendasarinya yang diakibatkan oleh kombinasi peningkatan androgen dan/atau
insulin. Faktor genetik dan lingkungan terhadap gangguan hormonal bergabung
dengan faktor-faktor lain termasuk obesitas, disfungsi ovarium, dan abnormalitas
hipofisis berkontribusi terhadap etiologi PCOS.
Hiperandrogenism dan resistensi terhadap insulin diketahui berhubungan
dengan terjadinya PCOS. Hormon androgen ini mengalami aromatisasi di jaringan
perifer menjadi estrogen, menyebabkan ketidakseimbangan sekresi luteinizing
hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH) pada tingkat pituitary yang
menyebabkan hipersekresi endogenous LH. LH ini sangat kuat menstimulasi
produksi androgen didalam ovarium. Insulin seperti juga LH menstimulasi
langsung biosintesis hormon steroid di ovarium, terutama androgen ovarium.
Lebih lanjut, insulin menyebabkan menurunnya produksi sex hormone binding
globulin (SHBG) di dalam hati, yang menyebabkan meningkatnya kadar androgen
bebas. Dengan demikian kedua jalur diatas akan menstimulasi theca sel dari
ovarium sehingga terjadi peningkatan produksi androgen dari ovarium yang

7
menyebabkan terganggunya folliculogenesis, kelainan siklus haid dan
oligo/anovulation kronik.

Diagnosis
Penegakan diagnosis sindrom polikistik ovarium dapat dilakukan
dengan melihat tanda-tanda berikut :
1. Oligoovulasi atau anovulasi
Siklus menstruasi normal mencerminkan fungsi ovulasi yang normal.
Sekitar 60-85% pasien SOPK memiliki gangguan menstruasi dan jenis yang
paling sering adalah oligomenore dan amenore. Pemeriksaan awal pada
perempuan dengan gejala ini adalah kadar FSH dan E2 serum untuk
mengeksklusi hipogonadisme hipogonadotropik (gangguan sentral) dan
premature ovarian failure. SOPK termasuk pada kategori anovulasi
normogonadotropik normoestrogenik (kelas 2 WHO). Meskipun demikian,
kadar LH serum pasien SOPK seringkali meningkat.
2. Hiperandrogenisme
Hiperandrogenisme pada Kriteria Rotterdam 2003 mencakup tanda-tanda
klinis dan atau biokimiawi.
a) Hiperandrogenisme klinis
Mencakup hirsutisme, akne, alopesia androgenic, dan tanda-tanda lainnya.
Hirsutisme adalah tanda kelebihan androgen yang paling jelas dan
merupakan gejala yang penting pada SOPK. Penilaian hirsutisme
dilakukan dengan menggunakan skor Ferriman-Galwey yang
dimodifikasi.

8
Gambar Skor Ferriman-Galwey yang dimodifikasi (mFG) untuk
penilaian hirsutisme. Setiap area diberikan skor 0-4 dan penilaian 9 area
tersebut dijumlahkan. Skor 15:hirsutis me ringan, skor 16-25: hirsutisme
sedang, dan skor25: hirsutisme berat.
b) Hiperandrogenisme biokimiawi
Tanda biokimiawi hiperandrogenisme adalah peningkatan androgen di
sirkulasi. Androgen yang terpenting yang biasanya digunakan untuk
diagnosis adalah testosteron.

3. Gambaran ovarium polikistik


Definisi gambaran ovarium polikistik criteria Rotterdam 2003 adalah
adanya 12 folikel atau lebih yang memiliki diameter 2-9 mm pada masing-
masing ovarium dan/atau peningkatan volum ovarium (>10mL). distribusi
folikel dan peningkatan ekogenitas stroma tidak termasuk dalam criteria
penilaian ini.

USG
USG dan atau laparoskopi merupakan alat utama untuk diagnosis SOPK. Dengan
USG, hampir 95 % diagnosis dapat dibuat. Pada USG terlihat gambaran seperti roda
pedati, atau folikel-folikel kecil berdiameter 7-10 mm. Baik dengan USG, maupun
dengan laparoskopi, ke dua, atau salah satu ovarium pasti tampak membesar.

Tabel Perbandingan SOPK dari pemeriksaan USG

9
Cara USG Parameter USG Kriteria untuk OPK
Trans abdominal Volume ovarium >10 cm3
Folikel dengan ukuran 5-8 cm >5
Trans vaginal Volume ovarium >8 cm3
Folikel dgn ukuran >6 mm >11
Ukuran folikel rata-rata <4 mm
Stroma ovarium meningkat 50% atau >7,6 cm2

Prognosis
SOPK meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular dan cerebrovaskular dengan
adanya hiperandrogenisme dan peningkatan apolipoprotein. Sebanyak 4% pasien
dengan SOPK memiliki resiko resistensi insulin sehingga meningkatkan resiko
diabetes mellitus tipe 2 dengan konsekuensi komplikasi kardiovaskular. Penderita
SOPK juga beresiko mengalami karsinoma endometrium.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada PCOS diarahkan pada interupsi siklus anovulatorik
kronik hiperandrogenik yang terus berlanjut. Penurunan berat badan dapat
mengurangi sekresi androgen pada wanita obesitas yang mengalami hirsutisme
dengan cara menurunkan aromatisasi estrogen perifer dan menurunkan
hiperinsulinemia.
Olahraga secara teratur, konsumsi makanan sehat, serta menghentikan
kebiasaan merokok dan mengendalikan berat badan merupakan kunci utama
pengobatan SOPK. Alternatif pengobatan lainnya adalah dengan menggunakan obat
untuk menyeimbangkan hormon. Tidak terdapat pengobatan definitif untuk SOPK,
namun pengendalian penyakit dapat menurunkan resiko infertilitas, abortus, diabetes,
penyakit jantung dan karsinoma uterus.

1. Penatalaksanaan Awal
Pengendalian dan penurunan berat badan
Dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes, hipertensi dan
hiperkolesterolemia. Penurunan berat badan yang tidak terlalu drastis dapat mengatasi

10
kadar androgen dan kadar insulin serta infertiliti. Penurunan berat badan sebesar 5
7% dalam waktu 6 bulan sudah dapat menurunkan kadar androgen sedemikian rupa
sehingga ovulasi dan fertilitas menjadi pulih pada 75% kasus SOPK.
Penurunan berat badan
Memperoleh berat badan yang ideal akan memperbaiki kesehatan penderita
dan dapat mengatasi masalah kesehatan jangka panjang. Meningkatkan aktivitas dan
makan makanan sehat merupakan kunci pengendalian berat badan.
Olahraga
Penderita diharap untuk menjadikan olah raga teratur sebagai bagian penting
dalam kehidupannya. Berjalan kaki merupakan aktivitas yang paling baik dan
sederhana yang dapat dengan mudah dikerjakan.
Makanan sehat dan gizi seimbang
Terdiri dari kombinasi buah dan sayuran, produk makanan kecil berkalori
rendah yang dapat memuaskan nafsu makan dan menngatasi kebiasaan makan kecil.
Hentikan kebiasaan merokok
2. Terapi Medikamentosa
Pengobatan tergantung tujuan pasien. Beberapa pasien membutuhkan terapi
kontrasepsi hormonal, dimana yang lainnya membutuhkan induksi ovulasi.
Kebanyakan pasien dengan SOPK mencari pengobatan untuk hirsutisme dan
infertilitasnya. Hirsutisme dapat diobati dengan obat antiandrogen yang menurunkan
kadar androgen tubuh. Infertilitas pada SOPK sering berespon terhadap klomifen
sitrat.
a. Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral kombinasi menurunkan produksi adrenal dan androgen, dan
mengurangi pertumbuhan rambut dalam 2/3 pasien hirsutisme. Terapi dengan
kontrasepsi oral memiliki beberapa manfaat, antara lain:
- Komponen progestin menekan LH, mengakibatkan penurunan produksi androgen
ovarium

- Estrogen meningkatkan produksi hepatik SHBG, menghasilkan penurunan


testosteron bebas.

- Mengurangi kadar androgen sirkulasi.

11
- Estrogen mengurangi konversi testosteron menjadi dehidrotestosteron pada kulit
dengan menghambat 5-reduktase.

Pasien dengan SOPK terjadi anovulasi yang kronis dimana endometriumnya


distimulasi hanya dengan estrogen. Hal ini menjadi hiperplasia endometrium dan
dapat terjadi karsinoma endometrium pada pasien SOPK dengan anovulasi yang
kronis. Banyak dari kasus seperti ini dapat dikembalikan dengan menggunakan
progesteron dosis tinggi, seperti megestrol asetat 40-60 mg/hari untuk 3-4 bulan.
Ketika kontrasepsi oral digunakan untuk mengobati hirsutisme, keseimbangan
harus dipertahankan antara penurunan kadar testosteron bebas dan androgenisitas
intrinsik dari progestin. Tiga progestin senyawa yang terdapat dalam kontrasepsi oral
(norgestrel, norethindrone, dan norethindrone asetat) diyakini merupakan androgen
dominan. Kontrasepsi oral yang berisi progestin baru (desogestrel, gestodene,
norgestimate, dan drospirenone) memiliki aktivitas androgenik yang minimal.
Terdapat bukti yang terbatas bahwa terdapat perbedaan dalam hasil uji klinis yang
ditentukan oleh perbedaan-perbedaan ini secara in vitro dari potensi androgenik.
Medroksiprogesteron Asetat
Penggunaan medroksiprogesteron asetat secara oral atau intramuskuler telah
berhasil digunakan untuk pengobatan hirsutisme. Secara langsung mempengaruhi
axis hipofise-hypothalamus oleh menurunnya produksi GnRH dan pelepasan
gonadotropin, sehingga mengurangi produksi testosteron dan estrogen oleh ovarium.
Meskipun penurunan SHBG, kadar androgen total dan bebas berkurang secara
signifikan. Dosis oral yang direkomendasikan adalah 20-40 mg per hari dalam dosis
terbagi atau 150 mg diberikan intramuscular setiap 6 minggu sampai 3 bulan dalam
bentuk depot. Pertumbuhan rambut berkurang sebanyak 95% pasien. Efek samping
dari pengobatan termasuk amenorea, hilangnya kepadatan mineral tulang, depresi,
retensi cairan, sakit kepala, disfungsi hepatik, dan penambahan berat badan.
Agonis Gonadotropin releasing Hormone (Gn-RH)
Penggunaan GnRH agonis memungkinkan diferensiasi androgen adrenal yang
dihasilkan oleh ovarium. Ini ditujukan untuk menekan kadar steroid ovarium pada
pasien SOPK. Pengobatan dengan leuprolid asetat yang diberikan intramuskular
setiap 28 hari mengurangi hirsutisme dan diameter rambut pada hirsutisme idiopatik

12
atau pada hirsutisme sekunder pada SOPK. Tingkat androgen ovarium secara
signifikan dan selektif ditekan. GnRH agonis dapat diberikan dengan dosis tunggal, 3
mg pada hari ke 8 siklus haid, atau dengan dosis ganda setiap hari 0,25 mg mulai hari
ke 7 siklus haid. Penambahan kontrasepsi oral atau terapi penggantian estrogen untuk
pengobatan agonis GnRH dapat mencegah keropos tulang dan efek samping lainnya
dari menopause, seperti hot flushes dan atrofi genital. Supresi hirsutisme tidak
menambah potensi dengan terapi penambahan estrogen untuk pengobatan agonis
GnRH.
Ketokonazol
Ketokonazol, agen antijamur yang disetujui oleh US Food and Drug
Administration, menghambat kunci sitokrom steroidogenik. Diberikan pada dosis
rendah (200 mg/hari), dapat secara signifikan mengurangi tingkat androstenedion,
testosteron, dan testosteron bebas.

Flutamid
Flutamid merupakan antiandrogen nonsteroid yang dilaporkan tidak
mempunyai aktivitas progestasional, estrogenik, kortikoid, atau antigonadotropin.
Pada banyak studi, kadar perifer T dan T bebas tidak berubah, meskipun beberapa
dilaporkan modulasi produksi androgen. Flutamid mempunyai efikasi yang serupa
dengan spironolakton dan cyproteron. Obat ini telah digunakan untuk mengobati
kanker prostat pada laki-laki. Obat ini digunakan secara umum dalam dosis 125-250
mg dua kali sehari. Efek samping yang umum ialah kulit kering dan meningkatkan
nafsu makan.
Cyproterone Acetate
Cyproterone asetat adalah progestin sintetis poten yang memiliki sifat
antiandrogen kuat. Mekanisme utama cyproterone asetat ialah menginhibisi secara
kompetitif testosteron dan DHT pada tingkat reseptor androgen. Agen ini juga
menginduksi enzim hepatik dan dapat meningkatkan laju metabolisme plasma
clearance androgen. Formulasi Eropa dengan cyproterone ethinyl estradiol plasma
acetate mengurangi kadar testosteron dan androstenedion secara signifikan, menekan
gonadotropin, dan meningkatkan tingkat SHBG. Cyproterone asetat juga
menunjukkan aktivitas glukokortikoid ringan dan dapat mengurangi tingkat DHEAS.

13
Diberikan dalam rejimen berurutan terbalik (cyproterone asetat 100 mg/hari pada hari
ke-5 - 15, dan ethinyl estradiol 30-50 mg/hari pada siklus hari ke-5 - 26), jadwal
siklus ini membuat perdarahan menstruasi yang teratur, membuat kontrasepsi yang
sangat baik, dan efektif dalam pengobatan hirsutisme dan bahkan jerawat yang parah.
Efek samping cyproterone asetat ialah kelelahan, meningkatnya berat badan,
penurunan libido, perdarahan tak teratur, mual, dan sakit kepala. Gejala ini terjadi
lebih jarang ketika ethinyl estradiol ditambahkan.
b. Spironolactone
Spironolacton merupakan diuretik hemat kalium yang menginhibisi
pertumbuhan rambut dengan menghambat aktivitas 5-reduktase dan mengikat secara
kompetitif terhadap reseptor intraseluler dari DHT. Dosis pemberian spironolakton
adalah 2x50 mg/hari. Dosis yang lebih besar mengganggu aktivitas sitokrom P-450,
yang mengurangi jumlah total androgen sintesis dan sekresi. Efek samping
spironolakton ialah menstruasi yang ireguler, mual dan lemah dengan dosis yang
lebih tinggi. Disebabkan spironolakton merupakan diuretik hemat kalium, wanita
dengan hiperkalemia harus diobservasi dengan hati-hati atau sebaiknya diberikan
alternatif obat lainnya.
c. Insulin Sensitizers
Hiperinsulinemia memainkan peran dalam SOPK terkait anovulasi,
pengobatan dengan insulin sensitizers dapat menggeser keseimbangan endokrin
terhadap ovulasi dan kehamilan, baik penggunaan sendiri atau dalam kombinasi
dengan modalitas pengobatan lain. Metformin direkomendasikan didalam
International Guidelines sebagai terapi utama untuk diabetes mellitus tipe 2 karena
mempunyai profil yang baik dalam pengontrolan metabolism glukosa. Akan tetapi
sampai saat ini belum ditemukan regimen dosis yang tetap sehingga dianjurkan untuk
disesuaikan secara individu dengan dasar efektifitas dan toleransi dan tidak melebihi
dosis maksimal yang direkomendasikan yaitu 2250 mg untuk dewasa dan 2000 mg
untuk anak-anak dalam sehari. Untuk meminimalisir efek samping, terapi metformin
dimulai pada dosis yang rendah yang diminum saat makan, dan dosis ini ditingkatkan
secara progresif. Pasien-pasien diberi metformin 500 mg sekali/hari diminum saat
makan besar, biasanya makan malam selama 1 minggu kemudian ditingkatkan
menjadi 2 kali/sehari, bersama sarapan dan makan malam, selama 1 minggu

14
kemudian dosis dinaikkan 500 mg saat sarapan dan 1000 mg saat makan malam
selama 1 minggu dan akhirnya dosis ditingkatkan menjadi 1000 mg 2 kali/hari saat
sarapan dan makan malam. Tidak terdapat penelitian mengenai kisaran dosis
metformin pada sindrom ovarium polikistik, tapi penelitian kisaran dosis pada pasien
diabetes menggunakan kadar hemoglobin glikase sebagai pengukur outcome,
menunjukkan bahwa dosis 2000 mg per hari sudah optimal.
Dosis dan jangka waktu yang optimal untuk pemberian metformin pada
penderita SOPK dengan insulin resisten sampai sekarang belum ditemukan suatu
konsensus. Beberapa peneliti memberi pengobatan 4 sampai 8 minggu dengan dosis
500 mg tiga kali sehari sebagai pengobatan awal sebelum diberikan clomiphene
citrate, tetapi banyak pasien yang merasa tidak nyaman dan sering menemukan efek
samping dengan pemberian 4 sampai 8 minggu tersebut, sehingga banyak yang tidak
melanjutkan pengobatan. Untuk mempersingkat waktu dan meningkatkan kepatuhan
dalam pengobatan, banyak peneliti mencoba pemberian metformin yang lebih
singkat. Hwu dkk memberikan metformin dengan dosis 500 mg tiga kali sehari untuk
12 hari sebelum dimulai pengobatan dengan clomiphene citrate. Pada penelitian
tersebut ovulasi ditemukan pada 42.5% dibandingkan hanya 12.5% pada kelompok
kontrol. Khorram dkk memberikan metformin 500 mg tiga kali sehari dimulai dari
hari pertama withdrawal bleeding (setelah pemberian medroxy-progesterone acetate
10 mg perhari selama 10 hari) dan pemberian clomiphene citrate pada hari ke lima
sampai hari ke sembilan. Pada penelitian tersebut ditemukan 44% dan 31%
dibandingkan hanya 6.7% dan 0% pada kelompok kontrol yang ovulasi dan
keberhasilan untuk hamil.
d. Clomiphene citrate
Clomiphene citrate merupakan estrogen lemah sintetis yang meniru aktivitas
antagonis estrogen bila diberikan pada dosis farmakologi khas untuk induksi ovulasi.
Fungsi hipofise-hipotalamus-ovarium axis diperlukan untuk kerja klomifen sitrat
yang tepat. Lebih khusus lagi, clomiphene sitrat diperkirakan dapat mengikat dan
memblokir reseptor estrogen di hipotalamus untuk periode yang lama, sehingga
mengurangi umpan balik estrogen normal hipotalamus-ovarium. Blokade ini
meningkatkan jumlah GnRH di beberapa wanita yang anovulatoir. Peningkatan kadar
GnRH menyebabkan peningkatan sekresi hipofise gonadotropin, yang memperbaiki

15
perkembangan folikel ovarium. Clomiphene citrate juga dapat mempengaruhi ovulasi
melalui tindakan langsung pada hipofisis atau ovarium. Sayangnya, efek antiestrogen
clomiphene sitrat pada tingkat endometrium atau serviks memiliki efek yang
merugikan pada kesuburan pada sebagian kecil individu.
Obat ini adalah suatu antagonis estrogen yang bekerja dengan mengadakan
penghambatan bersaing dengan estrogen terhadap hipotalamus sehingga efek umpan
balik estrogen ditiadakan. Dengan demikian hipotalamus akan melepaskan LH-FSH-
RH yang selanjutnya akan rnenyebabkan hipofisis anterior meningkatkan sekresi FSH
dan LH. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel serta
ovulasi.
Dosis diberikan 50 mg satu kali pemberian perhari dengan dosis maksimal
perhari dapat ditingkatkan menjadi 200 mg. Penggunaan clomiphene sitrat untuk
induksi ovulasi memiliki hasil yang sangat baik. Bahkan, pada beberapa populasi,
80% hingga 85% wanita akan berovulasi dan 40% akan hamil.
3. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan kadang-kadang dilakukan pada kasus infertilitas akibat
SOPK yang tidak segera mengalami ovulasi setelah pemberian terapi medikamentosa.
Melalui pembedahan, fungsi ovarium di pulihkan dengan mengangkat sejumlah kista
kecil. Alternatif tindakan diantara lain:
a. Wedge Resection yaitu mengangkat sebagian ovarium. Tindakan ini dilakukan
untuk membantu agar siklus haid menjadi teratur dan ovulasi berlangsung secara
normal. Tindakan ini sudah jarang dikerjakan oleh karena memiliki potensi merusak
ovarium dan menimbulkan jaringan parut.

b. Laparoscopic ovarian drilling merupakan tindakan pembedahan untuk memicu


terjadinya ovulasi pada penderita SOPK yang tidak segera mengalami ovulasi setelah
menurunkan berat badan dan memperoleh obat-obat pemicu ovulasi. Pada tindakan
ini dilakukan elektrokauter atau laser untuk merusak sebagian ovarium. Beberapa
hasil penelitian memperlihatkan bahwa dengan tindakan ini dilaporkan angka ovulasi
sebesar 80% dan angka kehamilan sebesar 50%. Wanita yang lebih muda dan dengan
BMI dalam batas normal akan lebih memperoleh manfaat melalui tindakan ini.
Pengobatan PCOS harus disesuaikan dengan keinginan dan kemampuan suami istri
untuk memiliki anak atau tidak. Jika keluarga yang masih menginginkan anak

16
diberikan pemicu ovulasi, seperti klomifen sitrat, atau gonadotropin yang
mengandung FSH/LH atau LH saja. Klomifen sitrat meningkatkan aromatisasi T
menjadi estradiol (E2), dan E2 ini menekan sekresi LH. Gonadotropin dapat
mengembalikan keseimbangan FSH/LH. Hati-hati terjadi hiperstimulasi ovarium.
Bila belum juga berhasil mendapatkan anak, maka diberikan pil kontrasepsi, atau Gn-
RH analog (agonis/antagonis) sampai nisbah LH/FSH 1, dan baru kemudian
diberikan induksi ovulasi. Dewasa ini tindakan pembedahan reseksi baji tidak
dilakukan lagi. Dengan berkembangnya laparoskopi, dapat dilakukan drilling pada
ovarium. Tujuannya untuk mengeluarkan cairan folikel yang banyak mengandung T.
Jumlah lubang lebih kurang 10 buah.
Pada wanita yang sudah tidak menginginkan anak, maka dapat di berikan pil
kontrasepsi yang mengandung estrogen-progesteron sintetik. Pil kontrasepsi menekan
fungsi ovarium, sehingga produksi testosterone menurun. Selain itu, pil kontrasepsi
menekan sekresi LH, sehingga sintesis testosteron pun berhenti. Estrogen sintetik
memicu sintesis SHBG di hati, dan SHBG ini akan mengikat lebih banyak lagi
testosteron dalam darah.
Pada wanita dengan hirsutismus yang tidak ingin memiliki anak lebih efektif
dengan pemberian anti androgen, seperti siprosteronasetat (SPA). SPA menghambat
kerja androgen langsung pada target organ. SPA yang termasuk jenis progesteron
alamiah, juga memiliki sifat glukokortikoid, sehingga dapat menghambat ACTH, dan
dengan sindirinya pula menekan produksi androgen di suprarenal. Bila belum tersedia
sediaan SPA, maka dapat di gunakan pil kontrasepsi yang mengandung SPA.
Prognosis pengobatan dengan SPA sangat tergantung dari 1) Wanita dengan kadar T
yang tinggi, memiliki respon yang baik; 2) Bila hirsutismus sudah berlangsung lama,
prognosis jelek; 3) Wanita muda keberhasilannya lebih baik; 4) Rambut/bulu di
daerah dada dan perut memiliki respon baik; 5) SPA diberikan 1-2 tahun. Bila
ternyata hirsustismus tetap juga tidak hilang, maka perlu di pikirkan adanya kelainan
kongenital adrenal. Dianjurkan untuk pemeriksaan hormon 17 alfa
hidroksiprogesteron. Kadar yang tinggi, menunjukkan adanya defisiensi enzim 21
hidroksilase. Dewasa ini mulai di gunakan Gn-RH Analog (agonis atau antagonis)
untuk menekan fungsi ovarium.

17
BAB IV
ANALISIS KASUS

Analisis kasus ini dapat ditinjau dari segi

Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Diagnosa
Tata Laksana
1. Anamnesis meliputi keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit terdahulu, riwayat penggunaan obat sebelumnya, riwayat
penyakit dalam keluarga, riwayat psikososial.
Pada kasus ini keluhan utama berupa menstruasi yang tidak teratur
semenjak 3 bulan terakhir yang hanya terjadi 1 kali dengan ganti
pembalut sebanyak 3x sehari dan lama menstruasi 5-7 hari. Hal
tersebut sesuai dengan kriteria oligomenorhea yang merupakan
salah satu gejala dari sindroma polikistik ovarium.
Keluhan tambahan berupa infertilitas primer selama 3 tahun,
keluhan hiperandrogenisme berupa jerawat yang tumbuh sejak
remaja, tanda-tanda hiper androgenisme lainnya seperti adanya

18
rambut pada wajah/telinga (hirsutisme), adanya kebotakan,
hiperpigmentasi disangkal oleh pasien
Keluhan adanya gangguan metabolik seperti kenaikan berat badan,
gejala endokrin diabetes mellitus berupa polidipsi-polyphagia-
poliuri, gangguan pada sistem kardiovaskular dan dislipidemia
disangkal oleh pasien.
Pasien juga mengeluhkan adanya gangguan pola menstruasi atau
siklus menstruasi yang tidak teratur sejak pertama kali haid,
menarche pada umur 14 tahun. Hal ini dapat memperkuat diagnosis
sindroma polikistik ovarium
Pada riwayat keluarga, penyakit dalam keluarga berupa polikistik
ovarii, diabetes mellitus, obesitas ataupun dislipidemia disangkal
oleh pasien. Hal tersebut belum dapat menyingkirkan sepenuhnya
kemungkinan penyebab genetik polikistik ovarium pada kasus ini.
2. Pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda vital (tekanan darah): 110/70
atau dapat dikatakan normal, menurut American Association of Clinical
ahli endokrin Sindrom Ovarium polikistik Komite Menulis [PCOSWC],
2005) Pada ovarium polikistik insidens lebih tinggi pada penderita
hipertensi .
Body massa indeks (BMI) berkisar 26,2 yang sesuai dengan
kriteria polikistik ovarium dengan BMI sekitar >25. Pada pasien ini
tidak dilakukan pengukuran rasio pinggang dan pinggul untuk
menentukan distrubusi lemak tubuh.
Pada pasien ini ditemukan acne pada wajah memenuhi salah satu
tanda dari hiperandogenisme, sedangkan adanya rambut pada
wajah dan telinga (hirsutism), kebotakan gtidak ditemukan .
Tanda-tanda resistensi insulin pada pasien ini berupa achantosis
nigrikans di axilla, tengkuk leher, dibawah payudara dan kulit tidak
dilakukan pemeriksaan.
3. Pemeriksaan penunjang

19
USG : pada pemeriksaan USG Transvaginal ditemukan Ovarium kanan
tampak beberapa folikel kecil-kecil tersebar dan struma dominan,
dengan ovarium yang kiri dengan gambaran yang sama sesuai dengan
kesan polikistik ovarium bilateral
Laboratorium: Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Berdasarkan kriteria praktis dari Homburg (2002) dengan kriteria awal
yang harus ada berupa gangguan menstruasi, hirsutisme (acne), infertilitas
anoovulasi serta adanya kriteria USG yang memberi kesan atau gambaran
adanya suatu polikistik ovarium maka pada pasien ini dapat ditegakkan
diagnosis berupa Sindroma polikistik ovarium.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F.G et al. 2005. Breech Presentation and Delivery In: Williams
Obstetrics. 22st edition. New York: Mc Graw Hill Medical Publising
Division, 509-536.
De Cherney, Alan H. 2003.Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and
Treatment. 9thEdition. India: The McGraw Hill Companies Inc.
Kampono, Nugroho, dkk. 2008. Persalinan Sungsang. Available from:
http://geocities.com/abudims/cklobpt9.html.
Krishadi, Sofie R.et all. editor. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin.Bagian Pertama. Bandung.
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, Perjan RSHS.
Saifuddin AB. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo.
Sastrawinata, et all. editor. 2003. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi
Edisi 2. Jakarta: EGC.
Supono. 1985. Ilmu Kebidanan: Bagian Patologi. Edisi Pertama. Palembang.
Bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum FK Unsri.

20