Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS RISIKO TERJADINYA KONFLIK HORIZONTAL

DI MASYARAKAT YANG BERKAITAN TERJADINYA BENCANA


SOSIAL

Dosen Pembimbing : Nengah Runiari, S.Pd., S.Kp., M.Kep., Sp.Mat

OLEH :

KELOMPOK 5

NI MADE TARIANI (P07120216018)

PUTU INDAH PERMATA SARI (P07120216019)

NI PUTU NOVIA HARDIYANTI (P07120216020)

NI WAYAN MUJANI (P07120216021)

D- IV KEPERAWATAN TINGKAT 1A

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

2016/2017
A. Pengertian Konflik

Konflik menjadi momok yang menakutkan bagi warga negara.


Hal ini karena efek yang timbul akibat konflik itu, seperti, kehilangan
harta benda, dirampasnya hak milik tanah, pendudukan wilayah, bahkan
hilangnya nyawa. Konflik sudah ada sejak manusia hadir di muka bumi
Seiring waktu berjalan, sejarah dunia mencatat bahwa tidak ada satu
masa pun dalam kehidupan manusia lepas dari konflik. Bagi ilmuwan
sosial, konflik merupakan suatu kewajaran dalam kehidupan manusia.
Konflik berasal dari kata kerja Latin, configure yang berarti saling
memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses
social antara dua orang atau lebih (bsa juga kelompok) dimana salah
satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.Beberapa pendapat
para ahli sosiologi tentang pengertian konflik itu sendiri yaitu sebagai
berikut:

1. Menurut Soerjono Soekanto


Mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di
mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi
tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai
dengan ancaman dan atau kekerasan.
2. Menurut Lewis A. Coser
Berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai
nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud untuk
menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.
3. Menurut Gillin dan Gillin
Melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial
manusia yang saling berlawanan. Artinya, konflik adalah bagian
dari proses sosial yang terjadi karena adanya
perbedaanperbedaan baik fisik, emosi, kebudayaan, dan
perilaku. Atau dengan kata lain konflik adalah salah satu proses
interaksi sosial yang bersifat disosiatif.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa konflik sosial merupakan suatu


keadaan dimana terjadi suatu pertikaian akibat proses interaksi sosial
yang berlawanan akibat adanya persaingan maupun perbedaan yang
terjadi dalam masyarakat sehingga menimbulkan pertentangan yang
mengandung ancaman atau kekerasan.

B. Jenis-Jenis Konflik Sosial

Terdapat berbagai macam jenis konflik, tergantung pada dasar yang


digunakan untuk membuat klasifikasi. Ada yang membagi konflik atas
dasar fungsinya, ada pembagian atas dasar pihak-pihak yang terlibat
dalam konflik, dan sebagainya.

A. Konflik Dilihat dari Fungsi


Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996:430) membagi konflik
menjadi dua macam, yaitu: konflik fungsional (Functional
Conflict) dan konflik disfungsional (Dysfunctional Conflict).
Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian
tujuan kelompok, dan memperbaiki kinerja kelompok. Sedangkan
konflik disfungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian
tujuan kelompok.
Menurut Robbins, batas yang menentukan apakah suatu
konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur).
Suatu konflik mungkin fungsional bagi suatu kelompok, tetapi
tidak fungsional bagi kelompok yang lain. Begitu pula, konflik
dapat fungsional pada waktu tertentu, tetapi tidak fungsional di
waktu yang lain. Kriteria yang membedakan apakah suatu konflik
fungsional atau disfungsional adalah dampak konflik tersebut
terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika
konflik tersebut dapat meningkatkan kinerja kelompok, walaupun
kurang memuaskan bagi individu, maka konflik tersebutdikatakan
fungsional. Demikian sebaliknya, jika konflik tersebut hanya
memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok
maka konflik tersebut disfungsional.
B. Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner
dan Freeman (1989:393) membagi konflik menjadi enam macam,
yaitu:
1) Konflik dalam diri individu (conflict within the
individual). Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih
tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas
yang melebihi batas kemampuannya.
2) Konflik antar-individu (conflict among individuals). Terjadi
karena perbedaan kepribadian (personality differences) antara
individu yang satu dengan individu yang lain.
3) Konflik antara individu dan kelompok (conflict among
individuals and groups). Terjadi jika individu gagal
menyesuaikan diri dengan norma - norma kelompok tempat ia
bekerja.
4) Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict
among groups in the same organization). Konflik ini terjadi
karena masing - masing kelompok memiliki tujuan yang
berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
5) Konflik antar organisasi (conflict among organizations).
Konflik ini terjadi jika tindakan yang dilakukan oleh organisasi
menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya.
Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama.
6) Konflik antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict
among individuals in different organizations). Konflik ini
terjadi sebagai akibat sikap atau perilaku dari anggota suatu
organisasi yang berdampak negatif bagi anggota organisasi
yang lain. Misalnya, seorang manajer public relations yang
menyatakan keberatan atas pemberitaan yang dilansir seorang
jurnalis.

C. Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi


Winardi (1992:174) membagi konflik menjadi empat macam,
dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi. Keempat
jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut:
1) Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan
yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi.
Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2) Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjandi antara mereka
yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam
organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar
departemen yang setingkat.
3) Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan
lini yang biasanya memegang posisi komando, dengan
pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam
organisasi.
4) Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang
mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.
Di samping klasifikasi tersebut di atas, ada juga klasifikasi
lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn, et
al. (1982), yang membagi konflik atas: substantive
conflict, emotional conflict, constructive conflict,
dan destructive conflic.
C. Pengertian Konflik Horizontal
Para ilmuwan teori konflik seperti Ralf Dahrendorf mengatakan,
masyarakat sebenarnya mempunyai unsur-unsur konflik (Haryanto,
2012; 39). Dalam pandangan ini berarti juga bahwa manusia dan
konflik itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Konflik muncul akibat adanya kepentingan manusia dan upaya
pemenuhan kepentingan itu. Kepentingan dalam hal ini dapat pula
berupa kebutuhannya. Jika mengacu kepada Teori Evolusi Darwin,
hanya yang mampu beradaptasi yang mampu bertahan hidup. Nyatanya
bahwa kemampuan beradaptasi ini tidak jarang dilakukan melalui cara-
cara pertahan diri untuk memenuhi kebutuhan. Cara-cara pertahan diri
inilah yang cenderung disebut sebagai konflik. Indonesia sebagai
bangsa yang besar dengan keberagaman etnis dan agama, menjadi
daerah yang rawan terjadi konflik, termasuk konflik horizontal.
Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi antara mereka yang
memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi.
Misalnya, konflik antar karyawan atau departemen setingkat. Konflik
horizontal dapat dimaknai sebagai konflik yang melibatkan gesekan dan
pertempuran antar masyarakat. Konflik yang terjadi di berbagai daerah
di Indonesia menunjukkan antara lain kurangnya kemampuan
pemerintah dalam mengatasi penyebab terjadinya konflik. Konflik
muncul dengan menggunakan simbol-simbol etnis, agama, dan ras. Hal
ini terjadi akibat adanya akumulasi "tekanan" secara mental, spiritual,
politik sosial, budaya dan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian
masyarakat. (Lamria, 2004). Banyak ilmuwan dan peneliti sosial
merinci dan memformulasikan penyebab-penyebab konflik horizontal
di Indonesia. Meskipun kebanyakan adalah faktor ketimpangan
ekonomi dan kegagalan akulturasi masyarakat pendatang dengan
masyarakat pribumi. Namun yang paling penting dan tidak bisa
dilupakan begitu saja adalah faktor komunikasi. Komunikasi selalu
menjadi masalah yang melekat pada konflik antar etnis. Kalau bukan
sebagai penyebab terjadinya konflik, maka ia menjadi masalah yang
kemudian muncul pasca-konflik. Namun komunikasi juga dapat
menjadi pencegah terjadinya konflik. Komunikasi dapat pula menjadi
sarana sebagai jalan keluar dari sebuah konflik.
Adapun hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik horizontal
adalah :
1. Saling mengklaim dan menguasai sumber daya alam yang mulai
terbatas akibat tekanan penduduk dan kerusakan lingkungan.
2. Kecemburuan sosial yang bersumber dari ketimpangan-
ketimpangan ekonomi anatra kaum pendatang dan penduduk
lokal. Keberhasilan ekonomi para pendatang sebagai usaha kerja
keras dan tidak mengenal lelah yang kemudian dapat mengausai
pasar dan peluang ekonomi sering dilihat sebagai penjajahan
ekonomi.
3. Dorongan emosional kesukuan karena ikatan-ikatan norma
tradisional. Konflik ini dapat juga muncul disebabkan karena
kefanatikan ajaran ideologi tertentu .

4. Mudah dibakar dan dihasut oleh para dalang kerusuhan, elit


politik dan orang-orang yang haus kekuasaan.hal ini didorong
oleh kualitas sumber daya manusia yang rendah, juga diikuti
oleh rendahnya kesadaran sosial.

D. Pengertian Bencana Sosial


Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, salah satu jenis-jenis
bencana yaitu bencana sosial. Bencana sosial adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan
oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau
antarkomunitas masyarakat, dan teror.
Bencana sosial merupakan bencana yang disebabkan oleh ulah
manusia (man made disasters) antara lain karena jurang perbedaan
ekonomi, perbedaan paham politik di antara masyarakat, diskriminasi,
ketidakadilan, kelalaian, ketidaktahuan, maupun sempitnya wawasan
dari sekelompok masyarakat. Bencana sosial dapat terjadi dalam bentuk
pencemaran lingkungan (polusi udara dan limbah industri) dan
kerusuhan atau konflik sosial. Bencana sosial dapat juga muncul
sebagai akibat bencana alam, baik yang disebabkan oleh faktor alam
maupun faktor manusia dalam memandang dan memanfaatkan
sumberdaya alam (faktor antropogenik).
Suatu upaya yang ditujukan untuk mengenali dan atau meganalisis
potensi munculnya bencana sosial. Aktifitas ini meliputi pengenal
pastian serta memahami berbagai penyebab munculnya bencana sosial
dan konflik sosial maupun kekerasan dengan ditinjau dari berbagai
sudut pandang.
Kegiatan ini bukanlah sebagai suatu kegiatan sekali selesai,
melainkan dilakukan terus-menerus seiring dengan perkembangan
situasi. Kerusuhan massal merupakan salah satu bencana sosial yang
sewaktu-waktu bisa terjadi di sekeliling kita Sebagai sebuah bangsa
yang memiliki keberagaman dalam berbagai hal, Indonesia sangat
rentan terhadap terjadinya pertikaian atas dasar kepentingan
antarkelompok. Oleh karena itu, sikap saling menghargai sesama harus
tetap dijalin untuk memupuk dan mengembangkan sikap toleransi atas
keberagaman yang ada di Indonesia. Selain itu, diperlukan pemahaman
dan kesepakatan tindakan untuk menegakan hukum yang berkeadilan
bagi semua orang.
Adapun penyebab bencana sosial yaitu :
1. Instabilitas sosial, ekonomi, dan politik merupakan penyebab
utama terjadinya bencana sosial yang selama ini terjadi di
sekitar kita. Dalam kasus kerusuhan massal, instabilitas sosial,
ekonomi dan politik dapat menjadi sumber utama terjadinya
pertikaian antarkelompok yang berujung pada kerusuhan
massal.
2. Provokasi atau hasutan dari orang-orang yang tidak bertanggung
jawab juga merupakan penyebab terjadinya kerusuhan massal.
Dengan menggunakan tangan orang lain, para provokator
berusaha untuk mendapatkan keinginannya atau memiliki
maksud tersembunyi dengan adanya kerusuhan massal.

E. Kasus Bencana Sosial Yang Pernah Terjadi Di Indonesia


Beragamnya etnis yang hidup di Indonesia menjadikan Indonesia
sebagai negara dengan masyarakat multikultural terbesar di dunia.
Usman Pelly (2003) menyatakan masyarakat multicultural adalah
masyarakat negara, bangsa, daerah, bahkan lokasi geografis terbatas
seperti kota atau sekolah yang terdiri atas orang- orang yang memiliki
kebudayaan yang berbeda-beda dalam kesederajatan. Pada hakikat-nya
masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai
macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture)
yang berbeda-beda. Dalam hal ini masyarakat multikultural tidak
bersifat homogen, namun memiliki karakteristik heterogen di mana pola
hubungan sosial antarindividu di masyarakat bersifat toleran dan harus
menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai (peace
co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada tiap
entitas sosial dan politiknya (Gunawan, 2011; 216).
Kondisi masyarakat multikultural ini cenderung rawan konflik,
khususnya konflik horizontal (komunal). Konflik horizontal atau
konflik antar-entis, suku, kelompok, dan agama di Indonesia sudah ada
sejak lama di Indonesia. Bahkan sejak Indonesia masih berbentuk
kerajaan-kerajaan, perang antar kerajaan dan perebutan kekuasaan
antar-saudara selalu terjadi. Namun, pola konflik ini dapat ditangani
dengan berkumpulnya para pemuda Indonesia pada tahun 1928 dan
melahirkan Sumpah Pemuda, dimana janji para pemuda Indonesia dan
seluruh rakyat Indonesia untuk berbangsa, bernegara, dan berbahasa
satu yaitu Indonesia. Ide dan gagasan dari pemuda Indonesia ini
akhirnya termanifestasi dalam bentuk proklamasi kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan
Mohammad Hatta setelah 3,5 abad dijajah oleh Belanda dan 1,5 abad
dijajah oleh Jepang.
Di Indonesia terjadi kerusahan/konflik horizontal yang berkaitan
dengan SARA. Seperti kerusuhan di Sampit (1996, 1997, 2001) yaitu
konflik antara suku Dayak dan Madura, kerusuhan Sambas (1999)
konflik antara suku Melayu dan Dayak dengan Madura, kerusuhan di
Ambon (1999) konflik antara masyarakat beragama Kristen dan Islam,
kerusuhan di Sampang (2012) penyerangan terhadap warga Syiah.
Kerusuhan yang dipicu oleh faktor SARA tersebut mengakibatkan
korban jiwa dan materi yang tidak sedikit.
Sebagai negara yang dibangun dengan menjunjung tinggi perbedaan,
ternyata Indonesia masih rentan dengan ancaman terjadinya kerusuhan
yang disebabkan oleh konflik SARA. Hal ini perlu diwaspadai dan
dijadikan pelajaran, mengapa konflik terjadi dengan mudah dan cepat?.
Konflik hoizontal yang terjadi di Indonesia membesar karena dipicu
oleh perbedaan. Konflik Sampit dan Sambas membesar karena ada
perbedaan suku. Konflik Ambon membesar karena perbedaan agama.
Konflik Sampang membesar karena adanya perbedaan aliran atau
mazhab. Jika dipelajari, pemicu dari konflik-konflik tersebut adalah
hal-hal kecil, yang dapat dikategorikan kasus kriminal biasa. Namun
karena sentimen SARA maka perkara kecil dibesar-besarkan dan
perbedaan SARA menjadi katalisator. Selain adanya perbedaan SARA,
konflik cepat membesar karena masyarakat mempunyai karakter
sumbu pendek, mudah terbakar dan meledak. Pendeknya sumbu ini
menhalangi akal sehat dan kesabaran untuk berpikir menhargai
perbedaan. Hal-hal kecil dengan cepat meledak jika pelakunya berbeda
dari sisi SARA, sementara hal-hal yang lebih besar akan mudah
diterima jika pelakunya dari kelompok yang sama.
Penyebab lain konflik/kerusuhan membesar adalah lemahnya aparat
keamanan untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan dini potensi
konflik. Tidak berwibawanya aparat keamanan di lapangan membuat
pelaku konflik merasa negara tidak hadir dan hukum tidak ada. Apapun
akan mereka lakukan demi meluapkan amarah, emosi, dan sentimen
perbedaan yang mereka miliki.

1. Kasus Eksekusi Lahan warga di Kampung Bugis, Pulau Serangan,


Denpasar, Bali pada Selasa,3 Januari 2017

Dikutip dari TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -


Pelaksanaan eksekusi terhadap lahan rumah milik 36 kepala
keluarga (KK) di Kampung Bugis, Serangan, Denpasar, Bali akan
dilakukan Selasa (3/1/20165) oleh petugas Pengadilan Negeri,(PN)
Denpasar.

Tidak hanya memblokir jalan akses masuk, warga yang


didampingi kuasa hukumnya yaitu Rizal Akbar Maya Poetra pun
membentangkan sejumlah poster bertuliskan menolak eksekusi
lahan.

"Sesuai dengan pemberitahuan bahwa hari ini akan dilakukan


eksekusi oleh pengadilan. Namun demikian kami akan melawan.
Kami melawan karena, pertama pemberitaan eksekusi ditulis di
sana putusan Mahkamah Agung (MA) kasasi No 3081/PDT/2012
tanggal 22 Maret 2012. Itu tidak ada putusan eksekusi nomor itu,
yang ada tahun 2010," jelas Rizal Akbar.

Sebelumnya sebanyak 36 KK masih menempati lahan seluas


1,12 Hektar yang terletak di Kampung Bugis ini.Eksekusi terpaksa
dilakukan karena 36 KK tersebut masih menempati lahan milk Hj.
Maisarah meskipun dalam perkara pengadilan dimenangkan oleh
pemilik bersama ahli warisnya.

Kasus ini menyeruak ketika Hj. Maisarah ingin merenovasi


rumahnya beberapa tahun yang lalu di lokasi yang disengketakan.
Namun niat Maisarah dihalangi oleh warga, karena menurut warga
Maisarah bukanlah warga kampung itu. Maisarah lalu melayangkan
gugatan ke PN Denpasar dan ia memenangkannya.

Warga yang menempati lahan itu diharuskan untuk pergi.

Berbagai upaya damai telah dilakukan namun warga tetap menolak


untuk pindah meskipun sudah diberikan waktu selam 3 bulan dan
sudah jatuh tempo pada 28 Mei.

Sehingga termohon menggunakan jalur hukum untuk dilakukan


eksekusi.

Analisis resiko konflik horizontal yang disebabkan oleh kasus bencana


sosial yang terjadi di atas yaitu:

a. Akibat negatif
Dari kasus yang terjadi pada warga di kampung bugis
tersebut muncul berbagai dampak khususnya pada warga kampong
bugis tersebut diantaranya:
Timbulnya korban luka luka akibat perlawanan yang
dilakukan saat proses eksekusi berlangsung selain dari
masyarakat kampong bugis.Dalam insiden ini nasib nahas
dialami perwira Intel Brimob Iptu I Wayan Suardika. Saat
bentrok terjadi, paha kirinya tertembus panah yang tidak tahu
darimana datangnya. Dalam kondisi berdarah darah, perwira
tersebut digotong anggotanya untuk dibawa ke rumah sakit.
Sebanyak 36 KK itu sekitar 250 jiwa karena 1 KK itu ada
yang 6 orang dan 5 orang kehilangan tempat tinggalnya
Terancam pula masalah kesehatan dan psikologi anak-anak
yang menjadi korban penggusuran tersebut. Memang,
sejumlah anak-anak di lokasi penggusuran nekat menerobos
pagar seng hanya untuk mengambil buku-buku pelajaran
mereka dari balik puing-puing bekas istana orang tuanya.
b. Yang dilakukan tenaga kesehatan saat terjadinya konflik seperti di
atas yaitu:
Menyediakan tempat istirahat sementara bagi para pengungsi
setelah eksekusi dilakukan seperti dengan tenda-tenda
pengungsian
Membantu mencegah terjadinya masalah psikologi atau
trauma psikologi akibat bencana sosial yang terjadi seperti
misalnya pada anak-anak yang kehilangan tempat
tingga,tempat bermain dan tempat belajarnya.Disini peran
sebagai tenaga kesehatan yang dapat dilakukan yaitu dengan
memberikan edukasi dan pengalihan lainnya terhadap
masalah yang dihadapi anak-anak tersebut
Mencegah terjadinya kasus-kasus gangguan kesehatan yang
mungkin terjadi akibat dari ekseskusi seperti penyakit diare
akibat tidak adanya pasokan air bersih,alergi,penurunan imun
dan lain sebagainya.

Dari Bencana sosial yang terjadi tersebut konflik horizontal yang


terjadi dapat menimbulkan dampak yang besar bagi warga yang menjadi
korban baik dari aspek ekonomi,aspek kesehatan,aspek kesejahteraan dan
aspek sosialnya.
2. Kasus Tawuran berdarah antar pelajar di Fly Over Pasar Rebo

JAKARTA - Tawuran berdarah antar pelajar di Fly Over


Pasar Rebo, Ciracas, Jakarta Timur telah mencoreng dunia
pendidikan. Ditambah lagi dari bentrokkan tersebut memakan satu
korban jiwa dan beberapa diantaranya luka berat.

Tawuran itu sendiri diketahui terjadi antara dua kelompok pelajar


yang berasal dari SMK Adi Luhur dan STM Bunda Kandung.
Kemudian, yang menjadi pertanyaan apakah tawuran berdarah itu
memang sudah direncanakan Berdasarkan video berdurasi sekira
tiga menit yang viral di media sosial masyarakat, kedua pelajar itu
berhadap-hadapan dengan sudah membawa dan memegang
beberapa senjata tajam (sajam). Mulai dari samurai, celurit dan tali
pinggang.

Jika melihat dari video itu, kemungkinan tawuran itu


direncanakan sangat jelas dan kentara. Lagipula, apakah mungkin,
seorang pelajar berangkat sekolah membawa sajam, bukan
membawa buku dan alat tulis lainnya.

Namun, pihak kepolisian menampik jika tawuran antar


pelajar itu sudah direncanakan. Kapolres Metro Jakarta Timur
Kombes Muhammad Agung menyatakan kedua kelompok itu
bentrok dengan cara spontanitas.

"Mereka pas datang ya sudah kejadian," kata Agung saat


dihubungi Okezone di Jakarta, Jumat (24/2/2017). Jika tak
direncanakan dan terjadi secara tiba-tiba, apakah dapat diartikan
aparat penegak hukum kecolongan dalam mengamankan keamanan
di masyarakat.
Tetapi, isu tersebut dibantah oleh polisi. Menurut Agung itu
hanyalah kelakuan para pelajar yang tidak mencerminkan seorang
pemuda penerus bangsa. "Tawuran itu untuk para penggangguran
kerjaannya," imbuh Agung.

Selama ini, Agung menegaskan telah mengerahkan


pasukannya untuk melakukan patroli kepada para gerombolan
pelajar yang berkumpul di pinggir jalan atau tempat lainnya.

"Program kita kalo ada kumpul anak-anak itu kita bubarin.


Udah dari tahun lalu-lalu, ada kumpul-kumpul bubarin. Mau
tawuran atau apa ya bubarin," ujar Agung.

Saat ini, pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan dan


memeriksa beberapa saksi. Bahkan, ketika menyambangi rumah
para pelaku, ternyata mereka sudah kabur karena ketakutan akibat
perbuatannya tersebut.

"Itu orangnya pada kabur semua. Kita sudah cari muter-


muter terus. Semoga-ada cepat yang nyangkut (ketangkep) ini,"
tutup Agung.

(ulu)

a. Dampak negative dari kasus diatas yaitu:


Macetnya lalu lintas disekitar lokasi kejadian

Korban meninggal dunia bernama Ahmad Andika Baskara


(17). Ahmad merupakan pelajar di SMK Bunda Kandung.

Pudarnya moral pelajar di Indonesia


Kejadian seperti ini akan menyebabkan pengaruh terhadap aspek-
aspek yang ada didalam masyarakat.Adanya korban jiwa dan luka-luka
seperti ini pun akan berdampak buruk terhadap aspek kesehatan
berhubungan khusus dengan derajat kesehatan.Hal ini dikarenakan kasus ini
mengakibatkan penambahan angka kematian di Indonesia yang buruk
pengaruhnya terhadap aspek kesehetaan

F. Konflik Horizontal Berkaitan dengan Bencana Sosial di


Masyarakat
Tak hanya bencana alam yang berjejer menjadi ancaman nyata di
Indonesia. Sederet bencana sosial pun jamak terjadi di negeri ini.
Kekacauan akibat bencana sosial pun tak bisa dipandang sebelah mata.
Bencana apapun akan menghadirkan kesulitan dan kepayahan.
Mencegah dan mengurangi risiko bencana wajib menjadi bagian dari
rutinitas masyarakat sehari-hari. Setidaknya dapat diawali dengan
melihat dan mempelajari fakta bencana sosial yang rutin mengancam
masyarakat, sebagai berikut :
1. Kebakaran gedung dan pemukiman. Satu fenomena yang amat
sering terjadi di Indonesia adalah bencana kebakaran gedung dan
pemukiman. Utamanya terjadi di musim kemarau. Ketika udara,
dan tanah berada dalam kondisi yang panas kerontang. Sedikit
percikan api akan memicu kobaran besar yang akan berentet pada
gedung dan pemukiman. Kecerobohan manusia biasanya menjadi
penyebab utamanya bencana kebakaran gedung dan pemukiman.
Kecerobohan membangun gedung atau perumahan yang tidak
mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku, korsleting
listrik, kompor meledak, api lilin yang menyambar benda mudah
terbakar, menjadi penyebab utama fenomena bencana kebakaran
gedung dan pemukiman. Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi,
Depok, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung dan sekitarnya
sangat rawan terjadi kebakaran karena kepadatan penduduknya
yang amat masif.
2. Kegagalan teknologi. Fenomena selanjutnya dari bencana sosial
yang sering melanda negeri ini adalah kegagalan teknologi. Kasus
nyatanya adalah bagaimana kegagalan pengaplikasian teknologi
pengeboran tanah mengakibatkan lebih dari 25.000 jiwa
mengungsi, tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77
unit rumah ibadah terendam lumpur sejak tahun 2006 hingga kini.
Selain itu, gagalnya teknologi dapat menimbulkan kebakaran,
pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif,
kecelakaan industri, atau kecelakaan transportasi yang akan
menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.
3. Epidemi dan wabah penyakit. Kondisi demografis penduduk
bangsa ini yang padat dan sebagian besar berada dalam garis
kemiskinan menjadikan ancaman epidemi dan wabah penyakit
semakin nyata mengancam. Kebiasaan sebagian masyarakat yang
kerap kali tak bisa menjaga pola hidup sehat dan higienis pun
menjadi jawaban mengapa banyak masyarakat terutama masyarakat
marjinal yang terkena wabah penyakit. Kejadian demam berdarah,
malaria, diare, gizi buruk, hingga penyakit global macam flu
burung pernah menjadi catatan buruk di Indonesia.
4. Konflik sosial. Kasus fenomena bencana sosial terakhir adalah
konflik sosial. Tak dapat dipungkiri, kemajemukan bangsa yang
memiliki ragam etnis dengan bahasa dan budaya yang berbeda-
beda pula menjadi pemicu utama ketegangan-ketegangan sosial.
Bila tak dapat diredam dan dikelola dengan semangat kebhinekaan,
maka bencana sosial berwujud konflik pun tak dapat dielak.
Perbedaan kepercayaan, perbedaan tingkat kesejahteraan, bahkan
hingga perbedaan warna kulit dan ras yang mencolok pun akan
dimanfaatkan oleh pihak-oihak provokator sebagai api ganas
konflik dan kerusuhan. Belakangan, perbedaan nilai politik dan
warna partai dalam nuansa demokrasi negeri ini pun mampu
menjadi penyulut ekstrim kekacauan bangsa.

G. Analisis Dampak Konflik Horizontal di Masyarakat Berkaitan dengan


Bencana Sosial Secara Umum
Adapun dampak-dampak adanya konflik
1) Akibat negatif dari adanya konflik.
Retaknya persatuan kelompok. Hal ini terjadi apabila terjadi

pertentangan antaranggota dalam satu kelompok.


Perubahan kepribadian individu. Pertentangan di dalam
kelompok atau antarkelompok dapat menyebabkan individu-
individu tertentu merasa tertekan sehingga mentalnya
tersiksa.
Dominasi dan takluknya salah satu pihak. Hal ini terjadi jika
kekuatan pihak-pihak yang bertikai tidak seimbang, akan
terjadi dominasi oleh satu pihak terhadap pihak lainnya.
Pihak yang kalah menjadi takluk secara terpaksa, bahkan
terkadang menimbulkan kekuasaan yang otoriter (dalam
politik) atau monopoli (dalam ekonomi).
Banyaknya kerugian, baik harta benda maupun jiwa, akibat
kekerasan yang ditonjolkan dalam penyelesaian suatu
konflik.
2) Akibat positif dari adanya konflik.
Konflik dapat meningkatkan solidaritas di antara anggota

kelompok, misalnya apabila terjadi pertikaian antar-


kelompok, anggota-anggota dari setiap kelompok tersebut
akan bersatu untuk menghadapi lawan kelompoknya.
Konflik berfungsi sebagai alat perubahan sosial, misalnya
anggota-anggota kelompok atau masyarakat yang berseteru
akan menilai dirinya sendiri dan mungkin akan terjadi
perubahan dalam dirinya.
Munculnya pribadi-pribadi atau mental-mental masyarakat
yang tahan uji dalam menghadapi segala tantangan dan
permasalahan yang dihadapi sehingga dapat lebih men-
dewasakan masyarakat.

Adapun srategi penyelesaian konflik menurut Hugh Miall


(2002:65) bahwa penyelesaian konflik dapat dibedakan sebagai
berikut:
a. Strategi Kompetisi, merupakan penyelesaian konflik yang
menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan
yang lain.
b. Strategi Akomodasi, merupakan penyelesaian konflik yang
menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang
memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain
tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri.
c. Strategi Kolaborasi, merupakan bentuk usaha penyelesaian
konflik yang memuaskan kedua belah pihak.
d. Strategi Penghindaran, menghindari konflik dapat dilakukan
jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu
penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang
dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penghindaran
merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang
berkonfrontasi untuk menenangkan diri.
e. Strategi Kompromi atau Negoisasi, masing-masing
memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang
bersamaan dan saling member serta menerima, serta
meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat
menguntungkan semua pihak.

Salah satu tindakan yang sangat berberan dalam penyelesaian


konflik horizontal yaitu dengan komunikasi. Konflik merupakan aspek
yang tidak bisa dihindarkan dari setiap hubungan. Jika diatur dengan
tidak tepat maka konflik dapat mengarah pada masalah yang tidak dapat
diperbaiki disintegrasi bangsa. Ada keterkaitan antara konflik dan
komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Pepper (dalam Samovar,
dkk., 2010; 382) bahwa komunikasi merupakan karakter konflik yang
dominan karena berfungsi sebagai alat penyebar konflik dan sumber
dari manajemen konflik. Komunikasi hadir sebagai wujud yang melekat
dalam diri masyarakat sosial. Seperti halnya konflik, komunikasi hadir
seiring dengan kehadiran manusia di muka bumi. Komunikasi ibarat
dua mata pedang di satu sisi dapat menjadi pemicu lahirnya konflik
karena kegagalan cara berkomunikasi yang efektif, di sisi lain berperan
sebagai pencegah dan penyelesai konflik itu sendiri. Komunikasi
bukanlah panasea (obat mujarab) bagi segala konflik dalam kehidupan
sosial, namun komunikasi dapat berperan sebagai pereduksi potensi
Smunculnya konflik. Peran komunikasi dalam pencegahan dan
penyelesaian konflik horizontal di Indonesia dapat dilaksanakan melalui
beberapa bentuk, sebagai berikut:
1. Menggiatkan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam
pendidikan damai, toleransi, serta kehidupan berbangsa dan
bernegara. Program ini perlu dilakukan mengingat memudarnya
nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat. Pola pemerintahan yang
berubah menjadikan kedamaian di tengah masyarakat yang pluralis
seperti Indonesia ikut terancam. Maka pendidikan damai dan
toleransi harus kembali digiatkan agar tumbuh rasa saling
menghargai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).
2. Mengembangkan sistem pencegahan dan penyelesaian konflik
melalui jalan damai. Program ini dapat dilaksanakan melalui
membentuk Lembaga Adat atau Majelis Adat di setiap daerah di
Indonesia. Lembaga Adat atau Majelis Adat yang ada saat ini di
Indonesia hanya dimiliki oleh beberapa daerah saja, seperti, Aceh,
Ambon, dan Papua. Alangkah lebih bijaknya jika pemerintah
membentuk lebaga serupa di tiap propinsi guna melakukan
pendekatan humanis kepada seluruh lapisan masyarakat tentang
pentingnya menjaga kedamaian dan persatuan antar-sesama
manusia.
3. Meredam potensi konflik melalui program-program seperti;
melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang
memerhatikan aspirasi masyarakat, menerapkan prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik, melakukan program perdamaian di daerah
berpotensi konflik, mengintensifkan dialog antar-kelompok
masyarakat, dan menegakkan hukum tanpa diskriminatif. Dalam
negara demokrasi, pola komunikasi yang dijalankan adalah dialogis,
interaktif, dan transaksional (komunikasi dua arah), dimana setiap
kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah merupakan hasil dari
perundingan dengan melibatkan masyarakat.
4. Pola penyelesaian konflik harus diubah dari hard power
(menggunakan kekuatan militer) kepada soft power (lebih
mengedepankan dialog). Penyelesaian konflik melalui dialog
merupakan pendekatan bermartabat karena semua pihak yang
terlibat konflik duduk dalam satu meja memikirkan penyelesaian
yang baik bagi kelangsungan kehidupan masyarakat. Pola
penyelesaian konflik seperti ini sudah dilakukan oleh pemerintah
dalam menangani konflik Aceh, Ambon, dan Poso. Meskipun tidak
ada jaminan bahwa konflik tidak terulang lagi, namun dialog
menjadi contoh ampuh bagi penyelesaian konflik.

5. Meningkatkan peran media massa dalam mendukung program


perdamaian serta ikut terlibat dalam penyelesaian konflik
horizontal. Media massa memiliki kekuatan yang besar dalam
merekonstruksi perilaku masyarakat. Paradigm media massa harus
diubah karena selama ini media cenderung berideologi war
journalism dalam daerah konflik. Sudah saatnya media massa
menjalankan peace journalism sebagai bentuk tanggung jawab
sosialnya.
DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unila.ac.id/925/9/BAB%20II.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Februari 2017)

https://www.academia.edu/11066389/Peran_Komunikasi_Dalam_P
enyelesaian_Konflik_Horizontal_di_Indonesia

(Diakses pada tanggal 25 Februari 2017)

http://portal.bekasikab.go.id:8080/alfresco/d/d/workspace/SpacesS
tore/073bca7e-8683-470b-b4e7-418a4ebc83b0/APA%20SIH
%20BENCANA%20DAN%20JENISNYA%20PDF.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Februari 2017)

https://www.academia.edu/6058062/Bencana_sosial

(Diakses pada tanggal 25 Februari 2017)

http://www.neraca.co.id/article/72693/mengapa-konflik-horizontal-
mudah-terjadi-di-indonesia

(Diakses pada tanggal 25 Februari 2017)