Anda di halaman 1dari 16

PASURUAN

LAPORAN PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN


1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan antara daratan dan lautan yang batasnya
dapat didefinisikan baik dalam konteks struktur administrasi pemerintah maupun secara
ekologis. Sebagai negara kepulauan, laut dan wilayah pesisir memiliki nilai strategis dengan
berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga berpotensi menjadi prime mover
pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukkan wilayah pesisir ini
telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan
geografisnya. Agar pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dapat terselenggara secara
optimal, diperlukan upaya penataan ruang sebagai salah satu bentuk intervensi kebijakan
dan penanganan khusus dari pemerintah dengan memperhatikan kepentingan stakeholders
yaitu masyarakat termasuk dunia usaha.
Sesuai dengan UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 1 Tahun 2014, terdapat 3 (tiga) struktur yang menyusun pengelolaan pesisir dan
pulau-pulau kecil, yaitu perencanaan, pemanfaatan, serta pengawasan dan pengendalian.
Struktur perencanaan memuat perencanaan yang bersifat spasial (keruangan) yaitu
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RZWP-3-K.
Pada pasal 7 ayat (3) disebutkan bahwa Pemerintah daerah wajib menyusun Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) sesuai dengan kewenangan
masing-masing. RZWP-3-K merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah pasal 407, bahwa Segala peraturan perundang-undangan yang
berkaitan secara langsung dengan daerah wajib mendasarkan dan menyesuaikan
pengaturannya pada undang-undang ini, sehingga kewenangan pengelolaan laut 0-12 mil
sepenuhnya berada di provinsi.
Atas dasar peraturan-peraturan tersebut, Pemerintah Daerah Provinsi berwenang
menyusun RZWP-3-K provinsi dan Rencana Zonasi Bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil (RZBWP-3-K), serta dapat menyusun Rencana Zonasi Rinci pada zona tertentu.
Kegiatan ini merupakan penyusunan Rencana Zonasi Bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil (RZBWP-3-K), yaitu pendetailan dari Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil pada sebagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. RZBWP-3-K ini
ekivalen dengan RZWP-3-K Kabupaten/Kota sebelum ditetapkannya Undang-Undang
Pemerintahan Daerah yang berdampak pada kewenangan pengelolaan WP-3-K.
Dari 22 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, terdapat 3 kabupaten/kota pesisir pada
bagian utara yang belum menyusun RZWP-3-K Kabupaten/Kota. Ketiga wilayah pesisir
tersebut antara lain Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, dan Kota Probolinggo. Potensi
wilayah pesisir yang melimpah dari ketiga daerah tersebut berpotensi untuk dikembangkan
agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih optimal lagi. Wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil di ketiga daerah tersebut seringkali dijadikan sebagai destinasi pariwisata serta memiliki
komoditas unggulan di bidang perikanan. Adanya peluang ini belum seluruhnya mampu
dikelolah secara baik oleh pemerintah darerah setempat yang salah satunya terwujud
berdasarkan belum termuatnya arahan pengelolaan potensi dan sumberdaya wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil yang ada dalam sebuah dokumen rencana.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-1
PASURUAN
Penyusunan RZBWP-3-K
LAPORAN Kabupaten
PENDAHULUAN Pasuruan
BABdimaksudkan untuk mengantisipasi
I PENDAHULUAN
perkembangan pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang mengalami perubahan
secara menerus dalam jangka waktu tertentu akibat adanya intensitas kegiatan yang
dilakukan oleh penduduk pesisir khususnya untuk Kabupaten Pasuruan. Perkembangan
tersebut dapat bergerak menuju ke arah yang lebih baik, tetapi dapat pula mengakibatkan
terjadinya penurunan efisiensi dan keefektifan struktur dan bentuk kota dalam mendukung
kegiatan kehidupan masyarakat, penurunan keserasian struktur dan bentuk arsitektural,
penurunan kualitas lingkungan hidup, penurunan kesejahteraan masyarakat dan
sebagainya. Penyusunan rencana zonasi bagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
tersebut sangat diperlukan untuk menentukan pemanfaatan ruang bagi kawasan-kawasan
yang menurut pemerintah daerah setempat sangat strategis, serta mengamankan kawasan-
kawasan yang memerlukan perlindungan dari adanya pembangunan yang tidak terkendali.
1.2 Tujuan dan Sasaran
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan Rencana Zonasi Bagian Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZBWP-3-K) Kabupaten Pasuruan ini adalah sebagai
berikut :

1) Menjaga konsistensi pelaksanaan pembangunan dan keserasian perkembangan antara


wilayah pesisir dan wilayah non pesisir sesuai dengan Rencana Tata Ruang Setempat
yang Berlaku;
2) Menjadikan Dokumen RZBWP-3-K Wilayah Pesisir Bagian Utara (Peraturan Zonasi)
sebagai acuan/pedoman operasional dalam pelaksanaan pembangunan dan
peningkatan pelayanan publik, terutama dalam pemberian izin pemanfaatan ruang bagi
daerah Kabupaten Pasuruan;
3) Menyusun dokumen RZBWP-3-K Wilayah Pesisir Bagian Utara sebagai bentuk
operasional pengendalian pemanfaatan ruang sehingga pemanfaatan ruang dapat
sesuai dengan rencana dan menjamin bahwa Rencana Tata Ruang sudah
memperhatikan aspek-aspek lingkungan hidup berkelanjutan dengan tetap
memperhatikan aspirasi stakeholder;
4) Mewujudkan dokumen RZBWP-3-K Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan sebagai salah
satu bagian dari penyusunan RZWP-3-K Provinsi Jawa Timur.

Agar tujuan di atas dapat dicapai, maka perlu dicapai beberapa tahapan yang tertuang
dalam sasaran pekerjaan penyusunan RZBWP-3-K Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan
sebagai berikut:
1) Melakukan identifikasi potensi sumberdaya meliputi sumberdaya hayati, non hayati,
buatan dan jasa lingkungan;
2) Mengidentifikasi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
3) Mengindentifikasi isu-isu strategis pemanfaatan kawasan;
4) Menyusun peta dasar dan peta-peta tematik di kawasan;
5) Memformulasikan tujuan, kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan;
6) Menyusun rencana alokasi ruang untuk pemanfaatan ruang kawasan;
7) Menyusun arahan pemanfaatan di masing-masing zona/subzona di kawasan;
8) Menyusun rencana kawasan prioritas pemanfaatan kawasan;
9) Menyusun peraturan pemanfaatan ruang kawasan;
10) Memformulasikan indikasi program pemanfaatan Kawasan;

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-2
PASURUAN
1.3 Ruang LingkupLAPORAN PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
a. Ruang Lingkup Wilayah
Lokasi pekerjaan berada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (BWP-3-K)
Kabupaten Pasuruan sampai batas perairan 4 mil.
b. Ruang Lingkup Substansi Pembahasan
Rencana Zonasi Bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil wajib disusun pada
sebagian wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil yang menjadi kewenangan
provinsi, dengan skala minimal 1:50.000. Adapun lingkup substansi pembahasan
penyusunan RZBWP-3-K Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan ini terdiri atas:
1. Melakukan identifikasi kelengkapan data
Berdasarkan tinjauan terhadap UU No 27 Tahun 2007 jo UU No 1 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil didapatkan informasi mengenai
kelengkapan data dan informasi yang hendaknya ada dalam sebuah dokumen
perencanaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terdiri atas 13 data-set, artinya
ke-13 data-set ini harus ada didalam sebuah dokumen RZBWP-3-K agar mampu
menghasilkan dokumen perencanaan yang harmonis dengan kondisi pesisir. Ke-13
data-set tersebut antara lain:
1) Data terrestrial (tanah, topografi, kemiringan);
2) Data bathimetri;
3) Data geologi dan geomorfologi laut;
4) Data oseanografi (arus, pasang surut, gelombang, kualitas air, biologi perairan);
5) Data ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun);
6) Data sumberdaya ikan;
7) Data penggunaan lahan dan status lahan;
8) Data pemanfaatan wilayah laut;
9) Data sumber daya air;
10) Data infrastruktur;
11) Data demografi dan sosial;
12) Data ekonomi wilayah; dan
13) Data risiko bencana dan pencemaran.

Masing-masing jenis data tersebut diuraikan sebagai berikut:


1) Oseanografi
Pengumpulan data primer dataset oseanografi, dilakukan hingga 4 mil, meliputi:
a. Arus
Pengukuran arus di perairan laut dilakukan minimal selama 3 x 24 jam
menggunakan alat ADCP (Accoustic Doppler Current Profiler) dengan interval
waktu pencatatan antara 10-60 menit (umumnya dilakukan setiap 60 menit) di
dua titik pengukuran yang mewakili lokasi kajiansecara simultan. Pengukuran
arus sebaiknya dilakukan pada saat kondisi pasang surut pada fase spring tide
(pasang surut di saat bulan purnama atau bulan mati), hal ini untuk memperoleh
hasil pengukuran arus yang optimal.
b. Gelombang
Pengukuran gelombang di perairan laut dilakukan minimal selama 3 x 24 jam
menggunakan alat ADCP (Accoustic Doppler Current Profiler) dengan interval
waktu pencatatan antara 10-60 menit di dua titik pengukuran yang mewakili
lokasi kajian secara simultan. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada saat
kondisi pasang surut pada fase spring tide (pasang surut di saat bulan purnama
atau bulan mati), hal ini untuk memperoleh hasil pengukuran gelombang dengan
kondisi pasang surut dengan kisaran yang besar.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-3
PASURUAN
a. Pasang SurutLAPORAN PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
Pengukuran pasang surut setiap 1 (satu) jam dengan menggunakan peralatan
tide recorder pada 2 stasiun pengamatan secara simultan. Penyedia jasa harus
mengikat elevasi muka air laut pasang surut ke titik ikat referensi Bench Mark
terdekat (jika ada). Jika tidak ada maka harus dibuatkan Bench Mark. Survei
pasang surut dilaksanakan selama 15 hari.
b. Suhu
Analisis suhu permukaan laut melalui interpretasi citra satelit yang memiliki band
thermal contohnya Citra MODIS.Untuk mendapatkan sebaran nilai suhu
permukaan laut setiap grid 500 m pada citra satelit dilakukan tranformasi
matematis menggunakan software pengolah citra. Analisis suhu permukaan laut
dilakukan berdasarkan data bulanan minimal selama lima tahun.
Hasil transformasi matematis tersebut digunakan untuk menentukan titik sampel
pengukuran suhu permukaan laut di lapangan. Jumlah dan lokasi sampel
ditentukan berdasarkan keragaman nilai suhu permukaan laut dan keterwakilan
wilayah.
Penyedia jasa harus menyerahkan hasil pengolahan citra satelit suhu kepada
pemberi pekerjaan paling lambat sebelum melaksanakan survei lapangan untuk
pengambilan sampel suhu.
c. pH dan Salinitas
Pengukuran PH dan Salinitas secara langsung di lapangan dengan
menggunakan waterchecker/alat pengukur pH dan salinitas. Lokasi sampel
ditentukan dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah perairan setempat.
d. Klorofil
Pengukuran klorofil melalui interpretasi citra satelit yang memiliki band thermal
contohnya Citra MODIS. Untuk mendapatkan sebaran nilai klorofil setiap grid
500 m pada citra satelit dilakukan tranformasi matematis menggunakan software
pengolah citra. Analisis klorofil dilakukan berdasarkan data bulanan minimal
selama lima tahun. Hasil transformasi matematis tersebut digunakan untuk
menentukan titik sampel pengukuran klorofil di lapangan.
Penyedia jasa harus menyerahkan hasil pengolahan citra satelit klorofil kepada
pemberi pekerjaan paling lambat sebelum melaksanakan survei lapangan.
2) Ekosistem pesisir dan sumberdaya ikan
a) Terumbu Karang
Survei yang dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang terumbu
karang yang meliputi: jenis, sebaran, luasan, dan kondisi terumbu karang. Untuk
mendeteksi keberadaan, sebaran dan luasan terumbu karang dilakukan analisis
citra satelit, dengan resolusi minimal 1 x 1 m. Hasil analisis citra satelit
digunakan untuk penentuan lokasi pengamatan.
Berdasarkan penentuan lokasi pengamatan dari hasil analisis citra satelit,
penyedia jasa harus melakukan survey manta taw untuk mengetahui sebaran
dan presentase tutupan terumbu karang. Presentase tutupan terumbu karang
hasil survey manta taw dikelompokkan menjadi baik, sedang dan kurang baik.
Berdasarkan hasil manta taw, selanjutnya penyedia jasa melakukan survey
dengan metode LIT terhadap masing-masing kelompok presentase terumbu
karang. Metode LIT dilakukan untuk mendapatkan informasi kondisi terumbu
karang diantaranya indeks keseragaman, indeks keanekaragaman, dan indeks
dominansi serta indeks nilai penting.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-4
PASURUAN
Hasil pengukuran
LAPORAN setiap kategori lifeform
PENDAHULUAN BABkarang hidup pada pengamatan
I PENDAHULUAN
dengan metode transek garis menyinggung (LIT= Line Intercept Transect)
tersebut, dijumlahkan dan dibagi dengan panjang total transek serta dikalikan
seratus persen maka akan diperoleh persentase tutupan karang hidup (English
et al., 1997).
b) Lamun
Kegiatan survey untuk mengumpulkan data dan informasi tentang lamunyang
meliputi: jenis, sebaran, luasan, dan kondisi lamun. Survey lapangan dilakukan
dengan menggunakan metode LIT untuk mendapatkan informasi sebaran lamun
diantaranya presentase lamun, indeks keseragaman, indeks keanekaragaman,
dan indeks dominansi serta indeks nilai penting.
c) Mangrove
Kegiatan survey untuk mengumpulkan data dan informasi tentang mangrove
yang meliputi: jenis, sebaran, luasan, dan kondisi (penutupan tajuk dan
kerapatan pohon) mangrove. Untuk mendeteksi keberadaan, sebaran dan
luasan mangrove dilakukan analisis citra satelit, dengan resolusi minimal 1 x 1
m.
Hasil analisis citra satelit digunakan untuk titik pengamatan. Berdasarkan
penentuan titik sample, dilakukan Survey lapangan dengan metode transek 10 x
10 m untuk mengetahui jenis, jumlah individu per jenis, diameter batang,
penutupan tajuk (%) dan kerapatan pohon (jumlah pohon per hektare) dan
kondisi mangrove diantaranya komposisi jenis, kerapatan jenis, frekuensi jenis,
nilai penting jenis.
3) Sumberdaya ikan
a) Ikan Demersal
Kegiatan survey untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai jenis dan
kelimpahan ikan demersal. Survei lapangan dilakukan bersamaan dengan survei
ekosistem (terumbu karang, lamun, dan mangrove), bersamaan untuk
memperoleh jenis, kelimpahan/biomassa, keanekaragaman, keseragaman,
dominansi ikan demersal, dan makrobentos.
Selain itu data primer ikan demersal dapat diperoleh dari survey visual sensus.
Keanekaragaman jenis ikan karang dihitung berdasarkan rumus Indeks
Keanekaragaman Shannon-Wienner. Untuk menghitung biomassa ikan
demersal (g/m2), data panjang ikan karang per satuan luas transek m 2
selanjutnya dikonversi menjadi data berat ikan karang dengan menggunakan
persamaan hubungan panjang dan berat.

b) Survei DPI pelagis


Pengukuran densitas ikan (jenis dan kelimpahan ikan) pelagis di lapangan
dilakukan pada waktu dan musim yang sama dengan tanggal perekaman citra
penginderaan jauh. Metode pengukuran jenis dan kelimpahan ikan pelagis di
lapangan sebagai berikut:
i) Pencatatan Data Hasil Tangkapan
Data hasil tangkapan meliputi: komposisi jumlah dan jenis serta total hasil
tangkapan setiap hauling. Pengambilan data dilakukan dengan cara
menimbang hasil tangkapan ikan dengan menggunakan timbangan pada
setiap kegiatan hauling selesai dilaksanakan.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-5
PASURUAN
Penghitungan
LAPORAN jumlah tangkapan ikanberasal
PENDAHULUAN BAB I dari kapal ikan (jumlah lebih dari
PENDAHULUAN
satu kapal ikan sejenis dengan ukuran dan jumlah trip yang sama). Untuk
mendapatkan data yang memiliki waktu yang sama dengan data dari hasil
analisis citra penginderaan jauh dan GIS, maka data penangkapan ikan dari
kapal ikan diambil pada periode waktu yang sama dengan data penginderaan
jauh/citra satelit dan data GIS. Apabila analisis citra satelit menggunakan data
citra satelit multitemporal 5 tahun, maka data hasil tangkapan ikan
menggunakan data pada pariode yang sama. Data dapat diperoleh dari
fishing log book selama 5 tahun.
ii) Identifikasi densitas ikan menggunakan Metode Hidroakustik
Metode hidroakustik dilakukan untuk memperoleh informasi tentang obyek di
bawah air dengan cara pemancaran gelombang suara dan mempelajari
pantulan gelombang suara yang dihasilkan. Perangkat akustik yang
digunakan antara lain: echosounder, fish finder, dan sonar. Berdasarkan
metode ini, dapat diketahui tingkat densitas ikan per meter kubik dan dapat
diketahui sebarannya untuk wilayah perairan yang disurvey.
c) Jenis biota laut lain yang dilindungi
Kegiatan survei untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai jenis ikan
yang dilindungi di lokasi kajian dan dilakukan dalam waktu yang bersamaan
dengan survei ikan demersal dan survei ikan pelagis.
4) Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting
Kegiatan survei pemanfaatan wilayah laut eksisting bertujuan mengumpulkan data
dan informasi mengenai jenis dan lokasi pemanfaatan wilayah laut yang telah ada.
Untuk mendeteksi lokasi pemanfaatan wilayah laut yang ada dilakukan analisis citra
satelit dengan resolusi minimal 1 m dan data sekunder pemanfaatan wilayah laut.
Hasil analisis citra satelit digunakan untuk ground check untuk mengetahui jenis
pemanfaatan wilayah laut yang adadi lokasi kajian.
5) Demografi, Sosial dan Budaya
Kegiatan interpretasi citra untuk mengetahui sebaran pemukiman sebelum
melakukan survey lapangandi lokasi kajian. Selanjutnya dilakukan survey lapangan
untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai:
a) Demografi, meliputi antara lain: jumlah penduduk, gender, tenaga kerja,
jumlah nelayan dan pembudidaya ikan, mata pencaharian, pendidikan.
b) Sosial, meliputi antara lain: wilayah masyarakat hukum adat (lokasi, batas dan
karakteristik), wilayah penangkapan ikan secara tradisional (lokasi, batas, dan
karakteristik).
c) Budaya, meliputi antara lain: kondisi dan karakteristik masyarakat setempat
termasuk tempat suci dan kegiatan peribadatannya, aktifitas/ritual keagamaan,
situs cagar budaya, dll.
Pengumpulan data primer yang dilakukan adalah melaluipengamatan secara
langsung di lapangan melalui kegiatan observasi, wawancara dan penyebaran
kuisioner.
Observasi lapangan
Wawancara
Penyebaran kuisioner

6) Ekonomi Wilayah

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-6
PASURUAN
PengumpulanLAPORAN
data dan informasi, yang meliputi
PENDAHULUAN BABantara lain: LQ, input-output, mata
I PENDAHULUAN
pencaharian, pendapatan perkapita, angkatan kerja dan tingkat pengangguran,
pendapatan kegiatan ekonomi perikanan dan kelautan, produksi perikanan,
pendapatan rata-rata dan pengeluaran, komoditas unggulan, dll.
7) Resiko Bencana dan Pencemaran
Pengumpulan data dan informasi mengenai resiko bencana (jenis, lokasi, batas,
riwayat kebencanaan, tingkat kerusakan, kerugian) dan pencemaran (lokasi dan
sumber pencemaran). Untuk mendeteksi resiko bencana dan pencemaran
dilakukan ground check dengan menggunakan GPS dan wawancara. Pelaksanaan
survey ini dilakukan bersamaan dengn survey sarana dan prasarana.

2. Melakukan analisis
Tahap ini merupakan tahap analisis kembali terhadap jenis data yang telah melalui
proses identifikasi pada tahap sebelumnya. Kegiatan analisis ini menyesuaikan
dengan tingkat kebutuhan kawasan. Beberapa upaya analisis yang dapat dilakukan
berdasarkan jenis datanya adalah sebagai berikut:
1) Oseanografi
a. Fisika Perairan
Setelah memperoleh data dari pengukuran di lapangan, maka hal terpenting
adalah bagaimana data tersebut dapat diolah sehingga dapat dilakukan analisis
sesuai tujuan yang akan dicapai. Data arus diolah dalam bentuk scatter diagram
dan scatter plot.
ARUS LAUT
i) Vector dan Scatter Plot Arus laut
Tujuan dari penyajian data dengan vektor arus adalah untuk mengetahui
pola arah dan besarnya kecepatan arus terhadap waktu (selama waktu)
pengukuran. Adapun scatter plot arus ialah untuk mengetahui distribusi
kecepatan dan arah arus selama pengukuran.
Grafik Elevasi (Pasut), Kecepatan dan Arah Arus
Tujuan dari penyajian data dengan grafik elevasi (pasut), kecepatan dan
arah arus adalah untuk mengetahui pola arah dan besarnya kecepatan arus
terhadap waktu (selama waktu) pengukuran, yang dikaitkan dengan kondisi
pasang surut (elevasi muka air laut). Hal ini juga merupakan salah satu cara
untuk mengetahui hubungan pasut dengan kondisi arus. Apakah pola
arusnya mengikuti pola pasang surut atau tidak. Selain itu juga untuk
melihat bagaimana kondisi arus di kedalaman permukaan, tengah maupun
dasar.
Current Rose (Mawar Arus)
Selanjutnya untuk melihat frekuensi kejadian arus selama pengukuran
dilakukan analisis statistik dengan menyajikan current rose dan tabelnya.
Pada analisis tersebut arah arus dikelompokkan 16 mata angin dimana
setiap 22,5 derajat terwakili oleh 1 arah mata angin.
Plot World Current Untuk Mengetahui Jenis Arus (Pasut atau Selain
Pasut)
Untuk membantu analisis arus digunakan Program World Current Versi 1.03
(12 Desember 2006). Grafik 3-day plot menunjukkan data arus yang diamati
(warna merah), prediksi (biru), sisa/pengurangan (hijau), sehingga

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-7
PASURUAN
memberikan
LAPORANsebuah grafik yang fluktuaktif
PENDAHULUAN dalam bentuk gelombang yang
BAB I PENDAHULUAN
menunjukkan model harmonik pasut sesuai dengan data tersebut.
Distribusi Spasial Pola Arus
Nilai kecepatan dan arah arus disetiap titik-titik grid yang dihasilkan dari
pemodelan matematik hidrodinamika pola arus yang ada di seluruh perairan
di wilayah perencanaan. Diinterpolasi sehingga menghasilkan kontur isoline
kecepatan arus. Kontur isoline kecepatan arus kemudian diklasifikasi dengan
interval kontur setiap 0,05 meter per detik.
Melakukan analisis pemodelan arus
Untuk mendapatkan data spasial kecepatan dan arah arus dilakukan pemodelan
matematika hidrodinamika pola arus, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Input pemodelan:
Data pasang surut selama 30 hari 30 malam dengan interval pencatatan
selama 1 jam di 2 titik sebagai input syarat batas (boundary condition)
Data arah dan kecepatan angin
Data Kedalaman laut (bathimetri) (shapefile)
Data Kedalaman Laut diolah dengan grid generator ke dalam grid maksimum
500 meter.
Proses pemodelan hidrodinamika pola arus:
Distribusi spasial kecepatan dan arah arus disimulasikan dengan model
matematika hidrodinamika pola arus
Nilai kecepatan arus disetiap titik-titik grid diinterpolasi sehingga
menghasilkan kontur isoline kecepatan arus. Kontur isoline kecepatan arus
kemudian diklasifikasi dengan interval kontur setiap 0,05 meter per detik.
1. GELOMBANG
i) Analisis Gelombang Representatif
Data hasil pengamatan gelombang dianalisis menggunakan metode
penentuan gelombang representatif sebagai berikut:

H1 + H 2 + ... + H N T + T + ... + TN
Hs = Ts = 1 2
n n

dimana: n = 33,3% x Jumlah data


Nilai Hs dihitung dari 33,3% kejadian tinggi gelombang tertinggi, sedangkan
nilai Ts dihitung dari 33,3% kejadian periode gelombang terbesar. Guna
mengetahui kondisi gelombang pada berbagai musim, gelombang dapat
diprediksi berdasarkan data angin dengan mempertimbangkan panjang
fetch, kecepatan dan arah angin. Data angin dapat diperoleh dari stasiun
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika terdekat.
ii) Perhitungan Parameter Gelombang
Data parameter gelombang yang dianalisis, meliputi frekuensi gelombang,
panjang gelombang, bilangan gelombang, kecepatan gelombang, tinggi dan
kedalaman gelombang pecah, koefisien refraksi, koefisien defraksi dan
koefisien pendangkalan. Data parameter gelombang salah satunya dapat
digunakan untuk menentukan kedalaman relatif.
Kedalaman relatif adalah perbandingan antara kedalaman air dan panjang
gelombang (Yuwono, 1982). Berdasarkan data kedalaman relatif (d/L) dapat
dilakukan perhitungan klasifikasi gelombang yaitu:

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-8
PASURUAN
Gelombang
LAPORAN di PENDAHULUAN
laut dangkal jika d/L < 0,05
BAB I PENDAHULUAN
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
kurang dari 0,05 maka disebut sebagai gelombang perairan dangkal atau
gelombang panjang.
Gelombang di laut transisi jika 0,05 < d/L < 0,5
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
berada diantara 0,05 sampai 0,5 maka disebut sebagai gelombang
perairan menengah.
Gelombang di laut dalam jika d/L > 0,5
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
lebih besar dari 0,5 maka disebut gelombang perairan dalam.
Dimana d adalah kedalaman laut dan L adalah panjang gelombang.
iii) Pemodelan Matematis Penjalaran Gelombang
Nilai tinggi gelombang yang dihasilkan dari pemodelan matematik refraksi
gelombang berupa nilai tinggi gelombang disetiap titik grid yang ada di
seluruh perairan di wilayah perencanaan diinterpolasi sehingga
menghasilkan kontur tinggi gelombang. Kontur tinggi gelombang kemudian
diklasifikasi dengan interval kontur gelombang setiap 0,1 meter.
Untuk mendapatkan data spasial distribusi tinggi dan arah gelombang
dilakukan pemodelan spasial refraksi gelombang, dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Input Pemodelan:
Data angin di wilayah kajian (Jam/harian) untuk pariode 5 tahun (Numerik)
Data Kedalaman laut (bathimetri) (shapefile)
Data Kedalaman Laut diolah dengan grid generator ke dalam grid maksimum
500 meter untuk wilayah perairan PPKT
Proses Pemodelan Refraksi Gelombang:
Melakukan prediksi tinggi gelombang, pariode dan arah gelombang dari data
angina.
Distribusi spasial tinggi dan arah gelombang setiap grid (setiap grid 500
meter)di seluruh wilayah perencanaan dimodelkan dengan model matematis
refraksi gelombang.
Nilai tinggi gelombang disetiap titik grid yang diperoleh dari hasil pemodelan
matematik diinterpolasi sehingga menghasilkan kontur tinggi gelombang.
Kontur tinggi gelombang kemudian diklasifikasi dengan interval kontur
gelombang setiap 0,1 meter.
Peta kontur gelombang digambarkan dengan interval kontur gelombang
setiap 0,1 meter.
2. SUHU
Analisis suhu dilakukan dengan cara mengkoreksi data suhu permukaan laut
hasil pengolahan citra satelit dengan hasil pengukuran di lapangan. Koreksi
dilakukan dengan transformasi matematis menggunakan software pengolah
citra, sehingga dihasilkan data suhu permukaan laut yang valid/sesuai kondisi
lapangan. Berdasarkan data suhu permukaan laut yang telah terkoreksi
dilakukan penyusunan peta kontur isotherm dengan metode interpolasi nilai-nilai
suhu permukaan laut di setiap titik grid pada wilayah perencanaan. Peta suhu

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I-9
PASURUAN
digambarkan padaskala
LAPORAN 1:50.000, dalam
PENDAHULUAN BABbentuk garis kontur isoline pada
I PENDAHULUAN
o
rentang antara 20-35 C dengan interval 0,5 (C).
b. Kimia dan Biologi Perairan
(1) pH dan salinitas
Perhitungan analisis pH hasil pengukuran in situ di lapangan untuk setiap
titik sampel kemudian diinterpolasi sehingga menghasilkan kontur isoline pH
untuk seluruh perairan di wilayah perencanaan. Peta sebaran pH skala
1:50.000 digambar dalam bentuk garis kontur isolinepada rentang antara 4-9
dengan selang kontur 0,5.
Kegiatan analisis salinitas hasil pengukuran in situ di lapangan untuk setiap
titik kemudian diinterpolasi sehingga menghasilkan kontur isoline salinitas
untuk seluruh perairan di wilayah perencanaan.Peta sebaran salinitas
dengan skala 1:50.000 digambar dalam bentuk isoline pada rentang antara
15-35 0/0 dengan selang kontur per 1 0/0.
(2) Klorofil
Perhitungan analisis klorofil dengan cara mengkoreksi data klorofil hasil
pengolahan citra satelit dengan hasil analisis laboratorium. Koreksi
dilakukan dengan transformasi matematis menggunakan software pengolah
citra, sehingga dihasilkan data klorofil yang valid/sesuai kondisi lapangan.
Berdasarkan data klorofil yang telah terkoreksi dilakukan penyusunan peta
kontur isoline dengan metode interpolasi nilai-nilai klorofil di setiap titik grid
pada wilayah perencanaan.Peta sebaran klorofil digambarkan padaskala
1:50.000, dalam bentuk garis kontur isoline dengan interval 0,1 mg/m3.
2) Ekosistem Pesisir
1. Terumbu Karang
Kegiatan analisis data hasil survey terumbu karang dengan menentukan tutupan
terumbu karang, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks
dominansi biota. Hasil analisis ini harus menggambarkan kondisi terumbu karang
(sangat baik, baik, sedang, atau buruk) sesuai ketentuan.
Penyedia jasa harus menggambarkan peta sebaran dan kondisi terumbu karang
dengan skala 1:50.000 yang ditampilkan dalam bentuk lingkaran berskala yang
mengindikasikan kondisi (sangat baik, baik, sedang, atau buruk).
2. Lamun
Kegiatan analisis data hasil survey ekosistem lamun. Berdasarkan hasil
pengukuran presentase padang lamun dilakukan pengolahan untuk memperoleh
komposisi jenis lamun, kerapatan spesies, dan penutupan spesies. Peta sebaran
padang lamun dengan skala 1:50.000 digambarkan dalam bentuk polygon,
kondisi lamun (komposisi, kerapatan, presentase penutupan lamun, dan
penutupan spesies) ditampilkan dalam bentuk lingkaran berskala yang
mengindikasikan kondisi (kaya, kurang kaya, miskin). Sedangkan jenis lamun
disajikan dalam bentuk simbol.
3. Mangrove
Kegiatan analisis data hasil survey ekosistem mangrove. Berdasarkan data
mangrove yang telah diidentifikasi di lapangan berupa spesies, jumlah individu
dan diameter pohon, dilakukan pengolahan untuk memperoleh informasi
kerapatan jenis, frekuensi jenis, penutupan jenis, indeks keanekaragaman,
indeks kemerataan, dan nilai penting jenis.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 10


PASURUAN
Peta sebaran mangrove
LAPORAN dengan skala BAB
PENDAHULUAN 1:50.000 digambarkan dalam bentuk
I PENDAHULUAN
polygon. Kondisi mangrove yang meliputi kerapatan jenis, frekuensi jenis,
penutupan jenis, indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, nilai penting jenis
digambarkan dalam bentuk diagram batang, penutupan tajuk (lebat, sedang,
jarang) dan kerapatan pohon (rapat, sedang, jarang).
3) Sumberdaya Ikan
a. Sumberdaya ikan demersal
Kegiatan analisis potensi sumberdaya ikan demersal melalui kombinasi metode
hidroakustik dan asumsi OUS (Operational Unit Stock).OUS dilakukan
berdasarkan data yang dikumpulkan melalui kegiatan survey penangkapan ikan
dasar dengan alat tangkap dasar. Sedangkan metode hidroakustik dilakukan
dengan menggunakan alat bantu hidroakustik meliputi area yang dicakupi secara
spasial. Analisis OUS dan hidroakustik menghasilkan informasi daerah
penyebaran ikan demersal, komposisi jenis, indeks kelimpahan stok yang
digambarkan dalam peta sumberdaya ikan.
Peta sumberdaya ikan demersal dengan skala 1:50.000 digambarkan dalam
lingkaran berskala kualitatif.
b. Sumberdaya Ikan Pelagis
Untuk memvalidasi informasi daerah penangkapan ikan, dilakukan dengan
membandingkan nilai DPI pelagis menggunakan pendekatan citra sateit
penginderaan jauh terhadap hasil pengukuran densitas ikan (jenis dan
kelimpahan ikan pelagis) dilapangan. Validasi dilakukan dengan metode sebagai
berikut:

Gambar 1.1 Bagan Metoda Survei Validasi


Sumber: DKP Provinsi Jawa Timur, 2016
c. Ikan yang dilindungi
Kegiatan identifikasi terhadap data hasil survey sumberdaya ikan demersal untuk
mengetahui keberadaan sumberdaya ikan yang dilindungi sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku. Peta sumberdaya ikan yang dilindungi
dengan skala 1:50.000 memuat lokasi indikasi ditemukannya sumberdaya ikan
yang dilindungi yang digambarkan dalam bentuk point.
4) Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting
Kegiatan ploting data pemanfaatan wilayah laut eksisting baik berdasarkan hasil
identifikasi citra satelit maupun hasil ground check. Hasil Survey pemanfaatan

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 11


PASURUAN
wilayah laut ditampilkan pada peta pemanfaatan
LAPORAN PENDAHULUAN wilayah laut skala 1:50.000
BAB I PENDAHULUAN
digambar dalam bentuk polygon dan point.
5) Demografi, Sosial dan Budaya
Pengumpulan data dan informasi mengenai:
a) Demografi, meliputi: jumlah penduduk, gender, tenaga kerja, jumlah nelayan
dan pembudidaya ikan, mata pencaharian, pendidikan.
b) Sosial, meliputi: wilayah masyarakat hukum adat (lokasi, batas dan
karakteristik), wilayah penangkapan ikan secara tradisional (lokasi, batas, dan
karakteristik).
c) Budaya, meliputi: kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk
tempat suci dan kegiatan peribadatannya, aktifitas/ritual keagamaan, situs cagar
budaya dll.
6) Ekonomi Wilayah
Pengumpulan data dan informasi mengenai kegiatan ekonomi masyarakat meliputi
tingkat pendapatan masyarakat per kecamatan; Analisis dituangkan dalam peta
dengan skala 1:50.000 digambar dalam bentuk point/polygon disertai informasi
dalam bentuk diagram/tabel/pie chart.
7) Analisis Kesesuaian
Analisis kesesuaian penggunaan ruang laut dan darat dengan menggunakan
kriteria-kriteria untuk menentukan kesesuaian kawasan, zona, dan sub zona yang
meliputi:
a. Kawasan Pemanfaatan
Umum, yang dijabarkan dalam kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan
masyarakat,
b. Kawasan Konservasi yang
ditujukan untuk pelestarian lingkungan
c. Alur Laut untuk mendukung
keamanan pelayaran dan keamanan migrasi biota.
d. Kawasan Strategis
Nasional Tertentu yang ditujukan untuk pertahanan dan keamanan
8) Analisis Non Spasial
Analisis non spasial meliputi:
a) Analisis Kebijakan dan Kewilayahan
b) Analisis Sosial dan Budaya
c) Analisis Infrastruktur
d) Analisis Ekonomi Wilayah
e) Analisis Daya Dukung Wilayah
Hasil analisis non spasial diformulasikan untuk menyempurnakan usulan peta
alokasi ruang.
9) Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang
Analisis konflik pemanfaatan ruang dilakukan dengan menganlisis konflik di wilayah
perairan maupun penyelarasannya dengan struktur ruang dan pola ruang di
darat.Analisis konflik pemanfaatan ruang di perairan juga dilakukan terhadap potensi
penggunaan ruang perairan secara tiga dimensi (horizontal dan vertikal). Dalam
analisis tersebut, perlu diikuti dengan alternatif penyelesaian konflik (resolusi konflik).
Contoh matriks keterkaitan antar kegiatan pemanfaatan ruang pesisir dapat dilihat
pada gambar berikut:

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 12


PASURUAN
LAPORAN PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

Gambar 1.2 Simulasi Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang


Sumber: DKP Provinsi Jawa Timur, 2016

3. Penentuan Alokasi Ruang


Menyusun draft peta Rencana Zonasi Bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten Pasuruan sebagai penuangan akhir dari keseluruhan proses analisis ke
dalam rumusan alokasi ruang kawasan/zona/subzona.

4. Penyusunan Peraturan Pemanfaatan Ruang


Menyusun peraturan pemanfaatan ruang yang memuat ketentuan-ketentuan
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian yang disusun untuk setiap zona
peruntukan.

5. Penyusunan Indikasi Program


Menyusun indikasi program yang memuat rangkaian program pembangunan jangka
panjang (20 tahun) yang tersusun dalam tahapan jangka menengah dan institusi
yang menjadi leading sector. Dalam desain rancangan program tersebut termasuk
mencantumkan lokasi, sumber pendanaan, dan besaran biaya yang dibutuhkan serta
indikasi program utama atau prioritasi program.

c. Ruang Lingkup Waktu Perencanaan


Ruang lingkup waktu perencanaan penyusunan RZBWP-3-K Wilayah Pesisir
Kabupaten Pasuruan adalah selama 20 (dua puluh) tahun, dimana setiap indikasi
program yang dilakukan akan disusun dimulai tahun pertama hingga tahun
keduapuluh. Setiap 5 (lima) tahun dapat dilakukan evaluasi untuk meninjau
ketidaksesuaian rencana dengan pelaksanaan.

1.4 Dasar Hukum


Landasan hukum yang menjadi dasar pertimbangan dalam kegiatan ini adalah:
1.Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
dan Ekosistemnya;
2.Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 13


PASURUAN
3.Undang-Undang Nomor 22PENDAHULUAN
LAPORAN Tahun 2001 tentang Minyak
BAB dan Gas;
I PENDAHULUAN
4.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional;
5.Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
6.Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
7.Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
8.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
9.Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun
2004 tentang Perikanan;
10. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014;
11. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No 9 Tahun 2015;
12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara pemerintah, Pemerintahan Daerah, Provinsi dan Pemerintahan
Daerah Kab/ Kota;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber
Daya Ikan;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Pulau-
Pulau Kecil Terluar;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana
Tata Ruang;
20. Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
21. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.17/MEN/2008 tentang
Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
22. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.30/MEN/2010 Tahun
2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan;
23. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.2/MEN/2011 tentang Jalur
Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengeloaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
24. Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 68 Tahun 2011 tentang Alur
Pelayaran di Laut;
25. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No PER.08/MEN/2012 tentang
Kepelabuhanan Perikanan;
26. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pedoman
Penegasan Batas Daerah;
27. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34/PERMEN-KP/2014
tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 14


PASURUAN
1.5 Kedudukan DokumenLAPORAN PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
Secara hierarki rencana tata ruang dan rencana zonasi kawasan pesisir dan pulau-
pulau kecil dapat dilihat pada gambar 1.1. sebagai berikut:

Gambar 1.3 Hierarki Rencana Tata Ruang dan Rencana Zonasi


Sumber: DKP Provinsi Jawa Timur, 2016

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil adalah sebagai berikut:
a. Merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil Pemerintah Provinsi untuk RZWP3K dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk
RZBWP3K.
b. RZWP-3-K atau RZBWP-3-K diserasikan, diselaraskan, dan diseimbangkan
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pemerintah provinsi dan/atau
pemerintah kabupaten/kota.
c. Perencanaan RZWP-3-K dan RZBWP-3-K dilakukan dengan mempertimbangkan:
i. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dengan daya dukung ekosistem,
fungsi pemanfaatan dan fungsi perlindungan, dimensi ruang dan waktu,
dimensi teknologi dan sosial budaya, serta fungsi pertahanan dan keamanan;
ii. keterpaduan pemanfaatan berbagai jenis sumber daya, fungsi, estetika
lingkungan, dan kualitas lahan pesisir;
iii. kewajiban untuk mengalokasikan ruang dan akses Masyarakat dalam
pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mempunyai fungsi
sosial dan ekonomi.
d. Jangka waktu berlakunya RZWP-3-K dan RZBWP-3-K selama 20 (dua puluh)
tahun dan dapat ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 15


PASURUAN
e. RZWP-3-K LAPORAN
ditetapkan PENDAHULUAN
dengan Peraturan Gubernur
BAB sedangkan RZBWP-3-K
I PENDAHULUAN
ditetapkan dengan peraturan daerah.

Penyusunan Rencana Zonasi meliputi kegiatan berikut ini:


a. pengalokasian ruang dalam Kawasan Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi,
Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan alur laut;
b. keterkaitan antara Ekosistem darat dan Ekosistem laut dalam suatu Bioekoregion;
c. penetapan pemanfaatan ruang laut; dan
d. penetapan prioritas Kawasan laut untuk tujuan konservasi, sosial budaya,
ekonomi, transportasi laut, industri strategis, serta pertahanan dan keamanan.

1.6 Sistematika Laporan


Adapun sistematika penyajian Laporan Pendahuluan Rencana Zonasi Bagian Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZBWP-3-K) Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan adalah
sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Berisikan latar belakang, tujuan dan sasaran, lingkup perencanaan, dasar hukum,
kedudukan dokumen, serta sistematika penyajian.

BAB II TINJAUAN LITERATUR DAN KEBIJAKAN


Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kajian kebijakan terkait penyusunan RZBWP-3-K
dan kajian literatur berupa teori dan konsep yang digunakan untuk mendukung dan
mencapai tujuan perencanaan.

BAB III METODE PENDEKATAN


Memuat tentang metode pelaksanaan pekerjaan yang meliputi tahap persiapan, tahap
pengumpulan data dan survei lapangan, tahap penyusunan identifikasi dan analisis, tahap
perumusan potensi dan peluang pengembangan, tahap pembuatan kebijaksanaan dan
strategi pengembangan serta rencana zonasi.

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN


Memuat gambaran aspek-aspek terkait pengelolaan pesisir dan pulau kecil secara umum
pada wilayah studi yaitu pada wilayah pesisir bagian utara atau daerah Kabupaten
Pasuruan, Kota Pasuruan, dan Kota Probolinggo.

BAB V RENCANA KERJA DAN JADWAL PELAKSANAAN


Memuat tentang rencana kerja, jadwal pelaksanaan dalam kegiatan Penyusunan dokumen,
serta organisasi pelaksana RZBWP-3-K wilayah pesisir bagian utara Provinsi Jawa Timur.

PENYUSUNAN RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL (RZWP-3-K) I - 16