Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Histriografi tradisional Indonesia adalah karya tulis yang dibuat oleh


pujangga dari suatu kerajaan, baik dari kerajaan yang bercorak Hindu/Budha
maupun kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara Indonesia pada zaman
dahulu. Karya-karya sejarah yang ditulis oleh para pujangga dari lingkungan
keraton ini hasil karyanya biasa disebut Historigrafi Tradisional. Contoh karya
sejarah yang berbentuk historiografi tradisional yang ditulis oleh para
pujangga keraton dari kerajaan hindu/budha sebagai berikut : Babad Tanah
Pasundan, Babad Parahiangan, Babad Tanah Jawa, Pararaton,
Nagarakertagama, Babad Galuh, Babad Sriwijaya, dan lain-lain. Sedangkan
karya historiografi tradisional yang ditulis para pujangga dari kerajaan Islam
diantaranya : Babad Cirebon, Babad, Babad Tanah Jawi.

Babad adalah karya tulis yang menceritakan tentang pendirian suatu


kerajaan dan sekitar peristiwa seputar kerajaan. Babad bisa dijadikan sumber
sejarah karena memuat sejarahn serta asal-usul tokoh, bahkan terkadang
berkesan menceritakan kelebihan tokoh. Babad Tanah Jawi ditulis oleh
Mataram dan isinya berkisar tentang silsilah raja Mataram, yaitu dengan
menarik garis keturunan dari manusia pertama Nabi Adam. Memuat berbagai
macam cerita seputar awal berdirinya Kerajaan Mataram, peristiwa sekitar
Mataram. Babad Tanah Jawi diterjemahkan dari buku yang berjudul Punika
Serat Babad Tanah Jawi Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647 dan
disusun oleh W.L. Olthof.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas terdapat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa Definisi Babad?
2. Apa saja Ciri-ciri Babad Tanah Jawi?
3. Apa Babad Tanah Jawi?

C. Tujuan

1
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui Definisi Babad.
2. Mengetahui Ciri-ciri Babad Tanah Jawi.
3. Mengetahui Babad Tanah Jawi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Babad

Dalam dunia pengetahuan sejarah, babad merupakan karya


penulisan sejarah (historiografi) tradisional yang mulai muncul pada abad
XVI-XIX, dengan fokus cerita pada cerita sejarah dari berbagai
masyarakat tradisional setelah tahun 1500-an. penulisan babad selain di
Jawa juga terdapat di berbagai daerah seperti Madura (babad Madura,
babad Sumenep) di Bali (babad Buleleng, babad Bla Batuh), di
Kalimantan dan Sumatra disebut Hikayat, atau sejarah (Hikayat Banjar,
Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu) dan Sulawesi.
Secara etimologis babad berarti membuka, merambah, atau
menebang pohon-pohon dihutan, kemudian juga menangkas semak
belukarnya. Itulah sebab pada umumnya babad menuliskan cerita tentang
pembukaan suatu daerah atau hutan, kemudian didirikan suatu ibu kota
kerajaan atau pemerintahan diatasnya. Contohnya babad Majapahit, Babad
Mataram, Babat Kartasura, Babad Pacitan, Babat Banyumas, dan lain-lain.
Pusat ceritanya menitikberatkan pada hal ikhwal atau daerah tertentu atau
bersifat lokal, misalnya: Babad Pasuruan,Babad Demak, Babad Gresik,
Babad Cirebon, Babad Pacitan, Babad Banyumas, dan lain-lain. Ada pula
babad yang ceritanya menfokuskan pada periode tertentu atau
mempersempit rentang waktunya, dengan pokok cerita yang berkisar pada
peristiwa-peristiwa tertentu, contoh : Babad Pacinan, Babad Palihan
Nagari, Babad Pakepung, Babad Trunajaya, Babad Dipanagara, dan lain-
lain. Disamping penggolongan diatas adapula jenis babad yang
mempunyai ruang lingkup spasial maupun temporal hampir meliputi
keseluruhannya, hingga babad tersebut memilki jangkauan wilayah dan
waktu paling luas, yaitu : Babad Tanah Jawi.1

1Muhammad Nugnug, Apakah Babad Itu?, 2014,


https://muhammadnugnug.wordpress.com/2014/06/19/apakah-babad-itu/.
Diakses tanggal 14/03/2017 pukul 06.58

3
Berbagai macam definisi mengenai kata babad dikeluarkan oleh
para ahli bahasa tetapi pada intinya terdapat dua arti kata babad. Kata
babad bisa berarti bagian dalam perut pemamah biak. Arti kata yang lain
adalah menebas hutan atau membuka lahan. Penulisan babad sendiri lebih
berkaitan pada pembukaan lahan. Historiografi tradisional berupa babad
cenderung lebih dekat dengan arti kata yang kedua yaitu sebagai
pembukaan lahan karena hal ini berkaitan erat dengan kepemilikan lahan
tersebut dan pada nantinya akan muncul adanya para tuan tanah yang
secara turun menurun menguasai daerah tersebut apabila lahan tersebut
berkembang menjadi pusat pemerintahan tentu para pemilik lahan menjadi
terikat dengan sejarah daerah tersebut.
Babad tergolong dalam karya sastra sejarah karena didalamnya
menceritakan tentang suatu peristiwa,perkembangan suatu daerah dan juga
terdapat silsilah-silsilah penguasa. Tujuan penulisan babad dapat dikatakan
sebagai alat legitimasi raja yang berkuasa dan memberi nilai-nilai plus
pada raja yang menjadi tokoh utama dalam karya sastra ini. Kebebasan
pujangga yang menulis babad terbatas dikarenakan tekanan dari raja
sehingga pujangga harus menulis apa yang menjadi kehendak rajanya.
Tidak semua orang dapat menulis babad hanya orang-orang pilihan dan
dianggap mempunyai wahyu berkompenten dalam menulisnya.2
Sebagai karya yang mengandung unsur sejarah, babad juga disebut
karya sastra sejarah karena adanya paduan antara fiktif yang menjadi karya
utama sastra. Karena tercampur aduknya antara unsure fiktif dan unsur
sejarah, maka sangat sulit untuk memisahkan mana yang dongeng, dan
mana yang fact atau sejarah. Maka apabila ingin menggunakan babad
sebagai sumber sejarah, kita harus bisa mengeluarkan dulu unsur yang
bersifat fiktif itu. Karena itu cerita dalam babad tidak bisa dipercaya begitu
saja.

B. Ciri-ciri Babad Tanah Jawi

2 Kiwatama, Babad Tanah Jawi, 2011,


https://kiwatama.wordpress.com/2011/06/07/babad-tanah-jawi/.
Diakses tanggal 13/03/2017 pukul 16.44

4
Sebagai suatu karya penulisan sejarah tradisional, babad Tanah
Jawi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Merupakan cerita tentang nenek moyang yang dijalin dalan dalam
bentuk mitos dan legenda.
b. Fokusnya pada kehidupan cerita, bukan pada kebenaran yang
berlandaskan fakta-fakta.
c. Tinjauan sejarahnya berdasarkan kosmis-magic (kekuatan alam dan
kekuatan gaib).
d. Pandangan bersifat mitis dan siklis, yang menganggap dunia sama
dalam berbagai kurun waktu.
e. Pendekatan bersifat global dan bersifat umum (umume : Jawa)
terdapat berbagai peristiwa dan kehidupan.
f. Bila isinya disampaikan secara lisan atau cerita dari mulut ke mulut
cerita itu disebut dengan tutur, kandha atau tradisi lisan, yang
dinamakan pula dengan leluri.3
g. Penulisannya bersifat istana sentris. Ceritanya beberpusat pada raja
atau keluarga raja. Berisi masalah-masalah pemerintahan dari raja-
raja yang berkuasa. Contohnya dalam Babad Tanah Jawi
menerangkan tentang pemerintahan di kerajaan Mataram dan raja-
rajanya yang tidak luput dengan cara legitimasi kekuasaannya.
Seperti pada saat pendirian Mataram oleh Ki Ageng Pemanahan
yang mendapat restu dari leluhur lewat buah degan yang bisa
berbicara mengenai raja yang akan menguasai seluruh Jawa.
h. Yang di bicarakan kebanyakan menyangkut kaum-kaum feodal
atau bangsawan. Dalam Babad Tanah Jawi sering membahas
tentang kadipaten dan para bupatinya yang bergejolak dalam
perebutan kekuasaan.
i. Raja atau pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan
kharisma (sakti).Sang tokoh cerita terkadang dipandang sebagai
sosok manusia setengah dewa. Dalam Babad Tanah Jawi kesaktian
Senopati yang luar biasa akibat bantuan dari Nyai Roro Kidul.
Kemudian cerita mengenai Sultan Agung yang sakti mandraguna.
j. Kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam genealogi (silsilah)
tetapi lemah dalam hal kronologi dan detil-detil

3 Op.Cit., Muhammad Nugnug

5
biografis.Genealogi Senopati pendiri dinasti Mataram yang ditarik
ke atas sampai ke nabi Adam dan tokoh-tokoh pewayangan.
Namun cerita dalam Babad Tanah Jawi tidak Kronologis, misalnya
pada bagian pertengahan tiba-tiba tokoh Sunan Kalijaga muncul
kembali.
k. Memiliki subjektifitas yang tinggi. Sebab penulis hanya mencatat
peristiwa penting di kerajaan dan atas permintaan sang raja.
Biasanya tujuan penulisan sejarah tradisional untuk menghormati
dan meninggikan kedudukan raja.Penulis Babat Tanah Jawi ini
lebih condong ke Mataram dan dijadikan sebagai alat legitimasi
Raja yang berkuasa.

C. Babad Tanah Jawi

Historiografi tradisional biasanya ditulis pada masa kerajaan-


kerajaan kuno. Penulisnya adalah para pujangga atau seorang pejabat
dalam struktur birokrasi tradisional yang bertugas menyusun sejarah dalam
bentuk babad ataupun hikayat. Salah satu contoh historiografi tradisional
Indonesia adalah Babad Tanah Jawi yang diterjemahkan dari buku yang
berjudul Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam
Doemoegi Ing Taoen 1647 yang disusun oleh W.L. Olthof di Leiden,
Belanda pada tahun 1941.

Babad adalah karya tulis yang menceritakan tentang pendirian


sebuah negara atau kerajaan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi diseputar
kerajaan tersebut. Tidak salah jika seringkali memuat sejarah serta asal-
usul tokoh atau raja serta para leluhurnya, bahkan terkadang berkesan
menceritakan secara berlabihan, maka babad sering juga dianggap sebagai
alat legitimasi bagi raja yang berkuasa.

Teks Babad Tanah Jawi menceritakan tentang asal usul Senopati,


pendiri dinasti Mataram, petualangan Senopati sebelum menjadi Raja
Mataram dan raja-raja pengganti Senopati. Pada masa lalu raja-raja di
tanah Jawa dikenal gemar memamerkan silsilah atau asal-usul garis

6
keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya.
Silsilah Senopati yang tidak kepalang tanggung dari Nabi Adam hingga
dewa-dewa agama Hindu, merupakan sebuah sinkretisme antara ajaran
Hindu-Budha dan Islam. Silsilah tersebut memperlihatkan bahwa dinasti
Mataram adalah keturunan dari tokoh-tokoh luar biasa yaitu kelompok
pertama adalah kelompok Nabi, kemudian diikuti kelompok dewa dan raja
dalam pewayangan, kelompok berikutnya adalah raja Kediri, kemudian
Pajajaran dan Majapahit. Dari dinasti Majapahit itulah dinasti Mataram
mengaku berasal. Adapun raja Majapahit yang diakui sebagai yang
menurunkan raja-raja Mataram adalah raja Majapahit terakhir yaitu
Brawijaya V. Dalam buku Babad Tanah Jawi semua kejadian tidak pernah
lepas dengan hal-hal yang terjadi di pulau Jawa.

Namun yang menjadi masalah bagi kebanyakan pembaca yaitu


masalah bahasa yang digunakan dalam cerita Babad Tanah Jawi sulit
dipahami karena bahasanya banyak menggunakan bahasa yang masih
asing didengar seperti; puput, kalam,campuh, mbalelo, sinewaka, prasapa,
dan lainya sehingga harus bekerja keras dalam menafsirkannya.4

Contoh Babad Tanah Jawi

rare book' menampilkan buku langkaPunika SeratBabad Tanah Jawi yang


'babon'nya (kitab induk) berasal dari Raden Panji Jayasubrata, Wedana

4 Deviciptyasari, Babad Tanah Jawi, 2013,


http://deviciptyasari.blogspot.co.id/2013/05/babad-tanah-jawi.html.
Diakses pada tanggal 13/03/2017 pukul 16.38

7
distrik Magetan. Buku ini diterbitkan oleh G.C.T. Van Dorp& Co. N.V.,
pada th 1917. Covernya sudah pernah diperbaiki.

Pada halaman depan, tertulis : "Punika Serat Babad Tanah Jawi, angka
1. Anyariosaken awit keraton Pajajaran saengga dumugi . . . sedanipun
Sultan Pajang. Ingkang nyaosi babonipun, wedana distrik Magetan,
Raden Panji Jayasubrata" (gambar bawah kiri). Terlihat stempel dan
tanda tangan menunjukan bahwa buku ini pernah menjadi milik Asisten
Wedana Windusari, Kedu (gambar kanan dan Kiri).

8
Sayangnya, buku langka Babad Tanah Jawi dari babon Rd. Panji
Jayasubrata ini, rare book hanya ada 2 jilid. Jilid 1, dimulai dari Keraton
Pejajaran, Rajanya bertemu dengan Pendeta sakti sampai wafatnya Sultan
Pajang. Sedang jilid 2, dimulai penggantinya Sultan Pajang oleh Putra
Mantu, sampai Martalaya diutus Sultan Agung menaklukan Tuban.

Gambar sebelah ini adalah cover Babad Tanah Jawi yang sama, tapi terbit
belakangan. Bedanya, yang terbit belakangan, keterangan terletak dibawah,
menggunakan huruf cetak dan tidak menyebutkan tahun penerbitannya, sedang

9
buku yang terdahulu menggunakan huruf Jawa dan mencantumkan tahun
penerbitannya. 5

5http://mmzrarebooks.blogspot.co.id/2012/08/babad-tanah-djawi-
babon-rd-panji.html. Diakses pada tanggal 14/03/2017 pukul 06.26

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa babad tanah jawi yaitu karya tulis yang
menceritakan tentang pendirian sebuah negara atau kerajaan dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi diseputar kerajaan tersebut, serta
seringkali memuat sejarah serta asal-usul tokoh atau raja serta para
leluhurnya, silsilah atau asal-usul garis keturunannya.
Babad tergolong dalam karya sastra sejarah karena didalamnya
menceritakan tentang suatu peristiwa,perkembangan suatu daerah dan
juga terdapat silsilah-silsilah penguasa.Sebagai karya yang
mengandung unsur sejarah, babad juga disebut karya sastra sejarah
karena adanya paduan antara fiktif yang menjadi karya utama sastra.
Karena tercampur aduknya antara unsure fiktif dan unsur sejarah, maka
sangat sulit untuk memisahkan mana yang dongeng, dan mana yang
fact atau sejarah. Maka apabila ingin menggunakan babad sebagai
sumber sejarah, kita harus bisa mengeluarkan dulu unsur yang bersifat
fiktif itu. Karena itu cerita dalam babad tidak bisa dipercaya begitu
saja.

11
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Nugnug, Apakah Babad Itu?, 2014,


https://muhammadnugnug.wordpress.com/2014/06/19/apakah-babad-itu/. Diakses
tanggal 14/03/2017 pukul 06.58

Kiwatama, Babad Tanah Jawi, 2011,


https://kiwatama.wordpress.com/2011/06/07/babad-tanah-jawi/. Diakses tanggal
13/03/2017 pukul 16.44

Deviciptyasari, Babad Tanah Jawi, 2013,


http://deviciptyasari.blogspot.co.id/2013/05/babad-tanah-jawi.html. Diakses pada
tanggal 13/03/2017 pukul 16.38

http://mmzrarebooks.blogspot.co.id/2012/08/babad-tanah-djawi-babon-rd-
panji.html. Diakses pada tanggal 14/03/2017 pukul 06.26

12