Anda di halaman 1dari 20

ANALISA BANJIR PERIODE ULANG

Kajian aspek hidrologi, terutama


hujan rencana dan debit
banjir rencana sebagai dasar
perencanaan sistem drainase
tambang diperlukan
Penakar hujan pada setiap pos pengamatan hujan merupakan alat pengukur
hujan yang efektif dalam menggambarkan kondisi hujan di suatu
lokasi/tempat
Sebaran pos penakar hujan tidak merata khususnya di daerah topografi sulit,
tidak berpenghuni dan di sekitar lautan, akibatnya kesulitas menampilkan
pola hujan secara spatial
Curah hujan rencana merupakan periode ulang suatu kejadian hujan pada
kala tertentu.
Suatu kejadian hujan diperkirakan minimal terjadi sekali pada periode
tersebut
Salah satu citra penginderaan jauh yang digunakna untuk memantau curah
hujan khususnya di daerah tropis adalah citra Tropical Rainfall Measuring
Mission (TRMM)
Periode ulang : perkiraan besarnya curah hujan maksimum yang akan terjadi pada
periode ulang tertentu yang diinginkan

Periode ulang yang dimaksud : 2 tahun, 5 tahun 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun atau
100 tahun

Metode Perhitungan Curah Hujan rencana :

METODE DISTRIBUSI PROBABILITAS GUMBLE


METODE DISTRIBUSI PROBABILITAS NORMAL
METODE DISTRIBUSI PROBABILITAS LOG NORMAL
METODE DISTRIBUSI PROBABILITAS LOG PEARSON TYPE III

Perhitungan dilakukan bersifat empiris, perkiraan dilakukan dengan mengacu


data-data hujan terdahulu
Tahapan penyelesaian :
Ditentukan curah hujan harian maksimum untuk tiap-tiap tahun data
dengan metode Annual maximum series.
Ditentukan parameter statistik dari data yang telah diurutkan dari kecil ke
besar yaitu Mean , Standard Deviation S, Coefisient of Variation Cv,
Coefisient of Skweness Cs, Coefisient of Kurtosis Ck X
Ditentukan jenis distribusi yang sesuai berdasarkan parameter statistik
yang ada
Dari jenis distribusi yang terpilih dapat dihitung besaran hujan rancangan
untuk kala ulang tertentu
Ditentukan intensitas curah hujan harian dengan metode Mononobe
dalam kala ulang tertentu
Penggambaran lengkung identitas curah hujan harian dengan kala ulang
tertentu pada kurva IDF (Intensity-Duration-Frequency)
Ditentukan waktu konsentrasi
Ditentukan intensitas curah hujan dengan kala ulang tertentu
berdasarkan waktu konsentrasi
Ditentukan koefisien limpasan berdasarkan nilai koefisien limpasan tiap-
tiap fungsi lahan
Dimasukkan nilai luas DAS
Dihitung debit puncak
Contoh kasus DAS Besitang

DAS Besitang

DAS Besitang di kab Langkat, ProvSU


Secara geografis DAS Besitang terletak antara 034512,0 042244,6 LU dan
975110,0 991756,0 LS.
Sungai utama adalah sungai Besitang dengan panjang 83 km dan lebar rata-rata 50 m
Luas DAS Besitang 96.497,05 Ha
Tahun 2010
Tahun 2011
Tahun 2012
Tahun 2013
Tahun 2014
Membagi curah hujan bulanan dengan hari hujan bulanan akan didapat curah
hujan harian

Diambil data curah hujan rata-rata maksimum harian untuk setiap tahun
Menghitung standard deviasi, koef. varians, dll

Ck = (6^2 * 1347598,97) /
[(5 *4*3 (18,58)^4] = 6,78

Sx = [1/(6-1) (1726.83)]^1/2 =
Rerata = 1/6 (45+27+20+26+38+71) 345,37^1/2 = 18,58
= 227/6 = 37,83

Koef. Varians (Cv) = Sx/Xrerata


Cv = 18,58/37.83 = 0,49
Cs = (6 * 28.269,71) / [(5 * 4* (18,58)^3] = 1,32
Digunakan distribusi log normal (Cs 3 Cv ; Ck > 0)

Selanjutnya mencari curah hujan rencana :


Intensitas hujan

Untuk mendapatkan hujan jam-jaman dari data curah hujan


digunakan rumus Mononobe
Intensitas hujan
Hasil intensitas hujan pada periode ulang tertentu kemudian dihubungkan
dengan kurva Intesity Duration Frequency (IDF).

curah hujan yang tinggi berlangsung


dengan durasi waktu yang pendek, dan
sebaliknya bahwa curah hujan yang
rendah berlangsung dengan waktu lama

Intesity Duration Frequency (IDF)


DAS Beitang
Menghitung lamanya air mengalir dari hulu hingga ke hilir, waktu konsentrasi
Digunakan dengan menggunakan rumus Kirpich (1940)

Dengan memasukkan nilai panjang sungai 83 km dan kemiringan rata-rata 0,0436 m maka
diperoleh waktu konsentrasi untuk DAS Besitang adalah sebesar 6,65 jam
Menghitung lamanya air mengalir dari hulu hingga ke hilir, waktu konsentrasi
Digunakan dengan menggunakan rumus Kirpich (1940)

Panjang sungai Besitang 83 km dan kemiringan rata-rata 0,0436 m maka didapat :

tc = [(0,06628 (83)^0.77) / (0,0436^385)]


= 6,65 jam

Maka diperoleh waktu konsentrasi untuk DAS Besitang adalah sebesar 6,65 jam

Artinya : jika terjadi hujan maka waktu yang dibutuhkan air dari hulu akan sampai ke hilir adalah
6,65 jam
Menghitung koefisien limpasan

Koefisien limpasan besar pengaruhnya dalam perhitungan debit puncak.


Semakin tinggi koefisien limpasan maka debit puncak akan semakin cepat.
Sebaliknya, semakin kecil koefisien limpasan maka debit puncak akan semakin lama
Nilai c adalah 0 sampai 1. Nol berarti semua air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan sebaliknya
satu berarti semua air hujan sebagai run-off

Nilai koefisien limpasan untuk DAS Besitang


sebesar 0,16
Menghitung debit puncak periode ulang

Menghitung debit puncak periode ulang dengan metode rasional yakni salah satu
metode empiris dalam hidrologi, yakni:

Dimana :
Q = Debit aliran air permukaan (m3/detik)
C = Koefiesien limpasan
I = Intensitas curah hujan yang dihitung (mm/jam)
A = Luas area daerah tangkapan curah hujan (Ha)

Untuk kala ulang 2 tahun dengan intensitas curah hujan 3,97 mm/jam maka :
Q = (0,16 * 3,97/1000 * 96494, 11*10000)/3600
= 170,26 m3/detik

Untuk kala ulang 5 tahun dengan intensitas curah hujan 5,61 mm/jam maka :
Q = (0,16 * 5,61/1000 * 96494, 11*10000)/3600
= 240,59 m3/detik

Pada tabel terlihat debit rencana untuk kala ulang 100 tahun adalah 365,59
m3/det, artinya debit banjir sebesar 365,59 m3/det dapat terjadi setiap
tahun dengan peluang kejadian 1%, atau peluang kejadian 100%
terjadi minimal sekali