Anda di halaman 1dari 58

Sejarah Singkat Teori Evolusi

Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dengan keyakinan dogmatis yang


berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan di
zaman Yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi. Jika kita mengamati
sejarah filsafat, kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menopang
banyak filsafat pagan.
Akan tetapi bukan filsafat pagan kuno ini yang telah berperan penting dalam
kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan modern, melainkan keimanan
kepada Tuhan. Pada umumnya mereka yang memelopori ilmu pengetahuan
modern mempercayai keberadaan-Nya. Seraya mempelajari ilmu pengetahuan,
mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah diciptakan Tuhan
dan mengungkap hukum-hukum dan detail-detail dalam ciptaan-Nya. Ahli
Astronomi seperti Leonardo da Vinci, Copernicus, Keppler dan Galileo;
bapak paleontologi, Cuvier; perintis botani dan zoologi, Linnaeus; dan Isaac
Newton, yang dijuluki sebagai "ilmuwan terbesar yang pernah ada", semua
mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak hanya meyakini keberadaan Tuhan,
tetapi juga bahwa keseluruhan alam semesta adalah hasil ciptaan-Nya 1 Albert
Einstein, yang dianggap sebagai orang paling jenius di zaman kita, adalah
seorang ilmuwan yang mempercayai Tuhan dan menyatakan, "Saya tidak bisa
membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu.
Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang." 2
Salah seorang pendiri fisika modern, dokter asal Jerman, Max Planck
mengatakan bahwa setiap orang, yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan
sungguh-sungguh, akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah
kata: "Berimanlah". Keimanan adalah atribut penting seorang ilmuwan.3
Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yang muncul bersamaan
dengan kebangkitan filsafat-filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar
luas di abad ke-19. Seperti telah disebutkan sebelumnya, paham materialisme
berusaha menjelaskan alam semata melalui faktor-faktor materi. Karena
menolak penciptaan, pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup
ataupun tak hidup, muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa
kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia
sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah
kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat
materialistis, yang bertentangan dengan karakteristik paling mendasar akal
manusia ini, memunculkan "teori evolusi" di pertengahan abad ke-19.
Khayalan Darwin
Orang yang mengemukakan teori evolusi sebagaimana yang dipertahankan
dewasa ini, adalah seorang naturalis amatir dari Inggris, Charles Robert Darwin.
Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi. Ia hanya
memiliki ketertarikan amatir pada alam dan makhluk hidup. Minat tersebut
mendorongnya bergabung secara sukarela dalam ekspedisi pelayaran dengan
sebuah kapal bernama H.M.S. Beagle, yang berangkat dari Inggris tahun 1832
Ilmu Termodinamika Menyanggah Evolusi
Hukum II Termodinamika, yang dianggap sebagai salah satu hukum dasar ilmu
fisika, menyatakan bahwa pada kondisi normal semua sistem yang dibiarkan
tanpa gangguan cenderung menjadi tak teratur, terurai, dan rusak sejalan dengan
waktu. Seluruh benda, hidup atau mati, akan aus, rusak, lapuk, terurai dan
hancur. Akhir seperti ini mutlak akan dihadapi semua makhluk dengan caranya
masing-masing dan menurut hukum ini, proses yang tak terelakkan ini tidak
dapat dibalikkan.
Kita semua mengamati hal ini. Sebagai contoh, jika Anda meninggalkan sebuah
mobil di padang pasir, Anda tidak akan menemukannya dalam keadaan lebih
baik ketika Anda menengoknya beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, Anda
akan melihat bannya kempes, kaca jendelanya pecah, sasisnya berkarat, dan
mesinnya rusak. Proses yang sama berlaku pula pada makhluk hidup, bahkan
lebih cepat.
Hukum II Termodinamika adalah cara mendefinisikan proses alam ini dengan
persamaan dan perhitungan fisika.

Hukum Termodinamika menyatakan bahwa


kondisi-kondisi alam selalu mengarah kepada
ketidakteraturan dan hilangnya informasi,
sedangkan teori evolusi adalah keyakinan
tidak ilmiah, yang sama sekali bertentangan
dengan hukum ini.

Hukum ini juga dikenal sebagai "Hukum Entropi". Entropi adalah selang
ketidakteraturan dalam suatu sistem. Entropi sistem meningkat ketika suatu
keadaan yang teratur, tersusun dan terencana menjadi lebih tidak teratur, tersebar
dan tidak terencana. Semakin tidak teratur, semakin tinggi pula entropinya.
Hukum Entropi menyatakan bahwa seluruh alam semesta bergerak menuju
keadaan yang semakin tidak teratur, tidak terencana, dan tidak terorganisir.
Keabsahan Hukum II Termodinamika atau Hukum Entropi ini telah terbukti,
baik secara eksperimen maupun teoretis. Albert Einstein menyatakan bahwa
Hukum Entropi akan menjadi paradigma yang sangat berpengaruh di periode
sejarah mendatang. Ilmuwan terbesar di masa kita ini mengakuinya sebagai
"hukum utama dari semua ilmu pengetahuan". Sir Arthur Eddington juga
menyebutnya sebagai "hukum metafisika tertinggi di seluruh jagat".1
Teori evolusi adalah klaim yang diajukan dengan sepenuhnya mengabaikan
Hukum Entropi. Mekanisme yang diajukannya benar-benar bertentangan dengan
hukum dasar fisika ini. Teori evolusi menyatakan bahwa atom-atom dan
molekul-molekul tidak hidup yang tak teratur dan tersebar, sejalan dengan waktu
menyatu dengan spontan dalam urutan dan rencana tertentu membentuk
molekul-molekul kompleks seperti protein, DNA dan RNA. Molekul-molekul
ini lambat laun kemudian menghasilkan jutaan spesies makhluk hidup, bahkan
dengan struktur yang lebih kompleks lagi. Menurut teori evolusi, pada kondisi
normal, proses yang menghasilkan struktur yang lebih terencana, lebih teratur,
lebih kompleks dan lebih terorganisir ini terbentuk dengan sendirinya pada tiap
tahapnya dalam kondisi alamiah. Proses yang disebut alami ini jelas
bertentangan dengan Hukum Entropi.
Ilmuwan evolusionis juga menyadari fakta ini. J. H. Rush menyatakan:
Dalam perjalanan evolusinya yang kompleks, kehidupan menunjukkan
perbedaan yang jauh dengan kecenderungan yang dinyatakan Hukum II
Termodinamika. Sementara Hukum II menyatakan pergerakan irreversibel ke
arah entropi yang lebih tinggi dan tak teratur, evolusi kehidupan berkembang
terus ke tingkat yang lebih teratur.2
Dalam sebuah artikel di majalah Science, ilmuwan evolusionis, Roger Lewin,
menyatakan kebuntuan termodinamis dari evolusi.
Masalah yang dihadapi para ahli biologi adalah pertentangan nyata antara
evolusi dan Hukum II Termodinamika merupakan. Sejalan dengan waktu, semua
sistem akan rusak, semakin tidak teratur bukan sebaliknya.3
Ilmuwan evolusionis lainnya, George Stravropoulos, menyatakan kemustahilan
termodinamis pembentukan kehidupan secara spontan dan ketidaklayakan
penjelasan adanya mekanisme-mekanisme makhluk hi-dup yang kompleks
melalui hukum-hukum alam. Ini dinyatakannya dalam majalah evolusionis
terkenal, American Scientist:
Namun sesuai dengan Hukum Termodinamika II, dalam kondisi biasa tidak ada
molekul organik kompleks dapat terbentuk secara spontan. Sebaliknya, molekul
kompleks akan hancur. Memang, semakin kompleks sebuah molekul, semakin
tidak stabil keadaannya dan semakin pasti kehancurannya, cepat atau lambat.
Kendatipun melalui pembahasaan yang membingungkan atau sengaja dibuat
membingungkan, fotosintesis dan semua proses kehidupan, serta kehidupan itu
sendiri, tidak dapat dipahami berdasarkan ilmu termodinamika ataupun ilmu
pasti lainnya.4
Seperti telah diakui, Hukum II Termodinamika merupakan rintangan yang tak
dapat diatasi oleh skenario evolusi, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun
logika. Karena tidak mampu mengajukan penjelasan ilmiah dan konsisten,
evolusionis hanya dapat mengatasi rintangan ini dalam khayalan mereka.
Sebagai contoh, Jeremy Rifkin, menuliskan keyakinannya bahwa evolusi
mengungguli hukum fisika dengan suatu "kekuatan ajaib":
Hukum Entropi mengatakan bahwa evolusi menghabiskan energi keseluruhan
yang tersedia bagi kehidupan di planet ini. Konsep evolusi kami adalah
sebaliknya. Kami yakin bahwa evolusi secara ajaib menghasilkan nilai energi
keseluruhan yang lebih besar dan keteraturan di bumi ini.5
Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa evolusi sepenuhnya merupakan sebuah
keyakinan dogmatis.
Mitos "Sistem Terbuka"
Dihadapkan pada semua kebenaran ini, evolusionis terpaksa berlindung dengan
menyimpangkan Hukum II Termodinamika, dengan mengatakan bahwa hukum
ini berlaku hanya untuk "sistem tertutup", dan tidak dapat menjangkau "sistem
terbuka".
Suatu "sistem terbuka" merupakan sistem termodinamis di mana materi dan
energi dapat keluar-masuk. Sedangkan dalam "sistem tertutup", materi dan
energi tetap konstan. Evolusionis menyatakan bahwa bumi merupakan sebuah
sistem terbuka. Bumi terus menerima energi dari matahari, sehingga hukum
entropi tidak berlaku pada bumi secara keseluruhan; dan makhluk hidup yang
kompleks dan teratur dapat terbentuk dari struktur-struktur mati yang sederhana
dan tidak teratur.
Namun ada penyimpangan nyata dalam pernyataan ini. Fakta bahwa sistem
memperoleh aliran energi tidaklah cukup untuk menjadikan sistem ini
teratur. Diperlukan mekanisme khusus untuk membuat energi berfungsi.
Sebagai contoh, mobil memerlukan mesin, sistem transmisi, dan mekanisme
kendali untuk mengubah bahan bakar menjadi energi un-tuk menggerakkan
mobil. Tanpa sistem konversi energi seperti itu, mobil tidak dapat menggunakan
energi dari bahan bakar.
Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan. Kehidupan memang mendapatkan
energi dari matahari, namun energi matahari hanya dapat diubah menjadi energi
kimia melalui sistem konversi energi yang sangat kompleks pada makhluk hidup
(seperti fotosintesis pada tumbuhan dan sistem pencernaan pada manusia dan
hewan). Tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup tanpa sistem konversi
energi semacam itu. Tanpa sistem konversi energi, matahari hanyalah sumber
energi destruktif yang membakar, menyengat dan melelehkan.
Dapat dilihat, suatu sistem termodinamika, baik terbuka maupun tertutup, tidak
menguntungkan bagi evolusi tanpa mekanisme konversi energi. Tidak ada
seorang pun menyatakan bahwa mekanisme sadar dan kompleks semacam itu
muncul di alam dalam kondisi bumi purba. Memang, masalah nyata yang
dihadapi evolusionis adalah bagaimana mekanisme konversi energi yang
kompleks ini - seperti fotosintesis tumbuhan yang tidak dapat ditiru, bahkan
dengan teknologi modern - dapat muncul dengan sendirinya.
Aliran energi matahari ke bumi tidak dapat menciptakan keteraturan dengan
sendirinya. Setinggi apa pun suhunya, asam-asam amino tidak akan membentuk
ikatan dengan urutan teratur. Energi saja tidak cukup untuk pembentukan
struktur lebih kompleks dan teratur, seperti asam amino membentuk protein atau
protein membentuk struktur terorganisir yang lebih kompleks pada organel-
organel sel. Sumber nyata dan penting dari keteraturan pada semua tingkat
adalah rancangan sadar, dengan kata lain, penciptaan.
Mitos "Pengorganisasian Mandiri oleh Materi"
Menyadari bahwa Hukum II Termodinamika membuat evolusi tidak mungkin
terjadi, beberapa ilmuwan evolusionis berspekulasi untuk menjembatani jurang
di antara keduanya agar evolusi menjadi mungkin. Seperti biasa, usaha-usaha ini
pun menunjukkan bahwa teori evolusi ber-akhir dengan kebuntuan.
Seorang yang terkenal dengan usahanya untuk mengawinkan termodinamika
dengan evolusi adalah ilmuwan Belgia bernama Ilya Prigogine. Beranjak dari
Teori Kekacauan (Chaos Theory), Prigogine mengajukan sejumlah hipotesis di
mana keteraturan terbentuk dari ketidakteraturan (chaos). Dia berargumen
bahwa sebagian sistem terbuka dapat mengalami penurunan entropi disebabkan
aliran energi dari luar. "Keteraturan" yang dihasilkan merupakan bukti bahwa
"materi dapat mengorganisir diri sendiri". Sejak saat itu, konsep
"pengorganisasian mandiri oleh materi" menjadi sangat populer di kalangan
evolusionis dan materialis. Mereka bersikap seolah-olah telah menemukan asal
usul materialistis bagi kompleksitas kehidupan dan solusi materialistis bagi
masalah asal usul kehidupan.
Namun jika dicermati, argumen ini benar-benar abstrak dan hanya angan-angan.
Lebih dari itu, argumen tersebut mengandung penipuan yang sangat naif, yang
sengaja mengacaukan dua konsep berbeda, yaitu "pengorganisasian mandiri"
(self-organization) dan "pengaturan mandiri" (self-ordering).6
Ini dapat diterangkan dengan contoh berikut. Bayangkan sebuah pan-tai dengan
campuran berbagai jenis batuan. Ada batu-batu besar, batu-batu lebih kecil, dan
batu-batu sangat kecil. Jika sebuah ombak besar menerpa pantai, mungkin
muncul "keteraturan" di antara batu-batu tersebut. Air akan menggeser batu-batu
dengan berat sama pada posisi yang sama. Ketika ombak surut, batu-batu
tersebut mungkin tersusun dari yang terkecil hingga yang terbesar ke arah laut.
Ini merupakan proses "pengaturan mandiri": pantai adalah sistem terbuka dan
aliran energi (ombak) dapat menyebabkan suatu "keteraturan". Namun ingat
bahwa proses yang sama tidak dapat membentuk istana pasir di pantai. Jika kita
melihat istana pasir, kita yakin bahwa seseorang telah membuatnya. Perbedaan
antara keduanya adalah bahwa istana pasir mengandung kompleksitas sangat
unik, sedangkan batu-batu yang "teratur" hanya memiliki keteraturan saja. Ini
seperti mesin tik yang mencetak "aaaaaaaaaaaaaaaa" beratus-ratus kali, karena
sebuah benda (aliran energi) jatuh menimpa huruf "a" pada papan ketik. Tentu
saja pengulangan huruf "a" tersebut tidak mengandung informasi apa pun,
apalagi sebuah kompleksitas. Dibutuhkan pikiran sadar untuk menghasilkan
rangkaian kompleks huruf-huruf yang mengandung informasi.
Hal yang sama berlaku jika angin berhembus ke dalam sebuah kamar penuh
debu. Sebelum angin mengalir, debu-debu mungkin tersebar di sekitar kamar.
Ketika angin berhembus, debu-debu bisa jadi terkumpul di sudut ruangan. Ini
adalah "pengaturan mandiri". Namun debu tidak pernah "mengorganisir diri"
dan menciptakan gambar manusia pada lantai kamar tersebut.
Contoh-contoh di atas serupa benar dengan skenario "pengorganisasian mandiri"
dari evolusionis. Mereka berargumen bahwa materi memiliki kecenderungan
untuk mengorganisir diri, lalu memberikan contoh-contoh pengaturan mandiri
dan selanjutnya mencoba mengacaukan kedua konsep tersebut. Prigogine sendiri
memberikan contoh-contoh pengaturan mandiri molekul karena aliran energi.
Ilmuwan Amerika, Thaxton, Bradley dan Olsen, menerangkan fakta ini dalam
buku mereka, The Mistery of Life's Origin, sebagai berikut:
… Pada masing-masing kasus, gerakan acak molekul dalam cairan secara
spontan digantikan oleh perilaku yang sangat teratur. Prigogine, Eigen dan
lainnya menganggap bahwa pengorganisasian mandiri serupa merupakan sifat
intrinsik dalam kimia organik, dan menjadi penyebab terbentuknya
makromolekul kompleks yang penting bagi sistem kehidupan. Akan tetapi,
analogi seperti itu tidak relevan dengan pertanyaan asal usul kehidupan. Alasan
utamanya adalah kegagalan mereka dalam membedakan antara keteraturan dan
kompleksitas…. Keteraturan tidak dapat menyimpan informasi yang sangat
besar yang diperlukan sistem kehidupan. Bukan struktur teratur yang diperlukan,
namun struktur yang sangat tidak teratur tetapi spesifik. Ini adalah kesalahan
serius dalam analogi yang diajukan. Tidak ada hubungan nyata antara
pengaturan spontan yang terjadi karena aliran energi ke dalam sistem, dengan
kerja yang diperlukan untuk membentuk makromolekul sarat-informasi seperti
DNA dan protein.7
Bahkan Prigogine sendiri terpaksa menerima bahwa argumennya tidak berlaku
bagi asal usul kehidupan. Dia mengatakan:
Masalah keteraturan biologis melibatkan transisi dari aktivitas molekuler ke
keteraturan supermolekuler dalam sel. Hal ini belum terpecahkan sama sekali.8
Lalu, mengapa evolusionis masih berusaha meyakini skenario-skenario tak
ilmiah seperti "pengorganisasian materi secara mandiri"? Mengapa mereka
berkeras menolak pewujudan kecerdasan dalam sistem kehidupan? Jawabannya
adalah bahwa mereka memiliki keyakinan dogmatis pada materialisme, dan
keyakinan bahwa materi memiliki kekuatan misterius untuk menciptakan
kehidupan. Profesor Robert Shapiro, pakar kimia dan DNA dari Universitas
New York menjelaskan keyakinan evolusionis dan landasan dogmatisnya
sebagai berikut:
Maka diperlukan prinsip evolusi lain untuk menjembatani antara campuran-
campuran kimia alami sederhana dengan replikator efektif pertama.*) Prinsip ini
belum dijelaskan secara terperinci ataupun ditunjukkan, namun telah
diantisipasi, dan diberi nama evolusi kimia dan pengorganisasian materi secara
mandiri. Keberadaan prinsip ini diterima sebagai keyakinan dalam filsafat
materialisme dialektis **), sebagaimana diterapkan pada asal usul kehidupan
oleh Alexander Oparin.9
Situasi ini menjelaskan bahwa evolusi adalah sebuah dogma yang bertentangan
dengan ilmu pengetahuan empiris. Asal usul kehidupan hanya dapat dijelaskan
dengan campur tangan sebuah kekuatan supranatural. Kekuatan supranatural
tersebut adalah penciptaan Allah, yang mencipta-kan seluruh jagat raya dari
ketiadaan. Dari sisi termodinamika, ilmu pengetahuan membuktikan bahwa
evolusi adalah mustahil, dan keberadaan kehidupan hanya dapat dijelaskan
dengan Penciptaan.

1. Jeremy Rifkin, Entropy: A New World View, New York, Viking Press, 1980,
S.6
2. J. H. Rush, The Dawn of Life, New York, Signet, 1962, S. 35
3. Roger Lewin, "A Downward Slope to Greater Diversity", Science, Bd. 217,
24. September 1982, S. 1239
4. George S. Stravropoulos, "The Frontiers and Limits of Science", American
Scientist, Bd. 65, November-Dezember 1977, S. 674
5. Jeremy Rifkin, Entropy: A New World View, S. 55
6. Untuk keterangan lebih jauh, lihat: Stephen C. Meyer, "The Origin of Life and
the Death of Materialism", The Intercollegiate Review, 32, No. 2, Spring 1996.
7. Charles B. Thaxton, Walter L. Bradley & Roger L. Olsen, The Mystery of
Life's Origin: Reassessing Current Theories, 4. Aufl., Dallas, 1992. Kap. 9, S.
134
8. Ilya Prigogine, Isabelle Stengers, Order Out of Chaos, New York, Bantam
Books, 1984, S. 175
*) replikator efektif pertama adalah asam nukleat/DNA pertama yang berhasil
memperbanyak diri
**)materialisme dialektis = Interpretasi Marxis terhadap realitas yang
memandang materi sebagai satu-satunya subjek perubahan dan semua perubahan
merupakan hasil dari pertentangan terus-menerus antara oposisi yang muncul
dari kontradiksi internal dalam semua peristiwa, ide dan gerakan.
9. Robert Shapiro, Origins: A Sceptics Guide to the Creation of Life on Earth,
Summit Books, New York: 1986, S. 207

TEORI EVOLUSI:
SEBUAH GAGASAN KUNO

Gagasan bahwa kehidupan


adalah hasil peristiwa tak
disengaja dan tanpa tujuan
adalah sebuah mitos abad ke-
19. Dilihat dari tingkat
pemahaman ilmu
pengetahuan yang masih
terbelakang di masa itu, para Jean B.
evolusionis beranggapan Lamarck:
bahwa kehidupan sangatlah Ilmu
"sederhana". pengetahuan
Terdapat lebih dari satu juta meruntuhkan
spesies makhluk hidup yang teorinya.
menghuni bumi. Bagaimana
beragam spesies dengan keseluruhan ciri yang sama sekali berbeda dan rancangan
sempurna ini muncul menjadi ada? Setiap orang yang menggunakan akalnya akan
memahami bahwa kehidupan adalah karya penciptaan sempurna yang tiada tara.
Tetapi, teori evolusi menolak kebenaran yang jelas ini. Menurutnya, semua
spesies di bumi berevolusi dari satu spesies ke spesies lain melalui berbagai
peristiwa yang terjadi secara acak.
Orang pertama yang mempelajari masalah evolusi secara mendalam - sebuah
gagasan yang berasal dari bangsa Yunani Kuno - adalah biologiwan Prancis, Jean
Baptist Lamarck. Teori Lamarck, yang dikemukakan di awal abad ke-19,
menyebutkan bahwa "makhluk hidup mewariskan sifat-sifat yang mereka peroleh
selama hidup ke generasi berikutnya". Misalnya, dalam pandangan Lamarck,
jerapah telah berevolusi dari binatang sejenis kijang yang memanjangkan leher
terus-menerus saat berusaha mendapatkan makanan di dahan pohon yang lebih
tinggi. Namun, kemunculan ilmu genetika telah menguburkan teori Lamarck
sekali dan untuk selamanya.
KESULITAN DARWIN
Charles Darwin, seorang naturalis
amatir, mengemukakan teori dalam
bukunya: "The origin of species"
yang terbit pada tahun 1859. Ia
mengakui banyak permasalahan
yang tak dapat ia jelaskan dalam
bab "Difficulties On Theory". Ia
berharap beragam permasalahan ini
akan terpecahkan di masa
mendatang. Namun, pada
kenyataannya harapan ini tidak
pernah terwujud.

Orang penting kedua setelah Lamarck yang mempertahankan teori ini adalah
seorang naturalis amatir, Charles Darwin. Dalam bukunya The Origin of Species,
yang terbit pada tahun 1859, ia menyatakan semua spesies berasal dari satu nenek
moyang yang sama melalui proses yang terjadi secara kebetulan. Sebagai contoh,
menurut Darwin, ikan paus berevolusi dari beruang yang mencoba berburu di
laut.1

AKIBAT KETERBELAKANGAN ILMU


PENGETAHUAN
Saat Darwin mengemukakan teorinya,
pengetahuan seluk-beluk makhluk hidup
hingga bagiannya yang terkecil belum
banyak diketahui. Dan dengan
mikroskop sederhana waktu itu, struktur
rumit dari kehidupan mustahil dapat
dilihat.
Darwin sangat ragu ketika
mengemukakan
pernyataannya. Ia tidak
begitu yakin dengan
teorinya, dan mengakui
banyak permasalahan yang PERMASALAHAN
tidak mampu dijelaskannya Darwin tidak
melandaskan teorinya TENTANG CATATAN FOSIL
dalam bab berjudul Ketika Darwin
"Difficulties on Theory". pada bukti nyata atau
mengemukakan teorinya,
Darwin berharap kesulitan- penemuan apa pun. Ia para ahli paleontologi
kesulitan ini akan teratasi hanya melakukan
sejumlah pengamatan adalah yang paling
di kemudian hari seiring menentangnya. Mereka
dengan kemajuan ilmu dan menghasilkan
mengetahui bahwa
pengetahuan, dan membuat sejumlah gagasan. Ia "bentuk-bentuk peralihan"
sejumlah perkiraan. Tetapi melakukan sebagian
ilmu pengetahuan abad ke- besar pengamatannya di yang diduga pernah ada
atas kapal H.M.S. oleh Darwin,
20 menggugurkan
pernyataan Darwin satu Beagle yang berlayar kenyataannya tidak pernah
dari Inggris. ditemukan. Darwin
demi satu. Persamaan berharap permasalahan ini
antara teori Lamarck dan akan dapat teratasi dengan
Darwin adalah keduanya berlandaskan pada penemuan-penemuan fosil
pemahaman ilmu pengetahuan yang masih baru. Akan tetapi, ilmu
terbelakang. Ketiadaan berbagai cabang ilmu seperti paleontologi malah
biokimia dan mikrobiologi di masa itu semakin menggugurkan
menyebabkan para evolusionis berpikir bahwa teori Darwin hari demi
makhluk hidup memiliki rancangan sederhana hari.
sehingga dapat terbentuk dengan sendirinya secara
kebetulan. Ketidaktahuan terhadap hukum genetika memunculkan anggapan
bahwa beragam makhluk hidup dapat dengan mudah berevolusi menjadi spesies
baru.
Kemajuan ilmu pengetahuan telah meruntuhkan semua mitos ini dan mengungkap
bahwa makhluk hidup adalah karya penciptaan yang paling unggul
MENGAPA EVOLUSI MASIH SAJA
DIPERTAHANKAN?

Sejak pertama kali dirumuskan, teori evolusi telah


menjadi alat utama bagi indoktrinasi filsafat materialis.
Saat ini, mereka yang berusaha keras untuk
mempertahankan teori evolusi agar tetap hidup adalah
para pendukung filsafat ini.
Mengapa teori evolusi masih saja dipertahankan kendatipun
bukti-bukti nyata yang ada malah menolaknya? Ahli biologi
evolusionis Amerika, Michael Walker, membuat pengakuan berikut sebagai
jawaban atas pertanyaan ini:
Seseorang akan terpaksa menyimpulkan bahwa banyak ilmuwan dan ahli
teknologi menjadi penganut teori Darwin hanya karena teori tersebut dianggap
meniadakan Sang Pencipta. 65
Satu-satunya tujuan para pendukung teori ini adalah untuk menyokong filsafat
materialis yang mengingkari Allah. Materialisme adalah keyakinan buta yang
hanya mengakui keberadaan materi saja dan mengingkari hal-hal di luar materi.
Karena para materialis mendapatkan pembenaran ilmiah dari teori evolusi, mereka
mempertahankan Darwinisme sejak awal kemunculannya.
Pendiri materialisme dialektik (komunisme), Karl Marx, menulis tentang buku
Darwin, The Origin of Species, yang meletakkan landasan bagi teori evolusi,
sebagai "buku yang berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi pandangan
kami." 66
Sejak saat itu, semua materialis, dengan kaum Marxis di barisan terdepan, secara
buta mempertahankan Darwinisme.

HUBUNGANNYA
DENGAN
MATERIALISME
Filsafat
materialisme lahir
di tengah-tengah
kebudayaan
paganisme Yunani
Kuno. Darwinisme
meletakkan apa
yang disebut
sebagai landasan
ilmiah bagi filsafat
ini, yang
dihidupkan kembali
di abad ke-18.

Kendatipun demikian, kebohongan evolusi yang telah mengelabuhi dunia selama


140 tahun terakhir tidak akan berumur panjang. Seorang filsuf Inggris, Malcolm
Muggeridge, menyatakan keruntuhan tak terhindarkan dari teori ini:
Saya sendiri yakin bahwa teori evolusi, khususnya hingga batas penerapannya,
akan menjadi salah satu lelucon terbesar dalam buku-buku sejarah di masa
mendatang. Anak cucu kita akan merasa keheranan bagaimana sebuah hipotesis
yang sedemikian sangat rapuh dan meragukan dapat diterima dan begitu sangat
mudah dipercaya. 67
DARWINISME DAN RASISME
Ideologi lain yang
ditumbuhkembangkan oleh
Darwinisme adalah rasisme.
Dalam bukunya, The Origin
of Species, Darwin
berpendapat bahwa ras kulit
putih Eropa lebih maju dalam
evolusi, sedangkan ras-ras
lain masih setingkat dengan
kera. Gagasan ini
memberikan semacam
pembenaran ilmiah bagi para
pemikir rasis. Lukisan rasis
sebagaimana terlihat di
samping, yang
memperlihatkan orang
berkulit hitam dan kera
berada pada satu pohon yang
sama, adalah contoh dari
pengaruh Darwinisme di
Inggris pada abad ke-
19.Warisan rasis Darwinisme
memberikan dasar
pembenaran ilmiah bagi
beragam ideologi seperti
Nazisme pada abad ke-20.
Pandangan-pandangan rasis
pemimpin Nazi, Adolf Hitler,
didapatkan dari teori evolusi
Darwin. Dalam buku karya
Hitler berjudul Mein Kampf
(Perjuangan Saya), terdapat
sejumlah pandangan yang
terilhami oleh gagasan
Darwin tentang perjuangan
untuk mempertahankan
hidup.

KARL MARX
Orang pertama yang memahami
sumbangsih besar Darwin terhadap
paham materialisme adalah Karl Marx,
sang pendiri komunisme. Karl Marx
menunjukkan simpatinya kepada
Darwin dengan mempersembahkan
karya terbesarnya, Das Kapital, kepada
Darwin. Dalam edisi bahasa Jerman
dari buku tersebut, yang ia kirim
kepada Darwin, ia menulis: "Dari
seorang pengagum setia Charles
Darwin".
FRIEDRICH ENGELS

Friedrich Engels, sahabat dekat Karl


Marx, menganggap teori evolusi
sebagai pendukung utama paham
KARL MARX
materialisme. Engels memuji Darwin FRIEDRICH ENGELS
dan Karl Marx sebagai dua tokoh yang
sama pentingnya: "Sebagaimana
Darwin menemukan hukum evolusi
pada alam kehidupan, Marx pun
menemukan hukum evolusi pada
sejarah manusia."68
PERMUSUHAN DARWIN
TERHADAP BANGSA
TURKI
Pandangan rasis Charles
Darwin ditujukan kepada
banyak ras manusia, termasuk
bangsa Turki. Sebagaimana
dikutip dalam sebuah buku
berjudul The Life and Letters
of Charles Darwin yang berisi
kumpulan surat-surat Darwin,
ia menjuluki bangsa Turki
sebagai "ras kelas rendah" dan
kemudian memperkirakan
bahwa "ras-ras kelas rendah
tak lama lagi akan
termusnahkan di masa
mendatang." Dalam surat
yang ditulis Darwin kepada
W. Graham pada tanggal 3
Juli 1881, ia berkata: "Saya
dapat menunjukkan bahwa
perjuangan dalam seleksi alam
telah dan masih berpengaruh
baik bagi kemajuan peradaban
dari yang tampaknya
cenderung untuk anda akui.
Ingatlah bahaya yang dialami
bangsa-bangsa Eropa,
beberapa abad lalu ketika
dikalahkan bangsa Turki, dan
betapa bodohnya jika
sekarang masih ada pemikiran
seperti ini! Ras-ras Kaukasia
yang lebih beradab telah
mengalahkan bangsa Turki
hingga tak berdaya dalam
perjuangan untuk
mempertahankan hidup. Di
dunia masa mendatang yang
tak lama lagi, betapa tak
terhingganya jumlah ras-ras
kelas rendah yang akan
termusnahkan oleh ras-ras
kelas tinggi beradab di seluruh
dunia."69

KEBENARAN YANG NYATA: PENCIPTAAN

Ketika ilmu pengetahuan menghancurkan teori evolusi


yang berusaha menjelaskan berbagai bentuk kehidupan
sebagai perkembangan yang terjadi secara kebetulan, ini
berarti ilmu pengetahuan menunjukkan adanya penciptaan
sempurna di alam. Semua makhluk hidup muncul menjadi
ada melalui penciptaan oleh Allah.

Teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan adalah hasil karya


peristiwa "kebetulan". Akan tetapi, seluruh bukti ilmiah yang
telah diuraikan dalam buku ini menunjukkan
ketidakbenarannya. Kehidupan diciptakan dengan rancangan yang terlalu
sempurna untuk dapat diterangkan melalui peristiwa kebetulan.
Kepercayaan terhadap peristiwa "kebetulan" ini lahir pada abad ke-19 ketika
terdapat keyakinan bahwa makhluk hidup memiliki struktur sederhana.
Kepercayaan ini kemudian terbawa sampai abad ke-20 untuk tujuan ideologis.
Namun, kini masyarakat ilmiah mengakui betapa pernyataan ini ternyata tidak
masuk akal, dan sejumlah besar ilmuwan mengakui kehidupan sebagai hasil karya
Pencipta yang Maha Kuasa. Chandra Wickramashinge menggambarkan kenyataan
yang dihadapinya sebagai ilmuwan yang selama bertahun-tahun telah
diindoktrinasi untuk percaya pada mitos "kebetulan":
Sejak menjalani pelatihan pertama kali sebagai seorang ilmuwan, saya sungguh
mengalami pencucian otak agar percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat
diselaraskan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan penciptaan sengaja.
Gagasan ini harus dihilangkan dengan susah payah. Saat ini saya tidak dapat
menemukan alasan rasional untuk membantah pandangan yang mengajak kepada
Tuhan. Kita terbiasa dengan pikiran yang terbuka; sekarang kita menyadari bahwa
satu-satunya jawaban masuk akal tentang kehidupan ini adalah penciptaan -dan
bukan pengaturan secara acak dan kebetulan. 70

DARI SEL TUNGGAL HINGGA MANUSIA

Penciptaan manusia dalam rahim seorang ibu adalah sebuah


keajaiban tersendiri. Penyatuan antara sperma dan sel telur
menghasilkan satu sel hidup. Kemudian sel ini membelah dan
memperbanyak diri. Sel-sel yang sedang membelah ini mulai
membentuk sel-sel yang berbeda-beda jenisnya, mengikuti
sebuah perintah rahasia. Sel-sel ini mengalami penyusunan dan
pengaturan untuk membentuk tulang, mata, hati, pembuluh
darah atau kulit. Setelah melalui proses yang sangat rumit ini,
sebuah sel tunggal pada akhirnya berubah menjadi seorang
manusia sempurna. Allah menyeru manusia agar memikirkan
penciptaan ini:

"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu
Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan
menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia
menyusun tubuhmu." (QS. Al Infithaar, 82:6-8)

Seseorang tidak perlu mengunjungi laboratorium biokimia atau tempat-tempat


penggalian fosil agar dapat melihat kebenaran yang sangat nyata ini. Siapa pun
dapat melihat bukti penciptaan di segenap penjuru dunia mana pun dengan
menggunakan hati nurani dan akalnya. Ia dapat dengan mudah menangkap
hikmah, ilmu pengetahuan dan kekuasaan tak terbatas dari Penciptanya hanya
dengan memikirkan bagaimana ia dapat tumbuh menjadi seorang manusia yang
mampu membaca dan memahami baris-baris tulisan ini, padahal awalnya dia
hanyalah setetes air (mani).
PENCIPTAAN UNTA
Dalam Alqur'an, Allah
berfirman: "Maka apakah
mereka tidak
memperhatikan unta
bagaimana dia diciptakan?"
(QS. Al-Ghaasyiyah,
88:17).

Ketika memperhatikan
unta, kita saksikan bahwa
binatang ini diciptakan
secara khusus untuk
kondisi gurun pasir. Unta
memiliki sistem
metabolisme yang
memungkinkannya hidup
tanpa air selama
berminggu-minggu, ia
memiliki jaringan khusus
yang melindungi tubuhnya
dari pasir yang panas
membakar, dan ia bahkan
memiliki sistem alis mata
yang akan melindungi mata
mereka dari badai pasir.
PENCIPTAAN NYAMUK

Nyamuk memiliki sistem


"penglihatan ultraviolet"
yang membantunya
menemukan mangsa di
malam hari. Pipa
pengisapnya yang kecil
panjang, yang digunakan
untuk mengisap darah,
merupakan alat yang cukup
rumit yang terdiri atas 6
pisau. Alat ini dilengkapi
dengan sekresi cairan
khusus guna mencegah
pembekuan darah yang
sedang diisap dan bahkan
mampu mematikan sistem
saraf manusia. Dengan
rancangan luar biasa ini,
seekor nyamuk menjadi
bukti jelas adanya
penciptaan. Allah
menyatakan dalam
Alquran:

"Sesungguhnya Allah tiada


segan membuat
perumpamaan berupa
nyamuk atau yang lebih
rendah dari itu. Adapun
orang-orang yang beriman,
maka mereka yakin bahwa
perumpamaan itu benar
dari Tuhan mereka." (QS.
Al Baqarah, 2:26)

Tak seorang pun terlahir ke dunia ini secara kebetulan. Allah, Penguasa seluruh
alam, menciptakan seluruh jagat raya dan semua manusia. Allah menggambarkan
kekuasaan-Nya untuk menciptakan segala sesuatu dalam Alquran, yang
diturunkan-Nya sebagai petunjuk bagi manusia:
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu
perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali
tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk
menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah
mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah
dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan
sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha
Perkasa. (QS. Al Hajj, 22:73-74)
ILHAM PADA LEBAH
Lebah memperlihatkan kemampuan arsitektural yang luar biasa.
Ruang-ruang heksagonal pada sarang yang mereka bangun,
didasarkan pada perhitungan matematis yang rumit. Mereka
menggunakan suatu sistem yang memungkinkan melakukan
penyimpanan secara maksimum dengan penggunaan bahan
baku yang minimum. Hal menarik dari ruang-ruang heksagonal
ini adalah bahwa para lebah mulai membangunnya dari
sejumlah titik yang berlainan dan bertemu di tengah-tengah.
Anehnya, tidak dijumpai bentuk cacat apa pun pada titik
sambungnya. Hal ini menunjukkan bahwa lebah diperintah oleh
suatu pusat tunggal. Allah menyatakan dalam Al qur'an bahwa
lebah berperilaku berdasarkan ilham yang diberikan-Nya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-
sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-
tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap
(macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah
dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman
(madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat
obat yang menyembuhklan bagi manusia. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran
Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."
(QS. An-Nahl, 16:68-69)

INFORMASI GENETIS

Tahukah anda, di dalam setiap inti dari sel-sel pembentuk


tubuh manusia yang keseluruhannya berjumlah trilyunan,
terdapat kumpulan data yang cukup besar untuk mengisi
sebuah ensiklopedi yang terdiri dari 900 jilid?
DNA adalah sebuah molekul raksasa yang tersembunyi di dalam
inti setiap sel hidup. Semua ciri fisik makhluk hidup dikodekan
dalam molekul berbentuk rantai heliks ini. Semua informasi tentang tubuh kita,
dari warna mata hingga struktur organ-organ dalam, juga bentuk serta fungsi sel-
sel kita, terkodekan dalam bagian yang disebut gen dalam DNA.
Kode DNA tersusun atas urutan empat basa yang berbeda. Jika kita anggap setiap
basa ini sebagai satu huruf, maka DNA dapat disamakan dengan sebuah bank data
yang tersusun atas abjad berang-gotakan empat huruf. Semua informasi tentang
makhluk hidup tersimpan dalam bank data ini.

KEAJAIBAN PENGGANDAAN SEL


Jika anda meletakkan satu sel bakteri dalam lingkungan yang sesuai,
dalam beberapa jam anda akan mengetahui bahwa ia telah
menghasilkan ratusan salinan bakteri yang sama. Setiap sel hidup
memiliki kemampuan untuk "menggandakan dirinya sendiri."
Hingga pada saat DNA ditemukan, pertanyaan tentang bagaimana
proses ajaib ini terjadi belumlah diketahui. Dengan penemuan DNA,
terungkap bahwa setiap sel hidup memiliki sebuah "bank data" yang
menyimpan seluruh informasi mengenai dirinya sendiri. Penemuan
ini memperlihatkan keajaiban penciptaan.

Jika kita mencoba menuliskan informasi dalam DNA, maka ini akan
menghabiskan sekitar satu juta halaman buku. Ini setara dengan sebuah
ensiklopedi bervolume empat puluh kali lebih besar dari The Encyclopaedia
Britannica, yang merupakan salah satu kumpulan informasi terbesar yang pernah
dibuat manusia. Informasi raksasa ini tersimpan dalam inti yang sangat kecil
dalam sel kita yang berukuran sekitar seperseribu milimeter.

Menurut perhitungan, Setiap


sebuah rantai kecil informasi
DNA dalam satu yang ada
sendok teh berasal
berkemampuan dari suatu
DNA memuat tidak
menyimpan semua sumber
hanya rancangan
informasi yang kecerdasan
sebuah sel, tetapi
terdapat dalam semua yang
juga rancangan
buku yang pernah
utuh tubuh
ditulis manusia.
makhluk hidup. Struktur
menjadikannya ada. Informasi
organ dalam tubuh kita, atau
Tentu saja, struktur menakjubkan dalam DNA adalah
bentuk sayap burung,
menakjubkan seperti bukti adanya ilmu pengetahuan singkatnya segala sesuatunya,
ini tidak akan pernah dan hikmah luar biasa, sertaterkodekan dalam DNA
dapat terbentuk secara kekuasaan penciptaan oleh hingga
Allah. bagian-bagiannya
kebetulan dan ini yang terkecil.
membuktikan kehidupan diciptakan oleh Allah.
Tidak mengherankan jika para evolusionis tidak
mampu memberikan penjelasan tentang asal-usul DNA. Namun mereka masih
saja memakai hipotesis "kebetulan" tersebut hanya untuk mempertahankan
keberadaan teori evolusi. Ahli biologi molekuler terkemuka dari Australia,
Michael Denton, menjelaskan hal ini dalam bukunya "Evolution: A Theory in
Crisis" sebagai berikut:
Bagi para skeptis, perihal bahwa program genetis dari organisme tingkat tinggi -
yang terdiri dari sekitar seribu juta bit informasi yang setara dengan urutan huruf
dalam sebuah perpustakaan kecil berisi seribu jilid buku, yang berisi ribuan
algoritma rumit berbentuk kode yang mengatur, menentukan dan menyusun
pertumbuhan dan perkembangan bermilyar-milyar sel hingga membentuk suatu
organisme kompleks, - terbentuk melalui proses yang sama sekali berlangsung
secara acak sungguh merupakan pelecehan terhadap akal sehat. Akan tetapi bagi
para Darwinis, gagasan tersebut diterima tanpa keraguan sedikitpun - cara berpikir
ini justru diutamakan! 11

INFORMASI PADA RANTAI HELIKS


Molekul DNA terdiri dari jutaan pasang basa yang
tersusun dalam bentuk heliks. Jika sebuah molekul
DNA dalam satu sel kita dibentangkan, panjangnya
dapat mencapai satu meter. Rantai DNA ini
terpadatkan dalam inti sel dengan sistem
"pengemasan" yang luar biasa, sehingga ukurannya
mengecil hingga seperseratus ribu milimeter saja.

Struktur DNA
ditemukan oleh dua
ilmuwan bernama
Francis Crick dan
James Watson.
Meskipun seorang
evolusionis, Crick
mengatakan bahwa
DNA tidak mungkin
pernah muncul secera
kebetulan.
Setiap informasi yang
ada berasal dari suatu
sumber kecerdasan
yang menjadikannya
ada. Informasi
menakjubkan dalam
DNA adalah bukti
adanya ilmu
pengetahuan dan
hikmah luar biasa,
serta kekuasaan
penciptaan oleh
Allah.
ASAL USUL KEHIDUPAN
Evolusionis menyatakan bahwa makhluk hidup membentuk
diri mereka sendiri secara mandiri dari benda mati. Namun,
ini adalah dongeng takhayul abad pertengahan yang
bertentangan dengan hukum dasar biologi.
B agi kebanyakan orang, pertanyaan "apakah manusia berasal dari
kera atau tidak" muncul dalam benak mereka ketika teori Darwin
disebutkan. Tapi sebelum membahas masalah ini, sebenarnya
masih terdapat beragam pertanyaan yang harus dijawab oleh teori evolusi.
Pertanyaan pertama adalah bagaimana makhluk hidup pertama muncul di bumi.
Evolusionis menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa makhluk hidup
pertama adalah sel tunggal yang terbentuk dengan sendirinya dari benda mati
secara kebetulan. Menurut teori ini, pada saat bumi masih terdiri atas bebatuan,
tanah, gas dan unsur lainnya, suatu organisme hidup terbentuk secara kebetulan
akibat pengaruh angin, hujan dan halilintar. Tetapi, pernyataan evolusi ini
bertentangan dengan salah satu prinsip paling mendasar biologi: Kehidupan hanya
berasal dari kehidupan sebelumnya, yang berarti benda mati tidak dapat
memunculkan kehidupan.

SEL YANG MEMBELAH DIRI


Hukum paling mendasar dari
kehidupan adalah
"kehidupan hanya berasal
dari kehidupan". Suatu
makhluk hidup hanya dapat
muncul dari kehidupan sebelumnya.

Kepercayaan bahwa benda mati dapat memunculkan kehidupan sebenarnya sudah


ada dalam bentuk kepercayaan takhayul sejak abad pertengahan. Menurut teori
ini, yang disebut "spontaneous generation", tikus diyakini dapat muncul secara
alami dari gandum, atau larva lalat muncul "tiba-tiba dengan sendirinya secara
kebetulan" dari daging. Saat Darwin mengemukakan teorinya, keyakinan bahwa
mikroba dengan kemauan sendiri membentuk dirinya sendiri dari benda mati juga
sangatlah umum.

"LUMPUR YANG BERUBAH MENJADI


MAKHLUK HIDUP"
Nama ilmiah dari gambar di samping ini
adalah "Bathybius Haeckelii", yang berarti
"Lumpur Haeckel". Ernst Haeckel, seorang
pendukung gigih teori evolusi, mencoba
mengamati lumpur yang berhasil dikeruk
dengan cawan dan menganggapnya sangat
menyerupai sejumlah sel yang dilihatnya di
bawah mikroskop. Berdasarkan pengamatan
ini, ia menyatakan bahwa lumpur ini adalah
materi tak hidup yang berubah menjadi
organisme hidup. Haeckel dan rekannya,
Darwin, meyakini kehidupan memiliki
struktur sederhana sehingga dapat terbentuk
dari benda mati. Akan tetapi, ilmu
pengetahuan abad ke-20 menunjukkan bahwa
kehidupan tidak pernah dapat muncul dari
sesuatu yang tak hidup.

Penemuan biologiwan Prancis, Louis Pasteur, mengakhiri kepercayaan ini.


Sebagaimana perkataannya: "Pernyataan bahwa benda mati dapat memunculkan
kehidupan telah terkubur dalam sejarah untuk selamanya".2 Setelah Pasteur, para
evolusionis masih berkeyakinan bahwa sel hidup pertama terbentuk secara
kebetulan. Namun, semua percobaan dan penelitian yang dilakukan sepanjang
abad ke-20 telah berakhir dengan kegagalan. Pembentukan "secara kebetulan"
sebuah sel hidup tidaklah mungkin terjadi, bahkan untuk membuatnya melalui
proses yang disengaja di laboratorium tercanggih di dunia pun ternyata tidak
mungkin.

SPONTANEOUS
GENERATION: TAKHAYUL
ABAD PERTENGAHAN
Di antara kepercayaan
takhayul yang diyakini
masyarakat abad
pertengahan adalah benda
mati dapat memunculkan
kehidupan dengan
sendirinya secara tiba-tiba.
Saat itu diyakini, misalnya,
katak dan ikan terbentuk
dengan sendirinya dari
lumpur di dasar sungai. Di
kemudian hari terungkap,
hipotesis yang dikenal
sebagai "spontaneous
generation (kemunculan
tiba-tiba)" ini adalah
kebohongan belaka. Akan
tetapi, di kemudian hari
dengan skenario yang
sedikit berbeda,
kepercayaan ini
dihidupkan kembali
dengan nama "teori
evolusi".

Oleh karenanya, pertanyaan tentang bagaimana makhluk hidup pertama muncul


telah menempatkan teori evolusi dalam kesulitan sejak awal. Salah satu tokoh
utama pendukung teori evolusi tingkat molekuler, Prof. Jeffrey Bada, membuat
pengakuan berikut ini:
Saat ini, ketika kita meninggalkan abad keduapuluh, kita masih dihadapkan pada
masalah terbesar yang belum terpecahkan pada saat kita memasuki abad
keduapuluh: Bagaimana kehidupan muncul pertama kali di bumi?3

MITOS "EVOLUSI KIMIAWI"

Evolusionis terkenal, Alexander Oparin, muncul dengan gagasan "evolusi


kimiawi" di awal abad ke-20. Gagasan ini menyatakan bahwa sel hidup
pertama muncul secara kebetulan melalui sejumlah reaksi kimia yang
terjadi pada kondisi bumi purba. Akan tetapi, tak satu evolusionis pun,
termasuk Oparin sendiri, yang mampu memberikan satu pun bukti yang
mendukung gagasan "evolusi kimia". Sebaliknya, setiap penemuan baru di abad ke-20
menunjukkan kehidup-an terlalu kompleks untuk dapat terbentuk secara kebetulan.
Evolusionis terkenal Leslie Orgel membuat pengakuan berikut ini: "(Dengan mempelajari
struktur DNA, RNA, dan protein) seseorang mestinya berkesimpulan: ternyata kehidupan
tidak akan pernah dapat terbentuk melalui reaksi-reaksi kimiawi." 4

Selain menggugurkan teori evolusi, hukum "kehidupan muncul dari kehidupan


sebelumnya" juga menunjukkan bahwa makhluk hidup pertama muncul di bumi
dari kehidupan yang ada sebelumnya, dan ini berarti ia diciptakan oleh Allah.
Allah, Dia-lah satu-satunya Pencipta yang dapat menghidupkan benda mati.
Dalam Alquran disebutkan, "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup." (QS. Ar-Ruum, 30:19)
RANCANGAN PADA PROTEIN
Sekarang marilah kita
tinggalkan pertanyaan
tentang "bagaimana sel
pertama terbentuk" dan
beralih ke pertanyaan yang
jauh lebih mudah: Bagaimana
protein pertama terbentuk? Rancangan
Protein
Teori evolusi tidak memiliki kompleks
Sitokrom-C
jawaban pula atas pertanyaan molekul
ini. haemoglobin

Protein adalah molekul pembangun sel. Jika kita bandingkan sel dengan sebuah
gedung pencakar langit, maka protein adalah batu bata penyusun gedung tersebut.
Tetapi, protein tidak memiliki bentuk dan struktur baku sebagaimana batu bata.
Bahkan sel paling sederhana memiliki kurang lebih 2.000 jenis protein yang
berbeda. Sel tetap dapat melangsungkan kehidupan karena berfungsinya beragam
protein yang berbeda ini secara sangat harmonis.
Protein terbuat dari molekul-molekul lebih kecil yang disebut "asam amino" yang
terbentuk oleh beragam kombinasi berbeda dari atom karbon, nitrogen dan
hidrogen. Terdapat 500-1.000 asam amino dalam sebuah protein berukuran rata-
rata. Sejumlah protein berukuran jauh lebih besar.
Hal yang penting adalah bahwa asam-asam amino harus tersusun dalam urutan
tertentu untuk membentuk sebuah protein. Terdapat 20 jenis asam amino berbeda
yang menyusun makhluk hidup. Asam-asam amino ini tidak bergabung secara
acak untuk membentuk protein. Setiap protein memiliki urutan asam amino
tertentu dan urutan ini harus benar-benar tepat. Bahkan pengurangan atau
penggantian satu asam amino saja mampu menjadikan protein tersebut gumpalan
molekul tak berguna. Dengan alasan ini, setiap asam amino haruslah berada pada
tempat yang benar dan urutan yang tepat. Urutan ini berdasarkan pada perintah
yang disimpan dalam DNA sel, dan protein dihasilkan berdasarkan informasi yang
terdapat dalam DNA tersebut.

ARSITEKTUR PROTEIN
Di samping memiliki rancangan teramat rumit,
protein juga berperan sebagai batu bata yang
membentuk bangunan tubuh. Tubuh manusia
sebagian besarnya tersusun atas protein.
Protein adalah bahan dasar pembentuk tulang,
mata, rambut, atau otot kita. Di sini, anda dapat
menyaksikan struktur bagian dalam yang rumit
dari serat tunggal pembentuk salah satu otot
kita. Sel-sel dengan protein pembentuknya
yang berbeda-beda membentuk setiap bagian terkecil yang anda lihat pada struktur ini.
Setiap bagian-bagiannya yang terkecil dirancang dan dibangun secara sempurna
dengan menggunakan bahan organik, yaitu protein. Arsitektur protein yang
mengagumkan adalah bukti nyata penciptaan.
Teori evolusi menyatakan bahwa protein pertama terbentuk dengan sendirinya
"secara kebetulan". Namun perhitungan peluang (probabilitas) menunjukkan hal
ini mustahil terjadi. Sebagai contoh, probabilitas terbentuknya susunan asam
amino dari suatu protein yang terdiri dari 500 asam amino dalam urutan yang
benar adalah 1 berbanding 10950. 10950 adalah sebuah angka yang sulit dipahami
yang dibuat dengan menempatkan sebanyak 950 angka nol di belakang angka
satu. Dalam ilmu matematika, probabilitas lebih kecil dari 1 berbanding 1050
dianggap sebagai sesuatu yang hampir mustahil.

SINTESIS PROTEIN
Terdapat aktifitas yang berlangsung terus-menerus dalam sel-sel
tubuh kita: protein yang terkan-dung dalam makanan yang kita
makan dihan-curkan, dan kemudian pecahan-pecahannya (asam
amino) disusun kembali menjadi protein baru berdasarkan kode
pada DNA. Begitulah, protein baru yang dibutuhkan oleh tubuh
kita telah terbentuk. Proses ini, yang disebut sintesis protein,
sebenarnya jauh lebih rumit daripada gambar yang diseder-
hanakan ini. Tidak ada satu laboratorium pun yang memiliki
kemampuan setaraf sel dalam hal pembuatan protein.

Singkatnya, sebuah protein tunggal pun tak dapat terbentuk secara kebetulan.
Kaum Evolusionis juga mengakui fakta ini dari waktu ke waktu. Sebagai contoh,
Harold Blum, seorang ilmuwan evolusionis terkenal, menyatakan: "Pembentukan
mandiri secara tiba-tiba sebuah rantai polipeptida dari protein terkecil yang pernah
diketahui tampak jauh di luar jangkauan semua probabilitas" 6

Jadi, apa arti dari semua ini? Perry Reeves, seorang professor kimia, memberikan
jawabannya:
Ketika seseorang meneliti betapa sangat banyaknya struktur yang mungkin
terbentuk akibat kombinasi acak sederhana dari asam amino yang terdapat dalam
sebuah kolam purba yang sedang menguap, maka adalah mustahil untuk
mempercayai bahwa kehidupan dapat terbentuk dengan cara ini. Yang lebih
masuk akal adalah Pencipta Maha Agung dengan sebuah rancangan induk
diperlukan untuk melakukan tugas ini. 7

MAMPUKAH MONYET MENULIS


SEBUAH BUKU?
Sitokrom-C adalah salah satu protein
terpenting yang memungkinkan respirasi
oksigen terjadi. Protein ini diperlukan dalam
kehidupan. Tidak mungkin protein yang
memiliki rancangan sangat kompleks ini
terbentuk secara kebetulan. Salah satu
pendukung evolusi terkemuka di Turki, Prof.
Ali Demirsoy, menyatakan dalam bukunya
"Inheritance and Evolution" bahwa
kemungkinan pembentukan sitokrom-C
secara kebetulan adalah "sebagaimana kemungkinan seekor monyet menulis
sejarah kemanusiaan dengan mesin ketik tanpa membuat kesalahan sedikit pun." 8

RANCANGAN PADA SEL

Semua makhluk hidup tersusun atas sel. Sebuah sel dapat


mencukupi kebutuhannya sendiri; ia dapat menghasilkan
makanannya sendiri, bergerak dan berhubungan dengan sel-
sel yang lain. Dengan teknologi luar biasa ini, sel adalah bukti
nyata bahwa kehidupan tidak dapat terbentuk secara
kebetulan.
Sel, yang tak satu pun protein pembentuknya dapat terbentuk
secara kebetulan, adalah sebuah keajaiban perancangan yang benar-benar telah
menggugurkan hipothesis "kebetulan" teori evolusi. Di dalam sel terdapat
sejumlah pusat pembangkit tenaga, pabrik yang kompleks, bank data raksasa,
sistem penyimpanan dan pusat pengolahan yang canggih.
Di masa Darwin, struktur luar biasa sel belumlah diketahui sama sekali. Dengan
mikroskop sangat sederhana saat itu, sel terlihat seperti sebuah gumpalan
berwarna kehitaman. Oleh karenanya, Darwin dan para evolusionis lain di
zamannya meyakini sel hanyalah sebuah gumpalan kecil berisi air yang dapat
dengan mudah terbentuk dengan sendirinya secara kebetulan. Gagasan bahwa
kehidupan dapat dimunculkan oleh peristiwa kebetulan ini dapat diterima karena
pemahaman ilmu pengetahuan yang masih terbelakang masa itu.
SEL TUMBUHAN

Selain sel manusa dan


hewan, sel tumbuhan juga
merupakan sebuah keajaiban
penciptaan. Sel tumbuhan
menjalankan proses yang tak mampu dilakukan oleh
satu laboratorium pun di masa kini. Proses ini
adalah fotosintesis. Sebuah organel yang disebut
kloroplas dalam sel tumbuhan memungkinkan
tumbuhan untuk menghasilkan zat pati dengan
menggunakan air, karbon dioksida, dan sinar
matahari. Zat pati adalah mata rantai pertama dari
rantai makanan di bumi dan menjadi sumber
makanan bagi semua makhluk hidup. Keseluruhan
seluk-beluk proses yang sangat rumit ini masih
belum diketahui hingga kini.

Tetapi, perkembangan ilmu pengetahu-an pada abad ke-20 mengungkapkan, sel


memiliki sistem dengan kerumitan yang tak terbayangkan. Saat ini, terbukti
bahwa sel yang memiliki rancangan rumit dan sempurna tersebut tidak mungkin
terbentuk secara kebetulan sebagaimana anggapan teori evolusi. Sudah pasti
sebuah struktur yang terlalu rumit, bahkan untuk dapat ditiru oleh manusia
sekalipun, tidaklah mungkin hasil karya dari peristiwa "kebetulan". Ahli
matematika dan astronomi Inggris, Profesor Fred Hoyle, menerangkan
kemustahilan ini sebagai berikut:

SE
L OTAK YANG RUMIT
Satu sel otak senantiasa berhubungan
dengan sel-sel lainnya yang
berjumlah hingga 10.000 sel. Jaringan
komunikasi ini jauh lebih rumit
dibanding seluruh unit penghubung
telepon di dunia.
Sebuah sel imunitas (kekebalan)
menangkap sel-sel kuman yang
memasuki tubuh.
Kemungkinan terbentuknya kehidupan tingkat tinggi secara kebetulan dapat
disamakan dengan kemungkinan angin tornado yang ketika melintasi tempat
pembuangan barang bekas merakit pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang
ada... 9
Hoyle juga mengatakan: "Sesungguhnya, teori seperti ini (kehidupan tercipta oleh
suatu kecerdasan) sangatlah jelas sehingga membuat seseorang bertanya-tanya
mengapa hal ini tidak diterima luas sebagai sesuatu yang nyata. Alasannya lebih
bersifat psikologis daripada ilmiah." 10

DAPATKAH SEBUAH PESAWAT


TERBANG TERBENTUK SECARA
KEBETULAN?
Sel memiliki rancangan
sedemikian rumit sehingga
seorang ilmuwan terkenal Fred
Hoyle (kanan) membandingkannya dengan pesawat
Boeing 747. Menurut Hoyle, sebagaimana sebuah
pesawat yang tidak mungkin terbentuk secara kebetulan,
sel pun tidak mungkin terbentuk secara kebetulan.
Sesungguhnya, contoh ini menunjukkan kepada sebuah
kenyataan penting lain: Walaupun manusia mampu
membuat pesawat terbang raksasa dengan menggunakan
ilmu pengetahuan dan teknologinya, ia ternyata masih
belum mampu memproduksi satu sel pun.

KEKELIRUAN TENTANG SELEKSI ALAM

Seleksi alam, yang dikemukakan Darwin sebagai mekanisme evolusi,


ternyata tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Seleksi alam
tidak dapat membentuk spesies baru.
Sebagaimana kemustahilan munculnya kehidupan di muka bumi secara kebetulan,
adalah tidak mungkin bagi spesies makhluk hidup untuk merubah diri mereka
sendiri menjadi spesies lain. Sebab, tidak ada kekuatan yang mampu mendorong
terjadinya peristiwa seperti ini di alam. Apa yang kita sebut alam adalah
kumpulan dari atom-atom yang tidak memiliki kesadaran dan akal yang
menyusun tanah, bebatuan, udara, air dan segala sesuatu yang lain. Tumpukan
benda mati ini tidak memiliki kekuatan untuk merubah makhluk tak bertulang
belakang (invertebrata) menjadi seekor ikan, kemudian menjadikannya naik ke
darat dan berubah menjadi seekor reptil, dan kemudian merubahnya menjadi
seekor burung dan menjadikannya mampu terbang, dan akhirnya menjadikannya
seorang manusia.
Darwin mengemukakan sebuah gagasan sebagai "mekanisme evolusi": Seleksi
Alam. Seleksi Alam membahas seputar gagasan bahwa makhluk hidup paling kuat
yang paling mampu menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka akan tetap
hidup. Misalnya, dalam sekelompok rusa yang dimangsa oleh binatang buas, rusa
yang mampu lari lebih cepat akan bertahan hidup. Tetapi, tentu saja mekanisme
seperti ini tidak akan menyebabkan rusa berevolusi - ini tidak akan merubah
mereka menjadi spesies lain seperti gajah, misalnya.

KISAH MELANISME INDUSTRI


Ngengat berwarna gelap dan
terang, keduanya telah ada
sebelum dan sesudah revolusi
industri. Spesies ngengat baru
Sebelum Setelah tidak muncul.
Revolusi Revolusi
industri industri

Koleksi ngengat menunjukkan keduanya,


jenis gelap dan terang, telah hidup di
daerah tersebut sebelum revolusi industri

Para evolusionis seringkali mengutip


"Ngengat Revolusi Industri" pada abad ke-18 di Inggris sebagai "contoh nyata
evolusi melalui seleksi alam". Menurut kisahnya, di sekitar permulaan Revolusi
Industri di Inggris, warna kulit batang pohon di sekitar kota Manchester
sangatlah terang. Karenanya, ngengat berwarna gelap yang hinggap pada pohon-
pohon tersebut mudah terlihat sehingga mudah menjadi mangsa bagi burung-
burung dan, akibatnya, jumlahnya menjadi berkurang. Namun, ketika kulit
batang pohon menjadi gelap akibat polusi yang disebabkan oleh revolusi
industri, kini ngengat berwarna terang menjadi yang paling diburu dan jumlah
populasi ngengat berwarna gelap meningkat. Ini bukanlah contoh "evolusi",
sebab seleksi alam tidak memunculkan suatu spesies baru yang sebelumnya
tidak pernah ada di alam. Ngengat berwarna gelap telah ada sebelum revolusi
industri. Di sini, kita dapat melihat ngengat-ngengat yang dikoleksi oleh seorang
kolektor sebelum dan sesudah revolusi industri. Yang terjadi hanyalah
perubahan jumlah populasi spesies-spesies ngengat yang telah ada. Ngengat
tidak mendapatkan organ atau ciri fisik baru yang mengarah pada suatu
"perubahan dalam spesies mereka".

PENGARUH LAMARCK
Ketika Darwin mengusulkan "seleksi alam
menyebabkan spesies berevolusi", ia sebenarnya
terilhami hipotesis Lamarck tentang "penurunan
sifat dapatan". Menurut Lamarck, leher jerapah
memanjang saat mencoba mencapai cabang
pohon yang lebih tinggi untuk mendapatkan
makanan. Akan tetapi, di abad ke-20 diketahui
bahwa Lamarckisme adalah pemikiran yang
keliru.

Tidak ada secuil pun bukti pengamatan yang menunjukkan seleksi alam pernah
menyebabkan makhluk hidup mana pun untuk berevolusi. Evolu-sionis ternama
yang juga pakar paleontologi asal Inggris, Colin Patterson, mengakui kenyataan
ini:

SELEKSI ALAM TIDAK MEMBENTUK SPESIES BARU


Di alam, individu-individu lemah termusnahkan dan tergantikan
oleh individu-individu kuat. Namun, fenomena ini tidak
menyebabkan kemunculan spesies baru. Bahkan jika hewan-
hewan liar memburu rusa lemah dan lamban selama milyaran
tahun, rusa tidak akan pernah berubah menjadi spesies lain.

Tak seorang pun pernah memunculkan satu spesies melalui mekanisme seleksi
alam. Tak seorang pun pernah hampirmelakukannya, dan kebanyakan perdebatan
dalam neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini. 17
PENGORBANAN DIRI PADA HEWAN
Teori evolusi Darwin melalui proses seleksi alam
bersandar pada anggapan bahwa seluruh
makhluk hidup melakukan perjuangan sengit
untuk mempertahankan kelangsungan hidup
mereka. Pengamatan ternyata menunjukkan
masyarakat hewan memperlihatkan beragam
contoh mengagumkan tentang perilaku
pengorbanan diri dan tolong-menolong. Lembu
liar dewasa yang berbaris melingkar untuk
melindungi keturunan muda mereka hanyalah
satu dari sekian banyak contoh pengorbanan diri
di alam.

Hakikat Teori Evolusi Darwin:


Perang Terhadap Agama

HARUN YAHYA

Kirim
artikel ini

Di jaman ini, sejumlah kalangan berpandangan bahwa teori evolusi yang


dirumuskan oleh Charles Darwin tidaklah bertentangan dengan agama. Ada juga
yang sebenarnya tidak meyakini teori evolusi tersebut akan tetapi masih juga ikut
andil dalam mengajarkan dan menyebarluaskannya. Hal ini tidak akan terjadi
seandainya mereka benar-benar memahami teori tersebut. Ini adalah akibat
ketidakmampuan dalam memahami dogma utama Darwinisme, termasuk
pandangan paling berbahaya dari teori tersebut yang diindoktrinasikan kepada
masyarakat. Oleh karenanya, bagi mereka yang beriman akan adanya Allah
sebagai satu-satunya Pencipta makhluk hidup, namun pada saat yang sama
berpandangan bahwa "Allah menciptakan beragam makhluk hidup melalui proses
evolusi," hendaklah mempelajari kembali dogma dasar teori tersebut. Tulisan ini
ditujukan kepada mereka yang mengaku beriman akan tetapi salah dalam
memahami teori evolusi. Di sini diuraikan sejumlah penjelasan ilmiah dan logis
yang penting yang menunjukkan mengapa teori evolusi tidak sesuai dengan Islam
dan fakta adanya penciptaan.
Dogma dasar Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup muncul
menjadi ada dengan sendirinya secara spontan sebagai akibat peristiwa
kebetulan. Pandangan ini sama sekali bertentangan dengan keyakinan
terhadap adanya penciptaan alam oleh Allah.
Kesalahan terbesar dari mereka yang meyakini bahwa teori evolusi tidak
bertentangan dengan fakta penciptaan adalah anggapan bahwa teori evolusi adalah
sekedar pernyataan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada melalui proses
evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Oleh karenanya, mereka
mengatakan: "Bukankah tidak ada salahnya jika Allah menciptakan semua
makhluk hidup melalui proses evolusi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain;
apa salahnya menolak hal ini?" Akan tetapi, sebenarnya terdapat hal yang sangat
mendasar yang telah diabaikan: perbedaan mendasar antara para pendukung
evolusi (=evolusionis) dan pendukung penciptaan (=kreasionis) bukanlah terletak
pada pertanyaan apakah "makhluk hidup muncul masing-masing secara terpisah
atau melalui proses evolusi dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Pertanyaan
yang pokok adalah "apakah makhluk hidup muncul menjadi ada dengan
sendirinya secara kebetulan akibat rentetan peristiwa alam, atau apakah
makhluk hidup tersebut diciptakan secara sengaja?"
Teori evolusi, sebagaimana yang diketahui, mengklaim bahwa senyawa-senyawa
kimia inorganik dengan sendirinya datang bersama-sama pada suatu tempat dan
waktu secara kebetulan dan sebagai akibat dari fenomena alam yang terjadi secara
acak. Mula-mula senyawa-senyawa ini membentuk molekul pembentuk
kehidupan, seterusnya terjadi rentetan peristiwa yang pada akhirnya membentuk
kehidupan. Oleh sebab itu, pada intinya anggapan ini menerima waktu, materi tak
hidup dan unsur kebetulan sebagai kekuatan yang memiliki daya cipta. Orang
biasa yang sempat membaca dan mengerti literatur teori evolusi, paham bahwa
inilah yang menjadi dasar klaim kaum evolusionis. Tidak mengherankan jika
Pierre Paul Grassé, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui evolusi sebagai teori
yang tidak masuk akal. Dia mengatakan apa arti dari konsep "kebetulan" bagi para
evolusionis:
…'[Konsep] kebetulan' seolah telah menjadi sumber keyakinan [yang sangat
dipercayai] di bawah kedok ateisme. Konsep yang tidak diberi nama ini
secara diam-diam telah disembah.
(Pierre Paul Grassé, Evolution of Living Organisms, New York, Academic Press,
1977, p.107)
Akan tetapi pernyataan bahwa kehidupan adalah produk samping yang terjadi
secara kebetulan dari senyawa yang terbentuk melalui proses yang melibatkan
waktu, materi dan peristiwa kebetulan, adalah pernyataan yang tidak masuk akal
dan tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai
satu-satunya Pencipta seluruh makhluk hidup. Kaum mukmin sudah sepatutnya
merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat dari kepercayaan
yang salah dan menyesatkan ini; serta mengingatkan akan bahayanya.
Pernyataan tentang "adanya kebetulan" yang dikemukakan teori evolusi
dibantah oleh ilmu pengetahuan
Fakta lain yang patut mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah bahwa
berbagai penemuan ilmiah ternyata malah sama sekali bertentangan dengan klaim-
klaim kaum evolusionis yang mengatakan bahwa "kehidupan muncul sebagai
akibat dari serentetan peristiwa kebetulan dan fenomena alamiah." Ini dikarenakan
dalam kehidupan terdapat banyak sekali contoh adanya rancangan (design) yang
disengaja dengan bentuk yang sangat rumit dan telah sempurna. Bahkan sel
pembentuk suatu makhluk hidup memiliki rancangan yang sangat menakjubkan
yang dengan telak mematahkan konsep "kebetulan."
Perancangan dan perencanaan yang luar biasa dalam kehidupan ini sudah pasti
merupakan tanda-tanda penciptaan Allah yang khas dan tak tertandingi, serta ilmu
dan kekuasaan-Nya yang Tak Terhingga.
Usaha para evolusionis untuk menjelaskan asal-usul kehidupan dengan
menggunakan konsep kebetulan telah dibantah oleh ilmu pengetahuan abad 20.
Bahkan kini, di abad 21, mereka telah mengalami kekalahan telak. (Silahkan baca
buku Blunders of Evolutionists, karya Harun Yahya, terbitan Vural Publishing).
Jadi, alasan mengapa mereka tetap saja menolak adanya penciptaan oleh Allah
kendatipun telah melihat fakta ini adalah adanya keyakinan buta terhadap
atheisme.
Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi
Oleh karena fakta yang menunjukkan adanya penciptaan atau rancangan yang
disengaja pada kehidupan adalah nyata, satu-satunya pertanyaan yang masih
tersisa adalah "melalui proses yang bagaimanakah makhluk hidup diciptakan." Di
sinilah letak kesalahpamahaman yang terjadi di kalangan sejumlah kaum mukmin.
Logika keliru yang mengatakan bahwa "Makhluk hidup mungkin saja diciptakan
melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain" sebenarnya masih
berkaitan dengan bagaimana proses terjadinya penciptaan makhluk hidup
berlangsung.
Sungguh, jika Allah menghendaki, Dia bisa saja menciptakan makhluk hidup
melalui proses evolusi yang berawal dari sebuah ketiadaan sebagaimana
pernyataan di atas. Dan oleh karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa
makhluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, kita bisa
mengatakan bahwa, "Allah menciptakan kehidupan melalui proses evolusi."
Misalnya, jika terdapat bukti bahwa reptil berevolusi menjadi burung, maka dapat
kita katakan,"Allah merubah reptil menjadi burung dengan perintah-Nya "Kun
(Jadilah)!". Sehingga pada akhirnya kedua makhluk hidup ini masing-masing
memililiki tubuh yang dipenuhi oleh contoh-contoh rancangan yang sempurna
yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep kebetulan. Perubahan rancangan ini
dari satu bentuk ke bentuk yang lain - jika hal ini memang benar-benar terjadi -
akan sudah barang tentu bukti lain yang menunjukkan penciptaan.
Akan tetapi, yang terjadi ternyata bukan yang demikian. Bukti-bukti ilmiah
(terutama catatan fosil dan anatomi perbandingan) justru menunjukkan hal yang
sebaliknya: tidak dijumpai satu pun bukti di bumi yang menunjukkan proses
evolusi pernah terjadi. Catatan fosil dengan jelas menunjukkan bahwa spesies
makhluk hidup yang berbeda tidak muncul di muka bumi dengan cara saling
berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain. Tidak ada perubahan bentuk
sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain
dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, spesies makhluk hidup yang berbeda
satu sama lain muncul secara serentak dan tiba-tiba dalam bentuknya yang telah
sempurna tanpa didahului oleh nenek moyang yang mirip dengan bentuk-bentuk
mereka. Burung bukanlah hasil evolusi dari reptil, dan ikan tidak berevolusi
menjadi hewan darat. Tiap-tiap filum makhluk hidup diciptakan masing-masing
secara terpisah dengan ciri-cirinya yang khas. Bahkan para evolusionis yang
paling terkemuka sekalipun telah terpaksa menerima kenyataan tersebut dan
mengakui bahwa hal ini membuktikan adanya fakta penciptaan. Misalnya, seorang
ahli palaentologi yang juga seorang evolusionis, Mark Czarnecki mengaku
sebagaimana berikut:
Masalah utama yang menjadi kendala dalam pembuktian teori evolusi adalah
catatan fosil; yakni sisa-sisa peninggalan spesies punah yang terawetkan dalam
lapisan-lapisan geologis Bumi. Catatan [fosil] ini belum pernah menunjukkan
bukti-bukti adanya bentuk-bentuk transisi antara yang diramalkan Darwin -
sebaliknya spesies [makhluk hidup] muncul dan punah secara tiba-tiba, dan
keanehan ini telah memperkuat argumentasi kreasionis [=mereka yang
mendukung penciptaan] yang mengatakan bahwa tiap spesies diciptakan oleh
Tuhan.
(Mark Czarnecki, "The Revival of the Creationist Crusade", MacLean's, 19
Januari 1981, hal. 56)
Khususnya selama lima puluh tahun terakhir, perkembangan di berbagai bidang
ilmu pengetahuan seperti palaentologi, mikrobiologi, genetika dan anatomi
perbandingan, dan berbagai penemuan menunjukkan bahwa teori evolusi tidak lah
benar. Sebaliknya makhluk hidup muncul di muka bumi secara tiba-tiba dalam
bentuknya yang telah beraneka ragam dan sempurna. Oleh karena itu, tidak ada
alasan untuk mengatakan bahwa Allah menggunakan proses evolusi dalam
penciptaan. Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup masing-masing secara
khusus dan terpisah, dan pada saat yang sama, dengan perintah-Nya "Kun
(Jadilah)!" Dan ini adalah sebuah fakta yang nyata dan pasti.
Kesimpulan
Sungguh sangat penting bagi orang-orang yang beriman untuk senantiasa waspada
dan berhati-hati terhadap sistem ideologi yang ditujukan untuk melawan Allah
dan din-Nya. Selama 150 tahun, teori evolusi atau Darwinisme telah menjadi dalil
serta landasan berpijak bagi semua ideologi anti agama yang telah menyebabkan
tragedi bagi kemanusiaan seperti fasisme, komunisme dan imperialisme; serta
melegitimasi berbagai tindak kedzaliman tak berperikemanusiaan oleh mereka
yang mengadopsi berbagai filsafat ini. Oleh karenanya, tidak sepatutnya
kenyataan dan tujuan yang sesungguhnya dari teori ini diabaikan begitu saja. Bagi
setiap orang yang mengaku muslim, ia memiliki tanggung jawab utama dalam
membuktikan kebohongan setiap ideologi anti agama yang menolak keberadaan
Allah dengan perjuangan pemikiran dalam rangka menghancurkan kebatilan dan
menyelamatkan masyarakat dari bahayanya.
EVOLUSI, RASISME DAN KOLONIALISME

HARUN YAHYA

Kirim
artikel ini

Evolusi: Mitos Penyembah Berhala


Sekitar lima ribu tahun yang lalu, di dataran subur di Timur Tengah, agama
paganisme berkembang di Mesopotamia. Agama ini memunculkan sejumlah
mitos dan takhayyul tentang asal-usul kehidupan dan alam semesta. Salah satunya
adalah kepercayaan pada “evolusi”. Menurut legenda Sumeria, Enuma-Elish,
kehidupan pertama muncul secara kebetulan di air dan kemudian berevolusi dari
satu spesies ke spesies yang lain.
Bertahun-tahun kemudian, mitos evolusi tumbuh subur di peradaban pagan yang
lain, yakni Yunani Kuno. Para filsuf Yunani, yang menyebut diri mereka sebagai
“materialis”, hanya mengakui keberadaan materi dan menganggap materi sebagai
sumber kehidupan. Karenanya, mereka menggunakan mitos evolusi, yang
diwariskan bangsa Sumeria, untuk menjelaskan bagaimana makhluk hidup
muncul menjadi ada. Demikianlah, Yunani Kuno menjadi jembatan penghubung
bagi filsafat materialis dan mitos evolusi. Bangsa Romawi pagan kemudian
mewarisi pemikiran ini.
Dua konsep dari kebudayaan penyembah berhala ini diperkenalkan ke dunia
modern di abad kedelapan belas. Kaum intelektual Eropa yang terpengaruh oleh
pemikiran Yunani kuno mempercayai paham ‘materialisme’ dengan keyakinan
yang sama, yakni mereka sangat anti terhadap agama monoteisme. Buku karya
tokoh materialis terkemuka, Baron d’Holbach, The System of Nature dianggap
sebagai “rujukan utama ateisme”.
Dalam hal ini, ahli biologi Perancis, Jean Baptist Lamarck, adalah yang pertama
memberikan penjelasan rinci tentang teori evolusi. Teori Lamarck, yang kemudian
terbantahkan, menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu spesies ke
spesies yang lain melalui perubahan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu
lama. Adalah Charles Darwin yang mengulangi dan menyebarluaskan pandangan
Lamarck, meskipun agak berbeda.
Darwin mengemukakan pandangannya di Inggris tahun 1859, melalui penerbitan
bukunya The Origin of Species. Buku Darwin pada hakikatnya adalah penjelasan
rinci tentang mitos evolusi, yang awalnya diperkenalkan oleh bangsa Sumeria
kuno. Teorinya menyatakan bahwa semua spesies yang berbeda berasal dari satu
moyang yang sama, yang terbentuk dalam air secara kebetulan, yang darinya
beragam spesies makhluk hidup muncul dalam rentang waktu yang lama.
Pernyataan Darwin ini tidaklah didasarkan atas bukti ilmiah, sehingga tak begitu
dipercayai oleh para ilmuwan di zamannya. Para ahli paleontologi khususnya,
menyadari bahwa keseluruhan teori tersebut sebagian besarnya adalah khayalan
Darwin belaka. Catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak
mengalami proses evolusi dari bentuk sederhana ke bentuk lebih sempurna.
Bahkan makhluk yang hidup ratusan juta tahun lalu memiliki tubuh yang sama
lengkapnya dengan yang masih hidup sekarang. Tak ada jejak “bentuk transisi”
yang menurut Darwin pernah ada dan yang dianggap menghubungkan satu spesies
dengan yang lain. Di tahun-tahun berikutnya, pernyataan lain dari teori ini
terbantahkan satu demi satu. Biokimia mengungkapkan bahwa kehidupan terlalu
kompleks untuk dapat muncul secara kebetulan sebagaimana klaim Darwin.
Bahkan diketahui bahwa pembentukan secara acak molekul paling sederhana
tidaklah mungkin, apalagi sebuah sel hidup. Di sisi lain, anatomi menunjukkan
bahwa makhluk hidup memiliki disain khas dan masing-masing diciptakan secara
terpisah.
Singkatnya, teori Darwin tidak memiliki landasan ilmiah. Tapi, teori ini dengan
cepat memperoleh dukungan politis dikarenakan “pembenaran ilmiah” yang
diberikannya pada kekuatan yang berpengaruh di abad kesembilan belas.
Teori Darwin Tentang Ras Manusia
Pada tahun 1871, Darwin menerbitkan bukunya yang lain, The Descent of Man.
Dalam buku ini ia menyatakan bahwa manusia berevolusi dari makhluk mirip
kera. Darwin tak dapat memberikan bukti apapun yang mendukung klaimnya
selain membuat sejumlah skenario khayalan.
Darwin juga memiliki pemikiran yang menarik. Ia berpendapat bahwa sejumlah
ras berevolusi lebih cepat dan, karenanya, lebih maju dari yang lain; sedangkan
ras-ras lain dianggapnya masih setingkat dengan kera.
Ada satu hal penting lagi tentang teori Darwin, ia membangun keseluruhan
teorinya pada konsep “perjuangan untuk mempertahankan hidup”. Menurutnya,
konflik sengit, perjuangan berdarah melingkupi alam kehidupan ini. Yang kuat
selalu menang melawan yang lemah, dan ini mendorong yang kuat untuk
berkembang.
Darwin menegaskan bahwa konflik serupa juga berlaku pada ras-ras manusia.
Bahkan sub-judul dari bukunya "The Origin of Species: by way of Natural
Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life" (Asal
Usul Spesies: Melalui Seleksi Alam atau Pelestarian Ras-Ras Pilihan dalam
Perjuangan Mempertahankan Hidup), dengan jelas mengungkap pandangan
rasialnya.
Menurut Darwin, ras pilihan adalah ‘bangsa kulit putih Eropa’, sedangkan Ras
Asia atau Afrika gagal dalam perjuangan mempertahankan hidup. Darwin
melangkah lebih jauh, bahkan mengatakan bahwa ras-ras ini akhirnya akan
dihapuskan sama sekali:
Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab
hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh
dunia. Pada saat yang sama, kera-kera mirip manusia...tak pelak lagi akan
dimusnahkan.
Seperti terungkap jelas dalam pernyataan ini, Darwin adalah seorang rasis tulen
yang meyakini keunggulan bangsa kulit putih. Ia meyakini bangsa kulit putih
pertama-tama akan memperbudak, dan kemudian memusnahkan ras-ras kelas
rendah.
Gagasan Darwin sungguh mendapat sambutan baik. Di zamannya, bangsa kulit
putih sedang mencari teori untuk membenarkan tindakan biadab mereka.
Landasan Berpikir Kolonialisme
Sejak abad keenam belas, Eropa mulai menjajah berbagai belahan dunia. Penjajah
pertama adalah bangsa Spanyol di bawah pimpinan Christopher Columbus. Dalam
waktu singkat, penjajah Spanyol menyerbu Amerika Selatan. Mereka
memperbudak penduduk asli, ras masyarakat yang sebelumnya hidup damai.
Wilayah Amerika Selatan, yang kaya emas dan perak, dirampok oleh para
penjarah ini. Penduduk asli yang berusaha melawan dibantai.
Menyusul Spanyol; Portugis, Belanda dan Inggris turut ambil bagian dalam
memperebutkan daerah jajahan. Di abad kesembilan belas, Inggris menjadi
imperium kolonial terbesar di dunia. Dari India hingga Amerika Latin, imperium
Inggris mengeruk habis sumber-sumber kekayaan alam. Bangsa kulit putih
menjarah dunia demi kepentingannya sendiri.
Tentu saja kaum penjajah ini tak ingin dikenang sepanjang sejarah sebagai
“penjarah”. Karenanya, mereka berusaha mendapatkan pembenaran bagi
tindakannya ini. Mereka berdalih dengan menganggap bangsa terjajah sebagai
“kaum primitif atau terbelakang”, bahkan “makhluk mirip binatang”. Pandangan
ini pertama kali dikemukakan di masa awal penjajahan, masa ketika Christopher
Columbus berlayar menuju Amerika. Dengan menganggap penduduk asli
Amerika bukan manusia murni, tapi spesies binatang yang telah berkembang,
penjajah Spanyol membenarkan perbudakan yang mereka lakukan.
Saat peristiwa ini terjadi, dalih tersebut tidak mendapat dukungan luas. Sebab,
waktu itu masyarakat Eropa secara luas masih percaya bahwa semua manusia
diciptakan sama oleh Tuhan dan semuanya berasal dari moyang yang sama, yakni
Nabi Adam.
Namun, segalanya berubah di abad kesembilan belas. Tumbuh suburnya paham
materialime menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan kenyataan bahwa
manusia diciptakan oleh Tuhan. Ini juga berarti kelahiran paham rasisme.
Landasan ilmiah rasisme adalah teori evolusi Darwin. Ahli antropologi India,
Lalita Vidyarthi menyatakan:
Teori Darwin tentang “kelangsungan hidup bagi yang terkuat“ disambut hangat
oleh ilmuwan sosial masa itu, dan mereka percaya bahwa manusia meraih tangga
evolusi yang berbeda, yang berpuncak pada peradaban bangsa kulit putih. Hingga
paruh kedua abad ke-19, rasisme diterima sebagai fakta oleh mayoritas ilmuwan
barat.
Dengan pandangan rasial seperti ini, Darwin memberikan dukungan penuh bagi
penjajahan oleh bangsa Eropa. Imperialisme Inggris zaman Victoria mengambil
teori Darwin sebagai dasar dan pembenaran ilmiahnya.

HOMO FLORESIENSIS DAN FAKTA YANG TERUNGKAP SEPUTAR


MITOS EVOLUSI
HARUN YAHYA

Sebuah tim penggalian situs


purbakala di bawah
pimpinan ilmuwan Australia
dan Indonesia telah
menemukan sisa-sisa
kerangka delapan manusia
dengan ukuran tubuh agak
pendek dan volume otak
kecil di dalam gua Liang Hom
Bua di pulau Flores, o
Indonesia. Fosil-fosil flore
tersebut diberi nama Homo siens
floresiensis (Manusia is and
Flores), yang diambil dari Hom
nama pulau tempat o
ditemukannya fosil tersebut. sapie
Salah satu kerangka, yang ns
diperkirakan seorang
perempuan berusia 30-an tahun dan meninggal sekitar 18.000 tahun lalu,
tingginya hanya 1 meter. Volume otak wanita itu hanya 380 cc. Informasi ini
penting, sebab ukuran otak tersebut boleh dikatakan kecil, bahkan untuk seekor
simpanse sekalipun. Penyelidikan atas penemuan itu, yang diperkirakan berlaku
paling tidak bagi 8 kerangka tersebut, menunjukkan bahwa H. floresiensis hidup
di dalam gua ini antara 95.000 dan 12.000 tahun yang lalu. Pendapat bersama dari
para ilmuwan yang meneliti perkakas dan tulang-belulang hewan yang berhasil
ditemukan dalam penggalian di dalam gua tersebut adalah bahwa individu-
individu H. floresiensis memperlihatkan perilaku kompleks yang memerlukan
kemampuan berbicara, dengan kata lain mereka adalah manusia cerdas yang hidup
bermasyarakat dan memiliki keterampilan (kemampuan berkarya). Batu-batu yang
dipahat dan diasah tajam untuk keperluan tertentu ditemukan di dalam gua itu, dan
keberadaan kerangka hewan memperlihatkan bahwa mereka adalah para pemburu
yang berhasil, yang mampu menangkap binatang-binatang yang lebih besar dari
tubuh mereka sendiri.
Apa yang telah Anda baca sejauh ini adalah fakta-fakta objektif yang sebenarnya
tentang penemuan tersebut. Kini marilah kita cermati sejumlah pemutarbalikan
fakta yang dilakukan oleh para evolusionis untuk memasukkan penemuan ini agar
sesuai dengan mitos evolusi, dan mari kita pahami bagaimana sebuah penemuan
yang sebenarnya memberikan pukulan keras terhadap Darwinisme ini telah
diputarbalikkan menjadi alat propaganda oleh media massa Darwinis.
Tulisan ini menanggapi pernyataan evolusionis tentang H. floresiensis yang dibuat
dalam laporan Ntvmsnbc.com, 28 Oktober 2004, dengan judul "Revolution in
Anthropology: The Hobbits" ("Revolusi di Bidang Antropologi: Manusia Kerdil
yang Hidup di Lubang). Dalam laporan ini, Ntvmsnbc.com mengabarkan
penemuan H. floresiensis dengan judul "new human-like species unearthed"
("spesies baru yang mirip manusia telah diketemukan"), dan menyatakan bahwa
makhluk-makhluk ini muncul di pulau Flores sebagai hasil dari "proses evolusi
yang tidak diketahui." Alasan mengapa pernyataan ini tidak memiliki keabsahan
ilmiah dijelaskan di bawah ini, dan dukungan membabi buta Ntvmsnbc.com
terhadap Darwinisme pun tersingkap.
peNIPUAN tentang "spesies mirip manusia"
Alasan mengapa para ilmuwan memilih memberi nama fosil tersebut H.
floresiensis adalah sebagaimana berikut: ketika para peneliti, yang sedari awal
menerima gagasan bahwa manusia muncul melalui proses evolusi, menemukan
fosil yang berasal dari ras-ras manusia zaman dulu, mereka memberinya nama
sedemikian rupa agar cocok dengan mitos evolusi yang mereka munculkan dalam
benak mereka. Metoda yang digunakan untuk melakukan hal ini didasarkan pada
penafsiran yang dilebih-lebihkan tentang variasi (*) antar ras-ras manusia zaman
dulu, dan variasi antara ras-ras tersebut dengan manusia modern. Dengan cara
inilah mereka mengumumkan fosil-fosil tersebut sebagai "spesies baru."
Fosil-fosil H. floresiensis juga merupakan produk dari metoda ini, dan
penjelasannya sebagai spesies baru didasarkan hanya pada praduga evolusionis.
Kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa penggambaran H. floresiensis sebagai
spesies manusia baru tidak menambahkan dukungan apa pun terhadap teori
evolusi. Sebaliknya, penemuan ini mengungkap betapa sesungguhnya pernyataan
seputar hal tersebut telah dipaksakan.
1. Mustahil memastikan garis batas pemisah spesies dengan melihat pada tulang-
belulang
Gagasan tentang spesies biologis digunakan di masa kini untuk makhluk-makhluk
hidup yang dimasukkan dalam kelompok yang sama yang dapat melangsungkan
perkawinan dan menghasilkan keturunan yang sehat. Definisi ini didasarkan pada
kemampuan bereproduksi dengan sesama sebagai garis pemisah antarspesies.
Akan tetapi mustahil untuk mengetahui: dengan makhluk hidup manakah suatu
makhluk hidup mampu bereproduksi, hanya dengan mengamati tulang-belulang
yang telah menjadi fosil dari makhluk hidup yang hidup di masa lampau.
Pengelompokan berdasarkan pada tingkat kesamaan antar tulang-belulang
(dengan kata lain variasi-variasi yang diperlihatkan di antara mereka) mungkin
tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti secara ilmiah. Hal ini dikarenakan
meskipun sejumlah spesies (seperti anjing) memperlihatkan variasi yang besar,
spesies lain (seperti citah) diketahui memiliki hanya sedikit variasi.
Oleh karena itu, ketika fosil yang berasal dari spesies punah diketemukan, variasi
yang teramati mungkin bersumber pada satu di antara dua sebab. Variasi ini
berasal dari satu spesies yang memiliki variasi yang besar atau dari beberapa
spesies berbeda yang menunjukkan variasi yang sedikit. Akan tetapi tidak ada
cara untuk mengetahui mana di antara dua kemungkinan ini yang benar-benar
berlaku. Bahkan, Alan Walker, pakar paleoantropologi dari Pennsylvania State
University, yang juga seorang evolusionis, mengakui kenyataan ini dengan
mengatakan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui apakah suatu fosil
merupakan perwakilan dari komunitas (masyarakat) dari mana ia berasal atau
tidak. Dia menyatakan lebih jauh bahwa seseorang tidak dapat mengetahui apakah
fosil tersebut berasal dari salah satu dari ujung-ujung rentang spesies yang ada,
atau di salah satu bagian di tengahnya. (i)
Richard Potts, seorang evolusionis dan antropolog lain, yang juga direktur Human
Origins Program (Program Asal Usul Manusia) di Smithsonian Institution,
Washington, mengakui kebenaran yang sama tersebut dalam ucapannya:
"Menurut pikiran saya sangatlah sulit untuk mengatakan, hanya dari tulang-
belulang, di mana garis-garis batas pemisah spesies berada." (ii)
2. Menyatakan keseluruhan ciri suatu spesies hanya dari sejumlah kecil fosilnya
adalah keliru.
Para evolusionis menampilkan fosil-fosil H. floresiensis sebagai suatu spesies
terpisah, dan menganggap volume otaknya yang kecil dan kerangkanya yang
pendek sebagai ciri-ciri spesies tersebut. Namun, faktanya adalah bahwa individu-
individu mungkin saja tidak membawa seluruh sifat-sifat yang terdapat dalam
perbendaharaan gen populasi (population gene pool, yakni sekumpulan gen-gen
yang memunculkan suatu spesies) di dalam tubuh mereka. Dengan kata lain, ciri-
ciri yang diperlihatkan oleh individu-individu mungkin saja bukan ciri-ciri yang
pada umumnya diperlihatkan dalam populasi tersebut. Dan itulah yang terjadi,
semakin sedikit jumlah fosil yang diteliti, semakin besar kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam membuat anggapan bahwa ciri-ciri mereka merupakan ciri-ciri
dari keseluruhan populasi dari mana mereka berasal. Robert Locke, editor majalah
Discovering Archaeology, telah menjelaskan hal ini dengan sebuah pemisalan
sederhana. Dia mengatakan bahwa jika seorang paleoantropolog masa depan
menemukan tulang-belulang milik seorang pemain bola basket profesional, maka
manusia abad dua puluh satu mungkin terlihat sebagai suatu spesies raksasa. Dia
menyatakan lebih lanjut bahwa sebaliknya jika kerangka itu milik seorang joki,
maka kita akan terlihat sebagai makhluk berkaki dua yang pendek dan kecil. (iii)
Singkatnya, menampilkan H. floresiensis sebagai suatu spesies terpisah
berdasarkan pada volume otaknya yang kecil dan kerangkanya yang pendek, dan
anggapan bahwa keseluruhan individu (keseluruhan anggota populasi asalnya)
memiliki ciri-ciri yang sama tersebut, adalah sebuah kekeliruan. Fosil-fosil ini
mungkin dapat dianggap sebagai variasi-variasi yang terlihat pada ras-ras manusia
masa lampau yang hidup di zaman itu. Sesungguhnya, itulah kebenaran yang
mengemuka ketika pengkajian terhadap H. floresiensis tidak dibatasi pada segi
anatominya saja.
H. floresiensis: RAS MANUSIA ZAMAN DULU
Seorang manusia mungkin saja kerdil, bervolume otak kecil, memiliki rahang
sedikit menonjol atau berdahi sempit. Ia bahkan mungkin berjalan membungkuk
dengan punggung menonjol akibat penyakit persendian. Akan tetapi, ciri-ciri
anatomis seperti itu tidak menjadikan orang tersebut tergolong dalam suatu
spesies di luar manusia.
Orang-orang kerdil modern merupakan bukti hidup akan hal ini. Menurut situs
internet the Guinness Records, Tamara de Treaux dari Amerika adalah aktor film
layar lebar yang tingginya 77 cm (2 kaki 7 inci). Weng Wang asal Filipina adalah
seorang aktor pendek lainnya dengan tinggi badan 83 cm (2 kaki 9 inci). Pasangan
pengantin bertubuh terpendek adalah warga Brazil Douglas da Silva (90 cm / 35
inci) dan Claudia Rocha (93 cm / 36 inci). (iv)
Persis sebagaimana orang-orang ini, individu-individu H. floresiensis memiliki
kemampuan berkarya dan kemampuan berbahasa, menjalani kehidupan
bermasyarakat dan memiliki kecerdasan. H. floresiensis sudah pasti merupakan
sebuah penemuan penting khususnya untuk menunjukkan bahwa manusia pada
kenyataannya dapat memiliki volume otak yang sedemikian kecil.
Jadi, bagaimana orang-orang ini bisa memiliki volume otak yang sedemikian kecil
dan kerangka yang pendek?
Dalam tulisan mereka yang diterbitkan jurnal Nature, (v, vi) para ilmuwan yang
menemukan H. floresiensis menyinggung dua kemungkinan berkenaan dengan
ukuran fosil-fosil ini. Yang pertama adalah kelainan yang muncul sebagai hasil
dari mutasi genetis. Salah satu nama terkemuka dari kelompok penelitian itu,
paleoantropolog Peter Brown, menjelaskan dalam sebuah wawancara yang dimuat
dalam situs majalah Scientific American bagaimana volume otaknya terlalu kecil
untuk penderita kelainan seperti itu (kerdil karena kelainan pada kelenjar pituitary
(pituitary dwarves) atau berkepala kecil sejak lahir (microcephalic dwarves).
Brown mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kelainan seperti itu telah
ditemukan pada anatomi H. floresiensis, akan tetapi sulit juga mengesampingkan
kemungkinan tersebut (vii). Kemungkinan kedua, yang lebih menjadi pusat
perhatian para ilmuwan, adalah bahwa H. floresiensis mungkin telah dipengaruhi
oleh sebuah proses yang dikenal sebagai dwarfisme pulau (island dwarfism).
Dwarfisme pulau menjelaskan makhluk hidup yang terpisahkan secara geografis
dari populasi di daratan induk mengalami pengecilan ukuran tubuh secara
bertahap akibat tidak mencukupinya sumber makanan setempat. Proses ini
diketahui dengan baik dari fosil-fosil mamalia yang ditemukan di pulau-pulau.
Misalnya, diperkirakan bahwa gajah dengan tinggi tubuh 1 meter yang ditemukan
di pulau Sisilia dan Malta berubah menjadi kerdil sedikitnya 5.000 tahun setelah
terdampar di pulau tersebut dan terpisahkan dari gajah-gajah berketinggian 4
meter. (viii) Penjelasan ini disalah-artikan oleh Ntvmsnbc.com dan H. floresiensis
dinyatakan "telah mengalami sebuah proses evolusi yang tidak diketahui di pulau
tersebut." Namun kenyataannya, dari segi apa pun dwarfisme pulau tidak
mendukung teori evolusi. Suatu makhluk hidup yang mengalami proses
pengecilan ukuran tubuh sama sekali tidak berarti mendapatkan sifat genetis baru
apa pun, dan tidak berubah menjadi makhluk hidup lain. Yang terjadi hanyalah
pengecilan ukuran dalam batas yang dimungkinkan oleh perbendaharaan genetis
(genetic pool)-nya. Oleh karena makhluk hidup baru ataupun sifat baru yang
didasarkan pada informasi genetis yang lebih kompleks tidak muncul, maka tidak
terjadi "evolusi" apa pun di sini. Misalnya, sebuah radio mini yang dibuat oleh
para insinyur masih merupakan sebuah radio, dan tidak ada perkembangan yang
mungkin menjadikannya berfungsi sebagai televisi telah terjadi. Sama halnya
seperti radio mini yang tidak berevolusi menjadi televisi, H. floresiensis pun tidak
berevolusi menjadi bentuk makhluk hidup yang lain. Oleh sebab itu, pernyataan
Ntvmsnbc.com tentang H. floresiensis berisi propaganda Darwinis tanpa dasar.
PERKAKAS YANG MEREKA GUNAKAN MERUPAKAN BUKTI BAHWA
H. floresiensis ADALAH RAS MANUSIA ZAMAN DULU
Menurut skenario dwarfisme, H. floresiensis dianggap merupakan garis keturunan
dari Homo erectus. Pembenaran atas dugaan ini adalah sebagai berikut: Pada
tahun 1998, M.J. Morwood, salah seorang peneliti yang menemukan H.
floresiensis, melaporkan bahwa mereka telah menemukan perkakas batu yang
berusia sekitar 800.000 tahun di penggalian-penggalian sebelumnya di pulau
tersebut. (ix) Tidak hanya perkakas ini saja yang menyerupai perkakas buatan H.
erectus, akan tetapi anatomi wajah H. floresiensis juga secara umum mirip H.
erectus. (x) Tambahan lagi, wilayah Asia Tenggara di mana pulau tersebut
terletak adalah salah satu kawasan tempat H. erectus hidup dalam rentang waktu
yang lama. Sebuah tulisan yang diterbitkan jurnal Science pada tahun 1996
memaparkan bukti bahwa H. erectus sempat hidup di Jawa, sebuah pulau di
Indonesia seperti halnya Flores, hingga sedekat 27.000 tahun yang lalu. (xi)
Semua ini menunjukkan bahwa H. floresiensis adalah satu variasi dari H. erectus
dan keduanya mungkin pernah hidup sezaman selama puluhan ribu tahun.
(Meskipun digambarkan sebagai satu spesies terpisah dari manusia modern oleh
para evolusionis, H. erectus sesungguhnya adalah suatu ras manusia zaman
dahulu. Untuk lebih jelasnya, silakan klik DI SINI dan DI SINI.)
Penipuan Evolusi oleh
National Geographic
Kanan; tengkorak H.
floresiensis.
Kiri; "Lukisan"
Darwinis ditambahkan
disamping tengkorak
oleh National
Geographic.
Pengamatan saksama mengungkapkan bahwa bagian-bagian tubuh
seperti bibir, hidung dan telinga, yang tidak dapat ditentukan
berdasarkan tulang-belulangnya, telah dilukis, dengan cara
tertentu agar memunculkan penampakan mirip kera. Hampir
seluruh lembaga pemberitaan paling terkemuka di dunia
menggunakan rekonstruksi yang menipu ini dalam melaporkan
temuan tentang Homo floresiensis. Sebuah fosil yang sebenarnya
sama sekali meruntuhkan skenario evolusi malah diputarbalikkan
sedemikian rupa dan ditampilkan kepada jutaan orang seolah-olah P
merupakan bukti yang sesungguhnya bagi Darwinisme. al
e
YANG DIUNGKAP H. floresiensis SEPUTAR MITOS EvoluSI o
a
nt
Selama lebih dari seabad hingga kini, para evolusionis telah
ro
menyatakan bahwa terdapat peningkatan volume otak selama
p
proses evolusi manusia yang dikhayalkan terjadi itu. Mereka juga
ol
mengisahkan mitos bahwa selama proses rekaan ini, manusia
o
memperoleh kemampuan bernalar, berkarya dan berbahasa lisan
g
yang mereka miliki seiring dengan perkembangan volume
P
otaknya. Akan tetapi, tak satu pun dari dongeng ini bernilai ilmiah.
et
Henry Gee, editor jurnal Nature dan seorang evolusionis yang
er
telah menulis banyak tulisan dan buku tentang evolusi, mengakui
B
hal yang sama dalam bukunya In Search of Deep Time:
ro
Sebagai contoh, evolusi manusia dikatakan telah didorong oleh w
perbaikan dalam hal perawakan, ukuran otak, dan koordinasi n
antara tangan dan mata, yang mengarah pada pencapaian teknologi
seperti api, pembuatan perkakas, dan penggunaan bahasa. Tapi skenario seperti ini
bersifat subjektif. Semua itu tidak akan pernah dapat diuji melalui percobaan, dan
karenanya hal tersebut tidaklah ilmiah. (xii)
Dengan ditemukannya H. floresiensis, mitos bahwa kecerdasan manusia muncul
bersamaan dengan peningkatan ukuran otak kini telah semakin menjadi tidak
dapat dipercaya. Hal tersebut dikarenakan H. floresiensis, dengan volume otak tak
lebih besar dari simpanse, memperlihatkan perilaku yang tidak berbeda dengan
manusia yang berotak besar. Oleh karenanya, ini membuktikan bahwa kecerdasan
dan kemampuan mental manusia tidaklah sebanding dengan ukuran otak.
Itulah maksud sesungguhnya dari perkataan Henry Gee dalam menafsirkan
penemuan H. floresiensis: "Keseluruhan anggapan bahwa Anda membutuhkan
ukuran otak tertentu untuk melakukan sesuatu yang cerdas telah sama sekali
dipatahkan oleh penemuan ini." (xiii)
"WANITA MUNGIL DARI FLORES MEMAKSA PENINJAUAN KEMBALI
SKENARIO evolusi manusia"
Keterkejutan yang sesungguhnya bagi para evolusionis datang dari pengetahuan
bahwa apa yang diyakini sebagai hominid (keluarga manusia modern) dengan
volume otak yang sedemikian kecil itu hidup bukan berjuta-juta tahun lampau,
melainkan hanya 18.000 tahun lalu. Chris Stringer dari Museum Natural History
di London mengakui keheranannya sebagaimana berikut:
"Ini adalah makhluk dengan otak seukuran otak simpanse, akan tetapi nampaknya
[ia] seorang pembuat perkakas dan pemburu, dan mungkin dilahirkan sebagai
keturunan dari pelaut pertama di dunia. Keberadaannya menunjukkan betapa
sedikitnya kita tahu tentang evolusi manusia. Saya tidak pernah dapat
membayangkan sesosok makhluk seperti ini, yang hidup sedemikian dekat dengan
zaman sekarang." (xiv)
Peter Brown, salah seorang pemimpin kelompok penelitian itu, menggambarkan
keterkejutannya ketika dia mengukur tengkorak tersebut, dan mengakui bahwa H.
floresiensis sama sekali tidak bersesuaian dengan skenario evolusi: "Ukuran tubuh
yang kecil mudah diterima, tapi ukuran otak yang kecil adalah sebuah
permasalahan yang lebih besar - masih hingga kini." (xv)
Layanan berita jurnal Nature yang menerbitkan penemuan H. floresiensis
merangkum permasalahan yang sulit dan membingungkan yang menghadang para
evolusionis dengan judul utama yang dipilihnya, "Little Lady of Flores Forces
Rethink of Human Evolution" ("Wanita Mungil dari Flores Memaksa Peninjauan
Kembali [Skenario] Evolusi Manusia").
PERMASALAHAN, KETERKEJUTAN, PERNYATAAN
MEMBINGUNGKAN, SEBUAH TEORI YANG PERLU PENINJAUAN
ULANG…
Pernyataan-pernyataan para evolusionis sendiri mencerminkan pukulan berat yang
diberikan oleh fosil tersebut terhadap skenario khayalan evolusi manusia. Lebih
jauh lagi, penggambaran fosil-fosil ini sebagai bukti bagi evolusi di berbagai
media menunjukkan sekali lagi bahwa Darwinisme adalah sebuah sistem
kepercayaan yang dipertahankan secara membabi buta agar tetap hidup meskipun
bertentangan dengan fakta, karena para evolusionis masih saja menolak
meninggalkan teori mereka di hadapan berbagai penemuan fosil yang baru-baru
ini telah sama sekali meluluhlantakkan mitos yang mereka ajarkan tanpa kenal
lelah selama bertahun-tahun. Nyatanya, kaum evolusionis menyembunyikan
setiap sanggahan baru yang melemahkan skenario mereka melalui penemuan-
penemuan baru dengan mengatakan, "itu berarti kita berevolusi tidak dengan cara
ini, tapi cara itu," dan mereka masih saja berupaya keras mempertahankan mitos
evolusi, yang mereka dukung secara membabi buta, agar terus hidup di balik
topeng ilmiah.
KESIMPULAN:
Muslihat yang dilakukan para evolusionis dengan menafsirkan variasi pada
tulang-belulang zaman dulu menurut prasangka mereka sendiri berisi skenario
khayalan evolusi manusia menurut alur yang mereka kehendaki. Perlu dipahami
bahwa memberitakan dongeng khayal yang didasarkan pada kemiripan tulang-
belulang adalah kegiatan yang tidak bermakna di hadapan fakta yang
sesungguhnya.
Organ tubuh yang dimiliki manusia, seperti mata, telinga dan jantung,
memperlihatkan kerumitan yang kemunculannya tidak dapat dijelaskan melalui
peristiwa acak yang tidak disengaja. Ilmu pengetahuan modern telah mengungkap
bahwa ketidaksengajaan (kebetulan) tidak memiliki kemampuan untuk
membentuk satu saja dari puluhan ribu protein yang terdapat di dalam satu sel di
antara seluruh triliunan sel dalam tubuh manusia, apalagi membentuk keseluruhan
organnya.
Dengan organ dan sistem sempurna yang mereka miliki, manusia memperlihatkan
keberadaan perancangan yang nyata. Buku-buku pelajaran dan ensiklopedia
kedokteran membeberkan tingkat pengetahuan kompleks yang mendasari
perancangan manusia tersebut. Tak ada keraguan bahwa asal mula manusia, yang
memiliki rancangan sempurna berdasarkan pengetahuan, adalah "penciptaan."
Adalah Tuhan Yang Mahabesar, Pencipta Segala Sesuatu, Yang menciptakan
manusia, dan Dia tidak memiliki sekutu dalam Penciptaan makhluk-Nya.
Kebenaran ini telah dinyatakan dalam Al Qur'an:
"Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang
sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak
mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku." (QS. Al Kahfi, 18:37-38)
(*) Istilah variasi digunakan dalam biologi untuk memaparkan perbedaan-
perbedaan dari sebuah bentuk, fungsi atau struktur yang diketahui. Istilah ini juga
digunakan untuk menggambarkan suatu makhluk hidup yang memperlihatkan
perbedaan-perbedaan semacam itu.
PERKEMBANGAN PENTING SEPUTAR MANUSIA
FLORES>>>

i Robert Locke, The first human?, Discovering Archaeology, Juli - Agustus 1999,
h. 36
ii Julianna Kettlewell, "Skull fuels Homo erectus debate", 2 Juli 2004,
http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/3857113.stm
iii Robert Locke, ibid
iv Carl Wieland, "Soggy dwarf bones",
http://answersingenesis.org/docs2004/1028dwarf.asp
v Brown P. et al. Nature, 431. 1055 - 1061 (2004).
vi Morwood M. J. et al. Nature, 431. 1087 - 1091(2004)
vii Kate Wong, "Digging Deeper: Q&A with Peter Brown", 27 Oktober 2004,
http://sciam.com/article.cfm?chanID=sa004&articleID=00082F87-7D35-117E-
BD3583414B7F0000
viii Lister A., et al. Symposia of the Zoological Society of London, 69. 277 - 292
(1996); Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27
Oktober 2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
ix Morwood M. J. et al. Nature, 392. 173 - 176 (1998)
x Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27 Oktober
2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
xi C. C. Swisher III, W. J. Rink, S. C. Antón, H. P. Schwarcz, G. H. Curtis, A.
Suprijo, "Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo
sapiens in Southeast
Asia" Science, Vol 274, Issue 5294, 1870-1874 , 13 Desember 1996
xii Henry Gee, In Search Of Deep Time: Beyond The Fossil Record To A New
Hýstory Of Life, The Free Press, A Division of Simon & Schuster, Inc., 1999, h. 5
xiii 'Hobbit' joins human family tree, 27 Oktober 2004,
http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/3948165.stm
xiv "Our not so distant relative", The Guardian, 28 Oktober 2004,
http://www.guardian.co.uk/life/feature/story/0,13026,1337198,00.html
xv " Our not so distant relative", The Guardian, 28 Oktober 2004.
___________________________________________
i Robert Locke, The first human?, Discovering Archaeology, July - August 1999,
p. 36
ii Julianna Kettlewell, "Skull fuels Homo erectus debate", 2 July 2004,
http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/3857113.stm
iii Robert Locke, ibid
iv Carl Wieland, "Soggy dwarf bones",
http://answersingenesis.org/docs2004/1028dwarf.asp
v Brown P. et al. Nature, 431. 1055 - 1061 (2004).
vi Morwood M. J. et al. Nature, 431. 1087 - 1091(2004)
vii Kate Wong, "Digging Deeper: Q&A with Peter Brown", 27 October 2004,
http://sciam.com/article.cfm?chanID=sa004&articleID=00082F87-7D35-117E-
BD3583414B7F0000
viii Lister A., et al. Symposia of the Zoological Society of London, 69. 277 - 292
(1996); Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27
October 2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
ix Morwood M. J. et al. Nature, 392. 173 - 176 (1998)
x Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27 October
2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
xi C. C. Swisher III, W. J. Rink, S. C. Antón, H. P. Schwarcz, G. H. Curtis, A.
Suprijo, "Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo
sapiens in Southeast
Asia" Science, Vol 274, Issue 5294, 1870-1874 , 13 December 1996
xii Henry Gee, In Search Of Deep Time: Beyond The Fossil Record To A New
Hýstory Of Life, The Free Press, A Division of Simon & Schuster, Inc., 1999, p. 5
xiii 'Hobbit' joins human family tree, 27 October 2004,
http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/3948165.stm
xiv "Our not so distant relative", The Guardian, 28 October 2004,
http://www.guardian.co.uk/life/feature/story/0,13026,1337198,00.html
xv " Our not so distant relative", The Guardian, 28 October 2004.

MANUSIA FLORES BUKANLAH SATU SPESIES TERSENDIRI


YANG TERPISAH DARI HOMO SAPIENS...
Kami telah menanggapi pernyataan-pernyataan yang dilontarkan
berkenaan dengan penemuan Manusia Flores yang mengundang
perhatian media yang sedemikian mendunia. Sejumlah tanggapan
balik yang terbaru dari dunia ilmiah membenarkan tanggapan kami
T
tersebut.
e
u
Tokoh penting yang melontarkan pandangannya adalah k
paleoantropolog Indonesia, Teuku Jacob. Teuku Jacob adalah u
seorang evolusionis dan kepala laboratorium paleoantropologi, J
Universitas Gadjah Mada. Lembaga tersebut dikenal menyimpan a
banyak fosil yang ditemukan dalam batas wilayah Indonesia dan c
dikaitkan dengan evolusi manusia yang bersifat rekaan itu. Oleh o
karenanya, perkataan Teuku Jacob secara khusus penting dalam b
menyanggah skenario evolusionis seputar Homo floresiensis.
Pernyataan pers yang diedarkan oleh kantor berita AFP dengan judul “Indonesian
scientist says Flores hominid not new species" ("Ilmuwan Indonesia mengatakan
hominid Flores bukan spesies baru"), berbunyi:
Seorang ilmuwan terkemuka Indonesia menentang teori yang telah dipublikasikan
secara luas bahwa rangka fosil yang ditemukan di pulau di bagian timur, Flores,
adalah dari satu spesies manusia yang sebelumnya tidak diketahui. Profesor Teuku
Jacob, palaeontolog terkemuka dari Universitas Gadjah Mada, akan melakukan
sejumlah pengujian untuk membuktikan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari
satu sub-spesies dari Homo sapiens – “seorang manusia biasa, persis seperti
kita”.
“Ini bukanlah satu spesies baru. Ini adalah satu sub-spesies dari Homo
sapiens yang digolongkan ke dalam ras Australomelanesid. Jika bukan satu
spesies baru, mengapa ia diberi sebuah nama baru?” kata sang profesor. (i)
Sebagai rangkuman, para evolusionis menggunakan ukuran otak yang lumayan
kecil dari H. floresiensis untuk menampilkannya sebagai satu spesies terpisah.
Akan tetapi, Teuku Jacob menyatakan bahwa volume otak yang kecil ini mungkin
merupakan suatu tanda kelainan mental daripada sekedar bukti yang
menyatakannya sebagai satu spesies terpisah. (Teuku Jacob juga seorang pakar di
bidang patologi.) Selain itu, proses dwarfisme yang diperkirakan menjadi
penyebab ukuran otak yang kecil pada Manusia Flores ini juga ditemukan pada
ras-ras manusia lain. Teuku Jacob menekankan bahwa dwarfisme semacam itu
tidak hanya dapat ditemukan di Flores, tapi juga di Central Mountain, Papua dan
Andaman, Aceh. Fakta bahwa dwarfisme dikenal pada ras-ras manusia lainnya
memberikan petunjuk baru tentang kekeliruan menetapkan H. floresiensis sebagai
suatu "spesies" terpisah berdasarkan dwarfisme tersebut.
Di saat yang sama, sebuah laporan di situs internet harian Jakarta Post berjudul
“Indonesian experts deny ‘Flores Man' fossil claim” ("Pakar Indonesia
Menyanggah Pernyataan tentang Fosil 'Manusia Flores'") melaporkan pandangan
serupa yang dianut oleh Harry Widianto dari Lembaga Arkeologi Yogyakarta.
Widianto menyatakan bahwa manusia Flores hanyalah subspesies dari H. sapiens,
dengan kata lain suatu ras manusia modern. Ia juga menegaskan bahwa fosil-fosil
ini seharusnya dinamakan H. sapiens floresiensis. (ii)
Tidak hanya ilmuwan Indonesia yang mengungkapkan kesalahan penetapan
Manusia Flores sebagai satu spesies terpisah. Dalam sisipan edisi Ahad harian
berbahasa Turki Hürriyet, pakar antropologi dari Hacettepe University, Profesor
Metin Özbek, juga menyanggah pernyataan tersebut, yang tengah dipopulerkan di
media massa, bahwa manusia Flores adalah suatu spesies terpisah. Professor
Özbek berkata:
Pernyataan bahwa penemuan ini akan memunculkan revolusi di bidang
antropologi agak dibesar-besarkan. Saya tidak tahu seberapa akurat untuk
menganggap kerangka yang ditemukan di pulau Flores sebagai suatu spesies
yang terpisah sama sekali. Itu mungkin satu variasi ras dari H. sapiens. Fakta
bahwa otaknya kecil dan tubuhnya pendek adalah menarik, akan tetapi semua ini
juga telah ada pada orang pigmi. Microcephaly (otak berukuran kecil) adalah
sebuah fenomena yang sudah dikenal. (iii)
KESIMPULAN:
Pernyataan sejumlah ahli seperti Teuku Jacob, Widianto dan Özbek adalah
pengulangan yang sama dari butir-butir utama tanggapan kami seputar Manusia
Flores.
Upaya untuk menampilkan fosil-fosil Manusia Flores sebagai satu spesies
tersendiri yang terpisah dari manusia modern tidaklah didasarkan pada
alasan ilmiah dan tidak memberikan dukungan apa pun bagi teori evolusi.
Penetapan "spesies terpisah" Manusia Flores yang digagas oleh sejumlah
evolusionis namun ditentang oleh evolusionis lain merupakan fakta yang sekali
lagi menyingkap ketidakpastian yang menyelimuti pernyataan-peryataan evolusi
seputar fosil-fosil tersebut.
Informasi di Balik Materi dan Lauhul Mahfuzh

HARUN YAHYA

Kirim
artikel ini

Informasi… Konsep ini di masa sekarang memiliki makna yang jauh


lebih berarti dibandingkan setengah abad yang lalu sekalipun. Para
ilmuwan merumuskan sejumlah teori untuk mengartikan istilah
informasi. Para ilmuwan sosial berbicara tentang “abad informasi”.
Informasi kini tengah menjadi konsep yang amat penting bagi umat
manusia.
Penemuan informasi tentang asal-usul alam semesta dan kehidupan
itu sendiri lah yang menjadikan konsep informasi ini menjadi begitu
penting di dunia modern ini. Kalangan ilmuwan kini menyadari
bahwa jagat raya terbentuk dari “materi, energi dan informasi,”
dan penemuan ini telah menggantikan filsafat materialistik abad ke-
19 yang menyatakan bahwa alam semesta keseluruhannya terdiri dari
“materi dan energi” saja.
Lalu, apa arti dari semua ini?
Kami akan jelaskan melalui sebuah contoh, yakni DNA. Semua sel
hidup berfungsi berdasarkan informasi genetis yang terkodekan pada
struktur rantai heliks ganda DNA. Tubuh kita juga tersusun atas
trilyunan sel yang masing-masingnya memiliki DNA tersendiri, dan
semua fungsi tubuh kita terekam dalam molekul raksasa ini. Sel-sel
kita menggunakan kode-kode protein yang tertuliskan pada DNA
untuk memproduksi protein-protein baru. Informasi yang dimiliki
DNA kita sungguh berkapasitas sangat besar sehingga jika anda
ingin menuliskannya, maka ini akan memakan tempat 900 jilid
ensiklopedia, dari halaman awal hingga akhir!
Jadi tersusun dari apakah DNA? Lima puluh tahun yang lalu, para
ilmuwan akan menjawab bahwa DNA terdiri atas asam-asam inti
yang dinamakan nukleotida dan beragam ikatan kimia yang mengikat
erat nukleotida-nukleotida ini. Dengan kata lain, mereka terbiasa
menjawabnya dengan menyebutkan hanya unsur-unsur materi dari
DNA. Namun kini, para ilmuwan memiliki sebuah jawaban yang
berbeda. DNA tersusun atas atom, molekul, ikatan kimia dan, yang
paling penting, informasi.
Persis sebagaimana sebuah buku. Kita akan sangat keliru jika
mengatakan bahwa sebuah buku hanya tersusun atas kertas, tinta dan
jilidan buku; sebab selain ketiga unsur materi ini, adalah informasi
yang benar-benar menjadikannya sebuah buku. Informasi lah yang
membedakan satu jilid Encyclopedia Britannica dari sekedar sebuah
“buku” yang terbentuk dari penyusunan acak huruf-huruf seperti
ABICLDIXXGGSDLL. Keduanya memiliki kertas, tinta dan jilidan,
tapi yang satu memiliki informasi sedangkan yang kedua tidak
memilikinya. Sumber informasi ini adalah penulis buku tersebut,
suatu kecerdasan yang memiliki kesadaran. Karenanya, kita tidak
dapat mengingkari bahwa informasi dalam DNA telah ditempatkan
oleh sesuatu yang memiliki kecerdasan.
Informasi, tembok penghalang bagi teori evolusi dan materialisme
Penemuan fakta ini telah menempatkan filsafat materialis dan
Darwinisme, yakni penerapan paham materialisme ini pada ilmu
alam, di hadapan tembok penghalang besar. Sebab, filsafat materialis
menyatakan bahwa semua makhluk hidup hanya tersusun atas materi
dan bahwa informasi genetis muncul menjadi ada melalui
mekanisme tertentu secara “kebetulan”. Hal ini sebagaimana
pernyataan bahwa sebuah buku dapat terbentuk melalui penyusunan
kertas dan tinta secara serampangan, acak atau tanpa disengaja.
Materialisme berpijak pada teori “reduksionisme,” yang menyatakan
bahwa informasi pada akhirnya dapat direduksi atau disederhanakan
menjadi materi. Karena alasan ini, kalangan materialis berkata bahwa
tidak ada perlunya mencari sumber informasi di luar materi. Akan
tetapi pernyataan ini telah terbukti keliru, dan bahkan kalangan
materialis telah mulai mengakui kebenaran ini.
Salah satu pendukung terkemuka teori evolusi, George C. Williams,
mengemukakan dalam sebuah tulisannya di tahun 1995 tentang
kesalahan materialisme (reduksionisme) yang beranggapan bahwa
segala sesuatu terdiri atas materi:
Kalangan ahli biologi evolusionis hingga kini tidak menyadari bahwa
mereka bekerja dengan dua bidang yang sedikit banyak berbeda:
yakni bidang informasi dan bidang materi… Dua bidang ini tidak
akan pernah bertemu pada satu pengertian yang biasanya disebut
dengan istilah “reduksionisme” …Gen adalah satu paket informasi,
dan bukan sebuah benda.. . Dalam biologi, ketika anda berbicara
tentang masalah-masalah seperti gen, genotip dan perbendaharaan
gen (gene pools), anda berbicara tentang informasi, bukan realitas
fisik kebendaannya… Kurangnya kata-kata yang sama dan semakna
yang dapat digunakan untuk menjelaskan keduanya ini menjadikan
materi dan informasi berada pada dunia yang berbeda, yang harus
dibahas secara terpisah, dan dengan menggunakan istilah mereka
masing-masing. 1
Stephen C. Meyer, seorang filsuf ilmu pengetahuan dari Cambridge
University dan termasuk yang mengkritisi teori evolusi serta
materialisme, mengatakan dalam sebuah wawancara:
Satu hal yang saya lakukan di perkuliahan untuk memahamkan
gagasan ini kepada para mahasiswa adalah: saya pegang dua disket
komputer. Satu disket ini berisikan software (=informasi), sedangkan
yang satunya lagi kosong. Lalu saya bertanya, “Apakah perbedaan
berat di antara dua disket komputer ini akibat perbedaan isi informasi
yang mereka punyai?” Dan tentu saja jawabannya adalah nol, tidak
berbeda, tidak ada perbedaan akibat keberadaan informasi di salah
satu disket. Hal ini dikarenakan informasi adalah kuantitas yang
tidak memiliki berat. Informasi bukanlah suatu keberadaan materi. 2
Jika demikian, bagaimanakan penjelasan materialis menjelaskan
asal-usulnya? Bagaimanakah penyebab yang bersifat materi dapat
menjelaskan asal-muasalnya?… Hal ini memunculkan hambatan
yang cukup mendasar bagi skenario materialistik evolusionis.
Di abad ke-19, kita berkeyakinan bahwa terdapat dua keberadaan
dasar dalam ilmu pengetahuan: Materi dan Energi. Di awal abad ke-
21, kita kini mengakui bahwa terdapat keberadaan dasar yang
ketiga, dan ini adalah informasi. Informasi tidak dapat direduksi
atau disederhanakan menjadi materi, tidak pula menjadi energi.
Semua teori yang dikemukakan di abad kedua puluh untuk
menyederhanakan informasi menjadi materi – sebagaimana teori
asal-usul kehidupan secara acak, pengaturan materi secara mandiri,
teori evolusi dalam biologi yang berusaha menjelaskan informasi
genetis spesies melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam – telah
gagal. Profesor Phillip Johnson, pengritik terkemuka Darwinisme,
menulis:
Dualitas yang sesungguhnya ada pada setiap tingkatan dalam biologi
adalah dualitas materi dan informasi. Kalangan filsuf akal-ilmu
pengetahuan tidak mampu memahami sifat asli informasi
dikarenakan mereka beranggapan bahwa informasi ini dihasilkan
oleh sebuah proses materi (yakni. sebagaimana konsep Darwin) dan,
karenanya, secara mendasar tidak berbeda dengan materi. Tapi ini
hanyalah prasangka yang akan terhapuskan dengan pemikiran yang
jujur. 3
Sebagaimana pernyataan Johnson, “informasi bukanlah materi,
meskipun informasi ini tercetak pada materi. Informasi ini
berasal dari suatu tempat lain, dari suatu kecerdasan…” Dr.
Werner Gitt, direktur dan profesor pada German Federal Institute of
Physics and Technology, mengungkapkan pemikiran yang hampir
sama:
Sistem pengkodean senantiasa memerlukan proses kecerdasan non-
materi. Materi yang bersifat fisik tidak dapat menghasilkan kode
informasi. Semua pengalaman menunjukkan bahwa tiap-tiap
informasi kreatif menunjukkan keberadaan usaha mental dan dapat
dirunut hingga ke sang pemberi gagasan yang menggunakan
kehendak bebasnya sendiri, dan yang memiliki akal yang cerdas…
Tidak ada hukum alam yang pernah diketahui, tidak pula
proses, tidak pula urutan peristiwa yang pernah diketahui yang
dapat menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya pada
materi… 4
Sebagaimana telah kita perbincangkan di atas, sebuah buku terbentuk
dari kertas, tinta dan informasi yang dikandungnya. Sumber
informasi ini adalah kecerdasan sang penulis.
Dan ada satu lagi hal penting. Kecerdasan ini ada sebelum
keberadaan unsur-unsur materi dan kecerdasan inilah yang
menentukan bagaimana menggunakan unsur-unsur materi tersebut.
Sebuah buku pertama kali muncul dalam benak seseorang yang akan
menulis buku tersebut. Sang penulis menggunakan perangkaian logis
dan dengannya menghasilkan kalimat-kalimat. Kemudian, di tahap
kedua, ia mewujudkan gagasan ini menjadi bentuk materi. Dengan
menggunakan mesin ketik ata komputer, ia mengubah informasi
yang ada dalam otaknya menjadi huruf-huruf. Setelah itu, huruf-
huruf ini sampai kepada tempat percetakan dan membentuk sebuah
buku.
Sampai di sini, kita telah sampai pada kesimpulan berikut: “Jika
materi mengandung informasi, maka materi ini telah dirangkai
sebelumnya oleh sebuah kecerdasan yang memiliki informasi
tersebut. Pertama, terdapat sebuah kecerdasan. Kemudian pemilik
kecerdasan ini mengubah informasi tersebut menjadi materi, dan,
dengan demikian, menciptakan sebuah desain.”
Kecerdasan yang ada sebelum keberadaan materi
Demikianlah, sumber informasi di alam tidak mungkin materi itu
sendiri, sebagaimana pernyataan kaum materialis. Sumber informasi
bukanlah materi, akan tetapi sebuah Kecerdasan di luar materi.
Kecerdasan ini telah ada sebelum keberadaan materi. Kecerdasan ini
menciptakan, membentuk dan menyusun keseluruhan alam semesta
yang bersifat materi ini.
Biologi bukanlah satu-satunya cabang ilmu pengetahuan yang
menghantarkan kita pada kesimpulan ini. Astronomi dan fisika abad
kedua puluh juga membuktikan adanya keselarasan, keseimbangan
dan rancangan menakjubkan di alam. Dan ini mengarahkan pada
kesimpulan adanya suatu Kecerdasan yang telah ada sebelum
keberadaan jagat raya, dan Dialah yang telah menciptakannya.
Ilmuwan Israel, Gerald Schroeder, yang telah mempelajari fisika dan
biologi di sejumlah universitas seperti Massachusetts Institute of
Technology (MIT), sekaligus pengarang buku The Science of God
(Ilmu Pengetahuan Tuhan), membuat sejumlah pernyataan penting
tentang hal ini. Dalam buku barunya yang berjudul The Hidden Face
of God: Science Reveals the Ultimate Truth (Wajah Tersembunyi
Tuhan: Ilmu Pengetahuan Mengungkap Kebenaran Hakiki), ia
menjelaskan kesimpulan yang dicapai oleh biologi molekuler dan
fisika quantum sebagaimana berikut:
Suatu kecerdasan tunggal, kearifan universal, melingkupi alam
semesta. Sejumlah penemuan oleh ilmu pengetahuan, yang mengkaji
tentang sifat quantum dari materi-materi pembentuk atom (sub-
atomik), telah membawa kita sangat dekat kepada pemahaman yang
mengejutkan: seluruh keberadaan merupakan perwujudan dari
kearifan ini. Di laboratorium kita merasakannya dalam bentuk
informasi yang pertama-tama terwujudkan secara fisik dalam bentuk
energi, dan kemudian terpadatkan menjadi bentuk materi. Setiap
partikel, setiap wujud, dari atom hingga manusia, tampak mewakili
satu tingkatan informasi, satu tingkatan kearifan. 5
Menurut Schroeder, temuan-temuan ilmiah di zaman kita mengarah
pada pertemuan antara ilmu pengetahuan dan agama pada satu
kebenaran yang sama, yakni kebenaran Penciptaan. Ilmu
pengetahuan kini tengah menemukan kembali kebenaran ini, yang
sebenarnya telah diajarkan agama-agama wahyu kepada manusia
selama berabad-abad.
LAUHUL MAHFUZH (KITAB YANG TERPELIHARA
Sejauh ini, kita telah menyaksikan kesimpulan ilmu pengetahuan
tentang alam semesta dan asal-usul makhluk hidup. Kesimpulan ini
adalah bahwa keseluruhan alam semesta dan kehidupan itu sendiri
diciptakan dengan menggunakan cetak biru informasi yang telah ada
sebelumnya.
Kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan modern ini sungguh
sangat bersesuaian dengan fakta tersembunyi yang tercantum dalam
Alquran sekitar 14 abad yang lalu. Dalam Alquran, Kitab yang
diturunkan kepada manusia sebagai Petunjuk, Allah menyatakan
bahwa Lauhul Mahfuzh (Kitab yang terpelihara) telah ada sebelum
penciptaan jagat raya. Selain itu, Lauhul Mahfuzh juga berisi
informasi yang menjelaskan seluruh penciptaan dan peristiwa di
alam semesta.
Lauhul Mahfuzh berarti “terpelihara” (mahfuzh), jadi segala sesuatu
yang tertulis di dalamnya tidak berubah atau rusak. Dalam Alquran,
ini disebut sebagai “Ummul Kitaab” (Induk Kitab), “Kitaabun
Hafiidz” (Kitab Yang Memelihara atau Mencatat), “Kitaabun
Maknuun” (Kitab Yang Terpelihara) atau sebagai Kitab saja. Lauhul
Mahfuzh juga disebut sebagai Kitaabun Min Qabli (Kitab Ketetapan)
karena mengisahkan tentang berbagai peristiwa yang akan dialami
umat manusia.
Dalam banyak ayat, Allah menyatakan tentang sifat-sifat Lauhul
Mahfuzh. Sifat yang pertama adalah bahwa tidak ada yang tertinggal
atau terlupakan dari kitab ini:
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang
mengetahuinya kcuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada
di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daupun yang gugur
melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun
dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang
kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).
(QS. Al An'aam, 6:59)
Sebuah ayat menyatakan bahwa seluruh kehidupan di dunia ini
tercatat dalam Lauhul Mahfuzh:
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung
yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga)
seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab,
kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al An'aam,
6:38)
Di ayat yang lain, dinyatakan bahwa “di bumi ataupun di langit”, di
keseluruhan alam semesta, semua makhluk dan benda, termasuk
benda sebesar zarrah (atom) sekalipun, diketahui oleh Allah dan
tercatat dalam Lauhul Mahfuzh:
Kami tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu
ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan,
melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu
melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun
seeasr zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih
kecil dan tidak (pula) yang lebi besar dari itu, melainkan (semua
tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh). (QS. Yunus,
10:61)
Segala informasi tentang umat manusia ada dalam Lauhul Mahfuzh,
dan ini meliputi kode genetis dari semua manusia dan nasib mereka:
(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah
datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan)
mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: “Ini adalah suatu
yang amat ajaib”. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi
tanah (kami akan kembali lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang
tidak mungkin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang
dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi
Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). (QS. Qaaf, 50:2-4)
Ayat berikut ini menyatakan bahwa kalimat Allah di dalam Lauhul
Mahfuzh tidak akan ada habisnya, dan hal ini dijelaskan melalui
perumpamaan:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah
(kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.
Luqman, 31:27)
KESIMPULAN
Fakta-fakta yang telah kami paparkan dalam tulisan ini membuktikan
sekali lagi bahwa berbagai penemuan ilmiah modern menegaskan
apa yang diajarkan agama kepada umat manusia. Keyakinan buta
kaum materialis yang telah dipaksakan ke dalam ilmu pengetahuan
ternyata malah ditolak oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sejumlah kesimpulan ilmu pengetahuan modern tentang “informasi”
berperan untuk membuktikan secara obyektif siapakah yang benar
dalam perseteruan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Perselisihan ini telah terjadi antara paham materialis dan agama.
Pemikiran materialis menyatakan bahwa materi tidak memiliki
permulaan dan tidak ada sesuatu pun yang ada sebelum materi.
Sebaliknya, agama menyatakan bahwa Tuhan ada sebelum
keberadaan materi, dan bahwa materi diciptakan dan diatur
berdasarkan ilmu Allah yang tak terbatas.
Fakta bahwa kebenaran ini, yang telah diajarkan oleh agama-agama
wahyu – seperti Yahudi, Nasrani dan Islam – sejak permulaan
sejarah, telah dibuktikan oleh berbagai penemuan ilmiah, merupakan
petunjuk bagi masa berakhirnya atheis yang sebentar lagi tiba. Umat
manusia semakin mendekat pada pemahaman bahwa Allah benar-
benar ada dan Dialah yang “Maha Mengetahui.” Hal ini sebagaimana
pernyataan Alquran kepada umat manusia dalam ayat berikut:
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya
yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfuzh).
Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al
Hajj, 22:70)
Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme
HARUN YAHYA
Abad 20 yang baru saja kita lewati adalah masa yang
dipenuhi dengan peperangan, konflik, bencana,
kesengsaraan, pembantaian, kemelaratan dan kehancuran
yang luar biasa. Jutaan manusia dibantai, dibunuh dan
dibiarkan mati, hidup tanpa rumah dan tempat berlindung.
Maka semua dikorbankan demi membela berbagai ideologi
menyesatkan. Di setiap peristiwa tampak selalu terpampang
nama-nama mereka yang bertanggung jawab : Stalin, Lenin,
Trosky, Mao, Pol Pot, Hitler, Mussolini, Franco.

Fasisme dan komunisme adalah dua ideologi utama yang


telah menyebabkan umat manusia merasakan berbagai
penderitaan di masa kegelapan tersebut. Yang menarik untuk di kaji di sini adalah
ideologi-ideologi tersebut ternyata memiliki sumber ideologi yang sama (ideologi
induk). Ideologi ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya, senantiasa berada di
balik layar hingga saat ini. Dan senantiasa terlihat bukan sesuatu yang perlu
dipermasalahkan. Sumber ideologi ini adalah Filsafat materialistik dan
Darwinisme, bentuk penerapan filsafat materialisme pada alam.

Darwinisme muncul abad 19 sebagai penghidupan kembali sebuah mitos ilmu


yang telah ada sejak peradaban Sumeria dan Yunani Kuno, oleh seorang ahli
biologi amatir Charles Darwin. Sejak kemunculannya Darwinisme menjadi
landasan berpijak ilmiah bagi semua ideologi-ideologi yang membawa bencana
bagi umat manusia.

Selanjutnya teori evolusi atau Darwinisme tidak terbatas hanya pada bidang
biologi dan paleontologi, tetapi merambah pada bidang-bidang sosial, sejarah,
politik dan mempengaruhi berbagai sisi kehidupan.

Oleh karena sejumlah pernyataan-pernyataan khusus Darwinisme mendukung


sejumlah aliran pemikiran yang di masa itu sedang tumbuh dan berkembang,
Darwinisme mendapat dukungan luas dari kalangan ini. Orang-orang berusaha
menerapkan keyakinan bahwa terdapat “peperangan (perjuangan) untuk
mempertahankan hidup” pada mahluk hidup di alam. Oleh sebab itu, ide bahwa
“yang kuat tetap hidup dan yang lemah akan musnah” mulai diterapkan juga
pada manusia dan kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Justifikasi ilmiah
Darwinisme inilah yang kemudian digunakan oleh :

a. Hitler untuk membangun ras super


b. Karl marx untuk mengatakan bahwa “sejarah manusia adalah sejarah
peperangan antar kelas masyarakat”
c. Kaum kapitalis yang percaya bahwa “yang kuat tumbuh menjadi semakin kuat
dengan mengorbankan yang lemah”.
d. Bangsa kolonial untuk menjajah dunia ketiga dan perlakuan biadab mereka.
e. Tindakan rasisme dan diskriminasi.