Anda di halaman 1dari 37

ASKEP ANAK DENGAN ISPA

BAB I

KONSEP DASAR TEORI

A. Pendahuluan

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah

kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini pada anak merupakan penyebab

kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi. Angka kematian ISPA di negara

maju berkisar antara 10 -15 %, sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi.

Di Indonesia angka kematian ISPA diperkirakan mencapai 20 %.

Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA.

(Infeksi Saluran Pernapasan Akut). ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting

karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4

kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3 - 6 episode ISPA setiap

tahunnya. 40 % - 60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA (Anonim,

2009).

B. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum

Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan ISPA

2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui bagaimana pengkajian pada anak dengan ISPA
b. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan apa yang muncul pada anak dengan ISPA
c. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan ISPA
d. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan apa yang tetapat pada anak dengan ISPA
e. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan serta rencana tindakan apa yang akan dilakukan

pada anak dengan ISPA.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung,

pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas

dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel

& Ian Roberts; 1990; 450).


ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran

pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah ISPA adalah infeksi saluran

pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan

adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru (alveoli), beserta organ-organ

disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru. Sebagian besar dari infeksi

saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk, pilek dan tidak memerlukan

pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi

paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.


ISPA merupakan kepanjangan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan mulai

diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas.

Istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris yakni Acute Respiratory Infections

(ARI).
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas

mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan

adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA umumnya berlangsung

selama 14 hari. Yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek

biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, influenza, bronchitis, dan juga sinusitis. Sedangkan

infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah

Pneumonia.(WHO)
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang

cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat

beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran
pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley

and Wong; 1991; 1419).


2. Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia. Bakteri

penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus,

Haemophylus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah

golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus dan

lain-lain.
Etiologi Pneumonia pada Balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar

diperoleh. Penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian

di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian di berbagai negara menunjukkan

bahwa di negara berkembang streptococcus pneumonia dan haemophylus influenza

merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua per tiga dari hasil isolasi, yakni 73, 9%

aspirat paru dan 69, 1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa

ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus.


a. Faktor Pencetus ISPA
1) Usia
Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit

ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan

tubuhnya lebih rendah.


2) Status Imunisasi
Anak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih baik

dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.


3) Lingkungan
Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan

asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.


b. Faktor Pendukung terjadinya ISPA
1) Kondisi Ekonomi
Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan

berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan kemampuannya menyediakan

lingkungan pemukiman yang sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan
terhadap serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong

meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita.


2) Kependudukan
Jumlah penduduk yang besar mendorong peningkatan jumlah populasi Balita yang

besar pula. Ditambah lagi dengan status kesehatan masyarakat yang masih rendah, akan

menambah berat beban kegiatan pemberantasan penyakit ISPA.


3) Geografi
Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki potensi daerah endemis beberapa penyakit

infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh

geografis dapat mendorong terjadinya peningkatan kaus maupun kemaian penderita akibat

ISPA. Dengan demikian pendekatan dalam pemberantasan ISPA perlu dilakukan dengan

mengatasi semua faktor risiko dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.


4) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
PHBS merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA. Perilaku bersih dan

sehat tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya dan tingkat pendidikan penduduk. Dengan

makin meningkatnya tingkat pendidikan di masyarakat diperkirakan akan berpengaruh positif

terhadap pemahaman masyarakat dalam menjaga kesehatan Balita agar tidak terkena penyakit

ISPA yaitu melalui upaya memperhatikan rumah sehat dan lingkungan sehat.
5) Lingkungan dan Iklim Global
Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas buang sarana

transportasi dan polusi udara dalam rumah merupakan ancaman kesehatan terutama penyakit

ISPA. Demikian pula perubahan iklim gobal terutama suhu, kelembapan, curah hujan,

merupakan beban ganda dalam pemberantasan penyakit ISPA.


Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya

infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama

yakni golongan A -hemolityc streptococus, clamydia trachomatis, mycoplasma

danstaphylococus, haemophylus influenzae, pneumokokus.


Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian

pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu. Ukuran

dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan
penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka

akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.


Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara

lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi

saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.


Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi

juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).

B. Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah

apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.


3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan

batuk.
Tahap lanjut penyaklit, dibagi menjadi empat yaitu :
a) Dapat sembuh sempurna.
b) Sembuh dengan atelektasis.
c) Menjadi kronos.
d) Meninggal akibat pneumonia.

Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk

mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan

saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat

tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel

mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi.

Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini banyak

ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran

nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang rentan (imunokompkromis) mudah

terkena infeksi ini seperti pada pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau

radiasi.Penyebaran infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen,

perkontinuitatum dan udara nafas.


Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah

rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan

lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam

pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau

lebih).

C. Manifestasi Klinis
1. Batuk, pilek dengan nafas cepat atau sesak nafas
Pada umur kurang dari 2 bulan, nafas cepat lebih dari 60 x / mnt.
Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi

hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi

gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts;

1990; 451).
1. Demam.
Pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah

mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda

pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.


2. Meningismus.
Adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama

periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada

punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.


3. Anorexia.
Biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan

bhkan tidak mau minum.


4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut

mengalami sakit.
5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat

infeksi virus.
6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis

mesenteric.
7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah

tersumbat oleh karena banyaknya sekret.


8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini

merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.


9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara

pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).


D. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium

terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah :


1. Biakan virus
2. Serologis
3. Diagnostik virus secara langsung.
Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan

sputum, biakan darah, biakan cairan pleura.

Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama

dari pernafasan.
1. Pola, cepat (tachynea) atau normal.
2. Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui

pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.


3. Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.
4. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
5. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu

tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada

rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum.


6. Riwayat kesehatan:
a. Keluhan utama (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan)
b. Riwayat penyakit sekarang (kondisi klien saat diperiksa)
c. Riwayat penyakit dahulu (apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya

sekarang)
d. Riwayat penyakit keluarga (adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti

penyakit klien)
e. Riwayat sosial (lingkungan tempat tinggal klien)

Pemeriksaan fisik difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan :


a. Inspeksi
1) Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
2) Tonsil tampak kemerahan dan edema
3) Tampak batuk tidak produktif
4) Tidak ada jaringan parut pada leher
5) Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
b. Palpasi
1) Adanya demam
2) Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe

servikalis
3) Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
c. Perkusi : Suara paru normal (resonance)
d. Auskultasi : Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

E. Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar

merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena

pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada

pengobatan penyakit ISPA) .


Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan

penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus

batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi

penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman

sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :
1. Upaya pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
a. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
b. Immunisasi.
c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
2. Pengobatan dan perawatan
Prinsip perawatan ISPA antara lain :
a. Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
b. Meningkatkan makanan bergizi
c. Bila demam beri kompres dan banyak minum
d. Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih
e. Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
f. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek
3. Pengobatan antara lain :
a. Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi

dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam

untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian

digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan

pada air (tidak perlu air es).


b. Mengatasi batuk. Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu

jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali

sehari.
F. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
2. Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan

dalam memasukan dan mencerna makanan


4. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi.

BAB III

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Pengkajian
a. Keluhan Utama : Klien mengeluh demam, batuk , pilek, sakit tenggorokan.
b. Riwayat penyakit sekarang : Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit

kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit

tenggorokan.
c. Riwayat penyakit dahulu : Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit keluarga : Menurut pengakuan klien,anggota keluarga ada juga yang

pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut


e. Riwayat sosial : Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan

padat penduduknya
2. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa I : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi

paru.

Tujuan kriteria hasil :

1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan

dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed

lips)
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi

pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)


3. Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)

Intervensi :

1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi


2. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
3. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
4. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
6. Lakukan suction pada mayo
7. Berikan bronkodilator bila perlu
8. Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
9. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
10. Monitor respirasi dan status O2
11. Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
12. Pertahankan jalan nafas yang paten
13. Atur peralatan oksigenasi
14. Monitor aliran oksigen
15. Pertahankan posisi pasien
16. Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
17. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi

Diagnosa II : Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme

Tujuan Kriteria Hasil :

1. Suhu tubuh dalam rentang normal


2. Nadi dan RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi :

1. Monitor suhu sesering mungkin


2. Monitor warna dan suhu kulit
3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
4. Monitor intake dan output
5. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
6. Berikan pasien kompres air hangat, hindari pemberian kompres dingin.
7. Tingkatkan sirkulasi udara.
8. Kolaborasi pemebrian cairan intravena.
9. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas.
10. Kolaborasi pemberian antipiretik.
11. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
Diagnosa III : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan

Tujuan Kriteria Hasil :

1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan


2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
5. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

Intervensi :

1. Kaji adanya alergi makanan


2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan

pasien.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
6. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
7. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
8. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
9. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
10. BB pasien dalam batas normal
11. Monitor turgor kulit
12. Monitor mual dan muntah
13. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
14. Monitor pertumbuhan dan perkembangan

agnosa IV : Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi.

uan Kriteria Hasil :

1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan

program pengobatan.
2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan

lainnya.
Intervensi :

1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik.
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan

fisiologi, dengan cara yang tepat.


3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat.
5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat.
6. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di

masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit.


7. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
8. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan

kesehatan, dengan cara yang tepat

B. Evaluasi :

Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam

pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau

intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).Evaluasi yang diharapkan pada pasien

dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah :

1. Bersihan jalan nafas efektif, tidak ada bunyi atau nafas tambahan.
2. Suhu tubuh pasien dalam rentang normal antara 36 -37,5 C
3. Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
4. Pengetahuan adekuat serta tidak terjadi komplikasi pada klien.

Minggu, 30 September 2012

Asuhan Anak Sakit dengan Batuk Pilek

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Batuk Pilek

1. Pengertian

Batuk Pilek adalah penyakit saluran pernapasan yang paling sering


mengenai bayi dan anak. ( Ngastiyah, 2005 : 31 )
Batuk Pilek adalah infeksi primer nasofaring yang sering di jumpai pada bayi
dan anak. ( FK UI, 2007 :603 ).

Batuk dan pilek adalah penyakit saluran pernafasan yang paling sering
menyerang bayi dan anak anak. Bisa pula menyerang orang dewasa tetapi
karakteristik nya berbeda. Pada bayi dan anak serangannya cenderung lebih
berat karena infeksi mencakup daerah sinus paranasal, telinga tengah, dan
nasofaring yang di sertai demam tinggi. Pada orang dewasa, infeksi batuk dan
pilek hanya meliputi daerah yang terbatas serta tidak menimbulkan demam
tinggi ( Azka, alifah Flowerifta. 2009. Jangan Remehkan Batuk Pilek pada Anak.
http ://www. Wordpress.com. 8 Desember 2010.3 Maret 2009 ).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat di sumpulkan bahwa batuk


pilek adalah penyakit atau infeksi dari saluran pernafasan yang paling sering di
jumpai pada bayi dan anak, dimana batuk pilek dapat menular secara droplets
dan masa inkubasi virusnya sangat pendek yaitu 12 72 jam, selain itu serangan
batuk pilek pada bayi dan anak cenderung lebih berat di banding pada orang
dewasa, karena pada bayi dan anak infeksi mencakup daerah sinus paranasal,
telinga tengah, dan nasofaring yang di sertai dengan demam tinggi.

2. Etiologi

Penyebab penyakit ini virus. Masa menular penyakit ini beberapa jam
sebelum gejala timbul sampai 1 2 hari sesudah hilangnya gejala. Komplikasi
timbul akibat invasi bakteri patogen, biasanya pneumococcus, Streptococcus,
dan pada anak kecil H. Influenzae dan Staphylococcus. Masa tunas 1 2 hari ( FK
UI, 2007 :604 ).

3. Patologi Anatom

Terjadinya pembengkakan pada submukosa hidung yang di sertai


vasodilatasi pembuluh darah. Terdapat infiltrasi leokosit, mula mula sel
mononukleus kemudian polimorfonukleus. Sel epitel superfisial banyak yang
lepas dan regenerasi sel epitel baru terjadi setelah lewat stadium akut.
( Ngastiyah, 2005 : 32 )

4. Gambaran Klinis

Batuk Pilek mempunyai gejala seperti pilek, batuk sedikit, dan kadang
kadang bersin. Keluar sekret yang cair dan jernih dari hidung, bila terjadi infeksi
sekunder oleh kokus sekret menjadi kental dan purulen. Sekret ini sangat
mengganggu bayi dan anak. Sumbatan hidung menyebabkan anak bernapas dari
mulut dan mengakibatkannya gelisah. Pada anak yang lebih besar kadang
kadang di dapatkan keluhan nyeri otot, pusing dan anoreksia. Sumbatan hidung (
Kongesti ) di sertai selaput lendir tenggorok yang kering menambah rasa nyeri
dan batuk bertambah. ( Ngastiyah, 2005 : 33 )

5. Tanda dan Gejala


a. Demam

Suhu dapat mencapai 39,5o C 40,5 o C

b. Anoreksia

Hal yang umum yang di sertai dengan penyakit masa kanak kanak.

c. Muntah

Biasanya berlangsung singkat, tetapi dapat menetap setelah sakit.

d. Sumbatan nasal

Pasase nasal kecil dari bayi mudah tersumbat oleh pembengkakan mukosa dan
eksudasi

e. Keluaran nasal

Mungkin encer dan sedikit atau kental dan purulen, tergantung pada tipe dan
atau tahap infeksi

f. Batuk

Dapat menjadi bukti hanya selama fase akut

6. Komplikasi

Penyakit ini merupakan self limited disease, yang sembuh sendiri 5 6 hari
jika terjadi invasi kuman lain. Komplikasi yang dapat terjadi adalah sinusitis
paranasal, penutupan tuba eustachii, dan penyebaran infeksi.

a. Sinusitis paranasal

Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar, karena pada bayi dan anak
kecil sinus paranasal belum timbul. Gejala umum lebih berat, nyeri kepala
bertambah, rasa nyeri dan nyeri tekan biasanya di daerah sinus frontalis dan
maksilaris. Diagnosa di tegakkan dengan foto rontgen dan transluminati pada
anak besar.

Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise, cepat lelah dan
sukar berkontraksi pada anak besar. Kadang kadang di sertai sumbatan pada
hidung, nyeri kepala hilang timbul, bersin yang terus menerus yang di sertai
sekret purulen. Bila di dapatkan pernapasan mulut yang menetap dan rangsang
faring yang menetap tanpa sebab yang jelas perlu di pikirkan terjadinya
komplikasi sinusitis, sinusitis paranasal ini dapat di obati dengan memberikan
antibiotik.

b. Dapat terjadi penutupan tuba eustachii dengan gejala tuli atau infeksi
menembus langsung ke daerah telinga dan menyebabkan otitis media akut
( OMA ). Gejala OMA pada anak kecil dapat di sertai suhu badan yang mendadak
tinggi ( Hiperpireksia ), kadang kadang menyebabkan kejang demam. Anak
sangat gelisah, terasa nyeri bila kepala di goyangkan atau memegang telinganya
nyeri. Kadang hanya di temukan gejala demam, gelisah, kadang di sertai muntah
dan diare.

c. Penyebaran infeksi nasofaring ke bawah dapat menyebabkan radang saluran


pernafasan bagian bawah seperti laringitis, trake tis, bronchitis, dan
bronkopneumonia.

( Ngastiyah, 2005 : 32 33 )

7. Penatalaksanaan medis

Batuk pilek tanpa infeksi di beri pengobatan simulatif, misal ekspektoransia


untuk mengatasi batuk, sedative untuk menenangkan pasien dan anti piretik
untuk menurunkan demam obstruksi hidung pada bayi sukar untuk di obati
penghisapan lendir hidung tidak efektif dan sering menimbulkan bahaya. Cara
yang paling mudah untuk pengeluaran sekret adalah dengan membaringkan
bayi tengkurap. Pada anak besar dapat di berikan tetes hidung larutan efedrin 1
%. Bila ada infeksi sekunder hendaknya di berikan antibiotik. Batuk yang
produktif ( pada bronchitis dan Tracheatis ) tidak boleh di berikan antitusif.
Misalnya codein karena dapat menyebabkan depresi pusat nafas batuk dan
pusat muntah penumpukan sekret sehingga dapat menyebabkan
bronkopneumonia.

Selain pengobatan tersebut, pada sinusitis terutama yang kronik dapat di


berikan pengobatan dengan penyinaran.

( Ngastiyah, 2005 : 33 )

8. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Gangguan rasa aman dan nyaman

Gangguan ini akibat batuk pilek sering mengganggu istirahat pasien, apalagi
bila di sertai muntah atau diare serta suhu yang tinggi. Pemberian obat gosok
dapat membuat bayi merasa hangat. Untuk mengurangi hidung tersumbat bayi
di baringkan tengkurap dengan kepala bayi miring dan satu lubang hidungnya
masih terbuka. Pemberian obat tetes hidung mungkin menolong pernapasannya,
namun hanya untuk sementara ( bila tidak ada obat tetes hidung, secara
tradisional dapat di gunakan kapas yang di tetesi minyak kayu putih yang di
gantungkan di depan hidung bayi atau di penitikan pada baju ). Untuk
mengurangi batuk dapat di beri obat batuk sebelum tidur malam. Bila waktu
tidur sering batuk, berikan minum hangat.

b. Resiko terjadi komplikasi

Beberapa hal menyebabkan batuk pilek yang relatif ringan, akhirnya


berkembang menjadi penyakit yang amat berat . bila anak sudah mendapat obat
supaya di berikan dengan benar. Jika obat di muntahkan, harus di ulang di
berikan lagi. Agar dapat di minum ( jika selalu di muntahkan ) caranya dapat di
encerkan dengan 1 2 sendok teh manis, sirup, atau madu kemudian di berikan
sedikit demi sedikit.
c. Gangguan suhu Tubuh

Komplikasi invasi bakteri sering menyebabkan suhu tubuh meningkat.


Penurunan suhu hanya dapat di atasi dengan obat anti biotika yang tepat.

d. Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit

Pada umumnya orang tua menganggap bahwa batuk pilek tidak


membahayakan, tetapi mereka tidak mengerti bahwa penyakit ini bisa
berkembang menjadi penyakit yang berat jika tidak di obati terutama pada saat
daya tahan tubuh anak menurun. Oleh karena itu, orang tua perlu di beri
penjelasan. Jika anak sudah batuk pilek lebih dari 2 hari belum sembuh apalagi
sudah di obati sendiri supaya di bawa berobat ke fasilitas kesehatan, terutama
pada bayi.

( Ngastiyah, 2005 : 33 -
34 )

B. Konsep Manajemen Asuhan Pada Anak Sakit

I. Pengkajian

Di lakukan pada tanggal ..... pukul.... WIB. Oleh....

A. Data Subyektif
1. Biodata

Nama anak : untuk membedakan pasien yang satu dengan


yang lain

Umur : untuk menentukan pemberian dosis untuk terapi


obat

Jenis kelamin :-

Nama Ayah dan Ibu : untuk mengetahui keluarga pasien

Umur : untuk menentukan pemberian konseling

Agama : untuk memberikan support mental

Pendidikan : mempengaruhi tingkat pengetahuan orang tua


tentang kesehatan

Pekerjaan : untuk mengetahui sosial ekonomi

Alamat : untuk menentukan lingkungan / tempat tinggal


klien dan keluarga

2. Alasan Datang

Ingin memeriksakan anaknya karena sakit batuk pilek

3. Keluhan Utama

Keluhan Ibu dengan anak batuk pilek biasanya anak rewel, susah makan, dan
demam.

4. Riwayat Kesehatan Sekarang

Anak mengalami batuk pilek sejak.... hari yang lalu, dan obat apa yang telah di
berikan

5. Riwayat Kesehatan yang lalu

Apakah sebelumnya anak pernah menderita sakit seperti ini, berapa lama, selain
itu sakit apa yang pernah di derita anak

6. Riwayat kesehatan keluarga

Adakah anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini, atau menderita
penyakit lain yang bisa menular, contohnya TBC.

7. Riwayat Imunisasi

Imunisasi yang sudah di peroleh anak serta vaksinasinya. Karena bila anak
belum imunisasi dapat memperburuk kondisi anak bila ada penyakit menular
yang dapat di cegah dengan imunisasi menyerang anak.
8. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan

- Riwayat pertumbuhan : BB sebelum sakit dan Bb sekarang

- Riwayat perkembangan : kapan mulai mengangkat kepala, tengkurap,


duduk, merangkak, berdiri dan berjalan

9. Pola kebiasaan sehari hari

- Pola nutrisi

Mengkaji pola nutrisi apakah kualitas dan kuantitas sudah memenuhi


kebutuhannya.

- Pola Eliminasi

Frekuensi BAB dan BAK dalam sehari

- Pola Istirahat

Lama istirahat dalam sehari ( siang dan malam ), ada gangguan atau tidak
( untuk mengetahui kebutuhan istirahat terpenuhi atau tidak ).

- Pola kebersihan

Mandi berapa kali, ganti baju berapa kali.

10. Data psikososial

Untuk mengetahui keadaan psikologi dan sosial dalam keluarga ( bagaimana


hubungan dalam keluarga / antar anggota keluarga serta keadaan
psikologisnya ).

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan umum

- KU : cukup

- Kesadaran : Composmentis

- Nadi : 90 x / menit

- Suhu : 38

- RR :...

- BB sblum skit :

- BB saat ini :

- TB :

- LILA :
2. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

Muka : Pucat

Mata : berair, sklera putih, konjungtiva pucat

Hidung : keluar cairan encer hingga purulen, pernapasan cuping hidung

Mulut : bibir kering, lidah putih

Dada : terdapat retraksi dada

b. Palpasi

Integumen : turgor kulit kurang, kulit terasa panas

c. Auskultasi

Dada : Ronchi Basah +, batuk +, bersin +

d. Perkusi

Perut : Kembung -

II. Identifikasi masalah dan diagnosa

Dx : An. ... dengan batuk pilek

Ds : Ibu mengatakan anaknya batuk pilek dan panas sejak beberapa hari
yang lalu

Do :

- KU : baik/ cukup/ lemah

- Kesadaran : composmentis / apatis/ somnolen/ koma

- Nadi : 90 x / menit

- Suhu : 38 C

- RR :24 x / menit

- Pemfis : dalam hidung biasanya ada sekret, warna jernih / keruh,


kental / encer

Masalah :

1. Gangguan istirahat

Ds : Ibu mengatakan sejak.... hari yang lalu anaknya sering terbangun dari
tidurnya dan rewel saat mau tidur
Do : anak terlihat rewel, menangis, dan gelisah

2. Gangguan pola makan

Ds : Ibu mengatakan sejak sakit ... hari yang lalu anaknya jadi susah
makan

Do : anak rewel

III. Intervensi

Dx : An. ... dengan batuk pilek

Tujuan : anak sembuh dari batuk pilek

KH :

- KU : baik

- TTV dalam batas normal

- Nadi : 70 120 x / menit

- Suhu : 36,5 37,5 C

- RR :20 40 x / menit

- BB : naik

- Tidak keluar sekret dari hidung

Intervensi :

1. Periksa keadaan anak dan timbang berat badannya.

R : mengetahui keadaan anak dan penimbangan untuk mengetahui status gizi


( nutrisi ).

2. Berikan informasi mengenai batuk pilek, cara penularan, dan pengobatan

R : Ibu dapat merawat anaknya di rumah dan lebih kooperatif

3. Sarankan Ibu dan keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan.

R : udara kotor (berdebu dan berbau ) merangsang hidung untuk bersin sehingga
bisa memperberat batuk pilek

4. Anjurkan Ibu untuk memperhatikan istirahat anaknya

R : kelelahan bisa memperburuk prognosis batuk pilek dan dengan istirahat yang
cukup akan mengembalikan kekuatan tubuh

5. Hindarkan bayi dari udara dingin


R : udara dingin bisa memperparah batuk pilek, karena udara dingin
menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah termasuk pada saluran pernapasan
sehingga dapat menimbulkan sesak napas.

6. Beritahu Ibu untuk memberikan obat yang telah di berikan dengan benar dan
sesuai dengan yang di anjurkan.

R : dapat mempercepat pemulihan kondisi dan mencegah terjadinya komplikasi

7. Beritahu Ibu untuk mengontrolkan anaknya jika kondisi memburuk atau setelah
obat habis kondisi anak belum membaik.

R : untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif

Masalah :

1. Gangguan Istirahat

Tujuan : anak bisa tidur nyenyak dan kebutuhan istirahatnya terpenuhi

KH : anak bisa tidur nyenyak kira kira 9 11 jam sehari semalam

Intervensi

a. Jelaskan pada Ibu penyebab anak rewel dan susah tidur.

R : Ibu lebih tenang dan kooperatif dalam merawat anaknya.

b. Beritahu Ibu untuk memberikan minyak kayu putih pada tubuh anak.

R : membuat tubuh anak menjadi lebih hangat.

c. Beritahu ibu untuk membaringkan anaknya terlentang dengan alas kepala lebih
tinggi.

R : posisi ini sangat nyaman dan membantu pernapasan anak saat tidur.

d. Sarankan Ibu untuk tidak menyelimuti anaknya dengan kain tebal jika anak
demam.

R : suhu panas tubuh yang terperangkap tidak segera menurun

e. Sarankan Ibu mendampingi anaknya susah tidur.

R : anak terlindungi dan kebutuhan psikologis terpenuhi.

2. Gangguan Pola makan

Tujuan : anak bisa makan dengan lahap dan nutrisi anak terpenuhi

KH : BB anak normal dan tidak mengalami penurunan.

Intervensi
a. Informasikan kepada Ibu untuk memberikan makanan kesukaan anak yang
bervariasi dan bernilai gizi tinggi, sehingga anak tertarik untuk makan.

R : makanan kesukaan anak menarik perhatian untuk makan sehingga


kebutuhan nutrisi terpenuhi.

b. Anjurkan ibu untuk memberi makan sedikit tapi sering.

R : dengan makanan sedikit sedikit tapi sering kebutuhan nutrisi anak tetap
terpenuhi.

c. Anjurkan Ibu untuk terus memantau kualitas makanan anak.

R : gizi yang baik dan seimbang akan meningkatkan daya tahan tubuh anak.

IV. Implementasi

Mengacu pada Intervensi

V. Evaluasi

Mengacu pada kriteria hasil dengan metode SOAP

Askep Febris

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Febris atau yang biasa disebut dengan demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh
diatas batas normal biasa, yang dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh
zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak
atau dehidrasi. (Guyton, 1990).
Keadaan ini sering terjadi pada pasien anak-anak, yaitu merupakan keluhan utama
dari 50% pasien anak di UGD di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika. Tidak hanya pada pasien
anak-anak, tetapi pada pasien dewasa maupun lansia febris juga dapat sering terjadi
tergantung dari sistem imun. Pada febris ini juga tidak ada perbedaan insidens dari segi ras
atau jenis kelamin.
Pasien dengan gejala febris dapat mempunyai diagnosis definitif bermacam-macam
atau dengan kata lain febris merupakan gejala dari banyak jenis penyakit. Febris dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun
penyakit lain. (Julia, 2000).
Contoh penyakit infeksi bakteri yang memberikan gejala febris adalah meningitis,
bakteremia, sepsis, enteritis, pneumonia, pericarditis, osteomyelitis, septik arthritis, cellulitis,
otitis media, pharyngitis, sinusitis, infeksi saluran urin, enteritis, appendicitis. Sedangkan
untuk penyakit infeksi virus yang memberikan gejala febris adalah adalah ISPA, bronkiolitis,
exanthema enterovirus, gastroenteritis, dan para flu. Selain dari penyakit, penyebab lain dari
febris adalah cuaca yang terlalu panas, memakai pakaian yang terlalu ketat dan dehidrasi.
Untuk febris yang disebabkan oleh penyakit infeksi biasanya akan diberikan obat
antibiotic sedangkan dari non infeksi akan dilihat penyebab dari febris itu sendiri. Febris
dapat segera teratasi dengan terapi dan perawatan yang tepat. Namun, apabila febris tidak
diatasi dan diberikan perawatan yang tepat maka akan menjadi suatu kegawatan yang
mengancam jiwa pasien.

B. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memahami definisi febris.

2. Untuk memahami etiologi febris.


3. Untuk memahami klasifikasi febris.

4. Untuk memahami patofisiologi febris.

C. MANFAAT
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Penulis
Dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh serta mendapatkan pengalaman dalam
melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada pasien sehingga dapat digunakan
sebagai berkas penulis didalam melaksanakan tugas sebagai perawat.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan sumber kepustakaan dan perbandingan pada asuhan kperawatan.
c. Bagi Klien dan Keluarga
Agar klien mengetahui dan memahami perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh
pasien secara kesadaran bagi klien untuk memperhatikan kondisi tubuhnya.
d. Bagi Lahan Praktek
Hasil penulisan dapat memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan untuk lebih
meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
e. Bagi Masyarakat
Merupakan informasi kepada masyarakat mengenai penyakit febris
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI FEBRIS
Febris (demam) yaitu meningkatnya suhu tubuh yang melewati batas normal yaitu
lebih dari 380C (Fadjari Dalam Nakita 2003).
Febris konvulsi adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh(diatas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstra kronium.
Demam berarti suhu tubuh diatas batas normal biasa, dapat disebabkan oleh
kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu,
penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi(Guyton, 1990).
Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 38 C atau
lebih. Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,8C. Sedangkan bila suhu tubuh
lebih dari 40C disebut demam tinggi (hiperpireksia)
(Julia, 2000).
ETIOLOGI FEBRIS
Menurut Pelayanan kesehaan maternal dan neonatal 2000 bahwa etiologi
febris,diantaranya
1. Suhu lingkungan.
2. Adanya infeksi.
3. Pneumonia.
4. Malaria.
5. Otitis media.
6. Imunisasi
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun
penyakit lain (Julia, 2000).
Menurut Guyton (2000) demam dapat disebabkan karena kelainan dalam
otak sendiri atau zat toksik yang mem-pengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-
penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi.

C. KLASIFIKASI FEBRIS
Klasifikasi febris/demam menurut Jefferson (2010), adalah :
Fever Keabnormalan elevasi dari suhu tubuh, biasanya karena proses
patologis

Hyperthermia Keabnormalan suhu tubuh yang tinggi secara intensional pada


makhluk hidup sebagian atau secara keseluruhan tubuh,
seringnya karena induksi dari radiasi (gelombang panas,
infrared), ultrasound atau obat obatan

Malignant Peningkatan suhu tubuh yang cepat dan berlebihan yang


Hyperthermia menyertai kekakuan otot karena anestesi total
Tipe - tipe demam.diantaranya:

1. Demam Septik

Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun
kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan
berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga
demam hektik

2. Demam remiten

Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal.
Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar
perbedaan suhu yang dicatat demam septik

3. Demam intermiten

Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila
demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari
terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana

4. Demam intermiten

Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam
yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia

5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode
bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu
misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam
mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia,
infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera
dengan suatu sebab yang jelas.
Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada
dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus
sejenis lainnya.

D. PATOFISIOLOGI
Nukleus pre-optik pada hipotalamus anterior berfungsi sebagai pusat pengatur
suhu dan bekerja mempertahankan suhu tubuh pada suatu nilai yang sudah ditentukan, yang
disebut hypothalamus thermal set point. Pada demam hypothalamic thermal set
point meningkat dan mekanisme pengaturan suhu yang utuh bekerja meningkatkan suhu
tubuh ke suhu tertentu yang baru.
Terjadinya demam disebabkan oleh pelepasan zat pirogen dari dalam lekosit yang
sebelumnya telah terangsang baik oleh zat pirogen eksogen yang dapat berasal dari
mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu
infeksi Pirogen eksogen ini juga dapat karena obat-obatan dan hormonal, misalnya
progesterone.

Secara skematis mekanisme terjadinya febris atau demam dapat digambarkan


sebagai berikut :
Stimulus eksogen (endotoksin, staphylococcal erythoxin dan virus) menginduksi sel darah
putih untuk produksi pirogen endogen yang paling banyak keluar IL-1 dan TNF-, selain
itu ada IL-6 dan IFN bekerja pada sistem saraf pusat di level organosum vasculosum pada
lamina terminalis (OVLT) OVLT dikelilingi oleh porsio medial dam lateral pada pre-optic
nucleus, hipotalamus anterior dan septum pallusolum
Mekanisme sirkulasi sitokin di sirkulasi sistemik berdampak pada jaringan neural
masih belum jelas. hipotesanya adanya kebocoran di sawar darah otak di level OVLT
menyediakan sistem saraf pusat untuk merasakan adanya pirogen endogen. Mekanisme
pencetus tambahan termasuk transport aktif sitokin ke dalam OVLT atau aktivasi reseptor
sitokin di sel endotel di neural vasculature, yang mentranduksi sinyal ke otak.
OVLT mensintesa prostaglandin, khususnya prostaglandin E2, yang merespons
pirogen endogen. PG E2 bekerja secara langsung ke sel pre-optic nucleus untuk menurunkan
rata pemanasan pada neuron yang sensitif pada hangat dan ini salah satu cara menurunkan
produksi pada arachidonic acid pathway. Kejadian yang lebih luas pada cyclooxygenase-2
(COX-2) di neural vasculature yang penting pada formasi febris. Induksi pada respons febris
oleh lipopolisakarida, TNF- dan IL-1 yang menghasilkan kenaikan COX-2 mRNA pada
cerebral vasculature pada beberapa model eksperimental febris.
Peningkatan suhu dikenal untuk menginduksi perubahan pada banyak sel efektor
pada respons imun. Demam menginduksi terjadinya respons syok panas. Pada respons syok
panas terjadi reaksi kompleks pada demam, untuk sitokin atau beberapa stimulus lain. Hasil
akhir dari reaski ini adalah produksi heat shock protein (HSPs), sebuah kelas protein krusial
untuk penyelamatan seluler.

Sitokin proinflamotori masuk ke sirkulasi hipotalamik stimulasi


pengeluaran PG lokal, resetting set point termal hipotalamik sitokin proinflamatori vs
kontrainflamatori (misalya seperti IL-10 dan substansi lain seperti arginin vasopresin, MSH,
glukokortikoid) membatasi besar dan lamanya demam
D. MANIFESTASI KLINIS
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase
demam meliputi:
Fase 1 awal (awitan dingin/ menggigil)
Tanda dan gejala
- Peningkatan denyut jantung
- Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan
- Mengigil akibat tegangan dan kontraksi otot
- Peningkatan suhu tubuh
- Pengeluaran keringat berlebih
- Rambut pada kulit berdiri
- Kulit pucat dan dingin akibat vasokontriksi pembuluh darah
Fase 2 ( proses demam)
Tanda dan gejala
- Proses mengigil lenyap
- Kulit terasa hangat / panas
- Merasa tidak panas / dingin
- Peningkatan nadi
- Peningkatan rasa haus
- Dehidrasi
- Kelemahan
- Kehilangan nafsu makan ( jika demam meningkat)
- Nyeri pada otot akibat katabolisme protein.

Fase 3 (pemulihan)
Tanda dan gejala
- Kulit tampak merah dan hangat
- Berkeringat
- Mengigil ringan
- Kemungkinan mengalami dehidrasi

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Uji coba darah,

Contoh pada Demam Dengue terdapat leucopenia pada hari ke-2 atau hari ke-3. Pada
DBD dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Masa pembekuan masih normal, masa
perdarahan biasanya memanjang, dapat ditemukan penurunan factor II,V,VII,IX, dan XII.
Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia. SGOT,
serum glutamit piruvat(SGPT), ureum, dan pH darah mungkin meningkat, reverse
alkali menurun.

2. Pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin.
Contoh pada DBD air seni mungkin ditemukan albuminuria ringan.

3. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan
pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi.
4. Ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa

F. PENATALAKSANAAN FEBRIS
1. Secara Fisik
Anak demam ditempatkan dalam ruangan bersuhu normal
Pakaian anak diusahakan tidak tebal
Memberikan minuman yang banyak karena kebutuhan air meningkat
Memberikan kompres
Berikut ini cara mengkompres yang benar :
- Kompres dengan menggunakan air hangat, bukan air dingin atau es
- Kompres di bagian perut, dada dengan menggunakan sapu tangan yang telah dibasahi air
hangat
- Gosok-gosokkan sapu tangan di bagian perut dan dada
- Bila sapu tangan sudah kering, ulangi lagi dengan membasahinya dengan air hangat
2. ObatobatAntipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di
hipotalamus.Antipiretikbergunauntukmencegahpembentukanprostaglandindenganjalan
menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus direndahkan kembali
menjadinormalyangmanadiperintahmemproduksipanasdiatasnormaldanmengurangi
pengeluaranpanastidakadalagi.
Penderitatifusperludirawatdirumahsakituntukisolasi(agarpenyakitinitidak
menularkeoranglain).Penderitaharusistirahattotalminimal7haribebaspanas.Istirahat
totaliniuntukmencegahterjadinyakomplikasidiusus.Makananyangdikonsumsiadalah
makananlunakdantidakbanyakberserat.Sayurandenganseratkasarsepertidaunsingkong
harus dihindari, jadi harus benarbenar dijaga makanannya untuk memberi kesempatan
kepadaususmenjalaniupayapenyembuhan.

Pengobatan yang diberikan untuk pasien febris typoid


adalahantibiotikagolonganChloramphenicoldengandosis34x500mg/hari;
Petunjuk pemberian antipiretik:

a. Bayi 6 12 bulan : 1 sendok the sirup parasetamol


b. Anak 1 6 tahun : parasetamol 500 mg atau 1 1 sendokteh sirup
parasetamol

c. Anak 6 12 tahun : 1 tablet parasetamol 5oo mg atau 2 sendok the sirup


parasetamol.

Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan air atau
teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari. Gunakan sendok takaran obat
dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan
demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan
kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang berisiko
kejang demam

G. KOMPLIKASI FEBRIS
MenurutCorwin(2000),komplikasifebrisdiantaranya:
kardi
fisiensijantung
fisiensipulmonal
angdemam
BAB III
MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGUMPULAN DATA
1. Identitas pasien
Nama : An. A
Umur : 3,5 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
pekerjaan :-
Status pernikahan : Belum menikah
Pendidikan :-
Alamat : Cunda
Agama : Islam
Suku/bangsa :Aceh/ indonesia
Tanggal masuk rumah sakit: 09 februari 2013
Diagnosa medis : Febris
2. Identitas penanggung jawab:
Nama : Ibu B
Umur : 25 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Hubungan dengan pasien : Ibu kandung
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Cunda

B. ANAMNESA (DATA SUBYEKTIF)


1. KeluhanuUtama
Ibu An. A mengatakan anaknya panas 4 hari, muntah dan mual bila makan dan
minum, lemes, ( umumnya ada gejala lain yang menyertai demam misalnya mual muntah,
nafsu makan menurun, diaforesis, gangguan eliminasi, nyeri otot dan sendi).
2. Riwayatakesehatanasekarang
Ibu An. A mengatakan anaknya panas 4 hari terus menerus, mual dan muntah bila makan dan
nafsu makan dan minum menurun. Sebelumnya keluarga hanya mengompres anaknya tapi
panasnya belum turun juga.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga ada yang mengalami demam seperti pasien tanpa mual muntah seperti
gejala yang dialami pasien, namun sembuh hanya dengan meminum obatyangdibelidipasaran.

C. PEMERIKSAAN FISIK (DATA OBYEKTIF)


a. Keadaan umum : lemas
b. Kesadaran : composmentis
c. Tanda vital :
TD :
Pols :
Temp : 38
RR :
BB :
TB :
Head to Toe
a. Kepala
Rambut : warna hitam, kulit kepala nampak kering
Mata : simetris, konjungtiva anemis
Hidung : fungsi penciuman baik, tidak ada secret
Telinga : tidak ada serumen, pendengaran baik
Mulut : mukosa bibir kering tidak ada stomatitis
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Wajah : tampak pucat dan lemas

b. Dada
Jantung I : IC tidak tampak
P : IC kuat angkat
P : Batas jantung tidak melebar
A : Bunyi jantung I-II simetris
Paru I : Pengembangan dada ka = ki simetris
P : Fremitus seimbang
P : Sonor
A : Bunyi vesikuler

c. Abdomen I : tidak ada distensi abdomen


A : Peristaltik usus 15 x/menit
P : Tidak teraba massa
P : Tidak kembung
d. Genetalia : genetalia bersih
e. Ektremitas : lemah dalam menggerakkan tangan
f. Turgorkulit :jelek
g. PemeriksaanPenunjang
Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan
seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah,
pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap
melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti
anginografi, aortografi atau limfangiografi.

ASUHAN KEPERAWATAN
Resiko tinggi infeksi b/d :
- Penurunan sistem tubuh
- Kegagalan untuk mengenal dan mengatasi infeksi
- Prosedur infasif
- Nosokomial.

Tujuan/kriteria hasil :
- Menunjukkan penyembuhan seiring perjalanan waktu
- Bebas dari sekresi purulen, bebas dari febris.
Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
- Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit
- Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
- Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporesisi

Discharge Planning
1. Ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan dokter atau
Perawat
2. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu
3. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
4. Intruksikan untuk kontrol ulang
5. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.
ENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria HasilIntervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)
1. Hipertemia Setelah dilakukan tindakanMengontrol panas
berhubungan perawatan selama .X 24 Monitor suhu minimal tiap 2 jam
dengan prosesjam, pasien mengalamiMonitor suhu basal secara
penyakit. keseimbangan termoregulasikontinyu sesui dengan
Batasan dengan kebutuhan.
karakeristik : kriteria hasil : Monitor TD, Nadi, dan RR
kenaikan suhu Suhu tubuh dalam rentangMonitor warna dan suhu kulit
tubuh diatas normal 35,9 C 37,5 C Monitor penurunan tingkat
rentang normal Nadi dan RR dalam rentangkesadaran
serangan atau normal Monitor WBC,Hb, Hct
konvulsi (kejang) Tidak ada perubahan warnaMonitor intake dan output
kulit kemerahan kulit Berikan anti piretik
pertambahan RR Berikan pengobatan untuk
Tidak ada pusing
takikardi mengatasi penyebab demam
saat disentuh Selimuti pasien
tangan terasa Lakukan Tapid sponge
hangat Berikan cairan intra vena
Kompres pasien pada lipat paha,
aksila dan leher
Tingkatkan sirkulasi udara
Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya menggigil
Temperature Regulation
Monitor tanda- tanda hipertermi
Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
Diskusikan tetang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negative dari
kedinginan
Berikan obat antipiretik sesuai
dengan kebutuhan
Gunakan matras dingin dan
mandi air hangat untuk mengatasi
gangguan suhu tubuh sesuai
dengan kebutuhan

Lepasakan pakaian yang


berlebihan dan tutupi pasien
dengan hanya selembar pakaian.
Vital Sign Monitoring
Monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor vital sign saat pasien
berdiri, duduk dan berbaring
Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
Monitor TD, Nadi, dan RR
sebelum, selama, dan sesudah
aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan
Abnormal
Monitor suhu, warna dan
kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya tekanan nadi
yang melebar , bradikardi,
peningkatan sistolik (Chusing
Triad)
Identifikasi penyebab dari
perubahan vital Sign
2. Resiko injury Setelah dilakukan tindakan Sediakan lingkungan yang aman
berhubungan keperawatan selama x untuk pasien
dengan infeksi 24 jam, pasien tidak Identifikasi kebutuhan
mikroorganisme mengalami injury. Keamanan pasien sesuai dengan
Risk Injury kondisi fisik dan fungsi kognitif
Kriteria Hasil : pasien dan riwayat penyakit
Klien terbebas dari cidera terdahulu pasien
Klien mampu menjelaskanMenghindari lingkungan yang
cara/metode untuk berbahaya misalnya
mencegah injury atau cedera memindahkan perabotan
Klien mampu menjelaskan
factor resiko dari lingkunga Memasang side rail tempat tidur
atau perilaku personal Menyediakan tempat tidur yang
Mampu memodifikasi gayanyaman dan bersih
hidup untuk mencegah Meletakan saklar lampu
injury tempat yang mudah dijangkau
Menggunakan fasilitaspasien
kesehatan yang ada Membatasi pengunjung
Mampu mengenali Memberikan penerangan yang
perubahan status kesehatan cukup
Menganjurkan keluarga untuk
menemani pasien
Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
Memindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan
Berikan penjelasan pada pasien
dan keluarga atau pengunjung
adanya perubahan status
kesehatan dan penyebab
penyakit.
3 Resiko kekuranganSetelah dilakukan tindakanFluid management:
volume cairan keperawatan selama x 24 Pertahankan catatan intake dan
dengan faktorjam, fluid balance denganoutput yang akurat
resiko faktor yangkriteria hasil : Monitor status dehidrasi(
mempengaruhi Mempertahankan urinekelembaban membrane mukosa,
kebutuhan cairanoutput sesuai dengan usianadi adekuat, tekanan darah
(hipermetabolik) dan BB, BJ urine normal, HTortostatik)
normal Monitor vital sign
Tekanan darah, nadi, suhu
Monitor asupan makanan/ cairan
tubuh dalam batas normal
dan hitung intake kalori harian
Tidak ada tanda- tanda
dehidrasi, elastisitas turgor Lakukan terapi IV
kulit baik, membrane mukosa Monitor status nutrisi
lembab, tidak ada rasa haus Berikan cairan
yang berlebihan. Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
Dorong masukan oral
Berikan penggantian nasogastrik
sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu
pasien makan
Anjurkan minum kurang lebih 7-
8 gelas belimbing perhari
Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
memburuk
Atur kemungkinan transfusi
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Febris atau yang biasa disebut dengan demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh
diatas batas normal biasa, yang dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh
zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak
atau dehidrasi.
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun
penyakit lain (Julia, 2000).
Menurut Pelayanan kesehaan maternal dan neonatal 2000 bahwa etiologi
febris,diantaranya
a. Suhu lingkungan.
b. Adanya infeksi.
c. Pneumonia.
d. Malaria.
e. Otitis media.
f. Imunisasi

B. SARAN
Demikian pembuatan makalah yang kami,dan kami mohon kritikan dan saran yang
membangun karena bagaimanapun kami tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan dalam
membuat dan menyusun makalah.oleh karena itu dengan kritik dan saran bisa memperbai

Anda mungkin juga menyukai