Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU

Mata Kuliah Penyakit Tropis

Disusun oleh :
HANS IMSULA
PO.71.33.3.15.15

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAYAPURA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2017
Penyakit cacingan adalah penyakit yang disebabkan karena masuknya parasit berupa cacing ke
dalam tubuh manusia. Spesies utama yang menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris
lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichuria) dan cacing tambang (Necator americanus dan
Ancylostoma doudenale) yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminthiasis).
Sampai saat ini penyakit kecacingan masih tetap merupakan suatu masalah karena kondisi sosial
dan ekonomi di beberapa bagian dunia. Pada umumnya, cacing jarang menimbulkan penyakit
serius tetapi dapat menyebabkan gangguan kesehatan kronis yang berhubungan dengan faktor
ekonomis. Nematoda usus merupakan kelompok yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia
karena masih banyak yang mengidap cacing ini sehubungan banyaknya faktor yang menunjang
untuk hidup suburnya cacing parasite ini. Faktor penunjang ini antara lain keadaan alam sekitar
iklim, sosial ekonomi, pendidikan, kepadatan penduduk serta masih berkembangnya kebiasaan
yang kurang baik.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) parasit ini menginfeksi lebih dari 2 miliar orang di
dunia dan 880 juta diantaranya terjadi pada anak usia sekolah (5-14 tahun). Berdasarkan data
tersebut prevalensi terbesar terjadi pada anak usia sekolah sehingga penyakit cacingan
merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan di dunia.

Dampak dari penyakit kecacingan sangat besar terhadap perkembangan fisik, intelegensia
dan produktifitas anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Kecacingan dapat
mempengaruhi pemasukan (intake) , pencernaan (digestif), penyerapan (absorsi), dan
metabolisme makanan. Secara kumulatif infeksi cacingan dapat menyebabkan kurang gizi
berupa kalori dan protein serta kehilangan darah yang berakibat menurunnya daya tahan tubuh
dan menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak. Khusus anak usia sekolah, keadaan ini akan
berakibat buruk pada kemampuannya dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2009,
terdapat 6 wilayah endemik di dunia yang menjadi prioritas untuk pengobatan infeksi cacing
pada anak. Asia Tenggara menempati prioritas pertama dengan persentase 42%, Afrika
menempati prioritas kedua dengan persentase 32%, Wilayah Pasific Barat menempati prioritas ke
tiga dengan persentase 11%, wilayah Mediterania Timur menempati prioritas ke empat dengan
persentase 9%, Amerika menempati proritas ke lima dengan persentase 5%, dan Eropa
menempati prioritas ke enam dengan persentase 1%.(1) Asia Tenggara merupakan wilayah
dengan persentase tertinggi di dunia akan kebutuhan pengobatan infeksi cacingan pada anak.
Indonesia yang merupakan salah satu negara yang menjadi bagian dari kawasan Asia Tenggara,
menempati prioritas ke dua untuk kebutuhan pengobatan cacingan pada anak dengan presentase
15% setelah India pada prioritas pertama dengan persentase 61% , kemudian diikuti oleh
Bangladesh (13%), Myanmar (3%), Nepal (3%), Democratic Republic of Korea (1%), dan
negara lainnya (1%).

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan tahun 2006 di Indonesia dengan jumlah
penduduk 220.000.000, prevalensi infeksi cacingan 60% orang, dan 21% di antaranya tedapat
pada anak usia sekolah dasar (5-14 tahun). Penderita tersebar di seluruh daerah, baik di pedesaan
maupun perkotaan. Faktor- faktor yang mempengaruhi prevalensi yang tinggi di Indonesia
karena berada di daerah tropis yang menunjang untuk perkembangan hidup suburnya parasit.
Faktor penunjang lainnya yaitu keadaan alam serta iklim, sosial ekonomi, pendidikan, kepadatan
penduduk serta masih berkembangnya kebiasaan higiene pribadi yang kurang baik. Oleh sebab
itu penyakit cacingan masih menjadi masalah kesehatan mendasar di Indonesia.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang persentase angka penyakit cacingan
pada anak usia sekolah (5-14 tahun) mengalami penurunan. Pada tahun 2010 terdapat 54 jumlah
anak dari 142 jumlah orang yang terinfeksi penyakit cacing (38%) dan pada tahun 2011 terdapat
34 jumlah anak dari 113 jumlah orang yang terinfeksi penyakit cacing (30%). Berdasarkan
laporan dari Puskesmas Kelurahan Bandarharjo persentase angka penyakit cacingan pada anak
usia sekolah (5-14 tahun) mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 terdapat 2 anak dari 6 orang
yang terinfeksi penyakit cacing (33%) dan pada tahun 2012 terdapat 9 anak dari 11 orang yang
terinfeksi penyakit cacing (82%). Data ini menunjukkan peningkatan persentase yang signifikan
sehingga harus mendapatkan perhatian khusus untuk dilakukan upaya pengendalian cacingan.
Pada penelitian sebelumnya oleh M. Amirudin Ali mengenai hubungan infeksi helminthiasis
dengan kadar hemoglobin (Hb) pada siswa SD Bina Gedong Remaja Kota Semarang Tahun 2011
ada hubungan antara infeksi helminthiasis dengan kadar hemoglobin dengan (p = 0,017),
ditemukan 46,9 % positif terinfeksi cacing.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempunyai visi dunia bebas dari morbiditas anak karena
infeksi penyakit cacingan yaitu mengurangi morbiditas dari penyakit cacingan pada anak usia
sekolah (5-14 tahun) ke level bawah yang tidak dianggap sebagai masalah kesehatan. Penyakit
cacingan dianggap sebagai masalah kesehatan apabila prevalensi infeksi dengan intensitas
sedang dan tinggi pada anak usia sekolah lebih dari 1%. Badan Kesehatan Dunia (WHO)
mempunyai target pada tahun 2020 untuk mengurangi angka kesakitan karena infeksi cacingan
pada anak 75% di daerah endemik. Indonesia yang termasuk dalam wilayah endemik
mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mendukung pencapaian target WHO dengan
melaksanakan program-program pengendalian penyakit cacingan. Salah satu faktor penting
dalam upaya pencegahan penyakit kecacingan pada anak sekolah dasar (SD) yaitu dengan
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. Karena pada umumnya munculnya
penyakit yang sering menyerang pada anak usia sekolah dasar berkaitan dengan PHBS, yang
salah satunya adalah penyakit kecacingan. Oleh karena itu penanaman nilai-nilai PHBS di
sekolah merupakan kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pendekatan usaha kesehatan
sekolah (UKS). Guru sebagai orang tua kedua di sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab
dalam penyampaian pesan kesehatan kepada anak didik dan dalam praktiknya dapat memberikan
contoh sikap dan perilaku untuk melaksanakan hidup bersih dan sehat, karena pada anak usia
sekolah dasar (SD) merupakan tahapan dalam siklus kehidupan yang sangat strategis bagi
pemahaman nilai yang akan dibawa hingga dewasa. Diharapkan para guru dapat bersinergi
dengan seluruh siswa dan masyarakat lingkungan sekolah untuk dapat berperan aktif dalam
mewujudkan sekolah sehat sebagai upaya menurunkan angka penyakit kecacingan melalui upaya
pencegahan pada anak usia sekolah dasar agar dapat meningkatkan derajat kesehatan peserta
didik yang optimal.

Penyebab Penyakit Cacingan :

Penyebab cacingan antara lain sanitasi lingkungan yang kurang terjaga, kebiasaan anak-anak
yang buang air besar di tempat sembarangan, kebiasaan tidak memakai alas kaki yang berakibat
terjadinya infeksi telur cacing melalui pori-pori kulit atau makanan.
Cara penularan penyakit cacingan :

Cacing masuk kedalam tubuh manusia lewat makanan atau minuman yang tercemar telur-
telur cacing. Umumnya, cacing perut memilih tinggal di usus yang halus yang banyak berisi
makanan. Meski ada juga yang tinggal di usus besar. Penularan penyakit cacingan dapat lewat
berbagai cara, telur cacing bisa masuk dan tinggal dalam tubuh manusia. Ia bisa masuk lewat
makanan atau minuman yang dimasak menggunakan air yang tercemar. Jika air yang dipakai
telah tercemar itu dipakai untuk menyirami tanaman, telur-telur itu naik kedarat. Begitu air
mongering, mereka menempel pada butiran debu. Telur yang menumpang pada debu itu bisa
menempel pada makanan dan minuman yang dijajakan dipinggir jalan atau terbang ketempat-
tempat yang sering dipegang manusia. Mereka juga bisa berpindah dari satu tangan ke tangan
yang lain. Setelah masuk kedalam usus manusia, cacing akan berkembang biak, membentuk
koloni, dan menyerap habis sari-sari makanan. Cacing mencuri zat gizi dan protein untuk
membangun otak.

Setiap satu cacing gelang memakan 0,14 gram karbohidrat, dan 0,035 gram protein per
hari. Cacing cambuk menghabiskan 0,005 milimeter darah per hari dan cacing tambang minum
0,2 milimeter darah per hari. Kalau jumlahnya ratusan, berapa besar kehilangan zat gizi dan
darah yang disedot. Seekor cacing gelang betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur per
hari.

Gejala Penyakit Cacingan :

Gejala serangan ringan antara lain terdapat gangguan pencernaan ringan, seperti sakit
perut, mual, dan nafsu makan berkuang. Larva yang berkeliaran di paru-paru dapat menimbulkan
reaksi alergi, antara lain, batuk, demam, dan serangan asma.

Gejala yang lainnya, gatal yang amat sangat, tidak dapat tidur dan sakit perut, cacing
dapat terlihat seperti benang tipis berwarna putih disekitar anus atau di dalam pispot. Biasanya
cacingan biasa dengan mudah menular.gejala cacingan yang dapat dilihat adalah lesu, tak
bergairah, suka mengantuk, badan kurus meski porsi makan melimpah, suka menggaruk-garuk,
dan kurang darah atau anemia. Berkurangnya zat gizi maupun darah, keduanya berdampak pada
tingkat kecerdasan, selain berujung pada anemia.

Pencegahan Penyakit Cacingan :

Untuk dapat mengatasi infeksi cacing secara tuntas, maka upaya pencegahan dan terapi
merupakan usaha yang sangat bijaksana dalam memutus siklus penyebaran infeksinya.
Pemberian obat anti cacing secara berkala setiap 6 bulan dapat pula dikerjakan. Menjaga
kebersihan diri (Ian lingkungan serta sumber bahan pangan adalah merupakan sebagian dari
usaha pencegahan untuk menghindari dari infeksi cacing. Memasyarakatkan cara-cara hidup
sehat, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar, dimana usia ini merupakan usia yang sangat
peka untuk menanamkan dan memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan baru. Kebiasaan untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan salah satu contohnya.

Beberapa Tips Pencegahan :

o Cucilah tangan sebelum makan.

o Budayakan kebiasaan dan perilaku pada diri sendiri, anak dan keluarga untuk mencuci

tangan sebelum makan. Kebiasaan akan terpupuk dengan baik apabila orangtua
meneladani. Dengan mencuci tangan makan akan mengeliminir masuknya telur cacing ke

mulut sebagai jalan masuk pertama ke tempat berkembang biak cacing di perut kita.

o Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. Jenis cacing ada macamnya. Cara masuknya pun

beragam macam, salah satunya adalah cacing tambang (Necator americanus ataupun

Ankylostoma duodenale). Kedua jenis cacing ini masuk melalui larva cacing yang

menembus kulit di kaki, yang kemudian jalan-jalan sampai ke usus melalui trayek saluran

getah bening. Kejadian ini sering disebut sebagai Cutaneus Larva Migran (dari namanya

ini kita sudah tahu lah apa artinya; cutaneus: kulit, larva: larva, migrant: berpindah). Nah,

setelah larva cacing sampai ke usus, larva ini tumbuh dewasa dan terus berkembang biak

dan menghisap darah manusia. Oleh sebab itu Anda akan anemia. Gunting dan bersihkan

kuku secara teratur. Kadang telur cacing yang terselip di antara kuku Anda dan selamat

masuk ke usus Anda dan mendirikan koloni di sana.

o Jangan buang air besar sembarangan dan cuci tangan saat membasuh. Setiap kotoran

baiknya dikelola dengan baik, termasuk kotoran manusia. Di negara kita masih banyak

warga yang memanfaatkan sungai untuk buang hajat. Dengan perilaku ini maka kotoran-

kotoran ini akan liar tidak terjaga, sehingga mencemari lingkungannya. Dan, jika

lingkungan sudah cemar, penularan sering tidak pandang bulu. Orang yang sudah menjaga

diri sebersih mungkin sekalipun masih dapat dihinggapi parasit cacing ini.

o Bertanam atau Berkebunlah dengan baik. Ambillah air yang masih baik untuk menyiram

tanaman. Agar air ini senantiasa baik maka usahakan lingkungan sebaik mungkin.

Menjaga alam ini termasuk bagian dalam merawat kesehatan.

o Peduli lah dengan lingkungan, maka akan dapat memanfaatkan hasil yang baik. Jika air

yang digunakan terkontaminasi dengan tinja manusia, bukan tidak mungkin telur cacing

bertahan pada kelopak-kelopak tanaman yang ditanam dan terbawa hingga ke meja

makan.
o Cucilah sayur dengan baik sebelum diolah. Cucilah sayur di bawah air yang mengalir.

Mengapa demikian? Ya, agar kotoran yang melekat akan terbawa air yang mengalir, di

samping itu nilai gizi sayuran tidak hilang jika dicuci di bawah air yang mengalir. Cara

mengolah sayuran yang baik dapat Anda lihat di artikel Cerdas mengolah Sayuran :

Menjamin Ketersediaan Nutrisi.

o Hati-hatilah makan makanan mentah atau setengah matang, terutama di daerah yang

sanitasinya buruk. Perlu dicermati juga, makanan mentah tidak selamanya buruk. Yang

harus diperhatikan adalah kebersihan bahan makanan agar makanan dapat kita makan

sesegar mungkin sehingga enzim yang terkandung dalam makanan dapat kita rasakan

manfaatnya. Ulasan saya tentang makanan mentah yang menyehatkan dapat dilihat pada

artikel Diet Sunda ini.

o Buanglah kotoran hewan hewan peliharaan kesayangan Anda seperti kucing atau anjing

pada tempat pembuangan khusus

o Pencegahan dengan meminum obat anti cacing setiap 6 bulan, terutama bagi Anda yang

risiko tinggi terkena infestasi cacing ini, seperti petani, anak-anak yang sering bermain

pasir, pekerja kebun, dan pekerja tambang (orang-orang yang terlalu sering berhubungan

dengan tanah.

Pengobatan :

o Penanganan untuk mengatasi infeksi cacing dengan obat-obatan merupakan pilihan yang

dianjurkan. Obat anti cacing Golongan Pirantel Pamoat (Combantrin dan lain-lain)

merupakan anti cacing yang efektif untuk mengatasi sebagian besar infeksi yang

disebabkan parasit cacing.


o Intervensi berupa pemberian obat cacing ( obat pirantel pamoat 10 mg / kg BB dan

albendazole 10 mg/kg BB ) dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan pada anak SD dapay

mengurangi angka kejadian infeksi ini pada suatu daerah

o Paduan yang serasi antara upaya prevensi dan terapi akan memberikan tingkat

keberhasilan yang memuaskan, sehingga infeksi cacing secara perlahan dapat diatasi

secara maksimal, tuntas dan paripurna


.