Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dinamika gerakan keagamaan tidak saja berimplikasi terhadap kehidupan spiritual


belaka, namun juga akan menyentuh pada aspek social, termasuk pada politik. Sedangkan
gerakan keagamaan yang berimplikasi terhadap politik secara global, hanyalah
pertarungan ideology antara kaum modernis yang menuntut perubahan, dan kalangan
yang mempertahankan kesksesan masa lalu, menurut kalangan ini, ideology masa lalu
merupakan pakem yang tidak tergantikan walaupun zaman terus berkembang.

Dalam kaitannya dengan makalah ini, salah satu tokoh fenomenal fundamentalis
adalah Sayyid Qutb, baginya Islam merupakan agama penyempurna bagi ajaran-ajaran
pendahulunya, Islam hadir sebagai entitas yang rahmatan li al-alamin, rahmat bagi seisi
alam semesta. Maka dari itu, dalam segala aspek, baik itu spiritual ataupun social, Islam
merupakan satu-satunya metode yang pantas untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-
hari.
Makalah ini menggambarkan bagaimana pandangan politik Sayyid qutb, factor-faktor
yang mempengaruhi hingga kerangka berfikir beliau yang selama hidupnya telah banyak
menelorkan buku-buku yang mampu mewarnai dialektika dalam Islam.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas maka dapat menjadi sebuah rumusan masalah yaitu :
1. Bagaimana Biografi Sayyid Quthb ?
2. Bagaiman pemikiran politik Sayyid Quthb?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka penulis dapat menjadi menjelaskan tentang :

1. Mengetahui Biografi Sayyid Quthb.

2. Mengetahui Pemikiran Politik Sayyid Quthb.

BAB II

1
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Sayyid Quthb

Sayyid Quthb hidup di Mesir ketika perbedaan pikiran dan debat dibawah
kerajaan tunduk kepada monolog Nasserisme. Sayyid Quthb lahir pada 1096 dalam
keluarga menengah di Mesir. Nama lengkapnya adalah Sayyid Qutb Ibrahim Husain
Syadzili. Dia dilahirkan pada tanggal 9 Oktober 1906 M. di kota Asyut, salah satu daerah
di Mesir. Dia merupakan anak tertua dari lima bersaudara, dua laki-laki dan tiga
perempuan.

Ayahnya bernama al-Haj Qutb Ibrahim, ia termasuk anggota Partai Nasionalis


Musthafa Kamil sekaligus pengelola majalah al-Liw`, salah satu majalah yang
berkembang pada saat itu. Qutb muda adalah seorang yang sangat pandai. Konon, pada
usianya yang relatif muda, dia telah berhasil menghafal al-Qur`an diluar kepala pada
umurnya yang ke-10 tahun. Pendidikan dasarnya dia peroleh dari sekolah pemerintah
selain yang dia dapatkan dari sekolah Kuttb.1

Pada tahun 1918 M, dia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Pada tahun
1921 Sayyid Qutb berangkat ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di Madrasah
Tsanawiyah. Pada masa mudanya, ia pindah ke Helwan untuk tinggal bersama pamannya,
Ahmad Husain Ustman yang merupakan seorang jurnalis. Pada tahun 1925 M, ia masuk
ke institusi diklat keguruan, dan lulus tiga tahun kemudian. Lalu ia melanjutkan jenjang
perguruannya di Universitas Dr al-Ulm hingga memporelah gelar sarjana (Lc) dalam
bidang sastra sekaligus diploma pendidikan. . Pada tahun 1929 seperti halnya jejnajng
pendidikan yang pernah ditempuh rasyid ridho dan hasan al banna, sayyid qutb masuk
kuliah di Dar al-Ulum dan berhasil menyabet sarjana muda 1933. Pada 1940 sayyid qutb
mendapat tugas belajar ke amerika selama dua tahun dan membagi waktu studinya antara
Wilsons Teacher College di Washington , greeley College di Colorado, dan Standford
University di California.

Keberadaan sayyid qutb di Amerika bersamaan dengan pendirian negara israel


yang didukung PBB dan awal perang dingan antara Amerika dan Unisoviet. Dimana
Mesir pada saat itu dipimpin oleh Nasser yyang bersekutu dengan Unisoviet dan
1

2
nasionalisme sekuler, sebuah persekutuan yang menjauhkan mesir dari prospek pendirian
negara Islam.2

Pada tahun 1950 Sayyid Qutbh kembali lagi ke Mesir berbarengan dengan
berkembangnya krisis politik Mesir yang kemudian menyebabkan terjadinya kudeta
miiter paada tahun 1952.3 Selain itu Sayyid Qutbh merasakan pelecehan terhadap orang-
orang Arab dan orang Muslim, Sayyid Qutbh terpukul atas terbunuhnya Hasan al-Banna.
Semua faktor ini yang membuat Sayyid Qutbh kembali ke Mesir.

Pada Juli 1954 Sayyid Qutbh menjadi pemimpin redaksi harian Ikhwanul
Muslimin, akan tetapi baru juga dua bulan harian itu ditutup atas perintah Gamal Abdel
Naseer karena mengancam pemerintah atas Mesir-Inggris 7 Mei 1954.4

Dari organisasi inilah beliau lantas banyak menyerap pemikiran-pemikiran Hasan


al-Banna dan Abu al-Ala al-Maududi. Sayyid Qutb memandang Ikhwan al-Muslimin
sebagai satu gerakan yang bertujuan untuk mewujudkan kembali syariat politik Islam
dan juga merupakan medan yang luas untuk menjalankan Syariat Islam yang menyeluruh.
Selain itu, dia juga meyakini bahwa gerakan ini adalah gerakan yang tidak tertandingi
dalam hal kesanggupannya menghadang zionisme, salibisme dan kolonialisme.

Sepanjang hayatnya, Sayyid Qutb telah menghasilkan lebih dari dua puluh buah
karya dalam berbagai bidang. Penulisan buku-bukunya juga sangat berhubungan erat
dengan perjalanan hidupnya. Sebagai contoh, pada era sebelum tahun 1940-an, beliau
banyak menulis buku-buku sastra yang hampa akan unsur-unsur agama. Hal ini terlihat
pada karyanya yang berjudul Muhimmat al-Syir fi al-Hayh pada tahun 1933 dan
Naqd Mustaqbal al-Tsaqfah f Misr pada tahun 1939.-an, Sayyid Qutb mulai
menerapkan unsur-unsur agama di dalam karyanya. Hal itu terlihat pada karya beliau
selanjutnya yang berjudul al-Tashwr al-Fanni fi al-Qur`an (1945) dan Masyhid al-
Qiymah fi al-Qur`an.

2 Irwan Masduqi.Berislam Secara Toleran,(Bandung, Mizan, 2011) hal, 246

3 Ali Rahnema, Para Perintis Zaman Baru, Ilyas Hasan (terj), (Bandung; Mizan, 1995), hlm., 158

4 Ibid Irwan, hal 247

3
Pada tahun 1950-an, Sayyid Qutb mulai membicarakan soal keadilan,
kemasyarakatan dan fikrah Islam yang suci menerusi al-Adalah al-Ijtimaiyyah fi al-
Islam dan Marakah al-Islam wa ar-Ras al-Maliyyah. Selain itu, beliau turut
menghasilkan F Zhill al-Qur`n dan Dirsat Islmiyyah. Semasa dalam penjara,
yaitu mulai dari tahun 1954 hingga 1966, Sayyid Qutb masih terus menghasilkan karya-
karyanya. Di antara buku-buku yang berhasil ia tulis dalam penjara adalah Hdza al-
Dn, al-Mustaqbal li Hdza al-Dn, Khash`is al-Tashawwur al-Islmi wa
Muqawwimtihi al-Islm wa Musykilah al-Hadhrah dan F Zhilal al-Qur`n.

2.2 Pemikiran Politik Sayyid Qutb

Setelah kepulangannya ke Mesir, Sayyid Qutb sering mengkritik pemerintahan


Gamal Abdul Naser. Menurutnya, Mesir pada saat itu secara social politik berada pada
tingkat kebobrokan, ini diakibatkan oleh undang-undang yang berlaku di mesir sangat
bertentangan dengan jiwa kebudayaan manusia dan agama. Selain itu undang-undang
yang berlaku tidak sesuai dengan kondisi social dan geografis, karena menurutnya, secara
kultur masyarakat mesir sangat berbeda dengan barat yang sekuler, dan lebih dekat
dengan tradisi Islam.

Berdasarkan beberapa kritiknya, undang-undang yang menurutnya ternyata


berdampak sistemik terhadap pemerintahan dan aplikasinya dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari, maka menurutnya, mendirikan pemerintahan yang didasarkan atas dasar
ideology nasionalisme arab telah gagal, karena meniru barat yang mencoba memisahkan
agama dan masyarakat.

Namun sayyid Qutb tidak saja mengkritik pemerintahan mesir yang terkesan sekuler
pada saat itu, namun juga memberikan solusi dengan menyodorkan Islam sebagai satu-
satunya ideology yang Sholih li kulli zaman wal makan, menurutnya Islam mempunyai
jawaban untuk segala problem social dan politik, selain itu islam juga memiliki konsep
untuk menciptakan masyarakat yang harmonis

Sayyid Qutb menyatakan bahwa segala permaasalahan kehidupan umat manusia


telah diatur dalam Islam, tidak terkecuali masalah politik ketatanegaraan. Menurut Sayyid
Qutb pemerintahan yang ideal adalah suatu negara yang berdasarkan atas kedaulatan
hukun illahi. Sistem pemerintahan di dunia ini harus berdasarkan penghambaan diri

4
manusia kepada Tuhan saja. Kemudian, dibawah sistem umum ini setiap indivudu boleh
memilih aqidah yang akan dianutnya. Dengan demikian maka setiap agama telah menjadi
milik Tuhan, dalam arti perasaan agama itu, kepatuhan, ketundukan, dan peribadatan
semuanya itu hanya bagi Allah saja.5

Karena itu, Sayyid Qutb menolak kedaulatan rakyat. Baginya, manusia hanyalah
pelaksana kedaulatan dan hukum Tuhan, dan tidak dibenarkan mereka menjalankan
hukum, politik, dan sebagainya yang bertentangan dengan ajaran dan Hukum Tuhan.

Implikasi visi politik Sayyid Qutb ada dua, pertama politik kini kira-kira tak kurang
dari menciptakan keserasian Ilahiah di dunia ini. Kedua, berpolitik berarti menangkap
secara intuitif pengetahuan tentang kebenaran mutlak, polanya dan keselarasannya,
diikuti dengan pembentukan kembali secara radikal masyarakat manusia yang sesuai
dengan ritmenya.6

konsep pemerintahan supra nasional, persamaan hak antara para pemeluk berbagai
agama, tiga asas politik pemerintahan islam, bentuk keadilan dalam islam, dan terakhir
politik pemerintahan dalam islam.

1. Konsep Pemerintahan Supra Nasional

Sayyid quthb memiliki suatu konsep tentang pemerintahan yang ideal


dalam islam. Menurutnya, pemerintahan yang paling bagus adalah
pemerintahan supra nasional. Dalam sistem ini, wilayah negara meliputi
seluruh dunia islam dengan sentralisasi kekuasaan pada pemerintah pusat.
Yang dikelola atas prinsip persamaan penuh antara semua umat islam yang
terdapat diseluruh penjuru dunia islam, tanpa adanya fanatisme ras dan
kedaerahan. Tentang pemanfaatan potensi pendapatan yang dimiliki oleh
daerah, diutamakan dipakai untuk kepentingan daerah itu sendiri, dan apabila
masih ada lebihnya, maka akan disetorkan ke bait al-mal atau perbendaharaan

5 Muhammad iqbal, H. Amin Husein Nasution, Pemikiran Politik Islam, (Jakarta : Kencana,
2010) hal 209

6 Ibid, Ali Rahnema hal 166

5
pemerintah pusat sebagai milik bersama kaum muslimin yang akan
dipergunakan untuk kepentingan bersama saat dibutuhkan.

2. Persamaan hak antara para pemeluk berbagai agama

Dalam hal ini negara islam akan menjamin secara penuh hak-hak orang
dzimmi dan kaum musrikin yang terikat perjanjian damai dengan kaum
muslimin, hak-hak mereka akan betul-betul ditegakkan atas dasar
kemanusiaan, tanpa membedakan pemeluk agama yang satu dengan pemeuk
agama yang lain apabila sampai pada persoalan kebutuhan manusia pada
umumnya. Dan negara juga memberikan jaminan persamaan yang mutlak dan
sempurna kepada masyarakat, dan bertujuan merealisasi kesatuan kemanusiaan
dalam bidang peribadatan dan sistem kemasyarakatan .

3. Tiga Asas Politik Pemerintahan Islam Politik pemerintahan dalam islam dibangun
atas asas7 :

a. Keadilan Penguasa

Keadilan yang mutlak harus diterapkan dalam pemerintahan islam.


Seorang penguasa harus berlaku adil. Dalam hal ini Sayyid Qutbh menegaskan
bahwa keadilan merupakan pilar utama dalam pemerintahan Islam.8Seorang
penguasa dalam mengeluarkan keputusan dan kebijakannya tidak terpengaruh
oleh kepentingan atau keuntungan bagi kalangan tertentu. Suatu keadilan tidak
terpengaruh oleh sebab apapun juga. Setiap individu berhak menikmati
keadilan yang sama, tidak ada diskriminasi antara menreka yang muncul
karena nasab dan kekayaan, karena uang dan pangkat sebagaimana yang ada
pada umat di luar Islam, walaupun antara kaum muslimin dan non islam itu
terdapat permusuhan dan kebencian. Sungguh ini merupakan nilai keadilan
yang belum pernah dicapai oleh Hukum Internasional manapun dan juga oleh
hukum local manapun sampai detik ini. Yang paling penting untuk diketahui

7Ibid Muhammad iqbal, H. Amin Husein Nasution, hal 210

6
tentang keadilan Islam ini adalah bahwa ia bukan semata-mata sekedar teori-
teori mati, tetapi telah terbukti dalam kenyataan hidup sehari-hari.

b. Ketaatan Rakyat

Bagi Sayyid Quthb ketaatan kepada pengauasa bukan karena jabatan


mereka, melainkan karena melaksanakan syariat yang mereka tegakkan dalam
kehidupan bernegara.9 Ketaatan kepada pemegang kekuasaan (pemerintah)
merupakan kelanjutan dari ketaatan terhadap Allah swt dan Rasul-Nya, sebab
menaati waliul amri dalam islam bukanlah karena jabatan mereka, melainkan
karena mereka melaksanakan syariat Allah dan Rosu-Nya. Jadi, jika seorang
penguasa menjalankan pemerintahan tidak sesuai dengan tuntunan yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip islam, maka hilanglah kewajiban kita
untuk tunduk dan taat pada penguasa tersebut. Seperti sabda Nabi yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: setiap muslim, suka atau tidak, wajib
patuh dan taat pada ketentuan yang telah ditetapkan (oleh penguasa), kecuali
jika ia diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan.Dengan demikian
keteaatan rakyat kepada penguasa hanyalah terbats dan terikat pada
pelaksanaan syariat islam semata, tanpa persyaratan lain yang tidak adil dalam
pemerintahan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

c. Musyawarah antara Penguasa dan Rakyat

Musyawarah merupakan salah satu prinsip pemerintahan Islam,


sedangkan teknis pelaksanaanya secara khusus tidak ditertapkan. Dengan
demikian bentuknya tergantung pada kebutuhan saja. Musyawarah juga
merupakan sistem dan lembaga tertinggi yang telah ditetapkan oleh islam.
Tujuannya adalah agar penguasa mengetahui apakah keputusan dan kebijakan
yang telah diambilnya benar-benar sesuai dengan kondisi dan dapat diterima
oleh masyarakat secara keseluruhan. Sehingga bukan hanya bagi kepetingan
tertentu saja. Dalilnya adalah quran surat As-Syuura ayat 38: ...dan urusan
mereka diputuskan dengan jalan musyawarah antar mereka...
Namun, dalam konsep ini, masih belum dijelaskan oleh Quthb secara spesifik

9 Ibid, Muhammad iqbal, H. Amin Husein Nasution, hal 210

7
tentang rakyat. Rakyat yang manakah yang akan ikut berpartisipasi dalam
musyawarah tersebut? Apakah seluruh masyarakat?atau golonga tertentu saja
yang memilki kapasitas dan kemampuan yang dipilih oleh pemerintah sesuai
dengan bidang-bidang mereka masing-masing. Atau melalui wakil-wakil
tertentu yang dipilih oleh rakyat seperti yang ada dalam sistem demokrasi yang
menjadi acuan banyak negara.

4. Bentuk Keadilan Sosial Dalam Islam

Dalam bukunya Al-Adalah al-Ijtimaiyyah fi al-Islam (Keadilan Sosial


dalam Islam) Qutb tidak menafsirkan Islam sebagai sistem moralitas yang
usang. Tetapi, ia adalah kekuatan sosial dan politik konkret di seluruh dunia
Muslim. Di sini Qutb melawan Ali Abd al-Raziq dan Taha Hussein yang
menyatakan bahwa Islam dan politik itu tidak bersesuaian. Qutb menyatakan
tidak adanya alasan untuk memisahkan Islam dengan perwujudan-perwujudan
yang berbeda dari masyarakat dan politik. Sangat susah bagi kita untuk
memahami apa itu keadailan sosial sebelum kita kita bisa memahami konsep
keseluruhan islam tentang alam, kehidupan, dan manusia. Islam tidak
memisah-misahkan segala elemen yang ada dalam dunia ini, dan tidak juga
menghadapi maslah-masalah yang terpisah satu sama lainnya.

Semua persoalan yang saling terkait satu sama lainnya. Hal ini
dikarenakan islam memiliki konse yang menyeluruh tentang alam, kehidupan,
dan manusia. Islam memilki bentuk hubungan antara Tuhan dengan Makhluk-
nya, hubungan antar sesama makhluk (baik antara manusia dengan alam,
maupun antara manusia dengan manusia lainnya), antara individu dengan
masyarakat, antara individu dengan negara, dan bahkan antara generasi yang
satu dengan generasi yang lainnya. Bentuk hubungan inilah yang selanjutnya
disebut oleh Quthb sebagai Filsafat atau Konsep Islam

Islam adalah agama kesatuan antara ibadah dan muamalah, antara


akidah dan perbuatan, material dan spritual, nilai-nilai ekonomi dan nilai-nilai
moral, dunia dan akhirat, serta bumi dan langit. Dari kesatuan besar ini,
lahirlah ketentuan dan ketetapan, serta arah dan batasan-batasannya. Dalam

8
pandangan islam, kehidupan adalah saling tolong menolong dan salin
membantu, tidak ada pertentangan dan permusuhan, semuanya itu merupakan
realisasi kepentingan individu dan masyarakat. Segala sesuatu yang tidak
haram, berarti boleh dilakukan. OLeh karena itulah, menurut islam keadalian
tidak harus sama tanpa ada perbedaan.

Keadilan yang mutlak pasti membutuhkan perbedaan, tetapi memberi


kesempatan yang merata dan luas kepada mayarakat untuk menjalani
kehidupan. Tetapi tidak keluar dari prinsip-prinsip keagamaan (islam). Islam
tidak menginginkan semua orang memilki jumlah kekayaan yang sama dalam
hal ekonomi. Karena hal itu sangat tidak mungkin terjadi. Tetapi islam tidak
menghalakan segala kemewahan yang hanya mendorong manusia hanya
tertuju pada khidupan materi (dunia), tunduk pada nafsu syahwatnya, dan
menciptakan kelas-kelas yang berbeda dalam masyarakat. Menurut Qutb,
keadilan sosial dalam Islam mempunyai karakter khusus, yaitu kesatuan yang
harmoni. Islam memandang manusia sebagai kesatuan harmoni dan sebagai
bagian dari harmoni yang lebih luas dari alam raya di bawah arahan
Penciptanya. Keadilan Islam menyeimbangkan kapasitas dan keterbatasan
manusia, individu dan kelompok, masalah ekonomi dan spiritual dan variasi-
variasi dalam kemampuan individu. Ia berpihak pada kesamaan kesempatan
dan mendorong kompetisi. Ia menjamin kehidupan minimum bagi setiap orang
dan menentang kemewahan, tetapi tidak mengharapkan kesamaan kekayaan.

5. Politik pemerintahan dalam islam.

Sayyid Qutb juga konsen terhadap kesengsaraan yang menimpa rakyat


dengan penguasa yang dinilai lalim. Ia menuntut dan melakukan berbagai
penentangan terutama melalui tulisannya dalam menciptakan suasana keadilan.
Menurutnya pemerintah pada hakikatnya adalah pemegang amanat rakyat
untuk menjalankan syariah. Pemimpin dipilih oleh rakyat yang paham Islam
dengan cara voting. Meskipun seperti demokrasi Sayyid Qutb tidak setuju
dengan demokrasi sepenuhnya. Demokrasi harus tertetap berada dibawah
tuntunan syariat. Dalam hal zakat misalnya, supaya terbangun keadilan yang
sesungguhnya, maka pemerintah wajib memaksa rakyat untuk membayar

9
zakat. Jika pemerintah tidak malakukan syariat seperti ini berarti pemerintah
tersebut lalim.

Sistem politik islam dibangun atas dua konsep, yaitu konsep kesatuan
manusia dalam jenis, watak, dan pertumbuhan; dan konsep bahwa islam adalah
sistem universal yang abadi bagi masa depan kehidupan manusian. Politik
pemerinthan dalam islam dibangun diatas asas yang bersumber dari hati
nurani, lebih dari sekedar dibangun diatas asas syariat. Politik pemerintahan
islam dibangun atas asas bahwa Allah swt itu selalu hadir dalam setiap saat
disisi para penguasa, dan rakyat mengawasi segala sesuatunya. Pemimpin dan
kepemimpinan, kedua-duanya membutuhkan bimbingan Allah dalam semua
segi pelaksanaannya dan takut kepada Allah merupakan jaminan terakhir bagi
terealisasinya keadilan. Namun, tidak boleh pula dipahami bahwa sistem sosial
politik islam hanya dibangun atas asas yang bersumber dari hati nurani saja.
Akan tetapi yang mesti kita pahami adalah bahwa dalam islam ada jaminan
lain selain yang ditetapkan melalui syariat. Inilah yang membuatnya berbeda
dengan sistem-sistem yang lain yang semata-mata didasarkan pada asas
undang-undang semata.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Mengenal Sayid Quthb Sayid Qutb adalah salah seorang tokoh pemikir islam
yang sangat berpengaruh. Sayyid Qutb dilahirkan di provinsi Asyut, selatan Mesir pada
tahun 1906. Pendidikannya sampai usia 27 tahun cukup keras. Orang tuanya sebagai
ulama terkenal pada waktu itu mendidik dengan keras. Sayyid Qutb bersekolah di
Masdrasah Ibtidaiyah sampai tahun 1918, dan pada umur 10 tahun sudah hapal Alquran.
Setelah itu, Sayyid Qutb karena ingin menjadi guru melanjutkan pendidikannya di
sekolah guru yang diselesaikannya pada tahun 1928. Kemudian belajar kembali di Darul
Ulum, sebuah universitas model barat (yang hasan albana juga sekolah disana), dan
selesai pada tahun 1933

Sayyid Qutb menyatakan bahwa segala permaasalahan kehidupan umat manusia


telah diatur dalam Islam, tidak terkecuali masalah politik ketatanegaraan. Menurut Sayyid
Qutb pemerintahan yang ideal adalah suatu negara yang berdasarkan atas kedaulatan
hukun illahi. Sistem pemerintahan di dunia ini harus berdasarkan penghambaan diri
manusia kepada Tuhan saja. Kemudian, dibawah sistem umum ini setiap indivudu boleh
memilih aqidah yang akan dianutnya. Dengan demikian maka setiap agama telah menjadi
milik Tuhan, dalam arti perasaan agama itu, kepatuhan, ketundukan, dan peribadatan
semuanya itu hanya bagi Allah saja.

Tiga Asas Politik Pemerintahan Islam Politik pemerintahan dalam islam


dibangun atas asas . Keadilan Penguasa, Ketaatan Rakyat, Musyawarah antara
Penguasa dan Rakyat

11
DAFTAR PUSTAKA

Ali Rahnema, Para Perintis Zaman Baru, Ilyas Hasan (terj), (Bandung; Mizan, 1995)

Irwan Masduqi.Berislam Secara Toleran,(Bandung, Mizan, 2011)

Muhammad iqbal, H. Amin Husein Nasution, Pemikiran Politik Islam, (Jakarta :

Kencana, 2010)

12