Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT PASCAPANEN


Bagian Hama

ACARA II
PENGENALAN SPESIES PENTING HAMA PASCAPANEN
KELOMPOK ORDO LEPIDOPTERA DAN LAINNYA

Disusun oleh;
Nama/NIM : Danu Widantoko/13216
Golongan : C2.1
Asisten : 1. Ayu Prihandani
2. Dinariningrum

SUB LABORATORIUM PENGENDALIAN HAYATI


DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
I. TUJUAN
1. Mengenal cemiri morfologi dan biologi spesies penting serangga hama pascapanen
yang termasuk kelompok berbagai famili dari ordo Lepidoptera dan serangga lain
2. Mengetahui kerusakan komoditas yang ditimbulkan oleh serangan hama pascapanen

II. TINJAUAN PUSTAKA


Hama adalah hewan atau organisme yang aktivitasnya dapat menurunkan dan
merusak kualitas juga kuantitas produk pertanian. Hama berdasarkan tempat penyerangannya
dibagi menjadi 2 jenis yaitu hama lapang dan hama gudang/hama pasca panen. Hama lapang
adalah hama yang menyerang produk pertanian pada saat masih di lapang. Hama gudang
adalah hama yang merusak produk pertanian saat berada di gudang atau pada masa
penyimpanan. Menurut Champ dan Highlei (1985), hama pasca panen merupakan salah satu
faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan produksi. Hasil panen yang
disimpan khususnya biji-bijian setiap saat dapat diserang oleh berbagai hama gudang yang
dapat merugikan (Anonim, 2008).
Hama pasca panen atau hama gudang adalah jenis hama yang menyeran hasil dari
produksi tanaman, baik buah, biji, tongkol dll. Hama gudamg mempunyai sifat dan karakter
khusus yang berbeda jika dibandingkan dengan hama-hama yang menyerang dilapangan, hal
ini sangant berkaitan dengan ruang lingkup hidupnya yang terbatas yang tentunya
memberikan pengaruh faktor luar yang terbatas pula. Walaupun hama gudang (produk dalam
simpanan) ini hidupnya dalam ruang lingkup yang terbatas, namun memiliki berbagai macam
jenis, spesies, karakteristik yang beragam, dimana setiap masing-masing jenis hama memiliki
dampak dan penanggulanagn yang berbeda. Pada dasarnya penggolongan jenis hama pasca
panen yang menyerang produk dalam gudang dapat diamati menurut taksonominya.(Sommer,
2009).
Hama gudamg mempunyai sifat yang khusus yang berlainan dengan hama-hama
yang menyerang dilapangan, hal ini sangant berkaitan dengan ruang lingkup hidupnya yang
terbatas yang tentunya memberikan pengaruh factor luar yang terbatas pula, sehingga
memiliki klasifikasi tersendiri. Yang dimaksud dengan klasifikasi atau penggolongan ialah
pengaturan individu dalam kelompok, penyusunan kelompok dalam suatu sistem, data
individu dan kelompok menentukan hama itu dalam sistem tersebut. Letak hama hama dalam
system sudah memperlihatkan sifatnya (Toekidjo, 1996).
Ada 13 spesies serangga hama yang dapat beradaptasi dengan baik dalam
penyimpanan jagung, 10 spesies diantaranya sebagai hama utama yang tergolong ke dalam
ordo Coleoptera, sedangkan tiga spesies masuk ke dalam ordo Lepidoptera. Selain itu, sekitar
175 spesies serangga dan kutu (mites) merupakan hama minor. Kehilangan hasil oleh jasad
pengganggu di penyimpanan diperkirakan 30%. Biji rusak mencapai 100% bila disimpan
selama enam bulan didaerah tropis Meksiko. Hama gudang dapat dikategorikan ke dalam
hama utama (primary pest) yaitu hama yang mampu makan keseluruhan biji yang sehat dan
menyebabkan kerusakan. Kumbang bubuk Sitophilus spp. masuk ke dalam kategori ini.
Selain itu, dikenal hama sekunder yaitu hama yang menyerang danbertahan pada biji yang
telah rusak, misalnya Tribolium sp. (Tarigan, 2008).
Berbagai macam usaha untuk menanggulangi hama pasca panen antara lain yaitu :
1. Musuh alami
Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae How (parasit larva),
semut merah dan semut hitam yang berperan sebagai predator dari larva dan telur hama.
Penagendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan penjemuran produk
simpanan pada terik matahari, diharapkan dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus
oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan, dan dengan melakukan
fumigasi terhadap produk yang disimpan (Anugeraheni, 2002).
2. Bahan kimia
Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama tanaman saat ini banyak
menimbulkan dampak negatif. Masalah pencemaran lingkungan merupakan akibat yang jelas
terlihat, selain itu penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat menyebabkan
resistensi hama dan bahkan meninggalkan residu pestisida pada produk hasil pertanian yang
bisa berbahaya apabila dikonsumsi manusia.
3. Pestisida nabati
Ekstrak biji dan daun nimba (Azadirachta indica L) memiliki senyawa-senyawa
penting dalam mengendalikan hama, antar lain yaitu: azadirachtin, salanin, dan meliantriol.
Ketiga senyawa tersebut digolongkan ke dalam kelompok tripenoid yang merupakan bahan
pestisida alami, tetapi yang paling efektif adalah azadirachtin. Mimba tidak membunuh hama
secara cepat tetapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, reproduksi, proses ganti
kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual (Rukmana dan Yuniarsih, 2003).
III.METODOLOGI
Praktikum pengelolaan hama dan penyakit pascapanen bagian hama acara II dengan
judul Pengenalan Spesies Penting Hama Pascapanen Kelompok Ordo Lepidoptera dan
Lainnya dilakukan pada hari Selasa, 6 Maret 2017 di Sub Laboratorium Pengendalian
Hayati, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM. Alat yang
dibutuhkan dalam praktikum ini adalah kaca pembesar atau mikroskop binokuler perbesaran
10, 16, 32 dan 40x. Bahan yang diperlukan antara lain berbagai jenis hama pascapanen yang
termasuk serangga ordo Lepidoptera, Diptera, Psocoptera, Orthoptera, dan Protura; rayap,
tungau, burung, tikus, serta berbagai komoditas yang terserang hama pascapanen.
Spesimen yang telah disediakan diambil kemudian diamati secara umum dengan
mata telanjang. Untuk melihat bagian tubuh sebagai penciri morfologinya digunakan kaca
pembesar atau mikroskop. Dipastikan nama spesies dari spesimen yang diamati benar,
dengan menbandingkan pada referensi yang ada misalnya gambar dari buku. Dibuat laporan
sementara pada kertas yang telah disediakan. Setiap spesimen dicatat nama spesies dan
bagian tubuh (warna, bentuk, ukuran dan lainnya). Jika perlu dibuat sketsa gambar. Laporan
sementara dimintakan paraf asisten. Dibuat laporan resmi dengan kertas HVS ukuran A4 70g.
Setiap spesimen dibuat gambar lengkap. Gambar tersebut ditempelkan dalam kertas laporan.
Ditunjukkan bagian tubuh mana yang menjadi penciri spesies. Diberi keterangan tentang
penciri morfologi, biologi, termasuk jenis inangnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. (Periplaneta americana)
Famili : Blattidae
Inang : hampir semua bahan pangan yang
disimpan

Ordo : Blatella

Kecoa
Sumber: http://nathistoc.bio.uci.edu/orthopt/Periplaneta.htm

Merupakan species terkecil dari kecoa, panjang tubuhnya berkisar 13-16 mm pada
saat mencapai usia dewasa. Blattella germanica dapat diidentifikasi dengan dua strip coklat
gelap berbeda yang melintang di tepi luar pronotumnya. Spesies ini berwarna coklat muda
hingga coklat tua. Ordo Blattodea umumnya dikenal dengan nama kecoak atau kakerlak.
Serangga kelompok ini biasanya hidup dalam rumah (Synanthtropy), memiliki alat-alat mulut
mengigit, mata majemuk besar, sayap depan agak keras, sayap belakang besar, membranus,
bervena banyak, femur belakang dan femur tengah hamper sama panjang dan sama tebal,
serta tubuh berbetuk pipih. Metamormosisnya termasuk metamorphosis sederhana : telur
menetas menjadi nimfa dan berkembang menjadi dewasa (Dantje T. Sembel, 2008).
Berasal dari kata Latin blatta yang artinya lipas, kecoa atau coro. Seraangga ini
terdapat di seluruh dunia dan merupakan serangga pengganggu dalam rumah tangga. Telur
diletakkan dalam kapsul yang keras (Ootheca) seperti pada belalang sembah. Ootheca
biasanya menonjol di ujung perut dan dibawa induknya untuk beberapa waktu sebelum di
letakkan di suatu tempat. Satu kapsul berisi telur 16-40 butir. Yang dewasanya sering
menghasilkan bau yang tak menyenangkan (Ir. Pracaya, 1991).
2. Tikus (Rattus norvegicus)
Famili : Anobiidae
Inang : semua komoditas pascapanen dan
beberapa material serta struktur
bangunan
Ordo : Rattus-ratus

Sumber: http://www.bio-city.gr/content/rattus-norvegicus
Tikus ini mempunyai panjang ujung kepala sampai ujung ekor 220-370 mm, ekor
101-180 mm, kaki belakang 20-39 mm, ukuran telinga 13-23 mm, sedangkan rumus mamae
2+3=10. Warna rambut badan atas coklat tua dan rambut badan bawah (perut) coklat tua
kelabu. Yang terrnasuk dalam jenis tikus rumah (rattus rattus) yaitu tikus atap (roof rat), tikus
kapal (ship rat), dan black rat. Jika dilihat dari jarak kedekatan hubungan antara aktifitas tikus
dengan manusia, tikus rumah merupakan jenis domestik, yaitu aktifitas dilakukan di dalam
rumah manusia atau disebut juga tikus komensal (comensal rodent) atau synanthropic.
Tikus rurnah merupakan binatang arboreal dan pemanjat ulung . Kemampuan
memanjat tembok kasar dan turun dengan kepala dibawab sangat lihai, dan hila jatuh dari
ketinggian 5,5 meter tidak akan menirnbulkan luka yang berarti bagi tikus. Makanan yang
dibutuhkan seekor tikus dalam sehari sebanyak 10-15% dari berat badannya. Perilaku
makan tikus dengan memegang makanan dengan kedua kaki depan, dan kebiasaan
mencicipi makanan untuk menunggu reaksi makanan tersebut dalam perutnya. Hal ini
perlu diperhatikan apabila kita memberantas tikus dengan racun. Tikus mempunyai
kebiasaan mencari makan dua kali sehari yaitu pada 1-2 jam setelah matahari tenggelam
dan pada l-2 jam sebelum fajar (Sulistyo, 2009)
3. Doloessa viridis
Famili : Pyraustidae
Inang : beras

Ordo : Lepidoptera

Sumber: http://lepidoptera.butterflyhouse.com.au/pyra/viridis.html

Ngengat berwarna hijau sehingga dikenal sebagai ngengat hijau padi-padian. Lebar
rentang sayap sekitar 22 mm. Sayap depan berwarna hijau dengan bintik-bintik kelabu
cokelat yang tidak teratur. Telur bulat dengan diameter kira-kira 0,5 mm, berwarna putih
kekuning-kuningan. Ulat mula-mula berwarna putih kekuning-kuningan kemudian menjadi
agak oranye. Pada pertumbuhan penuh menjelang berpupa ulat berwarna merah kecokelatan.
Panjang pupa 11-15 mm. Pupa mula-mula berwarna putih kemudian berubah menjadi merah
muda dan akhirnya cokelat kehijauan (Wagiman, 2015).
Ngengat aktif pada malam hari. Setelah telur menetas, ulat segera memakan
komoditas simpanan di dekatnya. Ulat menggandeng-gandengkan butiran komoditas
simpanan tersebut untuk tempat bersembunyi dan sekaligus tempat makan. Seperti halnya
ulat beras pada saat menjelang pupa, ulat D.viridis juga naik ke dekat permukaan komoditas
simpanan dan membuat kokon. Siklus hidup hama ini sekitar 5 minggu. Gejala dapat dilihat
meskipun pada beras yang disimpan dalam bentuk curah. Beberapa bulir beras saling
menempel dan di dalamnya terdapat larva hama ini. Selain itu beberapa butir beras yang
menempel tersebut sudah berlubang (Wagiman, 2015).
4. Pyralis manihotalis
Famili : Pyralidae
Inang : rempah-rempah, ketumbar, jintan,
biji kopi, kacang hijau, jagung,
kakao, kacang tanah, mete dan
sorgum

Ordo : Lepidoptera

Sumber: http://www.discoverlife.org/mp/20q?search=Pyralis+manihotalis

Ngengat pyralis abu-abu (Pyralis manihotalis) banyak merusak bahan-bahan seperti


biji kopi, kacang hijau, jagung, ketumbar, jinten, kentang, dan buah kering. Akibat
serangannya, akan timbul lubang-lubang pada bahan dan terbentuk sisa gerekan berupa
tepung. Serangannya pada bahan tepung akan mencemari bahan dan merusak cita rasa
(aroma) khas bahan. Tubuh ngengat berwarna abu-abu hingga kecoklatan dengan bentuk dan
ukuran yang lebih kecil dibanding dengan ngengat beras, begitu juga warna ulat dan
kepompongnya abu-abu. Cara hidup ngengat ini belum banyak diketahui, tetapi ada
kemiripan dengan ngengat beras
Ngengat berwarna kelabu dan cokelat, lebih kecil daripada Corcyra atau Doloessa.
Ulat dan pupa menyerupai ulat Corcyra. Pada umumnya hama ini tidak menimbulkan
kerugian yang berarti. Bentangan sayap Pyralis manihotalis sekitar 12-20 mm. Hama ini
berasal dari Amerika Tengah dan Selatan dan telah terdapat di seluruh dunia. Larva memakan
berbagai bahan mati dan membusuk, termasuk biji-bijian, biji kacang-acangan, buah kering,
tulang, kulit hewan, dan cokelat. Ngengat bersifat nokturnal dan terterik cahaya ultraviolet.
Kisaran inang hama ini antara lain rempah-rempah, ketumbar, jintan, biji kopi, kacang hijau,
jagung, kakao, kacang tanah, mete dan sorgum (Wagiman, 2015).

5. Plodia interpunctella
Famili : Pyraliidae
Inang : tepung, beras, gandum
Ordo : Lepidoptera

Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Plodia.interpunctella.7840.jpg

Ngengat tepung india (Plodia interpunctella) merusak bahan seperti gabah, kacang,
buah kering, kakao, dan biji-bijian kering lainnya. Bahan tepung diserang ngengat ini
menjadi kotor dan berbau serta dapat menghilangkan aroma khas bahan. Ngengat yang
menyerang bahan yang dikemas akan melingkupi permukaan kemasan dengan mateerial
kotor yang dijalin dengan air liurnya dan bergelantungan mengotori permukaan kemasan.
Ngengat dewasa tubuhnya berwarna putih abu-abu, warna sayapnya bermacam-macam. Pada
saat sedang istirahat, sayap di bagian tengah terlihat berwarna coklat kemerahan dan ada
bintik hitam yang beraturan. Rentang sayap dapat mencapai 14-18 mm. Jumlah sayap 2
pasang. Ulat berwarna putih kotor. Panjang ulat dewasa kira-kira 13 mm.
Ngengat betina dapat menghasilkan telur sebanyak 400 butir. Telur diletakkan pada
bahan secara terpencar-pencar atau berkelompok. Pada lingkungan yang ideal (suhu 300 C
dan kelembapan 70%), telur akan menetas setelah 4 hari. Ulat aktif bergerak. Selama
hidupnya, ulat akan mengalami ganti kulit sebanyak 4-7 kali. Setelah 7 hari berkepompong,
ngengat dewasa akan muncul dari kokon. Pada suhu 150 C, pertumbuhan ngengat akan
terhambat. Siklus hidup ngengat ini berlangsung selama 52 hari.

6. Sosit (Psocids)
Famili : Psocoptera
Inang : berbagai serpihan atau sisi
tumbuhan & hewan terutama yang
berjamur, kertas dan buku lama

Sumber: http://pbt.padil.gov.au/pbt/index.php?q=node/20&pbtID=200
Berukuran kecil, pipih, pucat, antena panjang seperti rambut, Liposcelis spp. tidak
mempunyai sayap, tetapi banyak psocoptera yang lain bersayap. Merupakan pemakan
bangkai dan sebagai hama, banyak ditemukan pada penyimpanan biji-bijian penggilingan,
pengolahan pangan dan rumah. Umumnya banyak terdapat pada bahan yang lembab. Siklus
hidup (Liposcelis bostrichophila). Optimum: 21 hari (30 C, 70% RH.). Kisaran: (18-36 0C,
minimum RH. 60%). Biologi. Telur: diletakan secara acak. Nimpha: berbentuk sama dengan
dewasa hanya lebih kecil dan lebih pucat. Dewasa: berumur panjang, aktif makan, berlari
cepat dengan cara setengah melompat.

7. Lepisma saccharina
Famili : Lepismatidae
Inang : bahan berkadar polisakarida
(tepung, lem, buku, plester, kertas,
gula, foto, kopi, rambut, karpet,
kapas dan serangga mati)

Sumber: http://www.uniprot.org/taxonomy/50586

Kutu buku adalah serangga, dikenal dengan adanya 3 filamen panjang di ekornya.
Salah satu jenis yang dimasukkan kelompok hama adalah silverfish (Lepisma saccharina).
Warna tubuhnya keperakan dan bentuknya seperti ikan. Di Indonesia serangga ini juga
dikenal sebagai kutu buku karena merusak buku-buku yang disimpan (Wagiman, 2015).
Kutu buku tersebar di seluruh dunia (kosmopolitan). Tempat-tempat yang disukai
adalah yang lembab dengan RH 75-95%. Bahan-bahan yang dimakan kutu adalah yang
berkadar polisakarida. Serangga ini mampu bertahan hidup tanpa makan selama 1 tahun.
Kutu buku digolongkan sebagai hama karena merusak properti. Musuh alami kutu buku ini
antara lain cecopet dan laba-laba (Wagiman, 2015).
8. Rayap (Coptotermes acinaciformis)
Famili : Isoptera
Inang : kayu, kulit kayu, dedaunan,
rerumputan, dan humus

Sumber: http://www.timberpest.com.au/species.html

Secara morfologi rayap memiliki tiga bagian utama yang meliputi : kepala, toraks
dan abdomen. Di beberapa negara sub-tropika rayap dikenal sebagai semut putih (white ant)
karena secara selintas antar keduanya mempunyai penampilan yang hampir sama. Padahal
terdapat beberapa perbedaan antara rayap dan semut yang meliputi (Pearce, 1997). Habitat
rayap terbagi menjadi rayap-rayap hidup di dalam tanah, di dalam kayu kering, di pohon-
pohon hidup, atau di kayu-kayu lembab. Pada lingkungan perkotaan dua kelompok rayap
yang penting adalah rayap tanah dan rayap kayu kering. Rayap tanah hidup bersarang di
dalam tanah. Kelompok rayap ini di dunia dikenal sebagai kelompok subterranean termites.
Kehadirannya terutama dipengaruhi oleh suhu, kelembaban tanah, tipe tanah serta vegetasi
(Peter, 1996).
9. Burung Pipit (Lonchura leucogastroides)
Famili : Estrildidae
Inang : padi dan biji-bijian

Sumber: http://www.pbase.com/aatbender/image/140051857

Bondol peking atau pipit peking (Lonchura punctulata L.) adalah sejenis
burung kecil pemakan padi dan biji-bijian. Nama punctulata berarti berbintik-bintik,
menunjuk kepada warna bulu-bulu di dadanya. Orang Jawa menyebutnya emprit
peking, prit peking, orang Sunda menamainya piit peking atau manuk peking, meniru
bunyi suaranya (MacKinnon, 1995). Burung pipit bertubuh kecil, dengan panjang tubuh
antara 10-12 cm dan berat 10-14 gram. Kuku burung pipit tumbuh sangat cepat. Burung pipit
jantan memiliki kepala yang sedikit lebih lebar dibanding burung pipit betina.

10. Corcyra cepalonica (Ngengat beras)


11. Famili : Lepidopteara
Inang : Beras, Jagung

Sumber: http://www.pbase.com/aatbender/image/140051857

Ngengat Corcyra cephalonica merupakan salah satu hama penting pada penggilingan
beras dan tepung sering pula disebut tawny. Serangga ini toleran pada kelembapan tinggi dan
ditemukan di seluruh dunia, terutama di daerah tropika. Walaupun mampu memakan biji
utuh, hama ini lebih sering ditemukan cepat berbiak sebagai hama sekunder. Daur hidup
optimum selama 26-27 hari pada 30-32,5C dengan kelembapan 70% Imago berwarna
cokelat agak pucat dengan ukuran panjang tubuhnya sekitar 11-12 mm. Panjang sayap
apabila direntangkan sekitar 11-15 mm. Tepi bagian atas dari sayapnya ini sama sekali tidak
ada bercak tetapi mempunyai vena yang berwarna agak gelap. Tepi atas bagian sayap yang
belakang dari kupu-kupu jantan dapat dikatakan berwarna agak gelap. Palpi lialis tampak
melengkung ke atas atau lurus di depan kepala. Serangga biasanya terbang pada malam hari
atau nokturnal (Rao et al., 2004).
Hama ini bertelur sebanyak 400 butir (Pracaya, 2007). Warna telur putih dan
bertekstur halus. Bentuknya lonjong dengan panjang sekitar 0,3 x 0,5 mm, menempel pada
bahan pangan atau serat karung di penyimpanan. setelah 10 hari, telur akan menetas dan
menjadi larva. Larva berwarna krem sampai putih kecuali bagian kapsul kepala dan protoraks
berwarna coklat (Rao et al., 2004). Panjang tubuh lebih kurang 17 mm. biasanya larva
membuat pintalan yang mengandung kotoran dan sisa-sisa makanan. Warna pintalan tersebut
sesuai dengan objek yang diserangnya, apabila yang diserangnya beras putih, warna
pintalannya juga putih. Selanjutnya, ulat tersebut menjadi kepompong setelah 9 hari.
Kepompongnya berwarna kuning coklat, panjangnya sekitar 8 mm. kepompong terletak
dalam kokon yang warnanya putih. Kepompong kemudian akan menjadi ngengat setelah 7
hari (Pracaya, 2007).
11. Sitotroga cerealella
Famili : Gelechiidae
Inang : gabah, jagung dan sorgum

Sumber: http://www.agrologica.es/informacion-plaga/palomilla-cereales-sitotroga-cerealella/
Dalam keadaan segar sayap berwarna coklat abu-abu pucat dengan bintik hitam pada
ujungnya. Lebih kecil dari ngengat hama gudang lainnya. Hama pada sereal yang belum
diolah, menyerang biji-bijian terutama jagung sebelum panen. Menyerang lapisan
permukaan tumpukan biji-bijian, serangga dewasa tidak dapat melakukan penetrasi yang
dalam. Tidak menghasilkan benang sutera. Siklus hidup. Optimum: 30 hari pada 30 0C, 75%
RH. Kisaran: 16-35 0C. Maksimum pertumbuhan populasi per bulan: 50 kali. Biologi. Telur:
Diletakkan pada permukaan biji-bijian. Larva: tidak berpindah, berkembang di dalam butiran
biji-bijian. Dewasa: pada waktu dewasa tumbuh kepompong ditinggalkan keluar dari biji-
bijian. Ngengat dewasa berumur pendek, aktif terbang tetapi tidak makan.
12. (Ptorymoea operculella) Penggerek Ubi kentang
Famili : Lepidoptera
Inang : Ubi kentang

Sumber: http://www.agrologica.es/informacion-plaga/palomilla-cereales-sitotroga-cerealella/

Hama berwarna coklat kelabu, kecil dan aktif pada malam hari. Pada siang hari
bersembunyi di bawah helaian daun atau pada rak-rak penyimpanan umbi di gudang. Lama
hidup ulat betina 7 - 16 hari, sedangkan ulat jantan 3 - 9 hari. Hama ini menggerek umbi
kentang di gudang,dan merusak daun pada pertanaman kentang di lapangan. Menyebar di
daerah sentra produksi kentang (DI Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah
dan Sulawesi Utara). Tanaman yang diserang kentang, tomat, kecubung, bit gula, terung dan
tembakau. Dengan mengatur pola tanam dan melakukan rotasi tanaman serta sanitasi lahan.
13. Tungau (Acarus siro)
Famili : Acaridae
Inang : biji-bijian dan tepung serta bahan
berprotein tinggi seperti keju dan
ikan kering

Sumber:
http://xespok.net/arthropoda/main.php/v/Arachnida/Astigmata/Acaridae/Acarus/Acarus_siro_cf_A2568b.j
pg.html

Tungau merupakan binatang yang berukuran sangat kecil, yakni 250-300 mikron
berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau memiliki ciri
umum memiliki tubuh tersegmentasi dengan segmen disusun dalam dua tagmata: sebuah
prosoma (cephalothorax) dan opisthosoma (perut). Namun, hanya jejak-jejak samar
segmentasi utama tetap di tungau, sedangkan prosoma dan opisthosoma menyatu.
Tungau dewasa memiliki empat pasang kaki, seperti arachnida lain, tetapi beberapa
memiliki kaki lebih sedikit. Beberapa tungau parasit hanya memiliki satu atau tiga pasang
kaki dalam tahap dewasa. Tungau dewasa dengan hanya tiga pasang kaki dapat disebut
'larviform'.
Tungau bernapas melalui tracheae, stigmata (lubang kecil pada kulit), usus dan kulit.
Kebanyakan tungau tidak memiliki mata. Mata pusat arachnida selalu hilang, atau mereka
menyatu menjadi satu mata.Panjang tungau dewasa hanya 0,3-0,4 milimeter. Tungau
memiliki tubuh semitransparan memanjang yang terdiri dari dua segmen menyatu. Tungau
memiliki delapan kakipendek, kaki yang tersegmentasi melekat pada segmen tubuh pertama.
Tubuh ditutupi dengan sisik untuk penahan dirinya dalam folikel rambut, dan tungau
memiliki pin (seperti mulut) yaitu bagian untuk makan sel-sel kulit dan minyak (sebum) yang
menumpuk di folikel rambut. Tungau dapat meninggalkan folikel rambut dan perlahan-lahan
berjalan-jalan pada kulit, dengan kecepatan 8-16 mm per jam, terutama pada malam hari,
ketika mereka mencoba untuk menghindari cahaya.

14. Bractocera sp.


Famili : Acaridae
Inang : biji-bijian dan tepung serta bahan
berprotein tinggi seperti keju dan
ikan kering

Sumber:
http://xespok.net/arthropoda/main.php/v/Arachnida/Astigmata/Acaridae/Acarus/Acarus_siro_cf_A2568b.j
pg.html

Lalat buah berukuran 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya
sangat bervariasi, kuning cerah, oranye, hitam, cokelat, atau kombinasinya dan bersayap
datar. Pada tepi ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Pada abdomennya
terdapat pita-pita hitam, sedangkan pada thoraxnya terdapat bercak-bercak kekuningan.
Disebut Tephtridaeberarti borkarena terdapat ovipositor pada lalat betina. Bagian tubuh itu
berguna memasukkan telur ke dalam buah. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan
seperti tanduk yang keras (Dhillon et al., 2005).
Ovipositor lalat buah betina digunakan menusuk kulit buah atau sayur untuk
meletakkan telurnya. Jumlah telur sekitar 50-100 butir. Setelah 2-5 hari, telur akan menetas
dan menjadi larva. Larva tersebut akan membuat terowongan di dalam buah dan memakan
dagingnya selama lebih kurang 4-7 hari. Larva yang telah dewasa meninggalkan buah dan
jatuh di atas tanah, kemudian membuat terowongan sedalam 2-5 cm dan berubah menjadi
pupa. Lama masa pupa 3-5 hari. Lalat dewasa keluar dari dalam pupa, dan kurang dari satu
menit langsung bisa terbang. Total daur hidupnya antara 23-34 hari, tergantung cuaca. Dalam
waktu satu tahun lalat ini diperkirakan menghasilkan 8-10 generasi. Lalat buah sering
menyerang dan menghancurkan tanaman saat musim penghujan karena kelembapan memicu
pupa untuk keluar menjadi lalat dewasa (Dhillon et al., 2005).
Pengendalian yakni sanitasi lingkungan dengan cara pengumpulan buah yang
terserang, baik yang jatuh maupun yang masih diatas pohon, kemudian dimusnahkan dengan
menimbun yang terserang kedalam tanah. Tanah disekitarnya dibersihkan dicangkul dan
dibalik agar pupa yang tersembunyi terkena sinar matahari dan kemudian mati. Tanaman
perangkap salah satunya menggunakan tanaman selasih disekeliling kebun. Pembungkusan
buah dengan kertas atau plastik. Penggunaan perangkat atraktan berupa metil eugenol
(Dhillon et al., 2005).
V. KESIMPULAN
Ada beberapa jenis hama yang mengganggu dan menyerang komoditas pasca panen
diantaranya dari kelompok ordo Lepidoptera, Diptera, Psocoptera, Isoptera, Thysanura,
Blattodea, tikus dan tungau. Penciri morfologi hama Lepidoptera adalah pada warna sayap
imagonya (ngengat). Penciri morfologi tungau dan hama Psocoptera adalah pada jumlah kaki,
warna dan bagian tubuhnya. Penciri morfologi hama Blattodea adalah pada warna, ukuran
dan habitatnya. Penciri morfologi tikus terletak pada panjang ekor, warna tubuh, habitat dan
bentuk moncongnya. Penciri morfologi hama diptera adalah pada sayap dan bagian tubuhnya.
Penciri morfologi hama Thysanura adalah adanya 3 filamen panjang di ekor dan habitatnya.
Penciri morfologi hama Isoptera adalah pada bentuk tubuhnya.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh masing-masing hama berbeda-beda, diantaranya
berkurangnya kuantitas komoditas karena dimakan; adanya kontaminasi urine, feses ataupun
bagian tubuhnya; komoditas berlubang; komoditas menjadi cepat busuk; perubahan pada rasa
komoditas saat dimasak; dan ada pula yang berupa perusakan properti seperti kayu dan
material lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Andrew Campbell and Kathleen Sommers Luchs ( 1997 ), Core Competency-Based Strategy,
London, Internastional Thomson Business Press.Tarigan U., 2008. Residu Pestisida
Pada Sayuran Kubis (Brasicca Oleracea) Sebelum Panen Di Desa Tigapanah
Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo Tahun 2008.Skripsi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.
Anggara, A.W. 2007. Hama Gudang Penyimpanan Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan. PUSLITBANGTAN, Jawa Barat. h. 14-20.
Anonim, 2008. Pesticides and Humid Tropical Grain Stroge System. Proceedings of an
International Seminar in Manila, Philipines, 27-30 Maros, 1985. Aciar Proceedings
No. 41. Kartasaputra. A.G. 1991. Hama-hama Tanaman dalam Gudang. Jakarta:
Bumi Aksara Ikhtiar,
Ir. Pracaya, 1991. Hama dan Penyakit Tanaman. Salatiga : Penebar
Pearce MJ. 1997. Termites. Biology and pest management. CAB International. Wallingford.
Oxon. UK.
Peter B.C. 1996. Aspect of Management of Subteranean termite in Queensland. University of
Quensland. Thesis.
Rukmana, R dan Y. Yuniarsih, 2003. Nimba, Tanaman Penghasil Pestisida Alami. Kanisius,
Yogyakarta.
Sembel, Dantje T. 2008. Entomologi Kedokteran . Yogyakarta : Andi
Sulistyo, 2009.Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta
Toekidjo, Martoredjo. 1996. Ilmu Penyakit Lepas Panen. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Wagiman, F.X. 2015. Hama Pascapanen dan Pengelolaannya. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.