Anda di halaman 1dari 15

Penilaian Kemahiran Menyimak

Tes kemampuan menyimak adalah kemampuan perserta tes untuk memahami isi
wacana yang dikomunikasikan secara lisan langsung oleh pembicara, atau sekedar rekaman
audio atau video. Pemahaman itu dapat mengacu kepada pemahaman secara umum seperti
topik yang dibahas atau garis besar secara isinya atau bagian-bagian yag lebih terinci
termasuk pelaku, lokasi, waktu, dan beberapa aspek yang menonjol. Pemahaman lewat
menyimak dapat pula berkaitan dengan hal-hal yang lebih mendalam sifatnya, yang tidak
terbatas pada hal-hal yang sangat tegas dan langsung terungkapkan. Pemahaman semacam ini
hanya dapat diperoleh dengan mengubung-hubungkan bagian wacana tertentu atau
mengambil kesimpulan dan implikasi berdasarkan pemahaman terhadap bagian-bagian
wacana. Semua itu merupakan penjabaran dari apa yang seharusnya dipahami seseorang
ketika menyimak suatu wacana yang dikomunikasikan secara lisan untuk disimakkan.
Menurut Djiwandono (2008:114) penetapan jenis sasaran kemampuan yang dijadikan
fokus tes disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta tes. Untuk tingkat pemula, dapat
digunakan butir-butir tes yang jawabannya memerlukan sekedar pemahaman tentang hal-hal
yang secara langsung, kongkrit dan harfiah yang termuat dalam wacana. Pertanyaan-
pertanyaan yang kurang langsung sifatnya, termasuk kaitan antara berbagai bagian wacana,
menemukan implikasi dan menarik eksimpulan, sampai dengan menentukan sikap dan
melakukan evaluasi terhadap isi wacana, lebih sesuai bagi peserta tes yang tingkat
kemampuan bahasanya lebih tinggi seperti yang dibahasa secara lebih lengkap pada
pembahasan tes memahami bacaan dibagian dua di bawah.
Di samping rincian identifikasi dan rincian kemampun tes menyimak seperti diuraikan
di atas bagian penting lain adalah pemilihan wacana untuk dipahami dengan
memperdengarkannya kepada peserta tes. Dari wacana itulah nantinya sejumlah pertannyaan
dijawab oleh peserta tes sesuai dengan pemahamannya terhadap isi wacana. Pemilihan
wacana itu perlu dilakukan atas dasar beberapa rambu, terutama yang berkaitan dengan isi
dan masalah yang dibahas yang disesuaikan dengan bidang yang dikenalnya secara akrab,
dan bukannya sesuatu di luar jangkauan bidangnya. Pendek kata wacana untuk tes menyimak
sebaiknya tidak merupakan sesuatu yang asing dalam berbagai aspek, kecuali isi wacananya
yang pemahamannya merupakan sasaran pokok dari tes menyimak.
Sementara itu amatlah penting untuk digaris bawahi bahwa sasaran menyimak adalah
kemampuan memahami wacana dengan rincian dan tataran tingkat kemampuan seperti
diuraikan di atas. Mengarahkan butir-butir tes menyimak keaspek-aspek lain selain
kemampuan menyimak, seperti pengetahuan kosa kata dan tata bahasa yang penggunaannya
tidak terkait dengan wacana yang disajikan, bahkan kadang-kadang ejaan, seperti sering
ditemukan tidak hanya mengaburkan sasaran tes yang tepat melainkan juga membuang waktu
dan tenaga peserta tes secara tidak bermanfaat. Praktek yang keliru semacam itu amat perlu
dihindarkan.
Dalam kaitan dengan penetapan jenis tes yang digunakan untuk tes menyimak,
khususnya pemilihan bentuk objektif dan subjektif, dan cara-cara perumusan butir-butir
tesnya amat dianjurkan untuk memastikan dengan pencermatan dan kehati-hatian yang tinggi.
Seperti juga jenis-jenis tes biasa yang lain, tes menyimak perlu disusun dengan
mengindahkan berbagai kaidah dan persyaratan yang perlu dipenuhi bagi tes yang valid.

3. Kriteria Penilaian Kemahiran Menyimak


Sesuai dengan namanya, tes menyimak, bahan tes yang diujikan disampaikan secara
lisan dan diterima siswa melalui sarana pendengaran. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2001:
239) penilaian menyimak dapat dilakukan dengan berbagai cara.
a. Tingkat ingatan
Tes kemampuan menyimak pada tingkat ingatan untuk mengingat fakta atau menyebutkan
kembali fakta-fakta yang terdapat dalam wacana yang diperdengarkan, dapat bberupa nama,
peristiwa, angka, dan tahun. Tes bisa berbentuk tes objektif isian singkat atau pilihan ganda.
b. Tingkat pemahaman
Tes pada tingkat pemahaman menuntut siswa untuk memahami wacana yang diperdengarkan.
Kemampuan pemahaman yang dimaksud mungkin terhadap isi wacana, hubungan antaride,
antarfaktor, antarkejadian, hubungan sebab akibat. Akan tetapi kemampuan pemahaman pada
tingkat pemahaman (C 2) ini belum kompleks benar, belum menuntut kerja kognitif tingkat
tinggi. Jadi, kemampuan pemahaman dalam tingkat yang sederhana. Dengan kata lain, butir-
butir tes tingkat ini belum sulit.
c. Tingkat Penerapan
Butir-butir tes kemampuan menyimak yang dapat dikategorikan tes tingkat penerapan adalah
butir tes yang terdiri dari pernyataan (diperdengarkan) dan gambar-gambar sebagai alternatif
jawaban yang terdapat di dalam lembar tugas.
d. Tingkat Analisis
Tes kemampuan menyimak pada tingkat analisis pada hakikatnya juga
merupakan tes untuk memahami informasi dalam wacana yang diteskan. Akan tetapi, untuk
memahami informasi atau lebih tepatnya memilih alternatif jawaban yang tepat itu, siswa
dituntut untuk melakukan kerja analisis. Tanpa melakukan analisis wacana, jawaban yang
tepat secara pasti belum dapat ditentukan. Dengan demikian, butir tes tingkat analisis lebih
kompleks dan sulit daripada butir tes pada tingkat pemahaman. Analisis yang dilakukan
berupa analisis detail-detail informasi, mempertimbangkan bentuk dan aspek kebahasaan
tertentu, menemukan hubungan kelogisan, sebab akibat, hubungan situasional, dan lain-lain.

4. Penilaian Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Menyimak


Sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2004, penilaian pembelajaran menyimak mengacu
pada penilaian berbasis kelas Penilaian berbasis kelas dalam arti penilaian sebagai
assessment merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan
informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar
mengajar (KBM).
Adapun bentuk-bentuk alat penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa
Indonesia, khususnya pembelajaran menyimak antara lain sebagi berikut.
a. Portofolio, yaitu kumpulan hasil karya siswa baik dalam bentuk tertulis, karya seni, maupun
berbagai penampilan yang tersimpan dalam bentuk kaset video atau audio yang ditata untuk
tujuan penilaian.
b. Tes performasi, yaitu penilaian terhadap suatu kompetensi yang memfokuskan pada unjuk
kerja siswa. Pada tes performansi, penilai mengamati penampilan/hasil karya siswa sesuai
dengan pedoman yang telah dikembangkan.
c. Rubrik, yaitu sebuah daftar yang memuat indikator-indikator dari sebuah kompetensi dan
pemaknaannya. Rubrik merupakan alat untuk melakukan penyekoran, penilaian, dan
menentukan 'grade' sebuah unjuk kerja. Rubrik merupakan pedoman penilaian pada tes
performansi.
d. Lembar Observasi yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang aspek afektif yang
terjadi pada diri siswa, partisipasi siswa dalam pembelajaran, sikap khusus siswa, maupun
respon siswa dalam mengikuti pembelajaran.

5. Aspek Penilaian Kemahiran Menyimak


Aspek yang dinilai dalam menyimak didasarkan pada ruang lingkup dan tingkat
kedalaman pembelajaran serta Kompetensi Dasar yang sudah ditetapkan di dalam Kurikulum
khususnya dalam indikator. Bagi siswa, dapat diketahui bahwa aspek yang belum dikuasai
dalam pengalaman belajar yang dikembangkan dari indikator. Sedangkan bagi guru dapat
diketahui aspek apa yang belum diajarkan pada siswa. Selain itu penilaian pembelajaran
menyimak ini tujuannya adalah untuk mengetahui apakah semua yang telah dialami siswa
dalam proses pembelajaran sudah sesuai dengan kompetensi dasar khususnya dalam
indikator.
Secara umum aspek yang dinilai dalam pembelajaran mendengarkan adalah sebagai
berikut.
Aspek Kebahasaan:
1) Pemahaman isi
2) Kelogisan penafsiran
3) Ketepatan penangkapan isi
4) Ketahanan konsentrasi
5) Ketelitian menangkap dan kemampuan memahami
Aspek Nonkebahasaan:
1) Pelaksanaan dan Sikap
2) Menghormati
3) Menghargai
4) Konsentrasi /kesungguhan mendengarkan
5) Kritis

6. Bentuk-Bentuk Pertanyaan Mendengarkan


Dalam penilaian menyimak, guru dapat memilih bentuk pertanyaan sebagai berikut.
a. Mengucapkan kembali (menirukan) hal yang disimak.
Contoh: Soal : Diperdengarkan kata pasif
(Siswa menirukan/menuliskan)
b. Melaksanakan petunjuk/perintah yang disimak.
Contoh: Soal: Diperdengarkan sebuah petunjuk/perintah
Pelajaran di kelas dimulai pukul 7.05. (Siswa menuliskan)
c. Menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana (berdasarkan pertanyaan yang
disimak)
Contoh: Apakah yang dikerjakan siswa?
d. Menerka nama benda, binatang atau tanaman dan lain-lain berdasarkan
deskripsi yang disampaikan.
Contoh: Seekor binatang yang merajai hutan, bertaring dan ganas dalam memangsa hewan
tangkapan.
e. Menerima dan menyampaikan pesan atau hal-hal penting yang diperoleh melalui telepon.
Contoh: Sejak tanggal 21 sampai dengan 30 Oktober 2001, kami berlibur ke Bandung.

f. Menanyakan berbagai hal berdasarkan tema atau topik yang disimak.


Contoh: Bagaimana sifat tokoh A dalam cerita yang kamu simak tadi?
g. Menentukan satu diantara empat gambar (A, B, C, D) berdasarkan karangan yang disimak.
Contoh: Setelah diperdengarkan beberapa kata atau kalimat, siswa disuruh menunjukkan
nama atau kegiatan yang tepat berdasarkan gambar dari kata atau kalimat yang
diperdengarkan.
Misalnya:
(1) Nani makan pisang.
(2) Darlis menulis surat.
(3) Kakak membaca koran.
(4) Ibu menanak nasi.

7. Contoh Pelaksanaan Penilaian dalam Pembelajaran Menyimak


1. Penilaian Pembelajaran Menyimak Khotbah
a. Rubrik
Pembelajaran Menyimak Khotbah
(untuk penilaian penyampaian secara lisan isi khotbah yang diperdengarkan)
No. Aspek yang Dinilai Pertanyaan Pemandu Skor
1 2 3 4 5
1. Kesesuaian isi Apakah semua rincian sesuai
dengan isi khotbah?
2. Kelengkapan isi Apakah rincian lengkap sesuai
dengan butir-butir
keseluruhan yang ada pada
khotbah?
3. Ketepatan simpulan Apakah simpulan yang dibuat
merangkum keseluruhan detil
isi dan hal yang inti?
4. Pelafalan & intonasi Apakah pelafalannya tepat
dan menggunakan intonasi
yang bervariasi?
5. Penggunaan Bahasa Apakah menggunakan pilihan
kata yang tepat dan kalimat
yang baik dan benar?
6. Kelancaran Apakah penyampaiannya
lancar, tidak tersendat-sendat?
JUMLAH SKOR (maks.30)

b. Lembar Observasi
No. Nama Siswa ketekunan Kerjasama Keaktifan Keberanian

c. Jurnal
Nama :
Tanggal :
Judul Wacana yang Disimak:

1. Yang saya pahami dari wacana yang diperdengarkan


..
2. Bagian yang saya sukai dan alasannya
.
3. Bagian yang tidak saya pahami atau tidak saya sukai

4. Yang saya harapkan dari pembelajaran kemampuan menyimak
5. Kesulitan yang saya alami dalam menyimak ...
6 dst.
8. Bentuk Penugasan Kemahiran Menyimak
Tugas menyimak bisa dirancang untuk berbagai macam tujuan. Tugas menyimak bisa
meminta pembelajar untuk berbicara, membaca, menulis atau memberikan respon berupa
tindakan terhadap sebuah situasi lisan tertentu. Pada saat yang sama, tugas manyimak ini bisa
dilakukan dengan menggunakan strategi atas-bawahan atau bawah-atas. Tugas menyimak
juga bisa menggunakan : (1) berbagai macam jenis teks, seperti pengumuman radio, lagu,
dialog yang direkam, deskripsi lisan dengan diberi media visual, (2) berbagai macam topik,
seperti makanan, cuaca, keluarga, olahraga, (3) berbagai macam fungsi bahasa, seperti
member informasi, member peringatan, berusaha menyakinkan lawan bicara, memuji,
member petunjuk arah, (4) berbagai struktur wacana, dan (5) berbagai macam unsur linguitik.
Siswa bisa diminta untuk memerikan berbagai macam reaksi terhap teks lisan, seperti
misalnya, siswa bisa diminta untuk:
a. Membuat ringkasan
b. Menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahaman (comprehension qoestion).
c. Menyimak secaraa selektif untuk mendapatkan informasi tertentu.
d. Membuat gambar berdasarkan deskripsi dalam teks lisan.
e. Membuat dramatisasi terhadap teks lisan dengan menggunakan gambar objek nyata.
f. Melaporkan secara lisan tentang pokok-pokok utama dari teks lisan.
g. Membuat garis besar dari teks lisan.
h. Mengisi bagan berdasarkan teks lisan.
i. Mengulangi bahasa yang digunakan dalam teks lisan.
j. Mengajukan pertanyaaan tentang isi dari teks lisan.
k. Membuat dialog berdasarkan isi dari teks lisan.
l. Membuat teks lisan yang mirip dengan teks lisan yang sudah disimakkan.

B. PEMBELAJARAN BERBICARA
1. Hakikat Berbicara
Pengertian Berbicara seperti telah kita ketahui bahwa dalam kegiatan menyimak
aktivitas kita awali dengan mendengarkan dan diakhiri dengan memahami atau menanggapi.
Kegiatan berbicara tidak demikian. Kegiatan berbicara diawali dari suatu pesan yang harus
dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesan agar penerima pesan
dapat menerima atau memahami isi pesan itu.
Manusia sebagai mahluk sosial memerlukan hubungan dan kerja sama dengan
manusia lain. Hubungan dengan manusia lainnya itu antara lain berupa menyampaikan isi
pikiran dan perasaan, menyampaikan suatu informasi, ide atau gagasan serta pendapat atau
pikiran dengan suatu tujuan.
Dalam menyampaikan pesan seseorang menggunakan suatu media atau alat yaitu
bahasa, dalam hal ini bahasa lisan. Seorang yang akan menyampaikan pesan tersebut
mengharapkan agar penerima pesan dapat memahaminya. Pemberi pesan disebut juga
pembicara dan penerima pesan disebut penyimak atau pendengar. Peristiwa proses
penyampaian pesan secara lisan seperti itu disebut berbicara. Dengan rumusan lain dapat
dikemukakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa
lisan.
Anda sudah tidak asing lagi mendengar atau membaca istilah berbicara dan bahkan
Anda setiap saat melakukan bicara. Nina dikatakan berbicara ketika
ia mengucapkan salam kepada ibunya. Assalamualaikum. Ibu Rita dikatakanberbicara
ketika membicarakan kenaikan harga minyak tanah dalam pengajian. Ketua RT (Rukun
Tetangga) dikatakan berbicara ketika mengajak warganya untuk bekerja bakti
membersihkan jalan dan selokan air dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan
Republik Indnesia. Dian dikatakan berbicara ketika ia bertanya kepada gurunya tentang
pelajaran yang ia belum ketahui. Anda dikatakan berbicara ketika Anda menjelaskan atau
menjawab pertanyaan siswa Anda.
Lalu, apakah berbicara itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anton M.
Moeliono, dkk., 1998:114) dinyatakan bahwa berbicara adalah berkata; bercakap; berbahasa;
melahirkan pendapat dengan perkataan, tulisan dan sebagainya atau berunding.
Guntur Tarigan (1983 :15) berpendapat bahwa berbicara adalah kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan ,menyatakan
serta menyampaikan pikiran , gagasan, dan perasaan.Sedangkan sebagai bentuk atau
wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan yang
disusun dan dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Pembelajaran Berbicara.
Jadi, pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan
seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan
mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar
menerima pesan atau informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian.
Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, berbicara itu dapat dibantu dengan mimik
dan pantomimik pembicara.
Kemampuan berbicara merupakan tuntutan utama yang harus dikuasai oleh seorang
guru. Jika seorang guru menuntut siswanya dapat berbicara dengan
baik, maka guru harus memberi contoh berbicara yang baik hal ini menunjukkan bahwa di
samping menguasai teori berbicara juga terampil berbicara dalam kehidupan nyata. Guru
yang baik harus dapat mengekspresikan pengetahuan yang dikuasainya secara lisan.

2. Kriteria Penilaian Pembelajaran Berbicara


Ada dua jenis penilaian yang digunakan dalam pembelajaran berbicara, yaitu
penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama kegiatan
pembelajaran berlangsung untuk menilai sikap siswa dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran. Penilaian hasil dilakukan berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan siswa ketika
menyajikan kompetensi berbicara yang dituntut kurikulum atau mempresentasikan secara
individual.
Dalam penilaian proses digunakan lembar penilaian sikap (afektif) yang terdiri dari
aspek: (1) kedisiplinan; (2) minat; (3) kerja sama; (4) keaktifan; dan (5) tanggung jawab.
Dalam penilaian hasil digunakan rubrik penilaian untuk mengetahui kompetensi siswa dalam
berbicara, misalnya menanggapi pembacaan puisi. Ada beberapa aspek yang dinilai, yaitu (1)
kelancaran menyampaikan pendapat/tanggapan; (2) kejelasan vokal; (3) ketepatan intonasi;
(4) ketepatan pilihan kata (diksi); (5) struktur kalimat (tuturan); (6) kontak mata dengan
pendengar; (7) ketepatan mengungkapkan gagasan disertai data tekstual.
Penilaian kompetensi berbicara yang dilakukan dengan unjuk kerja/performance
yang utama perlu diukur adalah yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti
penguasaan lafal, struktur, dan kekayaan kosa kata. Selain itu, juga penguasaan masalah yang
menjadi bahan pembicaraan, bagaimana siswa memahami topik yang dibicarakan dan mampu
mengungkapkan gagasan di dalamnya, serta kemampuan memahami bahasa lawan bicara
( Burhan Nurgiyantoro, 2001:276).
Penilaian kemampuan berbicara haruslah membiasakan peserta didik untuk
menghasilkan bahasa dan mengemukakan gagasan melalui bahasa yang sedang dipelajarinya.
Dengan kata lain, penilaian berbicara harus dilakukan dengan praktik berbicara. Jadi, bentuk
penilaian pembelajaran berbicara seharusnya memungkinkan siswa untuk tidak saja
mengucapkan kemampuan berbahasanya, melainkan juga mengungkapkan gagasan, pikiran,
dan perasaannya sehingga penilaian ini bersifat fungsional (Burhan Nurgiyantoro,2001:278).
Berikut contoh model penilaian berbicara:
a. Pembicaraan berdasarkan gambar
i. Pemberian pertanyaan
ii. Bercerita (menceritakan gambar)
b. Wawancara
c. Bercerita
d. Berpidato
e. Diskusi
f. Bermain peran
Dalam menggunakan bentuk-bentuk penilaian di atas, pelaksanaannya tetap harus
fokus pada aspek kognitif . Meskipun aspek psikomotor yang berupa gerakan mulut, ekspresi
mata, dan gesture lain juga harus dinilai, 6 tingkatan aspek kognitif Bloom yang berkaitan
dengan pengembangan kemampuan berpikir tetap harus menjadi fokus utama karena
berkaitan dengan kemampuan menuangkan gagasan (Ibid, 2001:291-292). Keenam tingkatan
berpikir ( C1 C6) dari yang paling rendah hingga paling tinggi (mengingat, memahami,
menerapkan, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi) harus dinilai dengan
menggunakan rubrik dan penyekoran yang tepat sehingga tidak ada siswa yang dirugikan
karena kompetensi setiap siswa terukur dengan alat ukur yang akurat.
Berbicara sebenarnya merupakan kegiatan kompleks yang melibatkan beberapa faktor.
Yaitu kesiapan belajar, kegiatan berpikir, kesiapan mempraktikkan, motivasi, dan bimbingan.
Apabila salah satu faktor tidak dikuasai dengan baik, akan terjadi kelambatan pada
penguasaan bahan pembicaraan dan mutu bicara akan menurun (Mackey dalam Hastuti,
dkk.,1985:6). Semakin tinggi seseorang menguasai kelima unsur itu, semakin baik pula
penampilan dan penguasan bicaranya.
Salah satu model yang digunakan dalam penilaian berbicara (khususnya dalam
berpidato dan bercerita) adalah sebagai berikut; skala penilaian yang digunakan adalah 010
(Nurgiyanto, 1980:265).
(a) keakuratan informasi
(b) hubungan antarinformasi
(c) ketepatan struktur dan kosakata
(d) kelancaran
(e) kewajaran
(f) gaya pengucapan.
Untuk masing-masing butir penilaian tidak harus selalu sama bobotnya, bergantung
pada apa yang menjadi fokus penilaian pada saat itu. Yang penting, jumlah semua bobot
penilaian 10 atau 100 sehingga mempermudah mendapatkan nilai akhir, yaitu (jumlah nilai x
bobot):10 atau 100.
Misalnya:
Butir 1, keakuratan informasi berbobot 20,
Butir 2, hubungan antarinformasi berbobot 15,
Butir 3, ketepatan struktur berbobot 20,
Butir 4, kelancaran berbobot 15,
Butir 5, kewajaran urutan wacana berbobot 15,
Butir 6, gaya pengucapan berbobot 15.
Selain itu, alat penilaian dalam berbicara (khususnya wawancara) dapat berwujud
penilaian yang terdiri atas komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan
pemahaman. Penilaian ini disusun dengan skala: 1 - 6. 1 berarti sangat kurang dan 6 berarti
sangat baik. Berikut ini adalah deskripsi masingmasing komponen.
a) Tekanan
1. Ucapan sering tidak dapat dipahami.
2. Sering terjadi kesalahan besar dan aksen kuat yang menyulitkan pemahaman, menghendaki
untuk selalu diulang.
3. Pengaruh ucapan asing (daerah) yang mengganggu dan menimbulkan salah ucap yang dapat
menyebabkan kesalahpahaman.
4. Pengaruh ucapan asing (daerah) dan kesalahan ucapan yang tidak
menyebabkan kesalahpahaman.
5. Tidak ada salah ucapan yang mencolok, mendekati ucapan standar.
6. Ucapan sudah standar.

b) Tata bahasa
1. Penggunaan bahasa hampir selalu tidak tepat.
2. Ada kesalahan dalam penggunaan pola-pola secara tetap yang selalu mengganggu
komunikasi.
3. sering terjadi dalam pola tertentu karena kurang cermat yang dapat mengganggu komunikasi.
4. kadang-kadang terjadi kesalahan dalam pengunaan pola tertentu, tetapi tidak mengganggu
komunikasi.
5. sering terjadi kesalahan, tetapi bukan pada penggunaan pola.
6. tidak lebih dari dua kesalahan selama berlangsungnya kegiatan berwawancara.

c) Kosakata
1. Pengunaan kosakata tidak tepat dalam percakapan yang sederhana sekalipun.
2. Penguasaan kosakata sangat terbatas pada keperluan dasar personal.
3. Pemilihan kosakata sering tidak tepat dan keterbatasan penggunannya menghambat
kelancaran komunikasi dalam sosial dan profesional.
4. Penggunaan kosakata teknis tepat dalam pembicaraan tentang tertentu, tetapi penggunan
kosakata umum secara berlebihan.
5. Penggunaan kosakata teknis lebih luas dan cermat, kosakata umum tepat digunakan sesuai
dengan situasi sosial.
6. Penggunaan kosakata teknis dan umum luas dan tepat.

d. Kelancaran
1. Pembicaraan selalu berhenti dan terputus-putus.
2. Pembicaraan sangat lambat dan tidak ajeg kecuali untuk kalimat pendek.
3. Pembicaraan sering ragu, kalimat tidak lengka.
4. Pembicaraan lancar dan luas tetapi sekali-sekali kurang.
5. Pembicaraan dalam segala hal lancar.

e) Pemahaman
1. Memahami sedikit isi percakapan yang paling sederhana.
2. Memahami dengan lambat percakapan sederhana, perlu penjelasan dan Pengulangan.
3. Memahami percakapan sederhana dengan baik, kadang-kadang masih perlu penjelasan ulang.
4. Memahami percakapan normal dengan baik, kadang-kadang masih perlu penjelasan dan
pengulangan.
5. Memahami segala sesuatu dalam percakapan normal kecuali bersifat kolokial.
3. Penilaian Pembelajaran Berbicara
a. Penentuan Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Di
dalam kegiatan penilaian ini terdapat dua komponen penting, yang meliputi: (a) teknik
penilaian, dan (b)bentuk instrumen.
1. Teknik Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan
menafsirkan proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan
keputusan untuk menentukan tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah
ditentukan. Adapun yang dimaksud dengan teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh
untuk memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan pembelajaran
yang dilakukan oleh peserta didik. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam rangka
penilaian ini, yang secara garis besar dapat dikategorikan sebagai teknik tes dan teknik
nontes.
Teknik tes merupakan cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang
memerlukan jawaban betul atau salah, sedangkan teknik nontes adalah suatu cara untuk
memperoleh informasi melalui pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban betul atau salah.

Dalam melaksanakan penilaian perlu diperhatikan prinsip-prinsip berikut ini.


1) Pemilihan jenis penilaian harus disertai dengan aspek-aspek yang akan dinilai sehingga
memudahkan dalam penyusunan soal.
2) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator.
3) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta
didik setelah siswa mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi
seseorang terhadap kelompoknya.
4) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam
arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi
dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
5) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi.
Apabila siswa belum menguasai suatu kompetensi dasar, ia harus mengikuti proses
pembelajaran lagi, sedang bila telah menguasai kompetensi dasar, ia diberi tugas pengayaan.
6) Peserta didik yang telah menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi
tugas untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya.
7) Dalam sistem penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan rancangan
penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan menggunakan teknik penilaian yang
tepat.
8) Penilaian dilakukan untuk menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran: kognitif, afektif
dan psikomotor dengan menggunakan berbagai model penilaian,baik formal maupun
nonformal secara berkesinambungan.
9) Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan dan penggunaan informasi tentang hasil
belajar siswa dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat, dan
konsisten sebagai akuntabilitas publik.
10) Penilaian merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang
dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai
disertai dengan peta kemajuan hasil belajar siswa.
11) Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator. Dengan
demikian, hasilnya akan memberikan gambaran mengenai perkembangan pencapaian
kompetensi.
12) Penilaian dilakukan secara berkelanjutan (direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna
mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan kompetensi siswa,
baik sebagai efek langsung (main effect) maupun efek pengiring (nurturant effect) dari proses
pembelajaran.
13) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam
proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi
lapangan, penilaian harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik
wawancara, maupun produk/hasil dengan melakukan observasi lapangan yang berupa
informasi yang dibutuhkan.

2. Bentuk Instrumen
Bentuk instrumen yang dipilih harus sesuai dengan teknik penilaiannya. Oleh karena itu,
bentuk instrumen yang dikembangkan dapat berupa bentuk instrumen yang tergolong teknik:
1) Tes tulis, dapat berupa tes esai/uraian, pilihan ganda, isian, menjodohkan
2) dan sebagainya.
3) Tes lisan, yaitu berbentuk daftar pertanyaan.
4) Observasi yaitu dengan menggunakan lembar observasi.
5) Tes Praktik/ Kinerja berupa tes tulis keterampilan, tes identifikasi, tes simulasi, dan uji petik
kerja.
6) Penugasan individu atau kelompok, seperti tugas proyek atau tugas rumah.
7) Portofolio dengan menggunakan dokumen pekerjaan, karya, dan atau prestasi siswa.
8) Penilaian diri dengan menggunakan lembar penilaian diri.
9) Sesudah penentuan instrumen tes telah dipandang tepat, selanjutnya instrumen tes itu
dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Berikut ini disajikan ragam teknik
penilaian beserta bentuk instrumen yang dapat digunakan.
Teknik Penilaian Bentuk Instrumen
Tes tertulis Tes pilihan: pilihan ganda, benar-salah,
menjodohkan dll.
Tes isian: isian singkat dan uraian
Tes lisan Daftar pertanyaan
Observasi (pengamatan) Lembar observasi (lembar pengamatan)
Tes praktik (teskinerja) Tes tulis keterampilan
Tes identifikasi
Tes simulasi
Tes uji petik kerja
Penugasan individual atau kelompok Pekerjaan rumah
Proyek
Penilaian portofolio Lembar penilaian portofolio
Jurnal Buku cacatan jurnal
Penilaian diri Penilaian antarteman Kuesioner/lembar penilaian diri
Lembar penilaian antarteman

https://lobikampus.blogspot.co.id/2016/06/pembelajaran-menyimak-dan-
penilaiannya.html