Anda di halaman 1dari 9

NAMA : MUHAMAD NURDIN

NIM: 141024

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERPIREKSIA

DAN KEJAG DEMAM

A. Pengertian Hiperpireksia dan kejang demam


Hiperpireksia adalah suatu keadaan di mana suhu tubuh lebih dari 41,1C atau 106

(Suhu rectal).

Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat
dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (rectal
38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Bangkitan kejang berulang atau
kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan sel-sel otak kurang menyenangkan
dikemudian hari, terutama adanya cacat baik secara fisik, mental atau sosial yang
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Fase dari aktivitas kejang adalah fase prodromal, aura, iktal, dan posiktal. Fase
prodromal meliputi perubahan alam perasaan atau tingkah laku yang mungkin
mengawali kejang beberapa jam/ beberapa hari. Fase aura adalah awal dari munculnya
aktivitas kejang dan mungkin berupa gangguan penglihatan, pendengaran atau fase raba.
Fase iktal merupakan fase dari aktivitas kejang yang biasanya terjadi gangguan
muskuloskeletal. Fase optiakal adalah periode waktu dari kekacauan mental/ somnolen/
peka rangsang yang terjadi setelah kejang tersebut.

Menurut sub bagian syaraf anak membagi tiga jenis kejang demam, yaitu :

1. Kejang demam sederhana


Diagnosisnya :
a. Kejadiannya antara umur 6 bulan sampai dengan 5 tahun
b. Serangan kejang kurang dari 15 menit atau singkat
c. Kejang bersifat umum (tonik/ klonik)
d. Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
e. Frekuensi kejang kurang dari 3 kali/ tahun
f. Temperatur lebih dari 38C

2. Kejang demam kompleks


Diagnosisnya :
a. Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
b. Kejang berlangsung lebih dari 15 menit
c. Kejang bersifat fokal/ multipel
d. Didapatkan kelainan neurologis
e. EEG abnormal
f. Frekuensi kejang lebih dari 3 kali/ tahun
g. Temperatur lebih dari 38C
3. Kejang demam berulang
Diagnosisnya :
Kejang demam timbul pada lebih dari satu episode demam

B. Penyebab Kejang Demam Hiperpireksia


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
2. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif
normal
3. Riwayat demam yang sering
4. Infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut,
exantema subitum, bronchitis, dan infeksi saluran kemih. Selain itu juga infeksi
diluar susunan syaraf pusat seperti tonsillitis, faringitis, forunkulosis serta pasca
imunisasi DPT (pertusis) dan campak (morbili) dapat menyebabkan kejang demam.
5. Produk toksik mikroorganisme terhadap otak (shigellosis, salmonellosis).
6. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal oleh karena infeksi.
7. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit.
8. Gabungan dari faktor-faktor diatas.

C. Patofisiologi

DEMAM

(kenaikan suhu tubuh 10C)


Metabolisme basal meningkat kebutuhan 02

Meningkat ( 10- 15 % ) (kurang lebih 20 %)

Perubahan Keseimbangan

(membran sel neuron)

Difusi melalui membran

+ +
(ion K ------ ion Na )

Lepas muatan listrik Kejang

D. Tanda Dan Gejala


1. Gerakan tangan, kaki dan muka yang menyentak-nyentak atau kaku
2. Bola mata berputar ke arah belakang kepala
3. Pernafasan bermasalah
4. Hilang kesadaran
5. Mengompol
6. Muntah
7. Suhu badan meningkat, biasanya lebih dari 38C

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah tepi lengkap , elekrolit dan
glukosa darah dapat dilakukan walaupun kadang tidak menunjukan kelainan yang
berarti.

2. Indikasi lumbal fungsi pada kejang demam adalah untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis.

3. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak khas

4. Pemeriksaan foto kepala, CT-Scan, dan MRI tidak dianjurkan pada anak kelainan
neurologis karena hampir semuanya menunjukan gambaran normal. CT-Scan atau
MRI direkomendasikan untuk kasus kejang fokal untuk mencari lesi organik diotak.

F. Penatalaksanaan Kejang Demam dan Hiperpireksia


1. Pengobatan saat terjadi kejang
a. Pemberian diazepam supositoria pada saat kejang sangat efektif dalam
menghentikan kejang. Dosis pemberian:

5 mg untuk anak < 3 tahun atau dosisi 7.5 mg untuk anak > 3 tahun

5 mg untuk berat badan < 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan >
10 kg

0,5-0,7 mg/kgBB/kali 2

b. Diazepam intravena juga dapat diberikan dengan dosis sebesar 0,2-0,5 mg/kgBB
c. Bila tetap masih kejang , berikan fenitoin per IV sebanyak 15mg/kgBB perlahan-
lahan.
2. Pengobatan setelah kejang berhenti
a. Antipiretik

Parasetamol atau asetaminofen 10-15mg/kgBB/kali diberikan 4kali atau


diberikan tiap 6 jam.

Ibuprofen 10mg/kgBB/kali diberikan 3 kali.

b. Antikonvulsan

Diberikan diazepam oral, dosis 0.3-0.5mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulangnya kejang .
Diazepam rektal dosis 0.5mg/kgBB/hari sebanyak 3 kali per hari

3. Bila kejang berulang

Berikan pengobatan rumatan dengan fenobarbital atau asam valproat dengan dosis
asam valproat 15-40mg/kgBB/hari dibagi 2 sampai 3 dosis, sedangkan fenobarbital 3
5mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM

A. PENGKAJIAN

1. Aktifitas/ istirahat

Gejala : Keletihan, kelemahan umum

Tanda : Perubahan kekuatan otot

2. Sirkulasi

Gejala : hipertensi, peningkatan nadi, sianosis

3. Integritas ego

Gejala : Stressor eksternal/ einternal yang berhubungan dengan keadaan dan


penanganan

4. Eliminasi

Gejala : Inkontinensia

Tanda : Peningkatan tekanan kandung kemih aliran tonus sfinger, otot relaksasi yang
mengakibatkan inkotinensia (baik urine atau fekal)

5. Makanan/ cairan

Gejala : Mual/ muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang


6. Neurosensori

Gejala : Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pusing,riwayat trauma


kepala.

7. Nyeri/ kenyamanan

Gejala : Sakit kepala, nyeri otot atau punggung pada priode posiktal, nyeri abdomen
paraksimal selama fase iktal.

8. Pernapasan

Gejala : Fase iktal, yaitu gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun atau cepat,
peningkatan sekresi muskus.

9. Keamanan

Gejala : Riwayat terjatuh/trauma, fraktur, adanya alergi.

10. Interaksi sosial

Gejala : Masalah dalam hubungan intrapersonal dalam keluarga atau lingkungan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko Cidera b.d Tipe Kejang

2. Resiko Terjadi Hipoksia/ Aspirasi b.d Kejang

3. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang penyakit

4. Resiko terjadinya kejang b.d suhu tubuh terus meningkat

C. INTERVENSI

No Diagnosa Tujuan/kh Intervensi


1 1. Resiko Setelah 1. Libatkan keluarga dan
Cidera b.d dilakukan penanganan kejang dan ajari cara
Tipe Kejang tindakan melakukannya.
keperawatan 2. Hindari stimulus yang
selama 1x2jam menyebabkan terjadinya kejang.
diharapkan 3. Berikan obat kejang sesuai
Resiko Cidera ketentuan.
tidak terjadi 4. Lakukan perawatan gigi dengan
HASIL:
baik selama terapi fenitoin.
TTV:
>TD normal 5. Berikan Vit. D dan asam folat

110-120/70-80 selama terapi fenitoin dan

mmHg fenobarbital untuk mencegah


>HR normal defisiensi.
60-100x/mnt 6. Dampingi anak selama
>RR normal
beraktivitas.
12-20x/mnt
7. Kaji lama kejang.
>Suhu normal
8. Lindungi anak selama kejang
36,7-37,50C
Pasien tampak
segar dan tidak
leemas lagi
Temperatur
kulit teraba
hangat
Tidak akan
terjadi cedera
dengan kriteria
hasil anak
tidak
mengalami
cidera akibat
kejang
2 Resiko Setelah dilakukan 1. ventilasi Jangan melakukan
Terjadi tindakan keperawatan distress pernafasan
Hipoksia/ selama 1x2jam 2. Tempatkan selimut dibawah
Aspirasi b.d diharapkan Resiko kepala
Kejang terjadi hipoksia tidak 3. Longgarkan pakaian
terjadi 4. Jangan menempatkan apapun
HASIL: dimulut anak
SPO2 dalam 5. Miringkan anak
batas normal 6. Atur posisi kepala anak tidak
(95-100) dalam keadaan hiperekstensi
>RR normal untuk meningkatkan
12-20x/mnt
CRT < 2 detik

3 Kurang Setelah dilakukan 1. Berikan penkes


pengetahua tindakan keperawatan 2. Kaji ketidakmampuan pasien
n b.d selama 1x2jam 3. Beri motivasi dan dukungan
kurangnya diharapkan Kurang 4. Jelaskan penyakit dengan
informas pengetahuan klien sederhana
tentang teratasi
penyakit HASIL:
Keluarga
Lebih dapat
mengerti
tentang
penyakit
Keluarga tahu
cara merawat
anak ketika
terjadi kejang
Keluarga
paham dan
mengerti tanda
dan gejala
akan terjadi
nya kejang

4 Resiko Setelah dilakukan 1. Monitor vital sign


terjadinya tindakan keperawatan 2. Lakukan kompres dingin
kejang b.d selama 1x2jam 3. Beri pakaian yang baik yang
suhu tubuh diharapkan tidak meresap keringat
terus terjadinya kejang 4. Anjurkan anak untuk minum
meningkat HASIL: banyak
Anak tidak 5. Kolaborasi dalam pemberian anti
terjadi kejang kejang
suhu tubuh
dalam batas
normal. (36,5-
37,5 )

DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. (2006). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.


M. Rudolph, Abraham. (2006). Buku Ajar Pediatrik Rudolph. Jakarta: EGC.
Roy, Meadow. (2005). Notes pediatrik. (Edisi 7). Jakarta: Erlangga.