Anda di halaman 1dari 30

TEORI DASAR PERENCANAAN CASING PEMBORAN

Suatu operasi pemboran minyak dan gas bumi dilaksanakan dengan tujuan

untuk membuat lubang dimana pipa produksi dapat diletakkan. Pipa produksi

yang berfungsi sebagai tempat memproduksikan hidrokarbon didalam lapisan

bumi ini dipasang setelah tahap pemboran dan tahap pemasangan casing selesai

dilaksanakan. Pemasangan pipa casing tersebut akan disesuaikan dengan

kedalaman target yang telah direncanakan. Perencanaan pembuatan casing atau

desain casingini merupakan kegiatan penting yang termasuk pada lingkup teknik

pemboran suatu sumur.

Perencanaan casing sangat erat hubungannya dengan besarnya tekanan,

baikyang disebabkan oleh tekanan hidrostatikdari lumpur ataupun bubur semen,

yang menyangkut tekanan dari luar casing (collapse pressure), dari dalam casing

(burst pressure) dan beban tension. Oleh karena itu dibutuhkan suatu alat yang

berfungsi untuk dapat menahan tekanan tersebut. Alat yang dimaksud adalah pipa

selubung atau casing.

Pipa selubung yang terbuat dari material baja ini merupakan campuran

besi baja dengan sejumlah karbon Fe3C. Sebatangcasing disebut dengan satu joint,

ketika beberapa casingdisambung menjadi satu rangkaian dan dimasukan di dalam

lubang sumur, maka rangkaian itu disebut sebagai rangkaian casingatau casing

string.

Tujuan utama dari perencanaan casing adalah mendapatkan rangkaian

casing yang cukup kuat untuk melindungi sumur baik selama kegiatan pemboran

berlangsung maupun pada saat berproduksi, dengan biaya termurah.

9
10

3.1 Fungsi Casing

Sebagai salah satu komponen terpenting, casing memiliki berbagai fungsi

yang menunjang keberhasilan kegiatan pemboran, yaitu:

3.1.1 Mencegah Gugurnya Dinding Sumur.

Pada lapisan batuan yang tidak terkonsolidasi dengan baik, maka saat

pemboran menembus lapisan tersebut dapat menyebabkan terjadinya pembesaran

lubang bor. Pembesaran pada lubang bor ini adalah akibat runtuhnya

dinding sumur, lebih jauh apabila lapisan lunak ini berselang-selingdenganlapisan

keras makaakan memberikanefekpembelokanterhadapdrill string.

3.1.2 Menutup Zona Bertekanan Abnormal dan Zona Loss.

Zona bertekanan abnormal adalah zona yang dapat menyebabkan terjadinya

well kick, yaitu masuknya fluida formasi ke dalam lubang bor. Sedangkan zona

loss adalah zona di mana lumpur pemboran menghilang masuk ke dalam formasi

(invaded zone).

3.1.3 Tempat Kedudukan Wellhead, BOP, dan Peralatan Produksi.


Kepala sumur (wellhead) adalah peralatan yang digunakan untuk

mengontrol sumur yang terdiri dari kepala pipa selubung, kepala pipa sembur, dan

silang sembur. Blow Out Preventer (BOP) merupakan peralatan untuk mematikan

sumur yang berada dalam kondisi kick. Dudukan BOP diletakan pada surface

casing.
3.1.4 Mencegah Hubungan Antar Formasi.

Casing sangat dibutuhkan untuk memisahkan dua lapis zona produktif.

Sebagai contoh apabila suatu sumur dapat menghasilkanminyak dan gas dari
11

lapisan yang berbeda dan dikehendakiuntuk diproduksi bersama-sama maka untuk

memisahkan dua lapisan produktif tersebut dipasang casing dan packer.

3.2 Tipe Casing

Suatu operasi pemboran membutuhkan rangkaian casing dalam

pelaksanaannya untuk mencapai kedalaman total yang diinginkan. Rangkaian

yang nantinya akan direncanakan terdiri dari beberapa tipe casingyang

diklasifikasi dengan ketetapan internasional. Tipe casing berdasarkan

pemakaiannya adalah sebagai berikut:

3.2.1 Stove Pipe

Stove pipe adalah pipa konduktor yang dipakai pada pemboran lepas

pantai (offshore). Stove pipe berfungsi sebagai pipa pondasi, mencegah dinding

formasi yang lemah dekat permukaan mudah runtuh, untuk menguatkan

permukaan tanah tempat kedudukan dari kaki rig. Stove pipe bukan merupakan

tempat dari wellhead assembly dan dipasang dengan cara ditumbuk. Stove pipe ini

mempunyai ukuran dari 26 in. sampai 42 in.

3.2.2 Conductor Casing

Conductor casing adalah casing string pertama yang akan dijalankan,

sehingga memiliki diameter terbesar. Fungsinya adalah untuk menutup formasi

tak terkonsolidasi pada kedalaman dangkal yang, dengan sirkulasi lumpur terus

menerus, akan hanyut. Formasi permukaan memungkinan untuk memiliki


12

kekuatan yang rendahuntuk pecah dan dapat dengan mudah dilampaui oleh

tekanan hidrostatik yang diberikan oleh cairan pengeboran saat mengebor lubang

di bagian yang lebih dalam. Pada kedalaman dimana formasi permukaan lebih

kuat dan kurang mungkin terkikis, pipa konduktor mungkin tidak diperlukan.

3.2.3 Surface Casing

Surface Casing dijalankan setelah konduktor dan umumnya ditetapkan

pada sekitar 1000 - 1500 ft di bawah permukaan tanah atau dasar laut. Fungsi

utama dari surface casing adalah untuk menutup setiap lapisan pasir yang

mengandung air tawar (fresh water sand) dan mendukung kepala sumur dan BOP

peralatan.

Kedalaman pengaturan casing string ini penting di daerah dimana

diperkirakannya terdapat tekanan abnormal yang tinggi. Jika casing diatur terlalu

tinggi, formasi bawah casing mungkin tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk

memungkinkan baik untuk shut-in dan mematikan saat terjadinya gas influx ketika

pemboran bagian lubang berikutnya.

3.2.4 Intermediate Casing

Pemakaian intermediate casing disebut juga dengan protective casing,

karena fungsi utama casingini ialah menutup formasi-formasi yang dapat

menimbulkan kesulitan selama operasi pemboran berlangsung, seperti sloughing

shale, lost circulation, tekanan abnormal, kontaminasi lumpur dan lain

sebagainya. Suatu sumur dapat mempunyai lebih dari satu intermediate casing,

tergantung dari kondisi yang dihadapi selama pemboran.


13

3.2.5 Production Casing

Casingini disebut juga dengan oil string. Production casing dapat dipasang

melalui pay zone, di-set tepat di atas pay zone (untuk open-hole completion atau

sebelum menjalankan liner), atau dipasang sampai ke dasar formasi produktif

sebagai perforated casing completion.

Tujuan utama casing ini adalah untuk mengisolasi interval produksi dari

formasi lain dan/atau bertindak sebagai saluran untuk pipa produksi. Casingini

berfungsi untuk memisahkan lapisan yang mengandung minyak dari lapisan-

lapisan lainnya dan melindungi alat-alat produksi yang terdapat di bawah

permukaan seperti pompa dan sebagainya.

3.2.6 Liner

Liner memiliki fungsi yang sama dengan production casing, tetapi tidak

dipasang hingga ke permukaan. Panjang liner lebih pendek dan harganya lebih

murah dibandingkan production casing.

Apabila pada akhir operasi pemboran diperoleh ukuran lubang yang sangat

kecil, sementara sumur tidak terlalu dalam maka diperlukan casingdengan

toleransi yang sangat kecil.

Untuk persoalan semacam ini akan dipergunakan liner.Gambar 3.1 adalah

penampang rangkaian casing pada operasi pemboran.


14

Gambar 3.1
Penampang Casing Pemboran2)

3.3 Klasifikasi CasingBerdasarkan Standar API

Menurut standar yang dikeluarkan oleh API, spesifikasi dari casingbisa

dibedakan berdasarkan pada diameter, berat nominal, grade dan range length.

3.3.1 Diameter Casing

Spesifikasi dari diameter casing meliputi outsidediameter (OD) casing

dan nominal ketebalan dinding casing yang mendefinisikan sifat unit berat.

Toleransi ketebalan dinding casing minimum adalah 87,5% dari nominal


15

ketebalan dinding casing. Sedangkan untuk ukuran diameter luar (OD) casing

diantaranya adalah 4-1/2, 5, 7, 7-5/8, 8-5/8, 9-5/8,13-3/8, 16, dan 20.


Diameter casing dibedakan menjadi 3 macam, yaitu diameter luar (OD),

diameter dalam (ID), dan drift diameter. Diameter luar (OD) dari casing diukur

pada bagian tubuh casing, bukan pada bagian sambungan. Sedangkan diameter

dalam (ID) casing diukur pada bagian dalam dari casing. Alat yang biasa

digunakan untuk mengukur diameter dalam dari casing disebut Drift Mandrel

(sering disebut sablon atau rabit), dengan diameter 1/8 lebih kecil dari

insidediameter. Maksimum ID casing dikontrol oleh OD casing dan minimum

ketebalan dinding casing. Sedangkan untuk minimum ID casing dikontrol oleh

drift diameter.
Drift diameter adalah diameter maksimal suatu benda yang dapat

dimasukan ke dalam casing. Drift diameter lebih kecil dari diameter dalam. Drift

diameter digunakan untuk menentukan nominal pahat yang berperan untuk

melanjutkan pemboran berikutnya, setelah suatu pipa selubung terpasang.

3.3.2 Berat Nominal


Berat nominal suatu casing adalah berat rata-rata casing beserta

couplingnya persatuan panjang. Pada umumnya, berat nominal casing adalah

antara 9,50-133,0 dengan satuan pound per feet atau ppf (lb/ft). Berat nominal dan

diameter luar merupakan indikasi ketebalan pipa dari casing. Maka berat nominal

dan ketebalan casing menentukan ukuran besar diameter dalam dan ukuran

kapasitas volume dari casing. Semakin tebal suatu casing pada ukuran yang sama

berarti semakin berat casing tersebut seperti pada tabel 3.1.


Tabel 3.1
Contoh Berat Casing3)
16

Grade OD ID Weight
Casing in. In. Lb/ft

L-80 9.625 8.535 53.5


P-110 9.625 8.681 47
N-80 9.625 8.755 43.5

K-55 9.625 8.835 40

3.3.3 Tipe Sambungan Casing

Alat yang digunakan untuk menyambung casing disebut coupling.

Coupling dapat dibedakan berdasarkan diameter, grade dan bentuk ulirnya.Dalam

membicarakan masalah coupling, terdapat beberapa istilah, diantaranya adalah

joint strength dan body yield.

Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan kapasitas beban tension yang

dapat ditanggung pada sambungan, untuk dapat menghasilkan effisiensi joint

casing menjadi 100% maka dinding casing pada bagian ulir sama dengan luas

penampang dinding casing.Sambungan pada casing bekerja seperti gigi yang yang

saling menggigit satu dengan yang lain.

Pada rencanaan pipa selubung sumur, perhitungan beban tension harus

benar diperhatikan terutama pada kekuatan setiap sambungan casing. Hal ini

disebabkan karena pada bagian sambungan merupakatan titik terlemah, kecuali

jika digunakan coupling yang mempunyai efisiensi 100%.Beberapa jenis casing

yang ditinjau dari penyambung (coupling) dan ulir (thread) menurut API adalah

sebagai berikut :
17

a. Round Thread Coupling


Round Thread Coupling mempunyai ulir seperti V,. Tipe sambungan ini

ada dua macam yaitu Long Thread Coupling (LTC)yang memiliki 10 ulir per

inchi panjang couplingdan Short Thread Coupling (STC)dengan 8 ulir per inch.

LTC mempunyai tension length 30% lebih kuat daripada STC. Efisiensi kedua

coupling ini kurang dari 100%.


b. Butress Thread Coupling
Sambungan jenis ini memiliki bentuk ulir sepert trapesium dan

mempunyai lima ulir per inchi panjang coupling dan effisiensi joint-nya adalah

100%. Bentuk ulir yang demikian akan mengurangi kemungkinan terjadinya slip.

Buttres Thread Coupling digunakan untuk tension load yang besar atau untuk

rangkaian casing yang panjang.


c. Extreme Line Thread Coupling

Sambungan jenis ini memiliki ulir yang menyatu dengan badan casing.

Thread atau ulirnya berbentuk trapezium atau persegiempat. Ulirnya berjumlah

lima setiap inch. Extreme line casing ini memiliki ketahanan yang besar terhadap

kebocoran dalam penyambungannya. Bentuk ulir ini juga cocok digunakan pada

temperature dan tekanan yang tinggi, contohnya pemakaian pada drill string.

Gambaran untuk ketiga jenis dan tipe sambungan casing tersebut dapat

dilihat pada gambar 3.2 berikut:


18

Gambar 3.2

Jenis Ulir Casing3)

3.3.4 Panjang Casing

Panjang casing sebenarnya telah distandarisasi dan diklasifikasikan oleh

API, namun dapat memungkinkan apabila panjang casing disesuaikan dengan

kebutuhan pemakaian. Contoh klasifikasi panjang joint casing sesuai standard API

adalah pada tabel 3.2 berikut:

Tabel 3.2

Range Panjang Casing 4)


19

Average
Length
Range Length
(ft)
(ft)

1 16-25 22

2 25-34 31

3 34+ 42

3.3.5 Grade Casing

Kualitas atau kekuatan mutu bahan suatu casing dapat terlihat dari

gradenya. Setiap grade mempunyai komposisi kimia yang berbeda beda,

sehingga nilai physical property yang dimilikinya pun berbeda beda juga.

Semakin tinggi nilai grade dari casing maka nilai yield strenght yang dimilikinya

pun akan semakin tinggi juga.

Yield strength didefinisikan sebagai besarnya beban tension minimum, di

mana terjadi penguluran 0.5% dari panjang pipa, kecuali pada grade P110 yang

sebesar 0.65% dari panjang pipa. Kekuatan dari suatu casing erat kaitannya

dengan nilai grade dari casing tersebut, terutama pada besarnya ukuran tension

yang dapat diterima oleh suatu casing.

Jenis casing yang dipilih juga harus berdasarkan tekanan minimum yield

strenght dan tekanan ultimate tensile strenght. Minimum yield strenght adalah

titik di mana mulai terjadinya kerusakan pada casingdan ultimate tensile strenght

adalah point ketika casing benar benar akan mengalami kerusakan.

Tabel 3.3
20

Casing Grade and Properties 5)

Yield Strength Tensile Strength


API Grade
(psi) (lbs)

Min. Max.

H-40 40.000 80.000 60.000

J-55 55.000 80.000 75.000

K-55 55.000 80.000 95.000

C-75 75.000 90.000 95.000

L-80 80.000 95.000 95.000

N-80 80.000 110.000 100.000

P-110 110.000 140.000 125.000

V-150* 150.000 180.000 160.000

3.4 Perencanaan Casing

Hal pertama yang dilakukan pada perencanaan casing adalah seleksi

kedalaman di mana casing di-run dan disemen, disebut sebagai casing setting

depth. Casing pada suatu pelaksanaan pemboran akan diaplikasikan pada

kedalaman yang sudah ditargetkan sesuai dengan hasil perhitungan, yang

kemudian disusul dengan proses penyemenan.


21

Dalam mendesain dan merencanakan sumur, kita perlu mengetahui

bagaimana cara mendesainsusunan casing yang akan digunakan. Sistem

perencanaan casing meliputi beberapa faktor penting, diantaranya yaitu:

a. Tekanan pori (pore pressure) atau sering juga disebut sebagai Tekanan Formasi

(formation pressure).Tekanan rekah/gradient rekah (Fracture gradient).

b. Dari data-data pore pressure dan fracture gradient, didapatkan setting depth

dari tiap-tiap bagian casing.

c. Perencanaan untuk beban-beban yang akan dialami oleh rangkaian casing.

Beban-beban tersebut adalah beban beban collapse, beban burst, dan beban

tension.

Beberapa faktor diatas perlu diperhatikan sehingga dalam mendesain suatu

sumur eksplorasi dapat ditentukan perencanaan desain casing yang efektif dan

efisien, khususnya dalam mendesain ukuran lubang bor yang akan dikerjakan.

Mendapatkan perencanaan secara ekonomis, rangkaian casing sering terdiri atas

beberapa bagian kelas baja, ketebalan dinding, dan jenis coupling yang berbeda-

beda. Dengan desain casing yang tepat maka biaya pemboran akan menjadi lebih

ekonomistanpa melupakan faktor keamanan.

3.4.1 Tekanan Pori dan Tekanan Formasi

Tekanan formasi didefinisikan sebagai tekanan pada fluida formasi yang

terjebak di dalam rongga atau pori-pori batuan. Tekanan formasi juga bisa disebut

sebagai tekanan pori (pore pressure), tekanan ini menahan sebagian berat batuan

yang berada diatasnya (overburden), dan bagian lainnya yang ditahan oleh butir-

butir batuannya. Suatu tekanan formasi dapat dikatakan normal apabila nilainya
22

sama dengan tekanan hidrostatis lumpur. Evaluasi tekanan formasi merupakan

bagian dari perencanaan sumur pada pelaksanaan operasi pemboran yang aman.

Oleh karena itu, perlu untuk mengetahui tekanan formasi dan gradient tekanan,

sehingga berat lumpur dapat dioptimalkan.

Tekanan hidrostatik (hydrostatic pressure) memiliki arti dimana

tekanannya diakibatkan oleh beban fluida yang berada di atasnya. Hal ini

dikarenakan sebagian besar tekanan overburden ditahan oleh matriks batuan.

Tekanan hidrostatik dapat dirumuskan sebagai berikut:

HP = 0.052 x MW x Depth ... (3.1)

Dimana:

- HP = Tekanan hidrostatik, psi


- Depth = Kedalaman, ft
- MW = Mud Weight, ppg

Saat merencanakan atau melakukan proses pemboran sumur akan lebih

mudah bila nilai tekanan hidrostatik disamakan sebagai nilai gradient tekanan

(pressure gradient). Gradien tekanan adalah besarnya kenaikan tekanan per unit

dari kedalaman vertikal, sebagai contoh adalah psi/ft. Perlu diingat bahwa densitas

fluida yang dihitung dalam ppg atau SG juga merupakan gradien. Namun apabila

pressure gradient dipakai untuk menghitung besarnya tekanan di lubang sumur,

harga yang biasa dipakai adalah Equivalent Mud Weight (EMW) dalam ppg.

Nilai tekanan formasi (pori) itu sendiri dapat diklasifikasikan sebagai

gradient tekanan yang umumnya diklasifikasikan menjadi:

a. Tekanan Pori Normal(normal pore pressure)


23

Tekanan formasi normal memiliki nilai yang sama dengan tekanan

hidrostatiknya, yaitu apabila besarnya tekanan yang dikandung cairan pengisi

rongga formasi sama dengan tekanan kolom cairan yang ada di dalam dasar

formasi sampai ke permukaan. Maka apabila formasinya terbuka dan dapat

mengisi kolom yang kedalamannya sama dengan kedalaman formasi, maka

tekanan di bawah formasi akan sama dengan tekanan formasi serta tekanan di

permukaan sama dengan nol. Tekanan formasi normal tidak selalu konstan.

Besarnya tekanan pore pressure memiliki nilai yang bervariasi atas konsentrat

garam yang terlarut, tipe fluida, gas yang terkandung, dan gradien tekanan.

Contohnya apabila kandungan konsentrat garam terlarutnya bertambah, harga

normal pore pressurenya pun akan ikut bertambah.

Pada formasi air tawar besarnya gradien tekanan hidrostatiknya sebesar

0,433 psi/ft atau 9,81 KPa/m dan untuk formasi air asin gradient tekanan

hidrostatiknya sebesar 0,465 psi/ft atau 10,4 KPa/m.Maka apabila suatu formasi

memiliki gradient tekanan hidrostatik sebesar 0.69 psi/ft dengan kedalaman 1000

ft, maka formasi tersebut memiliki tekanan formasi normal sebesar 690 psi.

Penentuan tekanan formasi dapat dilakukan dari analisa log dengan

menggunakan data RFT, Neutron log dan Density log atau dari data Drill Stem

Test (DST).

b. Tekanan Pori Abnormal(abnormal pore pressure)

Abnormal Pore Pressure didefinisikan sebagai tekanan pori yang nilainya

lebih besar dari tekanan hidrostatik. Pada kondisi yang sering dijumpai, tekanan

formasi memiliki nilai lebih besar dari tekanan normal yang menyebabkan
24

terjadinya tekanan abnormal (abnormal pressure). Hal ini disebabkan karena

kompaksi batuan oleh sedimen yang berada di atasnya sedemikian rupa sehingga

air yang keluar dari lempeng tidak langsung dapat menghilang dan tetap berada

dalam batuan semula. Tekanan overburden yang ada cukup membuat

terkompresinya volume pori dari batuan sedimen, karena cairan berada di

dalamnya maka akan mengalir menuju daerah yang lebih porous dan permeable.

Harga tekanan abnormal ini didapat dari komponen hidrostatik normal ditambah

dengan tekanan tambahan tersebut. Disebut juga sebagai overpressure atau

geopressure, tekanan abnormal inilah alasan diperlukannya peralatan seperti BOP.

Besarnya gradient tekanan overburden normal biasanya dianggap sebesar

1 psi/ft, yaitu diambil dengan menganggap berat jenis batuan rata-rata sebesar 2,3

dikalikan dengan berat jenis air. Dengan besarnya nilai gradient tekanan air adalah

0,433 psi/ft, maka gradient tekanan overburden sebesar 2,3 x 0,433 psi/ft = 1,0

psi/ft. Rumus umum tekanan overburden sebagai berikut.

vb =0.052 b D (3.2)

Dimana :

vb
- = Tekanan overburden, psi
- D = Depth, ft

b
- = Densitas bulk, ppg

c. Tekanan Formasi Subnormal (abnormal pore pressure)


25

Tekanan formasi subnormal adalah tekanan yang terjadi akibat tekanan

pori yang lebih kecil dari tekanan hidrostatik normalnya. Dengan kata lain

gradient tekanan subnormalnya lebih kecil dari gradien tekanan air tawar,

sehingga menyebabkan formasi tersebut mempunyai pori-pori yang dan

mengakibatkan besarnya permeabilitas formasi tersebut. Tekanan ini disebabkan

oleh gaya-gaya yang bekerja pada lapisan stratigrafi, tektonik, dan histori

geokimia areanya atau dapat pula karena pekerjaan produksi fluida reservoir.

3.4.2 Gradien Rekah atau Tekanan Rekah


Tekanan rekah adalah tekanan hidrostatik formasi maksimum yang dapat

ditahan tanpa menyebabkan terjadinya pecahnya rangkaian casing. Besarnya

gradient tekanan rekah diperngaruhi oleh besarnya tekanan overburden, tekanan

formasi, dan kondisi kekuatan batuan.

Gradien rekah (fracture gradient) perlu diketahui karena sangat berguna

ketika meneliti kekuatan dasar selubung (casing), sedangkan bila gradient tekanan

rekah tidak diketahui maka akan mendapat kesulitan dalam pekerjaan

penyemenan dan penyelubungan sumur.

Ada dua metode untuk menghitung gradient rekahan ini, yaitu metode

leak-off test(LOT) dan metode analisa stress.

a. Leak-Off Test
Metode ini menggunakan lumpur untuk menekan sumur hingga melebihi

tekanan formasi dan terjadi rekahan pada formasi. Hasil dari tekanan pada

rekahan dicatat dan ditambahkan dengan tekanan hidrostatik lumpur pada lubang

untuk mengetahui total tekanan yang dibutuhkan, sehingga terjadi rekahan pada
26

formasi. Metode ini juga menggunakan Leak-off test untuk mengetahui gradient

rekahannya.
Leak-off test biasanya dilakukan setelah casing dipasang dan sebelum

membor lubang (kedalaman) berikutnya. Leak-off test biasanya dilakukan pada

sumur-sumur ekplorasi. LOT dilakukan untuk menentukan tekanan maksimum

dari formasi yang dapat menahan casing tanpa menyebabkan pecahnya atau

merekahnya casing.
Prosedur normal adalah dengan menutup sumur dengan BOP (Blow Out

Preventer) dan kemudian terjadi peningkatan tekanan pada sistem shut-in sampai

awal formasi menerima fluida dengan memasang tekanan secara perlahan pada

drill pipe.Tekanan direkam sebagai penambahan lumpur yang akan dipompakan

ke dalam lubang. Penambahan lumpur biasanya ditentukan oleh ukuran stroke

pompa. Pengukuran lumpur secara teratur biasanya tidak mempunyai kepekaan

yang cukup dan pengukuran sebuah tekanan dilanjutkan sampai tekanan

maksimum yang diinginkan tercapai atau tekanan dimulai pada garis permukaan

yang menjauh. Pada titik ini pompa dihentikan. Ketika tekanan pada garis

permukaan menjauh, ini menunjukan cairan (fluida) akan masuk / meresap ke

dalam formasi yang menandakan formasi telah rekah.


Tekanan lumpur harus dipasang secara perlahan karena sesaat setelah

leak-off pressure dicapai, maka formasi akan merekah dan pecah. Leak-off test

dilakukan hanya jika dibutuhkan. Pada kasus ini, tekanan harus dinaikan hingga

jumlah maksimum yang dibutuhkan, sehingga tidak perlu sampai tekanan leak-off

dicapai. Dibawah ini gambar 3.3 contoh grafik leak-off test


27

Leak-of
Test

Leak-
of

b. Metode Analisa Stress

Metode ini menggunakan metode analisa stress untuk memprediksikan

gradien rekahan. Ada beberapa metode yang sering digunakan, yaitu :

1. Metode Hubbert dan Willis.


Metode ini didasari atas teori rekah yang terjadi saat tekanan fluida yang

dipakai melebihi banyaknya minimum effective stress dan tekanan formasi. Untuk

gradien overburden, rasio poisson (v) dan tekanan formasi menjadi;


28

( v - Pf Pf
FG= ( (v
/( 1-v ))( )()/ D)
) +
/D

...

(3.3)
Dimana:
- FG = Fracture Gradient, ppg
- v = Rasio Poisson
Pf
- = average fluid density, ppg
2. Metode Matthews dan Kelly.
3. Metode Eaton.
4. Metode Christman.

3.4.3 Casing Setting Depth(CSD)

Perencanaan pertama dalam desain sumur adalah seleksi kedalaman

dimana casing di-run dan di semen. Drilling engineer dalam perencanaan casing

setting depth harus mempertimbangkan kondisi geologi, seperti: tekanan formasi

dan fracture gradient, hole problem, dan hal-hal lainnya.

Namun selama operasi pemboran berlangsung sering terjadinya masalah-

masalah seperti hilang sirkulasi lumpur (lost circulation). Hal ini diakibatkan oleh

pecahnya formasi di bawah kaki casing oleh underground blow outKedua masalah

di atas sering timbul akibat perencanaan casing setting depth yang kurang tepat.

Kesalahan dari program setting depth casing juga akan menyebabkan gagalnya

rangkaian casing apabila hasilnya terlalu dalam atau terlalu dangkal.


29

Gambar 3.3
Casing Setting Depth 4)

Menentukan kedalaman casing (casing setting depth) diawali dengan

menentukan garis pore pressure gradient dan fracture gradient. Langkah

berikutnya adalah dengan menambahkan safety factor untuk trip margin pada

pore pressure dan kick margin pada fracture gradient masing masing sebesar

0.025 EMW, dilanjutkan dengan membuat garis mud gradient atau hydrostatic

pressure. Setelah itu mulailah mendesain casing dengan metode Bottom Up

Casing Design. Desain ini akan dimulai dari bawah sumur ke permukaan dan

setting depth didesain dengan safety factor limits.

Proyeksi tekanan formasi dan gradient rekah bisa didapatkan melalui

informasi offset well, resistitity, sonic, dan radioaktif log, informasi pemboran dan

lumpur, bersamaan dengan interpretrasi geologi, dapat dipersiapkan suatu evaluasi

tekanan formasi terhadap kedalaman.

3.5Pembebanan Pada Casing


30

Dalam pelaksanaan operasi pemboran dibutuhkannya suatu rangkaian

casing untuk mencapai kedalaman total yang diinginkan. Langkah pertama dalam

desain casing adalah penentuan jenis kondisi yang dapat membuat masing-masing

kemampuan menahan beban mencapai harga terbesar serta penentuan distribusi

beban tersebut terhadap kedalaman. Pada metoda maximum load, burst

merupakan kriteria pertama dalam menentukan pemilihan casing. Hasil sementara

perencanaan ini kemudian diuji mengikuti urutan terhadap beban collapse, burst,

dan terakhir beban tension.

3.1.1 Collapse Pressure


Collapse pressure adalah gaya yang bekerja dari luar casing yang menekan

casing pada saat berada di dalam sumur.

Gambar 3.4

Tekanan Collapse 4)
Jika pengaruh tekanan diluar casing lebih besar daripada tekanan di dalam,

maka casing akan mengalami collapse. Tekanan collapse (luar casing) berasal dari

berat fluida pemboran sedangkan tekanan dalam casing berasal dari kolom lumpur

sampai di bawah kaki casing akibat hilang sirkulasi.


3.1.2 Burst Pressure
31

Tekanan burst adalah tekanan minimum yang dapat menyebabkan

pecahnya casing. Beban burst berasal dari tekanan kepala sumur, tekanan

hidrostatik lumpur, tekanan pada saat penyemenan, stimulasi dan semua kondisi

yang dapat menyebabkan harga tekanan Pi dikurang Pe menjadi positif. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.5, tekanan burst (dalam casing) berasal

dari kolom fluida pemboran yang naik akibat kolom gas menekan karena

underground blowout, sedangkan tekanan luar berasal dari saturasi air asin.

Gambar 3.5

Tekanan Burst 5)

3.1.3 Tension Pressure

Beban tension adalah beban yang ditimbulkan oleh berat rangkaian casing.

Setiap sambungan casing harus menanggung berat rangkaian casing yang

tergantung di bawahnya. Jadi beban tension terbesar terdapat di permukaan dan

mengecil sampai nol di suatu titik pada rangkain casing. Pemboran pada umunya
32

tidaklah menghasilkan lubang yang benar-benar lurus, melainkan ada deviasi.

Casing yang dipasang pada lubang yang mengalami deviasi ini akan memperbesar

beban tension.

3.6 Perencanaan Casing (Casing Design)

Perencanaan casing merupakan hal yang penting untuk mentukan

rangkaian casing yang tepat untuk suatu sumur karena rangkaian casing inilah

yang akan menahan tekanan dari dalam sumur baik tekanan dari luar sumur

ataupun dari dalam sumur. Pada penjelasan fungsi casing, apabila casing

mengalami kegagalan maka akan timbul permasalahan seperti gugurnya dinding

sumurdan terkontaminasinya air tanah oleh lumpur. Casing ini juga berfungsi

sebagai tempat kedudukan BOP.

Secara garis besar ada dua metoda yang dapat digunakan untuk mendesain

casing, yaitu metoda maximum load. Metoda ini mencari nilai safety factor

(SF),yaitu angka keselamatan sebagai rasio minimum dari ketahanan casing.

Angka keselamatan ini sangat penting menentukan jenis casing yang optimal

untuk suatu sumur. Angka ini didapat dengan membandingkan rating tahanan

casing dari katalog casing dengan tekanan dari pembebanan yang dihitung,

dengan SF standar API untuk masing-masing pembebanan yang terjadi pada

casing yaitu :

Collapse = 0.85 1.125


Burst = 1.1
Tension = 1.6 - 1.8

Selain itu hasil yang akan diperoleh adalah data perencanaan pemasangan

casing yang sesuai untuk kegiatan pemasangan casing tersebut, yaitutekanan


33

collapse, tekanan burst, beban tension, biaya dari penggunaan casing. Data ini

dapat dicari dengan menggunakan metode Maximum Load.

3.1.1 Metoda Maximum Load

Langkah pertama dalam desain casing adalah penentuan jenis kondisi yang

dapat membuat masing-masing kemampuan menahan beban mencapai harga

terbesar serta penentuan distribusi beban tersebut terhadap kedalaman. Dengan

membuat kemampuan menahan masing-masing beban mencapai harga terbesar,

maka akan diperoleh rangkaian casing paling kuat.

Pada metoda beban maksimum, penentuan jenis kondisi dilakukan

berdasarkan kondisi terburuk, yaitu:

a. Beban collapse maksimal terjadinya pada saat sumur mengalami lost

circulation.
b. Beban burst maksimal saat sumur mengalami kick.

Pada metoda ini collapse merupakan kriteria pertama dalam menentukan

pemilihan casing yang dilanjutkan dengan burst. Untuk tekanan burst dan

collapse selalu dihitung pada permukaan dan kaki casing, tekanan yang diambil

merupakan tekanan yang terbesar antara kedua lokasi tersebut karena metoda

maximum load mencari tekanan terbesar. Kemudian hasil dari perhitungan kedua

beban tersebut P at surface dan P at shoe diplot ke dalam grafik, pada grafik

tersebut akan ada burst line dan collapse line dimana merupakan hasil dari

perhitungan.

Selanjutnya perlu ditentukan rating collapse resistance dan burst

resistance yang sesuai dari katalog casing seperti tabel 3.1, dimana ketahanan dari
34

rating tersebut berada pada sebelah kanan collapse dan burst line. Hasil grafik

dapat dicek dengan menghitung SF, apabila SF sama dengan atau lebih dari

standar API collapse dan burst makan rating casing tersebut optimal. Kemudian

dilanjutkan mencari tension dengan spesifikasi casing yang sudah dipilih

sebelumnya melalui burst dan collapse line. Apabila safety factor tension tidak

memenuhi maka harus dicari kembali rating casing pada burst dan collapse,

sehingga pada metode ini untuk mencari tension perlu diketahui terlebih dahulu

kelas casing yang ingin digunakan ataupun yang akan dievaluasi untuk kemudian

dioptimasi. Metode inilah yang akan digunakan dalam analisa,evaluasi dan

optimasi desain casing pada tugas akhir ini.

Perhitungan untuk mendapatkan SFdari collapse dan burst digunakan

persamaan seperti di bawah ini.

- SF pada collapse = collapse resistance


SF pada collapse=
- / tekanan collapse ..............

(3.4)

- SF pada Burst = burst resistance /


SF pada Burst=
- tekanan burst

......................................... (3.5)

3.7 Aplikasi Metode Maximum LoadPada Casing


Pengaplikasian metode maximum loaduntuk pembebanan pada tiap casing

adalah sebagai berikut:


3.6.1 Surface Casing

Perhitungan collapse dan burst pada surface casing adalah sebagai berikut:

a. Collapse Pressure
35

Perhitungan collapse pressure dapat melalui beberapa tahap, yaitu:

1. Tekanan collapse di permukaan bernilai 0 psi, hal ini terjadi karena tidak ada gaya

eksternal terhadap casing di permukaan.


2. Tekanan collapse di Casing Shoe dapat digunakan rumus sebagai berikut:
CP = ( Mud Weight CSD )
CP=
144 ......

(3.6)
Dimana:
- CP = Collapse Pressure, psi
- Mud Weight = Mud Weight, lb/cuft
- CSD = Casing Shoe Depth, ft
b. Tension Load

Beban tension adalah beban yang ditimbulkan oleh berat rangkaian di tiap
bebannya adalah :

TesTekanan=60 burst Tes Tekanan = 60% x burst.

. (3.15)

Berat Buoyant =berat diudara BF Berat Buoyant = berat di udara x BF

... (3.16)

Berat di udara=Casing Weight x Casing Height Berat di udara = Casing Weight

x Casing Height. ...... (3.17)

m /
s)
Buoyancy factor = .... (3.18)
1
Buoyancy factor =

Total Tension = e
36

/
4
2
D
I Tes Tekanan ............................. (3.19)
e=Berat Buoyant +


e=Berat Buoyant +

casing/
Tension ratio=[Total berat ]
Kekuatan body (3.20)
Tension ratio=

ressitance /
tension
total tensile
SF tension= ] (3.21)
SF tension=

Setelah dihitung untuk beban collapse dan burst kemudian diplot ke dalam

grafik yaitu collapse dan burst line dari kedalaman 0 ft casing shoe, kemudian

menentukan rating casing dari katalog casing standard. Untuk selanjutnya sama

seperti yang sudah dijelaskan dengan mencari dan memastikan dengan

menghitung SF, yang dilanjutkan dengan menghitung tension. Apabila semua SF

tiap beban maka casing tersebut dapat digunakan tetapi di bawah standar SF API,

maka casing tersebut tidak layak digunakan.

c. Burst Pressure

Asumsi perhitungan burst load pada surface casing adalah tekanan burst

pada kaki casing sama dengan tekanan injeksi. Kemudian bagian dalam dari

casing terisi gas (dengan asumsi gradien kolom gas 0.1 psi/ft), sedangkan bagian

luar dari casing merupakan saturated salt water. Gradien formasi (Gsw) pada zona

lost circulation adalah 0,465 psi/ft (setara dengan berat lumpur 8,94 ppg).
37

Sehingga didapatkan persamaan untuk menghitung tekanan burst seperti di bawah

ini.

1. Tekanan burst di permukaan = Internal pressure External pressure. (3.7)


Internal Pressure(Pi) = Injection pressure (Gpm x CSD) .(3.8)
Injection Pressure = (fracture gradient + SF) 0,052 x CSD .. (3.9)
Dimana:
- External Pressure(Pe) = 0 psi
- Gpm = Gradien kolom gas, psi/ft
2. Tekanan burst pada casing seat = Pi Pe @ depth ... (3.10)
Pe = Gsw x CSD .... (3.11)
Dimana:
- Gsw= Gradien salt water, psi/ft

3.6.2 Intermediate Casing

Perhitungan collapse dan burst pada intermediate casing adalah sebagai

berikut:

a. Collapse pressure
Perhitungan collapse pressure dapat melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Tekanan Collapse pada Permukaan = 0
2. Tekanan Collapse pada Seat dihitung menggunakan persamaan .. (3.6)
b. Burst pressure

Asumsi untuk burst pressure pada intermediate casing adalah pada

sebagian dalam casing terisi oleh gas. Karena adanya gas kick, gas mengisi

bagian bawah dari lubang bor dan menekan fluida pemboran ke atas. Selain itu

BOP dioperasikan untuk memberikan tekanan. Maka perhitungan burst pada

intermediate casing adalah sebagai berikut:

1. Tekanan burst pada surfacedihitung menggunakan persamaan.....(3.8)


2. Tekanan burst pada seat inidihitung menggunakan persamaan.. (3.11)

3.6.3 Liner

Perhitungan collapse dan burst pada liner adalah sebagai berikut:


38

a. Collapse Pressure

Asumsi yang digunakan untuk menghitung drilling liner sama dengan yang

digunakan pada intermediate casing. Sehingga didapat persamaan seperti di

bawah ini.

1. Tekanan pada liner hanger = EMW x 0.052 x TOL Depth 1. Tekanan

pada liner hanger = EMW x 0.052 x TOL Depth....... (3.12)

2. Tekanan collapse pada kedalaman tertentudihitung dengan persamaan...(3.6)

Dimana:

- TOL Depth = Top of Liner Depth, ft

b. BurstPressure

1. Tekanan Burst pada liner hanger = Pf (TD Gpm) . (3.13)


Pf = TD x Gradient Tekanan Formasi ... (3.14)

2.Tekanan Burst pada liner seat dihitung menggunakan persamaan... (3.11)