Anda di halaman 1dari 3

Meningkatkan Prestasi Belajar, Minat, dan Tingkat Pemahaman Siswa dalam

Pembelajaran Kimia Melalui Pengajaran/ Pendekatan Terintegrasi


1. Pendahuluan
Pengetahuan sekolah menengah tentang kimia ditandai dengan kurangnya koherensi.
Alih- alih memiliki stuktur pengetahuan yang terstruktur dengan baik, siswa malah memiliki
konsep kimia yang berbeda- beda. Kurangnya integrasi diduga menjadi penyebab sulitnya
siswa untuk membentuk konsep dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh pada saat
latihan maupun praktikum.
Guru kimia harus memiliki kreativitas dalam mengatasi ketakutan siswa, melakukan
pendekatan kimia, mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah, menerapkan
prinsip- prinsip kimia ketika memecahkan masalah, dan sama- sama memahami bahwa kimia
adalah bagian dari kehidupan sehari- hari. Guru juga harus menyediakan aplikasi dari materi
kimia yang diajarkan untuk mengevalakuasi pembelajaran.
Dalam (7,8) dilaporkan bahwa konsep yang sulit dalam kimia dapat disederhanakan
dengan mempertimbangkan dsn memasukkan instruksi yang efektif seperti menilai
pengetahuan awal siswa, mendiagnosis kesulitan belajar siswa, serta memberikan alasan
pentingnya mempelajari materi tersebut dan aplikasinya dalam kehidupan. Hal ini sangat
penting dilakuakan. Oleh karena itulah, dalam penelitian ini, peta konsep dan diskoveri
terbimbing dipadukan sebagai suatu pendekatan yang terintegrasi.
1.1 Rumusan Masalah
1. Apa pengaruh metode CM-GD terhadap prestasi belajar siswa dalam bidang kimia?
2. Apakah anak laki- laki dan anak perempuan memiliki kinerja yang sama jika
diajarkan elektrokimia dengan menggunakan metode CM-GD?
3. Kelompok manakah yang memiliki tingkat pemahaman yang lebih lama? Kelompok
CM-GD atau kelompok dengan metode demonstrasi?
4. Apa pengaruh CM-GD terhadap gaya belajar siswa?
1.2 Hipotesis
H01 : Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang
diajarakan dengan menggunakan metode CM-GD dengan yang diajarkan dengan
metode demonstrasi
H02 : Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja yang dimiliki anak laki-
laki dan perempuan yang diajarkan dengan metode CM-GD dengan yang
diajarkan dengan metode demonstrasi
H03: Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap tingkat pemahaman siswa yang
diajarkan dengan metode pCM-GD dengan yang diajarkan dengan metode
demonstrasi
H04: Tidak ada perubahan yang signifikan dalam gaya belajar siswa dari
mengakomodasi dan divergen terhadap konvergensi dan asimilasi jika
menggunakan CM-GD.
2. Metode Penelitian
2.1 Populasi
Semua siswa SS2 SMA di Nassarawa yang berjumlah 986 siswa.
2.2 Sampel
Siswa di GSSS karu dan GSSS Nasarawa- Eggon berjumlah 162 siswa (CG dan EG).
2.3 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan nilai pre-test dan post-test.
2.4 Instrumen Penelitian
2.4.1 Nilai Pre-test Kimia Siswa (CAPE)
Dua puluh soal objektif tentang elektrokimia dipilih dari UTME dan SSCE yang
sebelumnya telah diklasifikasikan sesuai taksonomi Bloom. Indeks reabilitas yang diperoleh
dengan menggunakan KR-21 adalah 0,70.
2.4.2 Nilai Post-test Kimia Siswa (CAPO)
Dua puluh soal objektif tentang elektrokimia dipilih dari UTME dan SSCE. Indeks
reabilitas yang diperoleh menggunakan KR-21 adalah 0,72. CAPE dan CAPO diuji
menggunakan uii t dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara CAPO dan CAPE pada
taraf signifikansi 0,05.
2.4.3 Tes Retensi Nilai Kimia (CART)
Tes ini terdiri dari dua puluh soal objektif yang sama persis dengan soal post-test,
yang berbeda hanyalah urutan soalnya.
2.4.4 Rencana Pelajaran untuk Kelas Kontrol (LPCG)
Terdiri dari lima rencana pelajaran elektrokimia menggunakan metode demonstrasi
dalam pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang sama dengan kelas eksperimen.
2.4.5 Rencana Pelajaran untuk Kelas Eksperimen (LPEG)
Pada kelas eksperimen digunakan panduan intruksional. Rencana pelajaran terdiri dari
lima macam dengan materi yang sama (elektrokimia) menggunakan metode CM-GD.
2.4.6 Kolb Learning Style Inventory (KLSI)
Instrumen ini pada awalnya dikembangkan untuk memperoleh data tentang perubahan
gaya belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Instrumen ini terdiri dari 30 item yang
dirancang untuk mendeteksi kondisi mana yang paling baik bagi siswa berkaitan dengan
perasaan mereka, pandangan, perilaku, dan situasi belajar.
3. Prosedur penelitian
CAPE pertama kali diberikan dan digunakan unttuk menentukan pengetahuan awal
siswa pada topik yang dipilih dan memilih kelompok yang setara berpartisipasi dalam bidang
studi. KLSI diberikan kepada kelompok eksperimen sebelum perlakuan untuk menentukan
gaya belajar masing- masing siswa dalam kelompok menggunakan rubrik penilaian. Selama
lima minggu, kelompok eksperimen diajarkan materi elektrokimia dengan menggunakan
metode CM-GD sementara kelas kontrol diajarkan dengan metode demonstrasi. Post-test
dilakukan setelah mengajar dan digunakan untuk menentukan efektivitas dua metode
pengajaran, terutama efek perlakuan pada kelas eksperimen. KLSI diulang lagi untuk
mendeteksi perubahan siswa dengan menggunakan metode belajar yang diberikan. Empat
minggu kemudian, tes retensi (CART) dilakukan setelah post-test untuk mengetahui
banyaknya konten yang dipahami siswa.
4. Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian dinyatakan sebagai berikut:, SPSS digunakan untuk mendapatkan
data untuk melakukan analisis terhadap uji hipotesis.
H01 : Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang
diajarkan dengan CM-GD dengan yang menggunakan metode demonstrasi
Berdasarkan uji F dan uji t yang tertera pada tabel 2 dan 3, menunjukkan bahwa ada
perbedaan yang signifikan pada taraf signifikansi 5% dimana mereka yang menggunakan
metode CM-GD memiliki prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode demonstrasi.
H02 : Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja anak laki- laki dan
perempuan yang diajarkan dengan metode CM-GD dengan yang diajarkan
dengan metode demonstrasi.
Oleh karena itu, ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja anak laki- laki dan
perempuan yang diajarkan dengan metode CM-GD dengan yang diajarkan dengan metode
demonstrasi.
H03 : Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap tingkat pemahaman siswa yang
diajarkan dengan metode CM-GD dengan yang diajarkan dengan metode
demonstrasi.
Tabel 5 menunjukkan dengan jelas bahwa kelompok eksperimen memiliki skor rata-
rata yang lebih tinggi dan tingkat pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengaan kelas
kontrol. Nilai thitung lebih besar daripada nilai tkritis, sehingga H0 ditolak. Dengan kata lain,
dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajarkan
dengan metode CM-GD dengan yang diajarkan dengan metode demonstrasi.
Dari data gaya belajar siswa pada sekolah 1, dapat dilihat bahwa ada pengaruh besar
pada aspek akomodasi (25% sebelum perlakuan menjadi 11% setelah perlakuan) dan
divergen (30% sebelum perlakun menjadi 13% setelah perlakuan), sedangkan asimilasi
(22,5% sebelum perlakuan menjadi 55% setelah perlakuan).
Tabel 6b menunjukkaan tentang profil gaya belajar siswa pada sekolah 2 dimana
terdapat juga pengaruh besar dalam gaya belajar siswa mulai dari aspek akomodasi (30%
sebelum perlakuan menjadi 17,5% setelah perlakuan) dan divergen (27,5% sebelum
perlakuan menjadi 20% setelah perlakuan) sedangkan asimilasi (27,5% setelah perlakuan dan
40% setelah perlakuan).
Tabel 4 menyatakan bahwa ada kesenjangan yang cukup besar terhadap kinerja yang
dimiliki antara anak laki- laki dan anak perempuan ketika diajarkan pada kondisi yang sama
terutama ketika diajarkan menggunakan CM-GD. Hasil ini mendukung penelitian
sebelumnya, yang menyatakan bahwa anak laki- laki memiliki keahlian yang lebih baik
dibandingkan dengan anak perempuan.
Terdapat pengaruh yang berarti dalam gaya belajar siswa seperti yang ditunjukkan
pada tabel 6 dan tabel 7 pada aspek akomodasi dan divergen terhadap asimilasi dan
konvergensi. Asimilasi adalah kombinasi pengamatan reflektif dan konseptualisasi abstrak
yang melibatkan pembelajaran dengan menciptakan dan menerapkan model konseptual,
menciptakan tantangan dan pengalaman baru, dan menggunakan penalaran induktif secara
efektif. Dalam Kolb Style, konvergen menyiratkan kombinasi aspek konseptualisasi dan
percobaan aktif yang melibatkan praktkum dan berpikir, pemecahan masalah dan sejenisnya,
bereksperimen, dan simulasi.
5. Kesimpulan
Penelitian ini mengimplikasikan bahwa CM-GD merupakan metode pengajaran yang
efektif untuk mengajarkan konsep kimia yang sulit seperti topik elektrokimia karena
menggunakan prinsip berbasis masalah (pengembanagn metode inkuiri terbimbing) yang
dapat meningkatkan restrukturasi kognitif dan hubungan ide untuk struktur pengetahuan yang
ada. Oleh karena itu, disarankan kepada guru kimia agar menggunakan metode ini dalam
melakukan proses belajar mengajar kimia.