Anda di halaman 1dari 4

Sebuah Investigasi tentang Pengaruh Penggunaan Metode Praktikum, Metode Inkuiri

Terbimbing, dan Metode Demonstrasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA


di Daerah Pemerintahan Negara Bagian Kaduna, Nigeria
I. Pendahuluan
Dalam penelitian ini diungkapkan bahwa kebanyakan guru kimia sekolah menengah
masih banyak yang menggunakan metode konvensional. Akanolu di Omwirhiren mengamati
bahwa siswa memiliki banyak kelemahan dalam praktikum kimia. Penulis berhipotesis
bahwa jika praktikum kimia diajarkan pada materi teori titrasi asam basa, kinerja siswa akan
meningkat dan konsep akan lebih mudah dipahami.
Metode laboratorium adalah metode yang berpusat pada siswa berdasarkan aktivitas
siswa dalam melaksanakan kegiatan di laboratorium. Kegiatan ini meliputi menyentuh,
melihat, merasakan, menimbang, mengukur, menunjukkan, melakukan tes/ percobaan dan
kegiatan yang mendorong siswa berpartisipasi aktif, serta berpikir kritis.
Model inkuiri terbimbing memecahkan masalah melalui berpikir kritis, penyelidikan
reflektif, pemikiran deduktif, dan tidak mendasar pada asumsi semata. Ini adalah metode
pengajaran yang melibatkan menyelidik, mencari tahu, menganalisis, mensintesis,
menemukan, mengevaluasi, mempertanyakan, dan berpikir. Melalui kegiatan penyelidikan
ini, guru dapat mendorong siswa untuk memperluas kemampuan berpikir kritis mereka dan
menggunakan logika mereka untuk mencari jawaban permasalahan ilmiah.
Metode demonstrasi adalah suatu teknik pengajaran yang mengkombinasikan antara
penjelasan lisan dengan praktek untuk membicarakan proses, konsep, dan fakta- fakta. Hal ini
sangat efektif dalam mengajarkan keterampilan yang dapat diamati.
Meskipun terdapat beberapa penelitian yang mendukung metode pembelajaran ini,
belum ada penelitian di negara bagian Kaduna, Nigeria yang meneliti tentang pengaruh
penggunaan ketiga metode tersebut terhadap prestasi akademik siswa dalam bidang kimia.
Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada bagaimana dampak penggunaan tiga metode
pembelajaran ini terhadap prestasi akademik siswa dalam bidang kimia.
II. Tujuan Penelitian
Secara khusus penelitian ini berusaha untuk:
1. Menentukan apakah metode inkuiri terbimbing dan metode laboratorium memiliki
pengaruh terhadap prestasi belajar siswa
2. Menentukan apakah metode demonstrasi dan metode inkuiri terbimbing memiliki
pengaruh terhadap prestasi belajar siswa
3. Menentukan apakah perpaduan antara metode laboratorium, metode inkuiri
terbimbing, dan metode demonstrasi dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.
III. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:
1. Apakah penggunaan metode inkuiri terbimbing memiliki pengaruh terhadap prestasi
belajar siswa?
2. Apakah penggunaaan metode demonstrasi memiliki pengaruh terhadap prestasi
belajar siswa dalam praktikum kimia?
3. Apakah penggunaan metode laboratorium memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar
siswa?
IV. Hipotesis Nol
Berikut hipotesis nol yang dihasilkan pada penelitian ini (taraf signifikansi 0,05):
1. Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang diajarkan
menggunakan LDM dengan yang menggunakan IQM pada materi titrasi asam basa
pada kelas eksperimen
2. Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang diajarkan
menggunakan LM dengan yang menggunakan IQM pada materi titrasi asam basa
pada kelas kontrol
3. Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang diajarkan
menggunakan LM dengan yang menggunakan LDM pada materi titrasi asam basa
pada kelas eksperimen
4. Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang diajarkan
menggunakan LDM dengan yang menggunakan IQM pada materi titrasi asam basa
pada kelas kontrol.
V. Manfaat Penelitian
Penelitian ini akan membantu untuk hal- hal berikut:
1. Siswa akan mendapatkan manfaat yang besar dalam pemahaman materi dan minat
mereka terhadap praktikum kimia akan bertambah karena menggunakan laboratorium,
metode demonstrasi, dan metode inkuiri terbimbing
2. Guru kimia akan memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan kompetensi
dan profesionalitas mereka di dalam laboratorium kimia dan di dalam kelas untuk
meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep kimia melalui laboratorium,
metode demonstrasi, dan metode inkuiri terbimbing
3. Penelitian ini akan membentu perencana pendidikan/ administrator untuk
menyediakan alat yang diperlukan dan kondisi yang memungkinkan untuk
meningkatkan praktikum menggunakan laboratorium, metode demonstrasi, dan
metode inkuiri terbimbing
4. Penelitian ini akan membentu peneliti lain yang serupa pada topik kimia yang lain.
VI. Metodologi
6.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain pre-test post-test quasi-experimental di daerah
pemerintahan negara bagian Kaduna di Nigeria Utara. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah materi titrasi asam basa, alat dan bahan untuk praktikum, serta 20 butir
soal yang digunakan untuk pre-test, kemudian nilai post-test diambil dari nilai titrasi asam
basa (ABAT).
6.2 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini terdiri dari semua sekolah menengah di daerah Pemerintahan
Giwa, negara bagian Kaduna. Giva dan environ terdiri dari tiga belas sekolah menengah yang
memiliki sekitar 9. 277 siswa.
6.3 Sampel
Sampel terdiri dari 123 siswa yang berasal dari SMA, SSII, dan SSIII.
6.4 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan adalah nilai tes asam basa (ABAT) 1 dan 2. Butir tes yang
digunakan berjumlah 24 yang terdiri dari 20 soal objektif dan 4 soal essai yang diambil dari
silabus SMA. Post-test terdiri dari sepuluh pertanyaan yang direstrukturasi pada topik yang
sama.
Peneltian ini melibatkan dua tahap utama, yaitu administrasi pre-test dan post-test
yang berisi pertanyaan yang sama namun diatur dalam urutan yang berbeda. Penelitian ini
dilakukan dalam tiga minggu pada topik titrasi asam basa dan dilakukan pada dua daerah
GSS Y/ Wada, GSS Giwa dan MAISS berkumpul di sekolah MAISS dan GSS Kaya. Pre- test
dilakukan pada hari pertama terhadap 40 murid dari masing- masing daerah. Semuanya
diadakan di laboratorium sekolah dengan menggunakan bahan- bahan yang disediakan oleh
pihak sekolah.
Setelah pemberian pre-test, siswa di semua kelompok pada dua daerah tersebut
diberikan topik tittrasi asam basa oleh peneliti dan diperkenalkan tentang peralatan, prosedur,
penjelasan perlakuan, dan cara untuk mengatur statif untuk praktikum. Kelompok dibagi
menjadi dua sub kelompok dan diajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing
selama minggu pertama penelitian. Siswa diberi waktu sepuluh hari untuk membaca materi
dan membuat daftar bahan dan peralatan yang digunakan dalam percobaan. Peneliti
menjelaskan materi dan siswa melakukan praktikum dengan bantuan dan bimbingan dari
peneliti. Pertanyaan menarik diberikan selama praktikum berlangsung. Para siswa juga
diajarkan dengan menggunakan metode demonstrasi. Para siswa tidak diberi materi atau topik
dan tidak dibagi menjadi beberapa kelompok. Peneliti hanya mendemostrasikan percobaan di
depan kelas sementara siswa menyaksikan penjelasan yang diberikan oleh peneliti. Namun,
beberapa siswa diberi kesempatan untuk memeragakan ulang percobaan di depan kelas.
Para siswa yang dijadikan sebagai kelas kontrol diberikan materi dan dijelaskan
mengenai percobaan yang dilakukan dengan menggunakan metode konvensional. Proses
pengajaran dilakukan selama lima minggu dan post-test diberikan kepada semua siswa.
6.5 Validasi Instrumen Penelitian
Sebelum pemberian tes, pertanyaan yang diujikan harus divalidasi terlebih dahulu.
Butir tes yang berasal dari tes standar diberikan kepada dua puluh mahasiswa yang tidak aktif
tetapi memiliki latar belakang kimia. Hal ini dilakukan untuk menentukan tingkat kesulitan
dari pertanyaan yang diberikan. Koefisien reabilitas dihitung dengan menggunakan metode
korelasi pearson-product moment dengan menggunakan nilai r= 083. Ini menunjukkan bahwa
tes itu dapat diandalkan dan dengan demikian akan menentukan apakah tes tersebut bisa
digunakan atau tidak.
6.6 Metode Analisis Data
Data yang dikumpulkan dianalisis denagn menggunakan mean, standar deviasi, dan
uji-t untuk menguji perbedaan yang signifikan antara tiga metode mengajar dan analisis
varian satu arah (ANOVA one-way) untuk membandingkan skor siswa dalam dua kelompok
pada saat tes asam-basa (ABAT-1) yang disebut sebagai pre-test. Hal ini juga dilakukan pada
ABAT 2, yang disebut sebagai pos-test. Hasil analisis akan dilakukan dengan taraf
signifikansi 0,05 (P<0,05).
VII. Hasil
Hipotesis I (H01)
Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja belajar siswa yang diajarkan
dengan menggunakan LM maupun LDM.
Skor yang diperoleh dalam post-test dianalisis menggunakan uji-t dan hasilnya
disajikan dalam tabel 3. Dari tabel 2, diperoleh t c= 16,24 sementara tt= 1,67 pada p < 0,05,
db= 69. Oleh karena tc= 16,24> tt= 1,67, berarti menempatkan siswa pada kondisi yang
relevan akan membuat kinerja siswa menjadi lebih baik.
Hipotesis II
Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja siswa yang diajarkan dengan
menggunakan LM dan yang diajarkan dengan menggunakan IQM.
Untuk menguji hipotesis ini, digunakan uji t (tabel 3). Dari tabel dapat dilihat bahwa
harga tc = 11,84 sementara tt= 1,67 pada p > 0,05, db= 71. Oleh karena t c > tt maka ada
perbedaan signifikan terhadap prestasi belajar siswa jika menggunakan LM.
Hipotesis III
Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja siswa antara yang diajarkan
dengan LDM dan yang diajarkan dengan menggunakan IQM. Hipotesis ini diuji dengan
menggunakan uji-t (tabel 4). Dari tabel ini (5) tc= 13,59 sementara tt= 1,67 pada p < 0,05, db=
70 sehingga tc> tt.
Hipotesis IV
Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja siswa dalam tiga kelompok
eksperimen maupun terhadap kelas kontrol. Untuk menguji hipotesis ini, tes analisis varians
(ANAVA) dilakukan dengan menggunakan hasil belajar siswa pada materi titrasi asam basa.
Hasilnya disajikan pada tabel 5. Hasil dari tabel 6 menunjukkan bahawa F c= 188,38
sedangkan Ft= 3,92 pada p < 0,05, db= 3,144. Oleh karena F c > Ft maka dapat dinyatakan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kinerja siswa yang diajarkan dalam
beberapa metode belajar.
VIII. Pembahasan
Hasil penelitian ini telah memberikan bukti empiris dalam mendukung keberhasilan
penggunaan metode pembelajaran dalam bidang kimia. Dari tabel 2, dapat dilihat bahwa
penggunaan LM dan LDM terhadap prestasi siswa dalam ujian praktek titrasi asam basa
dengan menggunakan nilai post-test diperoleh bahawa t hitung (16,24) lebih besar dari tkritis
(1,67) pada db= 69 dengan taraf signifikansi 0,05 dan skor rata- rata (82,88 dan 73,03). Oleh
karena itu, hipotesis nol ditolak yang menyiratkan bahwa ada perbedaan yang signifikan
terhadap prestasi belajar siswa antara siswa yang diajarkan dengan LM dengan yang
diajarkan dengan LDM. Penelitiann sebelumnya juga telah mengamati bahwa terdapat
peningkatan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan LM karena siswa
memiliki pengalaman yang nyata dengan objek dan konsep serta memberikan kesempatan
kepada siswa untuk terlibat secara langsung dalam proses penyelidikan.
Efek penggunaan LM dan IQM dapat dilihat pada tabel 3, dimana t hitung (11,84) lebih
besar daripada tkritis (1,67) pdaa db= 71 dan taraf signifikansi 0,05. Hipotesisi nol ditolak dan
skor rata- rata LM dan IQM (82, 88 dan 82,11) menunjukkan bahwa LM lebih efektif
daripada IQM.
Efek penggunaan LDM dan IQM terhadap nilai siswa dapat dilihat pada tabel 4,
dimana diperoleh skor rata- rata untuk LDM dan IQM adalah 82,11 dan 73,03 dimana t hitung
13,59 lebih besar daripada tkritis (1,67) pada db= 70 dengan taraf signifikansi 0,05. Dengan
demikian, hipotesis nol ditolak yang menyiratkan bahwa ada perbedaan yang signifikan
terhadap prestasi belajar siswa pada materi titrasi asam basa.
Pada tabel 5, uji F digunakan untuk menguji hipotesis nol yang menyatakan bahwa
ada perbedaan yang signifikan antara metode pengajaran untuk penelitian ini (LM, LDM,
IQM, dan CG) dalam pencapaian prestasi belajar siswa pada ujian praktek titrasi asam basa.
Tabel 5 memberikan perhitungan ringkasan pada taraf signifikansi 0,05 dan db= 3,144,
Fhitung= 188,38 dan Fkritis= 3,92. Oleh karena itu, Fkritis tidak signifikan yang berarti hipotesis itu
ditolak. Oleh karena itu, ada perbedaan yang signifikan dalam pencapaian siswa pada nilai
post-test ujian praktek titrasi asam basa.
IX. Kesimpulan
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi bermakna seperti pendekatan
inkuiri berdampak pada tingginya prestasi belajar siswa. Penerapan metode laboratorium
dalam penilaian ini memberikan hasil yang lebih signifikan terhadap prestasi belajar siswa
pada materi titrasi asam basa dibandingkan dengan metode inkuiri dan metode demonstrasi,
sehingga metode laboratorium merupakan metode yang efektif bagi siswa sekolah menengah.
X. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini,
berikut rekomendasi yang ditawarkan:
1. Siswa yang diajarkan dengan menggunakan LM memiliki nilai yang lebih tinggi, sehingga
guru disarankan menggunakan metode ini dalam pembelajaran
2. Kemenenterian pendidikan harus memastikan bahawa setiap SMA setidaknya memilki
satu laboratorium kimia yang baik sebelum memberikan persetujuan. Hal ini karena
laboratorium berguna untuk meningkatkan keterampilan psikomotorik siswa serta
meningkatkan pula prestasi akademik mereka.