Anda di halaman 1dari 40

KONSULTASI DAN KONSELING KELUARGA HARMONIS

PADA PUSAT PELAYANAN KELUARGA SEJAHTERA

Penanggung Jawab : Dra. Elisabeth Kuji


Penulis : Nurlaila Susilowati, SKM, M.Kes
Kontributor : 1. Drs. Furqon Ia Faried, MA
2. Kartono Donohusodo, SH, M.pd
3. Suharwinoto,SE
4. Indrawati,SH
5. Sugeng Widodo, S.Sos
6. Zulkipli Lubis,SE
7. Chairul Zaman,SE
8. Santoso, SE
Tata letak & : Ridwan Nugraha
Desain sampul

Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan


Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Cetakan pertama

Jakarta, April 2013

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau


seluruh isi buku ini tanpa izin dari Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan
Rentan

ISBN : 978-602-8068-82-6
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, karena atas rahmat
dan karunia-Nya, buku Konsultasi dan Konseling Keluarga Harmonis Pada
Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Buku ini disusun sebagai acuan dan rujukan bagi semua pihak dalam
penyelenggaraan dan pengembangan PPKS. Dengan diterbitkannya buku ini
diharapkan para pengelola dan pelaksana dapat melaksanakan berbagai kegiatan
secara terintegrasi dengan melibatkan unsur terkait dalam pelaksanaan dan
pengembangan PPKS disemua tingkatan.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada
seluruh tim penyusun yang telah memberikan sumbangan pikiran dan tenaga dalam
penyusunan buku ini. Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih belum
sempurna, untuk itu kami mohon masukan dan saran untuk perbaikan dimasa yang
akan datang.

Jakarta, April 2013


Direktur Bina Ketahanan
Keluarga Lansia & Rentan

Dra. Elisabeth Kuji

i
KATA SAMBUTAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan arus informasi begitu


deras masuk ke seluruh lapisan masyarakat. Informasi tersebut tentunya membawa
pengaruh bagi kehidupan keluarga. Pengaruh tersebut dapat berdampak positif dan
negatif, terutama pengaruh dari budaya barat yang kurang sesuai dengan budaya
timur yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan setiap keluarga diIndonesia harus


memiliki ketahanan keluarga yang kuat. Undang-undang No. 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pasal 47 menyatakan
bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menetapkan Kebijakan Pembangunan
Keluarga melalui Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga.

Ketahanan keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan


ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material guna hidup mandiri dan
mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan
kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.

Dalam upaya pembangunan ketahanan keluarga di Indonesia, maka mulai tahun


2012, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) diseluruh Indonesia telah membentuk Pusat Pelayanan Keluarga
Sejahtera (PPKS). PPKS ini merupakan wadah yang berbasis institusi yang
memberikan konsultasi, KIE, konseling, bimbingan, dan fasilitasi pada keluarga.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan di PPKS, maka disediakan 8


(delapan) materi konsultasi, konseling, bimbingan, dan pembinaan yang terdiri dari
pelayanan data dan informasi kependudukan dan keluarga berencana; konsultasi
dan konseling keluarga balita dan anak; keluarga remaja dan remaja; pranikah;
keluarga berencana dan kesehatan reproduksi; keluarga harmonis; keluarga lansia
dan lansia; dan pembinaan pemberdayaan usaha ekonomi keluarga.

Saya menyambut baik diterbitkannya buku materi konsultasi, kons eling, dan
pembinaan program keluarga sejahtera untuk mendukung pelaksanaan PPKS.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang peduli pada pelaksanaan
dan pengembangan PPKS.

Jakarta, April 2013


Deputi Bidang Keluarga Sejahtera
dan Pemberdayaan Keluarga,

Dr. Sudibyo Alimoeso, MA

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


KATA SAMBUTAN .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................... 2
C. Batasan Pengertian ............................................................................... 2

BAB II KONSULTASI DAN KONSELING KELUARGA HARMONIS .................. 3


A. Kriteria Keluarga Harmonis .................................................................... 3
B. Tahap Perkembangan Kehidupan Keluarga dan
Penyesuaian dalam Perkawinan ........................................................... 5

BAB III PERMASALAHAN YANG DIHADAPI KELUARGA


DAN UPAYA PEMECAHAN ................................................................................ 15
A. Konflik Keluarga dan Anak-Anak ........................................................... 15
B. Tidak Setia Terhadap Pasangan ........................................................... 17
C. Tekanan Ekonomi .................................................................................. 19
D. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ........................................... 20
E. Masalah Keluarga Muda ........................................................................ 21
F. Masalah Seputar Rumah Tangga .......................................................... 25

BAB IV PENUTUP ............................................................................................... 34


DAFTAR KEPUSTAKAAN .................................................................................. 35

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkawinan adalah bersatunya dua individu yang memiliki latar belakang, adat
istiadat dan budaya yang berbeda dalam satu ikatan yang sah. Pada umumnya
perkawinan dilaksanakan pada saat seseorang memasuki usia dewasa. Masa
dewasa terbagi ke dalam tiga bagian yaitu masa dewasa muda, dewasa madya
dan dewasa akhir. Usia dewasa muda merupakan saat yang paling banyak
dipilih orang untuk mengambil keputusan melangsungkan perkawinan. Banyak
pendapat yang mengatakan bahwa memasuki perkawinan adalah ibarat bermain
gambling yang tidak ada satupun yang tahu apakah perkawinannya akan
berlangsung lama atau tidak. Oleh karena itu, untuk dapat mencapai perkawinan
yang langgeng perlu dilakukan perawatan dan pemeliharaan yang terjaga dan
terus menerus. Perasaan cinta yang melandasi perkawinan hendaknya cinta
yang utuh/sempurna, sehingga dapat menjadi dasar yang kokoh untuk kemudian
dapat mewujudkan keluarga yang harmonis dan mencapai kebahagiaan.

Kondisi tersebut hendaknya dapat dimiliki dan diupayakan oleh setiap keluarga,
khususnya yang sudah memasuki gerbang perkawinan pada masa usia dewasa
muda dan dewasa madya. Namun demikian, pada kenyataannya cukup banyak
pasangan suami istri (Pasutri) yang menghadapi berbagai permasalahan dalam
perkawinannya yang terkadang bahkan berujung/berakhir pada perceraian.
Untuk menghindari dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi
Pasutri, Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) menyediakan pelayanan
konsultasi dan konseling keluarga harmonis. Sebagai pembekalan bagi petugas
pelayanan dimaksud perlu disusun buku Konsultasi dan Konseling Keluarga
Harmonis.

1
B. Tujuan
Memberikan panduan/pegangan kepada petugas pelayanan di PPKS dalam
melaksanakan konsultasi dan konseling kepada pasangan suami istri/keluarga
untuk dapat mewujudkan keluarga harmonis.

C. Batasan Pengertian
1. Masa dewasa muda atau dewasa muda yaitu mulai berakhirnya masa
remaja sampai usia di bawah 40 tahun,
2. Masa dewasa madya atau usia tengah/paruh baya yaitu berkisar antara usia
40 60 tahun.
3. Masa dewasa akhir atau masa usia lanjut yakni pada usia 60 tahun ke atas
(Yudiana, 2009).
4. Segitiga cinta (The Triangle of Love) menurut Robert J Sternberg (buku The
Psychology of Love:1988), Cinta terdiri dari tiga komponen, yang
membentuk segitiga yaitu : intimacy (keintiman), passion (hasrat/gairah) dan
commitment/ decision (komitmen/keputusan).
5. Intimacy (keintiman) adalah elemen emosi dan merujuk pada perasaan
kedekatan, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust)
serta keinginan untuk membina keterhubungan dan keterikatan dalam suatu
hubungan.
6. Passion (hasrat/gairah) adalah elemen motivasional yang didasari oleh
dorongan dari dalam diri yang berujung pada percintaan, ketertarikan fisik,
hubungan seksual, dan rasa suka dalam suatu hubungan cinta
7. Commitment/decision yaitu elemen kognitif yang terdiri dari 2 aspek; jangka
pendek dan jangka panjang. Aspek jangka pendek yaitu keputusan
seseorang mencintai seseorang lainnya. Sedang aspek jangka panjang
adalah komitmen untuk membina atau menjaga cinta tersebut.
8. Altruistic Love Sifat adalah cinta yang tanpa pamrih, melakukan semua
aktivitas untuk pasangan dengan keikhlasan dan dengan penuh kecintaan.

2
BAB II
KONSULTASI DAN KONSELING KELUARGA HARMONIS

Pelaksanaan konsultasi dan konseling ini ditujukan kepada pasangan suami istri
yang ingin menyampaikan keluhan atau ketidaksesuaian hubungan dalam keluarga,
bahkan mungkin permasalahan-permasalahan dalam keluarga yang menimbulkan
konflik dan dapat mempengaruhi keutuhan rumah tangga. Melalui kegiatan
konsultasi dan konseling diharapkan dapat membantu terwujudnya keluarga
harmonis pada setiap keluarga. Pembahasan pada bab II ini diawali dengan kriteria
keluarga harmonis.

A. Kriteria Keluarga Harmonis


Setiap keluarga dapat mewujudkan keluarga harmonis apabila memiliki kriteria
sebagai berikut.

1. Status perkawinan yang sah


Keluarga dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, baik menurut agama
maupun negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Di samping itu, perkawinan telah berlangsung minimal 25 tahun;

2. Ketaatan beribadah
Keluarga menjalankan ibadah dengan baik sesuai dengan keyakinan
masing-masing, mengajarkan agama sedini mungkin kepada anak-anak,
memiliki moral, etika dan toleransi yang tinggi, saling menghormati dan
menghargai antar anggota keluarga termasuk dengan pembantu
rumahtangga dan lingkungannya.

3. Usia kawin pertama yang ideal


Pasangan suami istri menikah pada usia yang cukup matang, yakni usia 20
tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Batasan usia ini
mempertimbangkan kesiapan fisik khususnya organ reproduksi perempuan
serta kematangan mental dan emosional yang berkaitan dengan
tanggungjawab sebagai suami.

3
4. Perkawinan dengan perencanaan keluarga
Keluarga merencanakan perkawinan dengan baik yang seyogyanya sudah
dibicarakan mulai dari masa persiapan perkawinan antara lain tentang:
jumlah anak, jarak anak, waktu untuk memiliki anak sesuai dengan kurun
reproduksi sehat (20 35 tahun).

5. Kesiapan ekonomi yang memadai


Keluarga mempunyai penghasilan yang memadai untuk dapat memenuhi
sebagian besar kebutuhan dan keberlangsungan hidup berkeluarga.

6. Berkomunikasi dengan baik


Seluruh anggota keluarga mampu menjalin komunikasi yang baik secara
teratur pada setiap kesempatan sebagai ekspresi kedekatan kepedulian
antar anggota keluarga.

7. Jumlah ideal anak


Keluarga memiliki keinginan untuk mempunyai anak yang didasarkan pada
pertimbangan kesehatan reproduksi istri, kesiapan ekonomi, serta
pertumbuhan dan perkembangan anak. Berdasarkan pertimbangan tersebut
maka jumlah ideal anak setiap keluarga maksimal dua.

8. Keadilan dan kesetaraan gender dalam pendidikan


Keluarga memberikan kesempatan pendidikan yang adil antara anak laki-
laki dan perempuan berdasarkan minat, potensi dan kemampuan anak.

9. Kepedulian terhadap lingkungan


Keluarga mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, baik lingkungan fisik
(menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat tinggal) maupun lingkungan
sosial (hubungan yang terjaga baik dan harmonis dengan tetangga, kerabat
dan teman, saling menghormati, toleransi dan empati kepada lingkungan
sosial)..

10. Keteladanan bagi anggota keluarga


Ayah dan ibu senantiasa menanamkan keimanan kepa Tuhan Yang Maha
Esa, kerukunan, komunikasi dan keakraban antar anggota keluarga, sikap
santun, pendidikan yang memadai untuk semua anggota keluarga,

4
11. Cinta yang utuh/sempurna
Pasangan suami istri mampu menjaga dan mewujudkan cinta yang
utuh/sempurna selama kehidupan perkawinannya. Cinta yang
utuh/sempurna menurut Robert Stenberg dibangun dengan mewujudkan
Segi Tiga Cinta yaitu dengan selalu saling menjaga kedekatan (intimacy),
menjaga dan meningkatkan gairah (passion) terhadap pasangan, serta
memegang teguh komitmen (commitment).

12. Pembagian peran yang seimbang


Keluarga menerapkan pembagian peran yang seimbang antar anggota
keluarga, baik perempuan maupun laki-laki sesuai dengan kemampuan
masing-masing, sehingga keteraturan dan keberlangsungan kehidupan
keluarga dapat berjalan baik dan melatih anak-anak kemandirian.

13. Berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di lingkungan tempat


tinggal
Keluarga memiliki kepedulian terhadap permasalahan yang ada di sekitar
tempat tinggalnya dan senantiasa meningkatkan empati dan solidaritas antar
warga dengan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di
lingkungan tempat tinggal.

B. Tahap Perkembangan Kehidupan Keluarga dan Penyesuaian dalam


Perkawinan

1. Tahap perkembangan kehidupan keluarga


Tatkala seseorang memasuki perkawinan tentunya mengalami beberapa
perkembangan dalam kehidupan keluarga. Tahapan perkembangan yang
akan dilalui yaitu mulai dari tahap pengantin baru, keluarga dengan anak
kecil, keluarga dengan anak remaja, tahap melepas anak sampai dengan
tahap keluarga usia lanjut. Hal-hal yang dialami pada masing-masing
tahapan adalah sebagai berikut.
a. Tahap pengantin baru
Pada umumnya masa pengantin baru dipandang sebagai masa yang
paling menyenangkan dan membahagiakan. Namun, di sisi lain masa ini
juga merupakan masa yang paling sulit dan kompleks karena

5
merupakan masa penyesuaian atau adaptasi dari dua orang yang
berbeda latar belakang, kebiasaan, adat istiadat, dan sifat. Pada masa
pacaran acapkali seseorang tidak menampilkan sifat-sifat yang
sebenarnya bahkan cenderung hanya menampakkan hal yang baik saja.

Pada tahap inilah setiap individu dituntut untuk mampu melakukan


penyesuaian-penyesuaian terhadap perbedaan yang ada dengan
pasangannya misalnya dalam hal; kebiasaan makan, hubungan dengan
orangtua/adik/kakak/teman/, pola tidur, penggunaan uang termasuk juga
dalam pengambilan keputusan. Di samping itu pada tahap ini
seyogyanya dibicarakan dan disepakati pula hal-hal yang berkaitan
dengan perencanaan keluarga antara lain tentang jumlah anak yang
diinginkan, kapan saat yang tepat untuk mempunyai anak, persiapan
yang harus dilakukan dalam menghadapi kehamilan, pemeriksaan
kehamilan yang harus dilakukan, serta bagaimana pola pengasuhan
yang akan diterapkan termasuk rencana pemberian air susu ibu (ASI).
Hal yang tak kalah penting dan acapkali dilupakan adalah berkaitan
dengan kemungkinan jika tidak dikaruniai anak.

b. Tahap keluarga dengan anak kecil


Setelah melewati masa pengantin baru dan selanjutnya memiliki anak,
pasangan perlu merundingkan dan menyepakati mengenai cara
memantau pertumbuhan dan perkembangan anak serta pola
pengasuhan yang akan diterapkan termasuk jika ada keinginan istri
untuk berkarir. Setiap pasangan perlu menyadari konsekuensi yang
terjadi dengan kehadiran anak dan pentingnya kesepakatan dalam
pembagian peran serta tanggungjawab masing-masing terhadap anak.
Oleh karena, acapkali para suami merasa tersisihkan dengan besarnya
perhatian istri kepada anak pada bulan-bulan pertama kelahiran.
Pembagian peran gender pada tahap ini proporsi terbesar ada pada
istri/ibu sampai anak berusia 5 tahun, oleh karena sejak bayi sampai
anak berusia 2 tahun ibu memegang peranan penting dalam pemberian
ASI yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian makanan bergizi
lainnya. Ketika anak berusia 6 7 tahun proporsi peran ibu dan bapak

6
seimbang, kemudian pada saat anak beranjak remaja proporsi peran
terbesar adalah pada bapak.

c. Tahap keluarga dengan anak remaja


Pada tahap ini pasangan memiliki anak tertua yang berusia sekitar 13
tahun dan orangtua sudah mulai memberikan tanggungjawab dan
kebebasan yang lebih besar kepada anak. Pasangan perlu selalu
memberikan dorongan agar remaja dapat meningkatkan kemampuan
dan kemandiriannya, khususnya dengan meningkatkan pola komunikasi
yang efektif termasuk juga memberikan informasi tentang kesehatan
reproduksi secara lebih terbuka. Pemahaman yang tepat dan benar
mengenai kesehatan reproduksi, dapat mempersiapkan anak melewati
masa remajanya secara sehat dan bertanggunggjawab. Proporsi peran
suami/bapak pada tahap ini lebih besar dibandingkan dengan istri/ibu.

d. Tahap melepas anak


Tahap ini terjadi pada saat orangtua memasuki usia dewasa madya dan
anak tertua sudah memasuki perguruan tinggi, menikah atau bekerja.
Jika semua anak sudah menikah dan meninggalkan orangtuanya
(sarang kosong), keluarga semakin menyusut dan akhirnya tinggal
pasangan asal serta menjadi nenek/kakek. Pada tahap ini pasangan
perlu melakukan reorganisasi keluarga ke arah satuan yang kontinyu
sambil melepas anak yang beranjak dewasa dan atau sudah dewasa ke
satu kehidupan yang mandiri.

e. Tahap keluarga usia lanjut


Walaupun pada masa ini pasangan asal kembali berdua seperti juga
pada tahap melepas anak, namun status dan kedudukannya berbeda
karena sudah menjadi kakek dan nenek. Pasangan akan menghadapi
tantangan-tantangan lain yang memerlukan penyesuaian di masa usia
lanjut, misalnya pensiun, ditinggal pasangan karena meninggal dan
mulai timbulnya penyakit degeneratif. Selain melakukan reorientasi dan
reorganisasi, pasangan juga perlu melakukan penyesuaian dengan
lingkungan.

7
2. Penyesuaian dalam perkawinan
Penyesuaian dalam suatu perkawinan terdiri dari : penyesuaian di awal
perkawinan, penyesuaian menjadi orangtua, penyesuaian di masa dewasa
madya, dan penyesuaian di masa dewasa akhir sebagaimana uraian berikut
ini.
a. Penyesuaian di awal perkawinan
Peran penting dalam perkawinan ditentukan oleh hubungan
interpersonal yang tentunya jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan
hubungan persahabatan atau bisnis. Semakin banyak pengalaman
dalam hubungan interpersonal antara laki-laki dan perempuan yang
dimiliki oleh seseorang, semakin besar pula pengertian wawasan sosial
yang telah mereka kembangkan, dan semakin besar kemauan mereka
untuk bekerjasama dengan sesamanya, serta semakin baik satu sama
lain menyesuaikan diri dalam perkawinan. Tantangan pada periode awal
perkawinan adalah masa-masa perjuangan untuk memperoleh
kebahagiaan dan kemapanan hidup.

Pada saat suami istri berikrar untuk menikah, berarti masing-masing


mengikatkan diri pada pasangan hidup dan kebebasan sebagai
individu dikorbankan. Perkawinan bukan sebuah titik akhir, akan tetapi
sebuah perjalanan panjang untuk mencapai tujuan yang telah disepakati
bersama. Tiap pasangan harus terus belajar mengenai kehidupan
bersama, dan harus kian menyiapkan mental untuk menerima kelebihan
maupun kekurangan pasangannya dengan kontrol diri yang baik.
Hurlock (2002) mengemukakan bahwa penyesuaian dan tanggungjawab
sebagai suami atau istri dalam sebuah perkawinan akan berdampak
pada keberhasilan hidup berumahtangga. Keberhasilan yang dicapai
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap adanya kepuasan hidup
perkawinan, mencegah kekecewaan dan perasaan-perasaan bingung,
sehingga memudahkan seseorang untuk menyesuaikan diri dalam
kedudukannya sebagai suami atau istri dan kehidupan lain di luar rumah
tangga.

Tahun-tahun pertama perkawinan merupakan masa rawan atau era kritis


karena belum banyaknya pengalaman bersama. Periode awal

8
perkawinan merupakan masa penyesuaian diri, dan krisis muncul pada
saat pertama kali memasuki jenjang perkawinan. Pasangan suami istri
harus banyak belajar tentang pasangan masing-masing dan diri sendiri
yang mulai dihadapkan dengan berbagai masalah.

Dua kepribadian harus saling menempa diri untuk dapat sesuai satu
sama lain serta dapat memberi dan menerima. Penyesuaian perkawinan
dari pasangan suami istri di awal perkawinan melewati beberapa fase
sebagai berikut.

1) Fase bulan madu


Fase ini merupakan fase yang paling indah karena masing-masing
pihak berupaya membahagiakan pasangannya. Para pasangan tidak
berupaya menonjolkan perbedaan, melainkan saling menutupi
kelemahan masing-masing dan mengabaikan kekurangan yang ada
pada pasangannya.

2) Fase pengenalan kenyataan


Hal-hal yang memerlukan adaptasi dalam fase ini antara lain dalam
hal kebiasaan pasangan. Kebiasaan pasangan suami istri yang
paling sering muncul yaitu :

a) suami atau istri terkejut dengan perubahan sikap yang terjadi


pada pasangannya;

b) pasangan suami istri belum terbiasa dengan perubahan sikap


yang terjadi pada pasangannya di awal perkawinan;

c) salah satu pasangan ingin mengubah kebiasaan pasangannya;

d) salah satu pasangan menginginkan pasangannya masuk ke


dalam kehidupannya;

e) salah satu pasangan menginginkan agar pasangannya lebih


dapat menerima kebiasaan-kebiasaan serta menerima keadaan
dirinya apa adanya.

9
3) Fase kritis perkawinan
Fase ini adalah fase paling rawan yang mungkin akan mengancam
kehidupan perkawinan setelah mengenal kenyataan yang
sebenarnya. Tingginya pendidikan bukan jaminan bahwa pasangan
ini bisa beradaptasi dengan baik, dan dapat menyelesaikan
permasalahannya. Masalah seksual juga dapat menjadi salah satu
sumber masalah terutama bila pasangan tidak terbuka dalam
masalah seksual. Fase kritis akan semakin meruncing ketika ada
keterlibatan keluarga salah satu pasangan. Hal itu berdampak
karena salah satu pasangan dihadapkan pada kebimbangan dan
kedekatan emosional antara keluarga atau suami/istrinya.

4) Fase menerima kenyataan


Pada fase ini suami istri ada yang menjalankan perkawinan dengan
cara-caranya sendiri atau dengan aturan yang disepakati oleh kedua
belah pihak. Sehingga kehidupan rumah tangga dapat berjalan
dengan baik walaupun ada perbedaan di antara mereka. Kedua
pasangan banyak belajar dan berkaca pada orang-orang yang
sudah berpengalaman.

5) Fase kebahagiaan sejati


Salah satu tujuan perkawinan adalah kebahagiaan. Perbedaan
bukanlah penghalang bagi pasangan untuk mencapai tujuan jangka
panjang dalam perkawinan dan mendapatkan kebahagiaan. Ada
juga keluarga yang menjalani kehidupan perkawinannya apa
adanya dan tidak menetapkan kebahagiaan dan kesejahteraan
sebagai tujuan perkawinan. Pasangan ini melihat rumah tangga
sebagai amanah sehingga dijalani apa adanya, karena itu tidak
memuat aturan-aturan yang ketat dalam rumah tangga. Apabila
kebahagiaan gagal dicapai, anak seringkali dijadikan alasan untuk
mendapatkan kebahagiaan. Walau terjadi perceraian, anak
seringkali dijadikan tujuan, karena menurutnya anak adalah masa
depan yang harus dijaga.

10
b. Penyesuaian menjadi orangtua
Setelah pasangan melewati penyesuaian di awal perkawinan,
selanjutnya mereka dihadapkan pada penyesuaian dalam tugasnya
sebagai orangtua. Pengalaman pertama memiliki anak serta tidak
diketahuinya cara pengasuhan anak yang benar terkadang dapat
membuat stress pasangan. Pengasuhan anak sering dianggap sebagai
sesuatu yang mudah dan dapat berlangsung dengan sendirinya,
padahal sesungguhnya betapa luas dan dalamnya pengasuhan anak.
Perasaan tidak berdaya atau tidak mampu mengasuh anak dapat
mempengaruhi kesehatan psikologis orangtua. Oleh karena itu, pada
saat memasuki perkawinan setiap pasangan sangat penting memiliki
pemahaman tentang pengasuhan anak sebagai titipan Tuhan.

c. Penyesuaian di masa dewasa madya


Penyesuaian yang dilakukan pada masa dewasa madya berkaitan
dengan penyesuaian perkawinan masa postparental atau setelah
memiliki anak. Proses pengembangan yang terjadi dalam perkawinan
didasari oleh empat aspek yang dikenal dengan istilah LOVE yaitu
Listen, Observe, Value dan Emphaty. Listen, dimaksudkan bahwa dalam
satu perkawinan hendaknya suami atau istri harus berusaha menjadi
pendengar yang baik. Pertengkaran yang terjadi seringkali hanya karena
salah satu dari mereka tidak mau mendengar pendapat ataupun keluhan
pasangannya. Observe, yaitu kemampuan untuk mengamati perilaku
orang lain agar kita dapat lebih memahami perasaan, permasalahan
ataupun hal-hal lain yang tidak berani dikemukakan oleh salah satu
pasangan. Kemampuan untuk melakukan pengamatan perlu dimiliki
dan sangat diperlukan sehingga pasangan suami istri dapat saling
menghargai dan memahami hal-hal yang tersirat sekalipun antara lain
melalui pemahaman tentang bahasa tubuh pasangannya.

Value, artinya suami istri juga harus dapat memahami dan kemudian
menerima dan saling menghargai nilai-nilai yang dimiliki oleh
pasangannya. Namun demikian, tentu saja agar terjalin hubungan yang
harmonis dalam perkawinan pasangan harus juga memiliki nilai-nilai
yang disepakati bersama dan menjadi pegangan mereka dalam

11
menjalankan bahtera rumah tangga. Kemudian Empathy, dimaksudkan
bahwa pasangan suami istri harus saling memberikan perhatian pada
saat pasangannya mengalami kesulitan/keluhan, baik yang berkaitan
dengan urusan rumah tangga maupun pribadi. Hal ini menunjukkan
sikap yang dapat merasakan kondisi yang sedang dihadapi oleh
pasangannya. Proses pengembangan dalam perkawinan yang didasari
LOVE dapat mempermudah terwujudnya penyesuaian suami atau istri
dengan pasangannya.

d. Penyesuaian di masa dewasa akhir


Untuk mewujudkan keluarga harmonis, pasangan suami istri harus terus
menerus melakukan penyesuaian diri termasuk pada masa dewasa
akhir. Beberapa penyesuaian yang harus dilakukan adalah berkaitan
dengan terjadinya perubahan fisik, mental, sosio emosional, peran
dalam pekerjaan, dan dikarenakan hilangnya pasangan.

Berikut ini uraian mengenai hal tersebut.

1) Penyesuaian terhadap perubahan fisik


Perubahan fisik yang terjadi antara lain : perubahan postur tubuh;
berkurang dan memutihnya rambut; berkerut dan mengeringnya
kulit; gangguan persendian; perubahan pada gigi, mata dan
pendengaran; serta berkurangnya kemampuan seksual.

Penyesuaian yang dapat dilakukan pasangan suami istri terhadap


perubahan ini adalah dengan saling mengingatkan untuk tetap
menjaga penampilan fisik, olah raga ringan secara teratur, menjaga
kebersihan gigi atau menggunakan gigi palsu jika diperlukan,
menggunakan kacamata, mengonsumsi makanan bergizi dan
vitamin.

2) Penyesuaian terhadap perubahan mental


Perubahan mental yang dialami pada masa dewasa akhir berkaitan
dengan aspek kemampuan berpikir atau pemahaman sebagaimana
juga berdasarkan penelitian yang dikemukakan Terman dan Oden
E.B Harlock (1980), penurunan kinerja, kemampuan dalam

12
pemecahan masalah, menurunnya daya ingat/memori dan motivasi
serta keterlambatan dalam pengambilan keputusan.

Penyesuaian yang dapat dilakukan untuk mengatasi perubahan


mental tersebut antara lain : melakukan kontak mata dan saling
memandang jika berbicara sehingga memudahkan pemahaman;
mengikuti latihan-latihan keterampilan; serta saling memberikan
dukungan di antara pasangan suami istri termasuk dari keluarga
untuk dapat tetap memelihara dan menumbuhkan rasa percaya diri
yang besar. Di samping itu; dibutuhkan pula pendamping yang
dengan sabar sering mengingatkan pasangan suami istri dalam
mengambil keputusan. Keputusan yang diambil tanpa adanya
bimbingan akan menimbulkan kekecewaan dan mungkin depresi
serta dapat memperburuk kondisi pasangan suami sitri pada masa
dewasa akhir.

3) Penyesuaian terhadap perubahan sosio emosional


Beberapa perubahan sosio emosional yang dapat terjadi pada masa
dewasa akhir pada umumnya karena mempunyai perasaan :
kehilangan anak ketika anak-anak sudah memasui jenjang
perkawinan; gagal apabila ada anak-anak yang tidak memenuhi
harapannya; tidak berguna lagi; kecewa terhadap perkawinan atau
timbulnya rasa jenuh.

Pasangan suami istri yang merasa ditinggalkan oleh anak-anak


karena menikah, dapat melakukan penyesuaian dengan
meningkatkan keimanan, selalu bersyukur atas nikmat yang
diberikan oleh Yang maha Kuasa dan memperbanyak berdoa. Untuk
perasaan kegagalan, dapat dilakukan dengan membantu mencari
informasi terbaik untuk anaknya. Mengembangkan minat dan hobi
merupakan penyesuaian untuk mengatasi perasaan tidak berguna,
sedangkan untuk menghindari kejenuhan dalam perkawinan dapat
dilakukan dengan mengisi waktu luang ntara lain berekreasi
bersama pasangan.

13
4) Penyesuaian terhadap perubahan peran dalam pekerjaan
Perubahan dalam pekerjaan pada masa dewasa akhir mencakup :
lingkungan kerja (dari bekerja aktif kepada aktivitas pensiun); Jenis
pekerjaan (dari menyukai pekerjaan yang menantang ke pekerjaan
apa adanya); dan suasana kerja (dari suasana yang menyenangkan
karena memberikan kemapanan ke suasana yang kurang
menguntungkan).

Untuk menghadapi perubahan dalam pekerjaan, maka hal yang


paling penting dilakukan oleh pasangan suami istri adalah berserah
diri dan selalu tawakal, tidak menjadi panik, serta berupaya menjaga
dan memanfaatkan aset yang sudah dimiliki. Aset dapat berupa
harta, kepercayaan atau jejaring kerja.

5) Penyesuaian terhadap hilangnya pasangan


Hilangnya pasangan dapat dikarenakan kematian atau perceraian.
Pada umumnya, laki-laki lebih merasakan timbulnya rasa kesepian
yang mendalam sedangkan pada perempuan perubahan yang
terjadi menyangkut masalah sosial dan ekonomi.

Penyesuaian kehilangan pasangan akibat kematian dapat disikapi


dengan memotivasi diri untuk segera bangkit, tidak berlarut-larut
dalam kesedihan dan membiarkan anak-anak terlantar. Bagi
pasangan suami istri yang bercerai, penyesuaian dilakukan dengan
menitikberatkan perhatian pada pendidikan dan mempersiapkan
masa depan anak. Di samping itu, tentunya dengan mendekatkan
diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu berdoa dan bertawakal.

14
BAB III
PERMASALAHAN YANG DIHADAPI KELUARGA
DAN UPAYA PEMECAHAN

Berbagai permasalahan dalam rumahtangga acapkali dihadapi oleh setiap keluarga,


mulai dari pertengkaran kecil karena kesalahpahaman sampai dengan
permasalahan yang menimbulkan konflik. Untuk tercapainya keluarga harmonis,
seyogyanya sekecil apapun masalah yang dihadapi pasangan suami istri haruslah
diselesaikan antara lain dengan cara mengenali masalah terlebih dahulu secara
akurat dan dilakukan dengan sadar serta jujur. Berdasarkan pengenalan masalah
tersebut, pasangan suami istri dapat melakukan upaya pemecahan masalah secara
bersama dan masing-masing bertekad untuk menyelesaikannya secara tuntas.
Berikut ini beberapa permasalahan yang mungkin timbul dalam keluarga dan upaya
pemecahan yang dapat dilakukan

A. Konflik Keluarga dan Anak-Anak


Konflik antara keluarga dapat terjadi karena lingkungan keluarga yang kurang
kondusif, adanya konflik antar orangtua atau karena adanya reaksi anak-anak
yang mengalami konflik.

1. Lingkungan keluarga
Anak-anak yang berada di dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis
akan tumbuh dalam suasana yang senantiasa mengalami hambatan
perkembangan emosional dan akan berdampak negatif terhadap
perilakunya sehari-hari.

2. Konflik antara orangtua


Pada umumnya konflik antar orangtua berkisar tentang cara-cara
pengasuhan anak. Seringkali terdapat perbedaan pandangan antara suami
dan istri dalam cara mengasuh dan memperlakukan anak-anak mereka, baik
semasa masih bayi dan anak-anak, maupun setelah menjadi remaja dan
dewasa. Dalam keadaan demikian, acapkali anak menjadi merasa bersalah,
karena merasa telah menjadi sumber pertengkaran orangtuanya.

15
3. Reaksi anak-anak yang mengalami konflik
Konflik antara orangtua seringkali menimbulkan reaksi kecewa, malu atau
marah pada anak-anak yang telah dewasa bahkan terkadang bereaksi
secara emosional . Pada anak remaja adakalanya pula timbul pikiran untuk
kabur meninggalkan rumah atau berpikir untuk bunuh diri. Apabila konflik
antara orangtua terjadi berulangkali akan menimbulkan kelelahan
emosional, sehingga dapat menyebabkan prestasi anak menurun atau anak
mengalami trauma bahkan pada anak perempuan tidak jarang akhirnya
mengambil keputusan untuk tidak menikah.

Konflik dalam rumah tangga khususnya dengan keluarga dan anak-anak pasti
tidak dapat dihindari. Namun demikian, untuk dapat terciptanya keharmonisan
keluarga, dapat dilakukan upaya sebagai berikut.
1. Pasangan suami istri harus dapat belajar mengidentifikasi penyebab
konflik
Mengatasi konflik secara konstruktif, mengatasi masalah serta belajar
menentukan kapan, dimana dan bagaimana cara mendapatkan bantuan jika
diperlukan.

2. Penyesuaian dalam peran-peran gender


Kesepakatan untuk menentukan peran masing-masing, baik di dalam rumah
maupun di luar rumah perlu dibicarakan sejak awal. Cukup banyak terjadi
suami yang tidak mengizinkan istrinya bekerja di luar rumah tanpa
mengindahkan perasaan, keinginan dan kemampuan yang dimiliki oleh
istrinya. Di samping itu, pembagian peran dalam perawatan rumah,
pemenuhan kebutuhan rumah tangga, pengasuhan anak serta kesepakatan
pembagian tugas rumah tangga merupakan hal yang harus secara jelas
dibicarakan dan disepakati oleh pasangan.

3. Penyesuaian ideologi, nilai-nilai, dan moral


Dua individu dengan latar belakang yang berbeda kemudian terikat dalam
satu perkawinan, tentunya memerlukan penyesuaian yang berkaitan dengan
ideologi, nilai-nilai dan moral. Suami atau istri harus dapat memahami dan
menyesuaikan dengan nilai-nilai moral, etika, kepercayaan, filosofi dan
tujuan hidup pasangannya. Pasangan harus berupaya membangun nilai-

16
nilai, tujuan dan filosofi bersama yang akan menjadi pegangan mereka. Di
samping itu, masing-masing harus dapat menerima ritual agama dan
kepercayaan pasangan yang sudah menjadi kebiasaannya dan memutuskan
kegiatan beragama yang akan dilakukan bersama dalam keluarga.

B. Tidak Setia Terhadap Pasangan


Ada banyak alasan yang menyebabkan salah seorang atau pasangan suami istri
berbuat tidak setia terhadap pasangannya. Di antaranya adalah: kebutuhan
emosional yang tidak diperoleh dari pasangannya; adanya persoalan-persoalan
di dalam perkawinan yang berlarut-larut dan tidak kunjung terselesaikan; adanya
perasaan ragu-ragu sejak awal perkawinan; mencari kesenangan dan
kenikmatan yang dirasa tidak diperoleh dari pasangannya yang kemungkinan
antara lain dikarenakan berkurangnya rasa cinta; dan adanya nilai-nilai permisif
pada istri atau suami atau pada kedua-duanya. Keadaan ini akan diperparah
apabila ketidaksetiaan itu sampai melibatkan perilaku/hubungan seksual.
Apalagi bila hubungan seksual tersebut disertai dengan perasaan cinta,
sehingga akan sulit melepaskan diri dari hubungan terlarang yang telah dijalani
tersebut.

Untuk tercapainya keluarga harmonis, pasangan suami istri harus semaksimal


mungkin melakukan upaya untuk tidak terjadinya permasalahan tersebut dengan
memperhatikan upaya-upaya di bawah ini.

1. Saling memberikan pemenuhan dan dukungan emosional


Untuk memenuhi dan memberikan dukungan emosional, suami istri harus
mau belajar saling memberi dan menerima cinta dan kehangatan (afeksi)
yang terus menerus dilakukan sehingga kelanggengan perkawinan dapat
dipertahankan Oleh karena, sering dijumpai kurangnya rasa cinta dari salah
satu atau di antara pasangan seiring dengan kehadiran anak, atau
bertambahnya jumlah anak dan kerepotan pasangan dalam melaksanakan
tugas pengasuhan. Jika pemenuhan dan dukungan emosional ini tidak
dilakukan, mungkin keluhan atau ungkapan rasa sayang yang pada awal
perkawinan merupakan suatu yang mutlak dilakukan, dapat menjadi atau

17
dirasakan sebagai sesuatu kejanggalan jika masing-masing tidak menyadari
pentingnya pemenuhan hal itu.

2. Menyelesaikan permasalahan sesegera mungkin


Setiap pasangan tentunya pernah/akan menghadapi berbagai persoalan
dalam rumah tangganya, namun agar dapat terwujud keluarga yang
harmonis, pasangan suami istri harus mau berupaya dengan sungguh-
sungguh untuk sesegera mungkin menyelesaikan setiap persoalan yang
dihadapi. Jangan membiasakan menunda penyelesaian suatu masalah
apalagi membiarkannya sampai berlarut-larut. Suasana keterbukaan,
kejujuran dan keinginan untuk saling mengakui kekeliruan dapat merupakan
kontribusi untuk terseselesaikannya suatu permasalahan dalam waktu yang
relatif singkat.

3. Meningkatkan motivasi untuk terus belajar berpikir positif tentang


pasangan
Suami atau istri yang sejak awal perkawinan mempunyai keraguan untuk
melanjutkan bahtera rumah tangganya harus senantiasa terus menerus
menumbuhkan keinginan untuk memahami sifat dan karakter pasangannya.
Setiap pasangan hendaknya selalu berpikir positif tentang pasangannya dan
berupaya memandang pasangannya dari segi kelebihannya. Dengan
melihat berbagai kelebihan yang dimiliki pasangannya, maka pasangan
suami istri akan berupaya untuk selalu setia dan tidak terjerumus kepada
perselingkuhan. Di samping itu, mereka dapat membandingkan kehidupan
perkawinannya dengan perkawinan pasangan lain yang sebaya namun
kurang/tidak setia. Upaya yang dilakukan pasangan yang demikian lambat
laun dapat menumbuhkan rasa cinta yang mendalam di antara keduanya
sehingga dapat memantapkan perkawinannya.

4. Mewujudkan cinta yang utuh/sempurna


Pasangan suami istri selalu merawat dan memupuk cintanya untuk dapat
mencapai cinta yang utuh/sempurna. Cinta tersebut adalah suatu perasaan
cinta yang dalam segitiga cinta (Robert Stenberg: 2000) dirangkum dalam
tiga komponen cinta yaitu keintiman (intimacy), hasrat/gairah (passion)
dan komitmen (commitment). Jika masing-masing pasangan sudah

18
memiliki cinta yang utuh, niscaya tidak terpikirkan lagi untuk mencari
kesenangan dan kenikmatan lain yang dirasakan lebih indah dan tidak
diperoleh dari pasangannya.

5. Mematuhi acuan keimanan dan ajaran agama yang dimiliki


Upaya untuk mencapai keluarga harmonis yang menjadi dambaan setiap
keluarga haruslah memiliki landasan keimanan dan ajaran agama yang kuat
dan dipatuhi bersama. Dengan demikian, mereka akan terlindung dari
segala godaan yang mungkin timbul serta memiliki rasa tanggung jawab
moral kepada pasangan dan anak-anaknya. Keimanan dan kepatuhan
terhadap ajaran agama dapat menghindari adanya nilai-nilai permisif pada
istri atau suami atau pada kedua-duanya

C. Tekanan Ekonomi
Tekanan ekonomi dapat berpengaruh terhadap suami atau istri dan anggota
keluarga lainnya serta berdampak terhadap hubungan dalam keluarga. Dampak
tersebut dapat berbentuk kecemasan, psikofisiologis, stres, bahkan tidak jarang
pula menimbulkan depresi. Beberapa bentuk tekanan ekonomi yang dapat
terjadi, antara lain: berkaitan dengan tidak stabilnya pendapatan; tidak adanya
pekerjaan yang tetap; suami atau suami-istri yang menganggur; menurunnya
pendapatan atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Upaya yang dapat dilakukan dalam menghadapi masalah ekonomi adalah


sebagai berikut.

1. Mencari sumber pekerjaan atau sumber pendapatan yang lain.

Misalnya dengan berwirausaha secara kecil-kecilan ataupun memanfaatkan


jejaring pertemanan/persahabatan yang dapat membantu keluarga keluar
dari kesulitan ekonomi yang dihadapi.

2. Penyesuaian pekerjaan

a. Pada umumnya pasangan yang memasuki perkawinan sudah memiliki


pekerjaan. Jika ada salah satu dari pasangan yang belum bekerja dan
kemudian berniat untuk mencari pekerjaan, tentunya perlu dibicarakan
dan disepakati mengenai jenis pekerjaan yang dapat dicari dan dipilih.

19
Bagi yang sudah memiliki pekerjaan perlu pula dilakukan penyesuaian
diri sesuai dengan jenis pekerjaan, tempat bekerja, waktu bekerja dan
kondisi pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Kesemua hal
tersebut perlu dilakukan antara lain agar prestasi yang sudah dicapai
sebelum menikah sedapat mungkin tetap dipertahankan.

b. Membicarakan pengaturan jadwal pekerjaan masing-masing, khususnya


kesepakatan pengaturan waktu dalam pengasuhan anak bagi pasangan
yang berkarir. Penyesuaian dalam pekerjaan ini dapat mengganggu
keharmonisan keluarga jika tidak ada kesepakatan yang jelas sejak awal
perkawinan.

c. Suatu hal yang tidak kalah penting adalah penyesuaian pada masa
dewasa madya, khususnya di akhir masa tersebut yakni tatkala salah
satu pasangan yang bekerja memasuki pensiun. Persiapan mental,
kegiatan yang akan dilakukan dan hal-hal yang berkaitan dengan
keuangan setelah pensiun perlu direncanakan dengan baik.

D. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)


Masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di dalam kenyataan sehari-hari
banyak terjadi, bukan saja pada kalangan keluarga yang miskin atau tidak
berpendidikan, tetapi juga banyak terjadi pada keluarga yang berada dan
berpendidikan; serta juga tidak hanya terjadi di perdesaan namun juga di
perkotaan.

Faktor-faktor yang menjadi pencetus terjadinya KDRT antara lain karena suami
atau istri mengalami stres oleh berbagai sebab, misalnya : menghadapi masalah
pengangguran; keuangan; ketidakpuasan kerja; ketidakpuasan seksual;
pengaruh judi, miras, Narkoba dan sebagainya. KDRT yang terjadi baik kepada
pasangan, maupun kepada anak antara lain sebagai berikut.

1. Kepada pasangan kekerasan dapat terjadi antara lain : pelaku memiliki


karakter pribadi yang bermasalah atau berperilaku menyimpang;
mempunyai rasa harga diri yang terlalu tinggi, tetapi dengan konsep diri
yang rendah; pelaku adalah orang-orang yang impulsif, emosional, mudah

20
marah, dan agresif; atau pelaku pernah menjadi korban kekerasan atau
dibesarkan di dalam keluarga yang penuh nuansa kekerasan.

2. Terhadap anak dapat berupa pukulan, tendangan dan bentuk siksaan fisik
lainnya atau dapat pula berupa penelantaran, penghinaan/pelecehan secara
psikologis yang dapat mengakibatkan anak menjadi pribadi yang rendah diri
dan kadang-kadang mempunyai kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri.
Kekerasan tersebut sering dilakukan oleh orangtua yang mengalami
kelainan kejiwaan.

3. Sering terjadi pula kekerasan seksual terhadap anak berupa perkosaan atau
pelecehan seksual yang dilakukan oleh orangtua atau oleh anggota keluarga
lainnya (hubungan incest) atau dilakukan oleh pelaku yang mengidap
penyimpangan seksual terhadap anak-anak (Pedophilia). Kekerasan seksual
terhadap anak ini dapat menimbulkan rasa cemas dan depresi yang tinggi,
rasa dendam dan kebencian terhadap pelaku, perasaan harga diri yang
terinjak-injak, sulit akrab dalam pergaulan, timbulnya rasa phobia (rasa takut
yang berlebihan), dan adakalanya melakukan percobaan bunuh diri.

Untuk mengatasi masalah KDRT dapat dilakukan upaya dengan


melaporkan pelaku KDRT kepada pihak yang berwajib. Oleh karena sudah
ada peraturan perundang-undangan dengan segala sanksinya yang
mengatur hal itu yakni Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga

E. Masalah Keluarga Muda


Pasangan suami istri yang baru memasuki jenjang perkawinan acapkali
mengalami permasalahan dikarenakan masih dalam taraf penyesuaian dari dua
individu. Berbagai permasalahan yang dapat terjadi pada keluarga muda ini
antara lain sebagai berikut.

1. Kemandirian
Pada umumnya keluarga muda memiliki keinginan kuat untuk mandiri dalam
perkawinan, terutama oleh para suami. Bahkan, kemandirian menjadi salah
satu prinsip yang harus dipegang teguh oleh pasangan suami-istri dalam
membangun dan membina kebahagiaan keluarga. Sedapat mungkin segala

21
kebutuhan keluarga dipenuhi oleh keluarga itu sendiri yang diperoleh dari
upaya dan cucuran keringat suami sebagai kepala keluarga dan jika perlu
dibantu oleh istri. Namun demikian, prinsip ini dapat menjadi suatu
permasalahan apabila pasangan suami istri tidak memiliki pemahaman yang
sama mengenai hal itu. Misalnya jika terjadi permasalahan yang berkaitan
dengan tidak adanya/terbatasnya biaya untuk pendidikan anak-anak atau
untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga.

Untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan kemandirian dapat


dilakukan beberapa upaya sebagai berikut.
a. Bantuan berupa uang.
Dalam keadaan tertentu, misalnya suami-istri belum mampu
sepenuhnya membiayai kehidupan rumah tangganya, termasuk untuk
membiayai pendidikan dan kesehatan anak-anak; maka keluarga dapat
saja menerima bantuan dari pihak lain, seperti dari orangtua, atau
saudara-saudara dari salah satu atau kedua belah pihak. Bantuan
tersebut dapat saja dalam bentuk pemberian atau pinjaman uang
ataupun dalam bentuk materi, seperti pondokan, kendaraan,
perlengkapan rumah tangga.

b. Bantuan bentuk lain


Di samping itu bantuan tersebut dapat pula dalam bentuk pemberian
pekerjaan atau jabatan.

Suatu hal yang perlu disadari oleh suami istri adalah bahwa semua
bentuk bantuan dan dukungan yang diterima hanya untuk sementara
waktu sampai pasangan tersebut mampu memenuhi sendiri
kebutuhannya. Tidaklah baik dampaknya terhadap keharmonisan dan
kebahagiaan keluarga apabila terus menerus tergantung kepada pihak
lain, meskipun dari orangtua dan saudara kandung sendiri. Sepanjang
adanya ketergantungan kepada pihak lain, maka sepanjang itu pula
suami tidak memiliki kewenangan sepenuhnya di dalam membina dan
membimbing istri dan anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya dari istri
terhadap suami dan anak-anaknya.

22
2. Penghasilan istri yang lebih tinggi dari suami
Menurut ajaran agama, maupun dalam budaya masyarakat timur, terdapat
pandangan bahwa suamilah yang harus bertanggungjawab dalam
menafkahi anak istrinya. Pada sebagian masyarakat adanya pandangan ini
dirasakan sebagai sesuatu yang janggal, apabila pendapatan istri lebih
besar dari pendapatan suami, apalagi kalau suami menganggur atau tidak
memiliki pekerjaan. Dalam keadaan seperti itu, akan timbul permasalahan di
dalam keluarga, bahkan tidak jarang menimbulkan konflik antara suami dan
istri.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah


sebagaimana uraian berikut ini.

1) Pasangan suami istri berupaya menyadari bahwa sesungguhnya


pembentukan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga adalah menjadi
tanggungjawab berdua antara suami dan istri. Ada kalanya karena jenis
pekerjaan atau jabatan serta tempat kerja yang berbeda, dapat saja
pendapatan suami yang lebih besar atau pada keadaan yang lain,
pendapatan istri yang lebih besar.

2) Membuat acuan yang disepakati bersama yakni antara suami istri harus
terdapat saling pengertian dan pemahaman yang mendalam, bahwa
biaya hidup keluarga adalah menjadi tanggungjawab bersama.walaupun
terdapat keadaan yang berbeda-beda dalam hal besarnya pendapatan,
Pendapatan suami adalah juga pendapatan istri, sebaliknya pendapatan
istri adalah juga pendapatan suami. Jika hal ini dipahami secara baik
oleh suami istri, maka akan kecil kemungkinan perbedaan besarnya
pendapatan menjadi sumber permasalahan di dalam keluarga.

3) Melakukan penyesuaian keuangan dan kebutuhan material.


Penyesuaian yang perlu dilakukan oleh pasangan adalah dalam hal
mencari dan memilih tempat tinggal yang berkaitan dengan keuangan
yang dimiliki oleh pasangan. Kesepakatan bisa diambil dengan
mempertimbangkan daerah geografis, lingkungan tetangga dan tipe
rumah. Hal lain yang perlu dibicarakan dan disepakati adalah mengenai
siapa yang akan melengkapi dan memelihara kebutuhan rumahtangga

23
serta siapa dan bagaimana cara menyimpan dan mengelola keuangan.
Aspek-aspek tersebut merupakan suatu hal yang sensitif dan
kemungkinan nantinya dapat menjadi masalah jika sebelumnya
pasangan tidak membicarakannya secara terbuka

3. Persiapan menjelang persalinan


Kehamilan pada pasangan muda, terutama pada kehamilan pertama
merupakan peristiwa yang sangat penting dan mendebarkan bagi suami
istri. Untuk menyambut kelahiran si buah hati yang merupakan dambaan
berdua, banyak persiapan yang harus dilakukan, baik berupa kesiapan fisik
bagi ibu hamil maupun persiapan segala kebutuhan bayi. Namun di sisi lain,
peristiwa yang seharusnya membahagiakan ini tidak jarang menjadi
sebaliknya antara lain dikarenakan kurangnya pemahaman maupun
kepedulian dari salah satu pasangan sehingga menimbulkan konflik dalam
rumah tangga keluarga muda.

Untuk menghindari terjadinya pertengkaran bahkan konflik dalam


menghadapi persiapan persalinan, berikut ini beberapa hal yang perlu
diperhatikan sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut..

1) Para suami seyogyanya selain memperhatikan aspek fisik, penting pula


memperhatikan aspek-aspek non fisik pada istri, seperti antara lain
dalam bentuk perhatian dan curahan kasih sayang yang lebih dari
biasanya, serta dorongan semangat/moril bagi istri yang terkadang
merasa khawatir menghadapi masa persalinannya.

2) Selain perhatian kepada si istri, perlu pula diberikan perhatian terhadap


bayi yang ada dalam kandungan, misalnya dengan mengajak bicara
sambil mengusap-usap perut calon ibu, memperdengarkan lagu-lagu
yang lembut dan merdu, atau bernuansa keagamaa

3) Tidak kalah pula pentingnya memberikan perhatian terhadap


pelaksanaan ritual keagamaan yang sebaiknya lebih ditingkatkan
selama kehamilan dan persalinan. Kehadiran suami di dekat istrinya
pada waktu melahirkan sangatlah pula membantu memperlancar proses
melahirkan serta akan lebih meningkatkan cinta kasih antara suami istri.

24
F. Masalah Seputar Rumah Tangga

Selain beberapa masalah yang dapat timbul dan mengakibatkan terhambatnya


keluarga yang harmonis, masalah seputar rumah tangga juga merupakan salah
satu faktor yang perlu diperhatikan oleh setiap pasangan suami istri.

Berikut ini beberapa permasalahan seputar rumah tangga.


1. Seputar kewajiban suami
Pertengkaran suami istri yang berkaitan dengan ketidaksepahaman
pasangan tentang kewajiban suami, banyak ditemui pada kehidupan
sehari-hari. Suami sudah merasa menjalankan kewajibannya apabila telah
mampu menyediakan kebutuhan ekonomi/materil untuk keluarganya,
padahal sesungguhnya keadaan itu masih jauh dari pemenuhan
tanggungjawabnya sebagai suami. Di samping hal tersebut, dapat pula
timbul masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan pengambilan
keputusan

Berikut ini adalah uraian mengenai upaya yang dapat dilakukan oleh
pasangan suami istri khususnya para suami.

a. Pada hakikatnya kewajiban suami adalah menjadi hak dari istri,


sebaliknyapun demikian kewajiban istri menjadi hak dari suami. Suami
sebagai kepala rumah tangga mempunyai tanggung jawab penuh
terhadap istri dan anak-anaknya. Bukan saja dalam hal memberi atau
menyediakan kebutuhan lahiriah, tetapi juga dalam hal-hal yang bersifat
nonmateril, seperti kebutuhan perhatian dan kasih sayang, kebutuhan
biologis (terhadap istri), pendidikan, moral, keagamaan, serta juga hal-
hal yang berkaitan dengan masalah-masalah hubungan sosial
kemasyarakatan.

b. Suami harus memahami bahwa apa saja yang diperbuat oleh istri dan
anak-anak menjadi tanggung jawab suami, baik itu menyangkut masalah
ibadah, akhlak, maupun kemasyarakatan. Akan tetapi apabila suami
telah berusaha sekuat tenaga mencurahkan segala tenaga, pikiran, dan
kemampuannya dalam upaya memenuhi kebutuhan seluruh anggota
keluarganya, namun hasilnya tetap belum mencukupi, maka menjadi
tanggung jawab pula bagi istri dan anak-anak untuk membantu suami .

25
Dalam hal ini tanggung jawab tetap berada di tangan suami, sementara
istri atau anak-anak hanyalah bersifat membantu. Tanggung jawab
suami tidak dapat dialihkan kepada yang lain, termasuk kepada
orangtua, mertua, ataupun saudara-saudaranya.

c. Suami perlu menciptakan suasana keakraban, suasana saling


membantu, saling mengingatkan, bekerjasama dan bergotongroyong,
bahu membahu dalam membentuk keluarga yang bahagia dan
sejahtera. Terbentuknya keluarga bahagia yang sejahtera adalah
menjadi idaman setiap keluarga, untuk itu semua anggota keluarga
haruslah ikut berupaya, namun dalam hal itu suami tetaplah menjadi
pengemudi dan pengendalinya.. Apabila suami tidak dapat menjalankan
kewajiban sebagaimana seharusnya, tentu yang dicapai bukan keluarga
yang harmonis tetapi keluarga yang selalu diliputi konflik.

d. Pasangan suami istri perlu melakukan penyesuaian dalam pengambilan


keputusan di keluarga. Pasangan harus mempelajari bagaimana dapat
mencapai status dan kekuasaan yang seimbang di antara keduanya.
Mereka harus belajar membuat dan menentukan keputusan bersama
dan berusaha bekerjasama, dapat mengakomodasi kepentingan
pasangannya dan bersedia bersikap kompromi.

2. Seputar kewajiban istri


Seperti halnya dengan kewajiban suami, ketidaksesuaian pemahaman
antara pasangan suami istri tentang kewajiban istri dapat menjadi pemicu
terjadinya pertengkaran dalam rumahtangga. Istri merasa sudah
menjalankan perannya dalam pengasuhan anak dan mengurus semua
keperluan rumah tangga. Tentu saja, istri yang tidak dapat memenuhi
kewajibannya, dapat membawa rumah tangga kepada suasana konflik dan
ketidakharmonisan

Untuk mengatasi permasalahan tersebut pasangan suami istri, khususnya


istri dapat melakukan upaya sebagai berikut.

a. Kewajiban seorang istri terhadap suami yang pertama-tama adalah taat


terhadap segala perintah dan nasihat/anjurannya, tentu saja sepanjang
perintah dan nasihat itu dinilai benar dipandang dari berbagai sisi.

26
b. Kewajiban penting lainnya dari istri adalah menjaga kehormatan diri dan
kehormatan suami dan keluarganya, meminta izin suami untuk keluar
rumah, seperti untuk bekerja, berbelanja, bersilaturahim ke rumah
tetangga dan kerabat. Tanpa izin suami, tidaklah pantas istri
meninggalkan rumah, betapapun pentingnya urusan tersebut. Seorang
istri adalah seperti pakaian bagi suaminya; artinya tingkah laku,
perkataan, dan perbuatan sang istri menjadi ukuran bagi penilaian orang
terhadap suaminya.

c. Kewajiban istri yang lain adalah : menggauli suami dengan baik;


menjaga harta suami dengan sebaik-baiknya; serta menyadari dan
menerima dengan ikhlas bahwa suami adalah pemimpin dalam rumah
tangga..

3. Seputar hubungan seksual


Tidak dapat dimungkiri bahwa hubungan seksual suami-istri adalah
merupakan masalah yang cukup penting dalam menentukan derajat
kebahagiaan suatu keluarga. Seringkali dijumpai kasus-kasus terjadinya
konflik dalam rumah tangga yang dikarenakan masalah hubungan seksual.
Proporsi pengaruh hubungan seksual terhadap kerukunan, kebahagiaan
dan kelanggengan suatu rumah tangga sangatlah besar.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pasangan suami istri untuk tidak
terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan hubungan seksual, adalah
sebagaimana uraian di bawah ini.

a. Kebutuhan seksual setiap orang memang berbeda-beda dan setiap


pasangan harus menyadarinya. Untuk terciptanya hubungan yang
harmonis, maka suami istri harus mau belajar memuaskan dan
memenuhi kebutuhan seksual masing-masing. Mereka harus mau
mengungkapkan perasaan dan keinginannya secara terbuka dan
membiasakan ekspresi seksual sesuai dengan norma-norma agama
yang dianut, baik yang berkaitan dengan gaya, perilaku maupun waktu
dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

27
b. Sikap yang terbuka tersebut, tak terkecuali bagi pasangan suami istri
yang memasuki akhir dari masa dewasa madya. Oleh karena pada saat
itu istri sudah mengalami menopause dan suami andropause. Pada
sebagian kecil individu terjadi penurunan gairah seksual yang tentunya
harus dipahami oleh pasangan.

c. Hal yang sangat penting diperhatikan di dalam hubungan seksual antara


suami-istri ini adalah bahwa hubungan tersebut dilakukan dalam
suasana kesetaraan. Hendaknya istri tidak merasa terpaksa atau
dipaksa untuk melakukan hubungan tersebut; demikian pula sebaliknya.
Bila keadaan ini dapat diciptakan, maka hubungan seksual antara
suami-istri tidak pernah akan membosankan, malah sebaliknya menjadi
kebutuhan batiniah yang ingin diulang dan diulang lagi oleh suami istri.

d. Apabila terdapat masalah dalam hubungan seksual, baik yang bersifat


fisik, seperti ejakulasi dini, impotensi, frigiditas, adanya kelainan-kelainan
seksual lainnya, ataupun hal yang bersifat psikologis; haruslah
dibicarakan secara santun dan terbuka antara suami istri, tidak perlu
ditutup-tutupi seakan-akan tidak ada masalah, karena akan berakibat
fatal terhadap keharmonisan keluarga.

e. Setiap pasangan perlu menyadari bahwa hubungan seksual suami istri


bukanlah semata-mata untuk tujuan reproduksi saja, tetapi jauh lebih
dari itu yaitu untuk memenuhi kebutuhan rohaniah, rekreasi, dan
kebutuhan pencurahan rasa cinta dan kasih sayang antara suami istri.

f. Apabila hubungan suami istri ditujukan untuk kehamilan, maka


pemenuhan kebutuhan seksual juga akan lebih terjamin apabila
pasangan memperhatikan penggunaan alat/cara keluarga berencana
yang dapat dipergunakan oleh istri atau suami sesuai dengan
kesepakatan.

g. Hal penting lainnya seputar hubungan seksual yang perlu dipedomani


oleh kedua belah pihak adalah tuntunan dan adab yang berlaku dalam
ajaran masing-masing agama yang dianut oleh suami-istri.

28
4. Berkurangnya rasa cinta
Dalam perjalanan kehidupan rumah tangga banyak sekali godaan yang
datang, apalagi dalam era teknologi informasi dan keterbukaan saat ini.
Godaan yang datang bukan hanya setiap hari, bahkan di setiap detik suami
istri dapat terpapar kepada sumber-sumber godaan yang akan menjadi
ujian bagi keteguhan ikatan percintaan mereka. Pepatah mengatakan :
rumput di pekarangan tetangga, terlihat lebih hijau dan indah dibandingkan
dengan yang ada di pekarangan rumah sendiri. Keadaan ini jika tidak
dihadapi dengan arif oleh pasangan suami istri dapat merupakan sumber
keretakan rumah tangga.

Upaya yang dapat dilakukan oleh pasangan suami istri untuk mengatasi
berkurangnya rasa cinta adalah sebagai berikut.

a. Menjaga rasa cinta terhadap pasangan sebagai cinta yang utuh/


sempurna). Cinta adalah sesuatu yang unik, penuh misteri, dan sulit
untuk dikemukakan dengan kata-kata serta hanya dapat dirasakan.
Cinta adalah kombinasi dari rasa kasih, sayang, perhatian,
pengorbanan, ketertarikan, rasa memiliki, dorongan seksual menjadi
suatu perasaan cinta yang utuh/sempurna yang dalam segitiga cinta
dirangkum dalam tiga komponen cinta yaitu keintiman (intimacy),
hasrat/gairah (passion) dan komitmen (commitment).

b. Menyadari bahwa cinta itu bukanlah yang dapat digaransi menjadi


sesuatu yang abadi, apalagi jika pada awalnya tidak didasari pada
ketiga komponen cinta. Dalam perjalanan waktu, cinta terus
berkembang dan jika pada awalnya tidak didasari pada ketiga
komponen cinta yang kokoh serta tidak dirawat sebagaimana mestinya,
maka secara perlahan-lahan tanpa terasa cinta dapat menjadi luntur.
Seperti tanaman, cinta harus dipupuk dan disirami dengan segala rasa
yang ada pada saat dia bersemi di pangkal waktu percintaan.

c. Memiliki acuan untuk tempat berlindung dari segala godaan yang


mungkin timbul, yaitu keimanan dan ajaran agama serta rasa tanggung
jawab moral kepada pasangannya dan anak-anak yang telah hadir dari
buah cinta dan kasih sayang mereka.

29
d. Secara sadar tetap menjaga cinta dan hubungannya dengan segala
sikap, dan tingkah laku yang menjadi manifestasinya , agar cinta yang
utuh/sempurna selalu menyertai bahtera rumah tangga dan menjadi
dasar yang kokoh bagi terbentuknya keluarga harmonis.

e. Saling memberikan pemenuhan dan dukungan emosional. Untuk


memenuhi dan memberikan dukungan emosional, suami istri harus mau
belajar saling memberi dan menerima cinta dan kehangatan (afeksi).
Untuk mempertahankan kelanggengan suatu perkawinan, saling belajar
memberi dan menerima cinta dan kehangatan tersebut harus terus
menerus dilakukan. Oleh karena, sering dijumpai kurangnya rasa cinta
dari salah satu atau di antara pasangan seiring dengan kehadiran anak,
bertambahnya jumlah anak dan kerepotan pasangan dalam
melaksanakan tugas pengasuhan. Begitu pula halnya dalam
memberikan dukungan emosional, mungkin keluhan atau ungkapan rasa
sayang yang pada awal perkawinan merupakan suatu yang mutlak
dilakukan, dapat menjadi atau dirasakan sebagai sesuatu kejanggalan
jika masing-masing tidak menyadari pentingnya pemenuhan hal itu.

f. Melakukan penyesuaian terhadap kebiasaan-kebiasaan pribadi. Suami


atau istri harus mengetahui, memaklumi dan saling menyesuaikan
kebiasaan yang dibawa pasangannya, misalnya dalam berbicara,
menjaga kebersihan diri, makan dan tidur serta tabiat-tabiat lainnya yang
mungkin tidak sama. Kadangkala hal sepele dapat membesar menjadi
suatu konflik jika pasangan tidak mau berusaha untuk saling
menyesuaikan kebiasaan. Beberapa hal harus dipelajari oleh setiap
pasangan antara lain secara bertahap mencoba menghilangkan atau
memodifikasi kebiasan pribadi yang mengganggu pasangan.

g. Menahan ego dan meningkatkan kesabaran serta toleransi dalam


menghadapi kebiasaan pasangan. Masing-masing pasangan belajar
untuk menghargai ruang, waktu, kepemilikan dan kebiasaan kerja
pasangan. Misalnya, suami atau istri yang setelah menikah baru
mengetahui kebiasaan tidur pasangannya yang mendengkur atau pada
akhir usia dewasa madya yang acapkali tertidur di depan televisi.

30
5. Masalah dalam keluarga besar
Perkawinan antara dua orang melibatkan ikatan kekeluargaan antara kedua
keluarga besar. Dalam setiap langkah membangun keluarga, mulai dari
pacaran, pertunangan, perkawinan, kehamilan, melahirkan, perkembangan
bayi dan anak, membangun rumah, bahkan sampai anak berangkat remaja
dan dewasa keterlibatan keluarga besar tidaklah dapat dihindari. Ikatan
kekerabatan yang demikian kuat pada masyarakat Indonesia, termasuk juga
dalam kehidupan sosial acapkali juga menjadi/merupakan pemicu terjadinya
konflik dalam rumah tangga

Beberapa upaya yang dapat dialakukan untuk menghadapi masalah


tersebut adalah sebagaimana uraian berikut.

a. Tetap mengupayakan kemandirian di dalam memenuhi kebutuhan hidup


keluarga yang pada prinsipnya harus tetap diupayakan secara penuh.
Keterlibatan dari keluarga besar dalam hal ini haruslah dapat dihindari
semaksimal mungkin, agar suami istri dapat menentukan sendiri
arah.dan tujuan rumah tangganya, tidak boleh banyak ditentukan oleh
orang di luar keluarga inti. Keteribatan keluarga besar hanyalah bersifat
pemberian nasihat, dukungan moril dan pandangan-
pandangan.berdasarkan pengalaman hidup yang akan sangat berharga
bagi pasangan suami istri di dalam melayari bahtera rumah tangga yang
penuh tantangan.

b. Melakukan penyesuaian dengan kerabat. Pada saat seseorang


menikah, dia tidak hanya menikah dengan pasangannya tetapi juga
dengan keluarga besarnya. Setiap pasangan harus dapat menjalin
hubungan yang baik dengan orangtua, saudara ipar serta kerabat lain
dari pasangannya. Selain itu, masing-masing juga harus mau dan dapat
belajar mengatasi permasalahan dengan keluarga besar termasuk
masalah keuangan yang harus disepakati dan dibicarakan secara
terbuka di antara pasangan suami istri.

c. Melakukan penyesuaian kehidupan sosial, teman-teman dan rekreasi.


Dua individu yang masing-masing memiliki lingkungan sosial yang
berbeda perlu pula melakukan penyesuaian tatkala mereka memasuki

31
gerbang perkawinan. Suami istri harus belajar bagaimana
menyenangkan pasangan dengan memahami cara bergaul dan
mengenal teman-teman dari pasangan masing-masing. Cara lain adalah
dengan menentukan jenis dan frekuensi aktivitas sosial apa saja yang
dapat diikuti oleh pasangannya akan tetapi tidak mengganggu
kebersamaan dalam keluarga. Jenis perkumpulan sosial atau olahraga
yang dapat diikuti setelah pensiun juga hendaknya menjadi
pertimbangan.

6. Sulit menjalin komunikasi yang efektif


Komunikasi adalah kata kunci dalam hubungan interpersonal dan interrelasi.
Dari berbagai permasalahan yang dihadapi suami istri, penyebab utama
pada umumnya adalah berkaitan dengan masalah komunikasi. Komunikasi
yang tidak berjalan secara efektif antara suami istri dan anggota keluarga
lainnya dapat memicu timbulnya konflik dan hubungan yang tidak harmonis
dalam keluarga.

Berikut ini adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjalin
komunikasi yang efektif

1) Pasangan harus selalu berupaya dan belajar untuk terbuka dan


mengkomunikasikan pendapat, keinginan, kekhawatiran, perhatian dan
kebutuhan dirinya. Hal penting untuk dapat berjalannya komunikasi yang
efektif adalah dengan belajar untuk saling mendengarkan dan berbicara
satu sama lain secara konstruktif.

2) Pasangan suami istri harus memiliki kesadaran dan keinginan untuk


berbagi perasaan, pengalaman, dan keinginan di antara mereka,
dengan anak-anak, dengan keluarga besar, dan dengan lingkungannya.
Untuk itu diperlukan keterbukaan dan hasrat untuk berbagi rasa, pikiran,
keinginan, dan rencana dari suami atau istri atau dari kedua-dua
mereka. Persoalan-persoalan atau rencana yang akan dikerjakan dan
memerlukan bantuan hendaknya dikomunikasikan dengan jelas.

32
3) Pasangan suami istri tidak menutup-nutupi masalah yang dihadapi,
keterbukaan dan keinginan untuk berbagi itu adalah menjadi.hal yang
paling penting. Harus dibangun rasa saling percaya, rasa saling
membutuhkan, dan rasa kebersamaan.

4) Pasangan suami istri menyampaikan isi pesan secara santun, penuh


rasa kasih sayang serta dengan mempertimbangkan waktu yang paling
tepat untuk menyampaikannya. Selain itu penyampaian pesan tidak
boleh dilakukan dengan emosional atau setengah hati.

5) Bila salah seorang di antara suami istri ada yang sedang tidak dalam
keadaan suasana hati yang baik untuk berkomunikasi, maka
pasangannya dapat menunda dulu untuk berkomunikasi.

6) Pasangan suami istri harus memperhatikan tentang perlunya


mengetahui umpan balik dari pesan yang disampaikan. Dengan
memperhatikan hal tersebut istri atau suami yang menyampaikan esan
dapat menangkap secara tepat tanggapan dari pasangannya.

33
BAB IV
PENUTUP

Setiap pasangan suami istri tentunya menginginkan perkawinannya dapat


berlangsung dalam kurun waktu yang panjang dan langgeng. Untuk itu masing-
masing pasangan harus bersedia untuk terus menerus berupaya melakukan
penyesuaian dalam perkawinan sampai salah satu pasangan menutup mata.

Perkawinan yang dibangun dengan upaya penyesuaian seperti ini merupakan tipe
perkawinan yang menunjukkan adanya hubungan totalitas antara suami istri (Total
relationship). Pasangan suami istri melakukan aktivitas dan minat secara bersama
pada semua hal yang ada dalam perkawinan (misalnya; dalam pengasuhan anak,
pekerjaan rumah tangga, pemeliharaan rumah dan melakukan hobi) serta menjalin
hubungan secara total. Semua aktivitas dilakukan dengan keikhlasan dan dengan
penuh kecintaan. Sifat cinta yang ditamplkan adalah cinta yang tanpa pamrih atau
dikenal juga dengan istilah Altruistic Love.

Perkawinan tipe ini adalah perkawinan yang sangat menggairahkan. Kondisi


perkawinan yang seperti ini, memungkinkan pasangan suami istri menjalankan
bahtera rumah tangganya selalu dalam suasana yang menyenangkan. Interaksi
antar anggota keluarga terjalin dan terbina dengan baik serta akrab yang
mengindikasikan keharmonisan suatu keluarga.

Pemahaman yang diperoleh keluarga-keluarga dalam Pelayanan Konsultasi dan


KIP/Konseling di Pusat pelayanan Keluarga Sejahtera kiranya dapat menjadi dasar
bagi mereka dalam mewujudkan Keluarga Harmonis dan mencapai kebahagiaan
keluarga.

34
DAFTAR KEPUSTAKAAN

A.H. Syuqqoh (1999). Kebebasan wanita jilid 5. Alih Bahasa: Asad Yasin. Jakarta:
Gema Insani Press.

Dyer, E.D (1983). Courtship, marriage and family. The Dorsey Press.

Gregg, Ronny (2009). Intimate marriage in lifetime. Jakarta: Cerdas Pustaka.

Hurlock, E.B. (2002). Psikologi perkembangan 5th edition . Jakarta: Erlangga.

Johan Suban Tukan (1994). Metoda pendidikan seks. Perkawinan dan


Keluarga. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia (2004). Undang-


undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jakarta.

Miftah Faridl (2005). Rumahku surgaku. Jakarta: Gema Insani.

Muhammad Al-Munajid, (1998). 40 Cara mencapai keluarga bahagia. Jakarta: Gema


Insani.

Santrock, John W (2002). Life span development jilid II. Jakarta: Erlangga.

Save M. Dagun (2002). Psikologi keluarga. Jakarta : Rineka Cipta.

Schneiders, A.A. (1955). Personal adjustment and mental health. New York: Holt,
Rinehart and Winston.

Sternberg, Robert J. (1988). The psychology of love. New Haven: Yale


University Press.

Tarbiyah Ailiyah (2008). Membangun rumah tangga Islami. Makalah. Jakarta.

Utami Munandar dkk (2001). Bunga rampai psikologi perkembangan pribadi.


Jakarta: Universitas Indonesia.

Yudiana Ratnasari (2009). Pemahaman diri pada dewasa madya. Makalah:


Disajikan pada Seminar Memahami Titik-titik Kritis Sepanjang Rentang
Kehidupan Laki-laki dan Perempuan. Jakarta.

35