Anda di halaman 1dari 4

1.

SIKLUS HIDUP CACING SCHISTOSOMA

Cacing dewasa yang halus, besarnya 0,6 2,5 cm, hidup berpasangan yang

betina di dalam canalis gynaecophorus cacing jantan. Tergantung daripada spesies

cacing, antara 300 (S. mansoni) sampai 3500 (S.Japonicum) telur ehari

dikeluarkan ke dalam vena. Bentuk larva yaitu miracidium terbentuk di dalam

telur, enzim litik dan kontraksi vena menyebabkan pecahnya dinding vena dan

telur di lepaskan ke dalam jaringan perivaskular usus atau kandung kencing. Telur

dapat keluar ke dalam lumen alat-alat ini dikeluarkan ke dalam tinja atau urine.

Bilamana tersentuh air dingin miracidium menetas keluar dari telur dan berenang

bebas menemukan keong yang sesuai, yang kemudian di tembusnya. Sesudah

melelui dua tingkat perkembangan sporokista dan bertambah banyak di dalam

keong, cercaria dengan ekor bercabang keluar. Sewaktu mandi, berenang, bekerja

atau mencuci pakaian, kulit manusia berkontak dengan cercaria yang berenang

bebas, melekatkan diri dan masuk ke dalam sampai jaringan kapiler perifer setelah

airmenguap pada permukaan kulit. Bilamana tertelan dengan air cercaria

menembus selaput lendir mulut dan leher. Cercaria terbawa oleh darah aferen ke

jantung sebelah kanan dan paru-paru. Mereka menerobos kapiler paru-paru,

terbawa ke dalam sirkulasi sistemik dan melewati sluran portal. Di dalam system

vena porta bagian hepar Trematoda ini mengambil makanan dan tumbuh dengan

cepat. Kira-kira 3 minggu sesudah infeksi kedalam kulit, cacing dewasa mudah

berpindah berlawanan dengan darah portal masuk ke dalam vena mesenterium,

kandung kencing dan panggul. Periode prepaten untuk S. mansoni adalah 7-8
minggu, S.haematobium 10-12 minggu dan S.japonicum 5-6 minggu. Cacing

dewasa dapat hidup selama 30 tahun pada manusia.

2. EPIDEMIOLOGI CACING PITA (TAENIA)

Epidemiologi kasus yang tertinggi di Indonesia terjadi di Bali. Cacing ini

bersifat hermafrodit, panjangnya bisa mencapai 4-10 m. Cacing hidup di usus

halus untuk menghisap karbohidrat dari lumen usus dan protein mukosa usus.

Hospes perantara T. solium adalah babi dan hospes perantara T. saginata adalah

sapi, sedangkan hospes definitifnya adalah manusia.

Jenis cacing pita daging ada tiga, yaitu Taenia solium (pada babi), Taenia

saginata (pada sapi), dan Cysticercus cellulosae (pada babi). Cacing ini terdapat

pada daging yang tidak dimasak atau dimasak tetapi kurang matang.

3. TERAPI PENGOBATAN INFEKSI LARVA CACING PITA(TAENIA)

Penderita Taeniasis diobati (secara massal) dengan Praziquantel, dosis 100 mg

/ kg, dosis tunggal. Cara pemberian obat praziquantel adalah sebagai berikut:

Satu hari sebelum pemberian obat cacing, penderita dianjurkan untuk makan

makanan yang lunak tanpa minyak dan serat.

Malam harinya setelah makan malam penderita menjalani puasa.

Keesok harinya dalam keadaan perut kosong penderita diberi obat cacing. Dua

sampai dua setengah jam kemudian diberikan garam Inggris ( MgS O4 ), 30

gram untuk dewasa dan 15 gram atau 7,5 gram untuk anak anak, sesuai

dengan umur, yang dilarutkan dalam sirop (pemberian sekaligus). Penderita


tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama. Setelah buang air

besar, penderita diberi makan bubur,

Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol

yang berisi formalin 5-10 % untuk pemeriksaan telur Taenia sp.

Tinja dari buang air besar pertama dan berikutnya selama 24 jam ditampung

dalam baskom plastik dan disiram dengan air panas/ mendidih supaya

cacingnya relaks. Kemudian diayak dan disaring untuk mendapatkan proglotid

dan skoleks Taenia sp.

Proglotid dan skoleks dikumpulkan dan disimpan dalam botol yang berisi

alkohol 70 % untuk pemeriksaan morfologi yang sangat penting dalam

identifikasi spesies cacing pita tersebut.

Pengobatan taeniasis dinyatakan berhasil bila skoleks taenia sp. Dapat

ditemukan utuh bersama proglotid.

4. PRAGNOSIS DARI FILARIASIS

Prognosis penyakit ini tergantung dari :

a. Jumlah cacing dewasa dan mikrofilaria dalam tubuh pasien.

b. Potensi cacing untuk berkembang biak.

c. Kesempatan untuk infeksi ulang.

d. Aktivitas RES.

Pada kasus-kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien pindah

dari daerah endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat dilakukan


dengan pemberian obat, serta pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut

terutama dengan edema pada tungkai, prognosis lebih buruk.

5. MORFOLOGI DAUR HIDUP CACING CAMBUK

Manusia merupakan hospes cacing ini.penyakit yang disebabkannya disebut

trikiuriasis. Cacing betina panjangnya sekitar 5cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Bagian

anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang seluruh tubuh.

Bagian posterior bentuknya lebih gemuk, pada cacing betina bentuknya membulat

tumpul. Pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. Cacing dewasa hidup

di kolon asendens dengan bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor

cacing betina dapat menghasilkan telur sehari 3.000-5.000 butir.

.Telur berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan

semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna

kekuning-kuningan dan bagian di dalamnya jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari

hospes bersama tinja, telur menjadi matang (berisi larva dan infektif) dalam waktu 36

minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva

dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang

tertelan oleh manusia (hospes), kemudian larva akan keluar dari dinding telur dan masuk

ke dalam usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan

masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan sampai menjadi

cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30-90 hari.