Anda di halaman 1dari 17

TEKNIK PENYIMPANAN BENIH REKALSITRAN

LAPORAN PRAKTIKUM

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Praktikum Teknologi Benih

Oleh
Kelompok : 3
Syukron Mamun (131510501201)
Gilang Pangestu (131510501110)
Achmad Irvan B (131510501009)
Fathur Rohman (131510501234)

LABORATORIUM TEKNOLOGI BENIH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benih menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan
dalam budidaya tanaman. Peningkatan campuran varietas lain dan kemerosotan
produksi sekitar 2,6 % tiap generasi pertanaman merupakan akibat dari
penggunaan benih yang kurang terkontrol mutunya. Penggunaan benih bermutu
dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya karena bebas dari serangan hama
dan penyakit, tanaman akan dapat tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang
menguntungkan dan berbagai faktor tumbuh lainnya. Namun, penggunaan benih
sangat berhubungan dengan teknik pengelolaan pasca panen seperti teknik
penyimpanan benih.
Kemampuan benih untuk disimpan sangat beragam. Terdapat 2 golongan
besar sifat benih dalam penyimpanan, antara lain; benih ortodoks dan benih
rekalsitan. Benih ortodoks merupakan benih yang dapat disimpan lama pada kadar
air rendah (4-8%) dalam kondisi temperatur rendah (4-18 oC dan RH 40-50%).
Benih rekalsitan tidak dapat disimpan lama (1-4 minggu) pada kadar air tinggi
(20-50%) dan kondisi temperatur dan kelembapan yang sedang (18-20oC, RH 50-
60%).
Benih rekalsitran tidak memiliki dormansi, sehingga sangat sensitif
terhadap pengeringan, dan memiliki viabilitas yang sangat pendek. Benih
rekalsitran merupakan benih yang memiliki kadar air tinggi sehingga sukar
ditangani ketika lepas dari pohon induknya, dengan kadar air tinggi dan kondisi
lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan akan terjadi. Kondisi ini sangat
tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih cepat
berakar dan viabilitasnya akan mengalami kemunduran sehingga mutunya
menjadi sangat rendah.
Penyimpanan benih di daerah tropis sering mengalami kendala terutama
karena masalah kelembapan dan perubahan suhu. Benih akan bersifat higroskopis
dan kadar airnya selalu berkeseimbangan dengan kelembapan suhu di sektiranya.
Oleh karena itu dalam penyimpanan benih khususnya ortodoks pemilihan materi
kemasan sangat penting, agar kadar air benih tidak mengalami perubahan selama
penyimpanan dan viabilitas benih mampu dipertahankan.
Kadar air benih merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi
benih dalam penyimpanan. Kadar air benih yang tinggi selama penyimpanan
dapat menimbulkan beberapa akibat antara lain; meningkatkan laju respirasi benih
dan akan meningkatkan suhu. Kadar air dari benih rekalsitran pada saat masak
fisiologis sebesar 50-70%, sedangkan benih ortodoks berkisar 30-50%. Selain itu
benih ortodoks akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis sekitar 5-
20%.
Benih yang memiliki kadar air tinggi merupakan benih rekalsitran. Salah
satu contoh dari benih rekalsitran adalah benih kakao. Kakao merupakan tanaman
yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik apabila dibudidayakan pada
ketinggian tempat lebih dari 800 mdpl. Kakao dapat ditanam di daerah tropis
dengan distribusi curah hujan dan penyinaran matahari sepanjang tahun. Curah
hujan berkisar 1.100 3.00 mm per tahun. Biji tanaman kakao memiliki kadar air
yang tinggi ketika telah masak secara fisiologis, sehingga untuk
penyimpananannya dibutuhkan teknik dan teknologi yang mampu menyimpan
benih kakao supaya dapat digunakan untuk tahun berikutnya (jangka panjang) dan
tidak mengurangi viabilitasnya, salah satu teknik penyimpanan yang baik adalah
dengan menggunakan media alami seperti arang sekam, serbuk arang dan serbuk
gergaji kayu.

1.2 Tujuan
Mengetahui perlakuan terbaik dalam metode penyimpanan yang tepat
untuk benih rekalsitran agar daya simpan dapat bertahan lama, sehingga
viabilitasnya dapat terjaga dengan baik.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Benih merupakan salah satu bahan tanam yang memiliki kelebihan antara
lain; mudah diperoleh, mudah disimpan dalam waktu yang relatif lama, dan kecil
mengalami kerusakan dalam transportasi serta ongkos angkut yang murah.
Sedangkan untuk kekurangannya yaitu; memiliki sifat anakan yang berbeda
dengan induk dan membutuhkan waktu yang lebih lama (Borokini, 2013). Benih
yang memiliki kualitas baik akan menghasilkan tanaman dengan pertumbuhan
yang baik, pertumbuhan tersebut sesuai dengan materi genetik benih tersebut
(Nurhasybi dkk., 2010), masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih yaitu
mengenai kadar air benih. Benih yang memiliki kadar air tinggi yaitu benih
rekalsitran.
Rekalsitran merupakan benih yang memiliki kadar air tinggi pada saat
masak fisiologis, hal ini terjadi secara alamiah. Viabilitas benih rekalsitran hanya
dapat dipertahankan secara sementara, meskipun disimpan dalam kondisi yang
optimum. Oleh karena itu penanganan pasca panen seperti penyimpanan benih
harus benar untuk menghindari penurunan viabilitas (Putra dkk., 2013). Salah satu
contoh benih rekalsitran adalah kakao.
Kakao (Theobramma cocoa L.) merupakan tanaman yang diunggulkan
karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga penanganan untuk
menghasilkan buah bermutu baik penting untuk diperhatikan. Pengembangan
budidaya tanaman kakao terus berlangsung dengan didorongnya oleh nilai
ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu peningkatan kualitas buah sangat penting
untuk dilakukan (Amadi, 2014). Secara botani, kakao dapat diklasifikasikan
sebagai berikut;
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledone
Famili : Malvales
Genus : Theobroma
Spesies : Theobroma cacao L.
Menurut Baharudin dkk., (2010), benih kakao merupakan benih raklasitran
yang memiliki sifat tidak tahan terhadap desikasi, suhu dan kelembapan rendah.
Pasalnya benih kakao memiliki kadar air yang sangat tinggi dan memiliki periode
simpan yang relatif singkat, karena mudah berkecambah dan terkontaminasi oleh
mikroorganisme. Rahayu dkk., (2009), benih rekalsitran menghendaki kadar air
tinggi dan lingkungan yang lembab selama penyimpanan. Tempat penyimpanan
benih kakao idealnya menghendaki suhu ruang 18-30 0C, dan kelembapan relatif
100%, dengan kadar air 50%, namun jika penyimpanan dibawah kondisi
kritikalnya maka akan terjadi kemunduran pada benih.
Proses kemunduran benih tidak dapat dihentikan, namun usaha yang dapat
dilakukan adalah menekan atau mengurangi laju kemunduran benih dengan
memperhatikan aspek-aspek yang mempengaruhi laju kemunduran seperti proses
penyimpanan. Menurut Dinarto (2010), laju kemunduran benih selama periode
penyimpanan kadar air pada benih. Kadar air benih merupakan suatu fungsi dari
kelembapan relatif udara sekitarnya. Kadar air yang aman untuk penyimpanan
benih tergantung pada jenis benih, lama penyimpanan dan metode penyimpanan
benih. Penyimpanan benih dengan menggunakan berbagai media bertujuan untuk
melindungi benih dan mepertahankan kemurnian benih. Azadi dan Younesi
(2013), menyatakan bahwa penggunaan berbagai jenis media seperti arang sekam,
serguk gergaji kayu dan arang mampu melindungi benih dariperubahan kondisi
lingkungan simpanyang baik bagi benih, sehingga benih dapat disimpan lebih
lama dan viabilitasnya baik.
Menurut Kerthadimaja dkk., (2013), penyimpanan benih pada kondisi
lingkungan yang terkendali diharapkan benih bisa disimpan dalam periode waktu
yang lama hingga beberpa tahun dengan mutu genetik, fisik dan fisiologisnya
terjaga. Selain itu tidak menurunkan viabiltas dari benih tersebut. Elidu dkk.,
(2010), menyatakan bahwa tujuan utama dari penyimpanan benih yang baik
adalah dengan mempertahankan vigor benih dalam periode simpan sepanjang
mungkin. Selama penyimpanan, benih akan mengalami kemunduran yang
kecepatannya sangat dipengaruhi oleh mutu awal benih, kadar air dan suhu
ruangan. Benih berkualitas tinggi memiliki daya sipan yang lebih lama.
BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan praktikum Teknologi Benih acara Teknik Penyimpanan Benih
Rekalsitran dilaksanakan pada hari Senin, 12 Oktober 2015, Pukul 11.30 13.30
wib, bertempat di Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian Universitas
Jember.

3.2 Bahan dan Alat


3.2.1 Bahan
1. Benih nangka atau kakao 150 benih / golongan
2. Pasir 5 kg
3. Tanah 5 kg
4. Arang sekam 5 kg

3.2.2 Alat
1.Plastik klip
2. Oven
3. Timbangan digital
4. Kertas label
5. Desikator
6. Cutter
7. Bak pengecambah

3.3 Cara Kerja


1. Mengekstrasi benih nangka dan kakao dari buahnya
2. Mencuci benih tersebut dengan air mengalir
3. Memasukkan kedalam plastic dengan 6 perlakuan dengan masing-masing
perlakuan berjumlah 10 benih nangka dan kakao disertai label perlakuan
sebanyak 2 kali.
a. AC arang sekam lembab
b. AC arang sekam kering
c. Suhu kamar arang sekam lembab
d. Suhu kamar arang seka kering
e. AC benih tanpa arang sekam
f. Suhu ruang benih tanpa arang sekam
4. Sealer masing-masing plastic
5. Mengambil 1 benih dari sisa benih yang telah diekstasi tadi untuk dihitung
kadar airnya.
6. Mencatat kadar air umum benih nangka dan lakukan juga perhitungan kadar air
benih untuk masing-masing perlakuan pada minggu pertama.
7. Mengambil benih dan mengecambahkan dalam media pasir dan menghitung
daya kecambahnya setelah satu minggu.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil Pengamatan Kemampuan Daya Simpan Benih Pada Hari Ke-7
Kondisi Benih Jumlah
Jenis Perlakuan Ulangan Rata-rata
BB SB BB (%)
1 10 0 100%
AC arang sekam lembab 100%
2 10 0 100%
1 10 0 100%
AC arang sekam kering 100%
2 10 0 100%
Suhu kamar arang sekam 1 3 7 30%
20%
lembab 2 1 9 10%
1 10 0 100%
Suhu kamar arang sekam kering 100%
2 10 0 100%
1 10 0 100%
AC tanpa arang sekam 100%
2 10 0 100%
1 0 10 0%
Suhu kamar tanpa arang sekam 5%
2 1 9 10%

Tabel 4.1.2 Hasil Pengamatan Daya Kecambah Benih


Jenis Pengamatan Jumlah Rata-
Ul N AB M
Perlakuan Hari ke (%) rata
1 0 0 0 0%
AC arang 3 0%
2 0 0 0 0%
sekam lembab 1 0 0 10 0%
7 0%
2 0 0 10 0%
1 0 0 0 0%
AC arang 3 0%
2 0 0 0 0%
sekam kering 1 0 1 9 0%
7 0%
2 0 1 9 0%
Suhu kamar 1 0 0 0 0%
3 0%
2 0 0 0 0%
arang sekam
1 3 6 1 30%
7 25%
lembab 2 2 3 5 20%
Suhu kamar 1 0 0 0 0%
3 0%
2 0 0 0 0%
arang sekam
1 0 0 10 0%
7 0%
kering 2 0 6 4 0%
AC tanpa 3 1 0 0 0 0% 0%
2 0 0 0 0%
1 0 0 10 0%
7 0%
arang sekam 2 0 0 10 0%
Suhu kamar 1 0 0 0 0%
3 0%
2 0 0 0 0%
tanpa arang
1 5 5 0 50%
7 45%
sekam 2 4 4 2 40%

4.2 Pembahasan
Hasil data diatas menunjukkan bahwa pada kondisi lingkungan serbuk
arang mampu menjaga kelembapan dan mempertahankan kadar air benih tetap
stabil, sehingga viabilitas benih kakao tetap terjaga. Pengamatan perkecambahan
menunjukkan bahwa benih kakao tidak berkecambah pada penyimpanan diruang
ber-AC dengan lama penyimpanan selama 1 minggu. Hasil praktikum tersebut
dapat diketahui bahwa viabilitas benih kakao akan lebih baik jika disimpan dalam
ruang ber-AC bila dibandingkan dengan kondisi lingkungan menggunakan suhu
maupun pada ruang terbuka.
Hasil praktikum tersebut menunjukkan bahwa pengaruh penyimpanan
benih rekalsitran dengan menggunakan kondisi AC dengan menggunakan arang
sekam sangat baik, pasalnya seluruh perlakuan penyimpanan dengan perlakuan
AC dan menggunakan arang sekam tidak ada yang berkecambah. Tetapi perlakuan
penyimpanan pada suhu kamar atau ruang terbuka dengan menggunakan arang
sekam lembab memiliki benih yang mampu berkecambah sebanyak 70% pada
ulangan 1 dan 90% pada ulangan 2. Kemudian perakuan dengan suhu kamar tanpa
arang sekam didapatkan hasil benih yang berkecambah sebanyak 50% pada
ulangan 1 dan 40% pada ulangan 2. Hal ini dapat diketahui bahwa penyimpanan
suhu kamar mampu mempercepat proses perkecambahan, sehingga dengan
perlakuan penyimpanan seperti ini tidak bisa digunakan apabila benih ingin
disimpan dalam waktu yang cukup lama.
Menurut Budiarti (1990), penyimpanan benih kakao dalam ruang ber-AC
dapat menekan presentase benih berkecambah pada suhu kamar (200C, RH 75%)
dapat menekan laju perkecambahan. Sedangkan penyimpanan benih dalam
kontainer dan ruang terbuka pada suhu 290C, RH 85% (kelembapan udara relatif
tinggi) menyebabkan benih berkecambah selama masa penyimpanan. Kondisi
lingkungan berpengaruh terhadap lama penyimpanan benih rekalsitran kakao
(Theobroma cacao L.). Penyimpanan benih kakao pada media arang sekam
merupakan kondisi lingkungan terbaik dalam mencegah terjadinya penurunan
tingkat viabilitas.
Hasil pengamatan daya kecambah benih setelah perlakuan penyimpanan
dengaan arang sekam didapatkan bahwa perlakuan terbaik adalah dengan
menggunakan suhu kamar tanpa arang sekam dan perlekuan suhu kamar dengan
arang sekam lembab. Hasil perlekuan suhu kamar dengan arang sekam lembab
diketahui bahwa memeng sudah berkecambah terlebih dahullu dalam
penyimpanan, sehingga ketika ditanam ke media tanam, mampu berkecambah
dengan baik pada hari ke 7 sebesar yaitu 25%. Sama halnya dengan perlekuan
suhu kamar + arang sekam lembab, perlakuan dengan menggunakan suhu kamar
tanpa arang sekam didapatkan hasil terbaik yaitu benih yang mempu berkecambah
pada media tanam sebesarr 45%. Hal tersebut karena pengaruh dari penyimpanan
dengan menggunakan suhu kamar, sehingga ketika dipindah ke media tanam
dapat berkecambah dengan normal.
Penyimpanan harus dilakukan dengan baik untuk mempertahankan daya
kecambah, menghindari serangan hama penyakit, dan menjaga agar benih tidak
berkecambah ditempat penyimpanan. Ada dua faktor yang penting selama
penyimpanan benih yaitu suhu dan kelembaban udara. Umumnya viabilitas benih
dapat dipertahankan tetap tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama bila suhu
dan kelembaban udara dapat dijaga tidak naik-turun. Untuk itu diperlukan ruang
khusus untuk ruang khusus untuk penyimpanan benih, seperti ruang dengan suhu
AC (Mulawarman dkk., 2002).
Faktor faktor penyimpanan benih terdiri dari jenis benih dan lingkungan
simpan. Jika ditinjau dari jenis (kelompok) benih maka hal hal yang harus
diperhatikan antara lain; penyimpanan benih memerlukan informasi mengenai
identitas benih , apakah termasuk kelompok benih ortodoks , intermediate atau
rekalsitran. Benih ortodoks tahan terhadap penurunan kadar air 5-6% dan dapat
disimpan pada suhuh dibawah 0oc dengan RH rendah . Sifat demikian membuat
benih ortodoks tahan disimpan lama. Benih rekalsitran berdaya simpan pendek ,
sensitif terhadap kadar air rendah antara 12 % sampai 31 %. Benih intermediate
memiliki sifat sama dengan ortodoks dalam ketahanan terhadap desikasi
(penurunan kadar air hingga 10%), tetapi tidak tahan terhadap suhu rendah
(dibawah 15%). Ditinjau dari lingkungan simpan , maka hal yang mempengaruhi
adalah sebagai berikut : faktor abiotik(fisik) yang terpenting adalah suhu ruang
simpan dan RH, serta faktor biotik meliputi mikroorganisme, serangga dan hewan
pengerat yang sering dijumpai digudang simpan (Rahardjo, 1981).
Kondisi simpan yang tepat dalam penyimpanan dapat mempertahankan
vigor benih selama penyimpanan. Namun jika kondisi lingkungan tidak tepat
maka vigor benih akan menurun seiring lamanya penyimpanan benih. Selain
kondisi lingkungan benih, kandungan air benih dan kelembapan ruang
penyimpanan juga merupakan kendala utama dalam penyimpanan benih kakao.
Kadar air rata-rata benih kakao sebelum penyimpanan atau pada saat masak
fisiologis adalah 30-41%. Kondisi lingkungan yang sesuai untuk penyimpanan
benih kakao dengan menggunakan serbuk arang diduga memberikan hasil yang
lebih baik jika dibandingkan dengan media lainnya. Kondisi lingkungan serbuk
arang mampu menjaga kelembapan dalam kondisi lingkungan dan
mempertahankan kadar air benih tetap stabil yakni 36%.
Beberapa faktor yang mempengaruhi viabilitas benih rekalsitran antara
lain kadar air benih, kelembapan, suhu ruang simpan, wadah simpan, periode
simpan. Kadar air benih sangat menentukan viabilitas benih untuk
mempertahankan daya simpannya sampai batas tertentu dengan menggunakan
suatu media penyimpanan. Kadar air benih diusahakan tetap tinggi dalam
lingkungan yang lembap selama penyimpanan atau sebelum dikecambahkan.
Benih kakao disimpan dalam kondisi kering akan mudah menurun viabilitasnya.
Benih kakao yang tersimpan didalam buah akan mampu mempertahankan daya
hidupnya selama 20 hari, walaupun kulit buah sudah mengeras. Hal ini karena
keadaan di dalam buah mendekati keadaan optimum untuk penyimpanan benih.
Penyimpanan dalam bentuk benih lebih menguntungkan tetapi memerlukan cara
yang tepat dalam penyimpanannya agar viabilitas benih kakao dapat
dipertahankan.
Penyimpanan benih jagung pada ruang simpan terbuka akan
mengakibatkan benih cepat mengalami kemunduran atau daya simpannya menjadi
singkat akibat fluktuasi suhu dan kelembaban. Hal ini karena ruang simpan
terbuka berhubungan langsung dengan lingkungan diluar ruangan melalui jendela
dan ventilasi, oleh karena itu benih yang di simpan dalam ruang terbuka perlu
dikemas dengan bahan kemasan yang tepat agar viabilitas dan vigor benih dapat
dipertahankan. Selain kemasan, bahan lain yang juga dapat digunakan untuk
mempertahankan kualitas benih yaitu desikan.
Desikan adalah bahan yang diperlukan untuk menjaga agar benih tetap
dalam kondisi kering, salah satunya adalah abu. Abu diketahui memiliki sifat
higroskopis, yakni pada keadaan kering bahan tersebut dapat menyerap uap air
dari lingkungan di sekitarnya. Perlakuan pemberian abu sekam dalam kemasan
pada benih kacang tanah dengan taraf 20% dapat menghasilkan benih dengan
vigor yang lebih tinggi daripada yang tanpa diberi desikan (Lesilolo dkk., 2012).
Rahmawati dkk., (2011), penyimpanan benih rekalsitran dengan
menggunakan arang sekam mampu mengurangi dan menghambbat proses
perkecambahan benih dalam ppenyimpanan. Hal ini karena arang sekam memiliki
bahan desikan atau zat yang digunakan untuk penyerapan air yang terkendung
oleh benih. Selain itu, dengan menggunakan arang sekam sebagai media
penyimpanan maka kelembapan udara yang berada disekitar dapat terjaga dan
viabilitas benih dapat dipertahankan.
Media penyimpanan yang sering digunakan adalah serbuk gergaji lembab,
namun cara ini masih sangat konvensional. Mengingat serbuk gergaji yang berasal
dari kayu lama kelamaan akan mengalami kelangkaan sehingga sulit untuk
diperoleh, mudah melapuk sehingga sangat mudah memicu serangan jamur.
Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya teknologi alternatif, yaitu
menggunakan larutan osmotik salah satunya adalah Polyethylene Glycol-6000
yang dikombinasikan dengan lamanya pengeringan. Perlakuan konsentrasi larutan
osmotik PEG 6000, lama pengeringan dan interaksi antara konsentrasi larutan
osmotik PEG 6000 dan lama pengeringan berpengaruh nyata terhadap kecepatan
tumbuh benih setelah penyimpanan (Fazilla dkk., 2014).
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pemabahasan diatas dapat disimpulkan bahawa;
1. Benih rekalsitran merupakan benih yang memiliki kadar air yang tinggi,
sehingga sangat mudah berkecambah dalam penyimpanan.
2. Penyimpanan benih rekalsitran yang baik dapat menggunakan kondisi ruang
suhu AC dan mmenggunakan media arang sekam. Hal ini karena arang
sekam mengandung zat desikan yang mampu menyerap air dari zat lain,
sehingga ketika benih disimpan maka kelembapan dapat terjaga dan
viabilitas dapat dipertahankan.
3. Perlekuan yang kurang baik pada kegiatan praktikum pada proses
penyimpanan benih rekalsitran adalah dengan suhu kamar. Hal tersebut
karena benih yang disimpan mmampu berkecambah karena kondisi duhu
dan kelembapan diruang sangat mempengaaruhi proses perkecambahan.
4. Perlakuan terbaik pada daya kecambah adalah dengan perlakuan
penyimpanan suhu kamar + arang sekam lembab dan suhu kamar tanpa
arang sekam. Hal ini karena benih yang disimpan sudah berkecambah, dan
ketika dipindahkan ke media tanam mammpu tumbuh normal.

5.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih tertib lagi, supaya kegiatan praktikum dapat
berjalan dengan baik dan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Budiarti. 1990. Keragaan dan Mutu Fisiologis Benih Rekalsitran Kakao


(Theobroma cacao L.) pada Berbagai Kondisi Penyimpanan. Kendari :
UNHALU Press.

Fazilla, N.S., Charoq, dan R. Sipayung. 2014. Uji Daya Simpan dan Viabilitas
Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell-Arg). Tanpa Cangkang Terhadap
Konsentrasi Larutan Osmotik dan Lama Pengeringan. Online
Agroteknologi, 2(3) : 993-997.
Lesilolo, M.K., J. Patty, dan N. Tetty. 2012. Penggunaan Desikan Abu dan Lam
Simpan Terhadap Kualitas Benih Jagung (Zea mays L.) pada Penyimpanan
Ruang Terbuka. Agrologia, 1(1) : 51-59.

Mulawarman, J. Roshetko., S. M. Sasongko., dan D. Irianto. 2002. Pengelolaan


Benih Pohon : Sumber Benih, Pengumpulan dan Penanganan Benih.
Bogor : ICRAF and Winrock International.

Rahardjo, P. 1981. Beberapa Faktor yang Berpengaruh Terhadap Daya Hidup


Benih Coklat. Bogor : Direktorat Jenederal Perkebunan.

Rahmawati, D.S., N. Soekamto, dan S. Wahyuni. 2011. Respons Perkecambahan


Benih Kopi (Coffea sp). yang Telah Disimpan dengan Berbagai Perlekuan
Terhadap Viabilitas. Agrologia, 1(1) : 27-35.

DAFTAR PUSTAKA

Amadi, J.E., E.E. Adeleke., G. Olahan., T. Garuba, dan M.O. Adebola. 2014.
Effect of Plant Extracts on Sporulation and Spore Germination od Stored
Melon Seed Fungi. Reasearch Granthaalayah Science, 1(1) : 21-29.

Azadi, M.S dan E. Younesi. 2013. The Effects of Storage on Germination


Characteristics and Enzyme Activity in Sorghum Seed. Stress Physiology
and Biochemistry, 9(4) : 289-298.
Baharudin, S. Ilyas., M.R. Suhartanto dan A. Purwantara. 2010. Pengaruh Lama
Penyimpanan dan Perlakuan Benih Kakao Hibrida. Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian, 13(1) : 73-84.

Borokini, T.I. 2013. The State of Ex-Situ Conservation in Nigeria. Coservation


Science, 4(2) : 197-212.

Dinarto, W. 2010. Pengaruh Kadar air dan Wadah Simpan terhadap Viabilitas
Benih Kacang Hijau dan Populasi Hama Kumbang Bubuk Kacang Hijau
Callosobruchus Chinensis L. Agrisains, 1(1) : 68-78.

Elidu, R., M. Reuben, dan G. Linnet. 2010. Longevity of Bean (Phaseolus


vulgaris) Seeds Stored at Locations Varying in Temperature and Relative
Humidity. Agriculture, Pure and Applied Science and Technology, 1(1) : 1-
8.

Kertadimaja, J., E.E. Syuriani, dan N.A. Hakim. 2013. Pengaruh Penyimpanan
Jangka Panjang (Long Term) terhadap Viabilitas dan Vigor Empat Galur
Benih Inbred Jagung. Pertanian Terapan, 13(3) : 168-173.

Nurhasybi., H.D.P. Kartiko., M. Zanzibar., D.J. Sudrajat., A.A. Purnomo.,


Buharman., Sudrajat dan Suhariyanto. 2010. Atlas Benih Tanaman Hutan
Indonesia. Bogor : Blitben.

Putra, G.P., Charloq dan J. Ginting. 2013. Respons Morfologi Benih Karet (Havea
brasiliensis Muell Arg.) tanpa Cangkang terhadap Pemberian PEG 6000
dalam Penyimpanan pada Dua Masa Pengeringan. Online Agroteknologi,
2(1) : 145-152.

DOKUMENTASI