Anda di halaman 1dari 59

PENGEMBANGAN MODEL PBI (PROBLEM BASED INSTRUCTION)

DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PESERTA


DIDIK PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS 9 SMP NEGERI
5 LILIRILAU KAB. SOPPENG

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Diajukan sebagai salah salah persyaratan Untuk Mengikuti


Simposium Tingkat Nasional Tahun 2016

BUSRAN

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA


SMP NEGERI 5 LILIRILAU
KABUPATEN SOPPENG

2015

1
ABSTRAK

Busran, 2015, Pengembangan Model PBI (Problem Based Instruction)Dalam


Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta didikPada Mata pelajaran IPS Kelas 9 SMP
Negeri 5 Lilirilau Kab. Soppeng.
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah : untuk mengetahui
pengembangan model PBI (Problem Based Instruction) dapat meningkatkan prestasi
belajar peserta didik kelas 9 SMP Negeri 5 Lilirilau Kab. Soppeng.
Pada siklus I Hasil uji kompetensi yang dilaksanakan menunjukkan dari 30
peserta didik yang mengikuti uji kompetensi ada sekitar 63,7 % atau 19 orang peserta
didik yang mencapai KKM dan 36,3 % atau 11 orang peserta didik yang belum
mencapai KKM jadi ketuntasan kelasikal adalah 63,7 % dan Hasil uji kompetensi
pada siklus II yang dilaksanakan menujukkan dari 30 orang peserta didik 90 % atau
27 orang peserta didik telah mencapai KKM dan 10% atau 3 orang belum mencapai
KKM, jadi ketuntasan klasikal pada siklus II telah mencapai 90 %
Dengan demikian pembelajaran dengan pengembangan model PBI (Problem
Based Instruction) dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik.

2
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah

memberikan petunjuk dan Hidayah-Nya kepada penulis sehingga laporan Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) ini dapat disusun dan diselesaikan sesuai dengan waktu yang

direncanakan.

Sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa

laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi maupun penyusunan

kalimat. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun semangat demi

kesempurnaan laporan ini.

Dalam pelaksanaan penelitian hingga penyusunan laporan, terdapat banyak

tantangan dan hambatan yang dialami oleh penulis. Namun berkat dorongan dan

bantuan dari semua pihak, semuanya dapat diatasi. Oleh karena itu, penulis

menghaturkan ucapan terima kasih setinggi- tingginya untuk kedua orang tuaku

tercinta dengan segenap cinta dan doanya dalam perjuangan menuju kesuksesan. Tak

lupa pula penulis mengucapkan terimakasih tak henti- hentinya kepada :

1. Bapak Laupe Bolli, S.Pd, M. Si selaku kepala SMP Negeri 5 Lilirilau yang telah

meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing penulis.

2. Bapak H. Muliyadi Muhaiyang, S. Pd selaku pengawas mata pelajaran IPS

3. Bapak Drs.H. Labara, M.Si, selaku ketua PGRI Kabupaten Soppeng.

3
4. Rekan- rekan guru atas motivasinya kepada penulis selama penyusunan laporan

PTK ini.

Doa dan harapan penulis, semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan

mereka. Akhirnya penulis berharap semoga laporan penelitian Tindakan kelas (PTK)

ini dapat bermanfaat untuk pengembangan pendidikan dan pembelajaran IPS.

Masing, Maret 2015

Penulis

4
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL . i
PENGESAHAN LAPORAN PTK ii
SURAT KETERANGAN PENELITIAN . iii
ABSTRAK . iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI . vii
DAFTAR TABEL . ix
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR LAMPIRAN.. xii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian 5

D. Manfaat Penelitian .. 5

BAB II KAJIAN pustaka

A. Deskripsi Teori 7

B. Kerangka Pikir 23

C. Hipotesis Penelitian . 25

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian 27

B. Subjek Penelitian .... 27

C. Waktu(Setting) penelitian ....... 27

5
D. Prosedur Penelitian ............. 28

E. Metode Pengumpulan Data.... 30

F. Tehnik Analisa Data .. 30

G. Indikator Keberhasilan 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian 32

B. Tes Awal (Pretes) 35

C. Analisis Pelaksanaan Siklus I...................................................... 36

D. Analisis Pelaksanaan Siklus II..................................................... 40

E. Pembahasan 44

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan . 47

B. Saran 47

DAFTAR PUSTAKA ... 49

LAMPIRAN- LAMPIRAN .. 50

6
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
Judul
1. Nama- nama guru dan Jabatan Pembinaan Sekolah . 31

2. Jumlah Staf Pengajar di SMP Negeri 5 Lilirilau ... 32

3. Karyawan di SMP Negeri 5 Lilirilau 32

4. Jumlah peserta didik di SMP Negeri 5 Lilirilau Tahun Pelajaran 32


2014/ 2015
5. Keadaan peserta didik di Kelas 9 (Subjek Penelitian) 33

6. Rekapitulasi Hasil Evaluasi Sebelum Menggunakan Model PBI 35


(Problem Based Instruction)...........................................................
7. Rekapitulasi Hasil Evaluasi pada Siklus I.. 39

8. Rekapitulasi Hasil Evaluasi pada Siklus II. 42

7
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
Judul

1. Kerangka Pikir............................................................................ 25

2. Tahapan- tahapan Penelitian Tindakan Kelas 29

8
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
Judul

1. Profil SMP Negeri 5 Liliriaja 50

2. Jadwal Pelaksanaan PTK . 54

3. Perangkat Pembelajaran IPS 55

4. Data Hasil Penelitian 75

5. Hasil Observasi Peserta didik.... 98

6. Dokumentasi 103

7. Rekomendasi 105

9
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peradaban manusia bukanlah suatu barang jadi, melainkan suatu hasil

perjuangan yang menggunakan segala kemampuan, baik lahir maupun

pengalaman. Manusia lahir membawa tiga potensi kejiwaan yaitu cipta, rasa dan

karsa. Potensi inilah yang terus dikembangkan dalam eksistensi kehidupannya

sehingga manusia tergolong sebagai makhluk pendidikan. Pendidikan adalah salah

satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat untuk

menuju perkembangan.

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang sangat mutlak diperlukan

oleh seluruh lapisan masyarakat. Masalah pendidikan adalah masalah manusia dan

bangsa manapun di dunia ini. Krisis pendidikan menyebabkan krisis

multidimensional. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan

adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya

kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu

terus menerus untuk dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.

Bidang pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan

kemajuan suatu negara, karena pada dasarnya kemajuan suatu negara tidak

terlepas dari kualitas sumber daya manusia sebagai produk dari pendidikan.Oleh

sebab itu, perbaikan pelaksanaan pendidikan perlu mendapat perhatian dari

pemerintah khususnya oleh Departemen Pendidikan Nasional.

10
Pendidikan Nasional merupakan usaha untuk mewujudkan tujuan

pendidikan yang tidak terlepas atas dasar falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu

Pancasila dan Undang-Undang.Hal ini tercantum dalam Undang- Undang.Sistem

Pendidikan Nasional RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 yang menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.

Pasal 1 diatas menunjukkan bahwa belajar bukan hanya meningkatkan

kualitas diri menuju kecerdasan akademik, melainkan pengembangan

kepribadian serta kekuatan moral. Hal ini didukung oleh penanaman karakter

yang bermartabat.

Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui

pendidikan terkait dengan aspek kurikuler juga menyangkut kemampuan

guru.Masnur (2009: 1) menyatakan bahwa dalam Standar Nasional Pendidikan

tahun 2005, ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru yakni : kepribadian,

profesional, kependidikan dan sosmial. Sampai saat ini, bahkan untuk hari-hari

mendatang faktor guru tetap memegang kunci keberhasilan dengan mewujudkan

empat kompetensi tersebut.Guru merupakan faktor penting yang besar

peranannya terhadap proses dan hasil belajar siswa.

Hasil belajar peserta didiktergantung pada pendekatan dan model yang

dipilih guru. Guru sedapat mungkin melibatkan peserta didk, agar mereka

mampu bereksplorasi untuk mencapai kompetensi dengan menggali berbagai

11
potensi yang ada pada diri siswa. Dengan demikian guru tidak hanya mentransfer

ilmu yang dimilikinya melainkan juga mempertimbangkan aspek intelegensi dan

kesiapan belajar peserta didik, sehingga peserta didik tidak mengalami depresi

mental seperti kebosanan, mengantuk, frustasi bahkan anti pati terhadap materi

pelajaran.

Maslow (dalam Husnawati, 2011: 3) sangat percaya bahwa tingkah laku

manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan- kebutuhan tertentu, seperti

kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri,

mengetahui dan mengerti dan kebutuhan estetik. Kebutuhan- kebutuhan inilah

menurut Maslow yang mampu memotivasi tingkah laku individu. Oleh karena

itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh

apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri.

Berbagai model pembelajaran dalam waktu yang berbeda telah digunakan

tetapi hasil belajar peserta didikbelum menunjukkan adanya peningkatan yang

cukup membanggakan. Khususnya pada peserta didik SMP Negeri 5 Lilirilau

kelas 9, rata-rata hasil belajar IPS semester genap Tahun Pelajaran 2014/ 2015

menunjukkan angka yang cukup rendah yakni di bawah nilai KKM (75). Hal ini

disebabkan karena sulitnya peserta didik memahami apa yang diberikan oleh

guru serta jenis model pembelajaran yang selama ini diterapkan cenderung

berupa kemampuan reseptik memoris (hafalan) dan tidak berorentasi pada

proses. Akibatnya kreatifitas individual terutama peserta didik menjadi tumpul.

Untuk itu perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menuntut

pemahaman peserta didikterhadap materi dengan membawanya seolah-olah

12
berada dalam keadaan nyata. Hal ini menuntut kreasi seorang guru dalam

menciptakan hal-hal baru dalam pengajarannya melalui penerapan pembelajaran

melalui pengembangan model PBI (Problem Based Instruction) yang melibatkan

peserta didik aktif dalam belajar, baik secara mental maupun sosial yang

melibatkan kemampuan mengumpulkan informasi, mengasoisiasi dan

menyajikan dengan penuh percaya diri.

Kendala lain dalam aktifitas belajar- mengajar yakni : (1) peserta didik

masih kurang percaya diri untuk mengungkapkan gagasan, (2) peserta didik sulit

memilih kata dan tampak ragu- ragu dalam berbicara, (3) motivasi ekstern jarang

diberikan guru, sehingga ketika pelajaran selasai kurang memiliki kesan yang

berarti pada siswa. (4) guru lebih banyak menjelaskan teori tentang berbicara,

tetapi praktiknya jarang dilakukan. Berbagai problem yang ditemukan di kelas

membutuhkan sebuah inovasi untuk mengatasinya, salas satunya dengan

menerapkan pembelajaran dengan model PBI (Problem Based Instruction).

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian yang akan menguji apakah melalui pengembangan model PBI

(Problem Based Instruction) dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik

pada mata pelajaran IPS kelas 9 di SMP Negeri 5 Lilirilau.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti dapat merumuskan

masalah antara lain :

13
Apakah pengembangan model PBI (Problem Based Instruction) dapat

meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas 9 di

SMP Negeri 5 Lilirilau Kab. Soppeng ?.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar IPS peserta didik kelas 9

SMP Negeri 5 Lilirilau melalui pengembangan model PBI (Problem Based

Instruction).

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat untuk :

1. Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam memperlakukan

peserta didikdalam proses pembelajaran terutama dalam strategi

pembelajaran yang digunakan sehingga dapat meningkatkan mutu

pembelajaran dan dalam usaha pengembangan profesinya sebagai guru yang

profesional

2. Bagi siswa

Dalam proses pembelajaran, peserta didikdapat memperoleh cara belajar

yang lebih menarik, lebih aktif dan menyenangkan sehingga akan muncul

kreatifitas peserta didikyang dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

14
3. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan, pertimbangan dan

upaya meningkatkan mutu pembelajaran berkaitan dengan proses

pembelajaran di sekolah.

15
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1. Pengembangan Model PBI (Problem Based Instuction)

a. Pengertian PBI (Problem Based Instuction)

Secara garis besar pembelajaran berdasarkan masalah (problem

based instuction) merupakan model pembelajaran yang menyajikan

kepada peserta didik situasi masalah yang autentik dan bermakna yang

dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan

penyelidikan dan inkuiri (Ibrahim, 2009: 4).

Pendapat tersebut memberikan penekanan bahwa model

pembelajaran berdasarkan masalah berusaha untuk membuat suatu

sknario pembelajaran untuk melatih peserta didik memecahkan

masalah nyata sehari-hari (autentik), dan merupakan kebutuhan yang

sangat berarti bagi hidupnya di masa-masa yang akan datang

(bermakna).

Pendapat kedua tentang pengertian pembelajaran berdasarkan

masalah (problem based instuction) dikemukakan oleh Pidarta (2011:

55) bahwa pembelajaran berdasarkan masalah merupakan upaya untuk

membimbing para peserta didik atau maha peserta didik belajar dengan

cara berpikir sendiri atas dasar konsep-konsep yang relevan dengan

masalah itu. Pendapat ini memberikan pemaknaan bahwa pembelajaran

16
berdasarkan masalah adalah upaya untuk memberikan pemahaman

kepada peserta didik cara belajar secara mandiri (CBSM).

Terkait mengenai CBSM tersebut, Rindjin (2010: 14)

menegaskan bahwa: cara belajar secara mandiri ini berarti peserta didik

merencanakan sendiri apa yang akan dipelajari, kapan belajarnya, di

mana mendapatkan bahan yang akan dipelajari, dengan siapa ia belajar,

bagaimana cara belajar, sejauh manakah pencapaian prestasi belajarnya,

dan kalau kurang berhasil apakah sebabnya. Cara belajar secara mandiri

bukan hanya berguna selagi masih studi, tetapi juga untuk hidup

selanjutnya. Bukankah manusia mempunyai potensi alami untuk belajar

dengan inisiatif sendiri, yang melibatkan perasaan, intelektual dan

partisipasi aktif adalah paling bermakna.

Berdasarkan pemahaman yang dapat kita petik dari pendapat

yang kedua ini, maka ciri yang lain dari pembelajaran berdasarkan

masalah adalah peserta didik dilatih untuk belajar secara mandiri.

Menurut Ibrahim (2009: 5), peserta didikyang mandiri (otonom) adalah

peserta didik yang percaya kepada keterampilan intelektual dan

kemampuan mereka sendiri, memerlukan keterlibatan aktif dalam

lingkungan yang berorientasi pada inkuiri. Dalam rangka memperkaya

inkuiri dan pertumbuhan intelektual tersebut, maka guru perlu

melakukan pembimbingan secara scaffolding, yaitu suatu karangka

dukungan yang memperkaya inkuiri dan pertumbuhan intelektual

tersebut.

17
Scaffolding merupakan proses bimbingan yang diberikan oleh

orang yang lebih tahu kepada seseorang yang lebih sedikit

pengetahuannya untuk menuntaskan suatu masalah melampaui tingkat

pengetahuannya pada saat ini (Ibrahim, 2009: 9). Pada scaffolding,

bimbingan pada tahap pertama dilakukan secara ketat dengan diberikan

pembimbingan, kemudian berangsur-angsur pembimbingan tersebut

diperlonggar, dan kemudian selanjutnya tanggung jawab belajar diambil

alih oleh peserta didik secara mandiri. Lingkungan belajar dengan

model pembelajaran berdasarkan masalah adalah berpusat pada peserta

didikdan mendorong inkuiri terbuka dan berpikir bebas. Seluruh proses

belajar mengajar yang berorientasi pada model pembelajaran

berdasarkan masalah adalah membantu peserta didikuntuk menjadi

mandiri.

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat

disimpulkan secara sederhana pengertian model pembelajaran

berdasarkan masalah masalah (problem based instuction) sebagai suatu

model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal

untuk mengakuisisi pengetahuan baru. Penekanan dari simpulan ini

adalah peserta didik belajar menggunakan masalah autentik tertentu

untuk belajar memahami konten (isi) pelajaran, dan sebaliknya peserta

didikbelajar keketampilan khusus menggunakan sarana konten (isi)

pelajaran untuk memecahkan masalah.

18
Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat

disimpulkan secara sederhana pengertian model pembelajaran

berdasarkan masalah masalah (problem based instuction) sebagai suatu

model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal

untuk mengakuisisi pengetahuan baru. Penekanan dari simpulan ini

adalah peserta didik belajar menggunakan masalah autentik tertentu

untuk belajar memahami konten (isi) pelajaran, dan sebaliknya peserta

didi kbelajar keketampilan khusus menggunakan sarana konten (isi)

pelajaran untuk memecahkan masalah

Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah memiliki sintaks

yang terstruktur dengan tahapan yang jelas, norma di sekitar

pembelajaran adalah inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan

pendapat. Guru harus dapat mengelompokkan mereka baik untuk tugas

di sekolah maupun tugas di rumah, untuk saling bertukar pendapat.

Adapun prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran model PBI

menurut Ibrahim (2009: 5) adalah sebagai berikut:

a. Pemahaman dibangun melalui pengalaman.


b. Arti atau makna diciptakan dari usaha untuk menjawab pertanyaan
dan masalah kita sendiri.
c. Instink alami peserta didik untuk melakukan penyelidikan dan
kreasi, seharusnya dikembangkan.
d. Strategi yang berpusat pada peserta didik mampu membangun
keterampilan berpikir kritis dan bernalar, dan dalam perkembangan
lebih lanjut akan mengembang-kan kreativitas dan kemandirian`

19
b. Tujuan Pembelajaran PBI

Berdasarkan pada konsep pembelajaran berdasarkan masalah

yang telah dipaparkan di atas, maka secara rinci tujuan pembelajaran

berdasarkan masalah adalah sebagai berikut:

a. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Dan Keterampilan


Memecahkan Masalah.
Kerjasama yang dilakukan dalam pembelajaran berdasarkan
masalah mendorong munculnya berbagai keterampilan inkuiri dan
dialog. Dengan demikian, akan berkembang keterampilan sosial dan
keterampilan berpikir sekaligus. Dengan berjalannya waktu,
diharapkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah
semakin berkembang.
b. Pemodelan Peranan Orang Dewasa.
Peserta didikdengan para teman-temannya dapat berlatih berbagai
peran orang dewasa di masyarakat dalam suatu forum simulasi.
Sebagai contoh seorang guru dapat mensimulasikan topik bagimana
mengatasi masalah banjir di tempat tinggal siswa. Guru menyajikan
berbagai data tentang lingkungan tersebut, misalnya mengenai
sumber-sumber penyebab banjir dan sebagainya. Siswa-peserta
didikselanjutnya dapat diminta bermain peran: ada yang bertindak
sebagai Kepala Desa, Ketua RT, Ketua RW, anggota masyarakat
biasa, dan sebagainya. Para warga dan masyarakat desa melakukan
rapat mendiskusikan tentang masalah tadi dan kemudian
memutuskan tindakan apa yang akan diambil untuk mengatsi banjir
tersebut.
c. Pembelajar Otonom Dan Mandiri.
Dengan pembelajaran berdasarkan masalah diharapkan peserta
didiksecara berangsur-angsur dilatih untuk menjadi pembelajar
yang mandiri (self regulated learning). Seorang pembelajar yang
mandiri dicirikan oleh beberapa hal, yaitu: (1) mampu secara
cermat mendiagnosis situasi pembelajaran tertentu yang sedang
dihadapinya, (2) mampu memilih strategi belajar tertentu untuk
menyelesaikan masalah belajarnya, (3) memonitor keefektifan
strategi tersebut, dan (4) cukup termotivasi untuk terlibat dalam
situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan. (Ibrahim,
2009: 15).

20
c. Ciri-Ciri Pembelajaran PBI

Sebagai model pembelajaran, PBI memiliki beberapa ciri utama

yang membedakannya dari model pembelajaran yang lain. Menurut

Ibrahim, (2009: 22), Ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Mengorientasikan peserta didikkepada masalah autentik.


Tahap awal dari model pembelajaran berdasarkan masalah ditandai
dengan suatu kegiatan mengorientasikan peserta didikkepada
masalah autentik. Pada tahap ini guru menyusun skenario yang
dapat menarik perhatian siswa, sekaligus memunculkan pertanyaan
yang benar-benar nyata di lingkungan peserta didikserta dapat
diselidiki oleh peserta didikuntuk menemukan jawabannya.
Terdapat berbagai alternatif cara yang dapat dipilih oleh guru untuk
mengorientasikan peserta didikpada masalah misalnya: (1)
melakukan demonstrasi, (2) berceritera, (3) menyajikan fenomena
atau, (4) melakukan eksperimen tertentu.
Agar masalah menjadi menarik, maka biasanya tahap ini disajikan
dengan cara membuat konflik kognitif di dalam benak siswa.
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah berpusat pada
pelajaran tertentu, misalnya Geografi, masalah yang dipilih benar-
benar nyata agar dalam pemecahannya, peserta didikdapat meninjau
dari berbagai mata pelajaran yang lain. Hal tersebut menunjukkan
masalah autentik yang menunjukkan adanya kaitan interdisiplin.
Misalnya masalah polusi, mencakup aspek akademis dan terapan
mata pelajaran ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan lain-lain. Model
pembelajaran tersebut dapat dimaknai bahwa penyajian
pembelajaran berdasarkan masalah cenderung tematis terintegrasi.
Ada tema tertentu yang menjadi topik bahasan, peserta didikbelajar
berbagai informasi yang berkaitan dengan berbagai disiplin yang
berbeda. Sebagai contoh, dengan mengambil tema banjir, dapat
dibahas berbagai hal terkait banjir, yakni melibatkan ilmu geografi,
biologi, ekonomi, sosiologi, hukum dan sebagainya.
3. Penyelidikan autentik
Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan peserta
didikmelakukan penyelidikan autentik umtuk mencari penyelesaian
nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan
mendefinisikan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan dan
menganalisis informasi atau data, melakukan percobaan, membuat
inferensi, dan merumuskan simpulan. Metode yang digunakan
sangat bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari.

21
Semua keterampilan yang disebutkan di atas, merupakan
keterampilan melakukan penelitian atau pemecahan masalah. Jadi
dengan demikian PBI dengan penyelidikan autentiknya, memberi
peluang kepada peserta didikuntuk sekaligus belajar bagaimana
memecahkan masalah sehari-hari. Keterampilan memecahkan
masalah yang dimiliki menjadikan peserta didikmandiri dan dapat
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi secara berkelanjutan.

4. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.


Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut peserta didikuntuk
menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artifak
dan memamerkannya. Karya tersebut dapat berupa rekaman debat,
laporan, model fisik, vidio, atau program komputer, surat kepada
seseorang atau instansi, poster dan lain-lain. Pada tingkat yang lebih
tinggi, hasil karya di dalam pembelajaran berdasarkan masalah
dapat berupa makalah, tesis, atau disertasi.

2. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar dalam penelitian ini diidentikkan dengan

prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan rangkaian dua perkataan

yang terdiri dari kata prestasi dan belajar yang masing-masing memiliki

pengertian tersendiri, yang setelah dirangkaikan menjadi satu

terminologi berubah dengan memiliki pengertian tersendiri pula. Oleh

karena itu, sebelum menjelaskan pengertian prestasi belajar, perlu

dijelaskan pengertian tentang perkataan belajar agar lebih mudah

memahami tentang pengertian prestasi belajar.

Aqip (2009: 43) menjelaskan belajar adalah Proses perubahan

di dalam diri manusia. Sedangkan dalam karya yang lain dijelaskan

oleh Fajar (2010: 10). Bahwa belajar merupakan Suatu proses

perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk

22
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan

pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap, kebiasaan dan lain-lain.

Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

belajar merupakan proses perubahan dalam diri seseorang yang

ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah

laku yang lebih baik. Seseorang yang telah mengalami proses belajar

tersebut diharapkan dapat memperoleh kualitas dan kuantitas tingkah

laku yang lebih baik. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar

harus berlandaskan pada etiket baik dari si belajar yang dilakukan secara

sadar dan bertujuan. Oleh Muhadjir (2009: 1 2) ini disebut sebagai

Perilaku terpuji atau watak terpuji yakni agar anak menjadi pandai,

agar orang menjadi ahli, agar orang berkepribadian luhur, toleran dan

sebagainya. Lebih lanjut Muhadjir mengatakan tujuan baik dengan

jalan tidak baik bukanlah aktivitas belajar karena tujuan yang

menghalalkan segala cara/jalan yang tidak baik bukanlah semboyan

yang bersemangatkan pendidikan (Muhadjir, 2009: 2).

Lebih mendetail, Rusyan (2009: 15) mengartikan tentang

belajar seperti di bawah ini:

1. Belajar adalah memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui


pengalaman. Di dalam rumusan tersebut terkandung makna bahwa
belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan hasil atau
tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, melainkan lebih luas dari
itu, yakni mengalami prestasi belajar bukan hanya penguasaan hasil
latihan, melainkan perubahan tingkah laku.
2. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu
melalui interaksi dengan lingkungan. Dibandingkan dengan
pengertian pertama, tujuan belajar itu pada prinsipnya sama, yakni

23
perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha
pencapaiannya. Pengertian ini menitik beratkan interaksi antara
individu dengn lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi
serangkaian pengalaman belajar.
3. Belajar dalam arti yang luas ialah peruses perubahan tingkah laku
yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan
penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan
dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi
atau lebih luas lagi, dalam berbagai aspek kehidupan atau
pengalaman yang terorganiasi.
4. Belajar itu selalu menunjukkan suatu proses perubahan perilaku
atau pribadi seseorang berdasarkan parktek atau pengalaman
tertentu.

Sedangkan kalau berbicara masalah prestasi, prestasi diartikan

sebagai Hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik

secara individual maupun kelompok (Djamarah, 2010: 19). Pendapat

tersebut memberikan pemahaman bahwa prestasi tidak akan pernah

dihasilkan selama seseorang atau sekelompok orang tidak melakukan

kegiatan. Seperti yang diungkapkan oleh Sardiman (dalam Naskawati,

2002: 78) yang menyatakan bahwa prestasi adalah Hasil yang telah

dicapai oleh seseorang atau peserta didik setelah melakukan suatu

usaha. Jadi mustahil seseorang akan mendapatkan hasil (prestasi) tanpa

adanya usaha dan kerja kerasnya. Seseorang dapat menyelesaikan atau

memperoleh sesuatu dengan berhasil karena keahlian dan

kepintarannya sebagai hasil pengorbanan, usaha, dan kerja kerasnya.

Dari beberapa pengertian prestasi yang dipaparkan di atas, jelas

terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun

intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu

24
dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang

telah dikerjakan, diciptakan dengan tulus yang menyenangkan hati

sebagai hasil dari usaha dan keuletan kerja

Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami

mengenai makna kata prestasi dan belajar. Prestasi pada dasarnya adalah

hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan dengan tulus

yang menyenangkan hati sebagai hasil dari usaha dan keuletan kerja.

Sedangkan belajar merupakan proses perubahan dalam diri seseorang

yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas

tingkah laku yang lebih baik sebagai akibat dari aktivitas mental dan

emosional dalam belajar. Dengan demikian, dapat diambil pengertian

tentang prestasi belajar yakni hasil yang diperoleh tentang kemajuan dan

perkembangan seseorang (peserta didik, mahasiswa) dalam segala hal

yang menyangkut kualitas dan kuantitas tingkah lakunya (meliputi

aspek kognitif, afektif dan psikomotor) yang lebih baik sebagai akibat

dari aktivitas belajar.

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Aktivitas belajar merupakan inti dari kegiatan di sekolah, sebab

semua aktivitas belajar dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan

proses belajar bagi setiap peserta didikyang sedang menjalani studi di

sekolah tersebut.

25
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

tersebut seperti yang dikatakan oleh Slameto (2011: 54-56) sebagai

berikut; Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar dapat

digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor

ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang

sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar

individu.

1. Faktor-Faktor Intern
a. Faktor Jasmaniah, meliputi: (1) faktor kesehatan dan (2) cacat
tubuh
b. Faktor Psikologis, meliputi: (1) inteligensi, (2) perhatian, (3)
minat, (4) Bakat, dan (5) motivasi.
c. Faktor kelelahan, meliputi: (1) kelelahan fisik/jasmani dan (2)
kelelahan batin/rohani.

2. Faktor-Faktor Ekstern
a. Faktor Keluarga, meliputi: (1) cara orang tua mendidik, (2)
relasi antar anggota keluarga, (3) suasana rumah, (4) keadaan
ekonomi keluarga, dan (5) latar belakang kebudayaan.
b. Faktor Sekolah, meliputi: (1) metode mengajar guru, (2)
kurikulum, (3) relasi guru dengan peserta didik, (4) disiplin
sekolah, dan (5) keadaan gedung.
c. Faktor Masyarakat, meliputi: (1) kegiatan peserta didik dalam
masyarakat, (2) media massa, dan (3) teman bergaul.

3. Hakekat Pembelajaran IPS

a. Pengertian Pembelajaran IPS

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan

pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang

meliputi guru dan peserta didik yang saling bertukar informasi.

Pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar

26
maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis

keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah,

mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan

keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.

Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkungan

yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau peserta didikdan

siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain,

baik yang ada di masa sekarang maupun di masa lampau. Dengan

demikian peserta didik yang mempelajari IPS dapat menghayati masa

sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat

manusia. Dalam kegiatan belajar mengajar IPS membahas manusia

dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa

lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang

dekat maupun lingkungan yang jauh dari peserta didik dan siswi. Oleh

karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan

bagaimana bidang studi IPS itu.

Secara mendasar, pembelajaran IPS berkaitan dengan kehidupan

manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS

berkaitan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik

kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya,

memamfaatkan sumberdaya yang ada dipermukaan bumi, mengatur

kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam

rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya,

27
IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di

permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai

anggota masyarakat.

IPS yang juga dikenal dengan nama social studies adalah kajian

mengenai manusia dengan segala aspeknya dalam sistem kehidupan

bermasyarakat. IPS mengkaji bagaimana hubungan manusia dengan

sesamanya di lingkungan sendiri, dengan tetangga yang dekat sampai

jauh. IPS juga mengkaji bagaimana manusia bergerak dan memenuhi

kebutuhanhidupnya. Dengan demikian, IPS mengkaji tentang

keseluruhan kegiatan manusia. Kompleksitas kehidupan yang akan

dihadapi peserta didik nantinya bukan hanya akibat tuntutan

perkembangan ilmu dan teknologi saja, melainkan juga kompleksitas

kemajemukan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, IPS

mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan

dengan manusia dan juga tindakan-tindakan empatik yang melahirkan

pengetahuan tersebut

Sebutan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai mata pelajaran dalam

dunia pendidikan dasar dan menengah di negara kita IPS memiliki

kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan

disiplin ilmu, yakni kajian yang bersifat terpadu (integrated),

interdisipliner, multidimensional. Karakteristik ini terlihat dari

perkembangan IPS sebagai mata pelajaran di sekolah yang cakupan

materinya semakin meluas. Dinamika cakupan semacam itu dapat

28
dipahami mengingat semakin kompleks dan rumitnya permasalahan

sosial yang memerlukan kajian secara terintegrasi dari berbagai disiplin

ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, teknologi, humaniora, lingkungan,

bahkan sistem kepercayaan. Dengan cara demikian pula diharapkan

pendidikan IPS terhindar dari sifat ketinggalan zaman, di samping

keberadaannya yang diharapkan tetap koheren dengan perkembangan

sosial yang terjadi.

Pusat Kurikulum mendefinisikan Ilmu Pengetahuan Sosial

sebagai integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi,

sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Ilmu

Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial

yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dariaspek dan

cabang-cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi,

ekonomi, politik, hukum dan budaya (Pusat Kurikulum, 2006: 5).

IPS merupakan seperangkat fakta, peristiwa, konsep, dan

generalisasi yang berkaitan dengan perilaku dan tindakan manusia untuk

membangun dirinya, masyarakat, bangsa, dan lingkungannya

berdasarkan pengalaman masa lalu yang bisa dimaknai untuk masa kini,

dan antisipasi masa akan datang. Peristiwa fakta, konsep dan

generalisasiyang berkaitan dengan isu sosial merupakan beberapa hal

yang menjadi kajian IPS. Urutan kajian itu menunjukan urutan dari

bentuk yang paling kongkrit, yaitu dari peristiwa menuju ketingkatan

yang abstrak, yaitu konsep peranan peristiwa dan fakta dalam

29
membangun konsep dan generalisasi. Senada dengan hal itu menurut

Sapriya pengetahuan IPS hendaknya mencakup fakta, konsep, dan

generalisasi. Fakta yang digunakan terjadi dalam kehidupan peserta

didik, sesuai usia peserta didik, dan tahapan berfikir peserta didik.

Untuk konsep dasar IPS terutama diambil dari disiplin ilmu-ilmu sosial,

yang terkait dengan isu-isu sosial dan tema-tema yang diambil secara

multidisiplin. Contoh konsep, multikultural, lingkungan, urbanisasi,

perdamaian, dan globalisasi. Sedangkan generalisasi yang merupakan

ungkapan pernyataan dari dua atau lebih konsep yang saling terkait

digunakan proses pengorganisir dan memaknai fakta dan cara hidup

bermasyarakat.

b. Tujuan Pembelajaran IPS

Tujuan pembelajaran IPS (instructional objective social) adalah

perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai

oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan

pembelajaran IPS. Penyelenggaraan pendidikan merupakan suatu

keseluruhan yang terangkum dalam sebuah sistem pendidikan nasional.

Begitu juga dengan pendidikan IPS pada pendidikan dasar dan

mengenah merupakan suatu yang integral dari suatu sistem pendidikan

nasional pada umumnya, yang telah diatur berdasarkan undang-undang

sestem pendidikan nasional.

Dari penyelenggaraan pendidikan IPS tersebut tujuan mata

pembelajaran IPS pada umumnya adalah mencerdaskan kehidupan

30
masyarakat dengan dasar nilai-nilai moral etik yang tinggi dan

menjunjung tinggi nilai budaya bangsa serta membentuk peserta didik

yang memiliki ilmu pengetahuan, ketrampilan, wawasan kebangsaan,

dan etika sosial, berakhlak sosial yang tinggi

Setiap guru IPS mestinya paham hakikat keterpaduan dalam

mata pelajaran IPS. Namun ternyata masih banyak guru yang

memahami IPS sebagai mata pelajaran yang terpisah sebagai ilmu sosial

seperti Ekonomi, Geografi, sosiologi dan Sejarah. Bahkan sangat

mungkin di antara guru IPS yang ada, juga kurang memahami tujuan

pembelajaran IPS. Menurut Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang

Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa mata

pelajaran IPS bertujuan agar peserta didikmemiliki kemampuan untuk:

a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan

kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa

ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam

kehidupan sosial .

c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan

kemanusiaan.

d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan

berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal,

nasional, dan global.

31
Keempat tujuan mata pelajaran IPS di atas menunjukkan bahwa

IPS merupakan mata pelajaran yang memiliki tujuan membentuk peserta

didikmenjadi warga negara yang baik. Dengan demikian IPS sebenarnya

merupakan pelajaran yang sangat penting. Terkait dengan itu maka pada

bab ini akan dibahas beberapa uraian yang terkait dengan karakteristik

IPS; konsep dasar atau konsep-konsep esensial dalam IPS; standar

kompetensi dan kompetensi dasar IPS; serta strategi perumusan tema

dalam IPS.

Tujuan pengajaran pendidikan IPS mencakup tiga aspek yaitu aspek

kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru tidak hanya menekankan pada

aspek kognitif saja tetapi aspek-aspek yang lain seperti aspek afektif dan

psikomotorik.

B. Kerangka Berpikir

Ilmu ini lebih menitikberatkan bagiamana peserta didik mampu

menemukan konsep-konsep materi, sedangkan dalam kenyataan sehari-hari

banyak guru yang belum mampu atau bahkan secara sembarangan menggunakan

pendekatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan tujuan, sehingga muaranya

adalah kurangnya penguasaan materi oleh peserta didik.

Metode-metode yang paling tepat untuk mengajarkan tentang materi Ilmu

geografi sebagaimana karakteristik dari metode itu sendiri antara lain adalah

model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction). PBI

adalah model pembelajaran untuk memecahkan masalah secara mandiri,

32
penemuan yang berupa cara mengembangkan belajar peserta didik aktif,

memperoleh hasil yang tahan lama, menguasai betul-betul pengertian, berpikir

analitis dan kreatif.

Dalam metode ini lebih banyak menuntun guru dan peserta didik. Guru

sebagai penyaji memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah sedangkan

peserta didikseb gai obyek pendidikan adalah menjalankan alternatif-aalternaatif

pemecahan masalah. Dengan demikian, guru aktif dalam proses belajar

mengajar, dan pada sisi lain peserta didik csecara aktif menjalankan proses

pemecahan masalah. Kenyataan demikian, maka merupakan peringatan bagi guru

maupun calon guru bahwa dalam pemilihan pendekatan pembelajaran hendaknya

merefleksikan cara-cara belajar yang lebih banyak melibaatkan peserta

didikdalam kegiatan proses belajar mengajar sebagaimana yang telah dijelaskan

di atas.

Instrumen model FBI adalah; 1. kepekaan terhadap masalah, 2. fleksibel,

3. orisinalitas, 4. kemampuan dalam pengamatan dan orientasi, 5. kemampuan

membuat kombinasi, 6. pengetahuan dan pengalaman.

Untuk pengumpulan data tentang tingkat kreatifitas belajar, digunakan

instrumen yang telah dikembangkan oleh penulis sendiri, yang kemudian

diadaptasikan menjadi instrumen yang meliputi komponen-komponen : (1)

Kesenangan belajar, (2) Ketekunan belajar, (3) Usaha untuk mengatasi kesulitan

belajar, (4) Harapan keberhasilan belajar, (5) Ketepatan waktu menyelesaikan

tugas, (6) Merenungkan pelajaran, (7) Dorongan ingin tahu, (8) Perilaku penuh

33
perhatian dalam belajar, (9) Memiliki semangat tinggi dalam belajar, dan (10)

Kesanggupan berkompetensi dalam belajar.

Dengan mengacu dari kajian teori di atas, peneliti dapat menyusun

kerangka berpikir dalam penelitian ini yaitu :

Rendahnya Hasil Prestasi Belajar Siswa

Peserta didik sulit Peserta didik sulit Alokasi tatap waktu


memahami materi menghubungkan terlalu terbatas (1
pelajaran karena materi lingkungan jam pelajaran per
terlalu banyak sekitar minggu)

Sumber belajar berupa Guru masih menggunakan


buku paket dan LKS strategi pembelajaran
konvensional

Pengembangan model PBI

Prestasi Belajar meningkat

Gambar 2.1 Kerangka berpikir

34
C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan tinjauan teori dan kerangka berpikir di atas, maka peneliti

dapat merumuskan hipotesis tindakan yaitu :

Jika Pembelajaran menggunakan Model PBI (Problem Based Instruction), maka

prestasi belajar perserta didik pada mata pelajaran IPS kelas 9 di SMP Negeri 5

Lilirilau Kab. Soppeng dapat meningkat

35
BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam

pelaksanaan penelitian. Berhasil tidaknya penelitian banyak tergantung pada tepatnya

dalam memilih serta pengetrapan metode penelitian, sehingga dapat diperoleh

penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

A. Jenis Penelitian dan Tempat Penelitian

Jenis penelitian yang akan peneliti lakukan dalam bentuk Penelitian

Tindakan Kelas (PTK), yaitu upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan

oleh seseorang atau sekelompok pengajar dengan melakukan tindakan-tindakan

dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mengenai hasil tindakan tersebut,

(Elliot dalam Wiraatmadja, 2010 : 20). Tempat dilaksanakan di kelas 9 SMP

Negeri 5 Lilirilau Kab. Soppeng

B. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian adalah peserta didik kelas 9 SMP

Negeri 5 Lilirilau sebanyak 30 peserta didikyang terdiri dari 16 laki-laki dan

14 perempuan. Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai guru pelaku

tindakan adalah penulis (Busran, S. Pd).

C. Waktu (Setting) Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester Genap Tahun Pelajaran

2014/2015 (Januari, April dan Maret 2015) dengan memilih kelas 9 SMP

Negeri 5 Lilirilau Kabuapten Soppeng sebagai responden.

36
Penentuan kelas ini didasarkan atas 2 faktor yaitu; pertama, di kelas ini

belum diadakan penelitian sementara mengenai prestasi belajar peserta

didikrata-rata hampir sama dengan kelas lain; kedua, kebetulan kelas ini

merupakan salah satu tempat mengajar peneliti.

D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, dimana

kedua siklus tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan,

artinya pelaksanaan siklus II merupakan kelanjutan dan perbaikan dari

pelaksanaan siklus I

1. Perencanaan Tindakan

Perencanaan Tindakan : menyusun desain pembelajaran dengan

menggunakan model PBI (Problem Based Instruction). , membuat format

pembelajaran, membuat Lembar kegiatan peserta didik yang akan

dikerjakan oleh peserta didik pada waktu pelaksanaan tindakan dan

menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan selama proses pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan

Sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti merupakan

Penelitian tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan

kreatifitas dan prestasi belajar peserta didik, maka dibuat dalam bentuk

siklus. Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini

adalah; a). Perencanaan tindakan; b). Pelaksanaan tindakan; c).

37
Pengamatan; d). Refleksi; e). Kesimpulan hasil berupa peningkatan prestasi

belajar peserta didik.

Suharsimi Arikunto (2006 : 16), menyusun langkah-langkah Penelitian

Tindakan Kelas seperti gambar di bawah ini :

Perencanaan

Refleksi Pelaksanaan
SIKLUS I

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Gambar 3.1 Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Kelas

3. Refleksi

Pada tahap ini, menganalisis dan mengkaji hasil yang didapatkan peserta

didik sebagai dampak dari tindakan terhadap model PBI (Problem Based

38
Instruction). Dari hasil analisis dan kajian yang dilakukan apakah prestasi

belajar peserta didik meningkat. Dari analisis dan kajian tersebut juga

dapat dilihat kelemahan-kelemahan dalam proses pembelajaran dan hasil

yang dicapai pada tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk

melakukan siklus berikutnya.

E. Metode Pengumpulan Data

1. Pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi yaitu suatu

lembaran yang telah dibuat formatnya sebagai tempat mencatat sesuatu yang

berkaitan dengan sikap prilaku peserta didik selama proses pembelajaran.

2. Untuk melihat tingkat keberhasilan peserta didik setelah penerapan

pembelajaran dengan menggunakan model PBI (Problem Based Instruction),

maka dilaksanakaan uji kompetensi kepada peserta didik sebagai acuan untuk

mengukur tingkat keberhasilan peserta didik berupa teks pilihan ganda

sebanyak 20 nomor dengan menggunakan pedoman penskoran yaitu : Nilai =

Skor Perolehan / Skor Maksimal x 100.

F. Tehnik Analisa Data

1. Teknik analisa data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Analisa deskriptif

ini digunakan untuk mendiskripsikan implentasi model pembelajaran IPS

yang dilakukan guru dan untuk menghitung prosentase jumlah peserta didik

yang berhasil dalam pembelajaran tersebut. Pada penelitian ini, peserta didik

dikatakan berhasil apabila mencapai kriteria ketuntasan minimla yaitu 75.

2. Tehnik analisa data dilakukan secara deskriptif komparatif. Teknik ini

dilakukan dengan cara membandingkan hasil-hasil penilaian yang diperoleh

39
pada setiap siklus. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil

setiap siklus apakah ada peningkatan hasil yang dicapai masing-masing

peserta didik.

G. Indikator Keberhasilan

Dengan menggunakan model PBI (Problem Based Instruction) dalam

proses pembelajaran akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada peserta

didikuntuk ikut aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian guru bertanggung

jawab penuh dalam memantau peserta didik dalam proses belajar mengajar, maka

indikator keberhasilan dengan pembelajaran dengan menggunakan model PBI

(Problem Based Instruction). adalah 83% atau 25 orang peserta didik dikelas 9

telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75 sesuai dengan yang

ditetapkan Kurilukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP Negeri 5

Lilirilau Kab. Soppeng.

40
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Likasi Penelitian

1. Profil SMP Negeri 5 Lilirilau Kab. Soppeng

SMP Negeri 5 Lilirilau terletak dijalan Daoe Desa Masing Kec.

Lilirilau Kabupaten Soppeng. Letak cukup jauh sehingga sangat berpengaruh

terhadap jumlah siswa. SMP Negeri 5 Lilirilau didirikan pada tahun 2003

dengan luas tanah 7787, 28 M2 . SMP Negeri 5 Lilirilu dengan enam ruang

kelas tempat belajardan jumlah peserta didik86 orang.

2. Riwayat Singkat Pembinaan SMP Negeri 5 Lilirilau

SMP Negeri 5 Lilirilau sejak berdirinya sudah mengalami pergantian

kepemimpinan. Dalam menjalani tugasnya, kepala sekolah dibantu oleh 10

tenaga pengajar, 1 pustakawan dan 1 Tata Usaha serta 1 Satpam.

3. Personil SMP Negeri 5 Lilirilau

Adapun personil SMP Negeri 5 Lilirilau adalah sebagai berikut :

a. Nama pimpinan sekolah dan guru- guru yang memegang jabatan dalam

rangka pembinaan dan pengembangan SMP Negeri 5 Lilirilau

Tabel 1. Nama Guru dan Jabatan Pembinaan Sekolah


No Nama Jabatan
1. Laupe Bolli, S.Pd, M. Si Kepala sekolah
2. Agustam, S.Pd Wakasek/U. Kurikulum
3. Kaharuddin, S.Pd Urusan Kesiswaan
4. Busran, S. Pd Urusan Sapras
5. Mukarrama, S.Pd Urusan Humas
6. Kasmirwan, S. Sos Kepala Tata Usaha
7. Nurasiah, S.Pd Kepala Perpustakaan
b. Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 5 Liliralau Tahun 2015

41
b. Guru
Guru yang mengajar di SMP Negeri 5 Lilirilau adalah alumni dari

berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta dari berbagai disiplin

ilmu. Guru yang mengajar sebanyak 10 orang.

Tabel 2. Jumlah Staf Pengajar di SMP Negeri 5 Lilirilau


No Bidang Studi Jumlah Guru
1. Agama Islam -
2. Matematika 1
3. Bahasa Indonesia 1
4. Bahasa Inggris 1
5. PKN 1
6. IPA 2
7. IPS 1
8. Penjas 1
9 Seni Budaya 1
10. TIK -
11. BK 1
Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 5 Lilirilau Tahun 2015
c. Karyawan
Tabel 3. Karyawan di SMP Negeri 5 Lilirilau
No Nama Pegawai Jabatan
1. Kepala Tata Usaha 1 orang
2. Staf Tata Usaha 1 orang
3. Pustakawan 1 orang
4. Satpam 1 orang
Jumlah total = 4 orang
Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 5 Lilirilau Tahun 2015
d. Siswa
Tabel 4. Jumlah Peserta didik di SMP Negeri 5 Lilirilau Tahun
Pelajaran 2014/2015
Jumlah Peserta
No Tingkatan/ Kelas
didik(Orang)
1. Kelas VII 26
2. Kelas VIII 30
3. Kelas IX 30
Jumlah peserta didikkeseluruhan = 86
Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 5 Lilirilau Tahun 2015

42
Tabel 5. Keadaan peserta didik di kelas 9 (Subjek Penelitian)
Tempat/ Tanggal
No Nama siswa L/P Alamat
Lahir
1. Herni P Masing, 01/12/2001 Paddongi
2. Marwana P Soppeng, 17/07/2002 Kp. Nyelle
3. Nirwana P Soppeng, 08/07/2001 Sarecoppeng
4. Nur Indah P Masing, 23/08/2002 Daoe
5. Selviana P Masing, 07/10/2000 Kp. Nyelle
Bone Subur,
6. Suci Lestari P Tellempa
08/01/2001
7. Susi P Tenggara, 05/05/2001 Paddongi
8. Agil Yusitensi L Masing, 03/04/20101 Tellempa
9. Aldi Mirwanda L Masing, 17/10/2000 Tellempa
10. Ardi L Masing, 14/10/2001 Abbanuang,e
11. Asmar L Masing, 31/12/2001 Daoe
12. Aswin L Noling, 29/11/2001 Daoe
Baringeng,
13. Jusriadi L Daoe
19/04/2000
14. Reski L Masing, 14/08/2001 Kp. Kaluku
15. Devi Permatasari P Makassar, 15/09/2001 Tellempa
16. Nurliana P Masing, 06/11/2001 Daoe
17. Nurlinda Sari P Paoe, 20/12/1999 Tellempa
Kp.
18. Rahma Andini P Masing, 06/11/2001
Aggolokeng
19. Rina Ranika P Masing, 24/04/2001 Paddongi
20. Risna P Masing, 01/09/2002 Daoe
21. Risna Sinta Safitri P Kendari, 04/05/2001 Batue
22 Yuniarti P Masing, 29/05/2001 Daoe
23 Erwin L Masing, 15/01/2000 Abbanuang,e
Kande Api,
24 Juhanis L Kp. Tengnga
08/09/2000
25 Muhammad Sandi L Pallapao, 02/12/2000 Sarecoppeng
26 Muhammad Akbar L Takka, 15/02/2002 Daoe
27 Ramlan L Masing, 06/12/2000 Daoe
28 Rudi Kisara L Soppeng, 09/10/1999 Kp. Nyelle
29 Tahang L Malaysia, 26/12/2000 Sarecoppeng
30 Wahyudi L Masing, 12/01/2002 Paddongi

43
B. Tes Awal (Pre Tes)

Hasil belajar peserta didik kelas 9 SMP Negeri 5 Lilirilau kompetensi

dasar 5.2.Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur geografis dan penduduk

kawasan Asia Tenggara sebelum menggunakan model PBI (Problem Based

Instruction), (Pretes) dapat diamati melalui tabel berikut.

Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Evaluasi Sebelum Menggunakan Model PBI


(Problem Based Instruction)
Pretes
No Keterangan
Siswa %

1 Belum tuntas 22 73,3%

2 Tuntas 8 26,7%

Jumlah 30 100

Dari tabel 6 diatas menunjukkan bahwa, ketika peneliti melakukan tes

awal pada tanggal 13 Januari 2015 menunjukkan bahwa hanya 26, 7 % atau 8

orang peserta didik dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

sedangkan yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal 73,3 % atau 22

orang peserta didik artinya ketuntasan klasikal baru mencapai 26,7 %, hal ini

tidak sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ideal yang telah

ditetapkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP Negeri 5 Lilirilau

yang menyatakan bahwa suatu kelas dikatakan telah tuntas belajarnya apabila

sekurang-kurangnya 83 % peserta didik telah mencapai KKM.

44
C. Analisis Pelaksanaan Siklus I

Penelitian Tindakan Kelas pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 20 ,

22, dan 27 Januari 2015 selama 3 kali pertemuan. Dimana fokus siklus I ini

kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik adalah

Mendeskripsikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera

dengan indikator sebagai berikut:

Mendeskripsikan proses pembentukan benua.

Menginterpretasi peta dunia dan atau globe untuk mendapatkan informasi

tentang posisi benua dan samudera.

Mendeskripsikan karakteristik masing-masing benua. Memberi contoh

negara-negara di masing-masing kawasan benua.

Menginterpretasi peta dunia untuk mendapatkan informasi tentang

karakteristik masing-masing samudera.

Menjelaskan tentang fungsi samudera

Kerja penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan tahapan sebagai

berikut:

1. Rencana Tindakan

Dalam tahap ini guru mata pelajaran untuk menentukan pola

pembelajaran yang akan diberikan dalam meningkatkan prestasi belajar

siswa. Pola pembelajaran yang ditetapkan adalah : (1) membuat

perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model PBI (Problem

45
Based Instruction). (2) menyusun Lembar Kegiatan Siswa. (3) membuat

instrumen penialaian. (4) menyiapkan alat-lat dan bahan yang diperlukan

pada pelaksanaan tindakan.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan siklus I dimulai tanggal 20 Januari 2015 untuk

pertemuan ke-1, tanggal Februari untuk pertemuan ke 22 Januari 2015,

tanggal 27 Januari 2015 untuk pertemuan ke-3 dengan menggunakan

skenario tindakan sebagai berikut:

a. Pendahuluan (10 Menit)

Kegiatan belajar mengajar diawali dengan: Guru mengucapkan

salam, dan meminta salah seorang peserta didik memimpin doa dan

mengecek kehadiran peserta didik menyampaikan tujuan pembelajaran

yang akan dicapai dan melakukan apersepsi dengan mengajukan

pertanyan tentang materi yang dipelajari pertemuan sebelumnya yaitu

tentang tentang kerjasama negara-negara Asia Tenggara.

Untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, guru

menyuruh salah seorang peserta didik untuk menunjukkan benua

Amerika di peta.

b. Kegiatan Inti (70 Menit)

Pelaksanaan kegiatan inti dimulai dengan peserta didik dibagi

menjadi beberapa kelompok dengan 4 anggota 4-5 orang yang

46
homogen. Guru memberikan penjelasan singkat tentang materi yang

akan dipelajari selanjutnya guru membagikan lembar kerja peserta didik

ke setiap kelompok untuk dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah

ditentukan dengan bimbingan guru berkaitan pengumpulan dengan

materi kateristik benua dan samudera.

Terakhir masing-masing kelompok membuat laporan hasil

pekerjaan dan mempresentasikan di depan kelas dan kelompok lain

memberikan tanggapan.

c. Penutup (10 Menit)

Tahap penutup pembelajaran guru bersama-sama peserta didik

membuat kesimpulan materi pelajaran, dilanjutkan dengan Kerja

refleksi dengan menanyakan kesan-kesan peserta didik terhadap Kerja

pembelajaran yang telah dilaluinya. Guru memberikan penugasan

kepada peserta didik berupa pekerjaaan rumah. Sebagai akhir Kerja

pembelajaran peserta didikdiajak bertepuk tangan.

Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan guru tentang prestasi

belajar peserta didik, maka dapat disusun tabel sebagai berikut:

47
Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Evaluasi pada Siklus I

Siklus I
No Keterangan
Peserta Didik %

1 Belum tuntas 11 36.3

2 Tuntas 19 63.7

Jumlah 30 100

Dari tabel di atas jika dikaitkan dengan KKM sebesar 75 maka dapat

disimpulkan, sebanyak 19 peserta didik (63.7%) dikatakan tuntas, sedangkan

11 peserta didik (36.3%) dikatakan belum tuntas terjadi peningkatan 37%.

Dan jika dihitung secara rata-rata dari seluruh siswa, maka ketuntasan

klasikalnya adalah 64%.

3. Refleksi

Dari pengamatan dan uji kompetensi yang dilakukan pada siklus I

diperoleh refleksi adalah sebagai berikut:

a. Dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran dengan

menggunakan model PBI (Problem Based Instruction) peserta didik

mulai aktif dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran.

b. Perlu ada perubahan yang dilakukan guru dalam skenario pembelajaran

terutama dalam pembagian kelompok.

48
c. Bimbingan dan pelatihan peserta didik dalam memecahkan masalah

terhadap materi pelajaran dalam kegiatan proses belajar mengajar harus

secepatnya direspon oleh guru sehingga aktivitas belajar peserta didik

selama kegiatan pembelajaran berlangsung dapat ditingkatkan.

d. Hasil dari uji kompetensi menunjukkan bahwa hasil belajar peserta

didiksesudah diberi pembelajaran dengan menggunakan Model PBI

(Problem Based Instruction) menunjukkan peningkatan dibandingkan

ketika tes awal dilaksanakan, namun Peningkatan ini tentu belum

sesuai dengan apa yang diharapkan dan masih berada di bawah angka

yang ditetapkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP

Negeri 5 Lilirilau. Oleh karena itu perlu dilakukan siklus kedua.

D. Analisis Pelaksanaan Siklus II

Penelitian Tindakan Kelas pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 3


Februari 2015, 5 Februari 2016 , dan 10 Februari 2015 selama 3 kali
pertemuan. Dimana fokus siklus II ini kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh
peserta didik adalah 6.1. Mendeskripsikan perjuangan bangsa Indonesia dalam
merebut Irian Barat dengan indikator sebagai berikut:
Menguraikan latar belakang pengembalian Irian Barat.

Mengidentifikasi perjuangan diplomasi dalam upaya mengembalikan Irian

Barat.

Mengidentifikasi perjuangan dengan konfrontasi politik dan ekonomi dalam

upaya mengembalikan Irian Barat

Mengidentifikasi pelaksanaan Trikomando Rakyat (Trikora) untuk merebut

Irian Barat.

49
Mendeskripsikan Persetujuan New York dan pengaruhnya terhadap

penyelesaian masalah Irian Barat.

Menjelaskan arti penting Penentuan pendapat rakyat (Pepera).

Kerja penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan tahapan sebagai

berikut:

1. Rencana Tindakan

Dalam tahap ini guru mata pelajaran untuk menentukan pola

pembelajaran yang akan diberikan dalam meningkatkan prestasi belajar

peserta didik. Pola pembelajaran yang ditetapkan adalah : (1) membuat

perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model PBI (Problem

Based Instruction). (2) menyusun Lembar Kegiatan Siswa. (3) membuat

instrumen penialaian. (4) menyiapkan alat-lat dan bahan yang diperlukan

pada pelaksanaan tindakan.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan siklus I dimulai tanggal 3 Februari 2015 untuk

pertemuan ke-1, tanggal 5 Februari untuk pertemuan ke 2 dan tanggal 10

Februari 2015 untuk pertemuan ke-3 dengan menggunakan skenario

tindakan sebagai berikut:

a. Pendahuluan (10 Menit)

Kegiatan belajar mengajar diawali dengan: Guru mengucapkan

salam, dan meminta salah seorang peserta didik memimpin doa dan

mengecek kehadiran peserta didik menyampaikan tujuan pembelajaran

50
yang akan dicapai dan melakukan apersepsi dengan mengajukan

pertanyan tentang tambang emas terbesar didunia bernama Freport

terletak didaerah mana ?

Untuk memberikan motivasi guru menyuruh salah satu peserta

didik untuk menunjukkan pulau Irian di peta ?.

b. Kegiatan Inti (70 Menit)

Pelaksanaan kegiatan inti dimulai dengan peserta didik dibagi

menjadi beberapa kelompok dengan 4 anggota 4-5 orang yang heterogen

Guru memberikan penjelasan singkat tentang materi yang akan

dipelajari selanjutnya guru membagikan lembar kerja peserta didik ke

setiap kelompok untuk dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah

ditentukan dengan bimbingan guru berkaitan pengumpulan dengan

materi kateristik benua dan samudera.

Terakhir masing-masing kelompok membuat laporan hasil

pekerjaan dan mempresentasikan di depan kelas dan kelompok lain

memberikan tanggapan.

c. Penutup (10 Menit)

Tahap penutup pembelajaran guru bersama-sama peserta

didikmembuat kesimpulan materi pelajaran, dilanjutkan dengan Kerja

refleksi dengan menanyakan kesan-kesan peserta didik terhadap Kerja

pembelajaran yang telah dilaluinya. Guru memberikan penugasan

51
kepada peserta didik berupa pekerjaaan rumah. Sebagai akhir Kerja

pembelajaran peserta didikdiajak bertepuk tangan.

Berdasarkan hasil uji kompetensi yang yang dilakukan guru pada

siklus II , maka prestasi belajar peserta didik, maka dapat disusun tabel

sebagai berikut:

Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Evaluasi pada Siklus I

Siklus I
No Keterangan
Peserta Didik %

1 Belum tuntas 3 10,0

2 Tuntas 27 90,0

Jumlah 30 100

Dari tabel di atas jika dikaitkan dengan KKM sebesar 75 maka dapat

disimpulkan, sebanyak 27 peserta didik (90,0%) dikatakan tuntas, sedangkan

3 peserta didik (10,0%) dikatakan belum tuntas, terjadi peningkatan 26,3%.

Dan jika dihitung secara rata-rata dari seluruh peserta didik, maka

ketuntasan klasikalnya adalah 90%.

4. Refleksi

Dari uji kompetensi yang dilakukan pada siklus II diperoleh refleksi

adalah sebagai berikut:

52
a. Dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran dengan

menggunakan model PBI (Problem Based Instruction) keaktifan peserta

didik selama dalam proses pembelajaran meningkat secara signifikan.

b. Dari hasil uji kompetensi yang dilaksanakan pada siklus II terjadi

peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan pada siklus I, bahkan

melewati ketuntasan minimal yang telah diteapkan oleh Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan SMP Negeri 5 Lilirilau yaitu 85%.

c. Perlu ada bimbingan khusus terhadap ke 3 anak yang tidak tuntas, dan

guru harus memberikan rekomendasi kepada guru BK untuk

mendapatkan bimbingan selanjutnya.

d. Namun secara umum Peningkatan ini sudah sesuai dengan apa yang

ditetapkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP

Negeri 5 Lilirilau adalah 85% peserta didik telah mencapai KKM, oleh

karena itu peneliti merasa tidak perlu untuk melakukan siklus ketiga,

dan penelitian dianggap telah berhasil.

E. PEMBAHASAN

Dari hasil rekapitulasi tiap-tiap siklus di atas, dari siklus I sebanyak 19

peserta didikatau 63.7% dikatakan tuntas dan 11 peserta didik atau 36.3% belum

tuntas terjadi peningkatan 36%, siklus II sebanyak 27 peserta didik atau 90,0%

dikatakan tuntas dan 3 peserta didik atau 10,0% belum tuntas terjadi peningkatan

26,3%. Dari hasil ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran

dengan menerapkan model PBI (Problem Based Instruction) jika terus diterapkan

maka prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan.

53
Hal ini sesuai dengan tanggapan bahwa Pembelajaran berdasarkan

masalah dilaksanakan untuk membantu peserta didikmengembangkan

kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar

sebagai peran orang dewasa dengan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata

atau simulasi. Pembelajaran berdasarkan masalah juga membuat peserta didik

menjadi pembelajar yang otonom atau mandiri.

Pernyataan di atas diperkuat oleh Bruner dalam Ibrahim (2009 : 21)

terhadap pembelajaran berdasarkan masalah adalah pembelajaran penemuan.

Pembelajaran penemuan adalah suatu model pengajaran yang menekankan

pentingnya membantu peserta didik memahami struktur ide kunci dari suatu

disiplin ilmu. Pembelajaran yang terjadi sebenarnya melalui penemuan pribadi.

Menurut Bruner tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya

pengetahuan peserta didik tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan

untuk penemuan peserta didik.

Hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa prestasi pada dasarnya

adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan dengan tulus

yang menyenangkan hati sebagai hasil dari usaha dan keuletan kerja. Sedangkan

belajar merupakan proses perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan

dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku yang lebih baik

sebagai akibat dari aktivitas mental dan emosional dalam belajar. Dengan

demikian, dapat diambil pengertian tentang prestasi belajar yakni hasil yang

diperoleh tentang kemajuan dan perkembangan seseorang (peserta didik,

mahasiswa) dalam segala hal yang menyangkut kualitas dan kuantitas tingkah

54
lakunya (meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor) yang lebih baik sebagai

akibat dari aktivitas belajar.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut, dan berbagai pertimbangan yang

perlu diperhatikan oleh guru dalam siklus berikutnya sebagai berikut:

1. Guru hendaknya lebih mendorong peserta didik untuk dapat mempersiapkan

diri dengan lebih baik lagi dalam kegiatan belajar mengajar.

2. Bimbingan guru harus lebih intensif untuk menumbuhkan motivasi siswa.

Hal tersebut di atas senada dengan yang diungkapkan Sardiman (dalam

Naskawati, 2002: 78) yang menyatakan bahwa prestasi adalah Hasil yang telah

dicapai oleh seseorang atau peserta didik setelah melakukan suatu usaha. Jadi

mustahil seseorang akan mendapatkan hasil (prestasi) tanpa adanya usaha dan

kerja kerasnya. Seseorang dapat menyelesaikan atau memperoleh sesuatu dengan

berhasil karena keahlian dan kepintarannya sebagai hasil pengorbanan, usaha,

dan kerja kerasnya.

55
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dari hasil penelitian yang telah peneliti

paparkan di atas, maka peneliti dapat memberikan kesimpulan:

Hasil rekapitulasi tiap-tiap siklus sebagai berikut, dari siklus I sebanyak

19 peserta didik atau 63,7% dikatakan tuntas dan 11 peserta didik atau 36.7%

belum tuntas terjadi peningkatan 36% dan siklus II sebanyak 27 peserta didik

atau 90% dikatakan tuntas dan 3 peserta didik atau 10% belum tuntas terjadi

peningkatan 26,3%. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa

pembelajaran dengan menerapkan model PBI (Problem Based Instruction) jika

terus diterapkan maka prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan.

B. Saran-Saran

Berkenaan dengan hasil penelitian dan pendapat dari para ahli

pendidikan, peneliti menyampaikan saran-saran sebagai berikut :

a. Diharapkan kepada guru untuk selalu aktif mencari terobosan-terobosan

baru, dalam upaya meningkatkan inovasi pembelajarannya, baik mengenai

bahan, metode dan media yang dipergunakan yang sesuai dengan kondisi

peserta didik dan guru dan dianggap mampu meningkatkan kreatifitas belajar

peserta didiksehingga akan mampu meningkatkan prestasi belajar peserta

didik. .

56
b. Diharapkan kepada semua peserta didikuntuk selalu aktif belajar untuk dapat

meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan daya pikirnya yang semakin

kreatif dan kritis, baik secara mandiri maupun di bawah bimbingan guru.

c. Diharapkan kepada peneliti yang lain untuk mencoba meneruskan penelitian

ini dengan menguji cobakan suatu pendekatan dan metode yang lain yang

dianggap mampu meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan daya pikir

siswa.

57
DAFTAR PUSTAKA

Aqip, Zaenal, 2009. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan


Cendikia.
Muslich, Masnur, Suharsimi, 2009. Penelitian Tindakan Kelas Itu Muda. Jakarta :
Bumi Aksara.
Awan Mutakin. 2010. Pembelajaran IPS di Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
Djamarah, Syaipul Bahri, 2010. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.
Fajar, Arnie, 2010. Portofolio Dalam Pelajaran IPS. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
Ibrahim, Muslimin, 2009. Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Unesa
University Press.
Muhadjir, Noeng, 2009. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial. Teori Pendidikan
Pelaku Sosial Kreatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.
Pidarta, Made, 2011. Perencanaan Pendidikan Partisipatori Dengan Pendekatan
Sistem. Jakarta : Rineka Cipta.

Rindjin, Ketut. 2010. Strategi Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Menuju Masyarakat


Madani. Disampaikan dalam Seminar dan Sarasehan Nasional Forum
Komunikasi IX Pimpinan FPIPS-IKIP dan JPIPS-FKIP/STKIP se- Indonesia
Tanggal 19 21 September 1999.

Rusyan, Tabrani, 2009. Pendekatan Dalam PBM. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Slameto, 2011. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Wiriatmadja, Rochiati. 2010. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja
Rosdakarya.

58
LAMPIRAN-LAMPIRAN

59